IAIN Salatiga Online Repository
Not a member yet
441 research outputs found
Sort by
MANAJEMEN RISIKO PADA OPERASIONAL HAJI DI KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KOTA SALATIGA TAHUN 2025
Kusumawati Ayu Azizah (2025). Manajemen Risiko Pada Operasional Haji Di Kantor Kementerian Agama Salatiga 2025. Program Studi Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga. Pembimbing : Rr. Wuri Arenggoasih, M.I.Kom.
Kata Kunci: Manajemen Risiko, Operasional Haji, Kementerian Agama Salatiga
Tujuan penelitian ini adalah Penelitian ini bertujuan untuk : 1) Untuk mengetahui risiko yang dihadapi dalam operasional haji di Kantor Kementerian Agama Salatiga, 2) Untuk mengetahui manajemen risiko dalam operasional haji di Kantor Kementerian Agama Salatiga.
Jenis penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Sedangkan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Analisis dalam pnelitian ini menggunakan pengecekan keabasahan data.
Hasil penelitian ini mengkaji risiko operasional haji di Kantor Kementerian Agama Salatiga yang meliputi risiko kerumunan jamaah, cuaca ekstrem, kendala logistik, dan risiko kesehatan. Manajemen risiko dilakukan melalui identifikasi risiko, koordinasi, serta mitigasi seperti penggunaan transportasi bus, protokol kesehatan, dan layanan pengaduan. Hasil menunjukkan manajemen risiko efektif mengurangi dampak negatif risiko, memastikan kelancaran dan keamanan pelaksanaan haji serta meningkatkan kepuasan jamaah. Penelitian merekomendasikan peningkatan pelatihan staf dan sistem informasi untuk mendukung pengelolaan risiko lebih baik
PENGARUH RESILIENSI TERHADAP DISTRES PSIKOLOGIS PADA MAHASISWA RANTAU FAKULTAS DAKWAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SALATIGA
ABSTRAK
Arzam, Viska Rahmatunnisa A. 2025. Pengaruh Resiliensi Terhadap Distres Psikologis Pada Mahasiswa Rantau Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga. Skripsi. Salatiga: Program Studi Psikologi Islam Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri Salatiga. Pembimbing: Sya’ban Magfur, M.Pd.I.
Kata Kunci: Resiliensi, Distres Psikologis, Mahasiswa Rantau, Regresi Linier Sederhana
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh resiliensi terhadap distres psikologis pada mahasiswa rantau Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei, serta melibatkan 100 mahasiswa rantau sebagai responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen pengumpulan data berupa Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC 25) untuk mengukur resiliensi dan Kessler Psychological Distress Scale (K10) untuk mengukur distres psikologis. Hasil analisis regresi linier sederhana menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara resiliensi terhadap distres psikologis (p = 0,903 > 0,05), dengan koefisien regresi sebesar -0,008. Artinya, meskipun arah hubungannya negatif, resiliensi tidak memberikan kontribusi signifikan terhadap penurunan distres psikologis pada mahasiswa rantau.
