DIGILIB at Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA)
Not a member yet
6657 research outputs found
Sort by
Tingkat pengetahuan mahasiswa keperawatan anestesiologi angkatan 2018 Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta tentang patient safety di rumah sakit
Latar Belakang: Patient safety merupakan suatu komponen dasar dari pelayanan
kesehatan sehingga perlu pencegahan terkait kesalahan perawatan dan kejadian
buruk yang terjadi pada pasien. Pengetahuan mahasiswa keperawatan
anestesiologi terhadap penerapan patient safety di rumah sakit sangatlah penting
sebelum memasuki dunia kerja, dikarenakan jika pengetahuan mahasiswa
keperawatan anestesiologi mengenai patient safety kurang maka akan
berpengaruh untuk ke depannya saat mahasiswa tersebut telah menjadi seorang
penata anestesi.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan ntuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan
mahasiswa keperawatan anestesiologi angkatan 2018 tentang patient safety di
rumah sakit.
Metode: Desain penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif dengan
rancangan penelitian menggunakan cross sectional dengan teknik pengambilan
data menggunakan total sampling berjumlah 119 responden. Instrumen yang
digunakan yaitu instrumen kuesioner pengetahuan sesuai standar JCI dengan
setiap jawaban benar bernilai 1 dan jawaban salah bernilai 0. Analisis data yang
digunakan yaitu analisis univariat untuk memperoleh gambaran distribusi
frekuensi dan persentase dari subjek penelitian.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan mahasiswa
keperawatan anestesiologi angkatan 2018 yaitu rendah dengan 4 responden
(3,4%), sedang dengan 95 responden (79,8%), dan tinggi dengan 20 responden
(16,8%).
Kesimpulan: Di dapatkan hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar
responden memiliki pengetahuan yang cukup/sedang sebanyak 95 responden
(79,8%) dan diharapkan mahasiswa dapat memperhatikan tentang patient safety di
rumah saki
Faktor–faktor yang berhubungan dengan kepatuhan penderita hipertensi dalam menjalankan diet hipertensi :literature review
Latar Belakang : Penyakit darah tinggi atau hipertensi merupakan penyakit yang ditandai
dengan peningkatan tekanan darah lebih tinggi dari biasanya yaitu tekanan darah sistolik > 40
mmHg dan tekanan darah diastolik > 90 mmHg. Hipertensi termasuk penyakit kronis yang
tidak dapat disembuhkan tetapi hanya dapat dikendalikan dan membutuhkan pengobatan jangka
panjang atau bahkan seumur hidup menghambat pengendalian tekanan darah, sehingga
diperlukan intervensi untuk meningkatkan kepatuhan. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk
menelaah persamaan, pada perbedaan dari artikel atau jurnal yang dipilih untuk mengetahui apa
itu kepatuhan penderita hipertensi dalam menjalankan diet hipertensi. Metode : Jenis metode
penelitian ini yaitu menggunakan literature review. Pencarian jurnal dilakukan diportal jurnal
online seperti Goggle Schloolar, Science direct. Hasil penelusuran jurnal didapatkan 6 jurnal
dalam penelitian ini. Hasil : Hasil keseluruhan pencarian 2 database terdapat 10,418 artikel.
Setelah di screening judul dan relevansi abstrak diperoleh 6 jurnal yang membuktikan bahwa
terdap faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan pada pasien hipertensi yang
menjalankan diet hipertensi. Kesimpulan : Ada beberapa faktor yang berhubungan dengan
kepatuhan bagi penderita hipertensi yang menjalankan diet hipertensi yaitu faktor tingkat
pendidikan, pengetahuan, dukungan keluarga, motivasi, pola makan, serta peran tenaga
kesehatan, maka penting adanya dukungan keluarga dan pengetahuan yang baik agar penderita
hipertensi mampu melaksanakan diet dengan patuh sesuai anjuran yang yang telah diberikan.
