Journal STIKES Pemkab Jombang
Not a member yet
1178 research outputs found
Sort by
GAMBARAN FUNGSI KOGNITIF PADA LANSIA DI UPT PANTI WERDHA MOJOPAHIT KABUPATEN MOJOKERTO
Orang lanjut usia (lansia) jika usianya > 60 Tahun. Pada lansia mengalami proses penuaan yang mengakibatkan penurunan fungsi tubuh salah satunya fungsi kognitif. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti tanggal 9 mei 2013 di UPT Panti Werdha Mojopahit Mojokerto dari 10 orang lansia yang dilakukan pemeriksaan menggunakan Mini Mental State Exam (MMSE) 7 orang lansia mengalami penurunan fungsi kognitif. Dari ke 7 orang lansia yang mengalami perubahan fungsi kognitif rata-rata menjadi mudah lupa sehingga menggangu aktifitas sehari-hari. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran fungsi kognitif pada lansia di UPT Panti Werdha Mojopahit Kabupaten Mojokerto. Desain penelitian menggunakan deskriptif dengan variabel fungsi kognitif pada lansia. Populasinya adalah lansia yang tinggal di UPT Panti Werdha Mojopahit Kabupaten Mojokerto. Sampel berjumlah 30 orang lansia yang sesuai kriteria inklusi (lansia yang bersedia menjadi responden, kooperatif, tidak mengalami gangguan saraf dan tidak buta huruf). Teknik sampling menggunakan purposive sampling. Metode pengumpulan data dengan wawancara terbimbing menggunakan Mini Mental State Exam (MMSE) dan analisa data dengan Editing, Coding, Skoring dan Tabulating. Dari hasil penelitian didapatkan data hampir setengahnya 46,7% lansia yang tinggal di UPT Panti Werdha Mojopahit Kabupaten Mojokerto mengalami perubahan fungsi kognitif berat. Dengan melihat hasil penelitian tersebut, maka ada beberapa saran yang ingin disampaikan oleh peneliti yaitu bagi petugas kesehatan di panti perlu adanya upaya untuk meningkatkan fungsi kognitif pada lansia dengan mengikut sertakan lansia melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan fungsi kognitif pada lansia seperti melakukan aktifitas fisik dan melakukan hobi/kegemaran.
Kata Kunci : Lansia, Fungsi Kognitif
 
GAMBARAN FAKTOR DOMINAN PERILAKU PRA LANSIA (USIA 45-54 TAHUN) DALAM MENCEGAH HIPERTENSI DI DESA PAGERWOJO KECAMATAN PERAK KABUPATEN JOMBANG
888 orang (Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang, 2012).Dan jumlah hipertensi terbanyak terdapat di Desa Pagerwojo Kecamatan Perak Kabupaten Jombang sejumlah 121 orang,dengan kategori umur 20-44 tahun sebesar 15 orang,umur 45-54 tahun sebesar 33 orang,umur 55-59 tahun hanya 1 orang,umur 60-69 tahun sebesar 23 tahun,dan yang berumur lebih dari 70 tahun sebesar 10 orang.. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Gambaran faktor dominan perilaku pra lansia (usia 45-54 tahun) dalam mencegah hipertensi di Desa Pagerwojo Kecamatan Perak Kabupaten Jombang. Desain penelitian deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah semua penderita hipertensi yang berumur 45-54 tahun di Desa Pagerwojo Kecamatan Perak Kabupaten Jombang sebanyak 33 orang. Besar sampel yang digunakan sebanyak 33 responden. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling. Variabel penelitian ini adalah Gambaran faktor dominan perilaku pra lansia (usia 45-54 tahun) dalam mencegah hipertensi (pengetahuan, persepsi, lingkungan dan sosial ekonomi). Instrument dalam penelitian ini menggunakan kuesioner. Waktu penelitian pada tanggal 4-15 Agustus 2013. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar pengetahuan tentang cara mencegah hipertensi adalah cukup sejumlah 24 responden (72,7%), sebagian besar persepsi tentang cara mencegah hipertensi adalah positif sejumlah 23 responden (69,7%), sebagian besar lingkungan responden adalah positif sejumlah 22 responden (66,7%), sebagian besar pendapatan responden adalah tinggi > 1.200.000 sejumlah 19 responden (57,6%). faktor yang paling dominan adalah faktor pengetahuan pra lansia (usia 45-54 tahun) tentang hipertensi adalah cukup. Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan tambahan dalam memberikan materi tentang cara mencegah hipertensi pada pra lansia(usia 45-54 tahun).
