Religió - Jurnal Studi Agama-agama
Not a member yet
104 research outputs found
Sort by
Pengelolaan Budaya Inklusif Berbasis Nilai Belom Bahadat Pada Huma Betang dan Transformasi Sosial Masyarakat Dayak Kalimantan Tengah
This paper aims at analyzing the process of cultural values ​​management of belom bahadat in creating an inclusive cultural life and social transformation in the Dayak community in huma betang using textual analysis method. The results reveal that the management model of cultural consensus of belom bahadat brings about changes in values, perspective and inclusive attitude and the formation of Dayak people's polarization into three models: the formation of inclusive attitude in understanding and accepting social, traditional, cultural and religious differences in family life, society and life of nation. This change strengthens the social integration between individuals and groups of different tribes, ethnics, cultural and religious groups in family life, society and nation. It also prevents the growth of radicalism and terrorism arising from religious figures, humanists and public figures in this modern age.
[Tulisan ini bertujuan menganalisis proses pengelolaan nilai budaya belom bahadat dalam menciptakan budaya kehidupan inklusif dan transformasi sosial pada masyarakat Dayak di huma betang dengan menggunakan metode analisis teks. Hasil studi menunjukan bahwa model pengelolaan konsensus budaya belom bahadat membawa perubahan nilai, cara pandang dan sikap inklusif dan terbentuknya polarisasi kehidupan masyarakat Dayak ke dalam tiga model yaitu terbentuknya sikap inklusif dalam memahami dan menerima perbedaan sosial, tradisi, budaya dan agama dalam kehidupan keluarga, kehidupan masyarakat dan kehidupan berbangsa. Perubahan ini memperkuat integrasi sosial antar individu dan kelompok yang berbeda suku, etnis, budaya dan agama dalam kehidupan keluarga, masyarakat dan bangsa serta mencegah tumbuhnya radikalisme dan terorisme yang muncul dari kalangan tokoh-tokoh keagamaan, budayawan dan tokoh masyarakat di era modernisasi ini.
Potret Harmoni Kehidupan Keagamaan di Kabupaten Bojonegoro
This study aims to investigate the reasons why violence and religious conflict occurred in Bojonegoro district do not lead to radical actions. Departing from the fundamental question, “why does violence and religious conflict not extend into radical actions even though the potential for religious radicalization exists and even explode into destructive social conflict?â€, this study found that there are two main factors that make religious life among believers in Bojonegoro keep running in balance and harmonious way, namely cultural and structural factors. The most important cultural factor is the existence of cross-cutting affiliation where there are neutral social spaces that make people from different backgrounds meet without being troubled by their primordial identity. Meanwhile, structural factors that prevent radical action and religious conflict are the presence of the State as a neutral and decisive party; institutionalization of assurance of freedom of faith; and the activeness of the State in early prevention and conflict mediation.
[
Studi ini bertujuan untuk melihat mengapa di wilayah Bojonegoro kekerasan dan konflik keagamaan nyaris tidak pernah meledak secara berarti. Berangkat dari pertanyaan mendasar, faktor-faktor apakah yang menyebabkan tidak terjadi proses radikalisasi keagamaan, sekalipun terdapat beberapa potensi konflik yang sebetulnya bisa meledak menjadi kekerasan atau konflik sosial yang destruktif, penelitian ini menemukan bahwa ada dua faktor penting yang mampu menjaga kehidupan keagamaan masyarakat Bojonegoro tetap seimbang, yaitu kultural dan struktural. Faktor kultural terpenting adalah bekerjanya cross-cutting affiliation. Terdapat ruang-ruang sosial netral yang mempertemukan orang-orang dari latar belakang berbeda, tanpa dibebani oleh identitas-identitas primordial. Sementara, faktor struktural yang mencegah radikalisasi dan konflik keagamaan adalah hadirnya negara sebagai pihak yang netral dan tegas; institusionalisasi jaminan kebebasan berkeyakinan; dan keaktifan negara dalam melakukan pencegahan dini dan memediasi konflik.
