Jurnal Sains Farmasi & Klinis
Not a member yet
    364 research outputs found

    Pengaruh Ekstrak Etanol 90% Daun Kelor (Moringa oleifera Lam.) Terhadap Fertilitas Tikus Putih Jantan (Sprague-Dawley)

    Full text link
    Kelor (Moringa oleifera Lam.) banyak digunakan sebagai obat tradisional dan sumber nutrisi yang baik. Penelitian daun kelor tentang fertilitas telah pernah dilakukan, namun adanya perbedaan hasil menjadi hal yang menarik untuk diteliti lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk  mengetahui efek ekstrak etanol 90% daun kelor (EEDK) terhadap fertilitas dengan parameter spermatogenesis dan afrodisiak pada tikus putih jantan (Sprague-Dawley). Tikus putih jantan dibagi secara acak menjadi kelompok normal (NaCMC 0,5%), kelompok uji (EEDK dosis 50, 200 dan 800 mg/kgBB). Pemberian EEDK diberikan secara oral selama 15 hari. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa EEDK dapat meningkatkan serum testosteron namun tidak bermakna (p>0,05), masih dalam konsentrasi normal (0,66-0,54 µg/ml).  Konsentrasi spermatozoa meningkat secara bermakna (p<0,05) pada dosis 800mg/kgBB,  namun diameter tubulus seminiferus  dan bobot testis tidak berbeda bermakna (p>0,05) pada semua dosis kelompok uji. Pemberian EEDK tidak mempengaruhi efek mounting frequency dan latency serta intromission latency dan frequency pada tikus jantan secara bermakna (p>0,05). Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa pemberian EEDK pada tikus putih jantan (Sprague-Dawley) selama 15 hari memiliki potensi terhadap efek spermatogenesis dibandingkan dengan efek afrodisia

    Analisis Outcome Klinis Berdasarkan Kualitas Hidup dan Biaya Medik Langsung Pasien Diabetes Melitus Tipe 2

    Full text link
    Diabetes Melitus (DM) tipe 2 merupakan penyakit kronis yang membutuhkan terapi untuk mengontrol glukosa darah. Pengontrolan glukosa darah yang buruk berdampak pada penurunan kualitas hidup dan peningkatan biaya. Tujuan penelitian adalah menganalisis perbedaan outcome klinis yaitu kadar Glukosa Darah Sewaktu (GDS) selama 3 bulan berdasarkan kualitas hidup dan biaya medis langsung. Outcome klinis dikatakan terkontrol apabila GDS <200 mg/dL dan tidak terkontrol apabila GDS ≥200 mg/dL. Rancangan penelitian ini adalah cross sectional dengan jenis observasional. Kriteria inklusi mencakup pasien DM tipe 2 yang memperoleh antidiabetik yang sama minimal 3 bulan di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul pada September 2017. Kriteria eksklusi meliputi kondisi hamil atau menyusui. Pengambilan data dilakukan melalui pengisian kuesioner, rekam medis dan bagian keuangan. Data demografi dianalisis secara deskriptif sedangkan outcome klinis diolah menggunakan uji Kruskal Wallis. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 129 dari 200 pasien menunjukkan outcome klinis tidak terkontrol (64,5%) dengan rata-rata nilai kualitas hidup yang baik (65,7±7,7) serta mengeluarkan biaya medis langsung sebesar Rp 489.005. Terdapat perbedaan outcome klinis berdasarkan kualitas hidup (p=0,000) pada domain fungsi fisik (p=0,034), kepuasan pribadi (p=0,000), kepuasan pengobatan (p=0,000) dan frekuensi gejala penyakit (p=0,012) serta berdasarkan biaya medis langsung (p=0,012). Pasien dengan outcome klinis terkontrol menunjukkan kualitas hidup yang lebih tinggi dan mengeluarkan biaya lebih rendah

    Pengaruh Metode Ekstraksi terhadap Kadar Fenol dan Flavonoid Total, Aktivitas Antioksidan serta Antilipase Daun Jati Belanda (Guazuma ulmifolia)

