1,721,045 research outputs found
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK PROPOLIS TERHADAP KADAR KOLESTEROL DARAH TIKUS WISTAR JANTAN SETELAH DIPAPAR SIDESTREAM CIGARETTE SMOKE
Asap rokok merupakan salah satu sumber utama radikal bebas yang berasal
dari lingkungan, selain polusi udara, paparan bahan kimia, dan radikal ion. Global
Adult Tobacco Survey (GATS) 2011 menyatakan bahwa prevalensi perokok di
Indonesia menempati urutan ke-2 terbesar di dunia. Asap rokok yang dihasilkan oleh
perokok ini mengandung sejumlah oksidan dan prooksidan yang dapat memproduksi
radikal bebas dan memicu terjadinya peroksidasi lipid dan stres oksidatif. Apabila
kerusakan tersebut berlanjut dan tubuh tidak menerima asupan antioksidan dari luar
untuk menyeimbangkan peningkatan berlebih dari radikal bebas tersebut maka akan
terjadi peningkatan kadar kolesterol total.
Propolis merupakan obat alami yang telah dipergunakan secara luas sejak
zaman dahulu. Propolis atau lem lebah adalah suatu zat yang dikumpulkan oleh lebah
madu dari sumber tumbuhan dan mengandung resin dan lilin lebah. Propolis diduga
dapat menurunkan kadar kolesterol total karena mengandung suatu bahan aktif yaitu
flavonoid. Flavonoid merupakan salah satu antioksidan yang kuat sehingga
peningkatan kadar kolesterol total akibat stres oksidatif dari paparan SCS dapat
dicegah.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris dengan
rancangan post-test only control group design. Populasi penelitian ini adalah tikus
jantan strain Rattus norvegicus galur murni dengan besar sampel sebesar 12 ekor.
Sampel pada penelitian ini dikelompokkan menjadi 3 kelompok, yaitu, kelompok
kontrol, kelompok P1 (dipapar Sidestream Cigarette Smoke) dan kelompok P2
(dipapar SCS dan diberi ekstrak propolis). Pemaparan asap rokok dilakukan selama
20 menit/hari dengan setiap 5 menit paparan diberi waktu jeda (tanpa paparan)
selama 3 menit. Perlakuan tersebut dilakukan selama 8 hari (karena paparan asap
rokok dilakukan secara akut). Jenis rokok yang digunakan adalah rokok kretek
berfilter. Pada penelitian ini menggunakan ekstrak propolis dalam bentuk jadi yang
ada dipasaran. Ekstrak propolis diberikan dua kali sehari secara oral dengan dosis
4,5μL ekstrak propolis dicampur dengan 3,6 ml air selama 8 hari. Prosedur
pemeriksaan kadar kolesterol total dilakukan dengan metode CHOD-PAP
(Cholesterol Oxidase-p-aminophenazone) dengan prinsip pengujian secara
kolorimetri enzimatis.
Hasil uji One Way Anova menunjukkan terdapat perbedaan rata-rata kadar
kolesterol total darah tikus wistar jantan (p<0,05). Hasil analisis menunjukkan
terdapat perbedaan rata-rata kadar kolesterol total antar kelompok perlakuan, kecuali
antar kelompok kontrol dan kelompok perlakuan 2. Kesimpulan menunjukkan bahwa
terdapat penurunan kadar kolesterol total tikus wistar jantan yang diberi paparan
Sidestream Cigarette Smoke dan diberi ekstrak propolis. Pengaruh flavonoid dalam
menurunkan kadar kolesterol total disebabkan karena perannya sebagai senyawa
antioksidan yang dapat mencegah terjadinya peroksidasi lipid dan meredam efek
buruk radikal bebas dengan adanya salah satu ikatan fenol dalam propolis yaitu
Caffeic Acid Phenethyl Ester (CAPE)
Perbedaan Denyut Jantung Pasien Wanita Usia 25-39 Tahun Dan Usia 40 Tahun Keatas Setelah Pemberian ANESTETIKUM Lokal Yang Mengandung VASOKONSTRIKTOR:(Penelitian Eksperimental Klinis)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa denyut jantung pasien usia 25-39 tahun dan pasien usia 40 tahun keatas sesudah pemberian lokal yang mengandung vasokonstriktor lebih besar dari pada sebelum pemberian anestelikum lokal yang mengandung vasokonstriktor peningkatan denyut jantung pasien usia 40 tahun ke atas lebih besar dibandingkan dengan peningkatan denyut jantung pasien usia 25-39 tahun
Pengaruh Pemberian Ekstrak Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus Polyrhizus) Terhadap Jumlah Sel Makrofag Pasca Ekstraksi Gigi Tikus Wistar
