195 research outputs found

    ANALISIS KELAYAKAN AGROINDUSTRI NUGGET JAMUR TIRAM (Pleurotus ostreatus)

    No full text
    Nugget jamur tiram merupakan produk inovasi makanan yang tebuat dari jamur tiram. Produk ini tergolong produk baru di pasaran sehingga masih dibutuhkan evaluasi kajian kesukaan panelis terhadap rasa, aroma, warna, kekenyalan, dan keseluruhan produk serta analisis kelayakan ekonomi sehingga diharapkan produk baru ini dapat lebih dikenal dan digemari masyarakat, layak dijalankan sebagai bisnis yang lebih mendatangkan keuntungan, jangkauan pemasarannya luas dan daya jual produk menjadi lebih tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat penerimaan panelis terhadap produk nugget jamur tiram dengan varian rasio jamur tiram dan terigu, mengetahui sifat kimia nugget jamur tiram yang di sukai panelis, dan menganalisis tingkat kelayakan finansial usaha pengolahan nugget jamur tiram. Penelitian ini terdiri dari tiga tahap yaitu penentuan formulasi dan pembuatan nugget jamur tiram, pengujian organoleptik serta penentuan produk yang di sukai panelis berdasarkan uji organoleptik, dan analisis kandungan kimia serta analisis kelayakan finansial nugget terpilih. Terdapat 5 konsentrasi jamur tiram dan terigu yaitu 90%:10%; 80%:20%; 70%:30%; 60%:40%; dan 50%:50% dan dilakukan sebanyak 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan berdasarkan uji efektifitas, nugget jamur tiram yang memiliki tingkat penerimaan tertinggi terdapat pada nugget jamur tiram perlakuan P1 (90% jamur tiram: 10% terigu) dengan nilai 0,72. Sehingga, formulasi nugget jamur tiram yang tepat adalah nugget jamur tiram perlakuan P1 dengan nilai kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar protein, dan kadar karbohidrat berturut-turut adalah 62,84%; 2,88%; 4,69%; 40,61%; dan 23,85%. Selain itu, nugget jamur tiram perlakuan P1 layak untuk dijalankan dengan nilai NPV, B/C ratio, dan PBP berturut-turut sebesar Rp 2.544.625; 1,8; dan 3 bulan

    PERBANDINGAN MUTU KUE AYAS YANG TERBUAT DARI TEPUNG KETAN DENGAN

    No full text
    Kue ayas merupakan jajanan tradisional Indonesia yang terbuat dari tepung ketan, gula, garam, air. MOCAF (Modiffied Cassava Flour) merupakan produk tepung dari hasil fermentasi singkong menggunakan bakteri asam laktat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisik (tekstur dan kecerahan), tingkat kecernaan, tingkat kesukaan dan perlakuan terbaik kue ayas. Komposisi perlakuan kue ayas yang diberikan yaitu 0% (tanpa penambahan MOCAF), 10% (penambahan MOCAF 10%), 20% (penambahan MOCAF 20%), 30% (penambahan MOCAF 30%) dan 40% (penambahan MOCAF 40%). Parameter yang dianalisis pada penelitian ini adalah tekstur, kecerahan, kadar pati, RDS dan SDS (in vitro), uji kesukaan dan uji efektifitas. Analisis data menggunakan analisis sidik ragam pada taraf uji ≤ 5% dan adanya perbedaan dilanjutkan dengan uji BNT (beda nyata terkecil). Tekstur berkisar antara 14,75-22,5 g/5mm. Kecerahan berkisar antara 39,77-46,65. Tingkat kecernaan diukur secara in vitro dengan hasil kadar RDS dan SDS semakin menurun dengan semakin tinggi penambahan MOCAF. Penambahan MOCAF cenderung menurunkan tingkat kesukaan panelis terhadap kue ayas. Penambahan 30% MOCAF merupakan perlakuan terbaik dengan nilai 0,64 berdasarkan uji efektifitas

