Sao Jurnal IAIN Parepare
Not a member yet
2676 research outputs found
Sort by
ANALISIS TOTAL KEWAJIBAN MELALUI SETORAN WADIAH DAN INVESTASI BERBAGI NIRLABA DI BTPN SYARIAH UNTUK PERIODE 2016-2023
Banking is vital for economic growth, acting as a financial intermediary (Marshal, 2019). Islamic banks differ from conventional banks by following profit- sharing principles instead of interest. As per Law No. 10 of 1998, Islamic banks meet the needs of Muslims avoiding interest (riba) and operate alongside conventional banks, offering products like Wadiah and Mudharabah-based savings.
This study analyzes the effects of Wadiah deposits and non-profit-sharing investments on total liabilities at BTPN Syariah Bank from 2016-2023. Using descriptive and quantitative methods, the results show that Wadiah deposit contribute 34.8% ,non-profit sharing investments 84.5%, and both simultaneously contribute 92.3% to total liabilities, confirming their significant impact.
The research uses time series data from PT BTPN Syariah Tbk's annual reports and applies various analytical methods, including descriptive analysis and hypothesis testing, with data processed using SPSS and Microsoft Excel. The findings align with existing theories, emphasizing the crucial role that both Wadiah deposits and non-profit-sharing investments play in shaping the bank's financial liabilities. This suggests that Islamic banking products are not only compliant with Sharia principles but also significantly contribute to the bank’s overall financial stability and growth.Perbankan memainkan peran penting dalam pertumbuhan ekonomi, bertindak sebagai perantara keuangan (Marshal, 2019). Bank syariah berbeda dengan bank konvensional karena mengikuti prinsip pembagian keuntungan daripada bunga. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998, bank syariah memenuhi kebutuhan umat Islam dengan menghindari bunga (riba) dan beroperasi berdampingan dengan bank konvensional, menawarkan produk seperti tabungan berbasis Wadiah dan Mudharabah.
Penelitian ini menganalisis dampak simpanan Wadiah dan investasi non-pembagian keuntungan terhadap total liabilitas di Bank BTPN Syariah dari tahun 2016 hingga 2023. Dengan menggunakan metode deskriptif dan kuantitatif, hasil penelitian menunjukkan bahwa simpanan Wadiah berkontribusi sebesar 34,8%, investasi non-pembagian keuntungan sebesar 84,5%, dan keduanya secara bersamaan berkontribusi sebesar 92,3% terhadap total liabilitas, mengonfirmasi dampak signifikan keduanya.
Penelitian ini menggunakan data time series dari laporan tahunan PT BTPN Syariah Tbk dan menerapkan berbagai metode analitis, termasuk analisis deskriptif dan pengujian hipotesis, dengan data diproses menggunakan SPSS dan Microsoft Excel. Temuan ini sejalan dengan teori yang ada, menyoroti peran krusial yang dimainkan oleh simpanan Wadiah dan investasi tanpa pembagian keuntungan dalam membentuk kewajiban keuangan bank. Hal ini menunjukkan bahwa produk perbankan syariah tidak hanya sesuai dengan prinsip syariah tetapi juga secara signifikan berkontribusi terhadap stabilitas dan pertumbuhan keuangan bank secara keseluruhan
PELATIHAN KREATIVITAS VISUAL POSTER KAMPANYE PRAKTIK BAIK SDGs OSIS SMA N 1 TERNATE
SDGs/TPB (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan) tidak bisa dicapai apabila tidak ada Kerjasama antar seluruh lapisan masyarakat, tidak terkecuali pelajar. OSIS sebagai salah satu organisasi sekolah menjadi wadah aspirasi warga sekolah. Seyogyanya OSIS menjadi agen yang mengkampanyekan Praktik Baik SDGs kepada seluruh warga sekolah. Tujuan pelatihan ini yaitu peserta pelatihan menjadi agen perubahan dalam mewujudkan SDGs 2030. Metode pelatihan terdiri atas (i) tahap persiapan; (ii) pelaksanaan;dan (iii) evaluasi. Hasil pelatihan menunjukkan OSIS mampu mendesain poster kampanye bertema SDGs. Kreativitas peserta pelatihan meningkat setelah mengikuti kegiatan pelatihan. Poster Kampanye yang didesain oleh peserta pelatihan selanjutnya dibagikan pada media sosial dan dipajang di mading sekolah
