1,720,964 research outputs found
Analisis Konstruksi Maskulinitas dalam Tradisi Priester Menurut Eksistensialisme Kierkegaard
Maskulinitas merupakan sebuah konstruksi sosial terhadap laki-laki, yang digunakan untuk melestarikan posisi, dominasi, dan kekuasaan laki-laki. Tradisi Priester, yang berkembang setelah peristiwa pembuangan bangsa Yehuda ke Babilonia merupakan salah satu bentuk hegemoni agama yang menggunakan konsep maskulinitas untuk melegitimasi kekuasaan imam-imam Bait Suci II atas realitas keagamaan Yahudi. Selain itu, bertujuan untuk menegaskan kembali keberadaan Yehuda sebagai bangsa yang kuat dan berkuasa melalui penggambaran maskulinitas Allah. Hegemoni agama melegitimasi maskulinitas sehingga ketidakmampuan untuk memenuhi ekspektasi sosial ini akan mempengaruhi pembentukan citra diri yang negatif dalam pandangan masyarakat. Realitas ini dialami oleh laki-laki feminin yang kehilangan kehilangan eksistensinya. Laki-laki feminin menjadi anonim dan cenderung untuk menjalani dua kehidupan yang tidak selaras, yakni kehidupan batiniahiah dan publik. Namun, perlu dipahami jika maskulinitas adalah hasil kebudayaan yang bergerak dalam sejarah peradaban manusia, sehingga mengalami berbagai perubahan paradigma. Maskulinitas perlu dimaknai kembali sebagai sebuah kebenaran yang bersifat subjektif yang tidak diikat oleh ideologi hegemoni karena manusia pada dasarnya memperoleh ruang untuk menempatkan diri sebagai manusia merdeka dalam menentukan pilihan, pikiran dan tindakannya, tetapi pada posisi yang sama bertanggung jawab penuh terhadap keputusannya
Tradisi Ba'do Katupat sebagai Ruang Dialog Islam-Kristen (Kajian Sosio-Teologis terhadap Masyarakat Jawa-Tondano)
Perjumpaan antaragama di Kampung Jawa-Tondano merupakan salah satu gambaran pluralitas masyarakat Indonesia. Instrumen budaya dan tradisi mengambil andil yang penting dalam mewujudkan keharmonisan masyarakat yang di dalamnya tercipta ruang-ruang dialog. Penelitian ini bertujuan untuk melihat tradisi Ba’do Katupat menjadi media dialog Islam-Kristen dengan kajian sosio-teologis. Penelitian ini dilakukan secara deskriptif dengan menggunakan metode kualitatif. Data penelitian diperoleh melalui teknik wawancara terhadap masyarakat Kampung Jawa-Tondano diantaranya tokoh agama, sejarahwan dan tua-tua Kampung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui tradisi Ba’do Katupat perjumpaan antara masyarakat Jawa Tondano yang beragama Islam dan masyarakat Minahasa yang beragama Kristen menciptakan dialog aksi yakni dialog yang mengedepankan relasi, komunikasi dan prinsip persaudaraan. Melalui dialog aksi tersebut percakapan-percakapan yang terjadi berfokus pada masalah-masalah keseharian yang digumuli bersama, ketertarikan terhadap hal yang sama serta pembicaraan yang bermuara pada solusi-solusi untuk menangani masalah-masalah yang ada. Percakapan ini menjunjung tinggi rasa saling menghargai dan menghormati tanpa sekalipun menyinggung isu SARA atau dogma agama
Tinjauan Psiko-Teologis terhadap Pengalaman Traumatik Seksual dan Panggilan Menjadi Pendeta
Pada umumnya, pelecehan seksual dapat mengakibatkan perasaan rendah diri dan terhina bahkan trauma bagi individu yang mengalaminya. Pengalaman traumatik akibat pelecahan seksual akan memengaruhi seseorang ketika menjalani peran tertentu di masyarakat, misalnya pendeta. Ketika jemaat menginginkan sosok pendeta yang bermutu, tidak bercela dan memiliki nama baik tetapi keinginan ini bertentangan dengan diri individu yang pernah mengalami pelecehan seksual dan dianggap sebagai seseorang yang sudah hancur, tidak berdaya dan buruk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh pengalaman traumatik seksual terhadap keputusan seseorang untuk menjadi pendeta. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan desain studi kasus ditinjau secara fenomenologis. Data tersebut diambil melalui teknik wawancara terhadap partisipan yang merupakan seorang pendeta yang mengalami pelecehan seksual. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini yaitu pelecehan seksual di masa anak-anak yang dialami oleh partisipan mengakibatkan pengalaman traumatik seksual. Hal ini memengaruhi berbagai aspek kehidupan partisipan termasuk keputusan untuk menjadi seorang pendeta. Kepercayaannya kepada Tuhan serta dukungan dari orangtua dan lingkungan sekitarnya membuat partisipan dapat menyelesaikan pengalaman traumatiknya dan menjadikan pengalaman traumatik tersebut sebagai sumber kekuatannya untuk menguatkan jemaat. Kesimpulan dari penelitian ini ialah pengalaman traumatik seksual memiliki pengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan seperti fisik, mental dan spiritual. Di samping itu, dukungan dari orangtua ataupun lingkungan sekitar serta kepercayaan kepada Tuhan telah memengaruhi respon partisipan dalam menghadapi trauma yang dialaminya
Tinjauan Etis-Teologis terhadap Legalisasi Ganja dalam Kampanye Komunitas Lingkar Ganja Nusantara
Tanaman ganja bagi Negara Indonesia masih dipandang tidak memiliki manfaat sama sekali, dalam bermasyarakat pengguna beserta pengedar medapatkan stigma tidak baik atau berdosa. Pandangan tersebut dibantahkan oleh Lingkar Ganja Nusantara, pendapat LGN terdapat manfaat yang baik di dalam tanaman ganja.Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana tinjauan etis teologis terhadap upaya legalisasi ganja dalam kampanye komunitas lingkar ganja nusantara? Tujuan penelitian untuk mengetahui dan menjelaskan bagaimana tinjauan etis teologis melalui pendekatan sebagian tokoh etika Kristen terhadap upaya legalisasi ganja melalui komunitas lingkar ganja nusantara. Hasil dari penelitian etika kristen memiliki pandangan bahwa manusia sendiri yang perlu mengelola dirinya tentang apa yang dikonsumsi kedalam tubuhnya sendiri, bukan tanaman ganja yang dipersalahkan tetapi tata kelola ketika ingin memanfaatkan tanaman ganja, tidak baik ketika tanaman ganja digunakan berlebihan menjadikan seseorang kecanduan, kecanduan yang memiliki pandangan duniawi bisa mengarah kepada gula dan alkohol bukan hanya tanaman ganja. Masuknya tanaman ganja dalam UU Narkotika golongan 1 dengan mudah memandang tidak etis dan bermoral untuk menggunakan tanaman ganja bagi kesehatan, tetapi LGN mencoba mengedukasi dengan penemuan artikel dan jurnal tentang pemanfaatan tanaman ganja untuk pengobatan. Pandangan Alkitab bagi tanaman sudah menjadi budaya termasuk daerah Timur, terkhususnya tanaman ganja memiliki akar kata yang sudah ada sebelum masehi sehingga kata tersebut ada dalam bahasa ibrani perjanjian lama. Berbagai macam penemuan dirangkum oleh LGN dalam sebuah buku bergerak secara terbuka di peraturan Undang-Undang membuat LGN dapat merangkul berbagai elemen masyarakat dan mengedukasi tanpa melanggar kode etik dan norma hukum yang ada di Indonesia
Analisis Taksonomi Bloom terhadap Kurikulum Katekisasi GPIB
Pengajaran Katekisasi GPIB merupakan kegiatan Pembinaan Warga Gereja (PWG). Gereja diberi mandat oleh Allah untuk menghantar peserta didik katekisasi menuju kepada pemahaman dan pengenalan akan Kristus. Dalam perjalanan mencapai tujuan tersebut, peserta katekisasi diwajibkan untuk mengikuti kelas katekisasi yang diselenggarakan oleh gereja. Dalam kelas katekisasi, disediakan satu buku pedoman sebagai pegangan pengajar dan peserta didik. Buku pedoman tersebut memuat kurikulum yang telah dibuat dan disepakati dalam Persidangan Sinode. Penulis dalam hal ini hendak menganalisis 8 kurikulum GPIB terhadap taksonomi Bloom dengan tujuan meningkatkan kualitas kurikulum dan pengajaran katekisasi di dalam kelas katekisasi. Taksonomi Bloom memuat tingkatan-tingkatan berpikir mulai dari yang terendah hingga tertinggi. Tingkatan- tingkatan tersebut dimulai dari mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, menilai, dan menciptakan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis dengan pendekatan kualitatif. Metode ini digunakan untuk mendeskripsikan kurikulum katekisasi kemudian menganalisis dengan teori Taksonomi Bloom untuk dijadikan bahan acuan kurikulum katekisasi kedepannya. Dari hasil analisis, kurikulum katekisasi secara keseluruhan sudah baik namun belum sistematis menurut taksonomi Bloom. Kurikulum katekisasi yang memuat tujuan-tujuan pembelajaran khusus belum sepenuhnya sampai pada tahap tertinggi dalam taksonomi Bloom melainkan hanya sampai pada tahaptahap awal saja
