Jurnal Mikologi Indonesia (JMI - Perhimpunan Mikologi Indonesia, Mikoina)
Not a member yet
62 research outputs found
Sort by
Optimasi Waktu Pengomposan Serbuk Gergaji Kayu dan Penambahan Substrat Jagung pada Budi Daya Jamur Tiram Putih
Jamur tiram memiliki beragam spesies dan varietas. Salah satu varietas jamur tiram yaitu jamur tiram putih, memiliki nilai ekonomis dan diminati sebagai bahan pangan karena cita rasa yang enak, protein, dan senyawa bioaktif. Budi daya jamur tiram dapat dikembangkan menggunakan medium tanam dengan nutrisi dan kondisi lingkungan yang terkontrol. Penelitian ini bertujuan menentukan kombinasi perlakuan yang optimum untuk waktu pengomposan serbuk gergaji kayu dan penambahan serbuk jagung terhadap produksi jamur tiram. Pada penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap, yaitu pembuatan medium tanam, pembibitan, dan masa inkubasi miselium dan sampai pada dibentuk tubuh buah jamur tiram. Perlakuan untuk waktu pengomposan serbuk gergaji kayu ialah selama 4, 9, dan 14 hari, serta penambahan serbuk jagung dilakukan setelah selesai masa pengomposan. Kombinasi waktu pengomposan serbuk gergaji kayu dan penambahan serbuk jagung tidak berpengaruh terhadap bobot tubuh buah dan tudung jamur. Jika ditinjau dengan faktor tunggalnya, waktu pengomposan serbuk gergaji kayu 4 hari hanya meningkatkan produksi tudung jamur pada panen ke-2, sedangkan penambahan serbuk jagung setelah waktu pengomposan serbuk gergaji kayu hanya meningkatkan jumlah tudung jamur pada panen ke-1.
Skrining Aktivitas Antibakteri dari Fungi Simbion Karang Lunak Sarcophyton sp. Hasil Isolasi di Perairan Pulau Pramuka, Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu
Fungi yang bersimbiosis dengan karang lunak Sarcophyton sp. telah diisolasi dari Perairan Pulau Pramuka, Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu dan diperoleh sebanyak enam isolat. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan identifikasi secara makroskopis terhadap isolat fungi dari Sarcophyton sp. serta melakukan uji antibakteri terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Konsentrasi hambat minimum ditentukan dengan metode dilusi cair. Hasil penelitian menunjukkan isolat fungus dengan kode FSarc-04 memiliki aktivitas antibakteri terbaik terhadap dua bakteri standar uji dengan nilai konsentrasi hambat minimum (KHM) terhadap bakteri E. coli ATCC 25922 adalah 150 mg L-1, sedangkan E. coli tipe liar 300 mg L-1. Nilai KHM untuk S. aureus ATCC 25923 adalah 300 mg L-1, dan S. aureus tipe liar 600 mg L-1. Hasil penelitian ini menunjukkan potensi isolat fungi FSarc-04 dapat dikembangkan sebagai kandidat obat anti diare. Identifikasi lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengetahui jenis fungi yang ada pada Sarcophyton sp.
Additional species of Inocybe (Agaricales, Inocybaceae) from Indonesia
Three species of Inocybe are newly reported from three different locations in Indonesia (Bogor Botanical Garden, Haurbentes (West Java), and Mt. Seraya (Bali)). Complete descriptions of Inocybe assimilata Britzelm., Inocybe hydrocybiformis (Corner & E. Horak) Garrido, and Inocybe cf. viraktha K. P. D. Latha & Manim. are provided. Inocybe assimilata is a member of Inosperma clade, meanwhile I. hydricybiformis and I. cf. varaktha are members of Inocybe clade. Art line of basidiomata and microscopic features, photos of basidiomes, SEM images of basidiospores and cystidia are presented
Profil Mikokimia dan Aktivitas Antidiabetes Jamur Coprinus comatus pada Tikus Model Hiperglikemia dengan Induksi Streptozotocin
Jamur paha ayam (Coprinus comatus (O.F.Müll.) Pers.) merupakan kelompok jamur pangan yang dapat dimakan serta berpotensi sebagai obat. Senyawa mikokimia jamur ini sangat beragam seperti alkaloid, saponin, steroid, terpenoid dan flavonoid yang memiliki aktivitas sebagai antidiabetes. Pengembangan obat herbal alternatif untuk diabetes mellitus (DM) dengan menggunakan C. comatus hasil kultivasi lokal di CV. Asa Agro Corporation Cianjur, perlu dimaksimalkan mengingat manfaat yang besar dari jamur ini. Tujuan riset untuk mengetahui jenis senyawa mikokimia jamur C. comatus dan aktivitasnya dalam menurunkan tingkat glukosa dalam darah pada tikus model hiperglikemik. Metode penelitian ini adalah true experiment¸ post-test only dengan kelompok kontrol. Sebanyak 24 individu tikus yang dibagi menjadi enam kelompok yang tersusun menjadi kontrol sehat (KS: tikus tanpa perlakuan), kontrol