Kata Kunci : Perilaku, pra lansia (usia 45-54 tahun), hipertensi 
ANALISA FAKTOR-FAKTOR PENCETUS DERAJAT SERANGAN ASMA PADA PENDERITA ASMA DI PUSKESMAS PERAK KABUPATEN JOMBANG TAHUN 2013
Asma merupakan gangguan pada saluran bronchial dimana penyakit ini dapat disebabkan oleh banyak faktor. Prevalensi dari penyakit ini meningkat dari tahun ke tahun. Di Indonesia prevalensi asma belum diketahui secara pasti namun diperkirakan 2-5% penduduk Indonesia menderita asma. Di Jawa Timur sendiri prevalensi asma mencapai 2,62%. Asma dicetuskan beberapa faktor diantaranya: alergen, aktivitas fisik, stres dan lain-lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa faktor-faktor pencetus derajat serangan asma di Puskesmas Perak Kabupaten Jombang tahun 2013. Metode penelitian menggunakan deskriptif analitik dengan pendekatan retrospektif. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pengunjung penderita asma sebanyak 91 responden. Pemilihan sampel dilakukan secara Simple Random Sampling sebanyak 74 responden. Pengumpulan data menggunakan kuisioner dan data dianalisis dengan uji Mann-Whitney dan uji Spearman Rho. Hasil uji Mann-Whitney didapatkan nilai p value 0,002 yang menunjukkan hubungan faktor alergen dengan derajat serangan asma, dan hasil uji Spearman Rho didapatkan nilai p value 0,000 yang menunjukkan hubungan faktor aktivitas fisik dengan derajat serangan asma, dimana nilai 0,000 lebih kecil dari 0,005. Faktor-faktor pencetus derajat serangan asma menentukan tingkat serangan asma pada penderita asma itu sendiri. Dengan seringnya penderita terpapar dengan pencetus-pencetus tersebut maka serangan asma penderita akan sering terjadi berulang. Oleh karena itu diharapkan penderita untuk selalu menghindari faktor pencetus serangan asma dimana dari hasil penelitian faktor yang lebih dominan adalah faktor aktivitas fisik.
Kata Kunci: Pencetus Asma, Derajat, Serangan Asma
 
GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LANSIA TIDAK MENGIKUTI POSYANDU LANSIA DI POSYANDU DAHLIA 2 DUSUN NGABAR DESA SUMBERTEGUH KECAMATAN KUDU KABUPATEN JOMBANG TAHUN 2013
Meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia juga menimbulkan berbagai masalah seperti masalah fisik, mental psikologis dan sosial ekonomi. Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah membuat program posyandu lansia untuk meningkatkan derajat kesehatan dan mutu pelayanan kesehatan lanjut usia. Akan tetapi jumlah lansia yang mengikut posyandu lansia di posyandu Dahlia 2 tergolong rendah, ini di buktikan dari target yang di tentukan yaitu jumlah kedatangan 80% tetapi yang hadir hanya 10% dari lansia yang tercatat di posyandu. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi lansia tidak mengikuti posyandu lansia di posyandu Dahlia 2 Dusun Ngabar Desa Sumberteguh Kecamatan Kudu Kabupaten Jombang (Jarak, Pengetahuan,dan Dukungan keluarga).Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan Cross sectional. Cara pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Pengambilan data dengan menggunakan kuesioner. Varibelnya yaitu faktor-faktor yang mempengaruhi lansia untuk tidak mengikuti posyandu lansia. Populasinya 58 lansia yang tidak mengikuti posyandu lansia pada bulan juni di posyandu dahlia 2 Dusun Ngabar Desa Sumberteguh Kecamatan kudu kabupaten Jombang dan didapatan 53 lansia yang sesuai dengan kriteria inklusi. Hasil dari penelitian yang didapatkan bahwa sebagian besar yaitu sejumlah 28 lansia (52,84%) jarak rumah lansia dengan lokasi posyandu lansia dekat, sebagian besar pengetahuan lansia yaitu sebanyak 30 lansia (56,60%) pengetahuannya kurang, dan sedangkan dukungan keluarga lansia sebagian besar yaitu sejumlah 32 lansia (60,38%) dukungan keluarga lansia tergolong rendah. Dari hasil penelitian diharapkan lansia lebih aktif dalam mencari informasi dengan cara mengikuti sosialisasi yang di selengarakan oleh petugas kesehatan dan di harapkan lansia lebih aktif dalam memanfaatkan posyandu yang sudah ada, untuk keluarga diharapkan lebih memberikan dukungan keluarga secara penuh terhadap lansia, dan untuk petugas kesehatan setempat lebih aktif meningkatkan pengetahuan dan dukungan keluarga dengan cara sosialisasi tentang posyandu lansia.