Analisis Penyebaran Informasi Palsu dan Ujaran Kebencian di Media Sosial Indonesia : Studi Kasus Berita Hoax dan Hate Speech
Penyebaran berita hoax dan ujaran kebencian (hate speech) di media sosial menjadi tantangan serius bagi kebebasan berekspresi dan stabilitas sosial di Indonesia. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis dinamika penyebaran hoax dan hate speech melalui studi kasus yang terjadi pada tahun-tahun pemilu dan isu-isu sensitif lainnya. Metode yang digunakan adalah studi kualitatif dengan pendekatan analisis wacana kritis terhadap konten-konten media sosial serta dokumentasi dari lembaga terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hoax dan hate speech kerap dimanfaatkan sebagai alat politik dan provokasi, serta berdampak negatif pada kerukunan masyarakat. Peran media, pemerintah, dan masyarakat sipil sangat krusial dalam menangkal penyebaran informasi palsu dan ujaran kebencian
The Socio-Economic Life of Farmers: A Study of Social Change in the Ulu Saddang Village Community: Kehidupan Sosial Ekonomi Petani: Studi Perubahan Sosial Masyarakat Desa Ulu Saddang
The socio-economic life of the community is an important aspect in the structure of society, influenced by many factors such as economic activity, education level, type of work, and income level. In Ulusaddang Village, economic conditions play a crucial role in directing socio-economic change in the community. The purpose of this study is to determine the causes of socio-economic change and the impact of social change on the socio-economic life of farmers. This study uses a qualitative descriptive research type, which aims to describe in more detail the socio-economic life of farmers and social change. The theories used in the study are Piotr Sztompka's theory of social change and social exchange. Data collection techniques were carried out by means of observation, interviews, and documentation with data analysis techniques using data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of this study indicate that the causes of socio-economic change in farmers in Ulu Saddang Village involve changes in community planting patterns, communication networks, and farmer education. The social changes that occur have a significant impact on the socio-economic life of farmers, including increased economic income, rapid exchange of information, increased farmer solidarity, shifts in values and culture.Kehidupan sosial ekonomi masyarakat menjadi aspek penting dalam struktur masyarakat, dipengaruhi oleh banyak faktor seperti aktivitas ekonomi, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, dan tingkat pendapatan. Di Desa Ulusaddang, kondisi ekonomi memainkan peran krusial dalam mengarahkan perubahan sosial ekonomi di tengah masyarakat. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagiamana penyebab terjadinya perubahan sosial ekonomi dan dampak perubahan sosial terhadap kehidupan sosial ekonomi petani. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif, yang bertujuan untuk mendeskripsikan lebih rinci mengenai kehidupan sosial ekonomi petani dan perubahan sosial. Teori yang digunakan dalam penelitian yaitu, teori perubahan sosial Piotr Sztompka dan pertukaran sosial. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penyebab perubahan sosial ekonomi petani di Desa Ulu Saddang melibatkan perubahan pola tanam masyarakat, jaringan komunikasi, dan pendidikan petani. Perubahan sosial yang terjadi memiliki dampak signifikan pada kehidupan sosial ekonomi petani, termasuk peningkatan pendapatan ekonomi, pertukaran informasi yang cepat, peningkatan solidaritas petani, pergeseran nilai dan buday
