Open Journal System (OJS) Universitas Bengkulu
Open Journal System (OJS) Universitas BengkuluNot a member yet
14213 research outputs found
Sort by
Implementation Of Occupational Safety and Health (K3) Program At PT Sahung Brantas Energi PLTM In Bungin Tambun, Padang Guci Hulu District
This research is motivated by the lack of implementation of Occupational Safety and Health (K3) at PT.Sahung Brantas Energi PLTM. The purpose of this study is to determine the K3 program at PT. Sahung Brantas Energi PLTM, to determine the Implementation of K3 at PT. Sahung Brantas Energi PLTM, and to determine how accidents and occupational diseases are at PT. Sahung Brantas Energi PLTM. The technique for obtaining data uses observation sheets and interviews with 5 informants including 1 unit leader or manager, 2 coordinators, 1 operator, and 1 security officer. The results obtained from this study regarding the implementation of the Occupational Safety and Health (K3) program at PT. Sahung Brantas Energi PLTM, it can be concluded that this company has a strong commitment to the implementation of K3. The implementation of the K3 program in the company includes integrity in the K3 management system, strict application of PPE, and a comprehensive occupational health program. This program is supported by routine training, periodic evaluations, and supervision to ensure safety standards are met. Although the level of work accidents at PT Sahung Brantas Energi PLTM is relatively low, there are challenges in compliance with the use of PPE, especially during work breaks. Continuous education and strict supervision play an important role in encouraging employee awareness and compliance.Penelitian ini dilatar belakangi oleh kurangnya penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di PT.Sahung Brantas Energi PLTM. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui program K3 di PT. Sahung Brantas Energi PLTM, untuk mengetahui Pelaksanaan K3 di PT. Sahung Brantas Energi PLTM, dan untuk mengetahui bagaimana kecelakaan dan penyakit akibat kerja di PT. Sahung Brantas Energi PLTM. Teknik untuk mendapatkan data menggunakan lembaran observasi dan wawancara dengan 5 informan yang mencakup 1 orang pimpinan atau manajer unit, 2 orang koordinator, 1 orang operator, dan 1 orang petugas keamanan. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini mengenai implementasi program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di PT. Sahung Brantas Energi PLTM, dapat disimpulkan bahwa perusahaan ini memiliki komitmen kuat terhadap pelaksanaan K3. Penerapan program K3 di perusahaan mencakup integritas dalam sistem manajemen K3, penerapan APD yang ketat, serta program kesehatan kerja yang menyeluruh. Program ini didukung dengan pelatihan rutin, evaluasi berkala, dan pengawasan untuk memastikan standar keselamatan terpenuhi. Meski tingkat kecelakaan kerja di PT Sahung Brantas Energi PLTM tergolong rendah, terdapat tantangan dalam kepatuhan penggunaan APD, terutama saat jeda kerja. Edukasi berkelanjutan dan pengawasan ketat berperan penting dalam mendorong kesadaran dan kepatuhan karyawan
Penyuluhan dan Pelatihan tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Petugas Pengangkut Sampah di Dinas Lingkungan Hidup Kota Bengkulu
Petugas pengangkut sampah beresiko tinggi mengalami penyakit akibat kerja, salah satunya ialah infeksi soil-transmitted helminths (STH) karena pekerjaannya sangat memungkinkan mereka untuk kontak dengan telur dan larva cacing yang ada di tanah atau sampah. Penelitian yang dilakukan pada 84 petugas pengangkut sampah di Dinas Lingkungan Hidup Kota Bengkulu tahun 2022 lalu menunjukkan bahwa 46 orang (54,8%) di antaranya mengalami infeksi STH. Kesimpulan dari penelitian tersebut ialah terdapat hubungan antara personal hygiene yang buruk dan tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai standar dengan infeksi STH. Sebagai tindak lanjut, dilakukan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat berupa penyuluhan dan pelatihan untuk meningkatkan kesadaran tentang keselamatan dan kesehatan kerja (K3) pada 92 petugas pengangkut sampah di Dinas Lingkungan Hidup Kota Bengkulu. Kegiatan ini terbukti dapat meningkatkan pengetahuan peserta mengenai bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan akibat pekerjaan yang kontak dengan sampah, pentingnya menggunakan APD saat bekerja, cara penggunaan APD yang sesuai standar, cara menjaga personal hygiene, dan perlunya mengkonsumsi obat cacing sebagai upaya eliminasi dan pencegahan infeksi STH.Petugas pengangkut sampah berisiko tinggi mengalami penyakit akibat kerja, salah satunya ialah infeksi soil-transmitted helminths (STH) karena pekerjaannya sangat memungkinkan mereka untuk kontak dengan telur dan larva cacing yang ada di tanah atau sampah. Penelitian yang dilakukan pada 84 petugas pengangkut sampah di Dinas Lingkungan Hidup Kota Bengkulu tahun 2022 lalu menunjukkan bahwa 46 orang (54,8%) di antaranya mengalami infeksi STH. Kesimpulan dari penelitian tersebut ialah terdapat hubungan antara personal hygiene yang buruk dan tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai standar dengan infeksi STH.
