Religió - Jurnal Studi Agama-agama
Not a member yet
104 research outputs found
Sort by
The Re-Production of Discourse, the Exercise of Power, and the Creation of Piety in the Issue of HIV/AIDS and Islam in Indonesia
AIDS dipahami oleh mayoritas orang Islam Indonesia sebagai sebuah bentuk balasan tuhan, aib keluarga, hukuman homoseksual atau laknat tuhan. Pada kenyataannya, melalui fatwâ dan khotbah terkait AIDS, Muslim yang terjangkit penyakit HIV &AIDS diasingkan dari wilayah kesalehan Islam dengan ditempatkan dalam kategori berbeda melalui kekuasaan agama. Makalah ini hendak menawarkan pendekatan analisis-evaluatif dalam melihat respons (ajaran) Islam terhadap orang-orang Muslim yang positif terkena HIV di Indonesia. Artikel ini juga akan melihat landasan logis dari lahirnya kategorisasi dan identifikasi kelas-kelas sosial yang kemudian dikenal dengan nama MLWHA (Muslims Living with HIV and AIDS). Makalah ini juga berusaha mengurai kategori-kategori MLWHA yang sebenarnya dikonstruksi oleh “pemegang otoritas†yang mewakili umat Muslim Indonesia, yakni MUI (Majelis Ulama Indonesia). Lembaga ini mengeluarkan fatwâ terkait dengan HIV dan AIDS pada tahun 1995, yang kemudian dikenal sebagai Tadzkirah Bandung. Melalui fatwâ tersebut MUI mengklasifikasi Muslim Indonesia ke dalam tiga kategori: (1) Mereka yang terkena HIV dan AIDS, (2) mereka yang berisiko terkena HIV, dan (3) umat Muslim secara umum. Artikel ini bermaksud menjelaskan relasi kekuasaan yang melatari lahirnya kategori sosial tersebut. Ini untuk memahami dampak individu dan sosialdari munculnya klasifikasi di atas. 
The Light History of Protestantism and the Emerging of Nationalism and Protestantism in South Korea
Artikel ini mengulas kebangkitan Kristen Protestan di Korea untuk mengukur sejauh mana hubungan antara agama dan nasionalisme di Korea, serta mencoba untuk mengkaji hubungan kuat antara agama dan nasionalismnasionalisme. Untuk mengulas hal tersebut, artikel ini memfokuskan diri pada telaah historis masa pendudukan Jepang, yakni pada rentang waktu antara tahun 1910 hingga 1945. ArikelArtikel ini berusaha untuk menjawab pertanyaan sederhana: mengapa Kristen Protestan berhasil menjadi agama yang kuat dan penting di Korea? Jawaban atas pertanyaan tersebut juga akan mengantarkan kita untuk bisa memahami nasionalisme Korea. Dengan kata lain, jelas bahwa perkembangan Protestan di Korea adalah sangat terkait dengan ketidakpuasan yang mendalam dan keputusasaan yang dirasakan oleh orang-orang Korea diakibatkan oleh masa pendudukan Jepang. Selain dikarenakan faktor nasionalisme, berkembangnya agama Protestan di Korea juga sangat terkait dengan pendidikan. Para misionaris bertindak cepat untuk melibatkan diri dalam pendidikan. Hal tersebut dikarenakan mereka memahami tentang semangat Korea dalam hal pendidikan dan juga keterbukaan mereka terhadap ide-ide Barat. Selain itu, artikel ini juga mengkaji mengenai dampak dari adanya para missionarismisionaris untuk menyebarkan agama protestanProtestan. Salah satunya adalah dalam hal ekonomi. Beberapa orang di Korea menegaskan bahwa konversi ke Protestan menyebabkan peningkatan ekonomi. Mereka percaya bahwa peningkatan ini disebabkan penolakan mereka terhadap kebiasaan merokok dan minum, judi, serta hal yang berbau kemewaha
Struktur Nalar Arab-Islam menurut ‘Âbid Al-Jâbirî
The project of ‘Âbid Al-Jâbirî’s thoughts has become epistemological critic to traditional frame of Islam-Arab knowledge through analyzing socio-political background on the logic of Arab formulation. According to Al-Jâbirî, the logic of Arabic thought could be devised into three methods: bayâni, ‘irfâni and burhâni. Therefore, the structure of Islam-Arab culture has occurred based on: (1) authoritative texts—because the logic of Arab is exceedingly based on religious texts, (2) authoritative salaf, that is, focused on ‘ulama’s considerations, and (3) authoritative permissivism along with anti-causality (sult}ah at-tajwîz al-lâsababiyyah). Hence, Arabic culture becomes unproductive, poor of concept and theory. As a solution, Al-Jâbirî invites to contextualize the spirit of critic such as rational-empiricism of Ibn H{azm and al-Shât}ibî on fiqh, Ibn Rushd on philosophy, Ibn Khaldûn on sociology, etc. This article will probe specifically about ‘Âbid Al-Jâbirî’s reform thought. Al-Jâbirî’s thinking distinctiveness lies in the epistemological critique conducted on the science that develops in the Arab-Islamic civilization. The epistemological critique becomes a realm of science that not much attention, especially by Muslim thinkers. Al-Jâbirî’s epistemological critique offers to the Muslim world an attempt to reconstruct the building of reason-epistemic knowledge to keep pace and change its Islamic world towards the progress of civilization
Dinamis-Rasionalis dalam Pemikiran Thaha Husain pada Problematika Peradaban Islam dan Barat
