Journal Universitas PGRI Semarang
Not a member yet
6019 research outputs found
Sort by
IMPLEMENTASI MODEL PJBL UNTUK MENGEMBANGKAN KREATIFITAS BELAJAR PESERTA DIDIK DALAM MEWUJUDKAN PROFIL PELAJAR PANCASILA PADA KELAS IV DI SDN 1 MOJOAGUNG
Latar belakang diadakannya penelitian ini adalah kebutuhan untuk meningkatkan kreatifitas belajar peserta didik dan membentuk karakter profil pelajar Pancasila di tingkat sekolah dasar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana penerapam model Project Based Learning (PjBL) dapat mengembangkan kreatifitas belajar peserta didik serta mendukung pencapaian nilai-nilai profil pelajar Pancasila. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data yang dikumpulkan melalui observasi ,wawancara ,dan dokumentasi, yang dilakukan terhadap peserta didik kelas IV di SDN 1 Mojoagung. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model PjBL berhasil meningkatkan kreatifitas siswa terutama dalam berfikir kritis ,kolaborasi,dan pemecahan masalah.peserta didik lebih termotivasi dalam mengikuti pembelajaran,serta mampu menyelesaikan proyek yang diberikan dengan kreatif dan inovatif
IMPLEMENTASI PELAKSANAAN PEMBELAJARAN CODING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH SISWA DI SEKOLAH DASAR NEGERI 2 RANDUBLATUNG KECAMATAN RANDUBLATUNG KABUPATEN BLORA
Latar belakang yang mendorong penelitian ini adalah setiap proses pembelajaran yang ada, bahwa harus adanya suatu hasrat atau dorongan motivasi belajar untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar di lingkungan sekolah. Tujuan dari penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan pemecahan masalah tentang game berbasis boardgame (papan permainan) untuk mengenalkan coding untuk siswa sekolah dasar secara menyenangkan. Hasil analisis penelitian dan pembahasan yang dipaparkan oleh peneliti, dapat disimpulkan bahwa melalui penerapan model pembelajaran game papan permainan dapat motivasi belajar siswa pada mata pelajaran matematika kelas IV di Sekolah Dasar Negeri 2 Randublatung Kecamatan Randublatung Kabupaten Blora meningkat secara signifikan, sebagaimana dapat dilihat dari soal post test rata-rata siswa mendapatkan 56,25 % dalam kategori kurang. Kemudian pada game papan permainan rata-rata siswa mendapatkan 90,625% dalam kategori sangat baik. Selanjutnya pada mengisi instrument angket rata-rata siswa mengisi dengan esai mendapatkan hasil 0,8333% yang masuk kategori sangat baik. Disimpulkan bahwa melalui penerapan game papan permainan maka motivasi belajar siswa pada mata pelajaran matematika kelas IV meningkat secara signifikan. Saran supaya dapat lebih meningkatkan kualitas belajar siswa dan jauh lebih memperbaiki proses belajar mengajar dengan menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan kondisi dan situasi di dalam kelas
ANALISIS LITERASI SISWA KELAS V DENGAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE SCRIPT BERBANTUAN METODE STORYTELLING DI SD NEGERI GENUKSARI 01 SEMARANG
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis literasi siswa kelas V pada penerapan model pembelajaran Cooperative Script berbatuan media Storytelling. Jenis Penelitian ini adalah penelitian kualitatif menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam dengan siswa dan guru kelas V, serta dokumentasi proses pembelajaran. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik triangulasi data untuk mengkaji analisis model pembelajaran Cooperative Script berbantuan metode Storytelling dalam meningkatkan literasi siswa kelas V di SD Negeri Genuksari 01 Semarang. Hasil analisis literasi siswa menunjukkan bahwa pada literasi siswa pada indikator mengakses dan mengambil informasi dari teks dilihat dibagian hasil tes mendapatkan rata-rata 94%. Pada indikator mengintegrasikan dan menafsirkan apa yang dibaca dilihat dibagian hasil tes mendapatkan rata-rata 94%. Dan pada indikator merefeleksi dan mengevaluasi teks dilihat dibagian hasil tes mendapatkan rata-rata 91%. Disimpulkan bahwa Sehingga dapat terdapat 93% soal yang dapat dijawab benar dan 7% soal yang dijawab salah. Proses pembelajaran literasi yang menarik dan menyenangkan dapat diperoleh dari penerapan model pembelajaran Cooperative Script dengan metode Storytelling
Analisis Penggunaan Media Interaktif Duck Scales dalam Profil Pelajar Pancasila Tema Gaya Hidup Keberlanjutan Kelas III SD Negeri 4 Kuwaron
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas media interaktif Duck Scales dalam pelaksanaan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan dampaknya pada kesadaran peserta didik terhadap lingkungan. Penelitian ini dilakukan di kelas III SD Negeri 4 Kuwaron dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang melibatkan observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Duck Scales memberikan dampak positif pada pemahaman peserta didik mengenai praktek pengelolaan sampah dan meningkatkan kesadaran lingkungan mereka, yang ditunjukkan melalui keterlibatan aktif dalam kegiatan pengumpulan sampah di sekolah. Penggunaan Duck Scales juga mendorong pemahaman lebih mendalam tentang gaya hidup berkelanjutan dimensi "Beriman, Bertakwa Kepada Kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Berakhlak Mulia" dalam pengembangan karakter peserta didik. Penelitian ini menyoroti perlunya penerapan Duck Scales secara berkelanjutan diberbagai tingkatan kelas untuk memaksimalkan efektivitasnya
