DIGILIB at Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA)
Not a member yet
    6657 research outputs found

    PENGARUH HIPNOTERAPI DAN TERAPI MUROTTAL TERHADAP TEKANAN DARAH PADA LANSIA LITERATUR REVIEW

    Get PDF
    Latar belakang: Hipertensi merupakan penyakit asimptomatik yaitu tidak menunjukan tanda dan gejala yang dapat dilihat dari luar. Hipertensi juga disebut sebagai “the silent killer” yang dapat menyebabkan kematian tanpa menunjukan tanda dan gejala apapun. Manusia yang berumur diatas 60 tahun 50%-60% mempunyai tekanan darah >140/90 mmHg. Penanganan hipertensi dapat dilakukan dengan terapi non farmakologis diantaranya hipnoterapi dan terapimurottal. Beberapa penelitian membuktikan keduanya dapat menurunkan tekanan darah. Tujuan: literatur review ini untuk mengetahui pengaruh hipnoterapi dan terapi murottal pada tekanan darah lansia. Metode: Metode yang digunakan untuk penulisan artikel ini adalat literature review. Pencarian melalui Google Scholar dan PubMed. Hasil: Berdasarkan hasil uji statistik pada ketujuh artikel diperoleh p-value < 0,05 sehingga Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya ada pengaruh Hipnotherapi dan terapi murrotal terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi. Simpulan: Terdapat pengaruh hipnoterapi terhadap tekanan darah penderita hipertensi, ditunjukkan dengan hasil-hasil uji statistic dari literatur-literatur yang direview yang masing- masing menunjukkan nilai p < 0,05. Terdapat pengaruh terapi murrotal terhadap tekanan darah penderita hipertensi, ditunjukkan dengan hasil-hasil uji statistic dari literatur-literatur yang direview yang masing-masing menunjukkan nilai p < 0,05. Saran: Merokomendasikan lansia penderita hipertensi untuk melakukan hipnoterapi dan terapi murrotal sebagai alternatif pengobatan non farmakologi untuk menurunkan tekanan darah

    TEKNIK PEMERIKSAAN CT-SCAN KEPALA Studi Literatur Stroke Hemorrhagic

    Get PDF
    Peneliti ingin mengkaji lebih lanjut tentang perbedaan penggunaan slice thickness antara textbook Wijokongko (2016) menggunakan satu range dengan slice thickness 7-10 mm dari Basiss Cranii sampai dengan Vertex dengan jurnal Radhiana dkk (2013) menggunakan slice thickness 5 mm, Wu Qiu dkk (2020) menggunakan slice thickness 5 mm, dan Saefudin dkk (2015) menggunakan 1 range dengan slice thickness 5 mm. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prosedur pemeriksaan CT-Scan kasus stroke hemoragik pada pasien dan penggunaan slice thickness yang optimal pada pemeriksaan CT-Scan Kepala pada kasus Stroke Hemorrhagic. Jenis penelitian dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan literature review dengan jenis systematic literature review. Pada penelitian literature review ini penulis menggunakan berbagai sumber tertulis seperti jurnal dan textbook yang relevan dengan judul Karya Tulis Ilmiah. Sumber data yang diambil terdiri sumber data utama dan sumber data pendukung. Adapun sumber data yang digunakan berupa jurnal/textbook relevan dengan jumlah 9 meliputi sumber utama 1 textbook, 3 jurnal dan sumber pendukung 1 textbook, 4 jurnal yang berhubungan dengan studi literatur penggunaan slice thickness yang optimal dalam pemeriksaan CT-Scan kepala kasus stroke hemoragik. Hasil dari penelitian menunjukkan pada beberapa literatur, penggunaan slice thickness pada kasus stroke hemoragik menggunakan sebesar 5 mm dan kurang lebih 2 mm. Penggunaan slice thickness 5 mm tersebut sudah mampu mengidentifikasi perdarahan otak, begitu juga dengan penggunaan slice thickness kurang lebih 2 mm mampu menunjukkan detail gambaran radiograf lebih baik. Penulis menyarankan dalam pemilihan number of slice thickness tersebut selain mampu mengidentifikasi perdarahan dalam otak juga menunjukkan detail gambaran supaya lebih informatif dalam menilai kelainan dalam perdarahan otak