Praktik Keagaman Aliran Kejawen Aboge di antara Agama Resmi dan Negara
Aliran Kepercayaan constitutes a cultural heritage of Indonesia, inherited from generation to generation. Aliran Kepercayaan however have been often measured on the perspective of Indonesian six official religions that eventually bear misjudgment. The divergent of belief system either in terms of religious teachings and practices finally comes as counter argument in responding the existence of Aliran Kepercayaan. This article tries to examine the existence of Aliran Kepercayaan in Mojokerto namely Aboge religiously and socially in relation with the social and political condition of Indonesia. State’s constitution indeed guarantees religious freedom for the people to worship in accordance with someone’s belief. However, the reality is different at all. Some Aliran Kepercayaan experienced persecution by religious extremist and by the State. Aboge itself often becomes controversial for its Muslim neighborhood. Negative and positive assumption are attached on them in an exchange. Two different interpretations reflect on the Aboge’s religious practices and teachings. For this reason, this article attempts to scrutinize the religious practices and teachings in correlation with spiritual tradition on the Javanese people that specialized mysticism in any matters. It also is aimed to explain the state intervention toward the religious life of Aliran Kepercayaan based on the perspective of six official religions
Sejarah Bangsa Israel Awal dalam Perspektif Tafsir Sejarah Teologi Alkitabiah dan Arkeologi Biblikal
This article is about history of ancient Israel in biblical era and how the sacred scripture introduces information of the ancient people. We have to know how to read the scriptures. They demand an imaginative effort, as Karen Armstrong said, that can sometimes be as perplexing and painful job. The true meaning of scriptures can never be wholly comprised in a literal reading of the text, since that text points beyond itself to reality that cannot be totally grasp. Our academic world cultivates us to look for the words between the lines. We expect a text to express its idea as clearly as possible. In a philosophical or historical work, we will often judge writers by the precision and consistency of their arguments. There are Jews and Christians who have come to apply the same standards to Bible. Some, for example, have argued that the chapters of Genesis and Chronicles are factual accounts on history of ancient Israel people. But what we need to the Bible does not present its truths to us in this way. This article presents two main methods to understand the historical contains of the biblical text: historical interpretation and biblical archaeology to know at some profound level the sacred history of biblical Israelites peopl
Model Toleransi dalam Eksegese Khotbah Areopagus
This article is a literature research on tolerance model through the exegesis of Areopagus sermon. Having known the exact model of tolerance, someone will be able to tolerate correctly. Given one source of intolerance is a misinterpretation of the teachings of the scriptures, this article invites the reader to examine the tolerance source from the interpretation of the Bible. This article focuses on two things: (1) the doctrine of a model of tolerance; and (2) the techniques of interpretation of Scripture in the Catholic religion exegetical analysis. For this purpose, the authors chose Areopagus sermon text mentioned in the book of Acts chapter 17 verse 22 to verse 34. By explaining the exegesis of those verses, this article aims to find a model precise tolerances. The text itself tells about the story of Paul’s sermon, a preacher of the early Christianity, brought before the Court Areopagus in Athens Greece. Based on the analysis of exegesis is known that the model of tolerance shown in this story is a model of tolerance active. Paul could communicate well with his audience coming from different social and cultural background. Apparently, he succeeded to deliver his ideas and teaching accurately by utilizing a good knowledge about the social and cultural situation of Athens.
[Artikel ini merupakan penelitian literatur pada model toleransi melalui penafsiran dari khotbah Areopagus. Setelah diketahui model toleransi yang tepat, seseorang akan mampu bertoleransi dengan cara yang benar. Mengingat salah satu sumber intoleransi adalah salah tafsir ajaran kitab suci, artikel ini mengajak pembaca untuk meneliti sumber toleransi dari penafsiran Alkitab. Artikel ini berfokus pada dua hal: (1) doktrin model toleransi; dan (2) teknik penafsiran kitab suci dalam tradisi Katolik, yakni analisis eksegese. Untuk tujuan ini, penulis memilih teks khotbah Areopagus yang terdapat dalam Kitab Kisah Para Rasul Pasal 17 ayat 22 sampai ayat 34. Dengan menjelaskan penafsiran ayat-ayat, artikel ini bertujuan untuk menemukan model toleransi yang tepat. Teks itu sendiri menceritakan tentang kisah khotbah Paulus, seorang pengkhotbah dari Kekristenan awal, yang dibawa ke Mahkamah Areopagus di Athena Yunani. Berdasarkan analisis eksegese diketahui bahwa model toleransi yang ditunjukkan dalam cerita ini adalah model toleransi aktif. Paulus bisa berkomunikasi dengan baik dengan para pendengarnya yang berasal dari latar belakang sosial dan budaya yang berbeda. Rupanya, ia berhasil menyampaikan ide-ide dan ajarannya secara akurat dengan memanfaatkan pengetahuan yang baik tentang situasi sosial dan budaya dari Athen
Varied Impacts of Globalization on Religion in a Contemporary Society
This article discusses the current situation of religion caused by the forces of globalization by analyzing the developing phenomenon related to religion in contemporary society. It argues that globalization has a mixed impact on religion in ways that lead to the opposing view of secularist scholars that religion will be diminished. Apparently, religion has experienced a revival in many parts of the world, mainly in the form of religious fundamentalism. Problems and challenges posed by globalization, such as the environmental crisis and secular society have provided the opportunity and the power to religion to revitalize itself and to transform themselves into a religion with a new form that has a role and a new identity. Furthermore, globalization may lead to the decline of organized religion in modern society and certain intellectual subculture, but it does not cause the death of religion in private life. This is in line with the emergence of the phenomenon of “believing without belongingâ€. In short, globalization has helped to transform the religion itself and changed its strategy to address the problems and challenges of globalization to create “world de-secularizationâ€.
