2,071 research outputs found

    KADAR TIMBAL DALAM DARAH DAN KEBIJAKAN PENCEGAHAN PADA PENGEMUDI LYN TV DI KOTA SURABAYA

    No full text
    Timbal merupakan salah satu polutan udara yang memiliki dampak bagi kesehatanmanusia. Penggunaan timbal masih dapat dijumpai sebagai penambah nilai oktan padabahan bakar, meskipun dengan jumlah yang sangat terbatas. Pengemudi merupakan salahsatu kelompok yang terpapar oleh pajanan timbal dan karena sifatnya yang memilikiwaktu paruh lama, timbal dalam darah dapat terakumulasi pada tulang dan memberikandampak kesehatan yang buruk. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kadartimbal dalam darah responden dan mengkaji kebijakan organisasi dalam upayapencegahan terhadap paparan timbal. Jenis penelitian ini adalah deskriptif observasionaldengan rancang bangun cross sectional. Unit analisis penelitian ini adalah seluruhpengemudi lyn TV Kota Surabaya dengan sampel sejumlah 29 responden. Hasil penelitianmenunjukkan kadar Pb darah responden lebih banyak terdistribusi pada ≤ 10 µg/dldengan persentase 72,4%. Distribusi rerata nilai kadar Pb dalam darah responden (8,74 ±1,80 µg/dl) memiliki nilai minimum sebesar 5,480 µg/ dl dan 11, 784 µg/ dl pada nilaimaksimumnya atau berkisar pada nilai rata-rata 8,7428 µg/ dl. Selain itu belum adanyaupaya di organisasi untuk mengurangi paparan timbal bagi pengemudi sehingga perludiadakan tindakan pencegahan dengan pemeriksaan kesehatan minimal 6 bulan sekali. Kata Kunci: timbal, kebijakan, pencegahan, pengemud

    ASPEK KOGNITIF DAN AFEKTIF MASYARAKAT TERHADAP MANAJEMEN PELAYANAN KIA DI KABUPATEN JEMBER

    No full text
    Jember is one of the districts with high MMR (102/100.000 live births) and IMR (23/1000 live births) at 2015 in East Java. This indicates that the service utilization Antenatal Care (ANC) in the existing health care facilities in Jember still not optimal. Most of the causes of health care utilization that occurred in the community affected by the behavior of the model of society in choosing and utilizing the health service. Identify the distribution of respondents' knowledge and attitudes about the MCH services. The study is a descriptive observational study with cross sectional design. The unit of analysis of this study is the entire women who have earned MCH services, with a sample of 29 respondents. Respondents assess the health services provided are good (96.6%), whereas the components of MCH services, materials and medicine, counseling, care of infants and toddlers and the availability of staff each got a good assessment of 96.6%, laboratory services and physical facilities laboratory respectively 65.5% and 69%. In the knowledge about the treatment of infants, children and infants, respondents is low include the treatment itself against infant diarrhea (69%) and supplementary feeding after 6 months (72.4%).Keywords: cognitive, affective, management, MCH service

    Kajian Keterlambatan Pengajuan Klaim Pelayanan Rawat Jalan Pasien Bpjs Kesehatan Di Rsud Blambangan Tahun 2017