    PERANAN CONE BEAM COMPUTED TOMOGRAPHY (CBCT) DALAM MENEGAKKAN DIAGNOSIS PADA KASUS RINOSINUSITIS LITERATUR REVIEW

    Get PDF
    Rinosinusitis yang akut disebabkan oleh infeksi virus dan bakteri, Rinosinusitis kronik bersifat multifactorial dan belum diketahui penyebab pastinya. Rinosinusitis merupakan sindrom yang terjadi karena kombinasi dari etiologi seperti asma, alergi, faktor genetik jamur, mikroorganisme, factor lingkungan dan factor iatrogenic. Menetapkan diagnosis dari rinosinusitis diperlukan pemeriksaan radiografi penunjang ilmu kedokteran mulai menggunakan cone beam computed tomography (CBCT) yang masuk dalam alat pencitraan baru. Kelebihan CBCT dibandingkan alat radiologi yang lain menyebabkan CBCT lebih banyak digunakan untuk menentukan keberadaan penyakit rinosinusitis pada pasien. Tujuan penelitian adalah Peranan Cone Beam Computed Tomography (CBCT) Dalam Menegakkan Diagnosis Pada Kasus Rinosinusitis. Metode penelitian adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan literature review. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Sumber Sekunder. Metode pengumpulan data yang digunakan penulis adalah dokumentasi mencari dan menggali data dari dokumen yang berupajurnal/buku relevan yang berhubungan dengan Pemeriksaan CBCT pada kasus Rinosinusitis. Analisis data yang digunakan adalah analisis anotasi bibliografi (annotated bibliography). Waktu penelitian dilakukan pada bulan September 2020 – Juli 2021. Hasil penelitian menyatakan prosedur pemeriksaan dengan CBCT menggunakan alat 3D dengan berbagai spesifikasi, kemudian peneliti akan menampilkan hasil menggunakan software dari PC yang kemudian ditampilkan pada layar LCD. Resolusi dan kualitas gambar CBCT yang rekontruksi di aksial, sagittal, dan koronal memiliki hasil yang sama. Pengamatan dilakukan diruang tertutup tandal jendela dan pencahyaan redup agar hasil optimal. Peranan pemeriksaan radiologi CBCT adalah mengetahui diagnosis sebelum pra operasi menjadi prosedur bedah sinus paranasal. CBCT memiliki akurasi yang tinggi dan paparan radiasi yang rendah serta biaya yang lebih murah. CBCT dapat menjadi dukungan informasi bagi pengalaman klinis

    PERANAN DAN PROSEDUR FOTO THORAX PADA KASUS COVID-19

    Get PDF
    Coronavirus Disease 2019 adalah salah satu patogen yang organ targetnya terutama pada sistem perrnapasan. Sebelumnya telah terjadi wabah coronavirus yaitu Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERSCoV) dan Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus (SARS-CoV) yang secara signifikan menyebabkan ancaman besar bagi manusia. Pemeriksaan radiologi thorax merupakan pemeriksaan yang sangat penting. Teknik pemeriksaan radiologi thorax dan pengetahuan untuk menilai suatu rontgen thorax menggunakan sinar- X. Tujuan karya tulis ilmiah ini untuk mengetahui peranan foto thorax, prosedur pemeriksaan foto thorax dan hasil citra radiografi foto thorax pada kasus COVID- 19. Jenis penelitian dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan literature review. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pemeriksaan CXR berperan penting sebagai lini pertama pada diagnosa COVID-19. Prosedur pemeriksaan foto thorax selama pandemi COVID-19 dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat dengan penggunaan APD lengkap dan detektor dibungkus menggunakan tiga lapisan plastik. Pemeriksaan menggunakan teknik ini memberikan keefektifan dalam menangani pasien COVID-19. Hasil radiografi pada diagnosa COVID-19 dapat memperlihatkan adanya ground glass dencities pada kasus COVID-19 yang memiliki sensitifitas 69%, konsolidasi paru dan ground glass opacity, bilateral lower lobe consolidations berbeda dengan pneumonia bakteri yang didapat masyarakat cenderung unilateral dan melibatkan lobus tunggal. Kesimpulan, peranan foto thorax pada kasus COVID-19 digunakan untuk melihat perkembangan atau evaluasi COVID-19 dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat dengan cara membungkus kaset dan unit sinar-X menggunakan tiga lapis plastik. Hasil citra radiografi yang didapatkan efektif sehingga dapat membantu diagnosa dokter