[Artikel ini membahas keadaan mutakhir agama yang diakibatkan oleh kekuatan-kekuatan globalisasi dengan melakukan analisa atas fenomena yang sedang berkembang terkait agama dalam masyarakat kontemporer. Ia berargumen bahwa globalisasi memiliki dampak yang beragam terhadap agama dengan cara-cara yang justru mengarah kepada kebalikan dari ramalan musnahnya agama sebagaimana dipromosikan oleh para pendukung teori sekularisme. Tampaknya, agama mengalami kebangkitan kembali di berbagai belahan dunia, utamanya dalam bentuk gerakan fundamentalisme agama. Masalah dan tantangan yang diakibatkan oleh globalisasi, seperti krisis lingkungan dan masyarakat sekuler, justru telah memberikan kesempatan dan kekuatan kepada agama untuk merevitalisasi dirinya dan melakukan transformasi diri menjadi agama dengan bentuk baru yang memiliki peranan dan identitas baru. Lebih jauh, globalisasi telah menyebabkan kemunduran agama formal pada masyarakat modern dan subkultur intelektual tertentu, meski tidak sampai menyebabkan kematian agama dalam kehidupan pribadi. Hal ini seiring munculnya fenomena “believing without belongingâ€. Singkat kata, globalisasi telah membantu agama mentransformasi dirinya dan mengubah strateginya dalam mengatasi berbagai masalah dan tantangan globalisasi sehingga menciptakan “desekularisasi duniaâ€
a Study on Bisri Mustofa, Haji Abdul Malik Karim Amrullah [Hamka] and Quraish Shihab’s Tafsîr on Isrâ’îlîyât
Umat Islam sekarang sinis terhadap kisah isrâ’îlîyât atau kisah-kisah yang berasal dari Yahudi dan Kristen. Fenomena intelektual ini bertentangan dengan respons Muslim awal yang akrab dengan materi-materi isrâ’îlîyât. Penelitian ini mencoba untuk membedah kisah-kisah isrâ’îlîyât yang ditulis oleh Bisri, Hamka, dan Quraish dalam tafsir masing-masing: Tafsîr al-Ibrîz, Tafsîr al-Azhar, dan Tafsîr al-Miṣbah. Titik tekan dari artikel ini adalah latar belakang yang kemudian mempengaruhi persepsi mereka dalam menafsir ayat-ayat isrâ’îlîyât. Artikel ini menggunakan metode kualitatif dan pendekatan sejarah intelektual untuk mengetahui perkembangan ide manusia pada isu tertentu. Makalah ini berakhir pada kesimpulan bahwa sikap toleransi Bisri dan Hamka dan penolakan Quraish isrâ’îlîyât dipengaruhi oleh latar belakang sosial dan akademik masing-masing.
 
Membangun Kerukunan Antarumat Beragama berbasis Budaya Lokal Menyama Braya di Denpasar Bali
Religious experience of multicultural society in Indonesia has frequently been characterized by conflict and violence in various regions. As a state having the motto Bhinneka Tunggal Ika, Indonesia has several challenges and problems of plurality, ethnicity, religion, and culture. However, each culture has it own local wisdom to overcome these challenges and problems. This article finds that the presence of religious life (Hindu-Muslim) in Denpasar Bali does not look like other regions in Indonesia, which is always covered by conflict and violence in the name of religion. Multicultural society in Denpasar Bali indicates ideal collaboration between Muslims and Hindus to build religious activities. It is an integral part of Balinese life and the Balinese friendly character to sprout back to Bali Glow (Bali Aga). It sure takes a long time to proceed through the dialectical theology, ideology, and socio-cultural processes. Together with social institutions, the local government had tried to maintain and protect the essence of Hindu Balinese culture, by preserving the tradition of Menyama Braya for the realization of harmonious religiosity.