    No full text
    Program Jaminan Kesehatan yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan merupakan bentuk tanggungjawab dari pemerintah untuk menjamin seluruh rakyat agar dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. Rumah sakit sebagai FKRTL bekerjasama dengan BPJS untuk memfasilitasi masyarakat dalam mengakses pelayanan kesehatan. BPJS membayar menggunakan sistem paket INA-CBGs pada FKRTL. Rumah sakit mengajukan klaim kepada BPJS paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya dan pihak BPJS Kesehatan wajib membayar paling lambat 15 hari kerja sejak dokumen klaim diterima. RSUD Blambangan sebagai rumah sakit kelas B selalu mengalami keterlambatan dalam pengajuan klaim karena banyaknya kasus. Pada pelayanan rawat jalan per satu tanggal pelayanan mencapai 400-500 kasus dan pengumpulan berkas klaim harus dikumpulkan setelah jam pelayanan selesai atau pada hari itu juga. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengkaji faktor keterlambatan pengajuan klaim pelayanan rawat jalan pasien BPJS Kesehatan di RSUD Blambangan Tahun 2017 dilihat dari faktor input, proses dan output. Jenis penelitian ini tergolong dalam penelitian studi kasus dengan pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk mengkaji keterlambatan pengajuan klaim rawat jalan pasien BPJS Kesehatan. Pengambilan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam ke kepala unit administrasi klaim, kepala bidang keuangan, petugas loket klaim, petugas koding, petugas verifikator Rumah Sakit/petugas grouping, tim antifraud, petugas verifikator BPJS dan petugas rekam medis. Instrumen yang digunakan dalam pengambilan data yaitu lembar panduan wawancara mendalam. Analisis data dilakukan secara deskriptif tanpa melakukan uji data statistik. Hasil dari penelitian ini pada variabel input diketahui bahwa sumber daya manusia pada pengelolaan klaim di RSUD Blambangan Banyuwangi pada bagian koding, grouping, dan verifikator BPJS Kesehatan masih terbatas dan sebagian besar petugas belum pernah mendapatkan pelatihan. SOP hanya berupa alur proses pengajuan klaim, software INA-CBGs yang digunakan dalam proses klaim masih sering mengalami server down. Pada variabel proses diketahui hambatan pada proses pengelolaan klaim pelayanan rawat jalan di RSUD Blambangan berupa keterlambatan penyerahan berkas klaim dari poli ke bagian loket klaim, tulisan dokter atau perawat yang tidak jelas serta proses pengecekan koding dilakukan secara manual sehingga butuh waktu yang lama, proses verifikasi data txt file kadang tidak bisa dibuka dan rumah sakit terlambat menyerahkan berkas kepada verifikator BPJS Kesehatan atau pengajuannya melebihi tanggal 10 setiap bulannya. RSUD Blambangan terlambat dalam mengajukan klaimnya karena adanya miskoordinasi internal tim. Kadang-kadang terjadi ketidaksesuaian jumlah kasus dengan berkas klaim yang akan diajukan. Ketidaksesuaian jumlah tersebut dikarenakan berkas hilang terbawa pulang pasien. Pengajuan klaim rawat jalan tidak pernah ditolak oleh BPJS Kesehatan, namun terjadi claim pending setiap bulannya. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, peneliti menyarankan pada pengajuan klaim pelayanan rawat jalan di RSUD Blambangan, perlu dilakukan analisis beban kerja sebagai dasar penambahan SDM khususnya pada coder, petugas grouping, dan verifikator BPJS. Mengadakan pelatihan bagi semua petugas klaim guna meningkatkan kompetensi petugas. Untuk mengatasi server down diperlukan peningkatan dan perbaikan sarana prasarana terutama jaringan internet di RSUD Blambangan serta perlu pembuatan SOP pengisian resume medis kelengkapan berkas klaim untuk dokter dan perawat di tiap poli agar tidak lagi terlambat dalam menyetorkan berkas klaim ke bagian loket klaim. Selain itu, peneliti juga menyarankan kepada BPJS Kesehatan segera melakukan sosialisasi kepada FKRTL jika terdapat kebijakan baru mengenai klaim dan hendaknya membayar FKRTL sesuai dengan kesepakatan dan ketentuan yang berlaku

    KADAR TIMBAL DALAM DARAH DAN KEBIJAKAN PENCEGAHAN PADA PENGEMUDI LYN TV DI KOTA SURABAYA

    No full text
    Timbal merupakan salah satu polutan udara yang memiliki dampak bagi kesehatan manusia. Penggunaan timbal masih dapat dijumpai sebagai penambah nilai oktan pada bahan bakar, meskipun dengan jumlah yang sangat terbatas. Pengemudi merupakan salah satu kelompok yang terpapar oleh pajanan timbal dan karena sifatnya yang memiliki waktu paruh lama, timbal dalam darah dapat terakumulasi pada tulang dan memberikan dampak kesehatan yang buruk. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kadar timbal dalam darah responden dan mengkaji kebijakan organisasi dalam upaya pencegahan terhadap paparan timbal. Jenis penelitian ini adalah deskriptif observasional dengan rancang bangun cross sectional. Unit analisis penelitian ini adalah seluruh pengemudi lyn TV Kota Surabaya dengan sampel sejumlah 29 responden. Hasil penelitian menunjukkan kadar Pb darah responden lebih banyak terdistribusi pada ≤ 10 µg/dl dengan persentase 72,4%. Distribusi rerata nilai kadar Pb dalam darah responden (8,74 ± 1,80 µg/dl) memiliki nilai minimum sebesar 5,480 µg/ dl dan 11, 784 µg/ dl pada nilai maksimumnya atau berkisar pada nilai rata-rata 8,7428 µg/ dl. Selain itu belum adanya upaya di organisasi untuk mengurangi paparan timbal bagi pengemudi sehingga perlu diadakan tindakan pencegahan dengan pemeriksaan kesehatan minimal 6 bulan sekali