    Full text link
    The leaf of Guazuma ulmifolia has been used traditionally for antiobesity. The activity of antiobesity was affected by the content of bioactive compounds. Extraction is the primary step to obtain bioactive compounds from plant material. The method and solvent used for extraction are crucial factors to produce extracts that have a high amount of active compounds. This study aims to determine the total phenolic and total flavonoids content from ethanolic extracts, water extract, and infusions of G. ulmifolia leaf and to evaluate the antioxidant and antilipase activity. Folin-Ciocalteu method was used to determine the phenolic content, while flavonoid content determination was done using aluminium chloride colorimetric assay. The antioxidant activity was done using 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) assay, and the antilipase activity was quantified using p-nitrophenol release from p-nitrophenyl butyrate (p-NPB) substrate-colorimetric assay. The result of G. ulmifolia leaf extraction showed that the highest yield was obtained from water extraction (10.50%). Whereas, the ethanolic extract was showed the highest total phenolic content (67.761±1.811 mg GAE/g extract) and the highest total flavonoid content (124.643 ± 1.033 mg QE/g extract). The same extract also exhibited the highest antioxidant activity (IC50 = 6.544 ± 0.271 µg/mL) and antilipase activity (IC50 = 307.280 ± 21.430 µg/mL).Daun Guazuma ulmifolia telah digunakan secara tradisional untuk antiobesitas. Aktivitas antiobesitas dipengaruhi oleh kandungan senyawa bioaktif. Ekstraksi adalah langkah utama untuk mendapatkan senyawa bioaktif. Metode dan pelarut ekstraksi merupakan faktor penting untuk menghasilkan ekstrak dengan jumlah kandungan senyawa aktif yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar fenol dan flavonoid total dari ekstrak etanol, rebusan, dan infusa daun G. ulmifolia serta untuk menentukan aktivitas antioksidan serta antilipase. Metode Folin-Ciocalteu digunakan untuk menentukan kadar fenol total, sedangkan penentuan kadar flavonoid total dilakukan menggunakan uji kolorimetri aluminium klorida. Aktivitas antioksidan ditentukan dengan metode 2,2-difenil-1-pikrillhidrazil (DPPH), dan aktivitas antilipase dikuantifikasi secara kolorimetri berdasarkan pelepasan p-nitrofenol dari substrat p-nitrofenil butirat (p-NPB). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rebusan memiliki rendemen tertinggi (10,50%). Sebaliknya, ekstrak etanol menunjukkan total kandungan fenolik tertinggi (67,761 ± 1,811 mg GAE/g ekstrak)  dan total kandungan flavonoid tertinggi (124,643 ± 1,033 mg QE/g ekstrak). Ekstrak yang sama juga menunjukkan aktivitas antioksidan dan aktivitas antilipase tertinggi (IC50 berturut-turut 6,544 ± 0,271 μg/mL dan 307,280 ± 21,430 μg/mL).Â

    Survei Rumah Tangga terhadap Profil Obat pada Responden dengan Jaminan Kesehatan Nasional di Jakarta Timur

    Full text link
    Household surveys are one of the methods to obtain accurate information on medicine utilization in society. The study was carried out to identify the access of medicine and medicine utilization profile. A survey using convenient sampling method was conducted in 30 households with national health insurance (JKN) diagnosed with chronic diseases in East Jakarta. Each family was observed once a week for 8 weeks to analyse their diseases, medication used, and medicine access. About 19 (63.3%) respondents enrolled in this study were male. The mean ± SD of age was 55.87±12.486 years old. About 23(76.7%) respondent had access of medicine through hospital and 7(23.3%) by pharmacy directly. The most common chronic diseases identified were cardiovascular and endocrine disorder. Cardiovascular, alimentary tract and metabolism, and nervous system were medications most commonly used. Most of respondents used about 1-3 kind of medications in a month. About 101 kind of drugs used, 74 kinds of drug among of them were generic and 27 were non generic. About 12 (40%) respondents used vitamin and 8 (26.67%) used supplement. This study highlights respondent access of medicine through hospital and cardiovascular medicines were the most commonly used.Survei rumah tangga merupakan salah satu metode untuk mendapatkan informasi yang akurat terhadap obat yang digunakan oleh masyarakat. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi akses obat dan profil obat yang digunakan. Metode convenient sampling dilakukan pada 30 rumah tangga dengan Jaminan Kesehatan Nasional yang memiliki penyakit kronis. Setiap rumah tangga diamati seminggu sekali selama 8 minggu untuk menganalisa penyakit, obat yang digunakan dan akses dalam mendapatkan obat. Sebanyak 19 (63,3%) responden adalah laki-laki dan 11 (36,7%) responden adalah perempuan. Rata-rata usia responden adalah 55,87±12,486 tahun. Sebanyak 23 (76,7%) responden akses obat melalui rumah sakit dan 7(23,3%) responden melalui apotek. Penyakit yang paling banyak ditemukan adalah kardiovaskular dan endokrin. Obat kardiovaskular, saluran pencernaan dan metabolisme, sistem saraf adalah obat yang paling banyak ditemukan. Mayoritas responden menggunakan 1-3 jenis obat dalam satu bulan. Sebanyak 101 jenis obat yang digunakan, 74 obat diantaranya adalah generik dan 27 obat non generik. Sebanyak 12 (40%) responden menggunakan vitamin dan 8 (26,67%) responden menggunakan suplemen. Studi ini menunjukkan bahwa akses obat oleh responden melalui rumah sakit dan obat kardiovaskular adalah yang paling banyak digunakan

