49 research outputs found
Pengaruh Kegiatan Pariwisata Terhadap Tatanan Spasial Di Pura Desa Dan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar
Pulau Bali yang terkenal akan aktivitas pariwisatanya memiliki daya tarik wisata salah satunya berupa wisata budaya. Pura Desa dan Pura Puseh Desa Adat Batuan menjadi salah satu tujuan wisata budaya yang berada di Kabupaten Gianyar. Adanya aktivitas wisata pada pura yang memiliki fungsi utama sebagai tempat suci umat Hindu tentu akan berpengaruh pada tatanan spasial di wilayah tersebut. Berdasarkan hal tersebut, peneliti ingin mengetahui bagaimana pengaruh kegiatan pariwisata terhadap tatanan spasial di Pura Desa dan Pura Puseh Desa Batuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterkaitan aktivitas pariwisata dengan tatanan spasial yang berupa tampilan fisik, aktivitas keagamaan, sosial serta ekonomi di Pura Desa dan Pura Puseh di Desa Adat Batuan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode deskriptif kualitatif dengan mendeskripsikan dan menggambarkan fenomena yang terjadi di lapangan sebagaimana adanya. Pengumpulan data dilakukan dengan cara studi literatur, observasi, dan wawancara. Hasil akhir penelitian menunjukkan perubahan signifikan terjadi pada aspek ekonomi, sosial dan tampilan fisik berupa penambahan fasilitas penunjang. Pada kegiatan keagamaan tidak mendapatkan pengaruh yang besar dari adanya aktivitas wisata, begitu juga pada bentuk dan ukiran pada bangunan yang masih dipertahanka
Analisis Penerapan Prinsip Arsitektur Ramah Lingkungan pada Restoran Segara Bambu di Denpasar
Isu lingkungan dalam sektor bangunan mendorong perlunya pendekatan arsitektur yang lebih responsif terhadap konteks iklim dan penggunaan sumber daya. Dalam konteks bangunan komersial di kawasan tropis, restoran menjadi tipologi yang relevan untuk dikaji karena intensitas aktivitas dan potensi konsumsi energi yang relatif tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan prinsip arsitektur ramah lingkungan pada bangunan Restoran Segara Bambu di Denpasar melalui empat aspek utama, yaitu material, energi, air, dan kesehatan lingkungan dalam ruang. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif melalui observasi langsung serta analisis elemen fisik bangunan berdasarkan kerangka teori arsitektur ramah lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bangunan ini menerapkan strategi pasif sebagai sistem utama, terutama melalui penggunaan material bambu sebagai struktur dominan, optimalisasi ventilasi dan pencahayaan alami, pengolahan tapak yang mendukung penyerapan air hujan, serta pengaturan zonasi ruang yang menunjang kenyamanan termal, visual, dan akustik. Sistem buatan digunakan secara selektif sesuai kebutuhan fungsi ruang, seperti pada dapur dan ruang rapat, namun tidak menjadi sistem operasional utama. Secara keseluruhan, bangunan restoran ini menunjukkan penerapan prinsip arsitektur ramah lingkungan yang lebih dominan pada aspek material dan strategi pasif iklim tropis, sementara sistem teknis berperan sebagai pendukung operasional. Temuan ini menunjukkan bahwa perpaduan antara desain yang responsif terhadap iklim dan penggunaan sistem teknis secara selektif mampu mendukung kenyamanan pengguna secara optimal
KONSEP TRICKLING DOWN DAN POLARISASI EFFECT PADA PEMBANGUNAN DAN PARIWISATA DI KABUPATEN BADUNG, BALI
Aktivitas ekonomi yang terjadi di sebuah wilayah akan mempengaruhi bagaimana perkembangan pembangunan di wilayah tersebut. Terdapat titik-titik pusat pertumbuhan ekonomi yang akan memberikan pengaruh terhadap wilayah sekitarnya. Pengaruh yang dimaksud dapat berupa wilayah sekitarnya ikut berkembang atau justru menjadi tertinggal. Terdapat berbagai jenis kegiatan ekonomi salah satunya ialah kegiatan ekonomi pada sektor pariwisata. Penelitian ini dilakukan dengan memilih Kabupaten Badung yang terdapat di Provinsi Bali sebagai studi kasus karena Kabupaten Badung memiliki kegiatan pariwisata yang sangat pesat dibandingkan dengan kabupaten lainnya di Bali. Kegiatan pariwisata di Badung hanya berpusat pada beberapa titik yang mengakibatkan adanya ketimpangan dan kurang meratanya pembangunan di wilayah Badung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari perkembangan pariwisata di Kabupaten Badung, mengetahui seberapa besar pengaruh teori trickling down dan efek polarisasi di Kabupaten Badung, serta mengetahui upaya yang dapat ditempuh untuk mencapai pemerataan pembangunan perekonomian di Kabupaten Badung. Data penelitian diperoleh dengan melakukan studi