Kalamatika (E-Journal)
Not a member yet
152 research outputs found
Sort by
PERBANDINGAN HASIL BELAJAR STATISTIK DASAR DENGAN METODE PRAKTIKUM
The Tadris English Department 2015/2016 consists of 4 classes, but only 2 classes (C and D) using the practicum method in Basic Statistics learning. Class C and D Department of Tadris English has different characteristics. Class C is more preferable to class D in learning. This is evident from the level of attendance and liveliness in the classroom. So the alleged that the results of learning will cause a difference. Therefore, this study was conducted to compare differences in learning outcomes Basic Statistics before and after using the practice method in the Department of Tadris English class C and D; as well as comparing the differences in learning outcomes Basic Statistics using the class practice method C and D. Both classes are experimental classes that are independent with the treatment given that the basic statistical learning with the practice method so that it includes the type of quantitative comparational research. Homogeneity test results of two homogeneous class with p_v>α. The result of t test of the correlated sample that derived from the comparison of UTS value with UAS of both classes has increased significantly with the value of p_
PENGGUNAAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING BERBANTUAN E-LEARNING TERHADAP KEMANDIRIAN BELAJAR MAHASISWA PADA DIMENSI TIGA
Self-regulated learning of learners can be achieved, if in the process of learning mathematics provides an open opportunity for students to learn independently. This research is a mixed method type embedded design, which aims to do studies focused on the use of the Problem Based Learning (PBL) model assisted e-learning to student self-regulated learning. Sample selection is done on the purposive sampling and was taken 2 class contracting courses of school math III. Class A numbered 50 members, 24 the superior group and 26 the low group, given the treatment with PBL models assisted e-learning and class B numbered 50, 27 the superior group and 23 the low group, with expository. Instruments used in this research is self-regulated learning questionnaire with Likert scale. Based on data analysis we concluded that (1) Self-regulated learning of superior and low student who obtains aided PBL models assisted e-learning is better than self-regulated learning of superior and low superior students who obtain expository
PEMETAAN KEMAMPUAN PEMBUKTIAN MATEMATIS SEBAGAI PRASYARAT MATA KULIAH ANALISIS REAL MAHASISWA PENDIDIKAN MATEMATIKA
Masalah tentang kemampuan pembuktian matematis telah banyak dikaji oleh para ahli pendidikan matematika baik di dalam maupun di luar negeri. Studi pendahuluan ini untuk memetakan kemampuan pembuktian matematis mahasiswa yang sangat berperan penting dalam mempelajari mata kuliah Analisis Riil dan menganalisis learning obstacle yang dihadapi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang lebih menekankan pada kajian interpretative namun dalam hal tertentu akan disajikan secara deskriptif kuantitatif. Data penelitian ini diperoleh melalui tes diagnostik terkait pembuktian matematik bentuk langsung, contrapositive, tidak langsung/ kontradiksi, dan counterexample. Subjek penelitian ini merupakan mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Analisis Riil yang dipilih secara purposive sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) kebanyakan mahasiswa tidak ingat tentang bentuk-bentuk pembuktian; (2) mahasiswa tidak mampu membuat pembuktian matematika bentuk kontrapositif dan kontradiksi; dan (3) dominan mahasiswa tidak mampu mengaplikasikan pembuktian bentuk counterexample. Salah satu faktor penyebab rendahnya kemampuan pembuktian matematis mahasiswa tersebut menurut hasil wawancara dengan mahasiswa, bahwa mereka lupa dan belum terbiasa dalam membuat pembuktian matematika dan belum banyak memahami tentang pembuktian matematika
PENGARUH PEMBELAJARAN REACT TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIS DITINJAU DARI HABIT OF MIND MAHASISWA
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh metode pembelajaran REACT terhadap kemampuan berpikir kritis matematis mahasiswa calon guru. Penelitian ini dilakukan di program studi Pendidikan Matematika Universtas Muhammadiyah Prof DR HAMKA. Desain penelitian yang digunakan adalah treatment by level 2x2, dengan variabel bebas adalah metode pembelajaran yaitu REACT dan konvensional, variabel terikat adalah kemampuan berpikir kritis matematis, dan variabel moderator adalah habit of mind. Teknik pengambilan sampel yang digunakan cluster random sampling. Hasil penelitian ini ialah pertama pembelajaran REACT efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis mahasiswa sehingga metode ini dapat digunakan dalam perkuliahan Analisis Real bagi calon guru matematika. Kedua, pembelajaran berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis matematis mahasiswa tergantung dengan habit of mind mahasiswa. Ketiga, perkuliahan dengan pembelajaran REACT mahasiswa yang memiliki habit of mind tinggi memiliki skor kemampuan berpikir kritis yang lebih tinggi dibandingkan dengan perkuliahan konvensional. Uji selanjutnya diharapkan untuk menentukan metode pembelajaran yang tepat untuk mahasiswa yang memiliki habit of mind rendah