    Analisis Paparan Kadar Debu Dengan Kapasitas Vital Paru Pada Pekerja Mebel Informal (Studi Di Desa Rambigundam Kecamatan Rambipuji Kabupaten Jember)

    No full text
    Industri pengolahan kayu membutuhkan energi dan penggunaan bahan baku alami yang besar. Proses fisik pengolahan bahan baku untuk dijadikan mebel cenderung menghasilkan polusi seperti partikel debu kayu. Industri mebel tersebut berpotensi menimbulkan polusi udara di tempat kerja yang berupa debu kayu. Debu kayu ini akan mencemari udara dan lingkungannya sehingga pekerja industri mebel dapat terpapar debu karena bahan baku, bahan antara ataupun produk akhir. Bahan pencemar tersebut dapat berpengaruh terhadap kapasitas vital paru. Kapasitas vital paru (KVP) adalah total jumlah udara maksimum yang dapat dikeluarkan dengan kuat setelah inspirasi maksimum. Kapasitas vital paru didapatkan dari penambahan tidal volume (TV), volume cadangan inspirasi (VCI) dan volume cadangan ekspirasi. Pengukuran KVP dapat memberikan informasi mengenai besarnya penyimpangan atau penurunan nilai yang dapat menentukan paru seseorang dalam keadaan normal atau tidak. Penelitian ini merupakan penelititan analitik observasional dengan menggunakan rancangan cross sectional study untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kapasitas vital paru seperti kadar debu dan faktor pekerja (usia, masa kerja, lama kerja, kebiasaan merokok dan penggunaan APD masker) pada pekerja mebel informal di Desa Rambigundam Kecamatan Rambipuji Kabupaten Jember. Observasi dan wawancara dilakukan pada sampel penelitian sebanyak 30 pekerja mebel informal. Observasi dan wawancara digunakan untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam tentang variabel-variabel yang diteliti. Variabel terikat pada penelitian ini adalah kapasitas vital paru pekerja mebel informal, sedangkan variabel bebas pada penelitian ini adalah kadar debu, usia, masa kerja, lama kerja, kebiasaan merokok dan penggunaan APD masker. Pengolahan data terdiri dari editing, koding dan entry. Teknik penyajian data dalam penelitian ini adalah dalam bentuk teks (textular) dan tabel. Analisis data terdiri dari analisis univariabel dan analisis bivariabel yang menggunakan Uji Crosstab Somers’d dan Uji Crosstab Lambda. Hasil penelitian yang dilakukan pada 30 responden menunjukkan bahwa hasil dari variabel faktor pekerja yang paling dominan adalah responden dengan usia >30 tahun yaitu sebanyak 19 responden (63,33%). Masa kerja responden lebih banyak yang memiliki masa kerja lebih dari sama dengan lima tahun yaitu sebanyak 18 responden (60%). Responden yang memiliki jam kerja lebih dari 8 jam lebih banyak yaitu sebanyak 22 responden (73,33%). Responden yang memiliki kebiasaan merokok jumlahnya lebih besar yaitu sebanyak 16 responden (53,33%). Jumlah responden yang tidak memakai APD berupa masker jumlahnya lebih besar yaitu sebanyak 23 responden (76,67%). Responden yang mengalami penurunan kapasitas vital paru jumlahnya lebih besar yaitu sebanyak 17 responden (56,67%). Kadar debu tertinggi didapatkan yaitu sebesar 12,0737 mg/m3. Hasil uji hubungan menggunakan Uji Crosstab Somers ‘d dan Uji Crosstab Lambda menunjukkan ada hubungan yang signifikan (D < α, λ < α) antara variabel bebas dengan variabel terikat (kapasitas vital paru) yaitu kadar debu di lingkungan kerja (D = 0,000), usia (D = 0,000), masa kerja (D = 0,000), lama kerja (D = 0,000) kebiasaan merokok (λ = 0,002) dan penggunaan APD masker (λ = 0,044). Dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara faktor pekerja (usia, masa kerja, lama kerja, kebiasaan merokok dan penggunaan APD masker) dengan kapasitas vital paru pekerja dan ada hubungan yang signifikan antara paparan kadar debu di lingkungan kerja dengan kapasitas vital paru pada pekerja. Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan pemilik perusahaan menyediakan APD dan tempat untuk beristirahat bagi pekerja yang terpisah dengan tempat kerja. Untuk para pekerja diharapkan pekerja menerapkan perilaku sehat dan selamat dalam bekerja, misalnya dengan menggunakan APD serta mengurangi atau menghentikan konsumsi rokok. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat menyempurnakan dan memperkaya penelitian dengan menggunakan variabel independen yang belum diteliti dan menggunakan sampel yang lebih banyak lagi

