Publications of Research Center for Geotechnology, Indonesian Institute of Sciences
Not a member yet
    310 research outputs found

    PERBANDINGAN EFISIENSI KOAGULAN POLY ALUMUNIUM CHLORIDE (PAC) DAN ALUMUNIM SULFAT DALAM MENURUNKAN TURBIDITAS AIR GAMBUT DARI KABUPATEN KATINGAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

    Get PDF
    Abstrak Air gambut memiliki potensi untuk diolah sebagai air baku karena ketersediaannya yang cukup banyak, terutama di Kabupaten Katingan Kalimantan Tengah.  Masalah utama dalam mengolah air gambut berhubungan dengan karakteristik spesifik yang dimilikinya yakni kualitas dari air gambut tersebut belum memenuhi standar kualitas air untuk konsumsi. Salah satu proses pengolahan air gambut yakni koagulasi yang membutuhkan koagulan. Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan efektifitas penggunaan poly alumunium chloride (PAC) dan alumunium sulfat dalam penurunan tingkat kekeruhan air gambut sehingga diperoleh dosis optimumnya. Metode yang digunakan dalam proses koagulasi menggunakan jar test dengan kecepatan pengadukan 100 RPM selama 2 menit untuk homogenisasi larutan dan pengadukan lambat selama 10 menit. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh dosis optimum dari kedua koagulan tersebut sebesar 160 mg/l. Nilai efisiensi tertinggi terlihat pada koagulan aluminium sulfat dengan presentase 96,17%, sedangkan PAC senilai 95%. Jika diukur dari segi ekonomis koagulan aluminium memiliki nilai lebih ekonomis yakni sebesar Rp 640/hari untuk 1 m3 atau Rp 19200/bulan untuk 30 m3 volume air gambut, sedangkan PAC Rp 1600/hari untuk 1 m3 atau Rp 48000/bulan untuk 30 m3 volume air gambut. Oleh karenanya dalam proses koagulasi air gambut asal Kalimantan Tengah ini direkomendasikan menggunakan koagulan aluminium sulfat

    Karakteristik Bijih Kromit Barru, Sulawesi Selatan

    Get PDF
    The Structure geology of Barr

    BACK COVER

    No full text

    POTENSI DAN KARAKTERISTIK BATUAN SUMBER HIDROKARBON DARI CONTO PERMUKAAN DI DAERAH KARAWANG, JAWA BARAT

    Get PDF
    ABSTRAK Penelitian batuan sumber hidrokarbon yang dilakukan di daerah Karawang bertujuan untuk memperoleh data permukaan endapan klastik berbutir halus serta karakteristik litofasies yang diduga sebagai batuan induk hidrokarbon. Metode yang dipakai adalah penelitian lapangan dan laboratorium. Penelitian lapangan meliputi pengamatan stratigrafi detil dan pengambilan conto batuan. Analisa laboratorium terdiri dari analisa kandungan TOC dan pirolisis Rock Eval. Hasil analisa TOC terhadap 17 conto batulempung yang diambil dari Formasi Jatiluhur menunjukkan nilai berkisar antara sebesar 0,53-2,02%. Tmax delapan  conto sebesar 422o-432oC menunjukkan tingkat kematangan thermal yang belum matang. Delapan conto lainnya masuk dalam kategori matang dengan nilai Tmax sebesar 436o-462oC, sedang satu conto dengan nilai Tmax 467oC menunjukkan kategori pasca matang. Nilai HI berkisar antara 33-143 mg HC/TOC, dan termasuk dalam Fasies D, CD dan C. Berdasarkan nilai tersebut, batuan sumber di daerah penelitian dapat menghasilkan gas dengan kuantitas kecil. Potensi hidrokarbon di daerah penelitian menunjukkan kategori kekayaan material organik rendah hingga menengah, dengan kerogen yang termasuk type II dan III. Kualitas batuan sumber berdasarkan nilai HI termasuk dalam kategori gas prone

    Diferensiasi Sumber Pencemar Sungai Menggunakan Pendekatan Metode Indeks Pencemaran (IP) (Studi Kasus: Hulu DAS Citarum)