Temuan ini menunjukkan bahwa terdapat faktor lain yang mungkin lebih dominan dalam mempengaruhi distres psikologis mahasiswa rantau, seperti dukungan sosial, tekanan akademik, dan faktor ekonomi
GRATIFIKASI DALAM AL-QUR’AN: KAJIAN TEMATIK AYAT TENTANG PEMBERIAN KEPADA PEJABAT
Kholilah. 2025. Gratifikasi Dalam Al-Qur’An: Kajian Tematik Ayat Tentang Pemberian
Kepada Pejabat. Skripsi. Fakultas Ushuluddin, Adab dan Humaniora. Program
Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Universitas Islam Negeri Salatiga. Pembimbing:
Annisa Fadlilah, Lc., M.Ag. Gratifikasi adalah pemberian yang diberikan karena layanan atau manfaat yang
diperoleh. Sementara dalam hukum positif, gratifikasi diartikan sebagai pemberian
dalam makna yang luas, mencakup pemberian uang, barang, diskon dan lain sebagainya. Dalam hukum positif Indonesia, gratifikasi dapat dianggap sebagai bentuk suap apabila
tidak dilaporkan dan terbukti berkaitan dengan jabatan, sebagaimana diatur dalam Pasal
12B Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001, dan status apakah pemberian tersebut
dianggap suap atau bukan tergantung pada keputusan KPK. Meskipun konsep
gratifikasi tidak secara jelas disebutkan dalam Islam akan tetapi gratifikasi memiliki
kesamaan konsep dengan beberapa istilah didalam padandangan Islam, seperti risywah
(suap), suht (harta haram), dan al-maks(pungutan liar). Dalam Islam, gratifikasi atau
pemberian dengan motif duniawi dan kepentingan tersembunyi tergolong dalam
kategori risywah (suap) yang dilarang karena merusak keadilan dan amanah. Di Indonesia, praktik ini masih marak terjadi dan sering dianggap lumrah karena
sering dibungkus dengan kata sebagai hadiah atau sebagai ucapan terimakasih. Fenomena ini tampak jelas saat perayaan Idul Fitri 2024, di mana Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK) mencatat sebanyak 524 laporan gratifikasi dengan total
nilai mencapai Rp366,45 juta, sebagian besar berasal dari instansi pemerintahan. Hal ini
menjadi ironi di tengah tingginya kampanye pelarangan gratifikasi dan kuatnya ajaran
agama yang mengedepankan kejujuran serta amanah gratifikasi justru menjadi realitas
orang muslim di Indonesia. Oleh karena itu penelitian dilakuakan dengan tujuan
mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan pemberian kepada pejabat dalam
perspektif berbagai kitab tafsir modern serta menganalisis relevansi nilai-nilai tersebut
dalam konteks gratifikasi di Indonesia. Jenis penelitian dalam penulisan ini
menggunakan jenis penelitian kualitatif yang menitikberatkan pada studi kepustakaan
(library research) dengan sumber data primernya adalah kitab tafsir kontemporer. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode pendekatan
tematik (maudhu’i) yang difokuskan pada ayat-ayat seperti Q.S. Al-Baqarah ayat 188
dan 264, Q.S. An-Nisa ayat 29, Q.S. Al-Insan ayat 8–9, Q.S. An-Naml ayat 35, dan Q.S. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur’an menekankan empat nilai penting
dalam etika pemberian: kejujuran, keikhlasan, keterbebasan dari kepentingan pribadi, dan integritas pejabat dalam menolak pemberian yang menyimpang. Nilai-nilai ini tidak
hanya bersifat normatif, tetapi dapat menjadi landasan moral yang memperkuat hukum
positif dalam upaya mencegah gratifikasi di Indonesia. Kata Kunci : Gratifikasi, Etika Pemberian, Tafsir Temati
HARMONISASI TUHAN, MANUSIA, DAN ALAM : TELAAH AYAT-AYAT EKOLOGI
Krisis lingkungan (environmental crisis) dewasa ini merupakan isu kontemporer yang menarik perhatian global, dengan beragam dampak nyata yang dirasakan seperti perubahan iklim, degredasi keanekaragamanhayati, hilangnya habitat alami, serta berkurangnya sumber daya vital yang dibutuhkan makhluk hidup. Permasalahan lingkungan ini bersumber dari berbagai faktor, yang meliputi modernitas hingga sektor ekonomi-sosial-politik. Beberapa tokoh menyatakan bahwa kerusakan alam berakar dari disharmonisasi relasi triadik antara Tuhan, manusia, dan alam. Kondisi ini mendorong berbagai pihak termasuk tokoh agama dan lintas sektor untuk berkolaborasi mencari solusi yang kongkrit. Begitupun Islam sebagai rah}matan lil ‘a>lamin dengan berlandaskan kitab suci Al-Qur’an sebagai nilai etik terhadap lingkungan harus ikut berperan aktif dalam membumikan solusi Qur’ani dengan tafsir ekologinya. Hal ini guna mewujudkan relasi triadik yang harmonis serta menjaga keseimbangan dan keberlanjutan alam.