kepustakaan dan penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif yang nantinya akan menghasilkan data deskripsi. Hasil akhir penelitian menunjukkan bahwa kegiatan pariwisata di Badung merupakan sektor vital yang menjadi tumpuan perkembangan ekonomi dan pembangunan di Kabupaten Badung; trickling down dan efek polarisasi terjadi di Kabupaten Badung dengan skala wilayah yang berbeda;serta perlu adanya pengembangan sektor wisata lainnya di wilayah pinggiran Kabupaten Badung yang didukung dengan kebijakan pemerintahEconomic activity that occurs in a region will affect how the development of development in the region. There are points of economic growth centers that will have an impact on the surrounding area. The influence in question can be in the form of the surrounding area also developing or even being left behind. There are various types of economic activity, one of which is economic activity in the tourism sector. This research was conducted by choosing Badung Regency in Bali Province as a case study because Badung has very rapid tourism activities compared to other districts in Bali. Tourism activities in Badung are only centered on a few points which results in inequality and uneven development in the Badung area. This study aims to determine the influence of tourism development in Badung, to find out how much influence the trickling down theory and polarization effect have in Badung, and to find out the efforts that can be taken to achieve equitable economic development in Badung. The research data was obtained by conducting a literature study and the research was carried out using a qualitative approach which would later produce descriptive data. The final results of the study show that tourism activities in Badung are a vital sector on which economic development and development in Badung depend; trickling down and polarization effects occur in Badung with different regional scales; as well as the need for the development of other tourism sectors in the suburbs of Badung Regency which is supported by government policies
TRANSFORMASI DIGITAL DALAM PROMOSI REAL ESTATE: ANALISIS IMPLEMENTASI AUGMENTED REALITY PADA KARYA MAHASISWA ARSITEKTUR SEBAGAI REPRESENTASI INOVASI DIGITAL NATIVE
This study analyzes the implementation of Augmented Reality (AR) technology inarchitecture students' works in Real Estate courses as a representation of digital nativereadiness to face digital transformation in the property industry. Using a mixed-methodapproach with sequential explanatory design on three student projects: Skandinavilla (Villa27), Modern Villa Seminyak, and Sundara Town House. Analysis was conducted throughcontent analysis, comparative analysis, and thematic analysis. Results show that all threeprojects demonstrated consistency in using QR codes as AR gateway with varied promotionstrategies. Students showed high digital fluency with excellent to good technical integration,high content quality, and excellent marketing alignment. Digital native architecture studentshave developed significant digital competencies in integrating AR technology, reflectingreadiness to contribute to Indonesia's real estate industry digital transformation
PERANCANGAN PUSAT KONVENSI DAN PAMERAN DI KABUPATEN BADUNG
Bali, especially in Badung , the tourism and cultural site attractions centre is famous nationally and internationally. The successful tourist industry makes Badung the first richest region of Bali in terms of revenues. This economic growth has led to the demand for meeting places like convention and exhibition facilities to host civil events like seminars and exhibitions, concerts, wedding juniors, and cultural troupes. Consequently, while South Badung currently has several established convention centres, North Badung has none. To fill this gap, a site in Mengwi District on Jl. Raya Mengwitani was selected. The centre occupies 26,238 sq.m of space and comprises a four-star hotel, plaza, restaurant, food court, swimming pool, and underground parking. Translated from the Neo-Vernacular Architecture concept, it enriches Balinese cultural characteristics while responding to a modern image of the area. Agreements arise according to attraction and communication; North Badung had nostalgia before longBali, khususnya Kabupaten Badung, dikenal karena daya tarik wisata dan budayanya yang menarik wisatawan lokal dan internasional. Industri pariwisata yang berkembang pesat menjadikan Badung sebagai wilayah dengan pendapatan tertinggi di Bali. Pertumbuhan