    PERBANDINGAN HASIL RADIOGRAF AP DAN PA WEIGHT BEARING BILATERAL KNEE JOINT PADA KASUS OSTEOARTHRITIS

    Get PDF
    Knee joint adalah salah satu sendi yang paling kompleks dalam tubuh manusia yang terdiri dari tulang femur, tibia, fibula, dan patella yang disatukan oleh ligamen yang komplek. Gangguan patologis pada knee joint salah satunya adalah osteoarthritis. Osteoarthritis adalah kondisi yang ditandai dengan nyeri dan kaku pada daerah persendian. Pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis osteoarthritis adalah pemeriksaan radiografi knee jointdengan proyeksi AP atau PA weight bearing Bilateral. Proyeksi AP weight bearing knee joint diposisikan ekstensi sedangkan proyeksi PA weight bearing knee joint diposisikan fleksi. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hasil radiograf serta mengetahui proyeksi mana yang lebih baik untuk menegakkan diagnosa osteoarthritis knee joint. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2020-Juli 2021. Pada penelitian ini penulis menggunakan berbagai sumber tertulis seperti jurnal dan textbook yang relevan dengan judul Karya Tulis Ilmiah. Sumber data yang diambil terdiri dari sumber data utama dan sumber data pendukung. Metode pengumpulan data adalah dokumentasi data sekunder. Analisis data menggunakan anotasi bibliografi dengan cara mengumpulkan data berdasarkan konsep, kemudian dikupas berdasarkan topik dan dibandingkan dengan semua sumber, setelah itu ditarik sebuah kesimpulan dan saran. Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa proyeksi PA weight bearing lebih sensitive dari pada proyeksi AP weight bearing untuk mendeteksi osteoarthritis berdasarkan perbandingan langsung menurut Kellgren-Lawrence (KL) dan penyempitan celah sendi. Namun perlu diperhatikan faktor lainnya seperti kondisi dan kenyamanan pasien. Hasil citra radiograf proyeksi AP dan PA weight bearing yaitu tampak ruang sendi tibiofemoral joint (TF) medial dan lateral. Radiografi knee joint proyeksi PA weight bearing memungkinkan untuk mendeteksi perubahan pada osteoarthritis yang tidak terlihat pada radiografi AP weight bearing. Jika pasien tidak memungkinkan untuk dilakukan proyeksi PA dengan knee joint fleksi sebaiknya menggunakan proyeksi AP weight bearing karena sudah mampu mengevaluasi celah sendi serta untuk kenyamanan pasie

    TEKNIK PEMERIKSAAN COLON IN LOOP PADA PASIEN PEDIATRIK Studi Literatur Pada Kasus Megacolon Congenital

    Get PDF
    Penyakit Megacolon Congenital (Hirschsprung’s Disease) adalah suatu obstruksi fungsional colon akibat tidak adanya sel ganglion di pleksus mienterikus dan submukosa pada segmen colon distal, disebabkan kegegalan migrasi sel ganglion colon selama kehamilan. Untuk menegakkan diagnosa dengan penyakit megacolon congenital atau hirschsprung‟s disease yang dapat di diagnosa dengan salah satu pemeriksaan radiografi yaitu pemeriksaan colon in loop. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proyeksi yang efektif digunakan dalam pemeriksaan colon in loop pada pasien pediatrik, prosedur pemeriksaan colon in loop pada pasien pediatrik dan untuk mengetahui peranan dari masing-masing proyeksi yang digunakan dalam pemeriksaan colon in loop pada pasien pediatrik. Jenis penelitian dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan literature review. Pada penelitian literature review ini penulis menggunakan berbagai sumber tertulis seperti jurnal dan textbook yang relevan dengan judul Karya Tulis Ilmiah. Sumber data yang diambil terdiri dari sumber data utama dan sumber data pendukung. Metode pengumpulan data yang digunakan penulis adalah dokumentasi mencari dan menggali data dari dokumen yang berupa jurnal/buku relevan yang berhubungan dengan Teknik Pemeriksaan Teknik Pemeriksaan Colon In Loop Pada Pasien Pediatrik Pada Kasus Megacolon Congenital. Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa prosedur pemeriksaan colon in loop pada pasien pediatrik dengan kasus mega colon congenital, terdiri dari persiapan alat dan bahan, persiapan pasien, pemasukan media kontras dan proyeksi pemeriksaan. Proyeksi pemeriksan yang rutin digunakan pada pemeriksaan colon in loop pada pasien pediatrik dengan kasus mega colon congenital adalah proyeksi AP plain abdomen, AP post media kontras, left lateral decubitus (LLD) dan proyeksi post evakuasi. Sedangkan proyeksi tambahan yang digunakan digunakan pada pemeriksaan colon in loop pada pasien pediatrik dengan kasus mega colon congenital yaitu proyeksi erect, lateral dan proyeksi right posterior oblique (RPO)

