DIGILIB at Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA)
Not a member yet
6657 research outputs found
Sort by
PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN WOBBLE BOARD DAN LATIHAN CORE STABILITY TERHADAP PENINGKATAN KESEIMBANGAN DINAMIS PADA LANSIA DI MEJING WETAN
Latar belakang:. Seiring dengan meningkatnya derajat kesehatan dan kesejahteraan
penduduk akan berpengaruh pada peningkatan Usia Harapan Hidup di Indonesia
(UHH). Penuaan atau menjadi tua adalah suatu proses yang natural dan kadang-kadang
tidak tampak mencolok. Proses ini terjadi secara alami dan disertai dengan adanya
penurunan kondisi fisik, psikologi maupun sosial. Keseimbangan merupakan
komponen utama dalam menjaga postur tubuh manusia agar mampu tegak dan
mempertahankan posisi tubuh. Keseimbangan terdiri dari dua macam yaitu
keseimbangan statis dan keseimbangan dinamis. Keseimbangan statis dan dinamis
dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu sistem sensoris dan muskuloskeletal. Tujuan:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruh latihan Wobble Board
dan Latihan Core Stability Terhadap Peningkatan Keseimbangan Pada Lansia di
Mejing Wetan Yogyakarta. Metode penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian
kuantitatif dengan desain penelitian quasy experimental dan rancangan penelitian
yang digunakan adalah pre dan post test two group desaign. Penelitian bertujuan untuk
mengetahui perbedaan pengaruh wobble board exercise dan core stability exercise
terhadap peningkatan keseimbangan dinamis lansia.Latihan yang dilakukan selama 4
minggu dengan frekuensi latihan selama 3 kali dalam seminggu diberikan kepada
lansia yang di mejing wetan berusia 60 – 74 tahun. Alat ukur yang digunakan Time Up
and Go Test (TUGT). Hasil: Terdapat hasil Latihan Wobble Board dan Latihan Core
Stability terhadap peningkatan keseimbangan dinamis dengan uji paired sample t-test
didapatkan nilai p=0,000 (p<0,05). Simpulan: TerdapatLatihan Wobble Board dan
Latihan Core Stability terhadap peningkatan keseimbagan dinamis pada lanisa di
mejing wetan . Saran: Bagi peneneliti selanjutnya dapat menggunakan latihan wobble
board dan core stability sebagai latihan untuk meningkatkan keseimbanagan terhadap
lansia
PERBEDAAN PENGARUH PENGGUNAAN TENS DAN KINESIO TAPING TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN FUNGSIONAL PADA OSTEOARTHRITIS LUTUT RS DR SOETARTO (DKT) YOGYAKARTA
Latar Belakang : Seiring perkembangan jaman,pola hidup masyarakat semua
cepat,mudah,praktis.Orang semakin malas dan gaya hidup serba cepat juga terjadi
dalam pola makan,minum,mengakibatkan peningkatan kolesterol,kelebihan berat
badan.Hal itu memicu berbagai penyakit,salah satunya adalah osteoarthritis. Tujuan
: Untuk mengetahui ada perbedaan pengaruh pengunaan TENS dan Kinesio Taping
terhadap peningkatan kemampuan fungsional pada osteoarthritis lutut. Metode :
Penelitian ini menggunakan pendekatan quasi exsperimental. Sedangkan desain
penelitian menggunakan pre and post-test group design. Penelitian bertujuan untuk
mengetahui pengaruh penggunaan TENS dan pengaruh penggunaan Kinesio Taping
terhadap peningkatan kemampuan fungsional pada osteoarthritis lutut. Intervensi
dilakukan selama 2 minggu dengan frekuensi 3 kali dalam seminggu. Alat ukur pada
penelitian ini adalah WOMAC. Hasil : Hasil uji hipotesis 1 digunakan uji paired
sample t-test karena mempunyai data yang normal,sebelum dan sesudah diperoleh
nilai p = 0,000 (p < 0,05). Kesimpulan : Ada pengaruh penggunaan TENS terhadap
peningkatan kemampuan fungsional pada osteoarthritis, ada pengaruh penggunaan
Kinesio Taping terhadap peningkatan kemampuan fungsional pada osteoarthritis, ada
perbedaan pengaruh pengunaan TENS dan Kinesio Taping terhadap peningkatan
kemampuan fungsional pada osteoarthritis. Saran : (1) perlu dilakukan penelitian
lebih lanjut tentang penggunaan TENS dan Kinesio Taping terhadap peningkatan
kemampuan fungsional,subjek yang lebih banyak, (2) menyarankan untuk
mengontrol aktivitas subjek
PENGARUH PEMBERIAN FOOT CORE STABILITY TERHADAP RESIKO CEDERA PADA CHRONIC ANKLE INSTABILITY
Latar belakang : Cedera pergelangan kaki atau cronic ankle instability merupakan
cedera yang sering terjadi pada olahragawan, yang disebabkan oleh faktor intrinsik
yang mempengaruhi performa atlet ketika berlatih dan bertanding. Sedangkan faktor
ekstrinsik merupakan faktor dari lingkungan luar yang mempengaruhi terjadinya
resiko cedera seperti permukaan lapangan yang tidak rata. Tujuan : Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian foot core stability terhadap resiko
cedera pada chronic ankle instability. Metode Penelitian : Penelitian ini
menggunakan eksprimental dengan pre and post test group design. Sampel dalam
penelitian ini adalah Tim Basket, Voli, Futsal di SMA 1 Gamping, Sleman
Yogyakarta, total responden sebanyak 15 orang, dengan rincian 15 responden
diberikan foot core stability selama 4 minggu dengan frekuensi 3 kali seminggu.