Studi Komparasi tentang Paradigma Perbudakan Menurut Kodeks Hammurabi dan Abdi Dalem Keraton Yogyakarta
Perbudakan adalah salah satu institusi tertua dan masih terus memodifikasi bentuknya. Ketika budak dianggap sebagai properti majikan yang nilai hidupnya tidak berharga, Kodeks Hammurabi dan Abdi Dalem Keraton Yogyakarta memberikan paradigma baru bahwa budak adalah manusia yang diakui hak hidupnya. Tulisan ini mencoba mengomparasikan paradigma perbudakan di dalam Kode Hammurabi dan Abdi Dalem Keraton Yogyakarta. Tulisan ini menggunakan pendekatan yang bersikap deskriptif-kualitatif yang menjelaskan persamaan dan perbedaan paradigma perbudakan dalam Kode Hammurabi dan Abdi Dalem Keraton Yogyakarta. Tulisan ini menemukan bahwa keberadaan kekuatan Ilahi sangat berpengaruh terhadap terciptanya perbudakan. Akan tetapi terkait struktur sosial, Kode Hammurabi dan Abdi Dalem memiliki paradigma yang berbeda. Karena di Babilonia Kuno budak berada di dalam struktur terendah, maka mereka harus dilindungi undang-undang. Sedangkan dalam konteks Keraton Yogyakarta, Abdi Dalem adalah aparatur sipil dan penjaga budaya
Pemahaman Ketuhanan Penutur Syair Natoni Masyarakat Amanuban di Gereja Masehi Injili di Timor Jemaat Imanuel Oenali
Pemahaman ketuhanan ialah suatu gagasan manusia untuk mengetahui, memaknai dan merefleksikan Tuhan dari realita yang dialami manusia berkaitan dengan transendensi dan imanensi dari yang Ilahi. Atoni Pah Meto mengalami dan memaknai serta mengetahui Tuhan dengan sebutan Usi. Usi memperkenalkan dirinya melalui tiga pribadi sebagai Usi Neno, Usi Pah dan juga Usi pala. Secara sederhana Usi hadir dalam sejarah dan budaya suku Atoni melalui praktik-praktik budaya yang mereka lakukan salah satunya natoni . Natoni atau kegiatan menuturkan bahasa kiasan secara bersahut-sahutan dituturkan oleh seseorang yang disebut a tonis, menjadi unik karena tidak semua masyarakat Timor dapat menjadi a tonis dan juga syair yang dituturkan oleh a tonis tidak pernah dipelajari secara formal dalam bangku pendidikan. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami tentang pemahaman ketuhanan a tonis di GMIT Jemaat Imanuel Oenali berkaitan dengan kemampuannya menuturkan natoni dengan menggunakan kajian teori ketuhahanan dan sastra-agama terhadap pamahaman dan perasaan a tonis serta hubungannya dengan syair sebagai karya sastra-agama. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, penelitian ini membuktikan bahwa a tonis memaknai, dan memahami serta merasakan Tuhan melalui setiap kata dan tindakan yang ia tuturkan. Syair yang dituturkan merupakan sebuah perwujudan wahyu Allah kepada a tonis untuk mengungkapkan maksud dan tujuan dari satu ritual serta mengajarkan kepada semua peserta tentang cinta kasih serta rasa hormat yang harus dijunjung tinggi kepada sesama manusia, alam dan juga kepada Tuhan. Syair sebagi karya sastra agama berfungsi sebagi doa untuk mengungkapkan perasaan, gagasan, dan peran moral dari suatu ritual yang sedang dilaksanakan. Dengan demikian, GMIT terkhususnya Jemaat Imanuel Oenali yang terlibat dalam pelaksanaan natoni dan menjadikan a tonis sebagai pelayan gerejawi seharusnya turut aktif dalam mendalami dan memperkenalkan cinta kasih Tuhan melalui natoni
Analisis Filsafat Moral Imperatif Kategoris terhadap Kehadiran Jemaat dalam Ibadah Minggu di GMIM Sion Tounelet