    HUBUNGAN STIGMA ORANG DENGAN HIV/AIDS (ODHA) DENGAN KENDALA DALAM MENGAKSES PELAYANAN KESEHATAN DI INDONESIA: LITERATURE REVIEW

    Get PDF
    Stigma yang didapat pada ODHA (orang dengan HIV/AIDS) mempunyai dampak pada program pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan stigma pada ODHA dengan kendala dalam mengakses pelayanan kesehatan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode literature review dan dua database yaitu Google Scholar dan Wiley Online Library dengan kriteria inklusi. Hasil analisis didapatkan tiga jurnal menjelaskan terdapat berhubungan dan satu jurnal menjelaskan tidak terdapat hubungan. Stigma yang didapat pada ODHA yang didapat seperti dikucilkan dan dijauhi dapat menyebabkan penurunan kesehatan dan berujung kematian. Peran tenaga kesehatan sangat penting dalam memberikan pendidikan kesehatan

    GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERSEPSI MASYARAKAT TENTANG KEJADIAN WABAH PANDEMI COVID-19: LITERATURE REVIEW

    Get PDF
    Latar belakang: Persepsi masyarakat merupakan tanggapan atau pengetahuan lingkungan dari kumpulan individu-individu yang saling bergaul atau berinteraksi, karena mempunyai nilai-nilai, norma-norma, cara-cara yang merupakan kebutuhan bersama. Corona virus disease (2019) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh corona virus jenis baru. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi masyarakat tentang kejadian wabah pandemic COVID-19 di Indonesia. Metode: Penelusuran literature dilakukan melalui Google scholar dan Pubmed. Keywords yang digunakan dalam bahasa Inggris adalah perception factor of the COVID- 19. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2020 – April 2021. Analisa data dilakukan dengan mengumpulkan sejumlah jurnal sebagai referensi, maka selanjutnya penulis menyimpulkan dari pembahasan setiap referensi jurnal, selanjutnya melakukan pembahasan terhadap isi referensi tersebut kemudian ditarik kesimpulan. Hasil: Penelitian ini menggunakan tujuh jurnal Nasional dan Internasional didapatkan hasil berupa 3 referensi jurnal yang menujukkan pengaruh dominan pada media massa yang mempengaruhi persepsi masyarakat, adapun referensi jurnal lain yang menjadi pendukung penelitian tidak banyak mempengaruhi faktor persepsi masyarakat pada saat wabah pandemic COVID-19 . Simpulan dan Saran: Penelitian tentang faktor yang mempengaruhi persepsi pada masyarakat menunjukkan bahwa faktor eksternal berupa media massa yang merupakan faktor dominan pada penelitian ini

