UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta: E-Journal Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam
UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta: E-Journal Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran IslamNot a member yet
1356 research outputs found
Sort by
Sufism of Archipelago: History, Thought, and Movement
The development of Islam tend to shows the diversity according to the age and socio-cultural region of its adherents. This is the case with the development of Islam in the archipelago, which shows a diversity in the pattern of development of the teachings and religious aspects, along with the diversity of its society which includes various ethnicities and cultures. One such pattern of Islam is Sufism, the Islamic aspect which emphasizes the inner or esoteric aspects, based on the Sufi doctrine and comprehension. This paper focuses on the development of Sufism in the archipelago, viewed in terms of history, thought, and tarekat movements. The archipelago Sufism is studied in historical and socio-anthropological perspectives. Broadly speaking, it can be stated that Firstly, in the process of Islamization of the archipelago, Sufism acts as a media of Islamic society carried out by the Sufi in their preaching about the XIII century until the XVI century; Second, the development of Sufism in the archipelago in the XVII century until the XIX century experienced a shift in the pattern of development, role and movement. Their role is mainly to establish the spiritual aspect of religious life and development, but through the power and social communities of the tarekat they can also carry out social movements, especially in mobilizing the people’s struggles against Dutch colonialism in the nineteenth century. Finally, the Sufism of Nusantara (Archipelago) that is netted in tarekat movements continues to show its wider role in the twentieth century. Some tarekat communities not only maintain religious traditions that are spiritual, but also work in education, economics, and politics. Thus, the contribution of sufism is very beneficial to society in general, both in order to fulfill their spiritual needs and worldly life.[Perkembangan Islam selalu menunjukkan keragaman sesuai zaman dan wilayah sosial-budaya masyarakat pemeluknya. Sebagaimana Islam di Nusantara menunjukkan keragaman pola pengembangan ajaran dan aspek keagamaan itu adalah seiring masyarakatnya yang meliputi beragam etnis dan budaya. Salah satu pola keislaman tersebut adalah sufisme, yakni aspek keislaman yang lebih menekankan segi batiniah atau esoterik berdasarkan faham dan ajaran para Sufi. Tulisan ini memfokuskan pembahasannya tentang perkembangan sufisme di Nusantara, baik dilihat dari segi sejarah, pemikiran, maupun gerakan-gerakan tarekat. Sufisme Nusantara tersebut dipelajari dalam perspektif sejarah dan sosio-antropologis. Secara garis besar dapat dinyatakan, bahwa Pertama, dalam proses islamisasi Nusantara, sufisme berperan sebagai media pengislaman masyarakat yang dilakukan oleh para sufi dalam dakwahnya pada sekitar abad XIII hingga abad XVI; Kedua, Perkembangan sufisme di Nusantara pada abad XVII hingga abad XIX mengalami pergeseran pola pengembangan, peranan maupun gerakannya. Peranan mereka yang terutama memantapkan aspek spiritual bagi kehidupan dan perkembangan keagamaan, tetapi melalui kekutaan serta komunitas sosial tarekat juga mereka dapat melakukan gerakan sosial, khususnya gerakan-gerakan sosial yang dimobilisasi seiring perlawanan-perlawanan rakyat Nusantara terhadap kolonialisme Belanda pada abad XIX. Ketiga, Sufisme Nusantara yang terjaring dalam gerakan-gerakan tarekat terus menunjukkan peranannya yang lebih luas pada abad XX. Beberapa komunaitas tarekat bukan hanya mempertahankan tradisi keagamaan yang bersifat spiritual, melainkan juga bergerak di bidang pendidikan, ekonomi, dan politik. Dengan demikian, kontribusi sufisme akan sangat bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya dalam rangka pemenuhan kebutuhan ruhaniah mereka.