Angka pencabutan gigi di indonesia sangat tinggi yaitu mencapai 79,6%. Tindakan pencabutan gigi dapat menyebabkan proses inflamasi. Reaksi inflamasi yang berlebihan dan berkepanjangan akan menghambat penyembuhan luka. Makrofag didalam proses inflamasi dapat menghasilkan senyawa sitokin, enzim, dan ROS yang dapat meningkatkan respon inflamasi dan merusak jaringan sehat didaerah luka. Oleh karena itu, jumlah marofag perlu dikontrol agar tidak terjadi respon inflamasi yang berlebih yang dapat menghambat penyembuhan luka. Penggunaan obat NSAID untuk mengkontrol proses inflamasi dapat menimbulkan efek samping, sehingga diperlukan bahan terapi alternatif pengganti. Kulit buah naga merah memiliki kandungan yang berpotensi sebagai antiinflamasi, antioksidan, dan antibakteri yang dapat membantu proses penyembuhan luka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh efektifitas ekstrak kulit buah naga merah terhadap jumlah sel makrofag pada proses penyembuhan luka pasca pencabutan gigi tikus wistar.
Jenis penelitian yang digunakan adalah experimental laboratories dengan rancangan penelitian the post test only control group design. Sampel penelitian adalah tikus wistar jantan sebanyak 24 ekor yang dibagi menjadi enam kelompok, yaitu tiga kelompok kontrol dan tiga kelompok perlakuan. Seluruh sampel dilakukan pencabutan pada gigi molar pertama rahang bawah. Pada kelompok kontrol diberikan larutan CMC-Na dan pada kelompok perlakuan diberikan larutan ekstrak kulit buah naga merah satu kali sehari. Dekapitasi dilakukan pada hari ke-3, hari ke-5, dan hari ke-7 kemudian dilakukan pembuatan sediaan histologis dengan pewarnaan Hematoxylin Eosin (HE). Pengamatan dan penghitungan jumlah sel makrofag dilakukan pada tiga lapang pandang
menggunakan mikroskop cahaya binokuler perbesaran 400x. Setelah itu, data dianalisa menggunakan aplikasi SPSS.
Hasil penelitian didapatkan jumlah sel makrofag pada kelompok perlakuan lebih rendah dibandingkan dengan kelompok kontrol pada hari ke-3, ke-5 dan ke-7. Hal ini dikarenakan adanya pengaruh dari kandungan ekstrak kulit buah naga merah yang mampu menghambat infiltrasi sel makrofag kedaerah luka. Kesimpulan yang didapatkan dari hasil penelitian adalah pemberian ektrak kulit buah naga merah (Hydrocereus Polyrhizus) dapat menurunkan jumlah sel makrofag pada soket pasca pencabutan gigi tikus wistar jantan
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK PROPOLIS TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS WISTAR JANTAN SETELAH DIPAPAR SIDESTREAM CIGARETTE SMOKE
Kebiasaan merokok merupakan salah satu masalah kesehatan utama di
Indonesia. Efek rokok tidak hanya dirasakan oleh perokok tetapi juga orang-orang
disekitar perokok (perokok pasif). Sidestream Cigarette Smoke (SCS) merupakan
salah satu jenis asap yang dihasilkan rokok. Radikal bebas dan bahan kimia yang
terkandung pada SCS lebih banyak dibandingkan asap rokok yang lain. Radikal bebas
yang terdapat pada SCS akan menghasilkan Reactive Oxygen Species (ROS). ROS
tersebut menyebabkan stres oksidatif yang berdampak pada resistensi insulin akibat
gangguan pada reseptor insulin di membran sel hati dan otot. Hal ini menyebabkan
kondisi hiperglikemia. Hiperglikemia perlu ditangani karena berisiko menjadi
diabetes mellitus tipe-2 (DM tipe-2). Hiperglikemia dapat diturunkan dengan
menggunakan obat dari bahan alam karena diharapkan memiliki efek samping yang
minimal, salah satunya adalah propolis. Propolis merupakan produk lebah yang
terbukti mampu menangani beberapa penyakit, salah satunya adalah diabetes mellitus
karena memiliki efek antihiperglikemik yang berasal dari kandungan antioksidan
tinggi, seperti flavonoid, caffeid acid, dan vitamin E. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh pemberian ekstrak propolis dapat menurunkan kadar glukosa
darah tikus wistar (Rattus norvegicus) jantan setelah dipapar Sidestream Cigarette
Smoke.
Penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratoris dengan rancangan
post-test only control group design. Penelitian dilakukan di Laboratorium Biomedik
Fakultas Kedokteran Gigi dan Laboratorium Biomedik Fakultas Kedokteran
Universitas Jember. Sampel penelitian ini tikus wistar jantan (Rattus Norvegicus).
Penelitian terdiri dari 3 kelompok yaitu kelompok kontrol yang diberi akuades tanpa
diberi perlakuan SCS dan propolis, kelompok perlakuan 1 diberi paparan SCS selama
20 menit/hari, kelompok perlakuan 2 diberi paparan SCS selama 20 menit/hari dan
ekstrak propolis dua kali sehari, secara oral dengan dosis 4,5 μL ekstrak propolis
dalam 3,6 ml air selama 8 hari. Pengambilan darah dilakukan pada hari ke-9 secara
intrakardial, pengukuran kadar glukosa darah menggunakan metode enzymatic
photometric test. Data dianalisa menggunakan uji parametrik One Way Anova dan
Tukey HSD.
Hasil analisis statistik penelitian menunjukan bahwa kadar glukosa darah pada
kelompok perlakuan 2 yang diberi ekstrak propolis lebih rendah daripada kelompok
perlakuan 1 yang dipapar SCS tetapi tidak diberi ekstrak propolis (p<0,05). Propolis
mengandung zat-zat seperti flavonoid, caffeid acid, dan vitamin E yang merupakan
antioksidan kuat dan berperan dalam aktivitas scavenging atau pembersihan ROS
yang dihasilkan oleh SCS serta memberikan manfaat dalam mencegah stres oksidatif
dan meningkatkan ekspresi reseptor insulin pada membran sel, sehingga mampu
menurunkan hiperglikemia. Kesimpulan menunjukan bahwa pemberian ekstrak
propolis dapat menurunkan kadar glukosa darah tikus wistar (Rattus norvegicus)
jantan setelah dipapar Sidestream Cigarette Smoke
Penurunan Jumlah PMN Neutrofil Darah Tepi Tikus Putih Galur Wistar Jantan Setelah Pemberian Ekstrak Daun Asam.
Salah satu Tindakan pembedahan di bidang kedokteran gigi yang sering menimbulkan peradangan adalah pencabutan gigi.segera setelah dimulainya proses peradangan ,neutrofil akan muncul
EFEKTIVITAS GEL EKSTRAK BIJI KAKAO (Theobroma cacao L.) TERHADAP INTENSITAS KOLAGEN PADA PENYEMBUHAN LUKA JARINGAN LUNAK SOKET PASCA PENCABUTAN GIGI TIKUS WISTAR
Pencabutan gigi merupakan salah satu tindakan dalam bidang kedokteran
gigi yang merupakan suatu proses pengeluaran gigi dari alveolus, di mana
melibatkan jaringan keras dan jaringan lunak pada rongga mulut dan dapat
menimbulkan luka pada soket gigi. Biji kakao (Theobroma cacao Linn.)
merupakan salah satu tanaman herbal yang dapat membantu proses penyembuhan
luka. Biji kakao kering yang tidak difermentasi memiliki kandungan polifenol dan
asam fenolik sekitar 12-18%. Senyawa polifenol lebih banyak didominasi oleh
gugus flavonoid yang terdiri dari kelompok pronthocyanidin sebanyak ±58%,
flavanol ±37%, anthocyanidin ±4% dan flavonol glikosida ±1%. Flavonoid
merupakan salah satu subkelas dari polifenol yang menstimulasi proses
penyembuhan luka dan memiliki aktivitas sebagai antiinflamasi. Berdasarkan latar
belakang di atas penulis akan melakukan penelitian tentang efektivitas gel ekstrak
biji kakao terhadap intensitas kolagen pada penyembuhan luka jaringan lunak
soket pasca pencabutan gigi tikus wistar.
