1,720,999 research outputs found
Hubungan pola asuh demokrasi dengan kemandirian belajar siswa di SMP Kristen 2 Salatiga
Kemandirian belajar merupakan kemampuan yang harus dimiliki oleh setiap siswa di dalam mengikuti proses belajar mengajar. Siswa yang memiliki kemandirian belajar yang optimal akan menunjukkan perilaku eksploratif, mampu mengambil keputusan dan memiliki rasa percaya diri yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola asuh demokratis dengan kemandirian belajar siswa di SMP Kristen 2 Salatiga. Partisipan penelitian adalah semua siswa SMP Kristen 2 Salatiga yang berjumlah 242 orang. Teknik pengumpulan data menggunakan instrumen berbentuk skala. Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel kemandirian belajar siswa (Y) dan variabel pola asuh demokratis (X). Pengujian validitas dan reliabilitas instrumen digunakan korelasi product moment Carl Pearson, sedangkan koefisien reliabilitas instrument diuji dan dihitung dengan menggunakan rumus Alpha Cronbach. Hasil penelitian menemukan adanya hubungan positif signifikan antara pola asuh demokratis dengan kemandirian belajar siswa di SMP Kristen 2 Salatiga, dengan koefisien korelasi sebesar 0,995 dan tingkat probabilitas lebih kecil dari 0,05 (p= 000). Hal ini bermakna bahwa apabila skor pola asuh demokratis meningkat terdapat kecenderungan diikuti oleh meningkatnya skor kemandirian belajar siswa. Demikian pula sebaliknya apabila skor pola asuh demokratis menurun maka skor kemandirian belajar siswa juga akan menurun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola asuh demokratis berperan terhadap munculnya kemandirian belajar siswa.
Kata kunci: Pola asuh demokratis, kemandirian belajar siswa.
Learning independence is an ability that every student must have in participating in the teaching and learning process. Students who have optimal learning independence will show explorative behavior, be able to make decisions and have good self-confidence. This research aims to determine the relationship between democratic parenting styles and student learning independence at SMP Kristen 2 Salatiga. The research participants were all students of SMP Kristen 2 Salatiga, totaling 242 people. The data collection technique uses a scale instrument. In this research there are two variables, namely the student learning independence variable (Y) and the democratic parenting variable (X). Testing the validity and reliability of the instrument used Carl Pearson product moment correlation, while the instrument reliability coefficient was tested and calculated using the Alpha Cronbach formula. The research results found a significant positive relationship between democratic parenting and student learning independence at SMP Kristen 2 Salatiga, with a correlation coefficient of 0.995 and a probability level of less than 0.05 (p= 000). This means that if the democratic parenting style score increases, there is a tendency to be followed by an increase in student learning independence scores. Likewise, if the democratic parenting style score decreases, the student's independent learning score will also decrease. The results of this research indicate that democratic parenting plays a role in the emergence of student learning independence.
Key words: Democratic parenting style, student learning independenc
Hubungan gegar budaya dengan penyesuaian diri pada mahasiswa psikologi yang merantau di uksw salatiga
Para siswa yang telah menyelesaikan pendidikannya di sekolah menengah atas akan cenderung memiliki keingingan untuk melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi atau ke universitas. Mahasiswa yang memilih merantau memiliki harapan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara gegar budaya dengan penyesuaian diri pada mahasiswa Psikologi UKSW yang merantau di Salatiga. Dalam penelitian ini menggunakan teknik non- probability sampling yaitu quota sampling. Subjek yang terlibat dalam penelitian ini berjumlah 100 mahasiswa Psikologi UKSW yang merantau di Salatiga. Metode pengumpulan data menggunakan Skala Culture Shock Scale untuk mengukur gegar budaya dan skala penyesuaian diri. Metode analisis data yang digunakan adalah korelasi product moment dari Spearman. Dari hasil analisis data yang telah dilakukan, diperoleh koefisien korelasi sebesar 0.738 dengan nilai p sebesar 0,000 (p<0,05). Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang negatif signifikan antara gegar budaya dan penyesuaian diri pada mahasiswa Psikologi UKSW yang merantau di Salatiga. Dengan demikian, bahwa semakin tinggi tingkat penyesuaian diri mahsiswa rantau, maka akan semakin rendah tingkat gegar budaya mereka alami. Begitupun sebaliknya, semakin rendah penyesuaian diri mahasiswa rantau, maka akan semakin tinggi gegar budaya yang dialami.Students who have completed their education at high school are likely to have a desire to further their education to a higher level or to university. Students who choose to migrate have hopes of obtaining better education. This research aims to investigate the relationship between cultural shock and self-adjustment among Psychology students at UKSW who migrate to Salatiga. This study utilizes a non-probability sampling technique known as quota sampling. The subjects involved in this research consist of 100 Psychology students at UKSW who migrate to Salatiga. Data collection methods employ the Culture Shock Scale to measure cultural shock and a self-adjustment scale. The data analysis method used is the Spearman product-moment correlation. From the analysis results, a correlation coefficient of 0.738 was obtained with a p-value of 0.000 (p<0.05). From these results, it can be concluded that there is a significant negative relationship between cultural shock and self-adjustment among Psychology students at UKSW who migrate to Salatiga. Thus, it is evident that the higher the level of self-adjustment among migrant students, the lower the level of cultural shock they experience. Conversely, the lower the self-adjustment among migrant students, the higher the cultural shock experienced
Kebahagiaan Lansia Etnis Tionghoa yang Tinggal di Panti Wreda Merbabu Salatiga
Populasi masyarakat lanjut usia (lansia) di Indonesia semakin meningkat setiap tahunnya. Pada 2021 tercatat ada kurang lebih 7.699 lansia yang tinggal dalam rumah penampungan atau panti wreda di Jawa Tengah. Mereka yang tinggal di rumah penampungan atau panti wreda tentu datang dari berbagai macam etnis, tidak terkecuali etnis Tionghoa. Berangkat dari fenomena yang ditemukan bahwa lansia beretnis Tionghoa yang tinggal di panti wreda merasakan kebahagiaan, yang ditunjukkan dengan terbebas dari berbagai macam beban pikiran, karena kebutuhan mereka dalam hidup terpenuhi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengalaman kebahagiaan lansia etnis Tionghoa yang tinggal di panti wreda Merbabu Salatiga. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan metode fenomenologi. Data pada penelitian ini diambil melalui wawancara dan observasi. Informan dalam penelitian ini adalah dua lansia beretnis Tionghoa, yang tinggal di panti wreda. Hasil penelitian menemukan adanya empat tema yang menjadi gambaran kebahagiaan lansia etnis Tionghoa yang tinggal di panti wreda Merbabu Salatiga yaitu: bersyukur bagian dari kebahagiaan, dukungan sosial membawa kebahagiaan, adaptasi menciptakan kebahagiaan, kesuksesan membentuk kebahagaian.The population of elderly people (elders) in Indonesia is increasing every single year. In 2021, there will be more or less than 7.699 elderly living in shelters or nursing homes in Central Java. Those who live in shelters or nursing homes come from various ethnicities, including the Chinese ethnic group. Starting from the phenomenon found that Chinese ethnic elders living in nursing homes felt happiness, which was shown by being free from various kinds of mental burdens. This research aims to see the experiences of the happiness of Chinese ethnic elders living in the Merbabu Salatiga nursing home. This research uses qualitative research with phenomenological methods. Data is taken through interviews and observation. The informants in this study were two Chinese ethnic elders, who lived in a nursing home. The results of this research found that there are four themes describing happiness in Chinese ethnicity elderly living in Merbabu Salatiga nursing home, namely: gratitude is part of happiness, social support brings happiness, adaptation creates happiness, and success builds happiness
GAMBARAN MOTIVASI PELAKU TAJEN: SEBUAH TRADISI SABUNG AYAM DI BALI
Pulau Bali atau biasa disebut Pulau Dewata dan Pulau Seribu Pura memiliki berbagai macam budaya dan tradisi yang unik. Keunikan itu menjadikan Bali sebagai salah satu pulau di Indonesia yang digemari pariwisata dunia. Tabuh Rah merupakan salah satu upacara di Bali dengan cara sabung ayam, menggunakan banten (sarana upakara), serta uang kepeng. Seiring berjalannya waktu, Tabuh Rah kerapkali dijadikan sebagai kedok perjudian di beberapa kelompok masyarakat Bali. Tajen merupakan istilah judi sabung ayam di Bali. Persoalan judi seringkali memiliki stigma dalam pandangan masyarakat. Perjudian juga dikaitkan dengan dampak-dampak negatif terutama bagi diri sendiri dan keluarga. Motivasi merupakan kekuatan pendorong yang dapat membentuk perilaku individu sebagai usaha untuk mencapai tujuan tertentu. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui gambaran motivasi pelaku tajen. Metode penelitian ini adalah fenomenologi dengan analisis isi induktif atau konvensional serta melibatkan lima partisipan yang sudah menikah dan memiliki anak yang dipilih berdasarkan teknik purposive sampling. Hasil penelitian ini menemukan tiga tema utama yaitu kebahagiaan sebagai motivasi, relasi sosial menjadi motivasi, serta harapan akan kemenangan yang menjadi gambaran motivasi pelaku tajen di Bali.Bali Island or known as Dewata Island and Thousand Temple Island has a lot of culture and unique tradition. That uniqueness made Bali as one of an Island that which is liked by international tourism. Tabuh Rah is one of sacred ceremony in Bali with cockfighting, using banten (ceremonial means), and also kepeng coins. As the time goes by Tabuh Rah often used as gambling guise in several people community in Bali. Tajen is a cockfighting gambling in Bali. Gambling often has a stigma in the society. Gambling also relate to negativity to ownself and family. Motivation is one of the potency to encourage individual behavior in an attempt to achieve a certain goal. This research is meant to describe motivation of people who do tajen. This research method is phenomenology by inductive or conventional content analysis that involve five participant who were married and have children selected based on purposive sampling technique. From this research can be concluded that there is three main theme as like happiness being motivation, social relation that being motivation, and hope of winning that describe motivation of people who do tajen
Hubungan Kontrol Diri dengan Perilaku Judi Online pada Kelompok Usia Dewasa Awal
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara kontrol diri dan perilaku judi online pada kelompok dewasa awal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif, melibatkan 61 responden yang dipilih melalui teknik simple random sampling. Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan skala Self Control Scale dan skala Online Gambling Symptom Assessment Scale. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara kontrol diri dengan perilaku judi online, dengan koefisien korelasi sebesar -0,356 pada tingkat signifikansi 0,002 (p<0,05). Dalam penelitian ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat kontrol diri, maka semakin rendah perilaku judi online pada kelompok dewasa awal. Maka dari itu, penelitian ini memberikan referensi untuk kelompok dewasa awal untuk dapat tetap meningkatkan rasa kontrol diri dalam perilaku khususnya judi online.This study aims to examine the relationship between self-control and online gambling behavior in early adulthood. This study uses a quantitative approach with a descriptive method, involving 61 respondents selected through a simple random sampling technique. Data collection in this study used the Self Control Scale and the Online Gambling Symptom Assessment Scale. The results showed that there was a significant negative relationship between self-control and online gambling behavior, with a correlation coefficient of -0.356 at a significance level of 0.002 (p <0.05). This study indicates that the higher the level of self-control, the lower the online gambling behavior in the early adulthood group. Therefore, this study provides a reference for the early adulthood group to be able to continue to increase their sense of self-control in behavior, especially online gamblin
The Relationship between Religiosity and Loneliness in Ethnic Chinese Adolescents
Indonesia merupakan negara dengan berbagai suku dan bangsa. Salah satunya Etnis Tionghoa yang masih mempertahankan identitas budayanya dalam beradaptasi yang namun terdapat adanya stereotip yang berkembang dalam masyarakat. Namun adanya stereotip membuat remaja merasa kesepian dan dimana ketika individu mengalami kesepian salah satu faktor penyebabnya adalah kurangnya kebermaknaan diri. Hal tersebut membuat peneliti ingin melakukan penelitian dengan bertujuan untuk mengetahui signifikansi hubungan religiusitas dengan kesepian pada remaja Etnis Tionghoa. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 116 orang dengan menggunakan teknik insidental atau accidental sampling. Metode pengumpulan data penelitian yang digunakan dengan skala religiusitas Centrality of Religiosity Scale (CRS-15) yang dikembangkan oleh Huber dan Huber (2012) dan skala kesepian dengan UCLA Loneliness Scale yang dibuat oleh Russell dkk., (1996). Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik korelasi pearson product moment. Dari hasil analisis data diperoleh koefisien korelasi r = -0.112 dan nilai signifikansi sebesar 0.230 (p>0.05) yang artinya terdapat hubungan negatif namun tidak signifikan antara religiusitas dan kesepian pada remaja Etnis Tionghoa. Artinya, semakin tinggi religiusitas pada remaja Etnis Tionghoa maka kecenderungan kesepian yang dimiliki semakin rendah. Sebaliknya, semakin rendah religiusitas, maka remaja akan memiliki kecenderungan yang tinggi dalam mengalami perasaan kesepian
