10 research outputs found

    Ekstraksi Lilin Tebu (Saccharum officinarum L.) dari Blotong dengan Metode Ultrasonik dan Saponifikasi Lilin dalam Menghasilkan Polikosanol

    No full text
    Lilin tebu ( Saccharum officinarum L.) telah menjadi perhatian karena memiliki kandungan senyawa polikosanol yang bermanfaat untuk kesehatan sebagai penurun kadar kolesterol dan menghambat sintesis kolesterol. Ekstraksi dengan metode ultrasonik dikenal lebih cepat dengan hasil yang tinggi. Namun demikian ekstraksi lilin tebu menggunakan metode ultrasonik belum pernah dilaporkan. Tujuan penelitian ini untuk mempelajari proses ekstraksi lilin tebu dari blotong menggunakan ultrasonik dan mempelajari pengaruh saponifikasi lilin tebu terhadap perolehan hasil polikosanol. Penelitian ini terdiri dari tiga tahap. Penelitian tahap I adalah ekstraksi lilin tebu secara ultrasonik dipelajari pengaruh jenis pelarut (propanol, butanol, benzol, toluena, iso-oktana) dan waktu ekstraksi (10, 20 dan 30 menit) terhadap perolehan lilin tebu dan kandungan polikosanol. Analisis kandungan polikosanol dilakukan dengan kromatografi lapis tipis. Data penelitian diolah dengan statistik menggunakan analisis sidik ragam dalam Rancangan Acak Lengkap dengan faktorial dalam dua kali ulangan dilanjutkan uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Penelitian tahap II adalah saponifikasi lilin tebu dipelajari pengaruh jenis basa (NaOH, KOH, Ba(OH) 2 ) dan waktu reaksi (30, 60 dan 90 menit) terhadap perolehan rendemen dan polikosanol. Analisis kandungan polikosanol dilakukan dengan kromatografi gas. Analisis gugus fungsional dari lilin tebu diamati dengan spektroskopi infra merah (FTIR). Data penelitian diolah dengan statistik menggunakan analisis sidik ragam dalam Rancangan Acak Lengkap dengan faktorial dalam dua kali ulangan dilanjutkan uji Beda Nyata Terkecil. Penelitian tahap III adalah ekstraksi polikosanol dari lilin tak tersaponifikasi menggunakan etilmetil keton dipelajari fraksi ekstraksi, jenis basa (NaOH, KOH, Ba(OH) 2 ) dan waktu saponifikasi (30, 60 dan 90 menit) terhadap perolehan rendemen dan polikosanol. Ekstraksi dilakukan menggunakan etilmetil keton untuk mengetahui distribusi polikosanol sebagai dasar untuk pemurniannya. Analisis kandungan polikosanol dilakukan dengan kromatografi gas. Data penelitian diolah dengan statistik menggunakan analisis sidik ragam dalam Rancangan Acak Lengkap dengan faktorial dalam dua kali ulangan dilanjutkan uji jarak Duncan. Hasil penelitian Tahap I. Jenis pelarut berpengaruh beda nyata terhadap perolehan rendemen lilin tebu dan polikosanol. Semakin meningkat waktu ekstraksi semakin meningkat perolehan rendemen lilin tebu dan kadar polikosanol. Waktu ekstraksi memberikan pengaruh yang beda nyata terhadap rendemen lilin tebu. Perlakuan terbaik ekstraksi lilin tebu dari blotong secara ultrasonik pada penelitian ini menggunakan pelarut toluena, waktu ekstraksi 30 menit menghasilkan rerata rendemen lilin tebu 8,16% dan rerata kadar polikosanol diperoleh 43,79%. Hasil penelitian Tahap II. Hidrolisis ester menggunakan basa NaOH dan KOH lebih baik daripada Ba(OH) 2 . Proses reaksi saponifikasi lilin tebu dapat diamati dengan analisis FTIR. Saponifikasi lilin tebu dapat meningkatkan kadar oktakosanol sebesar 4,60% dari 2,82% menjadi 7,42%. Kadar polikosanol meningkat 6,32% dari 24,04% menjadi 30,36% akibat saponifikasi. Kondisi perlakuan terbaik untuk saponifikasi lilin tebu pada penelitian ini menggunakan basa NaOH dengan waktu reaksi 90 menit berturut-turut menghasilkan rerata rendemen 59,74%, rerata kadar polikosanol 32,47% dan rerata kadar oktakosanol 10,34%. Hasil penelitian Tahap III. Ekstraksi lilin tak tersaponifikasi dengan etilmetil keton dapat meningkatkan rerata kandungan polikosanol dari 35,75% menjadi 43,51%. Polikosanol cenderung berada pada fraksi terlarut dalam pelarut etilmetil keton