Jenis penelitian Skripsi ini ialah kualitatif dengan pendekatan adabi ijtima’i sebagai lensa interpretatif dalam menangkap kandungan ayat Al-Qur’an dengan melihat realita masyarakat. Penelitian ini dirancang sebagai studi kepustakaan (library research) dalam mengumpulkan data dari sumber primer dan sumber sekunder dengan rujukan utamanya ialah kitab tafsir bercorak adabi ijtima’i serta sumber literatur lainnya yang sejalan dengan penelitian ini. Lebih lanjut, Penulis menerapkan metode analisis isi (content analysis) guna menganalisis data secara mendalam, serta metode tematik (maud}u’i) guna mencari ayat-ayat ekologi di dalam Al-Qur’an. Dalam penelitian ini Penulis menggunakan teori iceberg analysis & u-process sebagai framework dalam melacak akar dari permasalah lingkungan yang kemudian mencari solusi untuk menjawab permasalah tersebut.
Adapun hasil penelitian ini, bahwa kerusakan alam terjadi disebabkan oleh manusia modern yang mengalami krisis multidimensional yang mencakup krisis spiritual, eksistensial, teknologi dan digital, serta ekonomi-sosial-politik, yang berakar dari ketidakseimbangan relasi triadik. Permasalahan tersebut dijawab melalui tafsir ayat-ayat ekologi dengan pendekatan adabi ijtima’i, yaitu: (1) Tuhan sebagai pencipta, pengelola, dan pemilik alam ini dengan term khalaqa, ja’ala, fat}ara, sakkara, bada’a, s}ana’a, dan anbata. (2) fitrah dan peran manusia sebagai hamba (‘abdun), pelayan (khalifah) dan pemakmur bumi (isti’mar). (3) fitrah dan aktivitas alam, dimana alam sebagai tanda untuk mengenal Tuhan dan kebesaran-Nya, alam bertashbih (sabbah}a), berdoa (s}alat), dan bersujud (sajada). Penafsiran ayat-ayat ekologi diarahkan kepada keseimbangan relasi Tuhan, manusia, dan alam yang harmanonis dengan menguraikan pola relasi secara struktural-fungsional. Dengan menguraikan nilai-nilai moral etis perspektif ayat-ayat ekologi yang dirangkum dalam prinsip-prinsip etis terhadap lingkungan yang menjadi tanggung jawab bersama para aktor untuk mewujudkan harmonisasi Tuhan, manusia, dan alam.
Kata kunci: Harmonisasi triadik, tafsir ayat-ayat ekologi, pendekatan adabi ijtima’i
Efektivitas Penggunaan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa SMP Trisula Ngluwar Tahun Ajaran 2024/2025
ABSTRAK
Arifah, Mixzel Anifatul. 2025. Efektivitas Penggunaan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Terhadap Kemapuan Berpikir Matematis Siswa SMP Trisula Ngluwar Tahun Ajaran 2024/2025. Skripsi, Salatiga : Program Studi Tadris Matematika Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Universitas Islam Negeri Salatiga. Pembimbing : Sri Rokhmiyati, M.Pd.