Jenis penelitian adalah experimental laboratories dengan rancangan
penelitian the post test only control group design. Penelitian ini dilakukan pada
bulan Desember 2017 sampai dengan bulan Februari 2018. Sejumlah 32 ekor tikus
Wistar jantan dikelompokan menjadi 4 kelompok yaitu 2 kelompok kontrol dan 2
kelompok perlakuan. Kemudian dilakukan pencabutan gigi molar satu kiri bawah.
Selanjutnya pada kelompok kontrol negatif diberi gel Placebo, kontrol positif diberi
Alvogyl®, sedangkan kelompok perlakuan diberi gel ekstrak biji kakao 8% dan 16%
secara topikal. Dekaputasi dilakukan pada hari ke-3 dan ke-7 pasca pencabutan,
dilanjutkan dengan pembuatan jaringan secara histologis
Efek Seduhan Biji Kopi Robusta (Coffea Canephora) Terhadap Jumlah Sel Limfosit Pada Tikus Wistar Jantan Yang diinduksi Staphylococcus Aureus
Inflamasi merupakan suatu respon pertahanan tubuh terhadap adanya trauma meliputi trauma fisik dan trauma kimia ataupun adanya mikroorganisme patogen. Mikroorganisme patogen yang sering menimbulkan inflamasi adalah bakteri. Salah satu bakteri yang dianggap sering menyebabkan inflamasi adalah bakteri golongan Streptococcus dan Staphylococcus. Staphylococcus dianggap sebagai penyebab infeksi baik pada manusia maupun pada hewan. Proses Inflamasi yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus dapat terjadi karena adanya eksotoksin yang dimiliki bakteri gram positif pada umumnya. Untuk menekan adanya inflamasi biasanya digunakan obat-obatan sintetis berupa NSAID (Non Steroid Anti Inflamatory Drugs) ataupun kortikosteroid. Namun penggunaan NSAID ataupun kortikosteroid dapat menimbulkan efek samping berupa reaksi alergi diantaranya mual, muntah, pusing, urtikaria dan diare. Maka dari itu diperlukan alternatif lain untuk mengatasi efek samping dari obat-obatan sintesis tersebut. Salah satu altenatif untuk mengatasi masalah tersebut adalah menggunakan tanaman kopi robusta (Coffea canephora). Kopi robusta mempunyai banyak kandungan yang berguna untuk tubuh, senyawa aktif yang terkandung dalam kopi adalah polifenol dan alkaloid. Senyawa polifenol dalam kopi adalah asam klorogenat dan asam ferulat, komponen kimia lain yang terkandung di dalam kopi adalah kafein. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian seduhan biji kopi robusta (Coffea canephora) terhadap jumlah sel limfosit pada tikus Wistar jantan yang diinduksi Staphylococcus aureus.
Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental laboratoris. Pada penelitian ini menggunakan rancangan the post test only control group design. Besar sampel yang digunakan adalah 12 ekor tikus sebagai sampel yang terbagi secara acak dalam 3 kelompok, kelompok kontrol negatif, kontrol positif, dan perlakuan kopi. Kemudian membuat hapusan darah, darah diambil melalui plexus retroorbitalis pada tikus dan diwarnai dengan pewarnaan giemsa. Selanjutnya, dilakukan penghitungan jumlah limfosit per seratus leukosit. Data yang diperoleh terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dengan menggunakan uji Shapiro-Wilk Test untuk mengetahui distribusi data dan uji homogenitas data menggunakan Levene Test. Data yang diperoleh normal dan homogeny, maka dilakukan uji parametrik dengan One Way Anova kemudian dilanjutkan uji LSD (Least Significance Difference). Perbedaan yang signifikan dari hasil analisis statistik menandakan bahwa terdapat penurunan jumlah limfosit yang signifikan. Penurunan jumlah limfosit menunjukkan bahwa kopi robusta mengandung senyawa asam klorogenat, asam ferulat, dan kafein. Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa seduhan biji kopi robusta efektif untuk menurunkan jumlah sel limfosit pada tikus wistar jantan yang diinduksi Staphylococcus aureus