PROFIL KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIS SISWA DITINJAU DARI GAYA BELAJAR
Students learn according to their learning style, and every learning styles are affecting the process of mathematical reasoning and learning outcomes. The combination of how to absorb, manage and process information is the definition of learning styles. To maximize the students' ability to absorb, manage and process information, first identified learning styles of the students are visual, auditory or kinesthetic (V-A-K). This research aims to reveal the profile of mathematical reasoning abilities of students in terms of learning styles visual, audio and kinesthetic on the material function composition and inverse function. This research is a qualitative descriptive approach ethnography and research subject is grade XI of senior high school. The results of the research of profile learning styles (V-A-K) that profile visual students' mathematical reasoning skill, have the ability to manipulate, draw conclusions, giving reasons or evidence is sufficient. While the ability to deliver his argument lacking. Profile auditory students' mathematical reasoning skills, have the ability to manipulate, giving reason or evidence, and provide argument or the validity of the answer is both. While the ability gets conclusion to enough. Profile kinesthetic students' mathematical reasoning skills have the ability to manipulate and give reasons or evidence is sufficient. The ability to draw conclusions while the less, as well as the ability to provide an answer or the validity of the argument, he answered with a unique and clea
DESAIN MODUL PEMBELAJARAN BERBASIS KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS DAN MOTIVASI BELAJAR SISWA
This research about an instructional module design for mathematical communication skills and student motivation. This type of research is descriptive qualitative research in the form of a didactic design. Research background by the barriers to learning (learning obstacle) experienced by students regarding the material rectangle and related mathematical communication skills in junior high school students of class VII. One solution to overcome learning obstacles experienced by students is designing learning modules in order to facilitate the students to understand the material rectangular and square and encourage mathematical communication skills. The study aims to: (1) know learning obstacles experienced by students; (2) knowing how to design a learning module that is valid in accordance with learning obstacles experienced by students; (3) describe the intervention of teachers in implementing the learning modules; and (4) determine students' motivation after learning using learning modules. His research interests are students of class VII C SMP Negeri 1 palimanan. The results of this study indicate the existence of two kinds of learning obstacles experienced by students, the learning module valid after being revised in accordance with the advice of the fifth validator validation learning modules percentage reached 86.80% with a very valid criteria or can be used without revision, intervention by teachers during the implementation of the learning modules in the form of anticipation of didactic and pedagogical intervention, and the average student motivation after learning to use the learning module reaches 83.78% which is included in the category of a very strong motivation to learn
KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI JEPANG SERTA PERBANDINGANNYA DENGAN DI INDONESIA