    PERAJIN SIMPING PURWAKARTA SEBAGAI GAGASAN PENCIPTAAN KARYA SENI LUKIS

    Get PDF
    Karya seni merupakan perasaan atau ungkapan yang ingin disampaikan oleh senimannya. Berdasarkan pengalaman atau permasalahan yang ada di lingkungan sekitar, seniman dapat menuangkannya melalui sebuah karya. Sama halnya dengan penciptaan karya seni lukis ini, penulis memvisualisasikannya dari sebuah perasaan dan keadaan yang ada di lingkungan sekitar maupun media sosial. Perasaan yang dirasakan penulis merupakan kerinduan terhadap makanan tradisional di masa kecil, yaitu simping. Kemudian, permasalahan yang ada dalam lingkungan menjadi salah satu gagasan yang penulis ambil dalam berkarya seni lukis. Saat ini, banyak orang yang telah melupakan makanan-makanan tradisional. Faktornya bisa terjadi karena banyaknya makanan luar negeri yang masuk ke Indonesia dan lebih populer daripada makanan Indonesia sendiri. Kepopuleran dari makanan tersebut menjadikan masyarakat, khususnya anak-anak muda lebih tertarik memilih makanan modern daripada makanan tradisional. Minat untuk mengenal dan mengetahui pun kurang, sehingga apresiasi tidak terlihat dari masyarakatnya. Maka dari itu, penulis ingin memberikan apresiasi kepada salah satu pembuat makanan tradisional, yaitu perajin simping yang tetap bertahan di zaman modern ini, dengan terus membuat simping dan mempertahankan keaslian dari rasa maupun cara pengolahannya sampai sekarang. Selain itu, penulis juga ingin memperkenalkan simping sebagai makanan tradisional melalui penciptaan karya seni lukis. Pada praktiknya, sebelum karya seni lukis dibuat, ada tahapan-tahapan yang harus dilakukan, seperti proses ide berkarya, stimulus, kontemplasi, serta mempersiapkan alat dan bahan, kemudian tahapan proses pembuatan karya, hingga analisis karya. Ada pun karya yang dibuat berjumlah 5 karya seni lukis dengan 1 karya berukuran 130 x 90 cm, sedangkan untuk 4 karya lainnya berukuran 120 x 100 cm. Artwork is a feeling or expression that the artist wants to convey. Based on the experiences or problems that exist in the surrounding environment, artists can express it through a work. Similar to the creation of this painting, the author visualizes it from a feeling and situation that exists in the surrounding environment and social media. The feeling that the writer feels is a longing for traditional food in childhood, namely scallops. Then, the problems that exist in the environment become one of the ideas that the author takes in creating paintings. Today, many people have forgotten traditional foods. This factor can occur because many foreign foods enter Indonesia and are more popular than Indonesian food itself. The popularity of these foods makes people, especially young people, more interested in choosing modern food than traditional food. The interest to know and know is lacking, so that appreciation is not visible from the people. Therefore, the author would like to give appreciation to one of the traditional food makers, namely scallop craftsmen who have survived in this modern era, by continuing to make scallops and maintaining the authenticity of the taste and method of processing until now. In addition, the author also wants to introduce scallops as a traditional food through the creation of paintings. In practice, before a painting is made, there are stages that must be carried out, such as the process of creating ideas, stimulus, contemplation, and preparing tools and materials, then the stages in the process of making the work, up to the analysis of the work. There are also 5 works of art made of painting with 1 work measuring 130 x 90 cm, while the other 4 works are 120 x 100 cm