KADAR SERUM GLUTAMIC OXALOACETIC TRANSAMINASE (SGOT) PADA TIKUS WISTAR (Rattus norvegicus) JANTAN YANG DIPAPAR STRESOR RASA SAKIT ELECTRICAL FOOT SHOCK SELAMA 28 HARI
Stres merupakan suatu reaksi alamiah yang berguna agar manusia terdorong
untuk menghadapi kesulitan hidupnya apabila stres yang dihadapi berlangsung terus
menerus dapat menimbulkan berbagai penyakit untuk itu pengaruh stres terhadap
kesehatan individu perlu diungkap lebih lanjut. Stimuli yang menyebabkan stres
disebut stresor yang dapat berupa fisik atau psikis. Salah satu stresor fisik adalah
electrical foot shock. Stresor fisik dapat terjadi terus menerus atau berkelanjutan
sehingga mengakibatkan terjadinya proses patologis pada tubuh. Proses patologis ini
dapat terjadi pada hati dan jantung. Salah satu langkah awal untuk menilai ada
tidaknya perubahan pada jaringan tersebut dapat menggunakan parameter Serum
Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT). SGOT pada pemeriksaan laboratoris
dapat digunakan untuk menilai seberapa luas kerusakan hati namun SGOT juga
banyak ditemukan pada jaringan selain hati seperti jantung. Perlu dilakukan
pemeriksaan kadar SGOT pada Tikus Wistar (Rattus norvegicus) Jantan yang dipapar
stresor rasa sakit electrical foot shock selama 28 hari. Tujuan penelitian ini untuk
mengetahui ada tidaknya perbedaan kadar SGOT pada Tikus Wistar (Rattus
norvegicus) Jantan yang dipapar dan yang tidak dipapar stresor rasa sakit electrical
foot shock selama 28 hari. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi
ilmiah tentang pengaruh stresor rasa sakit electrical foot shock selama 28 hari
terhadap perubahan kadar SGOT.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris dengan rancangan
post test only control group design. Sampel penelitian ini adalah Tikus Wistar (Rattus
norvegicus) Jantan usia 3-4 bulan, berat 150-200 gr, sehat, dan telah diadaptasi
selama 1 minggu di Laboratorium Biomedik Fakultas Farmasi. Besar sampel tikus didapat dari rumus Steel dan Torrie ±8 ekor yang terdiri dari 2 kelompok yaitu
kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Variabel bebas adalah stresor rasa sakit
electrical foot shock dan variabel terikatnya adalah kadar SGOT pada Tikus Wistar
(Rattus norvegicus) Jantan. Hewan coba dipapar electrical foot shock selama 28 hari
dengan peningkatan sesi setiap harinya. Pengambilan sampel darah dilakukan pada
hari ke 28 secara intrakardial setelah 60 menit pemberian stresor electrical foot shock.
Sampel darah yang diambil sebanyak 2 ml kemudian dilakukan pemeriksaan dan
penghitungan kadar SGOT di Laboratorium Piramida Jember dengan metode kinetik.
Analisis data menggunakan uji normalitas Kolmogorov Smirnov dan uji homogenitas
Levene test dan dilanjutkan dengan uji statistik parametrik Independent T-test dengan
kemaknaan p≤0,05.
Hasil analisis data menunjukkan nilai signifikan sebesar 0,12 maka tidak ada
perbedaan yang signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan.
