Jurnal Sains Farmasi & Klinis
Not a member yet
    364 research outputs found

    Efek Samping Obat Gefitinib pada Pasien Kanker Paru dengan Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR) Mutasi Positif

    Full text link
    Deteksi mutasi Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR) pada pasien kanker paru akan membantu dalam pemilihan targeted therapy yaitu gefitinib. Studi mengenai evaluasi profil keamanan gefitinib di Indonesia sangat terbatas sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek samping obat hematologi dan non hematologi dari gefitinib pada pasien kanker paru dengan EGFR mutasi positif. Rancangan penelitian adalah observasional cross sectional. Data sekunder diambil melalui rekam medis tahun 2020 sampai 2022 pada 44 pasien. Probabilitas efek samping obat diukur dengan Naranjo Adverse Drug Reaction Probability Scale dan tingkat keparahan efek samping obat dinilai menggunakan Common Terminology Criteria for Adverse Events (CTCAE). Hasil penelitian menunjukkan efek samping hematologi yang paling sering muncul adalah anemia grade 1 pada 18 pasien (40.91%). Pada efek samping non hematologi, rash grade 2 mendominasi pada 20 pasien (45.46%), 14 pasien (31.82%) mengalami peningkatan serum transaminase grade 1, diare grade 1 terjadi pada 5 pasien (11.36%) dan mual muntah grade 2 dialami oleh 3 pasien (6.82%). Total 36 pasien (81.82%) mengalami efek samping dengan 19 kejadian termasuk kategori possible dan 17 kejadian termasuk kategori probable. Efek samping yang muncul bersifat ringan, dapat ditangani dan tidak kumulatif. Tidak didapatkan penyesuaian dosis atau penghentian penggunaan obat yang disebabkan oleh efek samping obat

    Antibacterial activities of three species of mangrove leaves extract against Staphylococcus aureus and Escherichia coli

    Full text link
    The increasing incidence of infections and drug resistance has led scientists to seek approaches towards medicinal plants that are potentially effective against many microorganisms. Therefore, this study was planned to assess the antibacterial activity of 3 mangrove species (Scyphipora hydrophylaceae C.F.Gaertn., Lumnitzera littorea (Jack) Voigt and Avicennia alba Blume) against Staphylococcus aureus and Escherichia coli bacteria. This study used the disc diffusion method to measure the diameter of inhibition at several concentrations of mangrove leaf ethanol extracts, namely 15%, 10%, 5%, 2.5%, 1.25% and 0.625% b/v as well as positive control cefadroxil for bacteria and DMSO as negative control. The test results showed that ethanol extracts of mangosteen leave Scyphipora hydrophylaceae C.F.Gaertn and Lumnitzera littorea (Jack) Voigt had a solid response to Escherichia coli bacteria and moderate potential against S. Aureus bacteria—no antibacterial activity against both test bacteria for Avicennia alba mangrove. This study concludes that Scyphipora hydrophylaceae C.F.Gaertn and Lumnitzera littorea (Jack) Voigt have potent antibacterial activity against Escherichia coli, but Avicennia alba has no antibacterial activity

    Formulation of Anti-Blackhead Rubber Mask from Purified Gambier (Uncaria gambir [Hunter] Roxb.)

