DIGILIB at Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA)
Not a member yet
6657 research outputs found
Sort by
PENGARUH WILLIAM FLEXION EXERCISE TERHADAP PENINGKATAN AKTIVITAS FUNGSIONAL PADA LOW BACK PAIN MYOGENIC : NARRATIVE REVIEW
Latar Belakang: Low back pain myogenic adalah kondisi nyeri yang dirasakan
pada bagian punggung bawah. Menurut data riskesdas pada tahun 2015 sebanyak
12.914 orang atau 3,71% penderita Low Back Pain (LBP) myogenic. Exercise
fisioterapi telah terbukti mampu mengurangi atau menghilangkan keluhan
musculoskeletal salah satunya dengan William Flexion exercise (WFE) yang
ditujukan pada otot fleksor di daerah lumbosakral. Tujuan: Untuk mengetahui
apakah William Flexion Exercise (WFE) berpengaruh terhadap peningkatan
aktivitas fungsional pada Low Back Pain (LBP) myogenic. Metode: Penelitian
ini menggunakan penelitian narrative review dengan framework PICO
(Population, Intervention, Comparison, Outcome). Pencarian literatur
menggunakan database yang relevan seperti Pubmed dan Google Scholar
diterbitkan dalam kurun waktu 2011-2021 yang memenuhi kriteria inklusi dan
eksklusi yang telah ditetapkan. Hasil: Literatur full text yang teridentifikasi 10
literatur sesuai dengan kriteria inklusi yang menyatakan William Flexion
exercise (WFE) terbukti efektif dalam meningkatkan aktivitas fungsional pada
Low Back Pain (LBP) myogenic. Kesimpulan: William Flexion Exercise dapat
digunakan sebagai salah satu intervensi fisioterapi pada kasus Low Back Pain
(LBP) myogenic dengan tujuan meningkatkan aktivitas fungsional
Perbedaan Efektifitas Muscle Energy Technique dan Transverse Friction Massage Terhadap Penurunan Nyeri Fasciitis Plantaris: Narrative Review
Latar Belakang : Fasciitis Plantaris merupakan salah satu Penyakit Tidak Menular
(PTM) yang ditandai dengan timbulnya rasa nyeri pada telapak kaki. Rasa nyeri
tersebut dirasakan saat setelah berdiri dan berjalan pada beberapa langkah pertama.
Fasciitis plantaris jika tidak segera ditangani akan menyebabkan terjadinya
komplikasi yaitu terjadi permasalahan di kaki, lutut, paha, dan punggung. Tujuan :
Untuk mengetahui perbedaan efektifitas Muscle Energy Technique dan Transverse
Friction Massage terhadap penurunan nyeri fasciitis plantaris dengan berbagai
macam intervensi lain pada kasus fasciitis plantaris. Metode : Narrative review
dengan menggunakan framework PICO, P (Population, patient, problem), I
(Intervention), C (Comparison), O (Outcome) dan memenuhi kriteria inklusi dan
ekslusi. Pencarian jurnal dilakukan pada tiga database (Google Scholar, Pubmed dan
Sciencedirect). Hasil : Hasil keseluruhan pencarian tiga database terdapat 869
artikel. Setelah dilakukan seleksi artikel menggunakan PRISMA flowchart diperoleh
13 jurnal dari kedua intervensi. Hasil review 6 jurnal Muscle Energy Technique
bahwa terdapat penurunan nyeri pada penderita fasciitis plantaris. Hasil review 6
jurnal Transverse Friction Massage bahwa terdapat penurunan nyeri pada penderita
fasciitis plantaris. Dan hasil review 1 jurnal Muscle Energy Technique dan
Transverse Friction Massage bahwa terdapat penurunan nyeri pada penderita
fasciitis plantaris. Kesimpulan : Pemberian Muscle Energy Technique dan
Transverse Friction Massage berpengaruh terhadap penurunan nyeri dan
peningkatan aktifitas fungsional pada penderita fasciitis plantaris. Saran : Dapat
dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai topik ini dalam bentuk uji coba terkontrol
secara acak yang didukung secara ilmiah untuk meningkatkan validitas hasil
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA HERNIA NUKLEUS PULPOSUS (HNP) : NARRATIVE REVIEW
Latar Belakang : Kurangnya informasi tentang faktor yang mempengaruhi
terjadinya Hernia Nukleus Pulposus (HNP) menjadi penyebab tingginya angka
kejadian masyarakat yang mengeluhkan nyeri punggung bagian bawah yang
menjalar sampai ke tungkai bawah yang di sebabkan oleh Hernia Nukleus Pulposus
(HNP) kondisi ini di timbulkan oleh karena penyempitan pada jalan saraf spinalis.
