Publications of Research Center for Geotechnology, Indonesian Institute of Sciences
Not a member yet
310 research outputs found
Sort by
MODEL KERENTANAN GERAKAN TANAH WILAYAH KABUPATEN SUKABUMI SECARA SPASIAL DAN TEMPORAL
Spatial and temporal prediction of landslide hazard is required for hazard mitigation. This paper aims to present the results of areal slope stability modeling in Sukabumi Regency, considering the spatial characteristics of the slope and soil properties and temporal variation of rainfall. The modeling uses TRIGRS software to calculate the grid based slope safety factor with a size of 100 m x 100 m due to the infiltration of rainwater. Results of modeling show that landslide vulnerability of Sukabumi Regency is significantly influenced by topography and soil engineering characteristics. Meanwhile, the variation of rainfall intensity is the causative factor of temporal variation of landslide vulnerability. Based on the safety factor-based zonation, high vulnerability zone is located in the District of Pelabuhan Ratu, Cikidang, Cisolok, Kabandungan, Parakan Salak, Nagrak, Cibadak, Gegerbitung, Nyalindung, Ciracap and Warung Kiara. Many previous landslides occurred in this susceptibity zone. Thus, this landslide susceptibility modelling may apply to a spatial mapping and temporal prediction of landslide hazard.Prediksi bahaya gerakan tanah secara spasial dan temporal diperlukan untuk mitigasi bencana gerakan tanah. Makalah ini bertujuan untuk menyajikan hasil pemodelan tingkat kerentanan gerakan tanah dengan mempertimbangkan karakteristik lereng dan kekuatan tanah secara spasial dan curah hujan harian secara temporal di wilayah Kabupaten Sukabumi. Pemodelan menggunakan perangkat lunak TRIGRS untuk menghitung faktor keamanan lereng berbasis grid dengan ukuran 100 m x 100 m akibat infiltrasi air hujan. Hasil pemodelan menunjukkan tingkat kerentanan gerakan tanah spasial di Kabupaten Sukabumi dipengaruhi oleh topografi dan karakteristik keteknikan tanah. Sementara itu, curah hujan kumulatif menjadi faktor pengontrol penyebab perubahan tingkat kerentanan gerakan tanah temporal. Berdasarkan nilai faktor keamanan lereng, daerah dengan kerentanan gerakan tanah tinggi tersebar di Kecamatan Pelabuhan Ratu, Cikidang, Cisolok, Kabandungan, Parakan Salak, Nagrak, Cibadak, Gegerbitung, Nyalindung, Ciracap, dan Warung Kiara. Tingkat kerentanan ini bersesuaian dengan lokasi-lokasi gerakan tanah yang terjadi di daerah-daerah tersebut. Dengan demikian, pemodelan kerentanan gerakan tanah ini dapat digunakan untuk membantu dalam memprediksi gerakan tanah secara spasial dan temporal
MINERALOGI DAN GEOKIMIA BATUGAMPING MERAH PONJONG, GUNUNGKIDUL, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA – INDONESIA
Batugamping berwarna merah yang tersebar secara setempat-setempat dan berasosiasi dengan batugamping berwarna putih hingga abu-abu yang dijumpai di Daerah Ponjong, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, termasuk dalam Formasi Wonosari-Punung. Batugamping tersebut perlu diteliti karakteristik mineralogi dan geokimianya, yang sangat diperlukan dalam memahami genesa batugamping di daerah tersebut. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah data khususnya batugamping di daerah penelitian maupun Formasi Wonosari-Punung di daerah Pegunungan Selatan. Pengamatan petrografi dan XRD pada batugamping merah menunjukkan hadirnya mineral kalsit, kuarsa, siderit, hematit, dan titanit. Analisis geokimia oksida mayor batugamping merah memperlihatkan tren pengkayaan senyawa SiO2, TiO2, Fe2O3 dan MnO yang diinterpretasikan berhubungan dengan kehadiran mineral-mineral titanit (CaTiSiO5), siderit (FeCO3), hematit (Fe2O3), dan diduga rodokrosit (MnCO3). Mineral-mineral tersebut mempunyai karakteristik warna coklat kekuningan, merah muda sampai merah sehingga dimungkinkan dapat memberikan warna merah pada batugamping. Ada tiga proses yang diinterpretasi berperan dalam genesa batugamping merah Ponjong yaitu pengaruh material terigenus yang mengandung oksida SiO2, Al2O3, Fe2O3, dan TiO2 saat pengendapan batugamping, proses diagenesis oleh air meterorik yang mengkayakan senyawa Fe2O3 dan