Kata Kunci : Efektivitas; Problem Based Learning; Pemecahan Masalah.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa SMP Trisula Ngluwar.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematis siswa, yang menghambat kemampuan mereka dalam menganalisis dan menyelesaikan permasalahan matematis secara logis dan sistematis. Desain penelitian yang digunakan adalah Quasi Eksperimental Design dengan model Pretest-Posttest Control Group Design, melibatkan 54 siswa kelas VIII SMP Trisula Ngluwar, yang dibagi ke dalam kelas eksperimen dan kontrol. Data dikumpulkan melalui tes pre-test dan post-test berbentuk soal esai, yang dianalisis menggunakan uji statistik deskriptif, uji normalitas, uji homogenitas, dan uji hipotesis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai pre-test pada kelas eksperimen sebesar 63,36 meningkat menjadi 76,96 pada post-test, dengan selisih rata-rata 13,60%. Uji Independent Sample T-Test menunjukkan perbedaan signifikan antara kelas eksperimen dan kontrol, dengan nilai dan selisih rata-rata sebesar 9,36%. Penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) memberikan pengaruh positif yang signifikan dibandingkan metode pembelajaran Ekspoitori. Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) membantu siswa memecahkan masalah secara sistematis dan menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan nyata. Penelitian ini menyimpulkan bahwa metode pembelajaran Problem Based Learning (PBL) efektif dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Disarankan agar metode ini diterapkan lebih luas untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika di berbagai jenjang pendidikan
KEBIJAKAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI INDONESIA: Regulasi, Konsepsi, dan Implementasi
Minimal terdapat tiga paradigma yang tercermin dalam
buku yang berjudul ‘’Kebijakan Pendidikan Agama Islam
di Indonesia: Regulasi, Konsepsi, dan Implementasi”. Pertama,
Pendidikan Agama Islam di Indonesia harus dimuarakan dan
diberangkatkan dengan Kebijakan Nasional yang bersumber
pada falsafah Pancasila. Falsafah Pancasila yang termuat
dalam kelima sila Pancasila sangat relevan kapanpun dan
dimanapun karena nilai-nilainya bersifat universal sehingga bisa menjadi payung normatif, filosofis, maupun praktis dalam
konteks pendidikan termasuk dalam merumuskan Kebijakan
Pendidikan Islam di Indonesia. Perlu dicatat bahwa falsafat
Pancasila yang tercermin dalam kelima sila Pancasila bukanlah
tujuan melainkan sebagai instrumen dalam mengukuhkan
dan menjamin terselenggaranya pendidikan Islam yang beradab
dan berkualitas. Perlu ditegaskan bahwa kebijakan pendidikan
yang bersumber pada falsafah Pancasila tidak akan tereduksi
oleh nilai-nilai materialistik sebagaimana yang terjadi
di negara-negara maju yang abai terhadap nilai-nilai universal
yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan.
Kebijakan Pendidikan Islam yang dimuarakan dan diberangkatkan
berdasar falsafah Pancasila dapat menjamin
terselenggaranya pendidikan yang beradab dan berkualitas
karena beberapa argumen. Pertama, Pancasila adalah dasar
negara, ideologi, dan falsafah bangsa sebagaimana ditegaskan
ulang dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional
(UU No.20 Tahun 2003). Pada Pasal 2 Undang-Undang tersebut
ditegaskan bahwa pendidikan di Indonesia berlandaskan
pada Pancasila dan UUD 1945. Artinya, seluruh kebijakan, termasuk
pendidikan Islam, harus berakar dan berorientasi pada
nilai-nilai Pancasila. Kedua, nilai-nilai dalam Pancasila (Ketuhanan,
Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, Keadilan) adalah
refleksi nilai-nilai universal yang juga sejalan dengan ajaran Islam.
Pendidikan Islam yang mengedepankan iman, akhlak mulia,
dan kompetensi, sangat selaras dengan nilai-nilai Pancasila
tersebut. Ketiga, filsafat Pancasila menekankan aspek integral
(pembentukan manusia seutuhnya, individu dan sosial), aspek
etis (menjunjung kebebasan yang bertanggung jawab),
dan religius (nilai Ketuhanan dan penghormatan pada martabat
manusia). Semua ini menjadi fondasi pengembangan karakter peserta didik, khususnya dalam pendidikan Islam yang
juga menekankan nilai moral dan spiritual. Terakhir, integrasi
Pancasila sebagai pilar pendidikan Islam tidak menegasikan
nilai-nilai keislaman, melainkan memberikan ruang untuk inklusivitas,
toleransi, dan penghormatan terhadap keberagaman
dalam kehidupan berbangsa. Pendidikan Islam didorong untuk
tetap menjaga identitas keislaman dengan tetap mengedepankan
nilai negara kesatuan, persatuan, dan kemanusiaan
sebagaimana digariskan dalam Pancasila.