    PEMANFAATAN KACANG GUDE (Cajanus cajan L) UNTUK PEMBUATAN HIDROLISAT PROTEIN

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu hidrolisis terhadap sifat fisik, kimia dan ser.sorik Hidrolisat Protein Tempe Gude (H PTG) serta menentukan waktu yang optimal sehingga dihasilkan H PTG dengan sifat yang baik. Penelitian ini dilakukan dalam 2 Ia hap. T ahap pertama yaitu pembuatan tempe gude dan tahap kedua pembuatan hidrolisat protein. Analisa yang dilakukan meliputi pengukuran wama, kadar air, kadar protein terlarut, kelarutan, derajat keasaman, uji organoleptik wama, aroma, rasa dan kualitas, penentuan pertakuan terbaik dan uji organoleptik perbandingan rasa HPTG dengan MSG komersil. Hasil analisa menunjukkan bahwa lama hidrolisis berpengaruh terhadap sifat fisik warna, sifat kimia kadar air, kadar protein terlarut, total padatan terlarut dan pH. Pada sifat sensorik, berpengaruh sangat nyata terhadap wama, aroma dan rasa dan berpengaruh nyata pada kualitas Waktu hidrolisa yang terbaik adalah 2 jam karena dengan penambahan waktu berikutnya, perubahan yang te~adi pada parameter cenderung konstan dan uji organoleptik perbandingan HPTG dan MSG komersial menunjukkan bahwa rasa keduanya sangat berbeda

    PEMANFAATAN KACANG GUDE (Cajunus cajan L) UNTUK PEMBUATAN HIDROLISAT PROTEIN

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu hidrolisis terhadap sifat fisik, kimia dan sensorik Hidrolisat Protein Tempe Gude (HPTG) serta menentukan waktu yang optimal sehingga dihasilkan HPTG dengan sifat yang balk. Penelitian ini dilakukan dalam 2 tahap. Tahap pertama yaitu pembuatan tempe gude dan tahap kedua pembuatan hidrolisat protein. Analisa yang dilakukan meliputi pengukuran wama, kadar air, kadar protein terlarut, kelarutan, derajat keasaman, uji organoleptik wama, aroma, rasa dan kualitas, penentuan pertakuan terbaik dan uji organoleptik perbandingan rasa HPTG dengan MSG komersil. Hasil analisa menunjukkan bahwa lama hidrolisis berpengaruh terhadap sifat fisik warna, sifat kimia kadar air, kadar protein terlarut, total padatan terlarut dan pH. Pada sifat sensorik, berpengaruh sangat nyata terhadap wama, aroma dan rasa dan berpengaruh nyata pada kualitas. Waktu hidrolisa yang terbaik adalah 2 jam karena dengan penambahan waktu berikutnya, perubahan yang terjadi pada parameter cenderung konstan dan uji organoleptik perbandingan HPTG dan MSG komersial menunjukkan bahwa rasa keduanya sangat berbeda

    KARAKTERISASI HIDROLISAT PROTEIN IKAN WADER (Rasbora jacobsoni) SECARA ENZIMATIS DENGAN ENZIM PROTEASE DARI TANAMAN BIDURI (Calotropis gigantea)