proses bekerjanya larutan hidrotermal.Red limestone, which is sporadically distributed and associated with white to grey limestone is located in Ponjong area, Gunungkidul District, Daerah Istimewa Yogyakarta. This limestone belongs to the member of Wonosari-Punung Formation. It is necessary to study the mineralogy and geochemistry chracteristics, which are important in understanding the genesis of the limestone. The result of this study might add the geological data for limestone in this study area and Wonosari-Punung Formation as well. The petrographical observation and X-ray diffraction results of red limestone indicated the presence of calcite, quartz, siderite, hematite and titanite. Major element analysis of the red limestone showed enrichment of SiO2, TiO2, Fe2O3 and MnO, which have considered to have relation to the presence of titanite (CaTiSiO5), siderite (FeCO3), hematite (Fe2O3), and rhodochrosite (MnCO3) in the red limestone. The minerals are typically yellowish brown, pink to red in colour, and are therefore interpreted to be responsible in giving red colour of the limestone. There are three processes that are considered in the genesis of the Ponjong red limestone, which are: impact of terrigenous material when deposition of the limestone, diagenesis process of meteoric water that enriched Fe2O3, and processof hidrotermal fluid activity.
PENGARUH AIR LAUT PADA AIRTANAH TIDAK TERTEKAN DI WILAYAH UTARA KOTA DAN KABUPATEN SERANG, PROVINSI BANTEN
Serang Municipality and Serang Regency in Banten Province are the buffer zones area of capital city Jakarta. Population growth in Serang Municipality in the year of 2010-2012 was 2.91%, and in Serang Regency in the year of 2000-2010 was 1.43%. It is eminent that increase of population would increase the consumption of water. The freshwater from unconfined aquifer is an alternative supply for domestic need, in addition to the supply from water utilities (PDAM). However, uncontrolled water pumping would cause the declining of water table; then influenced of seawater might occur. This study was conducted to determine whether the unconfined groundwater has been influenced by seawater. The study consisted of groundwater observation, measurement and groundwater collection (20 samples collected). Then, the samples were analyzed in laboratory, which consisted of flame photometric, volumetric, and visible spectrophotometric. Results showed that District of Pontang, Kasemen, Ciruas, and some areas in Kramawatu and Serang are the areas that were most affected by seawater. One location, SRG 33, in Tembakang village, Pontang District, has the highest content of electro-conductivity, salinity, sodium, chloride, and magnesium. That indicates that groundwater in this location is the most influenced by seawater.Kota dan Kabupaten Serang adalah dua wilayah yang terletak di Provinsi Banten, sebagai daerah penyangga Ibu Kota Jakarta. Pertumbuhan penduduk di Kota Serang pada tahun 2010-2012 mulai menunjukkan kenaikan yang cukup tinggi sebesar 2,91% dan di Kabupaten Serang dari tahun 2000-2010 sebesar 1,43%. Jumlah penduduk yang meningkat berdampak meningkatnya konsumsi air yang dibutuhkan. Airtanah tidak tertekan dapat menjadi alternatif penyedia air bersih selain PDAM, namun pengambilan airtanah tidak tertekan yang tidak terkendali dapat berpotensi menimbulkan penurunan muka airtanah (MAT), sehingga dapat memicu adanya pengaruh air laut ke airtanah tidak tertekan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kualitas airtanah tidak tertekan telah terpengaruh oleh air laut. Penelitian meliputi pengamatan, pengukuran dan pengambilan 20 conto airtanah, metode analisis berupa fotometri nyala, volumetri, dan spektrofotometri sinar tampak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa lokasi yang telah terpengaruh oleh air laut secara umum terdapat di Kecamatan Pontang, Kasemen, Ciruas, sebagian Kecamatan Kramatwatu dan Serang. Satu lokasi di titik SRG 33 di Kp. Tembakang, Kecamatan Potang mempunyai kandungan DHL, salinitas, natrium, klorida, dan magnesium tertinggi dibanding lokasi lainnya, ini menunjukkan bahwa titik ini telah terpengaruh oleh air laut.