Tujuan : Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi terjadinya Hernia Nukleus
Pulposus (HNP) Metode : Metode penelitian ini adalah penelitian Narrative Review
dengan menggunakan sepuluh artikel yang selanjutnya di identifikasi menggunakan
format PEOS (Population, Exposure/Event, Outcome, Study Design) serta
menentukan kriteria inklusi dan eksklusi untuk selanjutnya menentukan artikel yang
dipilih. Pencarian artikel menggunakan tiga database (Google Scholar, PubMed Dan
Science Direct). Hasil : Faktor yang mempengaruhi terjadinya Hernia Nukleus
Pulposus (HNP) ada dua yakni faktor intrinsik, dan ekstrinsik. Faktor intrinsik yakni
gaya hidup, usia, proses degenerativ, berat badan, riwayat kesehatan, serta jenis
kelamin sedangkan faktor ekstrinsik yakni pekerjaan yang diakibatkan oleh
mengangkat, membawa beban atau membungkuk, duduk dalam waktu yang lama,
menarik, mendorong, menekuk, menjatuhkan dan memutar secara berulang, trauma,
cedera, kombinasi mekanik dalam waktu yang lama, kompresi, iritasi kimiawi pada
akar saraf, faktor lingkungan, dan gerakan berulang pada satu sisi. Intervensi paling
berpengaruh pada kondisi Hernia Nukleus Pulposus (HNP) adalah yakni William
Flexion Exercise, Kinesio Tapping, Transcutaneus Electrical Stimulation (TENS)
dan McKenzie Exercise, Short Wave Diathermy (SWD), Proprioceptive
neuromuscular fasilitation (PNF), Traksi segmental. Kesimpulan : Didapatkan 8
dari 10 penelitian yang menyebutkan bahwa faktor yang paling mendominasi
sehingga mempengaruhi terjadinya Hernia Nukleus Pulposus (HNP) adalah Faktor
Intrinsik yakni Usia, proses degenerative, berat badan, Riwayat kesehatan, serta jenis
kelamin. Saran : Penelitian ini di harapkan dapat menjadi tambahan referensi bagi
peneliti selanjutnya
PENGARUH PELVIC FLOOR MUSCLE TRAINING TERHADAP INCONTINENCE URINE PADA LANSIA WANITA: NARRATIVE REVIEW
Latar belakang: Incontinence urine sendiri adalah keadaan dimana
terjadinya keluhan pengeluaran urin secara involunter yaitu mengeluarkan
secara spontan dan tidak dapat di sadari, banyaknya insidensi incontinance
urine di dunia dan terlebih banyak yang terkena adalah wanita lanjut usia.
Untuk menanggulangi permasalahan tersebut maka adanya intervensi pelvic
floor muscle training. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh dari pelvic floor
muscle training terhadap incontinence urine pada lansia wanita, posisi dan
dosis pada intervensi. Metode: Penelitian ini menggunakan penelitian
narrative review, dengan framework PICO (Population/Patients/Problem,
Intervention, Comparison, Outcome) pencarian jurnal dilakukan di Pubmed,
Sciencedirect, dan Google Schoolar, sesuai dengan keyword yang di
tentukan yaitu: Pelvic Floor Muscle Training, Incontinence Urine, Kegel
Exercise, Elderly Women, dengan kreteria sesuai dengan inklusi. Penelitian
ini menggunakan artiket full text tentang intervensi pelvic floor muscle
training, diterbitkan minimal dalam rentan waktu 2011-2021 dan metode
yang digunakan adalah experimental study dan randomize control trial.
Hasil: 10 literatur yang dianalisa menyatakan bahwa pelvic floor muscle
training berpengaruh terhadap incontinence urine pada lansia wanita. Posisi
intervensi duduk, berdiri, berbaring dan bisa ditambah posisi berlutut. dosis
intervensi 12x pengulangan, 3 sesi, durasi 45 menit dan dilakukan selama 12
minggu. Kesimpulan: Pelvic floor muscle training dapat menurunkan
incontinence urine pada lansia wanita. Saran: Pelvic floor muscle training
dapat menjadi intervensi alternative untuk menurunkan incontinence urine
pada lansia wanita
PROTEKSI RADIASI BAGI RADIOGRAFER DAN PASIEN PADA PEMERIKSAAN PANORAMIK
Radiologi merupakan cabang ilmu kedokteran yang bertujuan melihat bagian
tubuh manusia dengan memanfaatkan radiasi pengion. Pemanfaatan radiasi pengion
berupa sinar-X selain memberikan manfaat, juga berpotensi memberikan efek
merugikan bagi pekerja, pasien dan masyarakat. Proteksi radiasi adalah tindakan yang
dilakukan untuk mengurangi pengaruh radiasi yang merusak akibat paparan radiasi.