Gambaran Kepatuhan Perempuan Yang Mengalami Kekerasan Fisik Dalam Berpacaran
Salah satu jenis kekerasan yang banyak dihadapi perempuan adalah kekerasan dalam pacaran. Goncangan akan muncul ketika seseorang pacaran dengan kekerasan. Banyak orang yang rentan terhadap perubahan sebagai tanggapan terhadap kondisi yang menekan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kepatuhan perempuan yang mengalami kekerasan fisik saat berpacaran. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif naratif untuk menemukan masalah tersebut dan menganalisis gambaran kepatuhan wanita yang mengalami kekerasan dalam berpacaran. Tiga mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, terlibat dalam penelitian ini. Data penelitian ini diperoleh melalui observasi dan wawancara. Data dianalisis dengan mengurangi, menyajikan, dan mengambil kesimpulan. Hasil penelitian ditemukan bahwa yang menjadi gambaran terjadinya kekerasan dalam pacaran adalah karena adanya tindakan over protective yang dibenarkan oleh korban. Korban merasa nyaman karena tindakan over protective tersebut dipandang secara wajar dalam berpacaran. Mekanisme kepatuhan tersebut kemudian yang dapat membuat korban memutuskan untuk tetap bertahan melanjutkan hubungan mereka, meskipun terjadi tindak kekerasan fisik terhadap dirinya.One type of violence that many women face is dating violence. Shock will appear when someone goes out violently. Many people are susceptible to change in response to stressful conditions. This study aims to find out how the compliance of women who experience physical violence while dating. This study used narrative qualitative methods to find these problems and analyze the picture of compliance of women who experienced dating violence. Three students of Satya Wacana Christian University, Salatiga, were involved in the study. This research data was obtained through observation and interviews. Data is analyzed by subtracting, presenting, and drawing conclusions. The results of the study found that the picture of dating violence is due to overprotective actions justified by the victim. The victim feels comfortable because the overprotective act is seen as reasonable in dating. The mechanism of obedience can then make the victim decide to continue their relationship, despite the physical violence against hi
Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Kebahagiaan Pada Lansia di Panti Pelayanan Sosial Lanjut Usia Adi Yuswo Purworejo
Menjalani masa akhir perkembangan tidak semua lansia tinggal di dalam keluarga, salah satunya tinggal di panti. Dengan berada di panti mampu membuat lansia merasa bahagia karena tidak perlu mengkhawatirkan tentang kehidupannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dengan kebahagiaan lansia di Panti Pelayanan Sosial Lanjut Usia Adi Yuswo Purworejo. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik sampling jenuh dimana populasi menjadi sampel dengan jumlah partisipan 80 lansia. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat ukur dukungan sosial dengan tingkat reliabilitas 0.904 dan alat ukur kebahagiaan dengan tingkat reliabilitas 0.920. Hasil analisis penelitian ini menunjukkan bahwa nilai koefisien sebesar 0,058 dengan nilai sig. 0,305 (p >0,05) yang berarti tidak ada hubungan antara dukungan sosial dengan kebahagiaan pada lansia di Panti Pelayanan Sosial Lanjut Usia Adi Yuswo Purworejo. Going through the final stages of development, not all elderly people live in families, one of them lives in an orphanage. Being in an orphanage can make elderly people feel happy because they don't have to worry about their lives. This research aims to determine the relationship between social support and the happiness of the elderly at the Adi Yuswo Purworejo Elderly Social Service Home. The research method used in this research is quantitative with a correlational research type. The sampling technique used in this research is a saturated sampling technique where the population is sampled with 80 elderly participants. The instruments used in this research are a social support measuring instrument with a reliability level of 0.904 and a happiness measuring instrument with a reliability level of 0.920. The results of this research analysis show that the coefficient value is 0.058 with a sig value. 0.305 (p >0.05) which means there is no relationship between social support and happiness in the elderly at the Adi Yuswo Purworejo Elderly Social Service Home
