935 research outputs found
Analisis Rasio Keuangan Untuk Menilai Kinerja Keuangan Perusahaan Studi Kasus pada PT. Mitra Adi Perkasa Tbk Tahun 2015-2024
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis rasio keuangan dengan standar industri rasio keuangan yang digunakan berupa rasio likuiditas, rasio solvabilitas, dan rasio profitabilitas sebagai alat ukur penilaian pada kinerja keuangan perusahaan PT Mitra Adi Perkasa Tbk. penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yaitu laporan keuangan PT Mitra Adi Perkasa Tbk dari tahun 2015 sampai dengan 2024. Sumber data yang digunakan ialah data internal berupa profil perusahaan PT Mitra Adi Perkasa Tbk. Teknik pengumpulan data berupa penelitian kepustakaan dan teknik analisis data deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa kinerja keuangan PT Mitra Adi Perkasa Tbk berdasarkan rasio likuiditas kurang baik karena masih di bawah standar industri rasio keuangan. Berdasarkan rasio solvabilitas kondisi kinerja keuangan perusahaan tidak baik karena hasil berada jauh di bawah standar industri rasio keuangan. Dan berdasarkan rasio profitabilitas kondisi kinerja keuangan perusahaan sangat baik karena hasil berada di atas standar industri rasio keuangan
KEBIJAKAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DAN PENGARUHNYA TERHADAP DAYA SAING PERUSAHAAN
Chrisna Adi Winata, 2025. Kebijakan Corporate Social Responcibility dan Pengaruhnya Tehadap Daya Saing Perusahaan. Program Studi Magister Ilmu Hukum, Program Pascasarjana Universitas Pancasakti Tegal. Pembimbing I Dr.Sanusi.S.H.,M.H. Pembimbing II Dr.Soesi Idayanti S.H.,M.H.
Kata kunci: Corporate Social Responsibility (CSR), kebijakan, daya saing Perusahaan.
Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan kebijakan strategis yang diterapkan oleh perusahaan untuk memenuhi tanggung jawab sosialnya terhadap masyarakat dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi kebijakan CSR serta pengaruhnya terhadap daya saing perusahaan.
Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengkaji kebijakan Corporate Social Responsibility dan pengaruhnya terhadap daya saing Perusahaan dan Untuk menganalisis implementasi program Corporate Social Responsibility (CSR) oleh Perusahaan terhadap daya saing Perusahaan.
Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi literatur dan analisis kasus pada beberapa perusahaan yang telah menerapkan CSR secara aktif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan CSR yang efektif dapat meningkatkan citra perusahaan, membangun loyalitas pelanggan, memperkuat hubungan dengan pemangku kepentingan, serta memberikan keunggulan kompetitif dalam jangka panjang. Selain itu, implementasi CSR yang terintegrasi dengan strategi bisnis mampu menciptakan nilai tambah yang tidak hanya berdampak pada keberlanjutan sosial dan lingkungan, tetapi juga meningkatkan profitabilitas perusahaan. Oleh karena itu, CSR bukan hanya sebagai bentuk kepatuhan terhadap regulasi, tetapi juga sebagai faktor kunci dalam meningkatkan daya saing perusahaan di pasar global
Karakterisasi Senyawa Volatil, Kadar N Total dan Lipid dari Biji Kopi Robusta Petik Merah Hitam Olah Basah dan Olah Kering
Kopi robusta Argopuro merupakan salah satu komoditas lokal di Kabupaten Jember. Buah kopi robusta Argopuro dengan tingkat kematangan tinggi, yaitu merah hitam dipercaya memiliki rasa lebih manis dan menghasilkan aroma madu. Rasa khas lain yang dimiliki buah kopi petik merah hitam adalah memiliki sensasi rasa Eropa, sehingga diberi nama “wine”. Sampai saat ini belum ada penelitian mengenai kadar lipid, kadar N total dan kandungan senyawa volatil dari biji kopi robusta Argopuro petik merah hitam olah basah dan olah kering. Oleh karena itu, dalam penelitian ini dikaji mengenai kadar lipid, kadar N total dan kandungan senyawa volatil dari biji kopi robusta Argopuro petik merah hitam olah basah dan olah kering.