    No full text
    Penggunaan MSG sebagai penyedap rasa oleh sebagian masyarakat telah melebihi dosis aman konsumsi yang berpotensi dapat mengganggu kesehatan. Salah satunya dapat memunculkan gejala seperti kesemutan, leher terasa panas, sesak dada dan pusing kepala yang disebut dengan istilah CRS (Chinese Restaurant Syndrome). Oleh karena itu, perlu adanya pengembangan mengenai pembuatan flavor enhancer alami yang aman dan bersifat multi fungsi bagi tubuh. Ikan wader merupakan jenis ikan air tawar yang keberadaannya cukup melimpah dan memiliki kandungan protein yang cukup tinggi yaitu 14,8% namun pemanfaatannya belum maksimal. Kandungan protein yang cukup tinggi pada ikan wader dapat dimanfaatkan untuk pembuatan hidrolisat protein ikan. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Mengetahui pengaruh konsentrasi enzim protease biduri dan variasi waktu hidrolisis terhadap sifat-sifat hidrolisat protein ikan wader, 2) Mengetahui kombinasi yang tepat antara konsentrasi enzim protease biduri dan lama hidrolisis sehingga dihasilkan hidrolisat protein dengan karakteristik yang baik. Peneitian ini dilakukan dengan membuat hidrolisat protein ikan dengan penambahan enzim protease biduri sebesar 1%, 2% dan 3% dari berat daging ikan hidrolisis dilakukan selama 0 jam; 1,5 jam dan 3 jam. Hidrolisat kering yang dihasilkan dilakukan analisis proksimat (kadar air, abu, lemak dan protein), kadar protein terlarut, maillard, tingkat ketengikan, total padatan terlarut, warna, daya buih dan stabilitas buih, serta daya dan stabilitas emulsi. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap faktorial, setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali ulangan. Data diolah dengan anava dan apabila terdapat perbedaan dilakukan uji lanjut BNT pada taraf 5%. ix Hasil penelitian menunjukkan bahwa Penambahan enzim protease biduri pada berbagai konsentrasi dan lama hidrolisis berpengaruh nyata terhadap kadar abu, kadar lemak, kadar protein terlarut, nilai produk maillard, tingkat ketengikan, total padatan terlarut, daya emulsi, stabilitas emulsi dan stabilitas buih, serta tidak berpengaruh nyata terhadap kadar air, warna serta daya buihnya. Hidrolisat protein ikan wader yang terbaik dihasilkan dari perlakuan B3T3 yaitu penambahan enzim protease biduri 3% dan lama hidrolisis 3 jam. Hidrolisat protein ikan wader yang dihasilkan mempunyai kadar air sebesar 8,15%, kadar abu 4,58% (db), kadar lemak 14,26% (db), kadar protein 65,84% (db), protein terlarut 65,90 mg/ml, produk maillard 1,64 , tingkat ketengikan 0,09 mmol/kg, warna (oHue) 74,01 , total padatan terlarut (oBrix) 12, daya emulsi 3,67 m2/g, stabilitas emulsi 163,49 jam, daya buih 258,02 dan stabilitas buih 24,02%

    KARAKTERISASI PRODUK SIRUP BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) DENGAN VARIASI RASIO DAGING DAN KULIT BUAH

    No full text
    Pasca pemetikan, buah naga yang tanpa memiliki cacat fisik hanya mampu memiliki masa simpan selama 10 sampai 14 hari disuhu ruang. Selebihnya buah naga akan mengalami proses pembusukan, yang akan merusak kondisi fisik serta kandungan gizi buah. Sedangkan kandungan gizi seperti protein, lemak, kalsium, fosfor, karbohdrat, vitamin, dan kandungan antioksidan pada kulit buah akan rusak seiring dengan proses pembusukan. Pembuatan sirup dari bahan dasar buah naga dengan variasi rasio daging dan kulitnya diharapkan dapat meningkatkan daya simpannya dan meningkatkan kandungan gizi sirup. Namun kedua faktor tersebut berpengaruh terhadap karakteristik sirup yang dihasilkan. Oleh karena itu perlu adanya penelitian mengenai pengaruh rasio daging dan kulit buah naga dalam pembuatan sirup. Tujuan dari penelitian ini adalah : 1) Mendapatkan formula sirup daging dan kulit buah naga yang baik berdasarkan kualitas organoleptik yang dapat diterima oleh konsumen. 2) Menentukan formula yang tepat pada sirup daging dan kulit buah naga merah. Rancangan percobaan penelitian mengunakan faktor variasi rasio daging dan kulit buah naga dalam pembuatan sirup buah naga merah. Variasi rasio daging dan kulit buah naga merah, yaitu P1 (90:10), P2 (70:30), P3 (50:50), P4 (30:70), dan P5 (10:90). Analisa produk sirup buah naga dimulai dengan melakukan Uji Organoleptik terlebih dahulu, untuk mendapatkan 3 formulasi terbaik sesuai tingkat kesukaan konsumen. Pengujian menggunakan 30 panelis untuk menilai organoleptik produk dengan parameter meliputi warna, aroma, rasa, dan keseluruhan. Setelah itu dilanjutkan analisisa lanjutan, seperti Uji pH, Viskositas, Kadar Vitamin C, dan Aktivitas Antioksidan. Sedangkan untuk mendapatkan perlakuan terbaik dari ketiga sampel dilanjutkan uji indeks efektivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk uji orgnoleptik tiga perlakuan terbaik dari uji organoleptik dengan parameter warna, rasa, aroma, dan keseluruhan yaitu sirup pada sampel P2 (70% daging : 30% kulit) dengan skor 3,5; P3 (50% daging : 50% kulit) dengan skor 3,43, dan P4 (30% daging : 70% kulit) dengan skor 3,67. Sedangkan sirup dengan perlakuan terbaik yitu produk sirup daging dan kulit buah naga merah pada formulasi P4, yaitu sirup yang tersusun atas 30% daging dan 70% kulit buah dengan karakterisik pH 4,08; viskositas 5,09; vitamin C 18,64; dan aktivitas antioksidan 22,91