    Full text link
    The purified was isolated from  Uncaria gambir [Hunter] Roxb. that contains more than 90% of catechins. Its antioksidant  and antibacterial properties have  potential to  formulate  as cosmetics. Dry form formulation of cosmetic was one approach to minimize cathecins degradation in a product.  In this study, three formulation of rubber mask containing 5% of purified gambier was done. . Each formulation was formulated with calcium sulfate, propylene glycol, magnesium carbonate, citrus essential oil and variation of HPMC and chitosan as film former. The three formulas had  a brown color, smooth textures, the gambier odor, visually homogeneous, particle sizes at 112.24 – 116.39 µm, moisture values at 3.9 – 7.04%, pH of 6, drying times of 8 to 15 minutes, adhesive power of > 10 seconds and remained stable for 21 days at 4±2°C and 27±2°C. The actual catechin content in formula I, II, and III were 0.89%, 1.09%, and 1.39%, respectively. The best formula was formula III, which contained 40% HPMC and 10% chitosan due to the fastest drying time of 8.36 minutes ± 19 seconds and the highest catechins content at 1.39%.The purified was isolated from  Uncaria gambir [Hunter] Roxb. that contains more than 90% of catechins. Its antioksidant  and antibacterial properties have  potential to  formulate  as cosmetics. Dry form formulation of cosmetic was one approach to minimize cathecins degradation in a product.  In this study, three formulation of rubber mask containing 5% of purified gambier was done. . Each formulation was formulated with calcium sulfate, propylene glycol, magnesium carbonate, citrus essential oil and variation of HPMC and chitosan as film former. The three formulas had  a brown color, smooth textures, the gambier odor, visually homogeneous, particle sizes at 112.24 – 116.39 µm, moisture values at 3.9 – 7.04%, pH of 6, drying times of 8 to 15 minutes, adhesive power of > 10 seconds and remained stable for 21 days at 4±2°C and 27±2°C. The actual catechin content in formula I, II, and III were 0.89%, 1.09%, and 1.39%, respectively. The best formula was formula III, which contained 40% HPMC and 10% chitosan due to the fastest drying time of 8.36 minutes ± 19 seconds and the highest catechins content at 1.39%

    Penggunaan Herbal berbasis Kearifan Lokal dalam Pengobatan Penyakit Influenza pada Anak di Provinsi Bali

    Full text link
    Anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan mengalami penyakit influenza akan tetapi antivirus dan vaksin yang ada masih terbatas efektivitasnya. Kecamatan Kintamani merupakan daerah perbukitan dengan tanaman obat yang tumbuh subur dan terbatasnya akses menuju fasilitas pelayanan kesehatan. Oleh karena itu tanaman obat memegang peranan penting dalam pengobatan penyakit influenza pada anak. Penelitian ini bertujuan  menginvestigasi tanaman obat yang digunakan masyarakat di Bali dalam mengatasi gejala influenza pada anak. Data pada penelitian kualitatif ini dikumpulkan melalui teknik wawancara dan observasi. Wawancara dilakukan pada pada dukun (balian usada), pedagang tradisional (ceraken) serta masyarakat. Penelitian ini dilakukan pada 37 narasumber yang tersebar di 6 Desa. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 36 tanaman obat yang berasal dari 21 famili berpotensi mengatasi penyakit influenza pada anak. Famili tanaman obat yang paling banyak digunakan adalah Zingiberaceae dan daun merupakan bagian tanaman yang paling banyak digunakan dengan angka 35,14%. Metode pengolahan tanaman obat yang paling sering dilakukan adalah dengan dikunyah (37,84%) selanjutnya digunakan secara topikal. Demam merupakan gejala penyakit yang sering diobati dengan 11 jenis pilihan tanaman obat. Hasil penelitian ini menunjukkan masyarakat di kecamatan Kintamani masih menggunakan tanaman obat untuk mengatasi gejala penyakit influenza pada anak Â

    Efektivitas Ekstrak Biji Teratai (Nymphaea pubescens Willd) dalam Meningkatkan Perilaku Neurokognitif pada Mencit yang Diinduksi Trimetiltin