Upaya Kantor Urusan Agama (Kua) Dalam Meminimalisir Praktik Nikah Di Bawah Tangan: Studi Kasus Di KUA Kec. Diwek Kab. Jombang
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja kendala yang dihadapi dan upaya apa yang telah dilakukan oleh Kantor Urusan Agama Kecamatan Diwek dalam rangka meminimalisir praktik nikah bawah tangan yang terjadi pada di Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Selaras dengan hal tersebut, maka penulis menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan mengimplementasikan pendekatan enpiris sosiologis. Selain itu, penulis melakukan metode pengumpulan data dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa upaya untuk mengatasi kendala dalam mengurangi praktik nikah bawah tangan oleh Kantor Urusan Agama (KUA) adalah dengan berkolaborasi dengan Kepala Desa, menyederhanakan proses pencatatan pernikahan, dan memberikan penyuluhan tentang pentingnya pencatatan pernikahan. Namun, keberhasilan upaya tersebut belum optimal karena partisipasi masyarakat masih rendah akibat kesibukan mereka dalam aktivitas sehari-hari, terutama pekerjaan. Oleh karena itu, masih banyak penduduk di sekitar Kecamatan Diwek yang belum menyadari dan memahami pentingnya pencatatan pernikahan
Veiling as Cultural Sovereignty: A Performative and Mediated Study of Rimpu in Eastern Indonesia
Penelitian bertujuan untuk memahami Rimpu sebagai simbol budaya tradisional Bima, yang mencerminkan kearifan lokal masyarakat. Tradisi ini dipertahankan melalui pawai budaya dan kegiatan pelestarian lainnya di era modern. Fokus penelitian ini meliputi, Simbolisme Rimpu dalam budaya Bima, nilai sosial, moral, dan identitas. Peran pawai dan festival budaya dalam menjaga Rimpu seb
This study investigates Rimpu, the traditional veiled dress of Bimanese Muslim women in Eastern Indonesia, as a performative expression of piety, identity, and resistance within the interplay of Islamic values, local customs, and contemporary socio-cultural transformations. Employing a qualitative ethnographic design, the research was conducted in Bima Regency, West Nusa Tenggara, through participant observation, in-depth interviews, and visual documentation. The study finds that Rimpu functions not only as a cultural-religious identity marker but also as a contested symbol shaped by generational reinterpretation, commodification in tourism and media, and diminishing everyday use among youth. While older women perceive Rimpu as a spiritual embodiment of nuru (modesty) and maja (shame), younger women increasingly view it as ceremonial, aesthetic, or impractical for modern life. Theoretically, this research contributes to Islamic gender studies and symbolic anthropology by extending Judith Butler’s performativity and Talal Asad’s embodied piety into a localized Muslim context, offering a non-Arab, peripheral case that challenges dominant narratives in Muslim fashion discourse. Practically, the findings call for policy interventions and educational models that move beyond folklorization and instead support intergenerational cultural transmission rooted in lived experience. The study’s limitations include its regional scope, with a focus on female voices in coastal and semi-urban areas, and limited analysis of Rimpu’s digital representation. Future research should explore visual ethnography, class-based variations, and comparative dress practices across Eastern Indonesia to deepen understanding of local Islamic expressions under global cultural pressure.