Salah satu pemeriksaan penunjang yang memanfaatkan radiasi pengion adalah
radiografi panoramic. Penerapan proteksi radiasi pada radiografer karena radiografer
memiliki frekuensi yang lebih besar untuk berinteraksi dengan sumber radiasi.
Pemberian efek serendah mungkin kepada pasien sesuai dengan kebutuhan klinis
dapat meminimalisir timbulnya efek radiasi bagi tubuh. Tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui penerapan proteksi radiasi bagi radiografer dan proteksi radiasi
yang dilakukan kepada pasien pada pemeriksaan panoramic.
Penelitian ini dilakukan dengan studi literatur atau literature review dengan
jenis systematic literature review yaitu dengan mengumpulkan banyak referensi dari
jurnal sebagai sumber data utama dua jurnal, sumber data pendukung sebanyak 6
jurnal dan peraturan lainnya. Dari sumber yang telah diambil kemudian dianalisis
untuk ditarik kesimpulan sehingga diperoleh hasil yang dapat menjawab rumusan
masalah.
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pada saat pemeriksaan panoramic,
radiografer perlu memperhatikan proteksi radiasi dengan selalu membatasi waktu
dalam medan radiasi, memperbesar jarak dari sumber radiasi, penggunaan perisai
radiasi agar dapat mengurangi dosis radiasi, serta penggunaan alat pelindung diri bagi
radiografer seperti kaca mata Pb, film badge, Termoluminisensi Dosimeter (TLD).
Proteksi radiasi terhadap pasien dengan selalu memperhatikan tiga prinsip radiasi
yaitu justifikasi, optimasi atau sering disebut prinsip ALARA, dan pembatasan dosis
dengan tujujan untuk melindungi pasien. Memberikan alat pelindung diri kepada
pasien seperi apron, tyroid shield, gonad shield apabila pasien dengan kehamilan
rentan dilarang untuk melakukan pemeriksaan radiologi. Sebaiknya hal tersebut tetap
diperhatikan pada pemeriksaan panoramic, karena apabila tidak diperhatikan dapat
mengakibatkan efek radiasi pada organ sensitife seperti kelenjar tyroid, kelenjar
ludah, otak dan lensa mata yang dekat dengan bidang radiasi
PENGARUH PERUBAHAN FAKTOR EKSPOSI TERHADAP DOSIS RADIASI PADA PEMERIKSAAN MULTISLICE COMPUTED TOMOGRAPHY Studi Literatur
Multislice Computed Tomography (MSCT) merupakan suatu teknik untuk
menghasilkan gambar (radiograf) secara tomografi (irisan) digital dari pergerakan
tabung sinar-X secara kontinyu. Pemanfaatan kecanggihan alat MSCT dalam
radiologi diagnostik disertai dengan penerimaan dosis radiasi yang jauh lebih besar
(Alatas, 2014). Hal ini dikarenakan untuk mendapat citra satu irisan, pasien harus
dieksposi paling tidak 360 kali yaitu dari sudut 1º hingga 360º. Parameter scan yang
dapat mempengaruhi dosis radiasi yang diterima pasien MSCT adalah faktor
eksposi yakni tegangan tabung dan arus tabung sinar-X (Soderberg, 2008). Tujuan
penelitian ini untuk mengetahui pengaruh perubahan faktor eksposi meliputi
tegangan tabung (kV) dan kuat arus (mAs) terhadap dosis radiasi pada pemeriksaan
MSCT.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode studi kepustakaan. Sumber
data yang digunakan terdapat dua macam yaitu sumber utama dan sumber
pendukung. Metode pengumpulan data dilakukan dengan metode dokumentasi data
sekunder. Analisis data yang digunakan yaitu analisis anotasi bibliografi, dilakukan
dengan mencari, menganalisa, membuat interpretasi serta generalisasi dari fakta-
fakta yang merupakan pendapat dari para ahli dalam suatu masalah. Prosedur
penelitian penulis membagi tahapan ini kedalam empat tahapan yaitu organize,
synthesize, identify, dan formulate.