    Full text link
    Neurodegenerasi adalah penyakit yang mengakibatkan degenerasi progresif dan kematian sel saraf di otak. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap khasiat neuroprotektif ekstrak biji teratai (Nymphaea pubescens Willd) melalui analisis perilaku neurokognitif. Sebanyak 25 ekor mencit jantan dibagi secara acak menjadi 5 perlakuan: kontrol negatif (Na-CMC 0,5%), kontrol positif diinduksi trimetiltin (TMT) 0,6mg/kgBB, dan pemberian ekstrak biji teratai (100, 200, dan 400 mg/kgBB). Induksi degenerasi otak dengan TMT menggunakan dosis tunggal secara intraperitoneal. Ekstrak diberikan tiga hari pasca injeksi TMT secara oral setiap hari selama 28 hari. Pada akhir perlakuan, tes neurobehavioral dilakukan meliputi uji kecerdasan memori dengan Hebb-Williams Maze, uji keingintahuan dengan Hole-Board dan uji interaksi sosial. Selanjutnya dilakukan pengukuran indeks organ otak. Data dianalisis secara statistik dengan One-Way Anova dilanjutkan dengan uji DNMRT (P<0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak biji teratai dosis 200 dan 400 mg/kgBB secara signifikan dapat meningkatkan kecerdasan kognitif (memori, keingintahuan dan interaksi sosial) pada mencit yang diinduksi TMT, namun tidak berpengaruh signifikan terhadap indeks bobot otak. Temuan penelitian ini mengungkapkan bahwa biji teratai adalah kandidat kuat untuk sumber obat anti-neurodegeneratif

    Analisis Rendang Daging Sapi dan Daging Babi Hutan Menggunakan Metode Spektroskopi FTIR Kombinasi Kemometrik untuk Autentikasi Halal

    Full text link
    ABSTRAKRendang merupakan salah satu makanan tradisional Sumatra Barat dari olahan daging sapi. Harga daging sapi yang mahal, mendorong pemalsuan menggunakan daging babi hutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan metode analisis autentikasi rendang sapi menggunakan spektroskopi FTIR kombinasi kemometrik. Sampel yang digunakan adalah campuran daging sapi dan babi hutan yang dibuat dalam 11 konsentrasi (training data set) serta rendang rumah makan (testing data set). Komponen lemak rendang diekstraksi menggunakan metode Folch dan Bligh Dyer kemudian dianalisis dengan spektroskopi FTIR. Spektra FTIR yang dihasilkan digunakan sebagai variabel pemodelan kemometrik. Untuk kuantifikasi, model PLS di bilangan gelombang 1250-950 cm-1 memberikan model terbaik pada metode Folch dengan nilai R2 kalibrasi 0,9946, R2 prediksi 0,9954, RMSEC 0,0328,  RMSEP 0,0402 dan pada metode Bligh Dyer, model PCR di bilangan gelombang 1800-500 cm-1 memberikan model terbaik dengan nilai R2 kalibrasi 0,9940, R2 prediksi 0,9919, RMSEC 0,0345, RMSEP 0,0457. Untuk klasifikasi, model DA di daerah gabungan bilangan gelombang 1800-1600 cm-1 dan 1250-950 cm-1 dengan metode Folch dan bilangan gelombang 1800-650 cm-1 dengan metode Bligh Dyer, berhasil mengelompokkan training data set menjadi beberapa kelas dan mengelompokkan testing data set ke dalam kelas sapi. Dengan demikian disimpulkan bahwa analisis spektroskopi FTIR kombinasi kemometrik merupakan metode screening yang cepat, sederhana dan murah untuk autentikasi rendang sapi dan babi hutan.Kata kunci: autentikasi, rendang sapi, babi hutan, FTIR, kemometrik ABSTRACTRendang is one of West Sumatra's traditional foods made from processed beef. The high price of beef encourages counterfeiting using wild boar meat. This study aims to develop a method of authentication analysis of beef rendang using FTIR spectroscopy in combination with chemometrics. The sample used is a mixture of beef and boar meat made in 11 concentrations (training data set) and restaurant rendang (testing data set). The rendang fat component was extracted using the Folch and Bligh Dyer methods and then analyzed by FTIR spectroscopy. The resulting FTIR spectra are used as a chemometric modelling variable. For quantification, the PLS model at wave number 1250-950 cm-1 gives the best model in the Folch method with a calibration R2 value of 0.9946, prediction R2 of 0.9954, RMSEC 0.0328, RMSEP 0.0402 and in the Bligh Dyer method, the model PCR at wavenumber 1800-500 cm-1 gave the best model with a calibration R2 value of 0.9940, prediction R2 of 0.9919, RMSEC 0.0345, RMSEP 0.0457. For classification, the DA model in the combined area of wave numbers 1800-1600 cm-1 and 1250-950 cm-1 with the Folch method and wave numbers 1800-650 cm-1 with the Bligh Dyer method, successfully grouped the training data set into several classes and grouped testing data set into cow class. Thus it was concluded that FTIR spectroscopic analysis combined with chemometrics is a fast, simple, and inexpensive screening method for the authentication of beef rendang and wild boar.Keywords: authentication, beef rendang, wild boar, FTIR, chemometricsÂ

