Journal Universitas PGRI Semarang
Not a member yet
6019 research outputs found
Sort by
Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Etnofotografi Benda-Benda Bersejarah Masa Penyebaran Hindu-Buddha di Kabupaten Batang untuk Mata Pelajaran IPS di Sekolah Dasar
This study aims to determine the practicality, and effectiveness of ethnophotography-based teaching materials in social studies learning in elementary schools. This research is research and development by adopting the ADDIE model (analysis, design, development, implementation, and evaluation). The analysis phase includes an initial needs analysis. The design stage includes closing, instructions for use, table of contents, mapping of Basic Competencies, general knowledge, introduction, presentation, exercises, glossary, answer keys and table of contents. The development stage is making teaching materials covering aspects, content of material, validation and display of production of ethnophotography-based teaching materials, development of instrument data. The data collection instruments in this study were the feasibility of lecturers, practicality sheets for subject teachers and peers, student readability sheets, pretest and posttest questions for student learning outcomes. The data collection instrument is based on the learning of the supervisor, assessment by experts, subject teachers, peers and student trials. The implementation phase of the use of teaching materials that have been developed for fourth grade students at SDN Karangasem 13. The trials carried out at this stage were product feasibility tests, readability, and pretest posttests for fourth grade students, with the results showing an increase in learning outcomes after students used ethnophotography-based teaching materials. evidenced by the n-gain value of 0.49 in the medium category. The evaluation stage includes the form of evaluation carried out at each stage of the ADDIE model. The data analysis technique used is the manova test and n-gain. The results showed that the ethnophotography teaching materials developed were suitable for use in social studies learning. The ethnophotography teaching materials are practical to use, and effective to improve the learning outcomes of elementary school students
Analisis Kohesi Gramatikal dan Leksikal pada Wacana Narasi Buku Teks Bahasa Indonesia Kelas XII
The paper repots on the reasult of a study was to describe the form of grammatical and lexical cohesion classification in the narrative discourse of class XII Indonesian textbooks. The method of providing data used in this research is the documentation method with the note-taking technique. The data analysis method used the agih method with the basic technique for direct elements (BUL) and advanced techniques in the form of replace, lesap, and insert techniques. Based on the research conducted, it was found that the use of grammatical and lexical cohesion in the narrative discourse of Indonesian language textbooks for class XII was found in the form of grammatical cohesion in the form of references, substitutions, and conjunctions. The use of lexical cohesion in the form of repetition, synonymy, antonym, collocation, and equivalence. ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk klasifikasi kohesi gramatikal dan leksikal pada wacana narasi buku teks bahasa Indonesia kelas XII. Metode penyediaan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi dengan teknik catat. Metode analisis data menggunakan metode agih dengan teknik dasar bagi unsur langsung (BUL) dan teknik lanjutan berupa teknik ganti, lesap, dan sisip. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, ditemukan bentuk penggunaan kohesi gramatikal dan leksikal pada wacana narasi buku teks Bahasa Indonesia kelas XII dalam bentuk kohesi gramatikal berupa referensi, subtitusi, dan konjungsi. Penggunaan kohesi leksikal berupa repetisi, sinonimi, antonimi, kolokasi, dan ekuivalensi
Penanaman Nilai Karakter Cinta Tanah Air Melalui Bernyanyi Lagu Nasional di PAUD
AbstractThe introduction of the national anthem at TK Dharma Wanita Tambakrejo 01 Blitar aims to educate children about moral lessons and commendable qualities that can be found in national songs. The basic framework of the formation of character values can be found in nationalism, which is embodied in the character values contained in the verses of the national anthem. The character traits expressed in the words of the national anthem are used to interpret the national spirit, which is perhaps the most important factor in the development of moral principles. Lack of character value of love for the homeland in TK Dharma Wanita Tambakrejo 01 Blitar in children aged 5 to 6 years can be instilled with the implementation of research on cultivating love for the homeland with singing methods at TK Dharma Wanita