UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta: E-Journal Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam
UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta: E-Journal Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran IslamNot a member yet
1356 research outputs found
Sort by
Minoritas Muslim di Barat (Studi atas Pemikiran Tariq Ramadan)
Post September 11 2011 tragedy, being a Muslim in Western countries is a challenge. Tariq Ramadan with his books stands appearing as one of press secretaries trying to break down the negative stereotype of Islam in Western Countries. Ramadan shows the empirical data of Muslims plurality and progressivity whether it relates to quantity or quality manner that colorizes its civilization. Tariq Ramadan states that such progressivity illustrated clearly the fact that the center of Islam is not only in Middle East Countries but also is potential in Western Countries
Filsafat Isyraqi Suhrawardi
Isyraqi or isyraqiyah (illuminative) is the thought developed by Suhrawardi al- Maqtul by integrating between the teachings of Sufism and philosophy. In detail, according to Hussein Nasr, isyraqi is based on five sources of thought that are Sufism, Islamic pariphatetic philosophy, pre-Islamic philosophy, the wisdom of ancient Iran, and the teachings of Zoroaster. The main doctrine essentially consists of two concepts, namely gradation of essence and self-awareness. The first concept relates to the ontological question, while the second relates to the epistemological question. From both concepts then born third teachings, mitsâl nature, in which the ontological structure of spiritual reality or ‘high nature’ is seemed to have a likeness or take forms in concrete picture of matter nature or \u27lower nature\u27
Occidentalism in Indonesia: A Study of Intellectual Ideas of Mukti Ali and Nurcholis Madjid and Contemporary Legacy
Salah satu aspek modernitas, Oksidentalisme, menjadi bagian dari wacana Islam dan Barat disamping sejarah Orientalisme yang telah mengalami perkembangan panjang. Artikel ini membahas gagasan Oksidentalisme di Indonesia. Dialektika Oksidentalisme-Orientalisme dapat ditelusuri dengan melihat beberapa ide yang disampaikan oleh representasi intelektual Muslim Indonesia—Mukti Ali dan Nurcholis Madjid. Sebagai refleksi kritis terhadap fenomena Oksidentalisme, Carl W. Ernst menggarisbawahi proyeksi keilmuan konstruktif. Selanjutnya, dialog antarperadaban yang disampaikan Osman Bakar dapat membantu mengurai kompleksitas pemaknaan Oksidentalisme seperti misalnya yang dipaparkan Hassan Hanafi atau Ian Buruma. Artikel ini menegaskan bahwa dari sisi historisnya studi Oksidentalisme yang dipaparkan Mukti Ali dan Nurcholis Madjid merupakan aspek akademis tentang institusi Barat. Wacana akademis ini ternyata tidak sama dengan konsep Oksidentalisme seperti yang dipaparkan oleh Hassan Hanafi maupun Ian Buruma. Aspek lainnya adalah saling-belajar, kerjasama dan pemahaman bagian integral masyarakat Muslim dan Indonesia pada umumnya
The Contemporary Discussion on Women’s Inheritance (A Study on Nasr Hamid Abu Zayd’s Interpretation and Its Implication)
Artikel ini membahas persoalan bagian wanita dalam warisan meskipun tampak out of date, menjadi sebuah pintu masuk yang efektif untuk melihat kembali relevansi dari fikih klasik di masa kontemporer sekaligus untuk merumuskan formulasi hukum yang lebih akomodatif dan berwawasan gender. Tulisan ini ditulis untuk menganalisa aplikasi teori interpretasi Ma’nā-Maghzā Abū Zayd pada ayat-ayat alQur’an mengenai bagian perempuan dalam warisan sekaligus bagaimana implikasinya dalam dinamika hukum Islam. Interpretasi semacam ini memiliki beberapa implikasi penting diantaranya: Satu, perlunya merumuskan panduan umum bagi para pemegang otoritas dalam pembagian harta warisan; Dua, kewajiban bagi para pasangan pengantin untuk mengembangkan sebuah hubungan kemitraan (partnership) dengan multiple female-male roles dalam keluarga dan bukan hubungan kepemimpinan (leadership)
Imam Ali Zainal Abidin Al-Sajjad A.S. dan Sahifah Sajjadiyyah
The article discusses words of praying in Shiite perspective found in Sahifah Sajjadiyah. The book serves as one of great references for Muslim’s religious spirituality. Besides, the Imam as a figure inspires us for his wisdom overcoming everyday problem.Among Shiite community, the author’s capacity is undoubtedly recognized for he is one of the Imams and the grand grandson of the Prophet PBUH. The book comprises of variety of praying supported a good life either in this world or in the hereafter. The pray itself implements both in daily activities in a particular time and material and natural context. In contemporary context, Sahifah Sajjadiyah becomes one of models for people’s piety in that it provides individual with rich spiritual aspects and leads a harmonize type of relationship among human beings, God and nature