Saran : Bagi penderita hipertensi dapat lebih menerapkan kepatuhan diet hipertensi yang telah
anjurkan atau disarankan serta menjaga pola makan yang lebih sehat agar dapat mencegah
segala keluhan yang muncul bagi penderita hipertensi
Studi narrative review pengaruh pemberian electrical stimulation dan mirror exercise pada penderita bell's palsy
Latar belakang: Bell`s Palsy ditandai dengan kelumpuhan saraf facialis perifer pada nervus VII (N. Facialis) di foramen stylomastoideus. Faktor penyebab Bell`s palsy
sampai saat ini belum diketahui pasti (Idiopatik) di luar sistem saraf pusat tanpa disertai adanya penyakit neurologis lainnya. Electrical stimulation (faradic) dan mirror exercise untuk meningkatkan kekuatan otot wajah. Tujuan: Untuk mengetahui pemberian dosis dan efektifitas electrical stimulation dan mirror exercise terhadap peningkatan otot
wajah pada Bell`s palsy. Metode: penelitian ini menggunakan metode narrative review dengan strategi pencarian keyword menggunakan tiga database google scholar, Pubmed,
dan science direct. Pencarian artikel ini menggunakan PICO
(Population/Patient/Problem), I (Intervention), C (Comparison), O (Outcome). Hasil: Hasil keseluruhan pencarian 3 database terdapat 199 artikel. Setelah dilakukan seleksi artikel menggunakan PRISMA flowchart diperoleh 10 jurnal membuktikan efektivitas serta dosis electrical stimulation dan mirror exercise dalam meningkatkan kekuatan otot wajah pada kondisi bell1s palsy. Kesimpulan: pemberian Electrical stimulation dan mirror exercise efektif dalam peningkatan kekuatan otot wajah pada pasien bell`s palsy
Narrative review : efektivitas pemberian ultrasound carpal bone mobilization terhadap penurunan nyeri pada carpal tunnel syndrome
Latar belakang: Carpal tunnel syndrome adalah suatu gangguan saraf terjepit yang terjadi di pergelangan tangan, carpal tunnel syndrome terjadi ketika ada pembengkakan di dalam terowongan karpal yang menyebabkan peningkatan tekanan
sehingga menekan saraf median, dikarenakan gerakan berulang yang menimbulkan gejala nyeri, kesemutan, mati rasa, kurangnya kekuatan cengkraman dan penurunan kemampuan fungsional Tujuan: Untuk mengetahui Efektifitas pemberian Ultrasound dan Carpal Bone Mobilization terhadap penurunan nyeri pada carpal tunnel syndrome. Metode: Menggunakan metode narrative review, artikel berasal dari 3 database, yaitu PubMed, Sciencedirect, dan Google Schoolar. Hasil penelitian: Dari 10 artikel yang membahas efektivitas pemberian ultrasound dan carpal bone mobilization didapatkan
adanya penurunan nyeri pada carpal tunnel syndrome. Kesimpulan: Pemberian ultrasound dan carpal bone mobilization efektif dalam meurunkan nyeri pada carpal
tunnel syndrome, ultrasound dengan ferekuensi 1 MHz dan intensitas 0,8 w/cm2 selama 5-15 menit, 3 kali seminggu selama 4 minggu. Carpal bone mobilization memberikan gliding scaphoid dengan osilasi 30-40 per menit dilakukan 5 kali seminggu selama 2 minggu
Hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan pengobatan pasien diabetes mellitus di Puskesmas Gamping 1
Latar Belakang : Diabetes mellitus merupakan penyakit menahun yang dapat
menimbulkan komplikasi bila tidak ditangani dengan benar. Yogyakarta menduduki
peringkat ke-3 dari prevalensi nasional penderita diabetes mellitus dengan 3,1 %.
Kepatuhan penggobatan merupakan aspek dalam penatalksanaan Diabetes Mellitus.
Dukungan keluarga merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kepatuhan
pengobatan.
Tujuan : Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adakah hubungan dukungan
keluarga dengan kepatuhan pengobatan pasien diabetes mellitus di Puskesmas Gamping
1.
Metode : Penelitain ini menggunakan metode deskriptif korelasi dengan pendekatan cross
sectional. Jumlah responden penelitian ini 40 orang yang di dapatkan dari purposive
sampling dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Varaiabel penelitian independen dukungan
keluarga dan variabel dependen kepatuhan pengobatan. Data diambil melalui penyebaran
kuesioner dukungan keluarga dan kepatuhan pengobatan, kemudia dianalisis mengunakan
uji Kendall Tau dengan signifikansi ? < 0,05.
Hasil penelitian : Hasil uji Kendall Tau menujukkan bahwa dukungan keluarga memiliki
korelasi dengan kepatuhan pengobatan pasien Diabetes mellitus (p=0,478).
Kesimpulan : dapat disimpulakan bahwa penelitian ini memiliki hubungan antara
dukungan keluarga dengan kepatuhan pengobatan.
Saran : Diharapkan pasien diabetes mellitus untuk memaksimalkan kepatuan pengobatan
dan keluarga lebih memperhatikan pasien diabetes mellitus agar pasien patuh dalam
menjalankan penggobatan
Hubungan antara stres kerja dengan burnout pada tenaga kesehatan yang menangani pasien Covid-19 di RS X
Tenaga kesehatan dituntut dapat menjadi figur dan memberikan layanan yang baik
kepada pasien sehingga berpotensi menimbulkan stres kerja, stres yang
diakibatkan oleh tuntutan tersebut akan menyebabkan tenaga kesehatan
mengalami burnout. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara
stres kerja dengan burnout pada tenaga kesehatan yang menangani COVID-19.