FENOMENA AGAMA BAHA’I DI YOGYAKARTA : SEBUAH SOROTAN UPAYA MENEMUKAN TITIK TEMU DENGAN AGAMA MULTIRELIJIUS
Di tengah maraknya sikap-sikap intoleransi khususnya di Yogyakarta, agama Baha’i hadir sebagai sebuah agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi. Dikatakan demikian karena faktanya agama Baha’i mampu membetengi diri dari masyarakat yang beragam. Agama Baha’i di Yogyakarta merupakan agama yang tergolong minoritas namun dalam kesehariannya mereka mampu menciptakan kehidupan yang damai dan harmonis. Dengan demikian agama Baha’i adalah salah satu contoh agama yang dapat memelihara sikap-sikap toleransi. Kerukunan antara penganut agama Baha’i dengan masyarakat multirelijius nampak paling tidak dalam dua hal: pertama, dari pola relasi antar penganut agama Baha’i. Kedua, realitas kerukunan tercermin dalam lingkungan sosial masyarakat. Masyarakat Baha’i di Yogyakarta secara aktif terlibat dalam berbagai aktivitas sosial maupun aktivitas keagamaan, serta menjunjung tinggi sikap toleransi beragama, kerjasama, dan kebersamaan.Kata kunci: Agama Baha’i ,Titik temu, Agama Multirelijiu
K.H. Ahmad Dahlan (Muhammad Darwis)
K.H.Ahmad Dahlan lahir di Kauman. Yogyakarta pada tahun 1868 M. Meninggal pada tahun 1923 di makamkan di Karangkajen Yogyakarta.Penggerak kebangkitan Islam di Jawa yang pertama-tama adalah perkumpulan Jamiat Khair yang berdiri di Jakarta pada tahun 1905. Dari perkumpulan inilah tokoh-tokoh baru Islam bermunculan dan mendirikan berbagai perkumpulan misalnya, Persyarikatan Ulama, di Majalengka tahun 1911, Organisasi Muhammadiyah didirikan di Yogyakarta pada 18 November 1912 atas saran-saran yang diajukan oleh murid-muridnya dan beberapa anggota Budi Utomo yang didirikan di Jakarta tanggal 20 Mei 1908 oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo dan beberapa orang pelajar sekolah dokter untuk mendirikan suatu lembaga pendidikan yang bersifat permanen.Oleh karena itu, Pemerintah Republik Indonesia mengangkat K.H. Ahmad Dahlan menjadi Pahlawan Kemerdekaan Indonesia dengan SK. Nomor 657 tahun 1961 (Samsu, 1996: 303)Key word: Gerakan Organisasi Muhammadiyah Kajian tentang Kontiunuitas dan Perubaha
Peran Partai Islam dalam Proses Konsolidasi Demokrasi di Indonesia
Dalam rentang Sejarahnya, kontribusi partai politik Islam di Indonesia dalam kehidupan berdemokrasi selalu mengalami pasang surut. Pasca turunnya Soeharto dari tampuk kekuasaan, kehadiran partai ISlam kembali menyeruak dan mewarnai kehidupan kepartaian di Indonesia. Lantas, apa saja kendala saat ini yang dihadapi partai Islam di Indonesia yang sedang menapaki masa konsolidasi demokrasi? Apa saja peran yang bisa dimainan? Inilah beberapa persoalan yang akan diurai dalam tulisan ini. Adapun titik perhatian yang akan diberikan oleh penulis adalah kontribusi partai Islam di era konsolidasi demokrasi.Kata kunci: Partai politik Islam dan Konsolidasi Demokras
Komik Hadis Nasihat Perempuan : Pemahaman Informatif dan Performatif
Komik hadis semakin berkembang pesat di Indonesia. Setidaknya komik hadis ini adalah bahan bacaan bagi masyarakat awam baik anak-anak maupun remaja dalam memahami ajaran Islam, khususnya dalam hadis. Seperti ajaran Islam yang damai dengan digambarkan dengan baik melalui komik kapasitas perempuan yang dijelaskan masuk surga. Kemunculan komik hadis tersebut merupakan suatu yang baru karena pemahaman selama ini atas hadis-hadis dapat ditemukan hanya melalui ahli hadis terutama dalam syarah kitab-kitab hadis. Apalagi dalam beberapa kajian yang ada syarah hadis yang berkembang dalam sejarah hadis lebih banyak tidak berkembang pola pemahamannya antara masa Nabi Muhammad saw. sampai abad ke-8 H. Artinya, kontruk budaya masyarakat pemahaman hadis tidak mewarnai dalam kitab syarah hadis. Hal ini berbeda dengan komik hadis yang berkembang di Indonesia. Ciri khas ke-Indonesiaan dalam komik hadis tersebut sangat terasa. Dengan menggunakan teori performatif, maka kajian ini akan melihat tentang otoritas keilmuan syarah hadis dan hasil kajiannya sebagimana yang berkembang dalam informasi awalnya di masa Nabi saw
Posisi Perempuan Kepala Keluarga dalam Kontestasi Tafsir & Negosisasi Realita Masyarakat Nelayan Madura: Kajian Muhammad Syahrur