    Get PDF
    ABSTRAK Hingga saat ini pencemaran air masih menjadi persoalan krusial di berbagai negara, khususnya di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Evaluasi tingkat pencemaran air secara berkala merupakan salah satu bentuk upaya dalam sistem pengelolaan sumberdaya air. Metode Indeks Pencemaran (IP) merupakan salah satu metode analisis kualitas air yang diaplikasikan di Indonesia. Metode ini merupakan perhitungan relatif antara hasil pengamatan terhadap baku mutu yang berlaku. Sebagai metode indeks komposit, IP terdiri atas indeks rata-rata dan indeks maksimum. Indeks maksimum dapat memberikan indikator unsur kontaminan utama penyebab penurunan kualitas air. Unsur utama dapat dihubungkan dengan sumber pencemar, apakah dari domestik maupun, non domestik (industri). Studi kasus dilakukan di hulu DAS Citarum (segmen Wangisagara-Nanjung) menggunakan data historikal tahun 2002 s.d. 2010. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa fecal coliform, sulfida, dan fenol merupakan tiga unsur utama penurunan kualitas Sungai Citarum. Fecal coliform adalah parameter tipikal dalam limbah domestik. Fenol adalah parameter tipikal dalam limbah industri. Sedangkan sulfida bisa berasal dari domestik maupun industri. Hasil penelitian menunjukkan telah terjadi diferensiasi polutan dari sumber domestik saja menjadi domestik dan non domestik setelah tahun 2005

    Limbah Batubara Sebagai Pembenah Tanah dan Sumber Nutrisi: Studi Kasus Tanaman Bunga Matahari (Helianthus Annuus)

    Get PDF
    Abstrak Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji pemanfaatan limbah batubara sebagai pembenah tanah dan sumber nutrisi bagi tanaman bunga matahari (Helianthus Annuus). Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama adalah rasio limbah batubara (% berat) yang terdiri dari 6 (enam) perlakuan yaitu 0, 10, 20, 30, 40 dan 50%. Faktor kedua adalah dosis kompos yang terdiri dari 3 (tiga) perlakuan yaitu 0, 400 dan 800 gram/pot. Kedua faktor tersebut dikombinasikan sehingga diperoleh 18 perlakuan dengan dua kali ulangan sehingga terdapat 36 pot percobaan. Pengaruh perbedaan perlakuan pada percobaan diuji dengan uji ANOVA pada taraf 5%. Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan pada masing-masing faktor, dilakukan uji jarak berganda Duncan, pada taraf ketelitian 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan limbah batubara atau kompos pada tanah meningkatkan biomassa tanaman bunga matahari, namun bila keduanya dikombinasikan tidak berpengaruh terhadap biomassa tanaman. Penambahan limbah batubara 50% (% berat) atau kompos 800 g/pot menghasilkan biomassa tanaman bunga matahari  tertinggi yaitu masing-masing sebesar 0,16 kg dan 0,14 kg bk (berat kering)

    AKURASI REKONSTRUKSI SUHU PERMUKAAN LAUT DAN 18O AIR LAUT (SALINITAS) UNTUK INTERPRETASI IKLIM MASA LAMPAU DARI KARANG MATI (FOSIL)

    Get PDF
    Abstrak Kandungan unsur geokimia dalam karang merupakan proksi yang menjanjikan untuk rekonstruksi iklim. Pasangan unsur Sr/Ca dan d18O digunakan untuk merekonstruksi kandungan d18O air laut yang selanjutnya dapat digunakan untuk merekonstruksi salinitas di masa lampau. Dalam studi ini akan dikaji mengenai akurasi rekonstruksi kedua parameter tersebut dari contoh karang modern, hasil dari studi ini akan dapat berguna nantinya untuk interpretasi iklim purba dari contoh karang mati (fosil). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa rekonstruksi salinitas (d18O air laut) dapat dilakukan jika besaran variasi bulanannya lebih besar dari pada error analisis proksi geokimia karang. Dengan mengkalikan regresi slope dari d18O air laut-salinitas dengan faktor ~2, salinitas dari wilayah Tahiti dapat direkonstruksi berdasarkan pasangan kandungan proksi Sr/Ca dan d18O dari karang Tahiti

