Journal of Science and Application Technology (JSAT - Institut Teknologi Sumatera)
Not a member yet
656 research outputs found
Sort by
Pemberdayaan Masyarakat Desa Sabah Balau Melalui Pendampingan Pelatihan Pembuatan Produk Bawang Hitam
Kondisi ekonomi pasca-pandemi saat ini telah mengakibatkan banyak masyarakat menghadapi berbagai kesulitan termasuk berkurangnya kesempatan kerja. Program pengabdian ini bertujuan untuk memberikan solusi masalah ekonomi pasca-pandemi dengan memperkenalkan peluang pendapatan baru melalui pembuatan produk kesehatan herbal bawang hitam. Metode pembuatan produk kesehatan bawang hitam ini melalui proses fermentasi bawang putih dengan suhu dan waktu yang telah dioptimasi. Metode pengabdian yang dilakukan adalah melakukan penyuluhan dan demo pendampingan pembuatan produk pada ibu-ibu masyarkat di desa Sabah Balau, Lampung Selatan. Dari pre-test dan post-test didapatkan hasil bahwa pengetahuan masyarakat di desa Sabah Balau mengenai cara pembuatan, proses fermentasi, dan manfaat bawang hitam mengalami peningkatan pengetahuan. Kesimpulan dari program pendampingan dan pelatihan mengenai produk kesehatan ini dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat
Pengembangan Produk Unggulan Olahan Bengkoang Desa Cintamulya, Kecamatan Candipuro, Lampung Selatan
Cintamulya is one of the leading villages in South Lampung Regency which is currently launching the "Smart Village" concept. The concept of "Smart Village" is a village that applies appropriate technology to develop potential, improve the economy, and create convenience in all aspects of people's lives. The potential that is being intensified by Cintamulya village is in the field of food, where one of the leading agricultural commodities is bengkoang. It's only recently that bengkoang has experienced an increase in the amount of production so that many unsold bengkoang are even left to rot. So that ITERA Food Technology and the Agropreneur MSME in Cintamulya village took the initiative in developing bengkoang derivative products. Processed products from cavendish bengkoang that are in great pain to be developed and sold are bengkoang starch which can be made into mask powders and syrup glucose
Pengaruh Konsentrasi Ragi Instan Dan Lama Waktu Fermentasi Terhadap Karakteristik Fisikikomia Dan Organoleptik Tapai Ubi Talas
Tapai merupakan salah satu makanan fermentasi yang dilakukan secara anaerob dengan bantuan jamur dan ragi. Konsentrasi penambahan ragi sangat mempengaruhi karakteristik tapai. Pembuatan tapai dengan penambahan konsentrasi ragi yang terlalu berlebih akan menghasilkan rasa dari tapai menjadi pahit dan akan relatif lebih cepat mengalami pembusukan, sebaliknya jika penambahan ragi terlalu sedikit akan membuat proses fermentasi melambat. Lama waktu fermentasi juga harus diperhatikan dalam proses fermentasi. Fermentasi yang terlalu lama akan mengakibatkan tingkat kemanisan tapai berkurang akibat meningkatnya produksi asam organik. Parameter penentu kualitas tapai ubi talas ini meliputi karakteristik fisikokimia dan organoleptik untuk menganalisis pengaruh konsentrasi ragi instan dan lama waktu fermentasi dari tapai ubi talas. Ragi yang digunakan merupakan ragi instan dengan merek NKL dengan variasi konsentrasi 0,5% dan 2%. Lama waktu fermentasi yang digunakan dengan variasi fermentasi 2 hari dan 3 hari. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), dengan perolehan hasil akan diolah menggunakan uji two way ANOVA pada taraf α=5%. Hasil akan dilakukan uji lanjut apabila terdapat pengaruh nyata dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT)
Pengembangan Kawasan Sentra Bisnis sebagai Kawasan TOD dalam Aspek Berjalan Kaki Kelompok Pekerja
The Golden Triangle Setiabudi represents an economic zone characterised by significant worker mobility. The congestion resulting from this high mobility can be alleviated by implementing the concept of Transit-Oriented Development at existing transit hubs with development potential, namely Setiabudi Astra Station and Bendungan Hilir Station. To implement this concept effectively, understanding the walking preferences of the worker demographic, particularly those aligned with utilitarian walking profiles, is essential. By discerning these preferences, it becomes possible to identify which transit points can cater to the walking requirements of the worker group. This research is executed through qualitative method with data and information obtained through questionnaire and field observations. This investigation revealed that connectivity and pedestrian infrastructure are pivotal factors influencing the walking preferences of the worker group. Both transit hubs also satisfy the criteria for these variables. Hence, it can be inferred that the areas surrounding Setiabudi Astra Station and Bendungan Hilir Station have met the walking preferences of the working demographic and possess the potential to evolve into Transit-Oriented Development zones. However, there is a need to address indicators that remain unmet, notably the block perimeter length, to offer more diverse walking route options for the worker group
Alternatif Pengoptimalisasian Masa Pakai Tempat Pemrosesan Akhir Di Kota Bandar Lampung