negatif (KN: diinduksi streotozotocin (STZ) 45 mg), kontrol positif (KP: diberi metformin 45 mg), kelompok perlakuan dengan pemberian ekstrak (terdiri dari P1: diberi 250 mg, P2: diberi 500 mg dan P3: diberi 750 mg). Pemberian ekstrak dan metformin dilakukan sekali setiap pagi hari. Nilai glukosa dalam darah diukur pada hari ke-empat setelah dilakukan induksi STZ, dan pada hari ke 15 setelah pemberian ekstrak dan metformin. Identifikasi senyawa mikokimia ekstrak etanol dilakukan dengan metode kualitatif dan kuantitatif menggunakan kromatografi gas spektrometeri massa (GC-MS). Hasil menunjukkan ekstrak etanol tubuh buah C. comatus mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, terpenoid dan saponin. Ekstrak dari C. comatus juga mampu menurunkan kadar glukosa darah puasa secara signifikan (p < 0.05) dengan persentase penurunan tertinggi yaitu 28% dengan pemberian ekstrak dosis 250 mg. Dosis 500 mg mampu menurunkan tingkat glukosa dalam darah saat puasa dengan 26,71%, serta pada dosis 750 mg menurunkan 27,90%. Hasil ini dapat menjadi informasi ilmiah untuk dapat dilakukan pengembangan lebih lanjut dari jamur C. comatus sebagai kandidat obat herbal alternatif untuk DM
Karakteristik Morfologis Aspergillus dan Colletotrichum dari Daun Jeruk Siam (Citrus nobilis var.microcarpa) Bergejala Sakit di Perkebunan Jeruk Kota Singkawang
Jeruk siam (Citrus nobilis var.microcarpa) dapat terserang berbagai penyakit yang menunjukkan gejala pada daun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakterstik morfologis jamur anggota genus Aspergillus dan Colletotrichum dari daun jeruk siam yang bergejala sakit di perkebunan kota Singkawang. Pengambilan sampel mengunakan metode purposive sampling di perkebunan Kelurahan Setapok Besar, Kecamatan Singkawang Utara. Penelitian dilakukan Laboratorium Mikrobiologi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Tanjungpura, Pontianak, pada bulan Februari sampai November 2021. Penelitian ini menggunakan metode tanam langsung (direct plating). Identifikasi dilakukan berdasarkan karakteristik morfologis. Pengamatan karakteristik morfologis dilakukan dengan cara mengamati warna permukaan atas jamur, warna permukaan bawah jamur, karakter hifa, konidia dan konidiofor. Hasil penelitian diperoleh 3 isolat jamur Aspergillus dan 2 isolat jamur Colletotrichum yang memiliki karakter berbeda pada karakteristik makromorfologis dan mikromorfologis
Yeast Penghasil Lipase dan Karakterisasi Parsial Morfologinya
Pengisolasian strain-strain yeast penghasil enzim lipase dilakukan dari Limbah Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS). Yeast diisolasi dengan menggunakan medium Yeast Extract Peptone Dextrose (YEPD) dengan tambahan chloramphenicol. Strain yeast disampling dari tiga lokasi yang berbeda berdasarkan umur TKKS berada ditempat pabrik pengolahan (1, 3, dan 30 hari). Setelah strain yeast berhasil disolasi, kemudian dilakukan skrining menggunakan medium Tributyrin Agar (TBA) pada strain yeast selama 48 jam pada suhu 30o C. Enzymatic Index (EI) dihitung berdasarkan perbandingan diameter zona bening (halo) yang terbentuk dan diameter koloni. Terhadap lima strain yeast yang memiliki nilai EI tertinggi dilakukan pengamatan morfologi koloni serta pengamatan sel yaitu tipe budding dan ukuran sel. Konstruksi klaster Euclidean (dendrogram) menggunakan algoritma UPGMA (Unweighted Pair Group Method with Arithmetical averages) dilakukan berdasarkan data skoring karakteristik fenotip dengan tujuan untuk mengetahui similaritas antara lima strain yeast terseleksi. Hasil penelitian menunjukan bahwa kelima strain yeast potensial yang diisolasi menghasilkan enzim lipase dengan nilai EI bervariasi yaitu strain C.4.3.1 dengan EI = 4,47; C.3.3.2 dengan EI = 4,14; C.3.1.1 dengan EI = 3,72; D.3.3.1 dengan EI = 3,59; dan C.1.2.2 dengan EI = 3,43. Dendrogram yang dihasilkan menunjukan adanya perbedaan jarak disimilaritas antar strain. Terdapat dua klaster besar yaitu klaster pertama (node 1) yaitu C.3.1.1 dan C.1.2.2, klaster kedua yang terdiri dari dua subklaster yaitu node 3 (strain C.4.3.1), dan node 2 (strain C.3.3.2 dan D.3.3.1)
Uji Lapang Pengendalian Penyakit Antraknos (Colletotrichum sp.) pada Cabai Rawit di Desa Hiyung Menggunakan Filtrat Campuran Tanaman Herbal Potensial