The inter-civilization dialogue is necessary: unavoidable. There is no civilization can improve its self without an interaction with other civilization. This phenomenon brings Thaha Husain to review how the civilization of Egypt could be “out of date†compared with the Western civilization. He assumes that it was because of traditional thinking of Muslims. In his opinion, Muslims believe that Islamic tradition is the perfect one: no need to learn from other tradition. Husain talks that to realize this decline is better than to feel perfect (apology). According to Husain, Muslims should learn from history, learn from Western civilization—which is more advanced. In this context, academic fairness is very important for Muslim intellectual to create an academic tradition. Husain supposes that imitating the tradition of the West doesn’t mean imitating its religion. Humanity is the key. From Thaha Husain’s thinking, there are two lessons that can be contemplated. First, life in the tradition is a necessity as life in modern culture. Therefore, there is no tradition which does not accept change and debate in line with the dynamics of humanity. Second, rational approach, scientific and historical criticism is of capital importance to catch up with Western civilizatio
Ideologi dan Politik dalam Proses Awal Kodifikasi Hadis
The problem of Hadits is more complex than al-Qur’ân in the perspective of Islamic theological sect. Al-Qur’ân had been codified in the early Islamic era which is in the period of Abu Bakar as Siddîq, initiated by Umar Bin Khat}t}âb under the command of Zayd Bin Thâbit. Meanwhile, the writing text and hadith codification in Khawârij, Shî’ah and Sunni tradition is still leaving the contradicted theological-political claims. This claim constitutes a common phenomenon that often happened and found in comparative study of religious sect. it is because every religious sect wants to legalize their religious ritual validity by finding a base of religious primer resources which is al-Qur’ân as the first Islamic holy text and hadith as the second one. This article highlights the politics and ideology in the early hadith codification period. It attempts to see the conflict interest of the Sunnite, Shî’ites, and Khârijities groups in which they were composing prophet traditions based on their doctrine and ideological biases. Based on their authoritative hadith books, hadith sciences, and historical literatures with regard to the historical-comparative methodology, this article suggests that they have different traditions of hadith codification which are influenced by ideological and political rivalry among them; and they also produce different hadith, authoritative hadith books, and religious traditions
Pran-Soeh Resistance to the State Hegemony
Munculnya gerakan keagamaan lokal (the emergence of new local religion) adalah fenomena yang lazim dan tak bisa dihindarkan. Di Jawa, misalnya, terdapat beberapa agama lokal yang lahir dari rahim budaya setempat dan kemudian disebut sebagai Javanese religion atau religion of Java. Di antara agama-agama lokal ini, ada sebuah gerakan keagamaan yang dikenal sebagai Agama Pran-Soeh. Embrio dari kemunculan Agama Pran-Soeh bisa ditelaah pada masa kolonialisme Belanda dan penjajahan Jepang. Seperti agama lokal lainnya, pendiri agama Pran-Soeh juga yakin bahwa dia menerima wahyu dari Tuhan. Kemudian, ia merasa bahwa memiliki tugas untuk menyebarkan wahyu untuk komunitasnya. Dari sinilah, agama lokal Pran-Soeh mulai muncul. Keberadaan aliran keagamaan ini belum banyak diteliti. Menggunakan perspektif historis, artikel ini bermaksud meneliti kemunculan dan keberadaan aliran ini, bagaimana hubungannya dengan pemerintahan politik, serta responsnya terhadap problematika sosial, terutama sosial Islam. Lebih jauh, artikel ini akan mengupas resistensi Pran-Soeh terhadap hegemoni negara. Keberadaan agama Pran-Soeh itu sendiri tidak tumbuh pesat di masyarakat, tetapi harus menghadapi hambatan baik dari dalam dan luar. Kendala dari dalam adalah bentuk konflik di antara mereka. Sementara kendala dari luar salah satu khususnya di Orde Baru adalah hegemonik negara dan kecemasan dan kekhawatiran agama yang mainstream. Jadi, kelangsungan hidup dan kematian agama Pran-Soeh tergantung pada keputusan negara dan kebijaksanaan agama yang mainstream
The Quandary of the Saffron’s Involvement in Politics in Burma
Artikel ini tidak bermaksud untuk tidak mengindahkan instruksi dari pemerintah agar tidak melibatkan diri dalam aksi protes, pada bulan Agustus 2008, para biksu di Arakan ikut dalam sebuah aksi protes terhadap pemerintah atas dasar kondisi perekonomian yang terus terpuruk di Burma. Aksi tersebut, pada akhirnya berujung pada sebuah bentrokan di Pakokku yang melibatkan antara pihak kepolisian dengan para demonstran. Dari insiden tersebut, dikabarkan bahwa Satu bikku terbunuh dan tiga lainnya terluka. Insiden tersebut bukannya membuat para bikku untuk mundur dalam aksinya, sebaliknya, peristiwa tersebut malah menyulut lebih besar keberanian dari para bikku untuk melakukan aksi demonstrasi. Dalam hal ini, sejarah mencatat bahwa pada dasarnya bikku memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupan sosial masyarakat Burma, termasuk juga dalam ruang lingkup politik. Realitas seperti ini tak pelak memunculkan beragam kontroversi di kalangan umat Buddha. Masyarakat mulai bertanya-tanya, apakah aktivitas politik memiliki justifikasi dalam ajaran Buddha?, dan Bukankah dalam tradisi lama Buddha komunitas Biksu justru “diasingkan†dari arena politik?. Dari pertanyaan kontroversial tersebut, tulisan ini ingin melihat bagaimana para Biksu mulai menjadi sensitif dengan isu-isu sosial, termasuk soal-soal politik. Selain itu, tulisan ini juga berusaha untuk menelisik lebih jauh lagi pengaruh agama Buddha dalam gerakan mereka