    GAMBARAN KESIAPAN PENYUSUNAN CLINICAL PATHWAY DIARE AKUT DEHIDRASI BERAT PADA ANAK DI RSIA SRIKANDI IBI JEMBER

    No full text
    Menurut Peraturan Menteri Kesehatan nomor 12 tahun 2012 tentang Akreditasi Rumah Sakit, standar pelayanan rumah sakit antara lain adalah Standar Prosedur Operasional (SPO), Standar Pelayanan Medis (SPM) dan Standar Asuhan Keperawatan (SAK). SPO dibuat di tingkat rumah sakit oleh staf medis yang dikoordinasi oleh Komite Medik dan ditetapkan penggunaannya di rumah sakit tersebut oleh Direktur. SPO menjadi sarana untuk menjamin perlindungan terhadap pasien serta pemberi layanan kesehatan yang disusun dalam bentuk Panduan Praktis Klinis (PPK) dan dilengkapi dengan clinical pathway. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan pada bulan Januari 2017 didapatkan bahwa RSIA Srikandi IBI Jember sedang dalam tahap pemenuhan standar akreditasi dan belum memiliki SPO berupa PPK serta dokumen pelengkapnya yaitu clinical pathway. Menurut data rekam medik penyakit anak tertinggi yang butuh dilakukan rawat inap, bersifat high volume, high cost, high risk dan problem prone adalah diare, baik yang sedang ataupun berat. Oleh sebab itu penting untuk menggambarkan kesiapan RSIA Srikandi IBI Jember dalam penyusunan clinical pathway diare akut dehidrasi berat pada anak dengan melakukan kajian input terhadap unsur man, method, material, money, minutes/time dan machine. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Unit analisis pada penelitian ini adalah RSIA Srikandi IBI Jember dengan subjek penelitian yaitu Direktur, Ketua Komite Medik, Dokter Spesialis Anak dan tim penyusun clinical pathway diare akut dehidrasi berat pada anak sejumlah 10 orang. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara memilih responden berdasarkan pertimbangan tertentu. Pengambilan data dilakukan dengan teknik wawancara dan studi dokumentasi menggunakan kuisioner dan lembar checklist. wawancara dan studi dokumentasi menggunakan kuisioner dan lembar checklist

    Pelaksanaan Pemberian Asi Di Ruang Alamanda Rsud Bangil Kabupaten Pasuruan

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pelaksanaan pemberian ASI yang telah dilakukan pada tanggal 12 Juni sampai 25 September 2019 menggunakan pendekatan studi kasus. Informan penelitian ini yaitu kepala ruangan, perawat pelaksana, konselor menyusui dan keluarga pasien, serta melakukan penentuan menggunakan teknik purposive sampling. Pengambilan data dilakukan menggunakan teknik wawancara mendalam, studi dokumentasi dan observasi, kemudian akan disajikan dalam bentuk uraian kata-kata dari kutipan langsung oleh informan, serta menggunakan teknik analisis menggunakan teori Miles dan Huberman. Penelitian ini menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ruangan berpartisipati dalam fungsi perencanaan yaitu dengan mengajukan rencana pengembangan ruangan, kebutuhan pelatihan dan pengadaan logistik yang diajukan setiap tahun. Intervensi yang dilakukan dalan pemberian ASI yaitu dengan pemberian Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) mengenai ASI kepada orangtua pasien, terdapat media mengenai ASI seperti poster dan mading. Fungsi organizing meliputi sumberdaya manusia, tersedianya metode pelaksanaan, serta sarana dan prasarana. Ruangan secara aktif mengusulkan kebutuhan pelatihan dan kebutuhan tenaga kesehatan setiap tahunnya. Metode pelaksanaan meliputi adanya SPO sebagai panduan untuk melakukan tindakan, uraian pekerjaan yang terdapat di setiap map tenaga kesehatan, shift kerja serta struktur organisasi yang akan mempengaruhi proses komunikasi di ruang Alamanda. Fungsipenggerakanpemberian ASIdiantaranya motivasi, komunikasi dan kepemimpinan. Motivasi yang didapat oleh perawat pelaksana berupa pujian dan kepercayaan yang diberikan oleh kepala ruangan. Komunikasi yang terjalin di ruang Alamanda cukup baik hal tersebut karena terdapat pre dan pos conference yang dilakukan secara rutin yang membicarakan mengenai kondisi pasien, hasil pelatihan atau seminar dan masalah atau hambatan yang terjadi. Fungsi pengawasan yaitu pencatatan susu formula, penilaian kinerja dan supervisi. Namun pencatatan dan pelaporan susu formula tidak dilakukan sejak pertengahan 2018, karena di ruang Alamanda tidak dilakukan IMD dan terdapat beberapa indikasi medis dari bayi yang mengharuskan mendapatkan susu formula khusus. Penilaian kinerja diruang Alamanda dilakukan setiap 3 bulan sekali dan dinilai oleh kepala ruangan. Sedangkan supervisi yang dijalankan digunakan sebagai pengganti kepala ruangan dan ketua tim atau disebut sebagai pengamat. Rekomendasi yang disarankan dari hasil penelitian adalah rumah sakit dapat membuat leaflet dan stand banner atau x banner dengan 2 bahasa, yaitu bahasa madura dan bahasa indonesia, menyediakan SPO mengenai pijat oksitosin dan menunjuk tenaga pelaksana untuk melakukan pijat oksitosin, melakukan sosialisasi atau induksi SPO, menegakkan pelaporan dan pencatatan dengan menggunakan format yang lebih rinci, serta melakukan supervisi secara partisipatif dengan menunjuk tim supervisi dan menyusun instrumen