Al-Tahawwul min Naqd al-Sanad ila Naqd al-Matn li Hasan Hanafi: al-Ahadis al-Aqa\u27idiyyah Namudzaj
Artikel ini membahas tentang pergeseran kritik hadis yang digagas oleh Hassan Hanafi. Tidak dapat dipungkiri bahwa Kritik hadis berada pada posisi yang sangat penting dalam menyeleksi hadis-hadis nabi dari pemalsuan dan penyimpangan. Tentu, adalah sangat logis jika para ulama telah meletakkan postulan-postulat ketat dalam kritik hadis, khususnya kritik sanad. Meski demikian, Hanafi memandang bahwa kajian dan pembaharuan terhadap kritik hadis –konsep dan metodenya- telah tertutup. Bagi Hanafi, dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, transisi dari kritik sanad menuju kritik matan menjadi keharusan yang tidak dapat ditawar lagi
Beberapa Problem Teologis Antara Islam dan Kristen
Islam, Christian and Jews are closely related religion rooted genealogically from the Father of the Prophet—Abraham. As also human beings, although born from the same ‘worm’, it does not mean appearing similarities. There are always fundamental differences among ‘the children’ made the relationship inharmonic, suspicious, and prejudice. These even become worse if they claim each other and give judgments into another. Islam and Christian both experience the same way. The relationship of the two seems ambivalent and fluctuative, since there are some principal theological differences. This is the urgency of understanding ‘the language of religion’ in an insider perspective to accomplish the more constructive relationship albeit the cause of difference. In this way, the religious followers could meet each other to carry out a noble duty of religion accomplishing a dignified human being through religion
Deconstructing Animal Sacrifice (Qurban) In Idul Adha
Kisah Ibrahim terlihat cukup mampu mengubah sejarah manusia. Hal ini tercermin seperti pada kepercayaan agama Yahudi, Kristen dan Islam. Kisah tersebut telah membentuk tradisi, nilai-nilai etika, dan pandangan tiga agama itu pada relasi sosial, dengan demikian hal tersebut juga telah mengayam realitas kehidupan. Dalam tradisi Islam, kisah Ibrahim diperingati tiap tahunnya pada Hari Raya Idul Adha. Tradisi ini dapat diamati dengan pelaksanaan kurban binatang dengan pembagian dagingnya sebagai pengingat pengorbanan Ibrahim dan Ismail. Namun, pada konteks Idul Adha tahun 2010 yang bersamaan dengan peristiwa musibah banjir di Wasior, Tsunami di Mentawai dan Letusan Merapi di Jawa, pertanyaannya menjadi akankah ritual yang sama tetap dilaksanakan? Aer Artikel ini bertujuan untuk menyuguhkan pembacaan alternatif terhadap praktik penyembelihan binatang pada perayaan Idul Adha. Meminjam dekonstruksi Derrida, penulis menegaskan pluralitas makna yang termaktub di dalam satu teks. Jika pluralitas ini dimungkinkan, maka bentuk-bentuk kurban yang lain di luar penyembelihan binatang menjadi hal yang perlu dipikirkan.Sesunggguhnya, implikasi dari praktik Islam terhadap ritual penyembelihan tidaklah pengaliran darah dan menyenangkan Tuhan dengan mengorbankan nyawa yang lain, namun lebih kepada penghidmatan kepada Tuhan atas keberlangsungan pengorbanan individu seperti harta kepemilikan dan kepunyaan kepada sesama manusia.
Antara Interaksi Budaya dan Dakwah Kajian Novel Ayat Ayat Cinta
The article discusses the interation of religion and culture in the novel Ayat-ayat Cinta. This novel depicts human episode of a particular nuance in the context of interculturalism. It reveals undetailed cultural elements to a tendency of presenting the culture of ’normative Islam’. The novel’s spirit leads to hegemonize certain cultural aspect presented the religion of Islam
Pencetakan Al-Qur’an dari Venesia Hingga Indonesia
The absence of study on history of Qur’an printing in some Ulumul Qur’an (Qur’anic Studies)books is the evidence that the muslim scholars did not much concern on history of Qur’an printing due to it had nothing to do with the authenticity of Qur’an. Whereas, historically many conflicts, motives, pro and contra appeared in accepting the printing qur’an. In addition, whatever the muslim attitudes to respond the moveable type of print, the West has constributed to the spreading of Qur’an around the world. As muslim appreciation, this article tries to cover simply and briefly the history of printing Qur’an from Venice printing version to Indonesian version