Tambakrejo 01 Blitar Regency so that it gets quite good results. Singing using the national song can make early childhood characters more aware of the value of characters who love their homeland. Keywords: Cultivating Character Values; Singing the National Anthem; Early childhood. AbstrakPengenalan lagu kebangsaan di TK Dharma Wanita Tambakrejo 01 Blitar bertujuan untuk mendidik anak tentang pelajaran moral dan sifat-sifat terpuji yang dapat ditemukan dalam lagu-lagu nasional. Kerangka dasar pembentukan nilai-nilai karakter dapat ditemukan dalam nasionalisme, yang diwujudkan dalam nilai-nilai karakter yang terkandung dalam syair lagu kebangsaan. Sifat-sifat karakter yang diungkapkan dalam kata-kata lagu kebangsaan digunakan untuk menafsirkan semangat kebangsaan, yang mungkin merupakan faktor terpenting dalam pengembangan prinsip-prinsip moral. Kurangnya nilai karakter cinta tanah air di TK Dharma Wanita Tambakrejo 01 Blitar pada anak usia 5 sampai 6 tahun dapat ditanamkan dengan pelaksanaan penelitian penanaman rasa cinta tanah air dengan metode bernyanyi di TK Dharma Wanita Tambakrejo 01 Kabupaten Blitar sehingga mendapatkan hasil yang cukup baik. Bernyanyi menggunakan lagu nasional dapat membuat karakter anak usia dini semakin mengetahui nilai karakter cinta tanah airnya.Kata kunci: Penanaman Nilai Karakter; Bernyanyi Lagu Nasional; Anak Usia Dini
Desain Pembelajaran Kecerdasan Kinestetik Berbasis Pendekatan Reggio Emillia pada Anak Usia Dini
AbstractThis article aims to describe the use of the Reggio Emilia approach in learning based on kinesthetic intelligence. This research is based on the lack of a learning approach in schools so that kinesthetic intelligence stimulation is only done with simple activities such as gymnastics. The method used in this article uses the library research method or the library method with data collection techniques based on sources such as books, articles and others that are inseparable from the context of the core problem. In this study, the kinesthetic intelligence-based Reggio Emilia learning approach was designed using two class models, namely the ateliarista class and the clay class. The atelierista class is an art class to provide opportunities for children to carry out creative activities as freely as possible according to imagination or it can also be ordered by the educator. While the clay class is a clay class where children can form a work based on the learning theme that is being carried out. With the Reggio Emilia approach, this research might be used as a learning option in developing kinesthetic intelligence in early childhood. Keywords: Kinesthetic intelligence; reggio emillia approach.AbstrakArtikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan pendekatan Reggio Emilia dalam pembelajaran berbasis kecerdasan kinestetik. Penelitian ini didasarkan oleh kurangnya pendekatan pembelajaran di sekolah sehingga stimulasi kecerdasan kinestetik hanya dilakukan dengan kegiatan sederhana seperti senam. Metode yang digunakan dalam artikel ini menggunakan metode library research atau metode kepustakaan dengan teknik pengumpulan data berdasarkan sumber seperti buku, artikel dan lain-lain yang tidak terlepas dari konteks inti masalah. Pada penelitian ini pendekatan pembelajaran Reggio Emilia berbasis kecerdasan kinestetik dirancang dengan menggunakan dua model kelas yaitu kelas ateliarista dan kelas lempung. Kelas ateliarista merupakan kelas seni untuk memberikan kesempatan kepada anak untuk melakukan kegiatan kreatif sebebas mungkin sesuai imajinasi atau bisa juga atas perintah pendidik. Sedangkan kelas clay adalah kelas clay dimana anak dapat membentuk sebuah karya berdasarkan tema pembelajaran yang sedang dilaksanakan. Dengan pendekatan Reggio Emilia, penelitian ini mungkin dapat dijadikan salah satu pilihan pembelajaran dalam mengembangkan kecerdasan kinestetik pada anak usia dini.Kata kunci: Kecerdasan kinestetik; pendekatan reggio emillia
Pengembangan Media Treasure Sensory Cube Untuk Meningkatkan Pengalaman Bermain Sensori Bagi Anak Usia 3-4 Tahun
AbstractSensory development in early childhood is the abilities and skills that are formed from the time the child is born which will determine the child's future life experiences. In the sensory development of children aged 3-4 years at school, a condition was found where the lack of availability of sensory play media was limited and not varied, this could influence the lack of sensory play experience in early childhood. Activities in class still often use paper media, such as coloring or painting, which does not provide a variety of learning media. The aim of this research is to find out how to develop the Treasure Sensory Cube media to improve sensory play experiences for children aged 3-4 years. This type of research uses RD research, using the ADDIE development