    Perkembangan Terkini Terapi Antikoagulan Pada Pasien Covid-19 Bergejala Berat

    No full text
    Penyakit covid-19 yang disebabkan oleh virus sarcov-2 awalnya hanya dinyatakan sebagai penyakit pernafasan, namun kemudian diketahui dampak dari penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan multiorgan karena adanya fenomeda badai sitokin yang menyebabkan inflamasi dimana-mana termasuk pada pembuluh darah yang menuju berbagai organ penting. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap seberapa signifikan fenomeda koagulasi darah hasil kerja virus covid-19 ini hingga menyebabkan manifestasi tromboembolisme baik dalam terminologi tromboemboli vena, deep vein thrombosis, tromboemboli paru dan lain-lain, juga kemungkinan mekanisme yang terjadi dan yang terpenting dalam tulisan ini adalah seberapa efektifkah penggunaan obat antikoagulan pada pasien covid-19 bergejala berat

    Penentuan Aktivitas Antioksidan dan Antidiabetes Ekstrak Daun Kepundung (Baccaurea racemosa Muell.Arg.) secara In Vitro

    Full text link
     Kepundung (Baccaurea racemosa Muell.Arg.) merupakan salah satu tanaman berkhasiat di Indonesia yang mengandung flavonoid, polifenol, tanin, dan terpenoid yang dapat berfungsi sebagai antioksidan. Kandungan senyawa dengan aktivitas antioksidan dapat dikaitkan dengan potensi aktivitas antidiabetes dari tanaman ini. Penelitian dilakukan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dan antidiabetes ekstrak metanol, etanol, dan etil asetat dari daun kepundung. Ekstraksi dilakukan dengan metode ultrasonik. Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan secara kuantitatif dengan metode DPPH, sedangkan pengujian aktivitas antidiabetes menggunakan metode penghambatan enzim α-amilase. Nilai IC50 pada penentuan aktivitas antioksidan dan antidiabetes ditentukan dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang maksimum. Hasil penentuan antioksidan menunjukkan bahwa nilai IC50 ekstrak metanol, etanol, dan etil asetat masing-masing adalah 9,38 ± 0,15; 10,55 ± 0,09; dan 946,70 ± 2,31 ppm. Ini menunjukkan ekstrak metanol dan etanol memberikan hasil terbaik dalam aktivitas antioksidan. Nilai IC50 aktivitas antidiabetes in vitro ekstrak metanol, etanol, dan etil asetat masing-masing adalah 67,63 ± 0,36; 67,46 ± 0,23; dan 841,04 ± 1,52 ppm. Hasil ini juga menunjukkan bahwa ekstrak metanol dan etanol daun kepundung memiliki aktivitas antidiabetes yang hampir sam

    Uji Aktivitas Antiplatelet, Antikoagulan, dan Trombolitik Alkaloid Total Daun Pepaya (Carica papaya L.) secara in Vitro