    KARAKTERISTIK FISIK, KIMIA, DAN FUNGSIONAL FILLET IKAN WADER (Rasbora jacobsoni), BADER (Puintius javanicus), DAN PATIN (Pangasius hypophthalmus) AKIBAT DARI PERBEDAAN TEKNIK PREPARASI

    No full text
    Produksi perikanan tangkap dan budidaya Indonesia terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2010 tercatat jumlah produksi ikan air tawar sebanyak 2.763.222 ton, pada tahun 2013 meningkat menjadi 4.921.635 ton atau setara dengan 78 %. Peningkatan jumlah produksi ikan air tawar merupakan potensi bahan lokal yang perlu dikembangkan. Salah satu upaya untuk meningkatkan nilai tambah ikan air tawar adalah dengan memanfaatkannya sebagai bahan baku flavor enhancer. Ikan air tawar memiliki beberapa kelemahan seperti duri yang rapat, beraroma amis, dan berbau tanah serta bersifat high perishable (sangat mudah rusak). Untuk itu diperlukan teknik preparasi yang tepat guna memisahkan bagian-bagian ikan sehingga diperoleh fillet untuk memudahkan dalam proses selanjutnya. Teknik preparasi yang sering digunakan yaitu dengan cara fisik, mekanik, kimia, dan enzimatis. Ikan air tawar di Indonesia cukup beragam, ada beberapa ikan yang belum termanfaatkan dengan baik dan memiliki nilai ekonomi yang rendah diantaranya ikan wader, bader, dan patin. Ketiga jenis ikan air tawar tersebut memiliki morfologi yang berbeda-beda sehingga dalam teknik preparasinya perlu penanganan yang berbeda pula. Tujuan penelitian ini yaitu mendapatkan teknik preparasi ikan wader, bader, dan patin yang paling aplikatif dan tepat guna dalam proses fillet sehingga memudahkan proses selanjutnya pada pengolahan produk pangan. Empat teknik preparasi dilakukan pada ketiga jenis ikan air tawar dengan mendapatkan teknik preparasi terbaik yaitu menghasilkan rendemen terbanyak dan waktu proses fillet tercepat. Data yang diperoleh kemudian dianalisa secara deskriptif serta hasil pengamatan ditampilkan dalam bentuk tabel dan histogram. Fillet terbaik pada ikan wader, bader, dan patin adalah menggunakan teknik preparasi enzimatis yaitu dengan merendam ikan ke dalam larutan enzim papain dengan konsentrasi berturut-turut adalah 0,5%; 0,25%; dan 1,0%. Fillet ketiga jenis ikan air tawar ini kemudian diakukan analisa fisik, kimia, dan fungsional. Sifat fisik, kimia, dan fungsional fillet ikan air tawar dapat diketahui dari data berikut: nilai oHUE pada ikan wader, bader, dan patin berturut-turut adalah 34,8; 42,92; dan 37,51. Kadar protein ikan wader, bader, dan patin berturut-turut adalah 12,56%; 15,08%; dan 11,38%. Kadar air yang terdapat dalam fillet ikan wader, bader, dan patin berturut-turut adalah 77,39%; 72,65%; dan 76,81%. Hasil kadar abu pada fillet ikan wader, bader, dan patin berturut-turut adalah 0,85%; 0,96%; dan 1,02%. Kadar lemak yang dihasilkan berturut-turut adalah 9,1%; 7,6%; dan 18,3%. Data daya buih fillet ikan wader, bader, dan patin berturut-turut adalah 211,03%; 235,10%; dan 236,26%. Sedangkan stabilitas buih berturut-turut adalah 19,17%; 18,38%; dan 6,39%. Daya emulsi fillet ikan wader,bader, dan patin berturut-turut adalah 2,42%; 2,37%; dan 2,98%. Stabilitas emulsi berturutturut adalah 0,55%; 0,93%; dan 1,14%. Dari hasil perhitungan didapatkan nilai WAC untuk fillet ikan wader, bader, dan patin berturut-turut adalah 375,64%; 375,38%; dan 368,45%. nilai FAC berturut-turut adalah 48,64%; 32,20%; dan 67,33%. Ikan wader, bader, dan patin memiliki 15 jenis asam amino, enam diantaranya termasuk asam amino esensial yaitu histidine, methionine, phenylalanine, isoleusine, leusine, dan lisin yang baik dikonsumsi untuk manusia