ANALISIS PETROGRAFI DAN X-RAY DIFFRACTION UNTUK DETEKSI KALSIT NON DESTRUKTIF DARI FOSIL KARANG PORITES ENDAPAN TERUMBU KUARTER KENDARI, SULAWESI TENGGARA
Komposisi utama karang adalah berupa mineral aragonit. Adanya mineral kalsit didalam karang merupakan hasil ubahan (diagenesa) dari mineral aragonit. Diagenesa merupakan proses perubahan nilai kandungan unsur kimia yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan iklim. Dengan mengetahui diagenesa skeleton karang diharapkan dapat merekontruksi iklim masa lalu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana diagenesa yang terjadi pada sampel karang yang diindikasikan dengan persentasi kandungan mineral kalsit. Kandungan kalsit sebagai material diagenesis lebih dari 1% mampu mempengaruhi parameter iklim hasil rekonstruksi data kimia karang. Contoh fosil karang Porites dari endapan karbonat di wilayah Kendari Sulawesi Tenggara yaitu BG2, BG3-B1, dan BG3-C digunakan dalam studi ini. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pada ketiga sampel karang Porites terjadi diagenesa dari aragonit menjadi kalsit (calcitization) baik secara petrografi yang terlihat pada adanya struktur semen kalsit dan secara difraksi XRD diketahui dari adanya perubahan yang terjadi sebesar 0,5 - 2,9%. Contoh fosil BG3-C merupakan yang paling tinggi persentase perubahan aragonit menjadi kalsitnya, yaitu 2,9% dibandingkan dengan dua contoh lainnya (0,5%). Hasil penelitian dari contoh karang ini dapat digunakan sebagai data pendukung untuk studi rekonstruksi iklim ataupun lingkungan dengan menggunakan data proxy geokimia dalam karang. Coral skeleton are mainly consist of aragonite mineral. Calcite mineral content in coral skeleton indicates the alteration of aragonite mineral through diagenetic process. The diagenetic materials (e.g. calcite, secondary aragonite) may influence the climate parameter reconstruction based on coral geochemical proxy. This research aimed to determine the diagenetic material (i.e. calcite amount) content in the fossil Porites coral samples. Porites samples BG2, BG3 B1 and BG3-C from Kendari carbonate terrace were used in this study. XRD analysis and petrographic analysis were used to analyze the amount of calcite mineral. The results show that three samples of Porites corals perform the structure of calcite cement (i.e. based on petrographic analysis) and calcite mineral content range from 0.5% to 2.9% (based on XRD analysis). Porites fossil sample BG3-C has the highest content of calcite mineral (2.9%) and the other two samples (BG2, Bg3-B1) have 0.5% calcite mineral content. The results of this study support further study of climate reconstruction using coral geochemical proxy
DISTRIBUSI SPASIAL DAN TEMPORAL CURAH HUJAN DI DAS CERUCUK, PULAU BELITUNG
Spatial and temporal distribution of rainfall was studied to obtain a basic information on water resources management in the cerucuk watershed. The data used in this study are rainfall data of five rainfall stations in the study area. Spatial distribution of rainfall was prepared using isohyets methods. Temporal variability of rainfall were analyzed by statistical methods. Identification of rainfall variability index have determined and analyzed by statistical methods. The results showed that the spatial and temporal distribution of rainfall of Cerucuk watershed influenced by the topography. The annual cycle of rainfall have indicated equatorial type, where the peak rainfall occurs twice a year, in April and December. The monthly rainfall of Cerucuk watershed ranges from 160 mm to 600 mm with average annual rainfall was about 3320 mm. The spatial and temporal distribution of rainfall of Cerucuk watershed influenced by seasonal winds (monsoon), the ITCZ, topography and landuse changes. The annual rainfall, monthly rainfall intensity and monthly maximum rainfall of Buluh Tumbang rainfall station show a downward trend, while in Pilang station show a constant value. The tendency of temporal variation of rainfall, maximum rainfall and rainfall intensity of the stations are associated with land cover changes.Distribusi spasial dan temporal curah hujan dipelajari untuk memberikan informasi dasar dalam pengelolaan sumber daya air DAS Cerucuk. Dengan menggunakan