Sebagai tindak lanjut, dilakukan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat berupa penyuluhan dan pelatihan untuk meningkatkan kesadaran tentang keselamatan dan kesehatan kerja (K3) pada 92 petugas pengangkut sampah di Dinas Lingkungan Hidup Kota Bengkulu. Kegiatan ini terbukti dapat meningkatkan pengetahuan peserta mengenai bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan akibat pekerjaan yang kontak dengan sampah, pentingnya menggunakan APD saat bekerja, cara penggunaan APD yang sesuai standar, cara menjaga personal hygiene, dan perlunya mengonsumsi obat cacing sebagai upaya eliminasi dan pencegahan infeksi STH
Perbedaan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa SMKN 6 Jayapura Melalui Penerapan Model Pembelajaran Kumon
This study aims to determine the differences in student motivation and learning outcomes after applying the kumon learning model with conventional learning models, using quantitative methods of quasi experimental design Nonequivalent Control Group model. The sampling technique used Purposive Sampling. Data collection by filling in questionnaires of learning motivation of experimental and control classes and learning outcomes tests of experimental and control classes. From the data analysis, the results of the motivation difference test were Sig. Hit = 0.039 < 0.05 and learning outcomes ranging from the results of n-Gain RPP 1 Sig. Hit = 0.040 < 0.05, n-Gain RPP 2 Sig. Hit = 0.041 < 0.05, n-Gain result of RPP 3 Sig. Hit = 0.046 < 0.05, and the average n-Gain result Sig. Hit = 0.029 < 0.05. The conclusion is that there are differences in student motivation and learning outcomes in classes applied to the kumon learning model with classes applied to conventional learning models and the kumon learning model can increase student motivation and learning outcomes.Penelitian bertujuan untuk mengetahui perbedaan motivasi dan hasil belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran kumon dengan model pembelajaran konvensional. Menggunakan metode kuantitatif desain eksperimen quasi model Nonequivalent Control Group. Teknik pengambilan sampel menggunakan Purposive Sampling. Pengumpulan data dengan pengisian angket motivasi belajar kelas eksperimen dan kelas kontrol serta tes hasil belajar kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dari analisis data diperoleh hasil uji perbedaan motivasi adalah Sig. Hit = 0,039 < 0,05 dan hasil belajar mulai dari hasil n-Gain RPP 1 Sig. Hit = 0,040 < 0,05, hasil n-Gain RPP 2 Sig. Hit = 0,041 < 0,05, hasil n-Gain RPP 3 Sig. Hit = 0,046 < 0,05, dan hasil n-Gain Rata-rata Sig. Hit = 0,029 < 0,05. Kesimpulannya yaitu ada perbedaan motivasi dan hasil belajar siswa pada kelas yang diterapkan model pembelajaran kumon dengan kelas yang diterapkan model pembelajaran konvensional serta model pembelajaran kumon dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa
Peran Kepala Sekolah Dalam Pengelolaan Kurikulum Merdeka
This research aims to describe the role of school principals in the management of the Independent curriculum at SD Negeri 64 Lubuklinggau. The research uses a descriptive qualitative method. The research subjects were principals and teachers at SD Negeri 64 Lubuklinggau. Data collection by interview, observation and documentation techniques. The data analysis technique begins with data collection and drawing conclusions. The results of the study show that the role of school principals in the management of the independent curriculum runs in accordance with the stages, namely curriculum planning, curriculum implementation, curriculum evaluation, and follow-up of the independent curriculum at SD Negeri 64 Lubuklinggau, and has a significant impact on improving the quality of learning, especially in terms of improving student competence, both in the academic and character fields. The successful management of the independent curriculum also shows an increase in student involvement in the learning process, an increase in critical thinking skills, and the strengthening of the values of the Pancasila Student Profile in the school environment. However, there is still a need for improvement and improvement in certain parts to be able to maximize the management of the independent curriculum at SD Negeri 64 Lubuklinggau
PENGEMBANGAN MODUL MATEMATIKA MENGGUNAKAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING PADA MATERI ALJABAR
Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan modul matematika dengan menggunakan model Problem Based Learnning pada materi aljabar yang valid, praktis serta memiliki efek potensial terhadap hasil belajar siswa. Metode penelitian yaitu pengembangan dengan menggunakan mode ADDIE. Model ADDIE terdiri dari 5 tahap yaitu analysis, design, development, implementation dan evaluation. Subjek penelitian ini adalah kelas VII SMP Negeri 8 Lubuklinggau. Teknik pengumpulan data menggunakan angket dan tes hasil belajar. Teknik analisis data yang dilakukan yaitu analisis data lembar validasi, analisis data lembar kepraktisan, serta analisis hasil tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) kualitas media pembelajaran dilihat dari aspek kevalidan bahasa termasuk dalam kategori sangat valid dengan skor 0,87 ,aspek kevalidan media termasuk dalam kategori valid dengan skor 0,7, dan aspek kevalidan materi termasuk dalam kategori sangat valid dengan skor 0,94; (2) kualitas bahan ajar modul dilihat dari aspek kepraktisan one to one dikategorikan sangat praktis dengan skor 4,7 dan aspek kepraktisan small group dikategorikan sangat praktis 4,7 dari seluruh aspek kepraktisan tergolong dalam kategori sangat praktis dengan skor rata-rata 4,7; (3) bahan ajar modul memiliki efek potensial terhadap hasil belajar siswa dimana sebanyak 28 siswa (92,85%) termasuk dalam kategori tuntas. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan sekolah sebesar 70
Kalimat Aktif dan Kalimat Pasif Bahasa Melayu Tengah Dialek Lembak di Kota Bengkulu
The Lembak dialect is one of the dialects commonly used by the Lembak people, also known as the Lembak ethnic group, which is part of the larger Bengkulu community. This study aims to describe the function, category, and syntactic role of active and passive sentences in Lembak dialect speech in Bengkulu City. The method used is a qualitative descriptive Data collection techniques in this study were carried out by listening, listening freely in conversation, interviews and recording techniques, namely by recording conversations in Tanjung Agung and Tanjung Jaya Villages, Sungai Serut District, Bengkulu City and interviewing the sources. The analysis steps were carried out in stages: 1) data transcription, 2) data identification, and 3) data classification. The results of the study showed that in active sentences, sentence structures were found with the patterns SPO, SPOKet, KetSPO, SPOPel, SketPO, SPOKetPel, and SPKetO. The syntactic functions found were subjects, predicates, objects, descriptions, and complements. Categories in the Lembak dialect found noun phrases, verb phrases, prepositional phrases, adverbial phrases, adjective phrases, and numeral phrases. The syntactic roles found include actors, actions, sufferers, place, results, time, origin, purpose, participants, actions, recipients, number, things, conditions, and tools. Meanwhile, in passive sentences, sentence structures are found with the patterns SPO, SPOKet, KetSPO, SKetPO, KetSPO, and KetSPOPel. The syntactic functions found include subjects, predicates, objects, descriptions, and complements. The categories that appear include noun phrases, verb phrases, prepositional phrases, adverbial phrases, and adjective phrases. The syntactic roles found include sufferers, actions, actors, place, results, time, tools, and origin. In this study, it was found that in Central Malay Lembak dialect, the active sentence form of the verb is not prefixed or even reduced.Dialek Lembak merupakan salah satu dialek yang banyak digunakan masyarakat Lembak atau juga yang dikenal dengan suku Lembak yang merupakan bagian dari masyarakat Bengkulu. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fungsi, kategori, dan peran sintaksis kalimat aktif dan kalimat pasif dalam tuturan dialek Lembak di Kota Bengkulu. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan simak, simak bebas libat cakap, wawancara dan teknik rekam yaitu dengan merekam percakapan di Kelurahan Tanjung Agung dan Tanjung Jaya Kecamatan Sungai Serut Kota Bengkulu dan mewawancarai narasumbernya. Langkah-langkah analisis dilakukan dengan tahapan: 1) transkripsi data, 2) identifikasi data, dan 3) klasifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kalimat aktif ditemukan struktur kalimat dengan pola SPO, SPOKet, KetSPO, SPOPel, SketPO, SPOKetPel, dan SPKetO. Fungsi sintaksis yang ditemukan terdapat subjek, predikat, objek, keterangan, dan pelengkap. Kategori dalam dialek Lembak ini ditemukan frasa nomina, frasa verba, frasa preposisional, frasa adverbia, frasa adjektiva, dan frasa numeralia. Peran sintaksis yang ditemukan meliputi pelaku, perbuatan, penderita, tempat, hasil, waktu, asal, tujuan, peserta, tindakan, penerima, jumlah, hal, keadaan, dan alat. Sementara itu, pada kalimat pasif ditemukan struktur kalimat dengan pola SPO, SPOKet, KetSPO, SKetPO, KetSPO, dan KetSPOPel. Fungsi sintaksis yang ditemukan terdapat subjek, predikat, objek, keterangan, dan pelengkap. Kategori yang muncul meliputi frasa nomina, frasa verba, frasa preposisional, frasa adverbia, dan frasa adjektiva. Peran sintaksis yang ditemukan meliputi penderita, perbuatan, pelaku, tempat, hasil, waktu, alat, dan asal. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa dalam bahasa Melayu Tengah dialek Lembak bentuk kalimat aktif verba nya ada yang beberapa tidak berprefiks atau bahkan berkurang
Fungsi dan Makna Kebah pada Masyarakat Mukomuko
This research aims to describe the function and meaning of the kebah in the Mukomuko community. The method used in this research is a qualitative descriptive method. The results of the research found that kebah refers to a form of oral literature in the form of folklore, history or legend. The main function of the kebah is as a means of education, reflecting public awareness of the importance of education in shaping life. Kebah functions as a medium of expression, where people can express opinions and complaints without feeling embarrassed, because the identity of the character being told remains anonymous. Other functions of the kebah include upholding authority, challenging tradition, entertainment, unification, socialization, forming cultural identity, and social criticism. In terms of its meaning, kebah contains a deep message, especially regarding the relationship between parents and children. This relationship functions as a foundation for forming children's character and values, where parents act as role models in teaching morality and ethics. This meaning not only affects individuals, but also impacts the broader social structure, forming generations of mutual respect. Apart from that, kebah also emphasizes the meaning of luck, which is understood as the result of a combination of opportunities and an individual's ability to exploit them, as well as the result of hard work. Thus, kebah not only has an impact on individuals, but also has an impact on the formation of broader social structures.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fungsi dan makna kebah pada masyarakat Mukomuko. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ditemukan kebah merujuk pada sebuah bentuk sastra lisan berbentuk cerita rakyat, sejarah, atau legenda. Fungsi utama kebah sebagai sarana pendidikan, mencerminkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan dalam membentuk kehidupan. Kebah berfungsi sebagai media ekspresi, di mana masyarakat dapat menyampaikan pendapat dan keluhan tanpa merasa malu, karena identitas tokoh yang diceritakan tetap anonim. Fungsi lain yang ada dalam kebah meliputi penegakan otoritas, penentangan terhadap tradisi, hiburan, pemersatuan, sosialisasi, pembentukan identitas kultural, dan kritik sosial. Dalam hal makna, kebah mengandung pesan yang mendalam, terutama mengenai hubungan antara orang tua dan anak. Hubungan ini berfungsi sebagai fondasi untuk membentuk karakter dan nilai-nilai anak, di mana orang tua berperan sebagai teladan dalam mengajarkan moralitas dan etika. Makna ini tidak hanya mempengaruhi individu, tetapi juga berdampak pada struktur sosial yang lebih luas, membentuk generasi yang saling menghormati. Selain itu, kebah juga menyoroti makna keberuntungan, yang dipahami sebagai hasil dari kombinasi antara kesempatan dan kemampuan individu untuk memanfaatkannya, serta sebagai hasil dari kerja keras. Dengan demikian, kebah tidak hanya mempengaruhi individu, tetapi juga berdampak pada pembentukan struktur sosial yang lebih luas
Pengembangan KIT Matching Card Sebagai Asesmen Formatif Dalam Materi Bangun Datar Pada Peserta Didik Kelas V SD Negeri 03 Pontianak Kota