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia Organik Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Jember. Penelitian ini dilakukan mulai bulan November 2018 sampai bulan Maret 2019. Analisis senyawa volatil menggunakan GC-MS dilakukan di Laboratorium Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada. Kadar lipid dari biji kopi robusta Argopuro olah basah dan olah kering ditentukan dengan metode soxhletasi. Kadar lipid kopi robusta Argopuro olah basah dan olah kering yang diperoleh dari penelitian ini adalah 11,6% dan 13,5%. Kadar N total secara kasar ditentukan melalui metode kjeldahl. Nilai kadar nitrogen total yang dihasilkan dari kopi olah basah sebesar 2,10% dan kopi olah kering sebesar 1,89%. Senyawa volatil dari biji kopi robusta Argopuro olah basah dan olah kering diekstrak dengan menggunakan metode hidrodistilasi yang berlangsung selama 8 jam. Rendemen yang dihasilkan dari kopi olah basah dan olah kering secara berturut-turut adalah 0,019% dan 0,023%. Hasil yang didapatkan dari analisis GC-MS adalah 46 senyawa dalam distilat bubuk kopi olah basah dan 60 senyawa terkandung dalam distilat bubuk kopi olah kering. Senyawa yang ditunjukkan dari hasil analisis dengan GC-MS ternyata bukan senyawa volatil, melainkan senyawa golongan alkana rantai panjang yang memiliki titik didih cukup tinggi. Hal ini dapat dikatakan bahwa distilat kopi yang dihasilkan adalah dominan berupa wax
Efek Ekstrak Metanol Biji Mahoni (Swietenia mahagoni Jacq.) Terhadap Lama Waktu Kemunculan Imago Parasitoid Telur Trichogramma japonicum Ashmead (Hymenoptera: Trichogrammatidae)
Trichogramma adalah genus dari serangga anggota ordo Hymenoptera yang
bersifat endoparasitoid. Serangga parasitoid ini berperan sebagai agen pengendali
hayati serangga hama pertanian, seperti serangga anggota genus Chilo dan
Scirpophaga. Pada pengelolaan pertanian hijau berbasis lingkungan, program
pengendalian hama dapat dilakukan dengan mengkombinasikan penggunaaan
serangga parasitoid dan insektisida botani. Salah satu tumbuhan yang memiliki
potensi sebagai insektisida botani adalah mahoni (Swietenia mahagoni). Biji
mahoni dilaporkan mengandung senyawa metabolit sekunder berupa alkaloid dan
terpenoid yang bersifat toksik terhadap serangga hama. Tujuan dari penelitian ini
yaitu untuk mengetahui daya toksik ekstrak metanol biji mahoni (S. mahagoni)
terhadap parasitoid T. japonicum.
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Zoologi, Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jember dan Laboratorium Trichogramma
Pabrik Gula Jatiroto, Lumajang pada bulan Maret sampai September 2019.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode celup ekstrak metanol dalam
9 konsentrasi, yaitu 0%, 0,25%, 0,5%, 1%, 2%, 4%, 6%, 8% dan 10% yang
diaplikasikan pada T. japonicum instar ketiga dalam telur inang Corcyra
cephalonica. Masing-masing konsentrasi diaplikasikan dalam 50 telur parasitoid
dengan lima kali pengulangan. Pengaruh ekstrak metanol biji mahoni dapat dilihat
pada jumlah kemunculan imago T. japonicum. Data jumlah kemunculan imago
dicatat dari hari pertama sampai hari ketujuh. Analisis jumlah kemunculan imago
menggunakan uji nonparametrik Kruskal-Wallis dan uji lanjutan Mann-Whitney.
Hasil pengamatan menunjukan bahwa ekstrak metanol biji mahoni
berpengaruh terhadap lama waktu kemunculan imago (eclosion). Semakin tinggi
konsentrasi maka semakin lama waktu yang diperlukan untuk membentuk imago.
Hasil analisis uji Kruskal-Wallis menunjukan bahwa pemberian ekstrak metanol
biji mahoni sampai pada konsentrasi 8% tidak berbeda nyata terhadap jumlah
kemunculan imago parasitoid. Hal tersebut menunjukan respon negatif T.
japonicum terhadap ekstrak metanol biji mahoni, dilihat dari keberhasilan
pembentukan imago T. japonicum. Hal tersebut diduga kandungan senyawa
metabolit sekunder dalam biji mahoni, yaitu alkaloid dan terpenoid menghalangi
aktivitas hormone ecdyson yang berperan dalam proses molting selama masa
metamorfosis yang mengakibatkan imago T. japonicum muncul secara terlambat
Uji Fitokimia Dan Uji Mortalitas Ekstrak N-Heksana Dan Metanol Biji Mahoni (Swietenia Mahagoni Jacq) Terhadap Hama Penggerek Buah Kopi Hypothenemus Hampei (Ferr.)