Kedua, metodologi pendidikan Islam di Indonesia harus
berpijak pada kepribadian dan budaya bangsa yang asah, asih,
dan asuh. Konsep tersebut sangat relevan dengan Hadits Rasululloh
yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Anas bin Malik.
Sabda Rasululloh ‘’Bukan golongan kami orang yang tidak
menyayangi yang lebih muda atau tidak menghormati yang
lebih tua’’. Pesan ini merujuk pada seseorang yang tidak mengikuti
cara hidup, kebiasaan, dan akhlak yang dicontohkan oleh
Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Ini bukan berarti seseorang
keluar dari Islam, melainkan bahwa ia belum sepenuhnya
mengamalkan ajaran Islam secara utuh, khususnya dalam
hal adab dan akhlak sosial. Menyayangi yang muda adalah
bentuk kasih sayang dan kepedulian, serta menunjukkan kesabaran
dan bimbingan. Ini bisa diwujudkan dengan memberi
nasihat yang baik, melindunginya, dan tidak meremehkan mereka.
Menghormati yang tua merupakan bentuk pengakuan
terhadap pengalaman, ilmu, dan jasa mereka. Ini mencakup
bersikap santun, mendengarkan nasihat mereka, dan menghargai
kedudukan mereka dalam masyarakat. Hadis ini menekankan
pentingnya keseimbangan dalam hubungan sosial, di
mana terdapat rasa saling menghormati dan menyayangi antara
semua generasi, sebagai bagian dari kesempurnaan ajaran
Islam. Sangat disayangkan bahwa metodologi pendidikan
Islam di Indonesia belum sepenuhnya dimuarakan dan diberangkatkan
dari nilai-nilai kepribadian dan budaya bangsa,
karena terikat dengan sistem pendidikan nasional yang
kadang-kadang silau dengan kemajuan pendidikan di negara-
negara maju. Metodologi pendidikan yang diinisiasi oleh
tokoh-tokoh bangsa seperti Ki Hajar Dewantara, K.H. Ahmad
Dahlan, K.H. Hasyim Asy’ari dan tokoh-tokoh pendidkan terkemuka
Indonesia lainnya belum tereksplorasi secara mendalam
dan direaktualisasi menjadi pilar dasar metodologi pendidikan
Islam di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh dependensi yang
berlebihan pada sistem pendidikan global yang boleh jadi kurang
sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia. Hal tersebut
tercermin dalam berbagai kurikulum yang diterapkan di
Indonesia yang belum sepenuhnya dimuarakan dan diberangkatkan
dari kepribadian dan budaya bangsa Indonesia. Sebut
saja diantaranya Deep Learning, Kurikulum Merdeka, Outcome
Based Curriculum, Competency Based Curriculum dan sebagainya.
Apakah nama-nama kurikulum di atas benar-benar
berakar pada nilai-nilai kepribadian dan budaya bangsa?
Ketiga, praktik pendidikan di Indonesia harus mengedepankan
dan mengutamakan penguatan moralitas, etika, atau
akhlaq dalam ajaran Islam. Bahkan misi Rasuululloh yang paling
utama adalah ‘’liutammima makaarimal akhlaq’’. Dalam ta’lim,
ajaran Islam menekankan pentingnya memiliki adab atau etika
yang baik sebelum seseorang mempelajari ilmu. Secara perenialis
‘’Wasita’’ Jilid II No. 1-2 halaman 21 yang terbit Juli-Agustus
1930, Ki Hajar Dewantara menekankan pentingnya menuntun
tubuh-kembangnya peserta didik sesuai dengan kodratnya
agar dapat memperbaiki perilakuknya. Pendidikan di China
memilih being Confucianist first before being smart. Pendidikan
di Jepang juga lebih menekankan penanaman karakter dulu sebelum peserta didik cerdas secara keilmuan. Oleh sebab itu,
konsep pendidikan materialistik yang lebih mengutamakan
kecerdasan intelijensia selayaknya ditakar ulang sebelum hasil
pendidikan menjadi semakin rapuh sebagaimana terjadi di
Amerika. Mengutip tulisan George R. Knight dalam bukunya
‘’Beragam Isu dan Alternatif dalam Filsafat Pendidikan’’ terdapat
paradoks dalam pendidikan di Amerika. Di satu sisi, bangsa
Amerika aktif dalam menemukan taknik-teknik baru dalam
bidang travelling, komunikasi, penyembuhan, dan sanitasi
tetapi di sisi lain juga menciptakan teknik-teknik baru dalam
pembunuhan dan kematian.