ekonomi ini menciptakan kebutuhan akan tempat pertemuan, seperti pusat konvensi dan pameran, untuk menyelenggarakan acara seperti seminar, pameran, konser, pernikahan, dan pertunjukan budaya. Meskipun Badung Selatan memiliki beberapa pusat konvensi, Badung Utara masih kekurangan fasilitas serupa. Site terpilih berada di Kecamatan Mengwi, tepatnya di Jl. Raya Mengwitani, dipilih untuk mengisi kekosongan ini. Dengan luas 26.238 meter persegi, pusat ini dilengkapi hotel bintang empat, plaza, restoran, food court, kolam renang, dan parkir bawah tanah. Desainnya menggunakan pendekatan Arsitektur Neo-Vernakular yang menggabungkan elemen tradisional Bali dengan estetika modern, mempertahankan nilai lokal sekaligus menghadirkan ikon kontemporer bagi kawasan tersebut. Konsepnya menekankan daya tarik dan komunikasi, mendorong interaksi dan menciptakan landmark di Badung Utara
DAMPAK ABRASI TERHADAP LINGKUNGAN DAN SOSIAL BUDAYA DI WILAYAH PESISIR PANTAI PABEAN, GIANYAR
Wilayah pesisir merupakan daerah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang memiliki berbagai potensi sumber daya alam. Namun meningkatnya laju abrasi menjadi ancaman bagi wilayah pesisir saat ini. Abrasi ialah pengikisan daratan akibat aktivitas gelombang, arus maupun pasang surut laut yang dapat menyebabkan berubahnya garis pantai. Salah satu Pantai yang terkena dampak abrasi ialah Pantai Pabean yang berada di Desa Ketewel, Kecamatan Sukawati, Gianyar. Pantai Pabean memiliki suasana tenang dan jauh dari hiruk pikuk kota menjadikan pantai ini kian diminati wisatawan. Akan tetapi, berkembangnya kawasan Pantai Pabean tegak lurus dengan kerusakan pesisir akibat abrasi yang semakin parah. Tujuan Penelitian ini ialah untuk mengkaji dampak abrasi terhadap lingkungan dan sosial budaya di wilayah pesisir Pantai Pabean serta upaya yang telah dilakukan untuk menahan laju abrasi pada tahun 2018. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan historis untuk dapat menggambarkan kebenaran di masa lalu. Data diuraikan secara deskriptif dengan disertakan data pendukung seperti peta dan gambar. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan studi literatur. Hasil akhir penelitian menunjukkan bahwa telah banyak terjadi perubahan lingkungan dan sosial budaya masyarakat di pesisir Pantai Pabean akibat abrasi yang diuraikan menjadi empat bagian, yaitu : (1) Hilangnya persil tanah di sepanjang pesisir Pantai Pabean; (2) Pindahnya lokasi pelaksanaan kegiatan upacara agama melasti; (3) Bergesernya mata pencaharian masyarakat; (4) Sampah yang menumpuk di Pesisir Pantai Pabean. Langkah yang sudah dilakukan untuk mengurangi dampak abrasi ialah dengan mitigasi struktural berupa pembangunan talud
PERANCANGAN PUSAT PELATIHAN DAN PENGEMBANGAN KESENIAN TRADISIONAL BALI DENGAN TEMA ARSITEKTUR NEO-VERNAKULAR
Art is a part of culture and a means to convey a sense of beauty from within the human soul. In Bali, there are various arts which are part of the culture. Gianyar, one of Bali’s regencies, has a cultural building but limited facilities for art performances and rehearsals. Based on its function, the design of the Balinese Traditional Arts Training and Development Center in Gianyar uses the concepts of conservative, educational, and recreational, combined with the Neo-Vernacular theme. The design location is on Jl. Raya Mawang, Lodtunduh, Ubud District, Gianyar. Based on space analysis, the planned land area is 41,814m² with classrooms, a performance hall, a theater, wantilan, an art gallery and several supporting facilities such as a food court, an internet café, and open area. Design concepts resulting from the design program are transformed into building design by referring to basic concepts and design themes. Key words : Training Center, Traditional Arts, Neo Vernacular.Kesenian merupakan salah satu bagian dari suatu kebudayaan serta sarana yang dapat digunakan sebagai cara untuk menuangkan rasa keindahan dari dalam jiwa manusia. Di Bali terdapat berbagai kesenian yang merupakan bagian dari kebudayaan. Kabupaten Gianyar yang merupakan salah satu kabupaten di Bali telah memiliki gedung budaya tetapi mempunyai fasilitas terbatas terutama untuk pementasan dan latihan. Berdasarkan fungsinya, Perancangan Pusat Pelatihan dan Pengambangan Kesenian Tradisional Bali di Gianyar menggunakan konsep dasar konservatif, edukatif dan rekreatif. Dengan tema Neo-Vernakular dilihat dari pendekatan tema yaitu sebagai tempat melestarikan, mengembangkan, belajar dan hiburan tentang seni. Lokasi perancangan terletak di Jl. Raya Mawang, Lodtunduh, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar. Berdasarkan analisa ruang, luas lahan yang direncanakan seluas 41.814m² dengan fasilitas yang terdiri dari ruang kelas, gedung pertunjukan, amphitheater, wantilan, galeri seni dan beberapa fasilitas penunjang seperti foodcourt, internet cafe dan area terbuka