Pengukuran nilai resiko cedera dilakukan dengan functional movement screening
hasil penelitian dianalisa dengan menggunakan uji normalitas data dengan saphiro
wilk test, uji menggunakan wilcoxon sample t test. Hasil : Hasil uji Wilcoxon sampel
t test pada sesudah perlakuan menunjukkan hasil p=0,001 (p<0,05) yang berarti ada
pengaruh pemberian foot core stability terhadap resiko cedera pada chronic ankle
instability. Kesimpulan : Ada pengaruh pemberian foot core stability terhadap
resiko cedera pada chronic ankle instability Saran: Perlu dilakukan untuk
mengobservasi dan mengontrol secara langsung kegiatan responden setiap hari
selama waktu penelitian
Peer Review: High Risk of Type-2 Diabetes Mellitus Among Working Adult
This study aims to understand the relation between energy intake and waist circumference
with the risk of T2DM. It was an observational study with a cross-sectional design using
secondary data (ethical number, 476/KEP-UNISA/V/2018). Sample collected by simple
random sampling. The minimum sample size was calculated using the Fisher formula. In this
study, obtained 67 sample with inclusion criteria were not taking drugs to lower blood glucose
levels. The independent variable in this study was T2DM risk, while the dependent variable was
diet and waist circumference. The normality test of data used Kolmogorov-Smirnov. The
Spearman correlation analysis used for knowing the relation between energy intake and waist
circumference with blood glucose. The result showed that there was no relation between energy
intake and blood glucose (r=0.19; p=0.12). There was no relation between waist circumference
and blood glucose (r=0,18; p=0,16). There were 91 % of subjects having a high risk of T2DM
and 52.2 % of subjects having a high total cholesterol. There is no relation either energy intake or
waist circumference and blood glucose. Almost all subjects have high risk in T2DM
DESKRIPSI MENARCHE PADA SISWI KELAS VIII DI SMP MUHAMMADIYAH 3 YOGYAKARTA
Survey World Health Organization sekitar seperlima dari penduduk dunia terdiri dari
remaja berumur 10-19 tahun. Data demografi di Amerika Serikat menunjukan jumlah
remaja berumur 10-19 tahun sekitar 15% dari jumlah populasi. Di Asia Pasifik
jumlah penduduknya merupakan 60% dari penduduk dunia, seperlimanya adala
remaja umur 10-19 tahun. Usia menarche pada wanita berbeda-beda pada semua
suku bangsa. Dari beberapa penelitian yang dilakukan selama 100 tahun terakhir
menunjukan ada kecenderungan semakin cepatnya mengalami menarche. Menarche
yang kurang dari 12 tahun memiliki resiko 1,7-3,4 kali lebih tinggi di bandingkan
dengan menarche usiah lebih dari 12 tahun. Makin cepat seorang perempuan
mengalami pubertas, makin panjang jaringan payudaranya dapat terkena kanker serta
beberapa penyakit seperti kanker payudara, kanker ovarium, dan obesitas. Penelitian
ini untuk mendeskripsikan menarche pada siswi kelas VIII di SMP Muhammadiyah
3 Yogyakarta. Desain penelitian ini adalah Deskriptif non analitik yakni
menggambarkan keadaan obyek penelitian dengan tujuan utama membuat gambaran
atau deskipsi tentan suatu keadaan secara obyektif (Sugiyono, 2015). Populasi dalam
penelitian ini adalah semua siswi kelas VIII yang sudah mengalami menarche
sebanyak 55 siswi. Pengambilan sampel dalam penelitian ini secara total sampling
yaitu teknik pengambilan sampel dimana jumlah sampel sama dengan populasi.