Swietenia mahagoni (Jacq) merupakan salah satu tumbuhan yang banyak
ditemukan di Indonesia dan berpotensi sebagai insektisida nabati karena memiliki
kandungan metabolit sekunder. Kandungan senyawa kimia metabolit sekunder
yang aktif di dalam oleh S. mahagoni sangat baik digunakan untuk pengendalian
hama yang merugikan manusia dan mengganggu pada sektor perkebunan. Salah
satu hama yang merugikan adalah hama penggerek buah kopi (PBKo)
Hypothenemus hampei (Ferr). H. hampei merupakan hama penggerek buah kopi
yang saat ini merupakan faktor utama penyebab penurunan mutu dan cita rasa kopi.
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui kandungan fitokimia S. mahagoni
yang terletak di sekitar Universitas Jember, Jawa Timur, Indonesia dan untuk
mengetahui pengaruh mortalitas ekstrak metanol dan n-heksana dari biji
S. mahagoni terhadap hama penggerek buah kopi H. hampei.
Penelitian ini meliputi esktrak, uji fitokimia, dan uji mortalitas. Ekstraksi
dilakukan dengan cara bertingkat menggunakan pelarut n-heksana dan pelarut
metanol. Uji toksisitas dilakukan dengan aplikasi racun kontak metode residu
menggunakan 10 ekor imago Hypothenemus hampei untuk masing-masing
konsentrasi tiap ekstrak serta 3 kontrol (akuades, metanol, dan n-heksana).
Konsentrasi metanol dan n-heksana yang digunakan adalah 0,5; 1; 2; 4; dan 8%.
Toksisitas ekstrak terhadap mortalitas H. hampei setelah 168 jam dihitung
viii
menggunakan probit analisis dan hasilnya dinyatakan dalam LC
50
. Perbedaan yang
signifikan antara persentase mortalitas rata-rata pada konsentrasi yang berbeda
dianalisis dengan ANOVA dan dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan.
Hasil ekstrak metanol biji S. mahagoni mengandung alkaloid dan terpenoid,
sedangkan ekstrak n-heksana mengandung steroid. Analisis probit menunjukkan
bahwa ekstrak metanol biji S. mahagoni dengan tiga kontrol memiliki nilai LC
50
(akudes (LC
50
=2,55%), metanol (LC
50
=2,37%), dan n-heksana (LC
50
lebih toksik terhadap H. hampei dibandingkan ekstrak n-heksana dengan
menggunakan tiga kontrol dengan nilai LC
50
(LC
50
=2,47%), n-heksana (LC
50
(akuades LC
50
= 2,37%))
=2,31%), metanol
=2,47%)). Hasil tersebut menggambarkan bahwa
biji S. mahagoni dapat digunakan sebagai sumber potensial insektisida nabati
Uji Fitokimia Dan Uji Toksisitas Ekstrak Metanol Dan N-Heksana Kulit Batang Rhizophora Mucronata (Lamk.) Terhadap Hypothenemus Hampei (Ferr.)
Rhizophora mucronata (Lamk.) merupakan salah satu tumbuhan di Indonesia yang berpotensi sebagai insektisida nabati karena kandungan senyawa metabolit sekundernya
PENGARUH FERMENTASI OLEH EFFECTIVE MICROORGANISM-4 (EM-4) TERHADAP KADAR KURKUMIN EKSTRAK RIMPANG TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb.)
Jamu atau obat tradisional sudah dikenal dan digunakan di seluruh dunia sejak waktu yang lama. Pemanfaatan jamu bukan hanya untuk manusia, tetapi juga untuk hewan. Terhadap hewan, pemberian jamu dapat meningkatkan produktivitas. Rimpang temu-temuan merupakan bahan utama pembuatan jamu hewan. Salah satunya adalah rimpang dari tanaman temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.).
Rimpang temulawak mengandung terpenoid, fenol, flavonoid, saponin, alkaloid, kumarin. Rimpang temulawak terkandung kadar pati, abu dan kurkumin. Warna kuning temulawak berasal dari senyawa turunan fenol yang termasuk kelompok kurkuminoid. Ada dua senyawa kurkuminoid yang ditemukan pada temulawak, yaitu kurkumin dan demetoksikurkumin. Senyawa ini diketahui memiliki aktivitas sebagai antioksidan. Larutan standar kurkumin digunakan untuk pembuatan kurva standar dengan volume 8, 10, 12, 14, 16 dan 18 μl.