    Analisis Kesuksesan Sistem Informasi Manajemen Menggunakan Pendekatan Updated D&M Is Success Model Di Rumah Sakit Umum Kaliwates Jember

    No full text
    Abstrak Pendahuluan Undang-undang Republik Indonesia nomor 24 tahun 2009 tentang Rumah Sakit, dalam pasal 11 ayat (1) menyatakan bahwa rumah sakit dituntut untuk memiliki sarana dan prasana, yang salah satunya adalah sistem informasi dan komunikasi. Rumah sakit di indonesia juga wajib melakukan pencatatan dan pelaporan tentang semua kegiatan penyelenggaraan rumah sakit sebagaimana ketentuan dalam pasal 52 ayat (1). Pada era modern saat ini rumah sakit dituntut untuk mengikuti perkembangan yang telah ada, yaitu adanya kompetisi yang sangat ketat antar rumah sakit. Rumah sakit adalah badan usaha yang dalam proses usahanya tidak terlepas dari persaingan, sehingga memerlukan suatu organisasi yang kuat dengan sumberdaya pendukung yang berkualitas [1] Dengan adanya kompetisi yang sangat ketat antar rumah sakit hal ini berdampak pengembangkan kualitas pelayanan cepat yang dapat meningkatkan kepuasan pasien salah satunya adalah peranan sistem informasi di rumah sakit. Dewasa ini, teknologi berkembang sangat cepat dan berpengaruh pada sistem informasi. Sistem informasi dapat digunakan sebagai sarana strategis untuk memberikan pelayanan yang berorientasi kepada kepuasan pelanggan [2]. Penerapan sistem informasi dalam suatu manajemen akan mampu dengan cepat mengetahui hal apa saja yang dibutuhkan dan yang terjadi pada perusahaan dalam waktu singkat. Informasi yang cepat akan membuat pihak perusahaan dapat mengambil keputusan yang tepat atas apa yang telah terjadi. Pada akhirnya keputusan yang tepat, akan memotong banyak biaya yang tidak diperlukan dan memperbesar keuntungan. Sistem informasi manajemen (SIM) adalah sistem informasi yang digunakan untuk mendukung operasi, manajemen dan pengambilan keputusan dalam sebuah organisasi biasanya, sistem informasi manajemen menyediakan informasi untuk operasi organisasi [3]. Undang-undang Republik Indonesia nomor 24 tahun 2009 tentang Rumah Sakit, dalam pasal 11 ayat (1) menyatakan bahwa rumah sakit dituntut untuk memiliki sarana dan prasana, yang salah satunya adalah sistem informasi dan komunikasi. Informasi yang cepat akan membuat pihak perusahaan dapat mengambil keputusan yang tepat atas apa yang telah terjadi. Sistem informasi manajemen adalah sebuah sistem antara manusia & mesin yang terpadu (terintegrasi) untuk menyajikan informasi guna mendukung fungsi operasional, manajemen dan pengambilan keputusan untuk menyajikan informasi manajemen. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan pada periode 14 September 2015 sampai dengan 23 Oktober 2015, penerapan SIM-RS di Rumah Sakit Umum Kaliwates ditemukan berbagai permasalahan yang dihadapi, diantaranya adalah terdapat 45 kali proses input data pasien yang tertunda dan 26 kali kesalahan input data untuk kwitansi sedangkan nilai harapan kesalahan informasi adalah nol atau tidak ada kesalahan sama sekali. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kesuksesan sistem informasi manajemen menggunakan Pendekatan Updated D&M IS Success Model di Rumah Sakit Umum Kaliwates Jember. Penelitian ini merupakan penelitian analitik. Dengan jumlah sampel 92 dari 111 jumlah populasi dengan menggunakan teknik simple random sampling. Tempat penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Kaliwates Jember dan dilakukan pada April 2016. Hasil pada penelitian ini menunjukan bahwa ada pengaruh kualitas informasi terhadap intensi memakai. Ada pengaruh kualitas informasi terhadap kepuasan pengguna dengan. Ada pengaruh kualitas sistem terhadap intensi memakai. ada pengaruh kualitas sistem terhadap kepuasan. Ada pengaruh kualitas pelayanan terhadap intensi memakai. Ada pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan. Ada pengaruh intensi memakai terhadap pemakaian. Ada pengaruh pemakaian terhadap kepuasan pengguna. Ada pengaruh kepuasan pengguna terhadap intensi memakai. Ada pengaruh pemakaian terhadap manfaat-manfaat bersih. Ada pengaruh manfaat-manfaat bersih terhadap intensi memakai. Ada pengaruh manfaat-manfaat bersih dengan kepuasan pengguna. Ada pengaruh kepuasan pengguna terhadap manfaat-manfaat bersih