Tulisan ini merupakan kajian penafsiran Muhammad Syahrur tentang ayat “Qawwam” dalam QS. QS. An-Nisa’:34 yang dikorelasikan dengan realitas perempuan nelayan pesisir utara pulau Madura. Tulisan ini merupakan kajian pustaka dan kualitatif lapangan.Pertanyaan utama dalam kajian ini adalah, bagaimana posisi perempuan sebagai kepala keluarga dalam konteks tafsir QS. An-Nisa’:34. Kemudian, bagaimanakah perempuan diproyeksikan sebagai kepala keluarga dalam kajian Muhammad Syahrur.Tujuan dari kajian ini adalah untuk menyajikan fakta dan realita bahwa posisi dan peran perempuan nelayan utara pulau Madura merupakan salah satu bukti implementasi interpretasi Syahrur. Kajian ini menemukan implementasi tafsir Syahrur tentang ruang sosial dan kepemimpinan tidak hanya milik laki-laki tetapi juga perempuan,dengan syarat kapasitas dan kemampuan yang dimiliki harus seperti seorang pemimpin. Maka dalam realitas perempuan nelayan Madura, penulis menemukan bahwa perempuan nelayan Madura merupakan bukti dari tafsir Syahrur tersebut.Kata kunci: perempuan nelayan, Madura, pemimpin, Muhammad Syahru
Urgensi Pendidikan Hadis dalam Pembentukan Karakter Anak Usia Dini
Pendidikan karakter adalah penamanan nilai esensial dengan pembelajaran dan pendampingan sehingga para siswa sebagai individu mampu memahami, mengalami, dan mengintegrasikan nilai yang menjadi core values ke dalam kepribadian nya. Masa dini merupakan waktu yang sangat brilian dalam proses pembentukan karakter, karena usia dini adalah masa dimana anak-anak banyak menyerap pengetahuan untuk diaplikasikan di masa mendatang. Kita lihat karakter anak bangsa pada era ini, istilah “Kids Zaman Now” telah masyhur di khalayak ramai. Ditelisik awal mula timbulnya istilah tersebut karena kelakuan anak-anak zaman sekarang yang jauh dari perilaku anak-anak semestinya. Memang tidak semua kelakuan anak “Kids Zaman Now” membawa implikasi negatif, jika dilihat melalui kacamata seni mereka memiliki nilai kreatifitas dan mental yang baik. Untuk menanggulangi kejadian tersebut peran pendidikan keislaman atau penanaman nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari bisa menjadi salah satu alternatif dalam pembentukan karakter. Salah satu cabang keislaman yang dapat diajarkan adalah hadis. Tujuan pengajaran hadis pada anak usia dini adalah membentuk dan mengembangkan kepribadian dan karakter yang baik
Optimasi Kecerdasan Majemuk Sebagai Metode Menghafal Al-Qur’an (Studi atas buku “Metode Ilham: Menghafal al-Qur’an serasa Bermain Game” karya Lukman Hakim dan Ali Khosim)
Menghafal al Qur’an merupakan kegiatan yang terkesan sangat berat dan membosankan. Hal ini disebabkan karena metode yang dipakai monoton dan hanya mengaktifkan belahan otak kiri. Berbagai macam metode pun coba diteorikan dan dipraktekkan oleh para h{a>fiz} demi membuat proses tersebut terasa lebih ringan, atau bahkan menyenangkan. Salah satu metode yang belum lama ini ditemukan adalah metode Ilham. Keberadaan metode ini menjadi solusi atas kebuntuan yang dihadapi para penghafal al Qur’an. Metode ini berupaya uuntuk memadukan beberapa metode sehingga proses menghafal tidak membosankan. Metode ini juga berusaha mengaktifkan belahan otak kiri dan otak kanan sekaligus sehingga diharapkan bisa diterapkan kepada penghafal al Qur’an dengan semua tipe belajar.Kata kunci: Tahfidz al Qur’an, Metode Ilham, Kecerdasan Majemu
Relasi Kuasa Tentang Kebebasan Perempuan Dalam Hukum Adat Lampung Di Kampung Menggala
This paper intends to explore further about the freedom of women in customary law Megow Pak Tulang Bawang in Kampung Menggala, one of which is about the non- customary party (PNA). As for the rules or customary law within the PNA, regulat- ing the boundaries between men and women should not be adjacent. However, the reality of PNA is currently losing its existence. Most of the women in Kampung Menggala no longer apply PNA custom rules. Judging from the sharing of events, PNA began to be abandoned; even some of them (women) considered the PNA was taboo. On that basis, this article wants to analyze using the theory of power relation Michel Foucault. Through that theory, as a result, the shift of the paradigm of women in interpreting customary law (PNA) is characterized by freedom. The knowledge produced by women has resulted in the discourse of freedom. In the end, the freedom as a form of women’s resistance from customary rules that had been shackling the existence of women in Kampung Menggala. Resistance is a form of power of women.