    Full text link
    Papaya leaves have a number of alkaloid compounds (carpaine, pseudocarpaine, dehydrocarpaine I, dehydrocarpaine II, and emetine). This study aimed to determine the antiplatelet, anticoagulant, and thrombolytic activities of total alkaloids of papaya leaves in vitro. This study was divided into 5 groups: negative control, positive control, and total alkaloids of papaya leaves (0.5, 1.0, and 2.0 mg/mL) with 5 parameters: % platelet aggregation inhibition, CT, PT, APTT, and % thrombolytic. Based on statistical analysis, there was a significant difference between percentage of aggregation inhibition of total alkaloids and negative controls, but was not different with positive control (clopidogrel). Anticoagulant test showed that total alkaloid of papaya leaves significantly extended CT, PT, and APTT values compared with negative control, but was not significantly different with positive control (heparin). Thrombolytic test showed that total alkaloid of papaya leaves increased trombolitic percentage and significantly different from the negative control, but was not significantly different from positive control (nattokinase).Daun pepaya memiliki kandungan beberapa senyawa alkaloid (karpain, pseudokarpain, dehydrokarpain I, dehydrokarpain II, dan emetin). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antiplatelet, antikoagulan, dan trombolitik alkaloid total daun pepaya secara in vitro. Penelitian ini terdiri dari 5 perlakuan: kontrol negatif, kontrol positif, alkaloid total daun pepaya (konsentrasi 0.5, 1.0, dan 2.0 mg/mL) dengan parameter persentasi inhibisi agregasi, persentase inhibisi koagulasi dari nilai Clotting Time (CT), Prothrombine Time (PT), dan Activated Parsial Thromboplastine Time  (APTT), dan daya fibrinolitik. Berdasarkan analisis statistik diketahui bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara persentase inhibisi agregasi alkaloid total dibanding kontrol negative, namun tidak berbeda dengan kontrol positif (clopidogrel). Pada uji antikoagulan, alkaloid total daun pepaya secara signifikan dapat memperpanjang CT, PT, dan APTT yang berbeda signifikan dengan kontrol negatif, namun tidak berbeda dengan kontrol positif (heparin). Hasil uji trombolitik menunjukkan bahwa alkaloid total daun pepaya dapat meningkatkan persentase trombolitik yang berbeda dengan kontrol negatif, namun tidak berbeda signifikan dengan kontrol positif (nattokinase)

    Kajian Fitokimia Fraksi Etil Asetat dari Lichen Stereocaulon massartianum Hue. dan Uji Aktivitas Antibakteri dengan Metode KLT-Bioautografi

    Full text link
    This research is a continuation study in the inventory of lichens of the genus Stereocaulon which is currently focused on the Stereocaulon massartianum Hue collected in the rocks of Diatas Lake, West Sumatera, Indonesia. Reports on phytochemical studies and pharmacological activities of this species are still limited, based on literature studies that have been carried out. This research was conducted to determine their secondary metabolites and potential antibacterial activity. The air-dried thallus of lichen S. massartianum was macerated successively using n-hexane, ethyl acetate and methanol solvents. The compounds were separated by chromatography and recrystallization methods, then analyzed by spectroscopy (UV-Vis, FTIR, 1H and 13C-NMR). Furthermore, the antibacterial activity assay was performed by agar diffusion method on ethyl acetate extract, and TLC-Bioautography for the isolated compound. Three compounds have been isolated from ethyl acetate extract, i.e. atranorin (1), stictic acid (2) and norstictic acid (3). The results of antibacterial assay from the extract showed antagonistic activity against pathogenic bacteria S. aureus, E. faecalis, E. coli, and P. aeruginosa at concentrations of 10 and 20%, while TLC-bioautography of compound 3 exhibited growth inhibition area in all test bacteria.Penelitian ini merupakan kegiatan lanjutan dalam inventori lichen/lumut kerak genus Stereocaulon dengan fokus pada Stereocaulon massartianum Hue yang dikoleksi di daerah bebatuan Danau Diatas, Sumatera Barat, Indonesia. Berdasarkan penelusuran literatur, kajian fitokimia, dan aktivitas farmakologis dari spesies ini masih sedikit. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder dan potensi aktivitas antibakterinya. Thallus kering lichen S. massartianum dimaserasi bertingkat dengan pelarut n-heksan, etil asetat dan metanol. Kemudian pemisahan senyawa dengan metode kromatografi dan rekristalisasi. Senyawa-senyawa hasil isolasi dianalisis secara spektroskopi (UV-Vis, FTIR, 1H dan 13C-NMR). Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi agar terhadap ekstrak etil asetat, dan KLT-Bioautografi untuk senyawa hasil isolasi. Tiga senyawa berhasil diisolasi dari ekstrak etil asetat, yaitu atranorin (1), asam stiktat (2) dan asam norstiktat (3). Hasil uji antibakteri dari ekstrak tersebut menunjukkan aktivitas antagonis terhadap bakteri patogen S. aureus, E. faecalis, E. coli, dan P. aeruginosa pada konsentrasi 10 dan 20 %, dan KLT-bioautografi dari senyawa 3 memperlihatkan daerah hambat pertumbuhan pada semua bakteri uji

    Diare Akibat Penggunaan Antibiotik pada Anak: Apa Saran yang Diberikan oleh Apoteker Komunitas?