Kata kunci : faktor-faktor yang mempengaruhi, posyandu lansi
PERAN KADER KESEHATAN DALAM MENINGKATKAN KUNJUNGAN BALITA DI POSYANDU DESA SUMBERNONGKO NGUSIKAN JOMBANG
Program kesehatan yang terkait dalam status kesehatan ibu dan anak di Indonesia mulai menunjukkan peningkatan, hal ini berperan menurunkan angka kematian dan kesakitan ibu serta angka kematian bayi. Pemerintah berupaya memberikan pelayanan kesehatan di setiap Desa dengan memberdayakan masyarakat. Data dari Dinas Kesehatan Jombang tahun 2012 jumlah kunjungan ibu dan balita datang ke posyandu Datang/Sasaran (D/S) se-Kabupaten Jombang sebesar 75.47%, hal ini menunjukkan bahwa tingkat keaktifan di posyandu balita masih rendah dibandingkan dengan standar pelayanan minimal sebesar 80%. Penelitian ini bertujuan peran kader kesehatan dalam meningkatkan kunjungan balita di posyandu Desa Sumbernongko Kecamatan Ngusikan Kabupaten Jombang. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif, populasi seluruh kader kesehatan di Desa Sumbernongko Kecamatan Ngusikan Kabupaten Jombang sebanyak 27 orang, sampel sebanyak 27 responden, teknik sampling menggunakan total sampling. pengumpulan data menggunakan kuesioner, data disajikan dalam tabel distribusi ferkuensi. Hasil penelitian didapatkan peran kader kesehatan dalam meningkatkan kunjungan balita diketahui hampir seluruhnya 81,5% (22 responden) peran kader cukup, dan sebagian kecil responden 18,5% peran kader baik. Peran kader hampir seluruh responden cukup, untuk itu bidan hendaknya memberi motivasi pada kader agar meningkatkan lagi perannya dalam kegiatan posyandu menjadi baik. Kader kesehatan agar lebih aktif dalam kegiatan posyandu, sehingga ibu balita aktif pada kegiatan posyandu.
Kata kunci: Peran Kader, Kunjungan Balita, Posyand
HUBUNGAN ANTARA AKTIVITAS FISIK DENGAN INTENSITAS NYERI SENDI PADA LANSIA DI PANTI WERDHA MOJOPAHIT KABUPATEN MOJOKERTO
Nyeri merupakan masalah yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi alasan mum orang mencari perawatan kesehatan. Lebih dari setengah jumlah seluruh lansia mempunyai nyeri sendi. Faktor yang dapat meningkatkan nyeri sendi antara lain aktivitas fisik, usia lebih dari 45 tahun, jenis kelamin perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara aktivitas fisik dengan intensitas nyeri sendi di Panti Werdha Mojopahit Kabupaten Mojokerto. Desain penelitian adalah analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional. Populasinya adalah seluruh lansia yang berada di Panti Werdha Mojopahit Kabupaten Mojokerto pada tahun 2012 sebanyak 34 orang. Sampel yang diambil sebanyak 31 responden dengan menggunakan simple random sampling. Variabel independen adalah aktivitas fisik dan variabel dependen adalah intensitas nyeri sendi. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan wawancara. Data kemudian dianalisis menggunakan uji Mann Whitney dengan tingkat signifikan ? 0,05 dengan SPSS 19. Hasil penelitian ini didapatkan 11 responden (35,48%) mengalami intensitas nyeri berat, 21 responden (67,74%) aktivitas fisik aktif, dan dari uji atatistik didapatkan hasil signifikansi 0,039, dimana 0,039 lebih kecil dari 0,05 sehingga H1 diterima yang artinya ada hubungan antara aktivitas fisik dengan intensitas nyeri sendi pada lansia di Panti Werdha Mojopahit Kabupaten Mojokerto. Bagi lansia yang aktivitas fisiknya aktif dan mengalami intensitas nyeri sendi berat disarankan untuk mengistirahatkan sendi dengan tidak melakukan aktivitas. Semua lansia diharapkan dapat mengatur aktivitas fisiknya dan disesuaikan dengan kemampuan.