model. The data analysis technique used in this research is descriptive quantitative and qualitative data. Quantitative data collection was taken from the results of a questionnaire sheet by experts using a checklist scale and descriptive qualitative data was taken from the results of input by experts and also the results of implementation with children aged 3-4 years which were qualitative in nature. The results of this research obtained scores of 87.5% and 96.8% so that it is in the very feasible category and the implementation results can be played by children. So it can be concluded that the Treasure Sensory Cube media is suitable for use to provide sensory play experiences for children aged 3-4 years.Keywords: Media Treasure Sensory Cube; Sensory; Early childhoodAbstrakPerkembangan sensori pada anak usia dini merupakan kemampuan dan keterampilan yang terbentuk sejak anak lahir yang akan menentukan pengalaman hidup anak dimasa depan. Pada perkembangan sensori anak usia 3-4 tahun di sekolah ditemukan suatu kondisi dimana kurangnya ketersediaan media bermain sensori yang terbatas dan tidak beragam, hal ini dapat mempengaruhi kurangnya pengalaman bermain sensori pada anak usia dini. Kegiatan di kelas masih sering menggunakan media kertas seperti mewarnai atau melukis saja tidak memberikan media pembelajaran yang bervariasi. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana pengembangan media Treasure Sensory Cube untuk meningkatkan pengalaman bermain sensori bagi anak usia 3-4 tahun. Jenis penelitian menggunakan penelitian RD, dengan menggunakan model pengembangan ADDIE. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif dan kualitatif deskriptif. Pengumpulan data kuantitatif diambil dari hasil lembar angket oleh ahli menggunakan skala checklist dan data kualitatif deskriptif diambil dari hasil masukan oleh para ahli dan juga hasil implementasi bersama anak usia 3-4 tahun yang bersifat kualitatif deskriptif. Hasil penelitian ini dengan mendapatkan nilai 87,5% dan 96,8% sehingga berada pada kategori sangat layak dan hasil implementasi dapat di mainkan oleh anak. Maka dapat disimpulkan media Treasure Sensory Cube layak untuk digunakan untuk dapat memberikan pengalaman bermain sensori pada anak usia 3-4 tahun.Kata kunci: Media Treasure Sensory Cube; Sensori; Anak Usia Din
Pembentukan Disiplin Santri dengan Pembiasaan dalam Teori Behavioristik di TK Ummatan Wahidah Curup
AbstractThis study aims to determine the formation of student discipline with habituation in Behavioristic theory at Ummatan Wahidah Curup Kindergarten. This is based on the fact that this school is an Islamic kindergarten with 2 curriculum contents (National Education and Ministry of Religion) which requires more time and energy in disciplining students so that the curriculum targets can be achieved, while the age is only 4-6 years old.The research method used is mix-method by combining quantitative and qualitative methods, the data will be revealed quantitatively and explored qualitatively, then will be presented descriptively. Data analysis techniques by collecting and reviewing the results of questionnaires, interviews and documentation, then after triangulation techniques and data reduction, the data is presented descriptively.The results of research from 16 Ummatan Wahidah Kindergarten teachers 84% understand the importance of discipline habituation in learning Ummatan Wahidah Curup Kindergarten students. The application of rewards in forming habituation is more dominant by giving stars as prizes and verbal praise, while punishment is replaced by strict educational actions, the highest discipline in learning is seen in prayer and recitation, the formation of discipline is more effective with Islamic values and the role of parents and ustad / ustadzah in providing examples and can be emulated.Keywords: Dicipline Formation; Habituation dan Behavioristic TheoryAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pembentukan disiplin santri dengan pembiasaan dalam teori Behavioristik di TK Ummatan Wahidah Curup. Hal ini didasari bahwa sekolah ini merupakan TK Islam dengan 2 muatan kurikulum (Pendidikan Nasional dan Kementerian Agama) yang membutuhkan waktu dan tenaga yang lebih dalam mendisiplinkan siswa agar target kurikulum dapat tercapai, sementara usianya baru 4 - 6 tahun.Metode penelitian yang digunakan mix-method dengan menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif, data akan diungkapkan secara kuantitatif dan didalami secara kualitatif, kemudian akan dipaparkan secara deskriptif. Teknik Analisa data dengan mengumpulkan dan menelaah hasil angket, wawancara dan dokumentasi, kemudian setelah triangulasi Teknik dan reduksi data, maka data disajikan secara deskriptif.Hasil penelitian dari 16 orang guru TK Ummatan Wahidah 84 % memahami pentingnya pembiasaan disiplin dalam belajar santri TK Ummatan Wahidah Curup. Penerapan reward dalam membentuk pembiasaan lebih dominan dengan pemberian bintang sebagai hadiah dan pujian verbal, sedangkan punishment diganti dengan tindakan tegas mendidik, disiplin tertinggi dalam belajar terlihat pada berdoa dan mengaji, pembentukan disiplin lebih efektif dengan nilai-nilai Islami dan peran orang tua dan ustad/ustadzah dalam memberikan contoh dan dapat dicontoh.Kata kunci: Pembentukan Disiplin; Pembiasaan dan Teori Behavioristi