The problem of waste piles that occur in Bakung Landfill, Bandar Lampung City is influenced by demographic and geographic factors. This Open Dumping alternative is no longer feasible to be applied in accordance with Law No. 18 of 2008 because no waste management is carried out so that it can shorten the life of the landfill. The land area of Bakung Landfill, which was built at 14 Ha, has now remained at ± 3.2469 Ha. So research is needed to analyze the right waste management alternatives to optimize the service life of Bakung Landfill, Bandar Lampung City by considering cost and service life scenarios. The results showed that the increasing waste generation in Bandar Lampung City is related to demographic and geographic factors, thus affecting the increase in the area of need for Bakung Landfill in Bandar Lampung City. There are 3 alternatives to waste management that can optimize the service life of the landfill, namely the first Sanitary Lanfdill Alternative with a service life of 3.6 years, second Alternative Waste to Energy method Refuse Derived Fuel with a service life of 6 years and third Alternative Waste to Energy Incineration method with a service life of >10 years
ANALISIS DAMPAK PERUBAHAN PENGGUNAN LAHAN PERKOTAAN TERHADAP URBAN HEAT ISLAND DI KECAMATAN KEDATON
The Urban Heat Island phenomenon is defined as a form of local climate change. In the formation of the Urban Heat Island phenomenon, there are several factors, namely changes in land use, vegetation density, building density, and vehicle emissions. Dense development areas that have caused changes in land use, settlements, and transportation activities have begun to accumulate in Kedaton District. Kedaton District is included in the activity center area so that changes in land use from 2017 to 2022 occur significantly, which can cause an increase in urban temperatures. This study aims to analyze the impact of changes in urban land use on Urban Heat Island in Kedaton District. The variables used are land use, surface temperature, vegetation density, building density, motor vehicle intensity, and motor vehicle emissions. The analytical methods used are LST, NDVI, NDBI, road service level analysis, vehicle emission analysis, and correlation analysis. The results of the analysis show that the impact of changes in land use will result in a 76% decrease in vegetation density in 2022, a 95% increase in building density, and a 99% increase in vehicle emissions. The impact of changes in land use has contributed to the distribution of urban heat islands in Kedaton District. To minimize the impact of changes in use on the Urban Heat Island in Kedaton District, mitigation efforts based on the resilient city concept are needed, namely the addition of private green open spaces, reflective roof paint in densely populated areas, and optimizing public transportation
Identifikasi Kondisi Geologi dan Kualitas Airtanah di Desa Pelauw, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah
Pemenuhan kebutuhan air di Desa Pelauw sebagian besar bergantung pada air sungai dan airtanah. Namun ada sebagian masyarakat di Desa Pelauw kesulitan mendapatkan sumber air, sebab beberapa sumur gali memiliki sifat fisik payau. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi geologi dan kualitas airtanah di Desa Pelauw, Kecamatan Pulau Haruku. Metode yang digunakan adalah interpretasi kondisi geologi, dan parameter fisik-kimia airtanah. Selanjutnya dilakukan klasifikasi nilai tiap parameter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Daerah penelitian di Desa Pelauw berada pada Satuan Endapan Aluvium (Qa), Batugamping Koral (Ql), dan Batuan Gunungapi Ambon (Tpav). Sistem hidrogeologi Desa Pelauw memiliki akuifer produktivitas sedang, akuifer produktivitas tinggi-sedang, dan akuifer produktif dengan pola aliran airtanah mengalir dari arah selatan ke utara dan intensitas curah hujan menengah. Kualitas air berdasarkan Permenkes No. 492 Tahun 2010 memiliki kondisi air tawar dengan nilai EC (138-1953 µs/cm), TDS (64-872 ppm), dan salinitas (0-2,84%), kondisi air payau dengan nilai EC (2072-2712 µs/cm), TDS (1.342-2.474 ppm), dan salinitas (4,04-5,42%), pH air layak minum dengan nilai 7,30-8,42 dan pH basa pada 8,63-8,56. Sampel airtanah pada pada daerah penelitian berasal dari adanya interaksi antara air dengan material penyusun akuifer
Analisis Cemaran Angka Lempeng Total, Angka Kapang Khamir, dan Salmonella pada Produk Ayam Geprek di Belakang Wisma ITERA
Ayam geprek merupakan produk olahan daging ayam yang dilumuri tepung melalui proses penggorengan untuk mendapatkan hasil yang renyah kemudian digeprek, dan dilengkapi dengan lalapan dan sambal. Ayam geprek mudah terkontaminasi apabila penyimpanannya tidak tepat. Kontaminasi tersebut dapat terjadi melalui kondisi lingkungan, penanganan bahan baku, pengolahan, dan sanitasi pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi nilai angka lempeng total, angka kapang khamir, dan Salmonella sp pada ayam geprek di empat penjual Wisma ITERA, kemudian nilai tersebut dibandingkan dengan standar SNI 7388:2009 dan BPOM No. 13 tahun 2019. Ruang lingkup penelitian ini meliputi uji angka lempeng total, angka kapang khamir, dan Salmonella sp di empat penjual ayam geprek belakang wisma ITERA dilakukan dua kali ulangan dan duplo. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua sampel yang diuji masih memenuhi standar SNI 7388:2009 dan BPOM No. 13 tahun 2019. Namun, hasil dari pengujian Salmonella sp diperoleh hasil yaitu terdapat dugaan Shigella dan dugaan Salmonella sp pada beberapa sampel.