    Production of Fatty Acid Methyl Ester Surfactants using Palm Oil with Various Reaction Temperatures and Duration

    Get PDF
    Most surfactants are made from petrochemicals, posing significant environmental concerns due to the non- biodegradable and non-renewable nature. To address this challenge, surfactants from biodegradable, non-toxic, and harmless materials are required, such as Fatty Acid Methyl Ester (FAME) derived from palm oil. Therefore, this research aimed to investigate the effect of reaction tempetarures and durations as well as the interactions on the yield of FAME surfactants. The characteristics of the highest yield of FAME surfactants were also examined, including HLB (hydrophilic-lipophilic balance) value, surface tension, CMC (critical micelles concentration), density, and pH values. The study was conducted using Completely Randomized Factorial Design with three (3) factors, namely temperature (50 and 60 °C), reaction duration (60, 90, and 120 minutes), and the interaction. The results showed that the highest yield of 82.43% was produced at an interaction reaction temperature of 60 °C and a duration of 120 minutes. The characteristics of surfactants obtained were HLB value of 5.47, surface tension of 30.49 dyne/cm, capable of reducing surface tension by 73.20% (from 72.80 to 19.52 dyne/cm), CMC, density and pH values of 1.50% (v/v), 0.8757 g/cm 3 , and 6.86, respectively. These characteristics suggested that FAME has the potential for application as a water-in-oil (w/o) emulsifier. Moreover, the results could be applied to produce biodegradable surfactants using tropical oils through easy and simple technology

    Pengaruh Konsentrasi dan Waktu pada Proses Bleaching Isolasi Selulosa sebagai Bahan Baku Karboksimetil Selulosa (CMC) dari Ampas Tebu (Sugarcane Bagasse)

    No full text
    Ampas tebu (Sugarcane bagasse) merupakan produk samping hasil pengolahan gula tebu. Ampas tebu sangat berpotensi untuk dikembangkan karena kandungan selulosa yang tinggi. Salah satu produk yang dapat meningkatkan nilai jual ampas tebu adalah karboksimetil selulosa (CMC). CMC merupakan salah satu zat aditif yang berfungsi sebagai penstabil emulsi pada bidang industri. Umumnya pembuatan CMC dilakukan dengan bahan baku selulosa dari kayu. Permasalahan selama proses isolasi selulosa sebagai bahan baku pembuatan CMC adalah kandungan zat lignin yang cukup tinggi yang dapat menurunkan kualitas produk yang dihasilkan. Upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan optimasi pengaruh konsentrasi NaOCl dan waktu pemanasan pada proses bleaching untuk melarutkan lignin yang masih tersisa sehingga mendapatkan kadar -selulosa yang optimum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi NaOCl dan waktu pemanasan terhadap kandungan lignin pada sampel dengan parameter nilai kappa number yang terkecil. Selulosa ampas tebu yang optimum dapat dijadikan sebagai bahan baku dalam pembuatan CMC. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan Central Composite Design (CCD) dengan 2 faktor yaitu konsentrasi NaOCl dan waktu pemanasan menggunakan fitur assistant pada aplikasi minitab 19 sehingga diperoleh 18 satuan percobaan. Data dianalisis dengan metode Response Surface Methodology (RSM) untuk menentukan perlakuan terbaik dengan parameter nilai kappa number terendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan bleaching optimum diperoleh dengan variasi konsentrasi NaOCl 5% dan waktu pemanasan selama 123,03 menit dengan nilai kappa number 15,11 atau kadar lignin 3,50%. Kadar -selulosa yang diperoleh 87,94%. Hasil akhir CMC ampas tebu memiliki karakteristik berbentuk serbuk berwarna putih kekuningan, tidak berbau, dengan kadar air 7,18%, pH 7,10, nilai derajat substitusi 0,934, viskositas 46,66 cP, kadar NaCl 1,22% dengan kemurnian 98,77 %. Hasil FTIR sampel -selulosa dan CMC menunjukkan tidak adanya gugus lignin yang ditandai dengan tidak ditemukannya pita pada bilangan gelombang sekitar 1200, 1500 dan 1700 cm-1 yang mencirikan gugus lignin dan kedua sampel memiliki vibrasi infrared –OH, -CH, C-O dan C-O-C yang mencirikan gugus fungsi selulosa