    VARIATIONS OF PORE-WATER PRESSURE RESPONSES IN A VOLCANIC SOIL SLOPE TO RAINFALL INFILTRATION

    Get PDF
    ABSTRACT A field monitoring of hydrological response and slope movement in an active landslide area, comprising of volcanic soil, was conducted to have a better understanding of the mechanism of landslide reactivation during a rainfall period. Monitoring instruments consisted of jet-fill tensiometers, inclinometers, open stand-pipe piezometers, and a tipping-bucket rain-gauge. The records of pore-water pressure show that the hydrological responses exhibited some spatial variability, and were mainly influenced by antecedent soil moisture conditions and rainfall patterns. The ingress of wetting front was confined up to the depths of 3 m, and a transient positive pore pressure could develop at a depth of 1 m during a heavy rainfall. More sustained increase in pore-water pressure could develop at deeper soil. Meanwhile, the piezometer records show that the response of groundwater table occur more significantly in the middle and lower portions of the slope, associated with the subsurface topographical features. The analysis of antecedent moisture conditions based on the pore-water pressure measurement data indicates that simplified model of slope hydrology cannot fully explain the spatial and temporal development of the pore-water pressures observed in the soil slop

    EARLY CRETACEOUS RADIOLARIANS IN MANGANESE CARBONATE NODULE FROM THE BARRU AREA, SOUTH SULAWESI, INDONESIA.

    Get PDF
    Abstract The Mesozoic basement complex in South Sulawesi, Indonesia, is exposed in two areas near Bantimala and Barru, known as the Bantimala Complex and the Barru Complex. The complexes consist of metamorphic, ultramafic and sedimentary rocks. Part of these rocks was chaotically mixed to form a mélange. Early Cretaceous (Valanginian to Barremian) radiolarians were extracted from manganese carbonate nodule embeded in dark reddish shale of the Barru Complex. Previously middle Cretaceous (late Albian to early Cenomanian) radiolarian assemblage was reported found in chert and siliceous shale of the Bantimala Complex.The hemipelagic dark reddish shale with manganese carbonate nodule of the Barru Complex are considered to have been deposited in Early Cretaceous time (Valanginian to Barremian) and accreted at the subduction trench during late Early Cretaceous (Aptian) time.Based on radiolarian data, it is considered that the Barru and Bantimala Complexes were not derived from single accretionary complex as previously regarded

    KRITERIA RANCANG BANGUN SISTEM PANEN HUJAN DAN ALIRAN PERMUKAAN: STUDI KASUS DAS CISADANE HULU

    Get PDF
    Abstrak Banjir dan kekeringan merupakan dua fenomena alam yang dapat mengancam sistem produksi pertanian dan ketahanan pangan nasional. Secara kuantitatif masalah banjir terjadi akibat kesenjangan dua hal yaitu masalah distribusi dan kapasitas (storage). Distribusi curah hujan yang tidak merata secara spasial dan temporal menyebabkan kelebihan air di musim hujan dan kekurangan air di musim kemarau. Teknik konservasi tanah dan air dapat dilakukan melalui berbagai cara antara lain melalui  pemanenan air hujan dan aliran permukaan menggunakan embung, dam parit, dan lain-lain. Penelitian dilaksanakan di Sub DAS Cisadane Hulu pada Maret sampai dengan Nopember 2011. Tujuan penelitian yaitu: 1) mengkarakterisasi kondisi biofisik wilayah untuk penilaian kesesuaian aplikasi sistem panen hujan dan aliran permukaan 2) mengembangkan model pengelolaan air melalui panen hujan dan aliran permukaan dan mengantisipasi banjir dan kekeringan, 3) mengembangkan kriteria rancang bangun sistem panen hujan dan aliran permukaan untuk mengurangi risiko banjir dan kekeringan.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dam parit  dapat dibangun di sub DAS Cikereteg, DAS Cisadane sebanyak 41 buah dapat mengairi target irigasi seluas 50,4 ha. Sedangkan di seluruh DAS Cisadane jika dibangun sebanyak 159 buah akan dapat menurunkan debit puncak sebesar 4,5 m3/detik.  Pembangunan dam parit di sub DAS Cikereteg DAS Cisadane Hulu tergolong sesuai secara teknis maupun sosial ekonomi

    265

    full texts

    310

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Publications of Research Center for Geotechnology, Indonesian Institute of Sciences
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