PERANCANGAN RUMAH SAKIT JIWA DI TABANAN - BALI
Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Pemprov Bali yang ada di kabupaten Bangli adalah satu-satunya rumah sakit di Bali yang menyediakan layanan kesehatan mental. Meski layanan utama sebagai rumah sakit jiwa dengan gangguan jiwa, RSJ Pemprov Bali juga mencakup layanan pendukung lainnya seperti perawatan untuk penyalahgunaan obat-obatan terlarang, rehabilitasi mental, fisioterapi, laboratorium, dan lain-lain. Kapasitas total yang ada Rsj Pemprov Bali hanya memiliki 400 kamar rawat inap. Sedangkan penderita di Propinsi Bali sebanyak 5.559 penduduk. Entrance disediakan tiga entrance yaitu entrance IGD, entrance utama, dan entrance untuk pengelola rumah sakit. Sirkulasi menggunakan pola linear dan menggunakan pola parkir 90 derajat. Pola massa menggunakan pola massa terpusat. Substruktur menggunakan bore pile, pondasi batu kali, dan pondasi telapak. Super Struktur menggunakan rangka kaku dan upper struktur menggunakan stuktruk rangka. Sistem pencahayaan menggunakan pencahayaan alami dan buatan.The Mental Hospital (Rumah Sakit Jiwa or RSJ) of the Provincial Government of Bali in the Bangli is the only mental health facility in the province of Bali. Although its primary service is treating patients with mental disorders, RSJ Bali also provides other supporting services such as treatment for substance abuse, mental rehabilitation, physiotherapy, laboratory services, and more. The total capacity of RSJ Pemprov Bali is limited to 400 inpatient rooms, while the number of sufferers in the province of Bali is 5,559. The Mental Hospital in Tabanan–Bali includes the Emergency Department entrance, the main entrance, and an entrance for hospital management. Circulation follows linear and perpendicular 90-degree patterns. Massing uses a centralized massing pattern. The substructure uses bore piles, a river stone foundation, and a footing foundation. The superstructure employs a rigid frame, and the upper structure uses a frame structure. The lighting system utilizes both natural and artificial lighting
PERANCANGAN KANTOR SEWA DAN MAL DI DENPASAR DENGAN TEMA ARSITEKTUR HIBRIDA
With its natural and cultural treasures, Bali has become the perfect holiday destination, helping Denpasar to evolve into a business city with a growing demand for commercial offices and shopping malls. The scarcity of land requires that new approaches be practised. This research aims to develop a mixed building containing rental offices and a mall at Jl. Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, Kesiman Kertalangu. Accommodation to the commercial aspect is prioritized, with the areas focused on high-value commerce and communicative spaces, and the architectural style that has been implemented is dubbed the “Balinese Modern-Contemporary”, which incorporates elements of traditional and modern architecture. The project involves the construction of a food court, multifunctional hall, plaza and basement parking at a total of 18,000 m². From this, the concept combines maximum admission of essential principles, spatial requirements, and activity to achieve an efficient and effective spatial appearance for development. The synthesis of Balinese and modern architecture rejuvenates the city's image and addresses commercial-urban necessities.yang sempurna, membantu Denpasar berkembang menjadi kota bisnis dengan permintaan yang terus meningkat untuk perkantoran dan pusat perbelanjaan. Keterbatasan lahan mengharuskan adanya pendekatan baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sebuah bangunan campuran yang terdiri dari kantor sewa dan mall di Jalan Prof Dr Ida Bagus Mantra, Kesiman Kertalangu. Akomodasi terhadap aspek komersial diprioritaskan, dengan area yang difokuskan pada kegiatan bernilai tinggi dan ruang-ruang komunikatif, dengan gaya arsitektur “Bali Modern-Kontemporer”, yang menggabungkan unsur-unsur arsitektur tradisional dan modern. Proyek ini termasuk food court, serbaguna, plaza, dan parkir bawah tanah dengan total luas 18.000 m². Perpaduan antara arsitektur Bali dan modern meremajakan citra kota dan memenuhi kebutuhan komersial dan perkotaan