Secara simultan buku ‘’Kebijakan Pendidikan Agama Islam
di Indonesia: Regulasi, Konsepsi, dan Implementasi”, akan
menuntun anda untuk mengkaji tiga hal. Pertama, menemukan
konsep Pendidikan Islam di Indonesia yang lebih komprehensif.
Kedua, memilah dan memilih metodologi yang tepat guna
dalam proses pendididikan Islam, dan ketiga fokus dalam pendidikan
etika (dalam bahasa Yunani), moral (dalam bahasa Latin),
atau Akhlaq dalam dirasah Islamiyah
Moderatıon of Relıgıon in Islamıc Educatıon Based on Information Communication and Technologies (ICT) in the Digital Age
Purpose of this study is to examine religious moderation in Islamic education based on information
communication and technologies (ICT). Currently, the role of ICT needs to be explored and developed more deeply
about its use. Through ICT, the goal of Islamic education to internalize the values of religious moderation in
students can be realized as expected. The method used in this research is a qualitative method. Researchers using
a qualitative approach can have more flexibility in observing, exploring and analyzing more accurately with
regard to religious moderation in-based Islamic education ICT. The results of research on Islamic education in
forming religious moderation attitudes with mastery of information communication and technologies (ICT), the
substance of the PAI curriculum is oriented to moderate character, coaching, exemplary, and mentoring student
activities, and conducting an assessment. The attitude of religious moderation is an effort to build awareness and
appreciate the diversity of students collectively
Implementasi Kemandirian Intelektual dan Kedisiplinan Siswa dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMPIT Nurul Islam Tengaran dan SMP Negeri 2 Tengaran Kabupaten Semarang
Rohmiyanti, Ika Ayu (2025). Implementasi Kemandirian Intelektual dan Kedisiplinan Siswa dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Untuk Membentuk Karakter Mandiri dan Bertanggungjawab di SMPIT Nurul Islam Tengaran dan SMP Negeri 2 Tengaran. Tesis. Program Studi Pendidikan Agama Islam. Program Pascasarjana. Universitas Islam Negeri Salatiga. Pembimbing: Dr. Muna Erawati, S.Psi., M.Si.
Tujuan dari penelitian ini yaitu: (1) Mengkaji dan menganalisis strategi dalam mengimplementasikan kemandirian intelektual dan kedisiplinan siswa dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam untuk membentuk karakter mandiri dan bertanggungjawab di SMPIT Nurul Islam Tengaran dan SMP Negeri 2 Tengaran Kabupaten Semarang. (2) Mengkaji dan menganalisis implementasi kemandirian intelektual dan kedisiplinan siswa dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam untuk membentuk karakter mandiri dan bertanggungjawab di SMPIT Nurul Islam Tengaran dan SMP Negeri 2 Tengaran Kabupaten Semarang. (3) Mengkaji dan menganalisis implikasi implementasi kemandirian intelektual dan kedisiplinan siswa dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMPIT Nurul Islam Tengaran dan SMP Negeri 2 Tengaran Kabupaten Semarang.
Metode penelitian ini yaitu penelitian kualitatif. Penelitian ini dilakukan di SMPIT Nurul Islam Tengaran dan SMP Negeri 2 Tengaran. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Kemudian dianalisis dengan cara mereduksi data, menyajikan data, dan penarikan kesimpulan data.