data dari 5 stasiun curah hujan yang tersebar di daerah kajian, distribusi hujan spasial disusun menggunakan metode isohyet dan distribusi temporal dipelajari dengan metoda statistik. Identifikasi Indeks Variabilitas Hujan ditentukan dan dianalisis dengan metode statistik. Hasil penelitian menunjukan bahwa distribusi curah hujan spasial bulanan dan tahunan di DAS Cerucuk dipengaruhi oleh topografi. Siklus curah hujan menunjukkan tipe ekuatorial, dimana puncak curah hujan terjadi dua kali dalam setahun yaitu pada bulan April dan Desember. Curah hujan rata-rata wilayah bulanan berkisar 160 mm - 600 mm, curah hujan tahunan wilayah rata-ratanya berkisar 3320 mm. Variasi temporal curah hujan DAS Cerucuk dipengaruhi oleh angin musim, ITCZ, dan topografi, dan perubahan tutupan lahan. Curah hujan rata-rata tahunan, intensitas hujan harian dan hujan maksimum harian rata-rata di Stasiun Buluh Tumbang menunjukkan kecenderungan turun, sementara di Stasiun Pilang menunjukkan nilai yang cenderung konstan. Kecenderungan variasi temporal dari curah hujan, hujan maksimum harian rata-rata dan intensitas hujan harian di kedua stasiun ini berhubungan dengan perubahan tutupan lahan
STRUKTUR TINGGIAN DI SUB CEKUNGAN MAJALENGKA BERDASARKAN METODE GAYABERAT
Majalengka sub-basin in the eastern part of the Bogor Basin is mostly covered by thick volcanic deposits. However, oil and gas seepage appeared in the volcanic area. Due to seismic technology has not been able to penetrate the thick layers of volcanic rock, gravity is an alternative method to describe subsurface conditions in this area. Gravity method can determine the configuration of the basin based on different rock density. Identification of the structure and determination of structural high area is analyzed based on interpretation of gravity anomaly, residual anomaly, gradient analysis and 3D modeling of the gravity. Vertical gradient technique was used to determine the position of fault structure, while the Second Vertical Derivative (SVD) to determine the type of fault. A 3-dimensionals model was made to determine the distribution and geometry of the basin. The results showed that the structures control the formation of the basin is in the form of northwest-southeast reverse fault, east-west and southwest-northeast shear fault. The depth of the basement in the study area is between 2700-5000 m. These gravity analysis provide the information of structural highs that allow the presence of hydrocarbon trap: Kadipaten- Majalengka and Ujungjaya-Babakan Gebang High.Sub-cekungan Majalengka termasuk dalam Cekungan Bogor bagian timur yang sebagian besar tertutup oleh endapan vulkanik yang cukup tebal. Namun demikian cekungan ini mempunyai rembesan minyak dan gas yang banyak muncul di area vulkanik. Hingga saat ini, teknologi seismik belum mampu menembus lapisan vulkanik tebal untuk mengungkap konfigurasi lapisan batuan di bawahnya. Oleh karena itu digunakan metode gayaberat sebagai metode alternatif dalam menggambarkan kondisi bawah permukaan yang tertutup batuan vulkanik. Gayaberat adalah salah satu metoda geofisika yang dapat digunakan untuk mengetahui konfigurasi cekungan berdasarkan perbedaan parameter fisis densitas batuan. Identifikasi struktur dan penentuan area tinggian dilakukan berdasarkan interpretasi dari peta anomali gayaberat dan anomali residual, analisis teknik gradien dan pemodelan 3D gayaberat. Teknik gradien vertikal digunakan untuk menentukan posisi struktur sesar sedangkan Second Vertical Derivative (SVD) untuk menentukan jenis sesar. Model 3-dimensi dibuat untuk menentukan sebaran dan geometri cekungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur yang mengontrol pembentukan cekungan adalah berupa sesar naik arah baratlaut-tenggara, sesar geser arah barat-timur dan baratdaya-timurlaut. Kedalaman basement pada daerah penelitian antara 2700-5000 m. Peta anomali Bouguer, anomali residual dan model 3D gayaberat memberikan informasi terdapat tinggian yang memungkinkan terdapatnya perangkap hidrokarbon, yaitu Tinggian Kadipaten–Majalengka dan Ujungjaya-Babakan Gebang
SUMATERA IS NOT A HOMOGENEOUS SEGMENT OF GONDWANA DERIVED CONTINENTAL BLOCKS: A New Sight based on Geochemical Signatures of Pasaman Volcanic in West Sumatera.