KEEFEKTIFAN MODEL PEMBELAJARAN PBL BERBANTU MEDIA MONOPOLI TERHADAP HASIL BELAJAR IPA MATERI ENERGI DAN PERUBAHANNYA KELAS III SDN BABALAN PATI
Latar belakang pada penelitian ini adalah siswa kurang memahami materi yang sudah dijelaskan oleh guru, penggunaan media pembelajaran yang masih kurang, siswa kurang antusias saat proses pembelajaran, guru masih menggunakan metode ceramah dalam proses pembelajaran, saat proses pembelajaran belum ada menggunakan model dan media pembelajaran yang inovatif, sehingga hasil belajar siswa belum maksimal. Rumusan Masalah pada penelitian ini adalah apakah model pembelajaran PBL berbantu media Monopoli efektif terhadap hasil belajar IPAS materi energi dan perubahannya kelas III SDN Babalan Pati. Jenis penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan desain Pre Eksperimental design bentuk one-group pretest-posttest design. Teknik pengumpulan data pada penelitian melalui observasi, tes, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan rata-rata pretest sebesar 69,3 dan rata-rata posttest sebesar 89,3 . Berdasarkan hasil uji t dengan df = N-1 = 15-1 = 14 dengan taraf signifikan 5% diperoleh thitung 8,013 dan ttabel 2,144. Ketuntasan belajar klasikal siswa kelas III yaitu sebesar 93,3%. Dari hasil perhitungan tersebut diperoleh thitung ttabel maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar antara nilai pretest dan posttest, artinya model pembelajaran Problem Based Learning berbantu media Monopoli efektif terhadap hasil belajar IPAS materi energi dan perubahannya kelas III SDN Babalan Pati
Identifikasi Miskonsepsi Peserta Didik dengan Metode Certainty of Response Index (CRI) Materi Perkembangbiakan Makhluk Hidup Kelas VI SDN Gayamsari 01 Semarang
Kesalahan konsep yang terjadi pada siswa SD N Gayamsari 01 Semarang maka penting untuk diidentifikasi miskonsepsi siswa secara menyeluruh sebagai upaya untuk meningkatkan pemahaman konsep perkembangbiakan makhluk hidup. Permasalahan dalam penelitian ini yaitu bagaimana miskonsepsi peserta didik kelas VI SDN Gayamsari 01 Semarang pada materi perkembangbiakan makhluk hidup dengan menggunakan metode Certainty of Response Index (CRI); dan apa yang menjadi penyebab terjadinya miskonsepsi?. Jenis penelitian ini yaitu penelitian kualitatif deskriptif. Subjek penelitian pada penelitian ini yaitu guru dan siswa kelas VI SD N Gayamsari 01 Semarang. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan wawancara, observasi, tes diagostik dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat miskonsepsi materi perkembangbiakan makhluk hidup dengan menggunakan metode CRI pada siswa kelas VI SDN Gayamsari 01 Semarang termasuk dalam kategori sedang dengan rata-rata persentase sebesar 56,66%. Penyebab terjadinya miskonsepsi materi perkembangbiakan makhluk hidup pada peserta didik kelas VI SDN Gayamsari 01 Semarang yaitu berasal dari siswa yang memiliki prakonspsi dan pemikiran asosiatif; dan faktor pelaksanaan pembelajaran yang tidak sesuai dengan langkah-langkah atau sintak dalam model PjBL
Practices of English language change in education and its dynamics
The paper focuses on English language change from past to the present and show the dynamism of it which gives the effect to teaching learning process. Languages change includes pronunciation, grammar structure and linguistic items. Grammar structures change from past to the present is because of slang language growth. In speaking, people need something practical, there is no demanded to the rules or structure. The need for practical language makes people use slang language, and about pronunciation, if it is compared to some word's pronunciation in the last century and the present, it is very different. In the last century and the present, English language change could be identified happened through (1) euphemism, (2) stigmatisation of the sexiest language, the use of speech and writing, (3) discourse analysis,(4) and contrastive rhetoric. The writer will relate that component with the education field. The writer chose this topic because she wants to give a broad view to teachers and learners about English language development in education, especially used in speech or writing from time to time, in order to they could do something better for the education progression in the future. In education, teachers, especially English language teachers, are the centre of language change for the learners. S/he could teach them directly and indirectly. When s/he produce utterances when interact in the classroom, including giving knowledge, it is direct way to