Hasil penelitian yang ditemukan yakni: (1) Strategi implementasi kemandirian intelektual siswa dalam pembelajaran PAI dilaksanakan dengan dua cara, yakni: Pertama, Melakukan perencanaan dengan melibatkan kerjasama antara berbagai pihak. Kedua, Melakukan beberapa strategi di dalam kegiatan pembelajaran. Kemudian strategi kedisiplinan siswa dalam pembelajaran PAI dilaksanakan dengan tiga cara. Pertama, Melakukan perencanaan yang melibatkan kerjasama dengan semua elemen sekolah. Kedua, melakukan reminder atau mengingatkan secara berkala tata tertib yang berlaku di sekolah. Ketiga, melakukan beberapa strategi kedisiplinan siswa di dalam kegiatan pembelajaran. (2) Implementasi kemandirian intelektual siswa di dalam pembelajaran PAI dilaksanakan dengan dua cara, yakni: Pertama, Menggunakan berbagai metode pembelajaran yang menarik untuk mendapatkan informasi, Kedua, Melaksanakan implementasi kemandirian intelektual di dalam kegiatan pembelajaran. Kemudian implementasi kedisiplinan siswa dalam pembelajaran PAI dilaksanakan dengan tiga cara, yakni Pertama, Mengadakan kerjasama dengan pihak luar untuk meningkatkan dan menjaga kedisiplinan peserta didik. Kedua, Menerapkan tata tertib dalam lingkup sekolah. Ketiga, Melakukan pembiasaan kedisiplinan di dalam kegiatan pembelajaran. (3) Implikasi dalam implementasi kemandirian intelektual dan kedisiplinan siswa dalam pembelajaran PAI terwujud dengan: Peserta didik memiliki karakter mandiri dan bertanggungjawab.
Kata Kunci: Implementasi Kemandirian Intelektual, Kedisiplinan Siswa, Pembelajaran Pendidikan Agama Isla
Upaya Pendampingan LPTP dalam Memberdayakan Kelompok Sejahtera Melalui Home Industry Di Kelurahan Kejiwan Kabupaten Wonosobo
Fitria, Naya. 2025. Upaya Pendampingan LPTP dalam Memberdayakan Kelompok
Sejahtera melalui Home Industry di Kelurahan Kejiwan Kabupaten
Wonosobo
Skripsi, Salatiga: Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas
Dakwah Universitas Islam Negeri (UIN Salatiga. Pembimbing: Dr. Budi
Sunarso, S.Pd.,M.M.Pd.,M.Si.
Kata Kunci: Pendampingan, LPTP, Pemberdayaan Masyarakat, Home
Industry, Kelompok Sejahtera.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi upaya LPTP dalam
pendampingan home industry Kelompok Sejahtera di Kelurahan Kejiwan
Kabupaten Wonosobo, (2) mengidentifikasi pemberdayaan dalam peningkatan
kesejahteraan pada home industry Kelompok Sejahtera di Kelurahan Kejiwan
Kabupaten Wonosobo, (3) mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi
home industry di Kelurahan Kejiwan Kabupaten Wonosobo.
Metode penelitian ini menggunakan jenis metode penelitian kualitatif
dengan menerapkan pendekatan analisi deskriptif. Teknik pengumpulan data
melalui wawancara, observasi, dan juga dokumentasi. Sumber data primer dalam
penelitian ini didapatkan dari fasilitator LPTP sektor IRT/UMKM, dan anggota
Kelompok Sejahtera. Sedangkan sumber data sekunder didapatkan dari jurnal,
internet, dan studi pustaka. Teknik analisis data yang penulis gunakan ialah
pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Dan uji
keabsahan data dalam penelitian ini dengan menggunakan triangulasi teknik dan
sumber.