Assessment in mathematics learning is often limited to worksheets completed individually by students under the supervision of the teacher. The use of less varied assessment methods results in low student engagement, interest, and motivation in learning. Providing engaging assessment tools is one effort to create an enjoyable learning atmosphere. The KIT Matching Card is a medium that can be used as an assessment tool in learning. The KIT Matching Card is a learning medium in which students match cards consisting of two parts: question cards and answer cards, which are paired by the students to match the question with the correct answer. This study uses the Research and Development (R&D) method by applying the 4D development model. The validity results of the developed media meet the criteria for being highly valid, with an average percentage of 96.82% for the material aspect and 98.99% for the media aspect. The limited trial development using the KIT Matching Card meets the criteria for being highly effective as a learning medium, with an average percentage of 94.44% in teacher responses and 86.45% in student responses. Therefore, the KIT Matching Card is not only considered theoretically and technically valid but is also deemed practically beneficial by users in the classroom.Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan KIT matching card yang tingkat kevaliditan layak dan respon baik dalam meningkatkan minat dan keterlibatan peserta didik dalam penggunaan KIT matching card. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan menerapkan model pengembangan 4D. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan pedoman wawancara dan angket kuesioner dengan menggunakan instrumen pengumpulan data dari lembar validasi dan angket respon. Mengumpulkan data dari tanggapan peserta didik menggunakan kuesioner teknik pengukuran dengan komunikasi tidak langsung. Subjek dalam penelitian ini melibatkan peserta didik kelas V, SD Negeri 03 Pontianak Kota dengan jumlah 23 peserta didik. Hasil validasi KIT matching card dari setiap aspek, baik oleh ahli materi maupun ahlli media diperoleh nilai persentase rata-rata 97,36% dengan kriteriasangat valid dan layak digunakan sebagaimedia pembelajaran. Hasil angket kuesionerrespon guru pada uji coba pengembanganterbatas dari aspek kemudahan, kemenarikan, dan kebermanfaatan diperoleh nilai persentase rata-rata 93,75% dengan kriteria sangat baik digunakan sebagai media pembelajaran. Hasil angket kuesioner respon peserta didik pada uji coba pengembangan terbatas dari aspek kemudahan, kemenarikan, dankebermanfaatan diperoleh nilai persentase rata-rata 86,31% dengan kriteria sangat baik digunakan sebagai media pembelajaran.
Kata Kunci: KIT Matching Card; AsesmenFormatif; Bangun Data
E-Magazine dengan Kasus Stunting di Desa Jungkat sebagai Upaya Meningkatkan Kontekstualitas dalam Media Pembelajaran Biologi
Penyajian konsep kontekstual dalam pembelajaran perlu ditingkatkan untuk memperkuat pemahaman materi. Stunting, sebagai isu nasional dan global, memerlukan penyampaian informasi yang akurat. Untuk itu, guru membutuhkan media pembelajaran yang tepat dan efektif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan dan mengetahui kelayakan dari produk e-magazine yang mengangkat kasus kontekstual yaitu stunting. Pengembangan e-magazine yang mengangkat kasus stunting dan pola pertumbuhan anak usia 0-5 tahun di Desa Jungkat bertujuan untuk meningkatkan kontekstualitas informasi dalam Materi Pertumbuhan dan Perkembangan di kelas XII SMA. Metode yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan (research and development/ R & D) model ADDIE (analysis, design, development, implementation, evaluation). Tahapan penelitian meliputi analysis, design, and development. Validasi media dilakukan oleh lima orang validator, yaitu dua orang dosen di Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Tanjungpura dan tiga orang guru SMA di wilayah Kabupaten Kubu Raya dan Kabupaten Mempawah. Perhitungan validitas menggunakan nilai rasio validitas konten untuk empat aspek yaitu kegrafisan, layout, isi, dan bahasa. Hasil menunjukkan produk e-magazine yang dikembangkan mendapatkan nilai CVR dan CVI sama dengan 1 sehingga dapat dinyatakan layak untuk dilanjutkan ke tahap implementasi baik untuk uji coba terbatas maupun luas. Hasil pengembangan e-magazine ini diharapkan dapat menambah variasi media inovatif dan meningkatkan kontekstualitas pembelajaran yang dapat digunakan dalam mata pelajaran Biologi khususnya yang berkaitan dengan materi kesehatan dan gizi.Penyajian konsep kontekstual dalam pembelajaran perlu ditingkatkan untuk memberikan makna pemahaman materi yang lebih baik. Salah satu permasalahan kontekstual yang menjadi perhatian penting bukan hanya secara nasional tetapi juga global adalah stunting. Dalam menyajikan informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan tentang stunting, guru membutuhkan media pembelajaran