[Tulisan ini bermaksud melakukan eksplorasi lebih jauh mengenai kebebasan perempuan dalam hukum adat Megow Pak Tulang Bawang di Kampung Menggala, salah satunya yakni mengenai pesta non adat (PNA). Ada pun aturan atau hukum adat di dalam PNA, mengatur batasan antara laki-laki dan perempuan tidak boleh berdekatan. Namun, realitanya PNA saat ini kehilangan eksistensinya. Sebagian besar perempuan di Kampung Menggala tersebut tidak lagi mengaplikasikan aturan adat PNA. Dilihat dari berbagi tempat perhelatan pun, PNA mulai ditinggalkan, bahkan sebagian dari mereka (perempuan) menganggap PNA sudah tabu. Atas dasar itulah, artikel ini ingin menganalisis menggunakan teori relasi kuasa Michel Foucault. Melalui teori tersebut, sebagai hasil yang di dapati, adanya pergeseran paradigma perempuan dalam memaknai hukum adat (PNA) yang ditandai dengan kebebasan. Pengetahuan yang diproduksi perempuan sehingga melahirkan wacana kebebasan. Pada akhirnya, kebebasan tersebut sebagai bentuk resistensi perempuan dari aturan adat yang selama ini membelenggu eksistensi perempuan di Kampung Menggala. Resistensi tersebut sebagai wujud kuasa perempuan.
The Face of Mountainous Islam: The Dynamic of Islam in the Dieng Mountains Wonosobo, Central Java, Indonesia
This article elaborates Mountainous Islam in the Dieng Mountains. Today Dieng is a Muslim society. However the historical accounts about the way Islam entered Dieng are still debatable. It becomes more difficult since there is no any support data that is quite reliable. Based on oral history and Islamic phenomenon, there are three important finding showed. First, the history of Islam in the Dieng Mountains is provided clear information that Islam entered to the Dieng not merely by the acculturation process as commonly understood, but also colonialization. Second, the Islamic tradition in the Dieng Mountains is the result of the negotiation of Islamic traditions and Hindu-Buddhist that first grew in Dieng, and present traditions that come to the Dieng Mountains. Islam Dieng creatively adopts and adapts new traditions in line with the improvement of society’s economic condition. Third, Islamic expression displayed by the Dieng community is a portrait of a mountainous Islam that is adaptive, dynamic, and open to change. Their religious expression will continue to change along with the development of creativity that is influenced by economic development, educational attainment, their encounters with outsiders, and the natural vulnerabilities they face as people living in active and often life-threatening mountains.[Artikel ini menguraikan Islam Pegunungan di Dieng. Hari ini Dieng adalah sebuah masyarakat Muslim. Namun catatan sejarah tentang cara masuknya Islam Dieng masih diperdebatkan. Ini menjadi lebih sulit karena tidak ada data pendukung yang cukup andal. Berdasarkan sejarah lisan dan fenomena Islam, ada tiga temuan penting yang ditunjukkan. Pertama, sejarah Islam di Pegunungan Dieng memberikan informasi yang jelas bahwa Islam masuk ke Dieng tidak hanya dengan proses akulturasi seperti yang biasa dipahami, tapi juga kolonialisasi. Kedua, tradisi Islam di Pegunungan Dieng adalah hasil negosiasi tradisi Islam dan Hindu-Budha yang datang pertama kali ke Dieng. Islam Dieng secara kreatif mengadopsi dan menyesuaikan dengan dan menciptakan tradisi baru seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi masyarakat. Ketiga, ekspresi Islam yang ditampilkan oleh masyarakat Dieng merupakan potret sebuah agama Islam pegunungan yang adaptif, dinamis, dan terbuka untuk berubah. Ekspresi religius mereka akan terus berubah seiring dengan perkembangan kreativitas yang dipengaruhi oleh pembangunan ekonomi, pencapaian pendidikan, perjumpaan mereka dengan orang luar, dan kerentanan alami yang mereka hadapi sebagai orang yang tinggal di pegunungan yang aktif dan sering mengancam jiwa.