    Optimasi Suhu dan Waktu Proses Delignifikasi Ampas Tebu sebagai Bahan Baku Pembuatan Karboksimetilselulosa (CMC)

    No full text
    Tanaman tebu di Indonesia cukup melimpah. Tanaman tebu ini digunakan sebagai bahan baku produksi gula. Produksi gula nasional pada tahun 2021 tercatat 2.330.773 ton. Hasil samping dari proses produksi gula salah satunya adalah ampas tebu. Total produksi ampas tebu yang dihasilkan diperkirakan sebanyak 699.232 ton. Ampas tebu memiliki kandungan selulosa yang cukup tinggi yaitu sekitar 35-40%. Pemanfaatan selulosa pada ampas tebu salah satunya digunakan sebagai bahan baku sintesis karboksimetil selulosa (carboxymethyl cellulose/ CMC). Karboksimetil selulosa (CMC) telah banyak digunakan dan bahkan memiliki peranan yang penting dalam berbagai aplikasi pada produksi pangan maupun non pangan. CMC berfungsi sebagai bahan pengental, penstabil emulsi atau suspensi dan bahan pengikat. Untuk memperoleh kualitas CMC yang tinggi maka diperlukan proses isolasi selulosa dengan baik yang bertujuan memperoleh selulosa dengan kemurnian tinggi. Proses isolasi selulosa dilakukan dengan 3 tahap yaitu delignifikasi, bleaching dan dehemiselulosa. Delignifikasi merupakan proses utama yang bertujuan untuk menghilangkan lignin dalam ampas tebu. Delignifikasi menjadi pokok utama agar kita mendapatkan selulosa dengan kemurnian yang tinggi sehingga diperoleh kualitas CMC yang tinggi pula. Kondisi proses delignifikasi suhu dan waktu optimum ditentukan dengan menggunakan Central Composite Design pada aplikasi Design Expert 13.0.5. Respon yang diukur meliputi kadar lignin (%). Jumlah kombinasi percobaan adalah 13 percobaan dengan 5 centre point. Dengan mengetahui kondisi proses yang menghasilkan kadar lignin terendah berarti bahwa kemurnian selulosa yang diperoleh tinggi, sehingga dapat digunakan untuk bahan baku sintesis CMC. Suhu dan waktu optimum yang diperoleh dari penelitian ini yakni suhu 80,40°C dengan waktu reaksi 2 jam telah terbukti mampu menghasilkan selulosa dengan kadar lignin rendah. Kadar lignin yang diperoleh sebesar 6,19%, kemudian dilanjutkan proses bleaching dan dehemiselulosa diperoleh kadar α-selulosa 87,94%. Selanjutnya sintesis CMC diperoleh rendemen 97,86% dengan kadar air 7,32%; nilai pH 7,10; derajat substitusi 0,93; kadar NaCl 1,22%; kemurnian 98,77%; dan viskositas 46,66 cP. Berdasarkan standar FAO, hasil karakterisasi CMC ampas tebu telah memenuhi standar untuk diaplikasikan dalam pangan. Analisis gugus fungsi FTIR menunjukkan bahwa senyawa lignin tidak terdeteksi pada sampel alfa selulosa dan CMC

    Optimasi Suhu dan Waktu Proses Produksi Metil Ester Asam Lemak Sebagai Bahan Baku Pembuatan Biosurfaktan Sukrosa Ester Asam Lemak dari Minyak Goreng Sawit