Hasil penelitian didapatkan perubahan faktor eksposi meliputi tegangan
tabung (kV) dan kuat arus (mAs) berpengaruh terhadap dosis radiasi pada
pemeriksaan MSCT. Semakin tinggi tegangan tabung (kV) yang digunakan maka
semakin tinggi pula dosis yang dikeluarkan MSCT. Semakin tinggi nilai kuat arus
(mAs) maka semakin tinggi pula dosis yang dikeluarkan MSCT. Diharapkan
penggunaan tegangan tabung (kV) dan kuat arus (mAs) pada pemeriksaan MSCT
selalu dipertimbangkan, sebagai upaya optimasi agar dosis radiasi yang diterima
semakin kecil dan menghindari penerimaan dosis radiasi tinggi pada pasien
LITERATURE REVIEW: GAMBARAN KADAR INTERLEUKIN-6 PADA PASIEN COVID-19 DENGAN ACUTE RESPIRATORY DISTRESS SYNDORM (ARDS)
Pandemi COVID-19 disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 yang menyerang sistem imun
manusia yang berakibat menimbulkan berbagai gejala ringan hingga kondisi parah.
20% pasien COVID-19 mengalami berbagai komplikasi berat diantaranya Acute
Respiratory Distress Syndrome (ARDS). ARDS pada pasien COVID-19 ditandai
dengan pelepasan sitokin inflamasi berlebihan yang dikenal sebagai badai sitokin,
diantara sitokin tersebut yakni Interleukin-6 yang memainkan peran sentral dalam
kejadian badai sitokin. Studi literatur ini menyelidiki gambaran kadar Interleukin-6
pada pasien COVID-19 dengan Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) yang
dibandingkan dengan kelompok Non-ARDS. Studi literatur dilakukan dengan
pencarian komprehensif menggunakan database Pubmed, EBSCO dan Science Direct
dengan penggunaan kata kunci yang sesuai. Jurnal yang menggunakan sampel pasien
COVID-19 dengan derajat keparahan serta kelompok ARDS dan Non-ARDS
merupakan kriteria inklusi dalam studi ini. Hasil penelusuran literatur diperoleh 11
jurnal yang mengevaluasi kadar Interleukin-6 pada pasien COVID-19 menurut derajat
keparahan serta kelompok ARDS dan Non-ARDS. Kadar Interleukin-6 pada pasien
COVID-19 mengalami peningkatan seiring dengan derajat keparahan penyakit yang
diderita. Pada pasien COVID-19 dengan ARDS terjadi peningkatan kadar interleukin-
6 sebanyak 4 kali lipat lebih tinggi dibanding dengan kelompok Non-ARDS. Terdapat
peningkatan kadar Interleukin-6 pada pasien COVID-19 ARDS dibandingkan Non-
ARDS dengan nilai signifikansi 0.01. Studi literatur ini membuktikan bahwa kadar
Interleukin-6 menjadi biomarker penting untuk prognosis penyakit, target terapi dan
pemantauan hasil terapi yang lebih baik pada derajat keparahan pasien COVID-19
(ARDS). Selanjutnya perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai terapi yang
dapat digunakan untuk mengontrol kadar Interleukin-6 pada pasien COVID-19 dengan
ARDS
PENGARUH PEMBERIAN BALANCE EXERCISE DAN CLOSE KINETIC CHAIN TERHADAP PENINGKATAN AKTIVITAS FUNGSIONAL LANSIA PENDERITA OSTEOARTHRITIS KNEE: NARRATIVE REVIEW
Latar Belakang: Manusia tumbuh dan berkembang mulai dari bayi, anak-anak, remaja,
dewasa dan lansia (lanjut usia). Pada lansia kemungkinan terjadi masalah kesehatan
karena bertambahnya usia maka terjadi penurunan fungsi struktur tubuh dan daya tahan
yang menyebabkan timbulnya gangguan penyakit. Salah satu penyakit degeneratif yang
menyerang yaitu osteoarthritis knee. Untuk menanggulangi terjadinya resiko tersebut
terdapat intervensi balance exercise dan close kinetic chain. Tujuan: untuk mengetahui
pengaruh pemberian balance exercise dan close kinetic chain terhadap penigkatan
aktivitas fungsional lansia penderita osteoarthritis knee. Metode Penelitian: Metode
penelitian ini adalah narrative review. Pencarian artikel dilakukan di portal jurnal online
Google Scholar didapatkan 40 artikel, PudMed 20 artikel, serta Sciendirect 30 artikel.
Setelah diseleksi sesuai dengan kriteria inklusi di temukan 15 artikel yang akan direview.