Rimpang temulawak yang telah dihaluskan dan ditambahkan EM-4 dengan variasi penambahan volume sebanyak 10, 20, dan 30 mL, serta tanpa penambahan EM-4 difermentasi selama tujuh hari. Hasil fermentasi disaring, filtrat yang dihasilkan diekstraksi menggunakan kloroform, kemudian dievaporasi. Hasil evaporasi dilarutkan sampai tanda batas 5 ml dengan aseton. Sampel dianalisis menggunakan KLT dengan campuran eluen kloroform:etanol:asam asetat glasial (97:2:1). Analisa penentuan kadar dilakukan dengan metode KLT-Densitometri pada panjang gelombang 420 nm.
Kadar kurkumin semakin bertambah seiring dengan semakin banyaknya penambahan volume EM4. Kadar kurkumin dengan penambahan 10, 20 dan 30 ml EM4 berturut-turut yaitu 0,49 x 10-3 mg/kg; 0,53 x 10-3 mg/kg; dan 3,38 x 10-3 mg/kg. Kadar kurkumin dengan penambahan 10 dan 20 ml EM4 lebih sedikit dibandingkan dengan sampel tanpa penambahan EM4, yaitu 0,49 x 10-3 mg/kg dan 0,53 x 10-3 mg/kg dibanding dengan 0,79 x 10-3 mg/kg. Sedangkan sampel dengan penambahan 30 ml EM4 mengandung kadar kurkumin lebih besar, yaitu 3,38 x 10-3 mg/kg.
Sampel dengan penambahan 10 dan 20 ml EM4 terbentuk spot selain pada larutan standar yang kadarnya cukup besar sehingga kurkumin yang terhitung menjadi lebih rendah dibandingkan dengan sampel tanpa penambahan EM4. Sebaliknya, pada penambahan 30 ml EM4, intensitas spot kurkumin yang terbentuk lebih tebal dibandingkan dengan penambahan 10 dan 20 ml EM4, dengan senyawa lain lebih sedikit daripada sampel dengan penambahan 10 dan 20 ml EM4, sehingga kadar kurkumin yang terhitung paling besar
Uji Ekstrak n-Heksana, Diklorometana, Dan Metanol Daun Mimba (Azadirachta indica Juss) Terhadap Mortalitas Hypothenemus hampei (Ferr.)
Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan yang penting di
Indonesia karena merupakan salah satu penghasil devisa negara yang tinggi.
Masalah utama yang dihadapi oleh petani kopi adalah serangan dari hama
penggerek buah kopi Hypothenemus hampei Ferr. yang dapat menyebabkan
turunnya nilai jual kopi. Penanganan hama tersebut yang banyak dilakukan adalah
dengan menggunakan insektisida sintetik. Penggunaan isektisida sintetik dalam
jangka panjang dikhawatirkan dapat menyebabkan masalah lain seperti resistensi
hama dan pencemaran lingkungan. Solusi lain dari permasalahan ini adalah
dengan menggunakan insektisida nabati dimana pada penelitian ini memanfaatkan
ekstrak n-heksana, diklorometana, dan metanol daun mimba Azadirachta indica
Juss. sebagai insektisida nabati. Studi tentang pengaruh ekstrak n-heksana,
diklorometana, dan metanol dari daun Azadirachta indica terhadap mortalitas
Hypothenemus Hampei kemudian dilakukan. Uji ekstrak n-heksana,
diklorometana, dan metanol A. indica terhadap mortalitas H. Hampei dilakukan
dengan metode racun kontak dan tiga jenis kontrol berbeda (akuades, n-heksana,
diklorometana, dan metanol) kemudian diamati hingga jam ke-168. Ekstrak nheksana
yang diperkirakan mengandung senyawa metabolit sekunder golongan
terpenoid dan alkaloid terbukti dapat menyebabkan mortalitas terhadap H.