Kerusakan hati akibat stresor tidak mengakibatkan nekrosis sehingga kadar SGOT
tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Hal ini diduga karena antioksidan
dalam tubuh tikus masih cukup untuk menetralisir ROS akibat paparan stresor. SGOT
juga banyak ditemukan dijantung, uji biokimia SGOT pada jantung dapat digunakan
untuk mendiagnosa perluasan penyakit infark miokard. SGOT akan memuncak pada
36-48 jam dan kembali normal 4-10 hari. Tingginya kadar SGOT sebagai tes atau uji
biokimia tidak selalu ditandai dengan tingginya kerusakan sel karena hal tersebut juga
tergantung pada luas, macam kerusakan hati, kepekaan metode tes serta ada tidaknya
regenerasi sel yang masih sehat
Pengaruh Pemberian Gel Ekstrak Proantosianidin Kulit Buah Kakao (Theobroma Cacao L.) Terhadap Jumlah Sel Fibroblas dan Pembuluh Darah Pada Soket Pasca Pencabutan Gigi Tikus
Pencabutan gigi adalah suatu proses pengeluaran gigi dari alveolus, dimana pada gigi tersebut sudah tidak dapat dilakukan perawatan lagi. Akibat dari pencabutan gigi ini adalah rusaknya jaringan periodontal dan pembuluh darah di sekitar gigi yang memicu respon tubuh sehingga menyebabkan terjadinya proses penyembuhan luka. Pada umumnya, proses penyembuhan luka terdiri dari fase inflamasi, proliferasi dan remodeling. Namun apabila reaksi inflamasi yang terjadi berlebihan dapat menghambat proses penyembuhan. Di sinilah antiinflamasi sangat berperan untuk mempersingkat inflamasi ke tahap selanjutnya. Salah satu bahan alami yang memiliki potensi untuk mempercepat penyembuhan luka adalah kulit buah kakao. Di Jember merupakan salah satu produsen biji kakao terbesar di pulau Jawa. Selama ini pemanfaatan dari kakao hanya diambil bijinya saja, sedangkan kulit buahnya belum dimanfaatkan secara optimal, sehingga menjadi limbah yang merugikan. Kulit buah kakao memiliki beberapa kandungan, diantaranya proantosianidin yang merupakan komponen polifenol terbanyak pada kakao yaitu sebesar 58%. Proantosianidin memiliki berbagai macam manfaat, salah satunya adalah sebagai antiinflamasi. Sehingga mampu mempcepat poses penyembuhan.
Jenis penelitian yang dilakukan adalah experimental laboratories dengan rancangan penelitian the post test only control group design. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2019 sampai dengan bulan Desember 2019. Sampel yang digunakan sebanyak 24 ekor tikus wistar jantan yang dikelompokan menjadi 3 kelompok yaitu kelompok kontrol positif yaitu dengan diberi gel oxyfresh, kelompok kontrol negatif yang diberi gel placebo dan kelompok perlakuan yang diberi gel ekstrak proantosianidin kulit buah kakao (Theobroma cacao L.) 100 mg/ml. Kemudian masing-masing kelompok dibagi menjadi 2 sub kelompok yaitu kelompok hari ke 7 dan 14. Hewan coba dianastesi kemudian dilakukan tindakan pencabutan pada gigi molar satu kiri rahang bawah. Kemudian lakukan aplikasi gel sebanyak satu kali sehari selama 7 dan 14 hari sesuai kelompok hewan. Selanjutnya dilakukan eutanasia dilakukan pada hari ke-7 dan ke-14 sesuai kelompok perlakuan, lalu lakukan pemotongan rahang bawah tikus dengan arah bukolingual, dilanjutkan dengan pembuatan jaringan secara histologis. Pemeriksaan histologi fibroblas dan pembuluh darah dilakukan pengamatan pada soket dengan pembesaran 400x sebanyak 3 lapang pandang yaitu pada puncak soket bukal, puncak soket bukal dan apikal soket, yang dilakukan oleh 3 pengamat pada daerah yang sama. Pada sel fibroblas setelah dilakukan pengamatan pada 3 lapang pandang kemudian dilakukan pengambilan gambar dan dimasukan ke dalam aplikasi imageJ untuk mengetahui jumlah sel fibroblas.
Data dianalisis menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk, uji homogenitas menggunakan Levene-Test. Data yang diperoleh karena berdistribusi normal dan homogen, maka dilanjutkan dengan uji parametrik OneWay Anova dan dilanjutkan uji LSD (Least Significant Difference). Jumlah fibroblast dan Pembuluh darah paling tinggi yaitu pada kelompok kontrol positif yang diberi gel Oxyfresh, kemudian pada kelopok perlakuan yang diberi gel ekstrak proantosianidin kulit buah kakao (Theobroma cacao L.) 100 mg/ml, dan yang terakhir pada kelompok kontrol negatif yang diberi gel Placebo. Pada hasil uji LSD (Least Significant Difference) menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan pada kelompok kontrol positif yang diberi gel Oxyfresh dan pada kelopok perlakuan yang diberi gel ekstrak proantosianidin kulit buah kakao (Theobroma cacao L.) 100 mg/ml. Sehingga kesimpulannya adalah gel ekstrak proantosianidin kulit buah kakao (Theobroma cacao L.) 100 mg/ml mampu meningkatkan jumlah fibroblas dan pembuluh darah
- …