yang tepat dan efektif. tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan dan mengetahui kelayakan dari produk e-magazine yang mengangkat kasus kontekstual yaitu stunting. Pengembangan e-magazine yang mengangkat kasus stunting dan pola pertumbuhan anak usia 0-5 tahun di Desa Jungkat bertujuan untuk meningkatkan kontekstualitas informasi dalam Materi Pertumbuhan dan Perkembangan di kelas XII SMA. Metode penelitian pengembangan ini menggunakan model ADDIE yang dibatasi pada tiga tahap pertama. Validasi dilakukan oleh lima orang validator, yaitu dua orang dosen di Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Tanjungpura dan tiga orang guru SMA di wilayah Kabupaten Kubu Raya dan Kabupaten Mempawah. Perhitungan validasi menggunakan nilai rasio validitas konten untuk empat aspek yaitu kegrafisan, layout, isi, dan bahasa. Produk e-magazine berhasil dikembangkan dan mendapatkan nilai CVR dan CVI sama dengan 1 sehingga layak untuk dilanjutkan ke tahap implementasi baik untuk uji coba terbatas maupun luas. Pengembangan e-magazine ini diharapkan dapat menambah variasi media yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran dan meningkatkan motivasi guru untuk mengembangkan inovasi pembelajarannya dengan membuat media elektronik
Analisis Kelengkapan Peralatan Laboratorium Biologi di SMA: Perbandingan Antara Standar Nasional dan Realitas di Lapangan
Manajemen laboratorium yang efektif sangat bergantung pada ketersediaan dan kualitas sarana serta prasarana yang memadai. Laboratorium sebagai fasilitas pendidikan memiliki peran krusial dalam mendukung proses praktikum yang optimal, yang bertujuan untuk mengembangkan pemahaman dan keterampilan praktis siswa. Penelitian ini merupakan penelitian komparatif dengan menganalisis empat sekolah yang memiliki tingkat kelengkapan sarana dan prasarana laboratorium yang berbeda. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kelengkapan fasilitas laboratorium biologi di sekolah-sekolah tersebut. Metode yang digunakan meliputi observasi, daftar ceklis, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kelengkapan laboratorium sekolah dapat dikategorikan menjadi sangat lengkap, lengkap, cukup lengkap, dan sederhana. Rata-rata kelengkapan laboratorium dalam kategori "Sangat Lengkap" mencapai 96%, mendekati standar yang ditetapkan dalam Permendiknas No. 24 Tahun 2007 mengenai sarana dan prasarana sekolah. Pada kategori "Lengkap," rata-rata kelengkapan mencapai 90%, yang menandakan fasilitas laboratorium di sekolah tersebut sudah cukup memadai. Di kategori "Cukup Lengkap," tingkat kelengkapan rata-rata adalah 75%, sementara kategori "Sederhana" memiliki rata-rata kelengkapan sebesar 64%, menunjukkan bahwa laboratorium tersebut belum memenuhi standar minimal. Hasil ini menggarisbawahi pentingnya manajemen laboratorium yang baik dalam mencapai standar fasilitas pendidikan yang optimal dan mendukung proses pembelajaran praktis yang efektif.Manajemen laboratorium yang efektif sangat bergantung pada ketersediaan dan kualitas sarana serta prasarana yang memadai. Laboratorium sebagai fasilitas pendidikan memiliki peran krusial dalam mendukung proses praktikum yang optimal, yang bertujuan untuk mengembangkan pemahaman dan keterampilan praktis siswa. Penelitian ini merupakan penelitian komparatif dengan menganalisis empat sekolah yang memiliki tingkat kelengkapan sarana dan prasarana laboratorium yang berbeda. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kelengkapan fasilitas laboratorium biologi di sekolah-sekolah tersebut. Metode yang digunakan meliputi observasi, daftar ceklis, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kelengkapan laboratorium sekolah dapat dikategorikan menjadi sangat lengkap, lengkap, cukup lengkap, dan sederhana. Rata-rata kelengkapan laboratorium dalam kategori "Sangat Lengkap" mencapai 96%, mendekati standar yang ditetapkan dalam Permendiknas No. 24 Tahun 2007 mengenai sarana dan prasarana sekolah. Pada kategori "Lengkap," rata-rata kelengkapan mencapai 90%, yang menandakan fasilitas laboratorium di sekolah tersebut sudah cukup memadai. Di kategori "Cukup Lengkap," tingkat kelengkapan rata-rata adalah 75%, sementara kategori "Sederhana" memiliki rata-rata kelengkapan sebesar 64%, menunjukkan bahwa laboratorium tersebut belum memenuhi standar minimal. Hasil ini menggarisbawahi pentingnya manajemen laboratorium yang baik dalam mencapai standar fasilitas pendidikan yang optimal dan mendukung proses pembelajaran praktis yang efektif