Hampei yang menurut analisis probit memiliki nilai LC50 (kontrol akuades
(LC50=3,32%), kontrol n-heksana (LC50=3,86%), diklorometana (LC50=4,28%),
dan kontrol metanol (LC50=4,06%)). Ekstrak diklorometana yang diperkirakan
mengandung senyawa metabolit sekunder golongan terpenoid, flavonoid, alkaloid,
tanin, dan saponin terbukti dapat menyebabkan mortalitas terhadap H. Hampei
yang menurut analisis probit memiliki nilai LC50 (kontrol akuades
(LC50=1,59%), kontrol n-heksana (LC50=1,52%), diklorometana (LC50=1,56%),
dan kontrol metanol (LC50=1,49%)). Ekstrak metanol yang diperkirakan
mengandung senyawa metabolit sekunder golongan tanin dan saponin terbukti
dapat menyebabkan mortalitas terhadap H. Hampei yang menurut analisis probit
memiliki nilai LC50 (kontrol akuades (LC50=1,93%), kontrol n-heksana
(LC50=2,17%), diklorometana (LC50=2,40%), kontrol metanol (LC50=2,42%)).
Hasil tersebut menunjukan bahwa daun A. indica dapat digunaan sebagai pestisia
nabati untuk melawan hama H. hampei
Pengaruh Daerah Asal Terhadap Profil Minyak Atsiri Daun Tembakau Kasturi Hasil Distilasi Uap dan Ekstraksi Pelarut
Tembakau Kasturi merupakan salah satu komoditi lokal Jember yang
memiliki berbau yang kuat dan aromatik serta cita rasa yang khas, sehingga
tembakau tersebut dibutuhkan hampir seluruh industri rokok. Terkait kebijakan
pemerintah mengenai pembatasan produksi rokok, maka industri rokok berusaha
melakukan diversifikasi produk pada beberapa tembakau agar usaha di bidang
tembakau tidak surut. Salah satu alternatif produk sampingan untuk industri rokok
adalah produksi minyak atsiri tembakau. Minyak atsiri dapat diartikan sebagai
ekstrak campuran senyawa volatil yang dihasilkan oleh bagian-bagian tertentu
suatu tumbuhan dan bersifat khas (Tavish dan Haris, 2002). Kandungan minyak
atsiri berupa campuran senyawa kimia yang besifat kompleks, misalnya alkohol,
oksida, hidrokarbon, aldehida, ester dan eter (Agusta, 2000). Minyak atsiri banyak
dimanfaatkan sebagai bahan pewangi, seperti sabun dan kosmetik dalam bidang
industri (Ketaren, 2006). Menurut Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur (2013)
menyatakan bahwa kadar suatu minyak atsiri dalam tembakau, salah satunya dapat
dipengaruhi oleh karakteristik pemilihan lokasi lahan.
Penelitian ini menggunakan daun tembakau Kasturi Selatan (Kec. Balung)
dan Utara (Kec. Kalisat) untuk mengetahui profil (rendemen dan senyawa kimia)
minyak atsiri tersebut. Produksi minyak atsiri dilakukan dengan ekstraksi distilasi
uap dengan variasi lama waktu distilasi 9, 11, 13 jam dan ekstraksi pelarut. Minyak
atsiri dianalisa rendemennya dalam berat kering, kemudian dianalisa dengan
GC-MS untuk mengetahui kandungan senyawa kimianya. Senyawa yang dianggap
teridentifikasi oleh GC-MS adalah senyawa yang memiliki nilai SI ≥ 85.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin lama waktu distilasi uap
maka rendemen dan jumlah senyawa yang diperoleh minyak atsiri daun tembakau
Kasturi Utara semakin besar pula. Data profil minyak atsiri daun tembakau Kasturi
Selatan hasil distilasi uap tidak dapat digunakan, karena tidak representatif
(mengalami penurunan seiring bertambahnya lama waktu distilasi uap).
Perbandingan metode ekstraksi menyebabkan rendemen dan jumlah senyawa
minyak atsiri daun tembakau Kasturi Utara hasil distilasi uap 11 jam lebih sedikit
dibandingkan ekstraksi pelarut. Daerah asal daun tembakau Kasturi mempengaruhi
profil minyak atsiri berupa rendemen dan kandungan senyawa kimianya.