Kurikulum merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan atau pengajaran. Kurikulum memiliki komponen-komponen yang saling berkaitan: tujuan, materi, metode, organisasi, dan evaluasi, sebagai dasar utama dalam upaya pengembangan sistem pembelajaran di lembaga pendidikan. Pembaharuan kurikulum adalah hal yang mutlak terjadi, sebab pendidikan juga berjalan mengikuti zaman dan perubahan. Seperti halnya di Indonesia, pergantian kurikulum juga terjadi di Jepang, sekalipun tidak dalam frekuensi yang sama. Tujuan pembaharuan kurikulum Jepang adalah dengan harapan dapat memacu kreativitas para guru termasuk guru matematika dalam mengimplementasikan pengalaman belajar kepada peserta. Kurikulum Jepang, pertama kali dikeluarkan pada tahun 1947, bertepatan dengan lahirnya undang-undang pendidikan di Jepang, selanjutnya berkali-kali mengalami perubahan. Panduan tentang muatan pembelajaran di sekolah termuat dalam Gakusyuushidouyouryou. Meskipun majunya pendidikan Jepang dan kemajuan industrinya benar-benar terwujud namun tetap sampai saat ini, pengembangan profesional guru dilakukan secara terus-menerus sebab Jepang menyadari karena miskin sumber daya alam maka pengembangan sumber daya manusia (termasuk guru) perlu dilakukan secara terus-menerus. Dalam makalah ini, penulis mencoba menganalisis kurikulum dan pembelajaran matematika di Jepang serta perbandingannya dengan di Indonesia, dengan harapan dapat menjadi bahan renungan dalam rangka berperan serta secara aktif dalam pengembangan kurikulum dan pembelajaran matematika di Indonesia
MODEL PENGAJARAN DAN PELATIHAN STRATEGI KOGNITIF (MODEL P2SK) YANG MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN KREATIF
Model pengajaran dan pelatihan strategi kognitif ini menjadi salah satu acuan atau contoh untuk mendesain pembelajaran. Secara praktis, model ini menjadi petunjuk dalam meintegrasikan aspek-aspek berpikir kritis dan kreatif dengan materi pelajaran. Sehingga tujuan pembelajaran untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif dapat tercapai sekaligus penguasaan materi pelajaran. Upaya menintegrasikan materi pelajaran dengan aspek-aspek berpikir kritis dan kreatif dalam pembelajaran, diperlukan upaya-upaya yang sistematis, terukur, dan berkelanjutan. Atas dasar inilah model pembelajaran ini dikembangkan. Model pengajaran dan pelatihan strategi kognitif disingkat model P2SK yang mengembangkan kemampuan berpikir kritis terdiri dari beberapa komponen, yaitu: sintaks, sistem sosial, prinsip-prinsip reaksi, sistem pendukung, dan dampak instruksional dan pengiring
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE TERHADAP KEMAMPUAN PEMAHAMAN DAN KONEKSI MATEMATIS SISWA SMP
Penelitian ini dilatarbelakangi kemampuan pemahaman dan koneksi matematis siswa tingkat SMP yang rendah. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Learning Cycle terhadap kemampuan pemahaman dan koneksi matematiks siswa. Populasi diambil dari siswa SMP Negeri 2 Cikupa Kabupaten Tangerang berjumlah 408 siswa. Teknik pengambilan sampel menggunakan Purposive Sampling, terpilih kelas VII C sebagai kelas kontrol berjumlah 44 siswa dan VII D sebagai kelas eksperimen berjumlah 47 siswa. Kelas kontrol diberikan model pembelajaran konvensional dan kelas eksperimen diberikan model pembelajaran Learning Cycle. Metode penelitian yang digunakan adalah Quasi Eksperimen dengan Nonequivalent control grup design. Instrument tes berbentuk uraian sebanyak 4 soal pemahaman matematika dan 5 soal koneksi matematika. Uji persyaratan analisis menggunakah Chi Kuadrat dan uji Fisher. Hasil data pretes menunjukkan kelas kontrol dan eksperimen memiliki data yang berdistribusi normal, homogen dan tidak terdapat perbedaan baik kemampuan pemahaman maupun kemampuan koneksi matematika. Hasil data postes kemampuan pemahaman matematika berdistribusi normal, homogen, dan terdapat perbedaan kemampuan pemahaman dan koneksi matematika antara kelas kontrol dan eksperimen. Hasil data postes kemampuan koneksi matematika berdistribusi tidak normal dan terdapat perbedaan kemampuan koneksi matematika antara kelas kontrol dan eksperimen. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran Learning Cycle berpengaruh terhadap kemampuan pemahaman dan koneksi matematis sisw
PENGARUH METODE DISCOVERY LEARNING PADA MATERI TRIGONOMETRI TERHADAP KEMAMPUAN PENALARAN ADAPTIF SISWA SMA
Kemampuan dalam bidang matematika dapat mengindikasi kemajuan suatu bangsa. Salah satu kemampuan dalam matematika adalah kemampuan penalaran adapatif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh metode pembelajaran discovery learning terhadap kemampuan penalaran adaptif siswa. Penelitian ini dilakukan di SMA Ruhul Bayan Cisauk, Tahun Ajaran 2016/2017. Metode penelitian yang digunakan adalah metode quasi eksperimen dengan desain Nonequivalent Control Group Design, yang melibatkan 65 siswa sebagai sampel. Pengumpulan data dilakukan menggunakan pretest dan postest. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pembelajaran discovery learning berpengaruh terhadap kemampuan penalaran adaptif siswa. Hal ini dapat dilihat uji t postest thitung > ttabel (2,533 > 1,99). Serta peningkatan kemampuan penalaran adaptif siswa melalui metode pembelajaran discovery learning lebih baik dari pada menggunakan metode pembelajaran konvensional melalui perhitungan N-Gain Skor