[Pengalaman religius masyarakat multikultural di Indonesia sudah sering ditandai dengan konflik dan kekerasan di berbagai daerah. Sebagai negara yang memiliki motto Bhinneka Tunggal Ika, Indonesia memiliki beberapa tantangan dan masalah pluralitas, etnis, agama, dan budaya. Meskipun demikian, setiap budaya memiliki kearifan lokal yang dapat mengatasi berbagai tantangan dan permasalahan di atas. Artikel ini menemukan bahwa kehadiran kehidupan keagamaan (Hindu-Muslim) di Denpasar Bali tidak terlihat seperti daerah lain di Indonesia, yang selalu ditutupi oleh konflik dan kekerasan atas nama agama. masyarakat multikultural di Denpasar Bali menunjukkan kolaborasi ideal antara Muslim dan Hindu untuk membangun kegiatan keagamaan. Ini adalah bagian integral dari kehidupan Bali dan karakter ramah Bali bertunas kembali ke Bali Cahaya (Bali Aga). Tentu membutuhkan waktu yang lama untuk melanjutkan melalui teologi dialektis, ideologi, dan proses sosial budaya. Bersama dengan lembaga-lembaga sosial, pemerintah setempat telah berusaha untuk mempertahankan dan melindungi esensi dari budaya Hindu Bali, dengan melestarikan tradisi Menyama Braya untuk realisasi religiusitas yang harmonis
Nurturing Religious and Humanistic Values to Young Generations in Gulen and Jesuit Schools in Indonesia
Komunitas agama memainkan peranan penting dalam mendukung pendidikan di dalam masyarakat. Sejarah mencatat, organisasi keagamaan mempunyai peran penting dalam membina dan membentuk generasi muda agar menjadi pribadi yang kuat. Fondasi keagamaan dalam sebuah lembaga pendidikan dapat menjadi sumber untuk mendidik murid dalam hal pembelajaran nilai-nilai moral. Artikel ini mencoba memahami dua komunitas agama dalam memberikan pelayanan di bidang pendidikan di Indonesia. Dua kelompok itu adalah Hizmet Movement yang terinspirasi dari tokoh Fethullah Gulen di Turki dan Serikat Jesus (SJ), kelompok imam/biarawan Katolik. Hizmet Movement di Indonesia bekerja sama dengan institusi di Indonesia mendirikan sekolah-sekolah. Serikat Jesus atau Jesuit telah lama mendirikan sekolah-sekolah di Indonesia dan menjadi pionir dalam layanan pendidikan dalam sejarah Indonesia. Artikel ini akan menganalisis visi antropologi pendidikan Gulen-Inspired Schools dan sekolah Jesuit di Indonesia dalam mendidik orang-orang muda dengan pendidikan nilai. Artikel ini juga melihat program pendidikan sebagai cara untuk mengembangkan nilai-nilai pada para peserta didik
A Sociological Breakthrough of Interreligious Engagement in Everyday-Symbolic Interaction Perspectives
This article explores the symbolic interaction, interfaith daily in Indonesia and beyond. The question of how one can live peacefully in a multireligious environment that has colored a discussion about interfaith engagement in many regions of the world. This article begins with a discussion of interfaith relations by introducing the history of migration in Europe. Having developed an awareness of everyday symbolic in migrant-host relationship, this article studied the effect of migration to interfaith engagement in Europe and the United States. Interfaith engagement in this sense is a means of building peace in many parts of the world, including Indonesia. Based on the sociological context of interreligious relations, the article criticized the rigidity of interreligious dialogue is stuck in the official forums related to religious issues. Therefore, religious dialogue based on everyday relationships become important to create the same sphere where everyone has the same solidarity and understanding with all those who have faith and religion are different.
[Artikel ini mengeksplorasi interaksi simbolis antariman sehari-hari di Indonesia dan di luar. Pertanyaan bagaimana seseorang dapat hidup secara damai di lingkungan yang multiagama telah mewarnai diskusi tentang keterlibatan lintas agama (interreligious engagement) di banyak wilayah di dunia. Artikel ini dimulai dengan diskusi tentang hubungan antaragama dengan memperkenalkan sejarah migrasi di Eropa. Dengan mengembangkan kesadaran simbolis sehari-hari dalam hubungan migran-tuan rumah, artikel ini mendalami pengaruh migrasi ke keterlibatan antaragama di Eropa dan Amerika Serikat. Keterlibatan antaragama dalam pengertian ini adalah sarana pembangunan perdamaian di banyak bagian dunia, termasuk Indonesia. Berdasarkan konteks sosiologis hubungan antaragama, artikel ini mengkritik kekakuan antaragama yang terjebak dalam forum dialog resmi terkait masalah agama. Oleh karena itu, dialog agama berbasis hubungan sehari-hari menjadi penting untuk menciptakan wilayah yang sama dimana setiap orang memiliki solidaritas dan pemahaman yang sama dengan semua orang yang memiliki iman dan agama yang berbed