    Foto-Oksidasi Pati Jagung Komersial Dan Non-Komersial Menggunakan Sinar Uv-C Dan Hidrogen Peroksida

    No full text
    Modifikasi pati dapat dilakukan juga dengan iradiasi UV dan asam. Penggunaan asam bersamaan dengan pemaparan sinar UV lebih efektif untuk mendegradasi pati. Namun metode tersebut belum pernah diujikan pada pati jagung komersial dan nonkomersial. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh iradiasi UV-C, oksidator H2O2 serta kombinasi iradiasi UV-C dan penggunaan oksidator H2O2 terhadap sifat fungsional pati jagung komersial dan non komersial. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode eksperimental. Pati jagung diberi perlakuan dengan menggunakan satu faktor yaitu metode oksidasi. Perlakuannya meliputi tanpa penambahan H2O2 1% dan tanpa penyinaran iradiasi UV-C selama 1 jam, dengan iradiasi UV-C, dengan penambahan H2O2 dan kombinasi iradiasi UV-C dan penambahan H2O2 yang dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan untuk setiap sampel dengan jenis pati jagung berbeda yaitu komersial dan non komersial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pati jagung termodifikasi akan menghasilkan pati dengan ukuran nano dengan perlakuan penambahan oksidator H2O2 1% serta kombinasi penyinaran iradiasi UV-C 1 jam dan penambahan oksidator H2O2 1%. Pati jagung komersial memiliki pH yang lebih tinggi dibandingkan pati nonkomersial. Nilai WHC, OHC dan solubility semakin dengan penambahan oksidator H2O2 1%, sedangkan nilai swelling semakin dengan penambahan oksidator H2O2 1%. Nilai swelling pati jagung tanpa penyinaran dan oksidator 11,33 g/g untuk komersial dan 8,93 g/g untuk nonkomersial, sedangkan pati jagung dengan kombinasi penyinaran dan oksidator hasilnya 4,37 g/g untuk komersial dan 4,67 g/g untuk nonkomersia

    KARAKTERISTIK MUTU FISIKOKIMIA DAN SENSORIS BAKSO IKAN MUJAIR (Oreochromis mossambicus) DENGAN PENAMBAHAN SAGU DAN RUMPUT LAUT (Eucheuma cottoni)

    No full text
    Bakso pada umumnya terbuat dari bahan utama daging sapi, namun saat ini daging sapi harganya relatif mahal, maka dapat memanfaatkan ikan mujair pada pembuatan bakso sebagai alternatif sumber protein yang murah. Pembuatan bakso membutuhkan bahan pendukung yaitu bahan pembentuk tekstur seperti sagu sebagai filler dan rumput laut sebagai pengenyal alami. Baik ikan mujair, sagu maupun rumput laut pemanfaatannya masih kurang sehingga perlu adanya sentuhan teknologi pengolahan untuk meningkatkan nilai ekonomis bahan pangan tersebut, dengan cara diversifikasi produk. Salah satu bentuk produknya ialah bakso yang termasuk hasil olahan pangan yang populer di kalangan masyarakat hingga kini. Bakso yang banyak digemari memiliki karakteristik yang kenyal serta cita rasa yang baik. Penelitian ini menggunakan bahan baku ikan mujair, dengan penambahan sagu dan rumput laut sebagai bahan pengisi dan pengenyal alami, namun belum diketahui pengaruhnya terhadap bakso yang dihasilkan. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian mengenai karakteristik mutu fisikokimia dan sensoris bakso ikan mujair dengan penambahan sagu dan rumput laut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh rasio penambahan sagu dan rumput laut terhadap karakteristik mutu fisikokimia dan sensoris bakso ikan mujair. Serta mengetahui proporsi yang tepat pada pembuatan bakso ikan mujair dengan rasio penambahan sagu dan rumput laut