Hasil Penelitian: Hasil review didapatkan terdapat 15 artikel dengan intervensi balance
exercise dan close kinetic chain yang memiliki pengaruh signifikan terhadap
peningkatan aktivitas fungsional pada lansia penderita osteoarthritis knee. Kesimpulan:
balance exercise dan close kinetic chain mempunyai pengaruh untuk peningkatan
aktivitas fungsional lansia penderita osteoarthritis knee. Saran: Untuk peneliti
selanjutnya agar lebih memperhatikan kriteria inklusi dan eklusinya terlebih dahulu
HUBUNGAN OBESITAS DENGAN PENURUNAN KARDIORESPIRASI: NARRATIVE REVIEW
Latar Belakang : Penurunan kardiorespirasi adalah menurunnya tingkat volume
oksigen maksimal yang membuat kemampuan jantung dan paru-paru untuk mensuplai
oksigen ke seluruh tubuh menurun. Penurunan kardiorespirasi disebabkan oleh
obesitas akibat aktivitas yang padat sehingga kurangnya olahraga. Penurunan
kardiorespirasi yang disebabkan oleh obesitas dapat menyebabkan menurunnya
volume paru dan diameter saluran pernapasan yang menyebabkan meningkatnya
aktivitas saluran pernapasan dan gangguan ventilasi perfusi. Belum ada penelitian
yang melakukan review, sehingga perlu dilakukan pengkajian tentang hubungan
obesitas terhadap penurunan kardiorespirasi. Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui
hubungan obesitas dengan penurunan kardiorespirasi: narrative review. Metode
Penelitian : Narrative review dengan menggunakan framework PEOs P (Population,
Exposure, Outcomes). Mengidentifikasi artikel menggunakan database yang relevan
Google Scholar, ProQuest, dan PubMed dengan kata kunci yang telah disesuaikan.
Seleksi artikel dengan menggunakan diagram flowchart, selanjutnya dilakukan tahap
penilaian artikel menggunakan critical appraisal dan menyusun hasil ulasan narasi.
Hasil : Hasil pencarian artikel dari 3 database terdapat 339 artikel. Setelah dilakukan
screening judul dan relevansi abstrak diperoleh 10 artikel yang membuktikan
hubungan obesitas dengan penurunan kardiorespirasi dengan menggunakan VO2 max
pada obesitas kemudian dilakukan beberapa tes ,diantaranya tes latihan treadmill
dengan menggunakan Bruce Protocol, Queen's College Step Test (QCT). Pada
penderita obesitas mempunyai presentase lemak yang tinggi yang membuat
kardiorespirasi menurun, disebabkan oleh peningkatan mediator inflamasi dan sitokin,
yang dapat berpengaruh pada penyempitan saluran pernapasan karena plak atau
timbunan lemak berkontribusi pada pengembangan hiperaktivitas bronkial.
Kesimpulan : Pada penderita obesitas terdapat hubungan yang signifikan pada
penurunan kardiorespirasi
HUBUNGAN SUPERVISI KEPALA RUANG DENGAN PERILAKU PENGGUNAAN HANDSCOON PERAWAT DALAM PENCEGAHAN INFEKSI NOSOKOMIAL: LITERATURE REVIEW
Infeksi nosokomial merupakan infeksi yang didapatkan oleh pasien selama perawatan
di rumah sakit. Dalam pengendalian dan pencegahan infeksi nosokomial di rumah
sakit kepala ruang berperan penting sebagai perencana, pengorganisasian, pengarahan,
pengawasan atau sebagai supervisor. Supervisi merupakan suatu kegiatan yang
mengandung dua dimensi pelaku atau supervisor yaitu kepala ruang dan perawat
pelaksana atau orang yang disupervisi dengan tujuan melakukan evaluasi tindakan
keperawatan di ruangan tersebut sehingga mampu menekan dan mengurangi
persentase angka kejadian infeksi nosokomial. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui hubungan antara supervisi kepala ruang dengan perilaku penggunaan
handscoon perawat dalam pencegahan infeksi nosokomial. Metode penelitian yang
digunakan adalah studi literatur atau systematic review pencarian jurnal melalui data
base Google Scholar dengan kata kunci “hubungan supervisi dengan APD perawat”
dan berbagai variasinya. Berdasarkan hasil artikel yang dianalisa didapatkan bahwa
ada hubungan antara supervisi kepala ruang dengan perilaku penggunaan handscoon
perawat dalam pencegahan infeksi nosokomial. Terdapat hubungan antara supervisi
kepala ruang dengan perilaku penggunaan handscoon perawat dalam pencegahan
infeksi nosokomial karena supervisi merupakan faktor yang berperpengaruh terhadap
perilaku penggunaan handscoon perawat