    No full text
    Surfaktan merupakan suatu senyawa yang bersifat ampifilik yaitu memiliki gugus hidrofilik dan gugus hidrofobik dalam satu molekul. Sifat ampifilik yang dimiliki surfaktan menyebabkan surfaktan dapat menurunkan tegangan permukaan serta menyatukan campuran air dan minyak. Penggunaan surfaktan di indonesia meningkat setiap tahun. Surfaktan banyak digunakan dalam industri pangan, farmasi, dan juga digunakan dalam pembuatan kosmetik. Salah satu industri yang paling banyak menggunakan surfaktan adalah industri pangan. Surfaktan yang digunakan dalam industri biasanya merupakan surfaktan sintetik yang terbuat dari bahan baku minyak bumi atau petroleum yang bersifat nonbiodegradable yang dapat menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan. Oleh karena itu perlu dikembangkan biosurfaktan yang bersifat biodegradable, tidak toksik dan tidak menimbulkan pencemaran serta aman digunakan dalam industri pangan. Salah satu industri pangan yang memerlukan biosurfaktan adalah industri gula. Pada proses produksi gula terjadi pembentukan buih yang dapat menghambat efektifitas proses kristalisasi. Hal ini dapat diatasi dengan penambahan biosurfaktan. Salah satu biosurfaktan yang dapat digunakan dalam proses pemasakan adalah sukrosa ester asam lemak. Pembuatan metil ester asam lemak diperlukan sebagai bahan baku pembuatan sukrosa ester asam lemak melalui proses transesterifikasi. Kondisi suhu dan waktu optimum pada proses transesterifikasi metil ester asam lemak ditentukan dengan menggunakan Response Surface Methodology (RSM) model Central Composite Design (CCD) dengan menggunakan aplikasi Design Expert 12. Faktor suhu menggunakan batas bawah 50°C, dan batas atas 60°C. Sedangkan faktor waktu yang digunakan dengan batas bawah 60 menit, dan batas atas 120 menit. Respon yang diukur adalah rendemen (%). Jumlah kombinasi percobaan adalah 13 percobaan dengan 5 center point. Suhu dan waktu optimum yang diperoleh dari penelitian ini yaitu suhu 60°C dengan waktu 120 menit yang menghasilkan rendemen metil ester asam lemak sebesar 82,88% dengan kadar metil ester sebesar 98,67%, nilai angka asam sebesar 0,62 mgKOH/g, nilai angka penyabunan sebesar 204,20 mgKOH/g, dan kadar gliserol total sebesar 0,12%. Sukrosa ester asam lemak yang diperoleh memiliki nilai HLB sebesar 3,76 dengan nilai CMC didapatkan pada konsentrasi surfaktan sebesar 0,0125% dan nilai tegangan permukaan pada kondisi kritis sebesar 32,571 dyne/cm

    Pengaruh Ukuran Sampel, Frekuensi, dan Suhu terhadap Sifat Biolistrik Tebu (Saccharum officanarum L.) untuk Prediksi Cepat Rendemen Tebu