    Studi In Silico dan Pengaruh Gugus Metoksi pada Hasil Sintesis Analog Kalkon terhadap Inhibisi Enzim α-Glukosidase

    Full text link
    Kalkon (1,3-diaril-2-propen-1-on) merupakan golongan flavonoid yang memiliki banyak aktivitas salah satunya sebagai antidiabetes. Pada penelitian ini dilakukan sintesis tiga senyawa analog kalkon yaitu 2’-hidroksi-2-metoksi-kalkon (Kalkon1), 2’-hidroksi-3-metoksi-kalkon (Kalkon2) dan 2’-hidroksi-4-metoksi-kalkon (Kalkon3) dan serta dilakukan pengujian karakterisasi nya. Sintesis analog kalkon  dilakukan dengan metode irradiasi microwave menggunakan  katalis KOH, pelarut etanol dan PEG 400. Struktur setiap produk dikarakterisasi melalui spektroskopi UV-Vis, FTIR dan 1H NMR, menunjukkan bahwa ketiga senyawa analog kalkon hasil sintesis memiliki struktur sesuai dengan yang diharapkan, dengan hasil rendemen yaitu 91,53% (Kalkon1), 79,01% (Kalkon 2) dan 77,48% Kalkon 3. Berdasarkan studi in silico dari parameter nilai energi bebas ikatan didapatkan bahwa senyawa Kalkon 3 memiliki nilai energi bebas ikatan terkecil yaitu sebesar -8,8 kcal/mol dibandingkan senyawa Kalkon1 dan Kalkon2 yaitu sebesar -7,5 kcal/mol, -6,8 kcal/mol. Untuk  parameter  kecocokan asam amino dengan kontrol positif (akarbose), hanya senyawa Kalkon1 yang memiliki kecocokan dengan kontrol positif (akarbose) sedangkan untuk parameter ikatan hidrogen didapatkan bahwa semua senyawa uji tidak menunjukkan adanya interaksi berupa ikatan hidrogen antara ligand dan reseptor. Hasil ini menunjukkan senyawa Kalkon1, Kalkon 2 dan Kalkon 3 diperkirakan tidak aktif sebagai inhibitor enzim α-glukosidase

    Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Bakteri Endofit dan Identifikasi Bakteri yang Diisolasi dari Kulit Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia Swingle)

    Full text link
    Kulit Jeruk nipis (Citrus aurantifolia Swingle) merupakan bagian tanaman yang banyak digunakan untuk pengobatan dengan berbagai aktivitas farmakologis. Namun masih sedikit diketahui kajian tentang bakteri endofit yang terkait dengan kulit buah tanaman ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi bakteri endofit dari kulit buah tanaman ini serta menguji aktivitas dalam mengambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus, Escherichia coli dan Methicilin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA). Sebanyak enam Isolat bakteri berhasil diisolasi lalu difermentasi dalam media Nutrient Broth (NB).  Hasil fermentasi kemudian diekstraksi menggunakan pelarut etil asetat. Ekstrak kental masing-masing isolat diujikan aktivitas antibakterinya menggunakan metode difusi Kirby-Bauer. Berdasarkan hasil pengukuran zona hambat menunjukkan bahwa ekstrak dari isolat 3 dan isolat 5 memiliki diameter hambat kuat >10 mm. Hasil identifikasi fitokimia secara kualitatif menunjukkan bahwa ekstrak dari isolat 3 menujukkan adanya kandungan alkaloid dan flavonoid sedangkan isolat 5 teridentifikasi senyawa alkaloid, flavonoid dan polifenol. Hasil identifikasi penamaan bakteri endofit menunjukkan bahwa isolat 3 merupakan Bacillus velezensis strain JS25R dan isolat 5 merupakan Staphylococcus sp. Ekstrak dari bakteri endofit ini terbukti memiliki aktivitas terhadap bakteri patogen dan potensial untuk dilakukan isolasi dan pengembangan terhadap senyawa metabolit sekunder yang memiliki aktivitas tersebut.Â