Kata Kunci : aktivitas fisik, lansia, nyeri sendi
 
GAMBARAN PERKEMBANGAN BALITA GIZI KURANG DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS CUKIR KABUPATEN JOMBANG
Banyaknya balita yang mengalami kurang gizi perlu menjadi perhatian serius karena besar kemungkinan mereka akan mengalami gangguan pertumbuhan fisik dan perkembangan mental intelektual. Di Indonesia, diperkirakan ada sekitar 4,5 % dari 22 juta balita mengalami gizi kurang. Dari 34 puskesmas yang berada di Kabupaten Jombang, status gizi kurang tahun 2012 dilihat dari persentasinya, tertinggi pertama yaitu Puskesmas Wonosalam (18,84%) dan tertinggi kedua yaitu Puskesmas Cukir (11,79%). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perkembangan balita gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Cukir Kabupaten Jombang. Jenis penelitian ini adalah Deskriptif, dengan populasi sebanyak 425 balita gizi kurang, sampel sebanyak 85 responden. Teknik sampling yang digunakan adalah Simple Cluster Random Sampling dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Pengumpulan data menggunakan kuesioner pra skrining perkembangan (KPSP). Hasil penelitian didapatkan bahwa dari 85 balita yang berstatus gizi kurang mengalami perkembangan meragukan sebanyak 40 (47.1%) responden. Berdasarkan penelitian diaatas, diharapkan kepada orang tua terutama ibu lebih meningkatkan status gizi anaknya dengan cara memenuhi gizi yang seimbang agar perkembangan anak berjalan sesuai dengan usianya. Selain itu, pemerintah dan dinkes sebaiknya membuat program atau kebijakan untuk perbaikan gizi balita serta pemantauan perkembangan. Sebagai akademisi tidak hanya memberikan konseling atau penyuluhan, tetapi juga harus bisa memberikan contoh dalam perbaikan gizi maupun memantau perkembangan balita. Karena masalah gizi kurang sepenuhnya bukan hanya tanggung jawab orang tua atau keluarga, melainkan juga tanggung jawab pemerintah, dinkes, puskesmas serta kita sebagai akademisi.
Kata Kunci : Perkembangan balita gizi kurang
 
SIKAP IBU NIFAS DALAM KEIKUTSERTAAN KB DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TAMBAKREJO KECAMATAN JOMBANG KABUPATEN JOMBANG
Pelaksanaan kontrasepsi pasca persalinan mempunyai pengaruh besar dalam mengatur waktu kehamilan dan memberikan jarak yang optimal untuk persalinan, Tetapi pada kenyataannya, di dalam masyarakat terdapat penolakan dalam keluarga berencana karena kurangnya pengetahuan yang menyebabkan tidak mematuhi instruksi tenaga kesehatan, selain itu penolakan yang muncul karena adanya argument dari keagamaan dan penolakan tersebut terasa sangat kuat. Adapun tujuan dari penyusunan karya tulis ilmiah ini adalah untuk mengetahui sikap ibu nifas dalam keikutsertaan KB. Penelitian ini bersifat deskriptif, dengan populasinya adalah semua ibu nifas (0-42 hari) pada bulan juni 2013 di wilayah kerja puskesmas tambakrejo kecamatan jombang kabupaten jombang, dan sampel sebanyak 32 responden yang diambil dengan teknik total sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner selanjutnya data dianalisis melalui tahap editing, coding, tabulating. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sikap ibu nifas dalam keikutsertaan KB yang negatif sebesar 62,5% dan dipengaruhi oleh umur (>35 sebesar 100%), pendidikan (SMA sebesar 66,67%), informasi (tidak pernah sebesar 70%), pekerjaan (Swasta sebesar 66,67%) Jumlah anak ( >5 anak sebesar 100%). Upaya meningkatkan kepercayaan akseptor dalam menggunakan kontrasepsi dengan pemberian informasi lebih intensif seperti menjelaskan calon akseptor dengan pemberian konseling, Kerjasama dengan dinas terkait : tokoh agama atau masyarakat sangat bermanfaat sehingga keluarga yang berkualitas akan tercapai.
Kata kunci : SIKAP, IBU NIFAS, K