The Changing Pattern of Terrorism
Tidak dapat dipungkiri bahwa perang melawan terorisme dipercaya sebagai salah satu bentuk perang dunia yang imbasnya merambah ke berbagai negara. Hal ini dapat dipahami setelah apa yang sudah terjadi apalagi pasca tragedi 9/11 yang semakin mengkristalkan perlawanan terhadap aksi terorisme. Sekilas melihat perkembangan persoalan tersebut, terorisme diyakini lahir dari ketidakpuasan dan ketidakadilan di masyarakat. Namun, pada perkembangan selanjutnya, terorisme juga diartikan sebagai suatu bentuk simbol dari kebencian terhadap Barat. Menurut analisa Peter Berger, gerakan terorisme semakin hari semakin sulit untuk dilacak dan diantisipasi karena sifatnya yang sering kali berubah-ubah. Artikel ini ingin mengulas perubahan-perubahan yang terjadi dalam gerakan terorisme dunia, sekaligus mengurai evolusi tujuan dan misi dari gerakan tersebut. Kesimpulan yang diperoleh dari artikel ini adalah bahwa gerakan terorisme itu mempunyai banyak bentuk dari gerakan teroris non-Negara, kelompok-kelompok ideologis, kelompok-kelompok politik berbasis agama. Semua gerakan ini mempunyai taktik, strategi, organisasi, dan garis komando yang terdesentralisasi dengan baik. Temuan dalam artikel ini juga menunjukkan bahwa gerakan konter-terorisme dengan membombardir pusat-pusat teroris seperti Afganistan, dan Iraq dan menangkap dan atau membunuh petinggi-petinggi teroris seperti Al-Qaeda ataupun JI tidak menghentikan gerakan terorisme karena mereka akan bermetamorfosis ke dalam bentuk gerakan lain
Pola Religiositas Muslim Kelas Menengah di Perkotaan
A city, modern in culture, offers variety of happiness, pleasures that similar with the paradise in the world as mentioned in the holy scriptures. People think that such condition commonly lead to a negative assumption referring to people religious moral ethic. In one occasion, such condition effect to the fundamental movement that offers Islamic culture. However, it does not work on a certain group of people. In one hand, those who are called as urban middle class Muslim mostly refuse any fundamental culture that have believed as ways, ancient, traditional or even a backward. On the other hand, they also reject western culture since some assess that it can harm Islamic religion internally and externally. In this regard, this article aims to describe religious patterns of middle class society which is living in the city, where chronicles of modernity have appeared with their very artificial forms. For some people, living in the city is assumed as a threatening life to weaken morality. This creates such as fundamental movements with their imaginative Islamic objectives. They offer to acknowledge a modern and Islamic style of live. Exploring academic discourse of modernity, religion, and culture, this article elucidates the modern Islamic pattern of life within middle class Muslim in the city
Islam di antara Modernisme dan Posmodernisme
Analyzing over modernism and postmodernism depict that both terms are conceived as a period or the phase of civilization that runs synchronically in one side and diachronic in other side. Synchronization from modernism to post-modernism constitutes the continuity of modernism as ongoing project. Meanwhile, diachronic approach is more describing that various critic and contestation toward modernity. In relation with this phase, the discourse of Islamic post-modernism has been rising before decades based on the complexity of cultural problems in the West, especially relating to the impact of modernity. Critics to modernity are not only because of social projects within culture but also of philosophical basis and root. Progress of mind achieved by Western society has eventually become a critic for modernity. Religion that is transforming from collective consciousness to private consciousness enhanced to be a new spirituality within the complexity of modernity. As an important part of global structure, Islam was also influenced by the impact of modernity. That is a logical consequence of dialectical process with Western culture, especially politics—such as system of democracy in the Muslim states. Religious fundamentalism is a response against Western modernity which is considered as in contradiction of Islamic values. This article focuses on critics to modernity, the rising of postmodernism, Islamic postmodernism and the essentials of postmodernism