Many authors have written and drawn that Sumatra is a homogeneous continental segment because it was constructed by continental blocks derived from Gondwana in different time and periods since initiation of Sundaland in the Triassic. There is an idea to suggest that Sumatra is fully recognized as a continental margin of Sundaland, while another idea draws that Sumatra consists of Sibumasu, West Sumatra Block and continental crust accreted onto Sundaland. However, both ideas have shown that Sumatra is composed of continental blocks. Geochemical signatures of Pasaman volcanic, collected from West Sumatra, using Ta/Yb versus Th/Yb discriminant diagram indicate that the rocks are derived from two different tectonic settings, not only from active continental margin (ACM) but also from oceanic arc tectonic environments. The discrimination becomes more clear and explicit in Yb (ppm) versus Th/Ta diagram where the ACM-derived rocks have Th/Ta ratio between 6-20 while the arc-derived samples show the ratio greater than 20. Identification of the tectonic setting origin of the volcanic can also be done using spider diagrams of selected trace elements, but it is not possible based on spider diagrams of REE. The geochemical signatures of Pasaman volcanic give evidence that Sumatra actually is not a homogenous segment of Gondwana-derived continental blocks, but consists of two different segments including ACM and arc tectonic settings. These evidences strengthen previous studies results in Lampung, Bengkulu and Central Sumatra. Banyak penulis yang telah menulis dan menggambarkan bahwa Sumatera adalah sebuah segmen benua yang homogen, karena ia disusun oleh sejumlah blok bersifat benua yang berasal dari Gondwana dalam waktu dan periode yang berbeda-beda sejak pembentukan Sundaland pada Zaman Trias. Terdapat pemikiran yang menganggap bahwa Sumatera sepenuhnya dikenali sebagai tepian benua dari Sundaland, sementara itu pendapat lain menggambarkan bahwa Sumatera terdiri dari Sibumasu, Blok Sumatera Barat dan kerak benua yang didorong naik ke atas Sundaland. Namun demikian, kedua pendapat tersebut menunjukkan bahwa Sumatera dibentuk oleh blok-blok benua. Ciri geokimia batuan volkanik daerah Pasaman, yang dikumpulkan dari Sumatera Barat, dengan menggunakan diagram pembeda Ta/Yb terhadap Th/Yb menunjukkan, bahwa batuan-batuan tersebut berasal dari dua lingkungan tektonik yang berbeda, tidak hanya dari tepian benua aktif (ACM), tetapi juga dari lingkungan tektonik busur lautan. Pembedaan itu menjadi lebih jelas dan eksplisit di dalam diagram Yb (ppm) terhadap Th/Ta, dimana batuan-batuan yang berasal dari ACM memiliki rasio Th/Ta antara 6 dan 20, sementara itu conto batuan yang berasal dari lingkungan busur menunjukkan rasio yang lebih besar dari 20. Identifikasi lingkungan tektonik asal dari batuan volkanik dapat juga dilakukan dengan menggunakan diagram laba-laba dari unsur-unsur jejak terpilih, akan tetapi tidak mungkin dilakukan berdasarkan diagram laba-laba dari unsur REE. Ciri geokimia batuan volkanik daerah Pasaman tersebut memberikan bukti-bukti bahwa Sumatera sesungguhnya bukanlah sebuah segmen homogen yang berasal dari blok-blok benua Gondwana, akan tetapi terdiri dari dua segmen berbeda yang mencakup lingkungan ACM dan busur. Bukti-bukti ini memperkuat hasil penelitian sebelumnya di Lampung, Bengkulu dan SumateraTenga