sampel pada penelitian ini berjumlah 55 sampel. Hasil analisis chi-squere pada
distribusi frekuensi menarche pada siswi kelas VIII di SMP Muhammadiyah 3
Yogyakarta untuk kategori cepat sebanyak (24%, kategori normal (76%), untuk IMT
kategori kurus sebanyak (24%), kategori normal (51%), kategori gemuk (26%)
sedangkan untuk riwayat menarche ibu siswi kategori cepat (18%), kategori normal
(66%), kategori lambat (16%). Terdapat ada hubungan antara IMT dan riwayat
menarche pada keluarga terhadap kejadian menarche. Siswi kelas VIII SMP
Muhammadiyah 3 Yogyakarta diharapkan lebih aktif lagi untuk mencari informasi
tentang kesehatan reproduksi khususnya masalah menarche
FAKTOR STUNTING PADA BALITA DI PUSKESMAS SENTOLO I KULON PROGO
Stunting atau anak pendek menurut UNICEF tahun 2012 adalah masalah kurang gizi
kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu yang cukup lama
akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting akan
berakibat pada terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan otak yang kemudian
berdampak pada menurunnya kualitas generasi mendatang. Kabupaten Kulon Progo
merupakan kabupaten tertinggi dengan angka balita stunting di DIY. Faktor penyebab
stunting adalah pemberian ASI Eksklusif, status gizi ibu saat hamil (LILA), berat
badan lahir bayi, pendidikan ibu, pola asuh, pengetahuan ibu, status ekonomi keluarga.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor stunting pada balita di
Puskesmas Sentolo I Kulon Progo. Penelitian ini menggunakan survei analitik dengan
pendekatan retrospektif yaitu yang bertujuan mengetahui faktor yang berhubungan
dengan penyebab. Populasi pada penelitian ini adalah semua ibu yang memiliki balita
di Puskesmas Sentolo I Kulon Progo sebanyak 448 pada bulan Desember 2017.
Sampel pada penelitian ini ada 112 yang diambil secara accidental di wilayah kerja
Puskesmas Sentolo I Kulon Progo. Instrument penelitian ini menggunakan wawancara
dan data rekam medis. Penelitian ini menggunakan analisis chi square. Hasil penelitian
menunjukkan adanya hubungan LILA dengan kejadian stunting pada balita di
Puskesmas Sentolo I Kulon Progo yang dibuktikan dengan hasil olah data nilai p-value
0.041. Ada hubungan antara pemberian ASI Eksklusif dengan kejadian stunting yang
dibuktikan dengan nilai p-value 0.012. ada hubungan berat badan lahir bayi dengan
kejadian stunting dengan hasil nilai p-value 0.005. Ada hubungan Pendidikan Ibu
dengan kejadian stunting di Puskesmas Sentolo I Kulon Progo dengan nilai p-value
0.035, karena nilai p<0.05 maka hipotesis diterima, ada hubungan antara faktor LILA
ibu saat hamil, pemberian ASI Eksklusif, Berat badan lahir bayi, dan Pendidikan ibu
dengan stunting. Saran untuk Puskesmas Sentolo I Kulon Progo adalah mengobservasi
rutin status gizi balita dan melakukan posyandu rutin, bagi rsponden adalah
memperhatikan kebutuhan gizi pada anaknya
Hubungan Paritas Dan Umur Ibu Dengan Kejadian Ruptur Perineum Pada Ibu Bersalin Spontan Di Puskesmas Tegalrejo Yogyakarta
Ruptur perineum merupakan penyebab tidak langsung kematian maternal di seluruh dunia. Prevalensi ibu bersalin yang mengalami ruptur perineum di Indonesia pada golongan umur 25-30 tahun yaitu 24% dan umur 32-39 tahun sebesar 62%. Tujuan penelitian ini diketahuinya hubungan paritas dan umur ibu dengan kejadian ruptur perineum pada ibu bersalin spontan di Puskemas Tegalrejo Yogyakarta. Jenis metode penelitian ini adalah Correlation Study dengan pendekatan Retrospektif. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu bersalin spontan. Teknik pengambilan sampel dengan total sampling diperoleh 137 sampel. Instrumen yang digunakan berupa master tabel. Hasil analisis hubungan antara umur ibu dengan kejadian ruptur perineum dengan uji statistik Kendall-Tau diperoleh p-value = 0,008 < 0,05. Hasil analisis hubungan paritas dengan kejadian ruptur perineum pada ibu bersalin spontan dengan uji statistik Kendall-Tau diperoleh p-value = 0,001 < 0,05. Terdapat hubungan paritas dan umur ibu dengan kejadian ruptur perineum pada ibu bersalin spontan di Puskesmas Tegalrejo Yogyakarta. Tenaga kesehatan dapat bekerjasama dengan ibu dalam proses persalinan dengan memperhatikan faktor resiko yang dapat mempengaruhi kejadian ruptur perineum sehingga dapat dicegah