Hipotesis dari penelitihan ini adalah ada hubungan positif antara stres kerja
dengan burnout. Subyek penelitian ini adalah tenaga kesehatan yang menangani
pasien COVID-19 di RS X sebanyak 133 pegawai. Teknik yang digunakan untuk
pengambilan sampel menggunakan teknik random sampling. Pengumpulan data
dilakukan dengan menggunakan 2 skala yaitu skala stres kerja, dan skala burnout.
Pengujian terhadap hipotesis menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dan
positif antara stres kerja dengan burnout yang memperoleh taraf signifikasi
<0,001 < 0,05, artinya semakin tinggi stres kerja tenaga kesehatan akan semakin
tinggi pula kecenderungan burnout pada tenaga kesehatan tersebut
Hubungan prasangka dan kecenderungan perilaku agresif masyarakat pada wanita bercadar di Kota Palu
Seiring dengan berjalannya waktu maka semakin banyak model berpakaian bagi para wanita salah satunya model
berpakaian yang mengarah kepada budaya timur tengah yang bernuansa islami yaitu niqab (cadar) ialah cara
berpakaian dengan menggunakan hijab dengan penutup wajah. Saat ini banyak kasus tindakan kriminalitas yang
melibatkan cadar didalamnya seperti tindakan terorisme yang dilakukan orang-orang yang tidak bertanggung
jawab sehingga menimbulkan isu-isu dan berita-berita buruk tentang penggunaan cadar di kalangan masyarakat.
Akibat dari hal itu menyebabkan terjadinya tindak kekerasan verbal maupun non-verbal yang dialami wanita yang
menggunakan cadar. Tujuan dari penelitian ini ingin mengetahui apakah terdapat hubungan antara prasangka
dengan kecenderungan perilaku agresif masyarakat Kota Palu kepada wanita bercadar. Penelitian ini merupakan
penelitian kuantitatif dengan metode analisa data Korelasi Rank Spearman. Subjek penelitian ini yaitu masyarakat
Kota Palu dengan usia 15-21 tahun. Teknik sampling yang digunakan yaitu Purposive sampling dengan jumlah
sampel 105 responden. Berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa responden memiliki tingkat prasangka dalam
kategorisasi rendah dengan nilai 81% (94 orang). Sedangkan kecenderungan perilaku agresif berada dalam
kategorisasi rendah dengan nilai 97.1% (102 orang). Hasil analisa Korelasi Rank Spearman didapatkan nilai p 0,000
(p<0,05) dengan koefisien korelasi sebesar 0,710 menunjukan memiliki hubungan yang kuat. Disarankan kepada
masyarakat untuk lebih bijak dalam menanggapi informasi atau berita-berita yang beredar di lingkungan sosial
agar mengurangi faktor timbulnya prasangka dan kecenderungan perilaku agresif
Pengaruh latihan core stability terhadap peningkatan keseimbangan berjalan pada anak cerebral palsy : narrative review
Latar Belakang: Masalah tumbuh kembang anak yang sering dijumpai salah satunya adalah Cerebral Palsy. Cerebral Palsy merupakan suatu kecacatan fisik yang disebabkan oleh kerusakan pada struktur dan fungsi otak, sehingga penderita mengalami gangguan keseimbangan dan pergerakan. Salah satu latihan yang diberikan pada anak Cerebral Palsy untuk keseimbangan berjalan yaitu dengan latihan Core Stability. Latihan Core Stability adalah kemampuan untuk mengontrol posisi dan gerakan tubuh pada bagian atas panggul untuk memungkinkan kontrol gaya dan gerakan yang optimal. Tujuan: Untuk mengetahui apakah ada pengaruh latihan Core Stability terhadap peningkatan keseimbangan berjalan pada anak Cerebral Palsy. Metode: Menggunakan penelitian narrative review dengan kerangka PICO (Population, Intervention, Comparison, Outcome). Mengidentifikasi artikel menggunakan database yang relevan (Schoolar: 25.000 artikel, Pubmed: 14 artikel) dengan kata kunci yang disesuaikan. Pemilihan artikel menggunakan diagram flowchart. Hasil: Pencarian keseluruhan artikel dari 2 database review terdapat 20 artikel yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil dari 19 artikel bahwa ada pengaruh pemberian latihan Core Stability terhadap peningkatan keseimbangan berjalan pada anak Cerebral Palsy dan 1 artikel menyatakan pemberian latihan Core Stabilityterhadap peningkatan keseimbangan berjalan pada anak Cerebral Palsy kurang berpengaruh. Kesimpulan: Latihan Core Stability terbukti berpengaruh terhadap peningkatan keseimbangan berjalan pada anak Cerebral Palsy. Saran: Diharapkan peneliti selanjutnya bisa dilakukan penelitian eksperimen terkait dengan pengaruh latihan Core Stability terhadap peningkatan keseimbangan berjalan pada anak Cerebral Palsy
Identifikasi faktor resiko terjadinya anak cerebral palsy di wahana keluarga cerebral palsy Yogyakarta
Latar Belakang: Cerebral palsy adalah kerusakan atau kelainan fungsi bagian otak
tertentu pada bayi atau anak dapat terjadi ketika bayi dalam kandungan, saat lahir atau
setelah lahir dan sering disertai dengan ketidaknormalan bicara, penglihatan, kecerdasan
kurang, buruknya pengendalian otot, kekakuan, kelumpuhan dan gangguan saraf lainnya.
Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui faktor resiko terjadinya cerebral palsy pada anak
cerebral palsy di Wahana Keluarga Cerebral Palsy Yogyakarta. Metode Penelitian:
Penelitian ini menggunakan penelitian desktiptif dengan desain cross sectional dengan
teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah sampel 35
orangtua dan anak cerebral palsy. Penelitian ini menggunakan kuesioner dengan 11
pertanyaan yang sudah divalidasi. Hasil Penelitian: Pada hasil uji chi square pada faktor
prenatal usia ibu hamil hasil P=0,000, hasil uji chi square pada faktor perinatal kejadian
premature hasil P= 0,001 kemudian kejadian BBLR hasil P= 0,005 dan pada faktor
postnatal kejadian bayi tidak segera menangis hasil P= 0,001. Simpulan: Identifikasi
faktor resiko terjadinya anak cerebral palsy di Wahana Keluarga Cerebral Palsy
Yogyakarta didapatkan hasil bahwa faktor resiko yang terjadi dapat dilihat dari faktor
prenatal (sebelum kelahiran), faktor perinatal (saat kehamilan) dan faktor postnatal
(sesudah kelahiran). Saran: Diharapkan ibu hamil dapat menambah wawasan tentang
identifikasi faktor resiko terjadinya anak cerebral palsy agar dapat mencegah terjadinya
anak cerebral palsy pada kelahiran anaknya
Hubungan latihan frekuensi motorik halus terhadap konsentrasi belajar pada siswa autis di Sekolah Luar Biasa Yogyakarta
Latar belakang: Autis tidak digolongkan penyakit tetapi suatu kumpulan gejala
kelainan perilaku dan kemajuan perkembangan, dengan kata lain pada anak autis
terjadi kelainan emosi, intelektual, dan kemauan. Hambatan belajar dapat muncul
dalam banyak bentuk, salah satunya adalah hambatan kognitif termasuk dalam
konsentrasi belajar. Konsentrasi belajar siswa akan memberikan pengaruh terhadap
proses dan hasil belajar yang diperoleh. Frekuensi latihan berpengaruh terhadap
peningkatan hasil belajar anak. Artinya, ketika latihan motorik halus dilakukan
dengan sesering mungkin maka akan berpengaruh kepada tingkat hasil belajar yang
berkaitan juga dengan konsentrasi belajar siswa. Tujuan: Untuk mengetahui
hubungan frekuensi latihan motorik halus terhadap konsentrasi belajar pada siswa
autis di sekolah luar biasa Yogyakarta. Metodologi: Jenis penelitian ini adalah
penelitian kuantitatif menggunakan desain penelitian korelasi dengan pendekatan
studi cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa autis yang
bersekolah di sekolah khusus autisme bina anggita Yogyakarta berjumlah 40 siswa.
Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dan uji korelasi
menggunakan spearman’s rank correlation. Hasil penelitian: Pengambilan data
dalam penelitian ini dilakukan selama 3 hari. Dalam penelitian ini didapatkan hasil
sig. (2-tailed) sebesar 0.761 yang artinya >0.05 sehingga tidak adanya hubungan
frekuensi latihan motorik halus terhadap konsentrasi belajar. Kesimpulan: Tidak ada
hubungan frekuensi latihan motorik halus terhadap konsentrasi belajar pada siswa
autis di sekolah luar biasa Yogyakarta. Saran: Bagi peneliti yang ingin mendalami
topik yang sama diharapkan lebih mempertimbangkan variabel lain yang mungkin
memiliki hubungan yang kuat antar variabelnya dan pihak yang terkait dapat tetap
memperhatikan kebutuhan pada siswa autis untuk menunjang dalam proses
pembelajara