    Full text link
    Diare akibat penggunaan antibiotik (antibiotic-associated diarrhea; AAD) merupakan salah satu gangguan klinis yang seringkali terjadi pada anak dan perlu mendapat intervensi dari dokter untuk mengatasi masalah tersebut. Dengan mempertimbangkan bahwa swamedikasi seringkali menjadi pilihan masyarakat ketika menghadapi kasus diare, apoteker di komunitas memiliki peran penting dalam mengarahkan masyarakat ke dokter untuk mengatasi masalah terkait AAD. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis dan ketepatan rekomendasi apoteker dalam menanggapi permintaan swamedikasi terkait kasus AAD pada anak. Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang yang dilakukan di wilayah Timur kota Surabaya. Sebuah kuesioner yang berisi pertanyaan terkait karakteristik peserta dan sebuah kasus digunakan pada proses pengambilan data. Validasi isi dari kasus serta penentuan kunci jawaban dilakukan melalui diskusi yang melibatkan pakar farmasi klinis, farmasi praktis, dan kesehatan masyarakat. Total terdapat 84 apoteker terlibat dalam penelitian ini; response rate 38,71%. Pemberian rekomendasi produk obat baik dengan maupun tanpa rujukan ke dokter atau saran non-farmakologi diberikan oleh 75 (89,29%) partisipan dan jenis obat yang paling sering direkomendasikan adalah probiotik, kaolin-pektin, domperidon, attapulgit. Sebanyak 26 apoteker (30,95%) memberikan rekomendasi yang tepat, yaitu: rujuk dokter segera dengan atau tanpa disertai rekomendasi lain. Hasil penelitian ini mengindikasikan perlunya intervensi untuk mengoptimalkan pemberian rekomendasi apoteker komunitas pada kasus AAD anak

    Fabrikasi dan Studi Stabilitas Self-Nano Emulsifying Propolis menggunakan Minyak Kesturi sebagai Pembawa

    No full text
    Propolis merupakan resin yang sukar larut dalam air yang dihasilkan lebah, berkhasiat sebagai antibakteri, antioksidan, serta antiinflamasi. Salah satu metode untuk meningkatkan kelarutan obat adalah teknologi self-nano emulsifying (SNE). Penelitian ini bertujuan untuk melakukan formulasi, karakterisasi, dan studi stabilitas SNE propolis dengan pembawa minyak kesturi, cremophor RH 40, dan PEG 400. Preparasi SNE dilakukan dengan mencampurkan propolis dengan pembawa. Area nanoemulsi ditentukan dengan konstruksi diagram fase terner. Karakterisasi dilakukan dengan penentuan ukuran partikel, zeta potensial, transmitan, stabilitas termodinamika, uji ketahanan, dan uji stabilitas dipercepat. Daerah nanoemulsi terdapat pada F1-F9 dengan range komposisi minyak kesturi (10-30%), cremophor RH 40 (40-80%), dan PEG 400 (10-40%). Kesembilan formula menghasilkan nilai transmitan pada 96-99%, ukuran partikel 10-40 nm, serta zeta potensial kurang dari -40 mV. Uji ketahanan menunjukkan hasil yang baik pada F4 (1: 5: 4), F5 (2: 7: 1), dan F6 (2: 6: 2). Uji stabilitas dipercepat, F5 (2: 7: 1) menghasilkan SNE yang paling optimal karena tidak teramati pemisahan fase dan pengendapan, dengan karakterisasi nilai transmitan antara 97-99%, ukuran partikel antara 16-19 nm, dan nilai PDI 0,1-0,2. Dapat disimpulkan bahwa SNE propolis dengan pembawa minyak kesturi, cremophor RH 40, dan PEG 400 menghasilkan karakteristik dan profil stabilitas yang baik

    180

    full texts

    364

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Sains Farmasi & Klinis
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