    Diferensiasi Gelatin Sapi dan Babi pada Cangkang Kapsul Keras Menggunakan metode Kombinasi Kromatografi Cair Kinerja Tinggi dan Kemometrik

    Full text link
    Gelatin sapi dan babi merupakan bahan utama pembuatan cangkang kapsul keras. Gelatin babi tidak boleh dikonsumsi oleh Muslim sehingga perlu dilakukan analisis pembeda gelatin sapi dan babi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendiferensiasi gelatin sapi dan babi pada cangkang kapsul keras menggunakan metode kombinasi Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) dan Kemometrik menu Principal Komponen Analisis(PCA). Gelatin di ekstraksi dari cangkang kapsul keras dan langsung dihidrolisis menggunakan teknik hidrolisis asam, diinjeksikan ke dalam alat KCKT dan tinggi puncak kromatogram setiap asam amino penyusun gelatin dianalisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asam amino penyusun gelatin dapat dipisahkan dengan baik oleh KCKT. Gelatin standar dan gelatin dari cangkang kapsul dengan sumber hewan yang sama memiliki komposisi asam amino yang sama. Dengan demikian, PCA dapat mengklasifikasikan sumber gelatin pada cangkang kapsul simulasi. Namun penelitian ini belum berhasil mengidentifikasi sumber gelatin cangkang kapsul komersialÂ

    Tingkat Pengetahuan, Sikap, dan Praktik Apoteker Puskesmas di Provinsi Jambi terhadap COVID-19

    Full text link
    ABSTRAKDi Indonesia, pandemi COVID-19 telah menyebar ke seluruh provinsi, termasuk provinsi Jambi. Untuk menangani pandemi COVID-19, pemerintah Indonesia membentuk Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, termasuk Puskesmas. Apoteker merupakan salah satu tenaga kesehatan puskesmas yang perlu memiliki pengetahuan, sikap dan praktik yang baik terkait COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tingkat pengetahuan, sikap dan praktik apoteker puskesmas di provinsi Jambi terhadap COVID-19 dan mengkaji hubungan ketiga variabel tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain cross sectional. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner yang telah divalidasi (Cronbach’s alpha pengetahuan 0,862; sikap 0,750, dan praktik 0,804) dan disebarkan melalui -WhatsApp grup Pengurus Cabang IAI Kota/Kabupaten Provinsi Jambi. Data dianalisa menggunakan aplikasi SPSS 20.0 dan Uji Korelasi Spearman untuk melihat hubungan antar variabel. Sebanyak 57 apoteker puskesmas menjadi responden. Hasilnya, 40,4% apoteker memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi, 63,2% memiliki sikap positif dan 54,4% menjalankan praktik yang baik terhadap COVID-19. Berdasarkan hasil uji korelasi Spearman, terdapat hubungan yang signifikan antara sikap dan praktik (p value 0,002) dan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan sikap dan pengetahuan dengan praktik. Kesimpulannya, tingkat pengetahuan apoteker puskesmas di provinsi Jambi kurang baik, namun memiliki sikap dan praktik yang baik. Praktik apoteker puskesmas terhadap COVID-19 dipengaruhi oleh sikap.Kata kunci:  Pengetahuan; Sikap; Praktik; COVID-19; Apoteker PuskesmasÂ

    180

    full texts

    364

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Sains Farmasi & Klinis
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