    Aktivitas Antioksidan Hidrolisat Protein PRF (Protein Rich Flour) Koro Pedang (Canavalia ensiformis L.) Hasil Hidrolisis Menggunakan Protease Biduri (Calotropis gigantea)

    No full text
    Antioksidan didefinisikan sebagai senyawa yang menghambat oksidasi dengan cara bereaksi dengan radikal bebas reaktif membentuk radikal bebas stabil. Senyawa antioksidan alami telah banyak diidentifikasi dari bahan pangan nabati misalnya kedelai atau hidrolisat protein dari bahan pangan nabati tertentu yang mengandung senyawa bioaktif peptida. Produk hidrolisat terbukti menunjukkan potensi sebagai antioksidan. Selain hidrolisat protein ikan, hidrolisat protein dari tanaman atau nabati juga telah banyak di teliti sebagai sumber antioksidan. Hidrolisat protein pada penelitian ini diperoleh dari proses hidrolisis enzimatis menggunakan getah tanaman biduri yang merupakan salah satu produk lokal dengan kandungan enzim protease yang dapat mengkatalisa reaksi pemecahan rantai polipeptida pada protein. Hidrolisat protein nabati bisa didapatkan dari koro pedang yang mempunyai kandungan protein cukup tinggi. Tingginya kandungan protein pada koro pedang dapat digunakan sebagai bahan dasar dari pembuatan Protein Rich Flour (PRF) atau tepung kaya protein. PRF dapat dimanfaatkan karena memiliki potensi untuk di produksi sebagai hidrolisat protein yang mempunyai aktivitas antioksidan. Masih terbatasnya informasi dan pemanfaatan PRF koro pedang sebagai sumber antioksidan alami, mendorong dilakukannya penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh konsentrasi enzim dan lama hidrolisis terhadap aktivitas antioksidan dari hidrolisat PRF yang dihidrolisis menggunakan protease biduri. Pengaruh tersebut meliputi kadar protein, derajat hidrolisis, berat molekul, komposisi asam amino, aktivitas antioksidan yang terdiri dari Radical Scavenging Activity, IC 50 dan Reducing Power. Rancangan penelitian ini menggunakan dua faktor, faktor A adalah lama hidrolisis dan faktor B adalah penambahan konsentrasi enzim biduri. Proses pembuatan hidrolisat protein PRF koro pedang di awali dengan perendaman biji koro selama 3 hari, penghancuran, pengendapan protein di titik isoelektrik, pengovenan dan pengayakan. PRF koro pedang dalam bentuk bubuk kemudian di hidrolisis suhu 55 0 C dengan lama hidrolisis dan penambahan konsentrasi enzim biduri sesuai perlakuan. Hidrolisat basah yang diperoleh dikeringkan dengan metode kering beku yaitu freeze drying dan dianalisis kadar protein, derajat hidrolisis, distribusi berat molekul, komposisi asam amino dan aktivitas antioksidan. Hasil penelitian menunjukkan kadar protein hidrolisat PRF koro pedang antara 39,067-70,436%. Nilai derajat hidrolisis antara 9,034-30,421%. Distribusi berat molekul hidrolisat PRF digunakan sampel perlakuan terbaik yaitu pada sampel dengan penambahan konsentrasi enzim 3% dan lama hidrolisis 3 jam yaitu antara 18,07-127,35 kDa. Kompisisi asam amino hidrolisat protein koro pedang menghasilkan 15 asam amino dan nilai asam amino paling tinggi yaitu asam glutamat sebesar 11,05%. Nilai %RSA (Radical Scavenging Activity) hidrolisat menghasilkan nilai antara 7,932-14,690 %, nilai IC 50 pada sampel perlakuan terbaik adalah 3218,220 ppm dapat menghambat (%RSA) >50% radikal bebas DPPH. Nilai reducing power hidrolisat PRF koro pedang antara 0,182-0,219
    corecore