PERAN KOMITE SEKOLAH DALAM IMPLEMENTASI PRINSIP MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH DI TK PERJUANGAN DESA KLUWIH KECAMATAN BANDAR KABUPATEN BATANG
Abstrak Hasil penelitian 1) peran komite sekolah sebagai pemberi pertimbangan dalam implementasi prinsip MBS di TK kanak Perjuangan adalah memberikan pertimbangan berbagai program sekolah. Bentuk pertimbangan itu seperti membarikan masukan dalam perspektif anggaran, sarpras, pengelolaan pembelajaran, kemitraan dengan instansi dan orang tua peserta didik. 2) Peran komite sekolah sebagai pendukung dalam implementasi prinsip. Bentuk dukungan materi berupa penggalangan dana dari masyarakat, dukungan dalam bentuk tenaga diwujudkan dalam kerja bakti bersama, dan dukungan dalam bentuk pemikiran. 3) peran komite sekolah sebagai pengontrol dalam implementasi prinsip manajemen berbasis sekolah di TK Perjuangan dilakukan dalam bentuk pengawasan baik secara langsung maupun tidak langsung dalam laporan akhir tahun. 4) Peran komite sekolah sebagai mediator dalam implementasi prinsip MBS di TK Perjuangan dilakukan dengan menjadi jembatan penghubungan antara sekolah dengan masyarakat dan instansi lain. Peran sebagai mediator ini dalam rangka membantu sekolah mengsukseskan pelaksanaan MBS dengan semua prinsipnya
Analisis Akuntabilitas Kepala Sekolah dalam Peningkatan Mutu Sekolah
Kepala sekolah yang akuntabel adalah kepala sekolah yang melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik. Peningkatan mutu sekolah memerlukan pemimpin yang akuntabel. Apabila akuntabilitas kepala sekolah rendah, maka mutu sekolah akan buruk. Tujuan pembuatan artikel ini adalah untuk menganalisis akuntabilitas kepala sekolah dalam peningkatan mutu sekolah. pembuatan artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data diperoleh melalui kegiatan observasi dan juga studi literatur. Hasil yang diperoleh yaitu (1) kepala sekolah yang akuntabel dapat meningkatkan mutu sekolah, (2) kepala sekolah yang akuntabilitas da transparansinya rendah dapat merusak kepercayaan masayrakat terhadap sekolah dan juga mutu sekolah. kesimpulnnya adalah untuk mencapai peningkatan mutu sekolah diperlukan kepala sekolah yang akuntabel dan profesional
PENGARUH MOTIVASI KERJA, KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL KEPALA SEKOLAH, DAN IKLIM ORGANISASI SEKOLAH TERHADAP PROFESIONALISME GURU SMK SWASTA DI WILAYAH TENGAH KABUPATEN JEPARA
AbstrakProfesosionalisme guru dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu motivasi kerja, kepemimpinan tarnsformasional kepala sekolah, dan iklim organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh motivasi kerja, kepemimpinan transformasional kepala sekolah, dan iklim organisasi terhadap profesionalisme guru sekolah menengah kejuruan (SMK) swasta di wilayah tengah Kabupaten Jepara. Penelitian ini termasuk dalam penelitian ex-post facto dan bersifat kuantitatif. Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 110 guru dari 8 sekolah. Teknik pengumpulan data menggunakan angket. Data yang terkumpul dianalisis secara kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan kompetensi motivasi kerja, kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan iklim organisasi berpengaruh terhadap profesosionalisme guru baik secara terpisah atau bersama-sama.Kata Kunci: motivasi kerja, kepemimpinan transformasional kepala sekolah, iklim organisasi, profesosionalisme gur
Perbandingan Tingkat Akurasi Prediksi Peningkatan Kasus Positif Covid-19 antara Metode Neural Network Backpropagation dan Long Short Term Memory (LSTM)
The COVID-19 (Coronavirus) pandemic is likely to be one of the most serious globalproblems in the past year. Countries do not have similar experiences with the spreadof the virus and its effects from various fields. Estimating the number of previous casesof COVID-19 can help make decisions in the form of actions and plans to prevent thevirus. This study aims to provide a forecasting model that predicts confirmed COVID-19 cases in the city of Semarang. This study applies a machine learning algorithm,namely the Recurrent Neural Network (RNN) to predict COVID-19 cases in the city ofSemarang. The process of fine-tuning each model is described in this study andnumerical comparisons between the two models are concluded using differentevaluation measures; mean sequence error (MSE)