Rendemen minyak atsiri daun tembakau hasil ekstraksi pelarut untuk Kasturi Utara
(5,2426%) lebih besar dibandingkan Kasturi Selatan (4,0890%). Namun, jumlah
keanekaragam senyawa kimia penyusun minyak atsiri daun tembakau Kasturi Utara
(24 senyawa) lebih sedikit dibandingkan Kasturi Selatan (29 senyawa)
STUDI PENGARUH KADAR Mo DALAM KATALIS BIMETAL Mo- Ni/ZAAH PADA PERENGKAHAN MINYAK SAWIT
Konsumsi energi terus-menerus dapat berdampak pada cadangan minyak bumi
yang semakin menipis. Salah satu komoditas yang ternyata memiliki potensi sebagai
energi baru dan terbarukan yaitu kelapa sawit. Minyak kelapa sawit tersusun atas
trigliserida dengan jenis asam lemak palmitat dan asam lemak oleat sebagai penyusun
terbesar. Minyak sawit dapat dikonversi menjadi biofuel salah satunya melalui
perengkahan. Katalis yang sering digunakan dalam proses perengkahan yaitu zeolit.
Zeolit merupakan aluminosilikat yang banyak digunakan sebagai media pengemban
dari logam aktif. Modifikasi zeolit melalui impregnasi logam diharapkan dapat
meningkatkan aktivitas dari katalis. Adanya impregnasi logam juga dapat
berpengaruh terhadap karakteristik dari katalis yang dihasilkan. Logam Ni sering
diembankan dalam zeolit untuk katalis perengkahan. Logam Mo memiliki karakter
yang berbeda dengan Ni namun juga memiliki kemampuan sebagai katalis, sehingga
kedua logam tersebut dapat dijadikan sebagai katalis bimetal.
Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh logam Mo terhadap
karakteristik dan aktivitas katalis bimetal Mo-Ni/ZAAH. Penelitian diawali dengan
preparasi katalis meliputi aktivasi zeolit dengan HF 1%, diasamkan dengan HCl 2M
dan NH4Cl 2M dan dilanjutkan hidrotermal dengan mengalirkan uap air pada suhu
500 oC. Setelah diperoleh katalis ZAAH, dilanjutkan dengan impregnasi Ni sebesar
2% b/b dan kemudian Mo diimpregnasikan sebesar 0%, 1%, 2%, 3%, dan 4% b/b ke
dalam katalis Ni2%/ZAAH. Katalis Mo-Ni/ZAAH diberikan perlakuan kalsinasi dan
oksidasi untuk menghilangkan pengotor organik dan anorganik. Karakteristik katalis meliputi kandungan Na, rasio Si/Al dan kandungan Ni dan Mo dianalisa dengan
AAS, sedangkan keasaman total katalis ditentukan secara gravimetri. Preparasi
umpan dilakukan dengan cara transesterifikasi minyak sawit menggunakan metanol
dengan perbandingan 1: 6 dan NaOH sebesar 1% dari berat minyak sawit. Metil ester
yang diperoleh selanjutnya dilakukan proses perengkahan secara termal dan katalitik.
Reaktor yang digunakan jenis fixed bed dengan temperatur 450 oC dan laju N2 sebesar
20 mL/menit. Katalis yang digunakan sebanyak 4 gram dengan waktu operasi selama
30 menit. Metil ester awal dan hasil perengkahan secara termal dan katalitik dianalisa
menggunakan GC-MS. Berdasarkan GC-MS maka diketahui aktivitas dari katalis
Mo-Ni/ZAAH yang terbaik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa zeolit mengalami peningkatan rasio
Si/Al dari 2,44 menjadi 8,12 setelah terjadi dealuminasi. Semakin banyak logam Mo
yang diimpregnasikan pada katalis bimetal Mo-Ni/ZAAH, ternyata menyebabkan
peningkatan kembali kandungan Na meskipun dalam jumlah kecil dan cenderung
meningkatkan keasaman total dari katalis. Keasaman total tertinggi dimiliki oleh
katalis Mo3%-Ni/ZAAH. Keberhasilan impregnasi Mo sebesar 2, 3 dan 4% b/b
ternyata masih jauh dari yang diimpregnasikan awalnya dan penggantian terhadap
logam Ni relatif kecil. Hasil analisa GC-MS dari metil ester awal menunjukkan metil
oleat memiliki persen puncak area tertinggi, sedangkan pada hasil perengkahan baik
secara termal maupun katalis masih cenderung sama dengan puncak dari umpan
meskipun muncul beberapa puncak baru. Aktivitas katalis yang rendah kemungkinan
besar disebabkan oleh terbentuknya kokas yang berlebihan. Namun katalis yang
menunjukkan aktivitas paling baik ditunjukkan pada jenis katalis Mo2%-Ni/ZAAH
- …