    Get PDF
    Abstrak Rendemen tebu umumnya ditetapkan berdasarkan nilai rendemen sementara (RS) yang tidak akurat dan rumit bagi petani. Pendugaan rendemen tebu dengan metode biolistrik, berpeluang dikembangkan menjadi solusi yang mudah, praktis, dan cepat. Akan tetapi belum terstandarnya teknik persiapan sampel untuk pengukuran sifat biolistrik tebu masih menjadi kendala. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan standar pengukuran sifat biolistrik dan memilih sifat biolistrik yang paling berkontribusi digunakan untuk prediksi rendemen tebu. Pengukuran biolistrik (impedansi, konstanta dielektrik, dan kapasitansi) dilakukan dengan variasi panjang sampel tebu, dan frekuensi pengukuran. Sebagai tambahan, pengaruh temperatur lingkungan juga dipertimbangkan sebagai faktor koreksi. Hasil pengukuran kemudian dibandingkan dengan metode konvensional pengukuran rendemen tebu. Dari hasil eksperimen direkomendasikan standar persiapan sampel tebu yakni dengan ukuran panjang 3 cm dan frekuensi pengukuran 1000 Hz untuk pengukuran sifat biolistrik tebu. Nilai kapasitansi berpengaruh nyata terhadap nilai rendemen direkomendasikan sebagai variabel untuk mengembangkan pengukuran cepat rendemen tebu. Kata kunci: Tebu, sifat biolistrik, metode dielektrik, pengukuran cepat, rendemen Abstract Sugarcane yield is commonly determined based on the first yield (RS) which is inaccurate and considered as a complex method for the farmer. Prediction of sugarcane yield with bioelectric method have a potential to be developed as an easy, handy, and quick solution. However, unstandardized sample preparation techniques to measure bioelectrical of sugarcane still become a problem. This research aim is to determine measurement standard for bioelectric properties and select the most important properties for sugarcane yield prediction. Bioelectric properties (impedance, dielectric constant, and capacitance) measurement was carried out with variation of sample length and measurement frequency. Additionally, the effect of ambient temperature also considered as a correction factor. The results then was compared with the conventional method. The result recommend a preparation standard of sugarcane sample length is 3 cm with measurement frequency of 1000 Hz to measure the bioelectrical properties of sugarcane. The capacitance value correlated significantly to the yield that is recommeded as variable to develop rapid measurement of sugarcane yield. Keywords: Sugarcane, bioelectrical properties, dielectric method, rapid measurement, yiel

    Pendugaan Rendemen Tebu Menggunakan Sifat Biolistrik dan ANN untuk Pengembangan Alat Ukur Cepat Rendemen Tebu

    No full text
    Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan sifat biolistrik pada berbagai ruas tebu dan waktu tunda giling serta hubungan sifat biolistrik dengan rendemen tebu menggunakan metode jaringan syaraf tiruan (ANN). Sifat biolistrik yang digunakan meliputi frekuensi, kapasitansi (C), impedansi (Z), dan konstanta dielektrik (k). Pada penelitian ini digunakan faktor ruas tebu (atas, tengah, dan bawah) dan waktu tunda giling (hari ke-0, 1, dan 2). Hasil riset menunjukkan bahwa ruas tebu bagian bawah memiliki nilai rendemen lebih besar dari bagian tebu lain. Rendemen semakin berkurang seiring waktu penundaan. Nilai kapasitansi dan konstanta dielektrik menurun seiring lama waktu penundaan. Topologi ANN terpilih adalah 4-40-30-1, dengan 4 node (frekuensi, kapasitansi, konstanta dielektrik, dan frekuensi) sebagai input layer, 40 node pada hidden layer ke 1 dan 30 node pada hidden layer ke-2, serta 1 node yakni rendemen sebagai output layer. Topologi jaringan terpilih memiliki akurasi 99,13% saat training dan 97,29% saat pengujian. Sifat biolistrik dan ANN dapat dikembangkan sebagai alat ukur cepat rendemen tebu

    Bioelectrical measurement for sugar recovery of sugarcane prediction using artificial neural network

    Get PDF
    One of the problems in the sugar industry is lack of low cost, simple and accurate measurement techniques for sugar recovery of sugarcane in the field or laboratory. This study investigated the potential using of bioelectrical properties as a non-destructive technique for this purpose. A parallel plate capacitor was developed to measure the bioelectric properties of sugarcane in a lateral and longitudinal position of the samples. Eighteen internode samples from 3 sugarcane varieties were measured within 0.1-10 kHz frequency range of LCR meter and then was analyzed sugar recovery in the laboratory. The result showed that in the lateral position are more capacitive and resistive than the longitudinal position. Artificial neural network (ANN) was developed for prediction of sugar recovery as a function of bioelectrical properties. The best ANN model produces a high accuracy in the lateral bioelectrical measurement position with a correlation coefficient (R) > 0.90 and mean square error (MSE) <; 0.05. It showed that the ANN model based on bioelectrical properties had the potential to be developed as a simple technique to predict the sugar recovery of sugarcane
    corecore