teach new language to the learners. But when s/he uses new vocabulary when producing those utterances, or when explaining the materials (e.g. using journals, paper, textbook), it called indirect way. A the end, the writer's suggestion to English language teacher who will face English language change in the future are: (1) Teacher should rely on themselves, not to the government or institutions. They must be aware of the latest issues happening in the social. They also must have a thought to joining teacher training, browsing materials from the internet, and share experience with their teacher partner from another country to add their quality to be a good teacher; (2) Teachers should be open• minded to see what their weaknesses improve their selves better. If the evaluation of teaching learning process shows bad result, it might be something wrong with the methodology applied
Enhancing EFL Learners in Narrative Writing and Critical Thinking Using Fractured Fairy Tales YouTube Videos
The purpose of this study is to assess the critical thinking and narrative writing skills of EFL students after taught using fractured fairy tales reading text and YouTube video, and to examine the significant difference of the result after using both media. The study employed a quasi-experimental design that involves 36 senior high school students in the twelfth grade. The findings showed that both fractured fairy tales reading text and YouTube video are effective to improve the narrative writing skill and critical thinking. The finding for narrative writing in both groups shows that the calculated t value obtained is 2.246 with a significance of 0.031. Because p 0.005, it was decided that students in the experiment group had higher average narrative writing scores than those in the control group. The finding for critical thinking in both groups obtains the number -2.577 with a significance of 0.010. The use of fractured fairy tales in reading texts and video differs significantly (p 0.005)
How to teach speaking for university students
This paper examines various approaches to teaching speaking to university students. Teaching speaking is very challenging in university, as students often possess a wealth of knowledge and experience that significantly influences their ability and capability in speaking. In speaking, there are some essential things that speakers do, that is; speech production, conceptualization and formulation, articulation, self-monitoring and repair, automaticity, fluency and managing talk. To achieve any degree of fluency, some level of automaticity is necessary. Fluency covers speed, pausing, placement of pauses, and the length of run. Managing talk covers interaction, turn-taking, and paralinguistics. Speakers should possess knowledge of linguistic, psycholinguistic, sociolinguistic, and discourse knowledge, as well as strategic knowledge. This paper concludes that however, speakers sometimes find difficulties, which might be caused by clustering, redundancy, reduced form, performance variables, colloquial language, rate of delivery, stress, rhythm, and intonation, as well as interactio
Generative Literature: The Role of Artificial Intelligence in the Creative Writing Process
This study explores the emerging phenomenon of AI-generated literature and its implications for creative writing, focusing on the characteristics of AI-generated texts, the impact of AI-human collaboration on the creative process, and the challenges posed by these technologies for traditional concepts of authorship, originality, and creativity. Through a comparative analysis of selected AI-generated literary works and a case study of the "Pharmako-AI" project, this research reveals the distinct stylistic, thematic, and structural features of AI-generated literature, as well as the complex dynamics of AI-human collaboration in the creative process. The findings suggest that while AI can serve as a powerful tool for creative exploration and experimentation, it also has limitations in terms of consistency, coherence, and emotional depth, and requires significant human input and judgment to shape the final literary output. The study contributes to the understanding of AI in creative writing by providing concrete insights into the capabilities and limitations of these technologies, and by highlighting the need for new frameworks and models to understand the nature of creative agency in the age of AI. The implications of AI-generated literature for the field of literature and future literary practices are discussed, including the potential for new forms of literary expression, new modes of authorship and collaboration, and new challenges to traditional concepts of originality and creativity. The study concludes with recommendations for future research, emphasizing the need for interdisciplinary collaboration and the development of new theoretical and methodological approaches to analyze and evaluate AI-generated literature