    GAMBARAN PROGRAM GANDRUNG (GERAKAN ASUHAN NYATA PADA DISABILITAS, RISIKO TINGGI, USIA LANJUT, VETERAN, PENSIUNAN DAN GRAVIDA) DI RSUD BLAMBANGAN KABUPATEN BANYUWANGI

    No full text
    Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilakukan di RSUD Blambangan Banyuwangi pada bulan Agustus 2017 dengan melakukan wawancara kepada 12 informan. Penentuan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, dokumentasi dan triangulasi. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah perekam suara (handphone) dan alat tulis kemudian dianalisis dengan teknik analisis interaktif yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan serta disajikan dalam bentuk narasi, selanjutnya diuji dengan triangulasi teknik. Hasil penelitian menyatakan bahwa masih terdapat ketidaksesuaian atau kekurangan antara input, proses dan output dalam Program Gandrung. Input meliputi pengetahuan petugas yang masih kurang terkait mekanisme, sasaran dan target Program Gandrung. Selain itu ketersediaan SDM, pendanaan, sarana dan prasarana dan SOP yang masih kurang, serta bentuk pelayanan yang masih belum sesuai. Proses meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan yang masih kurang maksimal. Output pada Program Gandrung adalah meningkatnya kepuasan pasien Program Gandrung namun belum signifikan yaitu dari 75 menjadi 78

    TINGKAT PENGETAHUAN BIDAN DESA DI KABUPATEN JEMBER TERHADAP PROGRAM JAMPERSAL (Level of Village Midwife Knowledges at Jember District of JAMPERSAL/ Delivery Assurance)

    No full text
    Prosiding Seminar Nasional “Kebijakan Kementerian Kesehatan dalam Upaya Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi melalui Program Jampersal” hal. 39-46, 26 November 2011Background: As an agent of socialization and services at communities, the village midwife are expected to have a high level of knowledge of Delivery Assurance/ Jampersal. So that in providing services at communities not create ambiguous in order to success of program implementation. Objective: The study aims to provide a general level of knowledge of village midwife in Delivery Assurance/ Jampersal. Method: The study is a discriptive study. The number of respondents are 14 village midwives by random sampling methods. Results: The results indicate level of knowledge respondents of the program benefits is mostly low (57.14%), level of knowledge of respondents to the objectives of the program is mostly high (64.29%), level of knowledge of the respondents of types of program services is moderate (50%), the level of knowledge of respondents of the target program is mostly low (42.86%), and level of knowledge respondents of the claims procedure is low (57.14%). Conclusion: Increasing overall and collective program of socialization are needed. Complaints and feedback from midwives are need to be accommodated and considered for the tariff increase servic
    corecore