    EVALUASI PENYIMPANAN SERUM BERDASARKAN VARIASI WAKTU DAN SUHU TERHADAP KADAR GLUKOSA DAN KREATININ

    Get PDF
    Laboratorium klinis merupakan suatu pelayanan yang memberikan informasi hasil pemeriksaan laboratorium kepada pasien yang dapat digunakan untuk menegakan diagnosis penyakit. Pemeriksaan yang sering dilakukan dilaboratorium salah satunya yaitu pemeriksaan glukosa dan kreatinin. Glukosa berfungsi untuk menegakan diagnosis penyakit diabetes melitus sedangkan kreatinin merupakan pemeriksaan yang sering dilakukan untuk pemeriksaan faal ginjal. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui stabilitas penyimpanan serum berdasarkan variasi waktu dan suhu terhadap kadar glukosa dan kreatinin. Metode Penelitian yang digunakan merupakan telaah literatur yang dilakukan dari beberapa sumber data yang berasal dari jurnal terindek database Pubmed, Google Schoolar dan Science Direct. Menggunakan kerangka kata kunci pola PICO. Berdasarkan penelusuran literatur diperoleh 10 jurnal penelitian. Dari 10 jurnal penelitian terdapat lima jurnal yang menyatakan tidak ada perbedaan hasil yang signifikan dan dua jurnal menyatakan adanya penurunan hasil terhadap pemeriksaan glukosa. Penurunan kadar glukosa darah dapat disebabkan oleh pengaruh suhu yang tidak stabil dan tempat penyimpanan yang kurang tepat. Sedangkan tiga jurnal penelitian yang membahas penyimpanan serum berdasarkan variasi waktu dan suhu terhadap kadar kreatinin menyatakan tidak ada perbedaan yang signifikan pada penyimpanan serum berdasarkan variasi waktu dan suhu terhadap kadar kreatinin. Penurunan kadar glukosa dan kreatinin dapat terjadi jika waktu dan suhu penyimpanan serum yang kurang tepat

    PENGARUH ISCHEMIC COMPRESSION TERHADAP PENURUNAN NYERI MYOFASCIAL PAIN SYNDROME OTOT UPPER TRAPEZIUS : NARRATIVE REVIEW

    Get PDF
    Latar Belakang : Penggunaan gadget dan laptop dikalangan pelajar, mahasiswa dan pekerja semakin meningkat ketika pandemi covid-19 masuk ke Indonesia. Aktivitas tersebut seringkali dilakukan dalam keadaan statis dan dengan postur tubuh yang buruk (forward head posture). Aktivitas tersebut jika berlangsung lama dan terus menerus akan menyebabkan ketegangan pada otot upper trapezius dan dapat menimbulkan terjadinya Myofascial Pain Syndrome. Myofascial Pain Syndrome adalah kondisi nyeri kronik pada otot atau fascia yang ditandai dengan adanya trigger points. Trigger points adalah titik nyeri yang bersifat hipersensitif dan sering dirasakan disekitar leher dan punggung. Tujuan : Untuk mengetahui bagaimana pengaruh Ischemic Compression terhadap penurunan nyeri Myofascial Pain Syndrome Otot Upper Trapezius. Metode Penelitian : Menggunakan metode Narrative Review, dengan mengumpulkan sepuluh artikel yang selanjutnya diidentifikasi menggunakan format PICO (Population, Intervention, Comparison, Outcome) serta menentukan kriteria inklusi dan eksklusi untuk selanjutnya menentukan artikel yang dipilih. Pencarian artikel yang digunakan menggunakan tiga database (Google Scholar, PubMed dan Science Direct). Hasil Penelitian : Sembilan artikel penelitian mengenai Ischemic Compression memberikan hasil yang signifikan dalam menurunkan nyeri Myofascial Pain Syndrome Otot Upper Trapezius, satu artikel mengenai Ischemic Compression menyatakan hasil yang kurang signifikan dalam menurunkan nyeri Myofascial Pain Syndrome Otot Upper Trapezius. Kesimpulan : Dosis Ischemic Compression yang paling efektif untuk menurunkan nyeri Myofascial Pain Syndrome Otot Upper Trapezius dapat diberikan selama 90 detik dan dilakukan selama 6 hari, untuk meningkatkan aktivitas fungsional dosis Ischemic Compression yang paling efektif dapat diberikan selama 90 detik dan dilakukan selama 4 minggu dengan 3 kali pertemuan/minggu dan dilakukan follow-up pada minggu ke-2 dan minggu ke-4. Saran : Penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan referensi bagi peneliti selanjutnya dan dapat dikembangkan menggunakan metode penelitian eksperimental

    6,596

    full texts

    6,657

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    DIGILIB at Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