agai warisan budaya lokal. Tantangan dan strategi adaptasi Rimpu di tengah modernisasi dan globalisasi, serta upaya masyarakat Bima untuk menjaga relevansi tradisi ini bagi generasi muda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan metode sejarah, penelitian ini melibatkan masyarakat Suku Mbojo (Bima) sebagai informan. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara, dan kajian literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rimpu tidak hanya sebagai pakaian adat, tetapi juga simbol etika dan identitas perempuan Bima. Pawai budaya yang menampilkan Rimpu berfungsi untuk meningkatkan kebanggaan lokal dan memperkenalkan budaya Bima kepada generasi muda. Penelitian ini menekankan pentingnya pelestarian Rimpu dalam menghadapi arus globalisasi dan menyarankan promosi budaya lokal melalui media modern. Rimpu menjadi simbol kearifan lokal yang menghubungkan masyarakat Bima dengan akar budaya mereka, menegaskan norma-norma sosial, serta melestarikan nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi.This study investigates Rimpu, the traditional veiled dress of Bimanese Muslim women in Eastern Indonesia, as a performative expression of piety, identity, and resistance within the interplay of Islamic values, local customs, and contemporary socio-cultural transformations. Employing a qualitative ethnographic design, the research was conducted in Bima Regency, West Nusa Tenggara, through participant observation, in-depth interviews, and visual documentation. The study finds that Rimpu functions not only as a cultural-religious identity marker but also as a contested symbol shaped by generational reinterpretation, commodification in tourism and media, and diminishing everyday use among youth. While older women perceive Rimpu as a spiritual embodiment of nuru (modesty) and maja (shame), younger women increasingly view it as ceremonial, aesthetic, or impractical for modern life. Theoretically, this research contributes to Islamic gender studies and symbolic anthropology by extending Judith Butler’s performativity and Talal Asad’s embodied piety into a localized Muslim context, offering a non-Arab, peripheral case that challenges dominant narratives in Muslim fashion discourse. Practically, the findings call for policy interventions and educational models that move beyond folklorization and instead support intergenerational cultural transmission rooted in lived experience. The study’s limitations include its regional scope, with a focus on female voices in coastal and semi-urban areas, and limited analysis of Rimpu’s digital representation. Future research should explore visual ethnography, class-based variations, and comparative dress practices across Eastern Indonesia to deepen understanding of local Islamic expressions under global cultural pressure
The Polygamy of Sheikh Sulaiman Arrasuli: Negotiating Religious Authority and Identity in the Matrilineal Muslim Society of Minangkabau
This study analyzes how Sheikh Sulaiman Arrasuli (1871–1970) constructed his religious identity and authority through polygamous practices within the Minangkabau matrilineal system in the early 20th century. Using a qualitative-historiographical method, data were collected through documentation and written works of Sheikh Sulaiman Arrasuli. The data were analyzed using Erving Goffman's theoretical framework (social dramaturgy) and Charles Taylor's (authenticity) to reveal the process of identity negotiation. Findings indicate that the interaction between public performance and private negotiation in Sheikh Sulaiman Arrasuli's polygamous practice—with 17 wives—functioned as both a symbol of social prestige and a means of legitimizing religious authority in the public sphere (front stage). Meanwhile, in the private realm (back stage), a transformation occurred from commitment to monogamy toward polygamy as a result of negotiation between personal preferences and social expectations. The combination of Goffman's and Taylor's theoretical frameworks yields a deeper understanding of the construction of religious authority in the context of Islamic and cultural convergence. These findings offer insights into how ulama navigate public and private identities amid social change, while demonstrating the intersection of gender, religion, and culture in societies undergoing value transformationIdentitas dan otoritas keagamaan direpresentasikan melalui berbagai praktik sosial, termasuk pernikahan. Erving Goffman mengkonseptualisasikan identitas melalui dikotomi front stage dan back stage, sementara Charles Taylor menekankan autentisitas dalam konstruksi identitas modern. Dalam konteks ini, studi ini menganalisis bagaimana Syekh Sulaiman Arrasuli (1871–1970) membangun identitasnya sebagai ulama melalui praktik poligami dengan 17 istri dalam sistem matrilineal Minangkabau pada awal abad ke-20. Menggunakan metode historiografi sosial, studi ini menganalisis dokumen arsip dan karya tulis Syekh Sulaiman Arrasuli serta menerapkan kerangka teoretis autentisitas untuk menginterpretasikan data. Hasil studi menunjukkan bahwa poligami berfungsi sebagai simbol prestise sosial dan legitimasi otoritas keagamaan dalam front stage Syekh Sulaiman Arrasuli, sementara korespondensi pribadinya mengungkapkan evolusi sikapnya dari komitmen terhadap monogami menuju praktik poligami sebagai bentuk negosiasi antara preferensi pribadi dan ekspektasi sosial. Studi ini berkontribusi pada wacana ulama menegosiasikan peran publik dan privat mereka dalam konteks transformasi sosial. Selain itu, studi ini menawarkan wawasan antara otoritas keagamaan, praktik budaya, dan konstruksi identitas dalam masyarakat yang mengalami transformasi nilai.  