Cabai rawit varietas hiyung merupakan cabai rawit Banjar yang banyak ditanam petani di lahan rawa Desa Hiyung, Kecamatan Tapin Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan. Permasalahan tanaman cabai yang utama yaitu penyakit antraknos yang disebabkan oleh jamur Colletotrichum sp. Penyakit antraknos mengakibatkan buah menjadi busuk dan produksi akan menurun akhirnya menimbulkan kerugian. Pengendalian penyakit antraknos masih banyak menggunakan pestisida kimia, dan ini dapat berdampak buruk bagi konsumen, ekonomi dan lingkungan. Untuk mengurangi dampak tersebut diperlukan pengendalian yang murah, ramah lingkungan dan aman yaitu dengan pestisida nabati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi campuran filtrat kunyit, jahe dan lengkuas terhadap kejadian penyakit antraknos, pada cabai yang ditanam di lahan rawa Desa Hiyung. Inokulasi patogen antraknos terjadi secara alami karena daerah tersebut endemis penyakit antraknos. Aplikasi campuran filtrat uji dilakukan pada saat tanaman mulai berbunga. Perlakuannya adalah konsentrasi campuran filtrat kunyit, jahe dan lengkuas dalam air yaitu 150 ml/L, 100 ml/L dan 50 ml/L. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari aplikasi campuran filtrat kunyit, jahe dan lengkuas pada konsentrasi 150 ml/L cukup efektif mengendalikan kejadian penyakit antraknos pada cabai rawit hiyung di Desa Hiyung, sedangkan konsentrasi 50 ml/Ldan 100 ml/L kurang efektif. Aplikasi campuran filtrat kunyit, jahe dan lengkuas relatif tidak mempengaruhi jumlah buah, berat buah maupun tinggi tanaman cabai rawit hiyung
Berbagai Kapang Aspergillus seksi Nigri dari Buah Kedondong
Kapang merupakan cendawan berfilamen yang hidup pada berbagai subsrat dan memiliki habitat yang beragam, antara lain hidup pada tanah, air, serealia, endofit dalam tanaman, dan buah. Habitat kapang yang beragam juga memperbanyak diversitas kapang pada berbagai substrat, salah satunya pada buah kedondong. Salah satu kapang yang sering ditemukan adalah Aspergillus. Kapang Aspergillus terdiri dari beberapa grup salah satunya adalah Aspergillus seksi Nigri yang lebih dikenal dengan black mold. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kapang Aspergillus seksi Nigri pada buah kedondong yang telah rusak atau busuk. Isolasi kapang tersebut menggunakan metode secara langsung (purposive sampling) dengan mengambil kapang Aspergillus yang diduga berasal dari seksi Nigri, lalu diinokulasikan ke media PDA, MEA, dan CDA. Kapang kemudian diamati morfologinya secara makroskopis dan mikroskopis serta selanjutnya diidentifikasi untuk mengetahui spesiesnya. Pada penelitian ini diperoleh hasil sebanyak sembilan isolat yang berasal dari buah kedondong, diantaranya Aspergillus niger, Aspergillus foetidus, Aspergillus aculeatus, Aspergillus japonicus dan Aspergillus sp. Penelitian selanjutnya isolat tersebut dapat diidentifikasi secara molekuler dan diuji potensinya
Pemanfaatan Trichoderma spp. dan Gliocladium virens dalam Pembuatan Kompos
Kapang Trichoderma spp. dan Gliocladium sp. merupakan kapang tanah yang banyak ditemukan. Pemanfaatannya untuk meningkatkan unsur hara dan biokontrol agen hayati sudah banyak diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk menguji isolat Trichoderma asperellum, T. harzianum, T. koningiopsis dan Gliocladium virens asal Jambi untuk dimanfaatkan dalam pengomposan kotoran ternak dan bahan organik serpihan kayu. Kapang-kapang tersebut diinokulasikan pada kotoran ternak dan bahan organik serpihan kayu untuk dibuat kompos. Hasil yang diperoleh adalah penambahan inokulum Trichoderma spp. dan G. virens membantu proses pengomposan, dan meningkatkan unsur hara kompos khususnya N, P dan K pada perlakuan isolat kapang terhadap kotoran ternak yang dibuat kompos
Deskripsi dan Potensi Jamur Makro Asal Hutan Adat Penembahen, Desa Juhar, Kabupaten Tanah Karo, Sumatra Utara
Jamur merupakan salah satu penyusun ekosistem hutan yang memiliki peran penting sebagai dekomposer. Namun kajian mengenai keragaman organisme ini di Indonesia masih sangat rendah, khususnya pada hutan adat. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendata, mendeskripsikan serta mengetahui potensi pemanfaatan jamur yang ditemukan di hutan adat Penembahen yang terdapat di Desa Juhar, Kabupaten Karo, Sumatra Utara. Identifikasi jamur dilakukan dengan mengamati karakteristik makroskopisnya. Penelitian ini berhasil mendeskripsikan 12 jenis jamur, 11 di antaranya termasuk filum Basidiomycota dan satu jenis termasuk filum Ascomycota. Kajian ini merupakan laporan pertama mengenai keberadaan jamur di lokasi penelitian