Hubungan Antara Kepercayaan Diri Dengan Kecemasan Menghadapi Pertandingan Pada Atlet Kyourugi Taekwondo Di Kota Salatiga
Kecemasan menghadapi pertandingan adalah salah satu gejala mental yang selalu identik dengan perasaan negatif. Selain itu kecemasan menghadapi pertandingan dapat diartikan sebagai perasaan khawatir, gelisah, dan tidak tenang. Kecemasan menghadapi pertandingan merupakan keadaan distress yang dialami seorang atlet, dimana emosi negatif yang meningkat sejalan dengan keadaan situasi di suatu pertandingan. Kepercayaan diri adalah kepercayaan yang dimiliki seseorang atas kemampuan yang ia miliki yang didapatkan dari pengalaman hidupnya. Selain itu kepercayaan diri adalah suatu sikap atau keyakinan atas kemampuan diri sendiri, sehingga dalam melakukan tindakan tidak selalu merasa cemas, merasa bebas untuk melakukan hal-hal yang sesuai dengan keinginan, dan memiliki tanggung jawab atas keputusan dan tindakan yang telah dilakukan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kepercayaan diri dengan kecemasan menghadapi pertandingan pada atlet kyourugi taekwondo di Kota Salatiga. Populasi penelitian ini adalah atlet Kyourugi Taekwondo yang berada dibawah naungan Koni Kota Salatiga dengan responden penelitian sebanyak 37 atlet. Pengumpulan data penelitian menggunakan dua skala yaitu kepercayaan diri dan kecemasan bertanding. Analisa data yang digunakan adalah Pearson Correlation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif signifikan antara kepercayaan diri dengan kecemasan dalam menghadapi pertandingan dengan r = menunjukkan r = -0,757 dan p = 0,000.Anxiety about the game is a mental symptom that is always synonymous with negative feelings. Besides that, anxiety about facing a match can be interpreted as feeling worried, anxious, and uneasy. Competition anxiety is a state of distress experienced by an athlete, where negative emotions increase in line with the state of the situation in a match. Confidence is the belief that a person has in the abilities he has that are obtained from his lifelong experience. In addition, self-confidence is an attitude or belief in one's abilities, so that in taking action one does not always feel anxious, feels free to do things according to one's wishes, and has responsibility for the decisions and actions that have been taken. This study aims to determine the relationship between self-confidence and anxiety facing competition in kyourugi taekwondo athletes in Salatiga City. The population of this study was Kyourugi Taekwondo athletes under the auspices of Koni Salatiga City with 37 athletes as respondents. Research data collection uses two scales, namely self-confidence and competition anxiety. The data analysis used is Pearson Correlation. The results showed that there was a significant negative relationship between self-confidence and anxiety in facing competition with r = indicating r = -0.757 and p = 0.000
Hubungan Antara Konformitas dan Perilaku Antisosial pada Kelompok Punk
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara konformitas dan perilaku antisosial pada komunitas punk. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif, melibatkan 39 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan skala Subtypes of Antisocial Behavior Questionnaire (STAB) dan konformitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara konformitas dan perilaku antisosial, dengan koefisien korelasi sebesar 0,368 pada tingkat signifikansi 0,021 (p<0,05). Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat konformitas, semakin tinggi pula kecenderungan perilaku antisosial di dalam kelompok tersebut. Dengan demikian, penelitian ini menekankan perlunya pemahaman yang lebih mendalam tentang pengaruh kelompok sebaya terhadap perilaku antisosial di kalangan remaja, serta pentingnya pendekatan berbasis kelompok dalam upaya pencegahan dan penanganan perilaku tersebut.This study aims to explore the link between conformity and antisocial behavior in the punk community. It uses a quantitative approach with a descriptive method and involves 39 respondents chosen through purposive sampling. Data were collected using the Subtypes of Antisocial Behavior Questionnaire (STAB) and a conformity scale. The findings show a significant positive relationship between conformity and antisocial behavior, with a correlation coefficient of 0.368 at a significance level of 0.021 (p<0.05). This suggests that higher conformity leads to a greater tendency for antisocial behavior within the group. Therefore, this study highlights the importance of understanding how peer influence affects the development of antisocial behavior among teenagers, and the need for group-based approaches in preventing and managing such behavior
- …