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kehadiran jemaat dalam ibadah minggu di GMIM Sion Tounelet, dengan konteks sosio-kultural jemaat yang hidup di daerah yang dikenal religius dan satu-satunya daerah Kristen di tanah Minahasa. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan filsafat moral imperatif kategoris Immanuel Kant, yang dipandang tepat untuk menganalisis moralitas beribadah jemaat. Penggunaan pendekatan kualitatif dalam penelitian dipilih dalam rangka mendeskripsikan, menganalisis dan menginterpretasikan fenomena yang terjadi. Teknis pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawacara kepada 13 orang, termasuk di dalamnya anggota jemaat, penatua, syamas dan pendeta. Hasil penelitian menunjukkan, jemaat GMIM Sion Tounelet memahami ibadah minggu sebagai suatu hal yang tidak bisa ditinggalkan. Melalui kesaksian Alkitab sebagai dasar pemahaman jemaat, membuat jemaat menganggap bahwa ibadah minggu memiliki posisi yang penting dalam kehidupan. Inilah yang mengakibatkan jemaat sering merasa tidak enak, tidak nyaman dan tidak tenang jika melewatkan ibadah minggu. Bahkan merasa terbeban sampai tidak mau menampakkan diri di hadapan orang lain. Hal yang terjadi adalah keinginan untuk beribadah tidak didasari atas kehendak pribadi jemaat atau demi kewajiban dalam dirinya, tetapi hanya untuk memenuhi panggilan dan menyenang orang lain. Seharusnya pemahaman yang benar terhadap kehadiran dalam ibadah, adalah penentu suatu kehidupan yang bermoral, yang mendatangkan kebaikan dan bermanfaat bagi jemaat. Tidak hanya melihat dari segi tradisi keagamaan atau rutinitas, tetapi menghayati ibadah sebagai bentuk penyataan Allah dan tanggapan manusia
Sampah dan Dialog Lintas Agama: Tinjauan Etis-Praktis Knitter terhadap Kelompok Pelangi Mentas
Tujuan penelitian ini adalah menjawab rumusan masalah yaitu bagaimana pengolahan sampah oleh Kelompok Pelangi Mentas dapat menjadi jembatan etis-praktis bagi relasi lintas agama di Dusun Getas, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang. Kelompok Pelangi Mentas adalah kelompok masyarakat pertama di Dusun Getas yang mengajak masyarakat berbeda agama untuk berpartisipasi dalam kegiatan pengolahan sampah. Penelitian ini menggunakan teori jembatan etis-praktis dan tanggung jawab global Paul F. Knitter. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif untuk memahami fenomena dalam konteks sosial. Setelah melakukan penelitian, penulis menemukan bahwa Kelompok Pelangi Mentas membuka dan menjadi ruang dialog etis-praktis yang bertanggung jawab global bagi masyarakat lintas agama di Dusun Getas. Dialog etis-praktis Kelompok Pelangi Mentas ini dibangun atas dasar tanggung jawab global terhadap lingkungan khususnya keprihatinan terhadap sampah
Konsep Ketuhanan dalam Pemikiran Fritjof Capra dan Signifikansinya bagi Ekoteologi
Paradigma manusia modern dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan tafsiran dogma agama; hal itu telah membawa perubahan secara fundamental dalam seluruh aspek kehidupan manusia saat ini. Perubahan tersebut ditandai dengan berbagai persoalan kehidupan manusia seperti krisis dan bencana lingkungan yang berlangsung dasawarsa ini. Bukti-bukti krisis dan bencana lingkungan adalah dengan kerusakan tanah, hilangnya salinitas tanah, penggundulan hutan, pemanasan global akibat penggunaan rumah kaca, dan kerusakan ekosistem lainnya. Untuk mengatasi persoalan itu, diperlukan paradigma berpikir baru berkaitan dengan lingkungan sekarang ini. Fritjof Capra dapat memberikan sumbangsi pembentukan pemikiran atau sebuah paradigma yang baru tentang lingkungan yaitu dengan memandang alam secara holistik. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif dengan melakukan studi pustaka untuk menelusuri karya-karya Capra yang berkaitan dengan persoalan lingkungan. Di akhir tulisan ini, penulis menemukan pemikiran Capra yang mendukung perbaikan lingkungan yaitu konsep ketuhanan dengan melihat seluruh organisme yang ada di dalam alam semesta saling terkait dengan yang lainnya atau hubungan/relasi yang saling menguntungkan antara manusia, alam dan Pencipta
- …