 
Studi Penggunaan Dua Spesies Kuda Laut Hippocampus kuda dan Hippocampus comes untuk Produksi Benih di Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung
Kuda laut merupakan salah satu komoditas ikan yang memiliki nilai jual tinggi karena memiliki bentuk yang unik dan banyak dimanfaatkan sebagai obat tradisional menyebabkan permintaan pasar ekspor akan kuda laut meningkat sehingga saat ini status konservasi tergolong dalam apendiks II dan dibatasi dalam perdagangan internasional. Untuk mencegah hal tersebut, dilakukan upaya budidaya untuk pelestarian kuda laut. Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung merupakan unit pelaksana teknis yang melakukan kegiatan budidaya kuda laut karena itu melakukan praktik kerja dengan tujuan membandingkan penggunaan dua jenis kuda laut dalam produksi benih unggul untuk mencapai produksi yang maksimal. Metode pengambilan dan pengolahan data yaitu melalui data primer dengan melakukan observasi dan mengikuti kegiatan di BBPBL dan data sekunder dilakukan dengan pengumpulan data melalui studi literatur pustaka berupa jurnal artikel dan e-book. Prosedur yang dilakukan meliputi persiapan wadah, pemeliharaan, pengambilan sampel dan pengujian kualitas udara. Hasil yang diperoleh dari sampling Hippocampus kuda betina memiliki rata-rata panjang 17,9 cm dengan rata-rata bobot 13,1 gram dan jantan 18 cm dengan rata-rata bobot 17,65 gram, Hippocampus betina memiliki rata-rata panjang 16, 05 dengan rata-rata bobot 10 gram dan jantan 16,35 dengan rata-rata bobot 8,7 gram. Kelangsungan hidup induk kuda 50% dan datang 96,30% sedangkan kelangsungan hidup benih kuda 48,74% dan benih datang sebesar 90,23%, sehingga spesies yang paling bagus untuk dibudidayakan adalah jenis datang.
Kata kunci: Hippocampus kuda, Hippocampus datang
 
Pengaruh Pengaruh Detergen terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Kangkung (Ipomoea reptants Por.): The Effect of Detergen for Plant Growth and Development of Kangkung Plants (Ipomoea reptants Por.)
Abstrak Tanaman kangkung di Indonesia terdapat dua varietas yaitu kangkung air (Ipomoea aquatica) dan kangkung darat (Ipemoea reptants Por.). Deterjen merupakan produk pembersih dan penyempurna sabun yang terdiri dari tiga komponen utama yaitu surfaktan, bahan builder dan bahan aditif. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon dan pengaruh detergen terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman kangkung. pengujian ini dimulai dengan perendaman benih kangkung selama 24 jam, dilanjutkan dengan penyemaian selama 10 hari, lalu dilakukan perlakuan dengan konsentrasi deterjen 0 gram, 1 gram, 2,5 gram, dan 5 gram dengan pengamatan dan diberi perlakuan 2 hari 1 kali selama 30 hari dan parameter yang diamati yaitu warna daun, jumlah helaian daun, tinggi tanaman, berat basah dan panjang akar. Hasil yang didapatkan diketahui tanaman yang diberi cekaman deterjen dengan konsentrasi tertinggi, yaitu 5 gram berpengaruh terhadap perubahan warna daun, panjang akar tanaman, dan berat tanaman.
Kata kunci : Kangkung (Ipomoea reptants Por.), cekaman, detergen. Abstract: Kangkung plants in