Adapting Form-Focused and Meaning-Focused Instruction in the Digital Post-Pandemic English Classroom
Form-Focused Instruction (FFI) and Meaning-Focused Instruction (MFI) have been known in the field of English Language Teaching. However, since the COVID-19 pandemic disrupted education, the learning situations in a classroom can no longer rely on traditional ways. Following the shifts, this study aims to give an in-depth understanding of the implementation of FFI and MFI in an English language classroom at a senior high school in Indonesia after covid shift. This study uses a qualitative case study approach, and the data was collected through semi-structured interviews and then analyzed using thematic analysis. The findings reveal an integrated implementation of FFI and MFI as well as increase in technology use. The use of explicit grammar instruction, corrective feedback, and structured learning based on Kurikulum Merdeka reflects the implementation of FFI. On the other hand, the implementation of MFI is reflected in collaborative and learner-centered activities, real-world examples, and a Genre-Based Approach (GBA). Additionally, due to the pandemic shift, digital tools also facilitated learning beyond traditional situations. Teachers are suggested to adapt to the digitalized era by equipping them with digital literacy. However, the study is highly contextual and the scope is limited to a single school. Future research with more expanded scope is needed
Efektivitas Pembelajaran Matematika Berbasis Etnomatematika Batik Kudus dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa : The Effectiveness of Ethnomathematics-Based Mathematics Learning Using Kudus Batik in Enhancing Students' Learning Motivation
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Efektivitas Pembelajaran Matematika Berbasis Etnomatematika Batik Kudus dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa pada salah satu Sekolah Dasar di kota Kudus. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (PTK) dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, instrumen angket motivasi belajar, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang dilakukan adalah analisis data kuantitatif dan kualitatif. Hasil analisis data menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran matematika yang mengintegrasikan elemen budaya lokal, seperti batik Kudus, memiliki dampak positif terhadap motivasi belajar siswa. Peningkatan motivasi ini terlihat dari skor siswa pada siklus II yang menunjukkan kenaikan signifikan dibandingkan dengan siklus I, yang ditandai dengan beralihnya banyak siswa ke kategori motivasi belajar yang tinggi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran berbasis etnomatematika tidak hanya memperkaya materi ajar dengan konteks budaya yang relevan, tetapi juga menciptakan suasana belajar yang lebih menarik dan interaktif bagi siswa. Oleh karena itu, metode ini diharapkan dapat diterapkan lebih luas di sekolah-sekolah lain, sehingga dapat meningkatkan keterlibatan dan semangat belajar siswa dalam mata pelajaran matematika
Presidential Term Restrictions (A Comparative Study of Indonesia and the United States in the Perspective of Constitutional Law)
This study aims to compare the regulation of presidential term limits in both countries, examine their effectiveness in maintaining democratic principles, and analyze their implications for political stability and control of executive power. The method used is a normative juridical method with a comparative approach. The data used includes primary data (the 1945 Constitution and the 22nd Amendment to the US Constitution), secondary data (books, journals, and scientific articles), and tertiary data (legal dictionaries and encyclopedias of constitutional law). The results of the study show that the presidential term limit is effective in maintaining the principle of checks and balances and preventing power being centralized in one individual. The difference in regulation between Indonesia and the United States lies in the number of presidential terms and duration. In Indonesia, these restrictions serve as a correction to past experience, while in the United States, these restrictions arise after public concerns after Roosevelt's leadership. The implications of this arrangement affect political stability and the process of power rotation in both countries