Dari hasil penelitian yang dilaksanakan bahwa : (1) pendampingan yang
dilakukan oleh LPTP mencakup beberapa aspek, yaitu mencakup pelatihan
pengelolaan keuangan, inovasi produk, koordinasi, dan monitoring, optimalisasi
strategi pemasaran, serta fasilitas akses permodalan dan peralatan, dan akses
perizinan produk. (2) kemudian proses pemberdayaan tersebut adalah peningkatan
kapabilitas dan pendapatan, perubahan pola pikir, serta peningkatan manajemen
pemasaran. (3) faktor-faktor yang memengaruhi home industry Kelompok
Sejahtera mencakup kualitas sumber daya manusia, dinamika kelompok, modal
usaha, dan akses pemasaran
Strategi pembelajaran pai dalam meningkatkan kompetensi sosial dan kompetensi keagamaan siswa di SMAnege
Anam, Insan Syariful. 2025. Strategi Pembelajaran PAI dalam Meningkatkan
Kompetensi Keagamaan dan Sosial Siswa di SMA Negeri 3 Salatiga.
Skripsi, Salatiga: Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fpenelitiltas
Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Universitas Islam Negeri Salatiga.
Pembimbing: Syaefudin Achmad, M.Pd.
Kata Kunci: Strategi Pembelajaran, Kompetensi Keagamaan, Kompetensi
Sosial
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pembelajaran
Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam meningkatkan kompetensi keagamaan dan
sosial siswa di SMA Negeri 3 Salatiga. Fokus utama penelitian ini mencakup enam
rumusan masalah,yaitu:(1)strategi pembelajaran di dalam kelas dalam
meningkatkan kompetensi keagamaan siswa,(2)strategi pembelajaran di dalam
kelas dalam meningkatkan kompetensi sosial siswa,(3)strategi pembelajaran di luar
kelas dalam meningkatkan kompetensi keagamaan siswa,(4)strategi pembelajaran
di luar kelas dalam meningkatkan kompetensi sosial siswa,(5)faktor pendukung
dalam pelaksanaan strategi pembelajaran dan(6)faktor penghambat dalam
implementasinya.Penelitian ini berangkat dari kebutuhan mendesak untuk
menjawab lemahnya kompetensi religius dan sosial siswa yang tidak hanya
berdampak pada kepribadian individu, tetapi juga pada dinamika sosial sekolah.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode
fenomenologis. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi,wawancara
dengan guru PAI, waka kurikulum, serta siswa, dan dokumentasi kegiatan
pembelajaran. Lokasi penelitian adalah SMA Negeri 3 Salatiga, dengan waktu
penelitian pada 14-23 Mei 2025. Data dianalisis melalui proses reduksi, penyajian
data,dan penarikan kesimpulan.Untuk menjaga keabsahan data, peneliti
menggunakan teknik triangulasi sumber dan teknik, serta melibatkan berbagai
informan yang relevan. Penelitian ini juga memanfaatkan data empiris kegiatan
intrakurikuler dan ekstrakurikuler keagamaan sebagai bahan validasi terhadap
praktik pembelajaran yang berlangsung.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa:(1)strategi pembelajaran di dalam
kelas untuk kompetensi keagamaan meliputi BTQ,hafalan surat pendek, doa harian,
dan diskusi materi keislaman,(2) untuk kompetensi sosial dalam kelas diterapkan
metode diskusi, kolaborasi, dan refleksi etika bersosial media, (3) strategi di luar
kelas untuk kompetensi keagamaan mencakup pesantren kilat, pelatihan adzan,
shalat jenazah, dan perayaan hari besar Islam,(4) untuk kompetensi sosial siswa
dilakukan melalui kegiatan penggalangan dana, kunjungan sosial ke panti asuhan,
dan organisasi Rohis (5) faktor pendukung utama meliputi komitmen guru,
dukungan kepala sekolah, ketersediaan media pembelajaran, dan budaya religius
sekolah(6)faktor penghambatnya adalah keterbatasan waktu PAI, rendahnya
motivasi siswa,serta kurangnya keterlibatan orang tua. Secara keseluruhan, strategi
pembelajaran PAI yang bersifat kontekstual, kolaboratif, dan praktik langsung
terbukti efektif dalam meningkatkan kompetensi keagamaan dan sosial siswa