170 research outputs found
KOMBINASI PUPUK ORGANIK DAN AGENS HAYATI UNTUK MENGENDALIKAN HAMA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kombinasi pupuk organik (cair dan granular) dan agens hayati terhadap
serangan hama tanaman padi dan peningkatan produksi tanaman padi. Penelitian dilaksanakan di Desa Mayang, Kabupaten Jember, Jawa
Timur dari bulan Juni sampai dengan September 2014. Tanaman indikator yang digunakan untuk melihat perlakuan adalah varietas
mekongga. Percobaan menggunakan Rancangan faktorial 2x3 yang disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dengan tiga ulangan. Faktor
pertama adalah jenis pupuk organik terdiri dari dua taraf yaitu (P1) pupuk organik granul dan (P2) pupuk organik cair dan faktor kedua
adalah jenis agens hayati terdiri dari tiga taraf yaitu (A1) NEP, (A2) Beauveria bassiana, dan (A3) Serratia sp. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan berpengaruh nyata menurunkan populasi hama L. oratorius dan Oxya sp. Tetapi aplikasi pupuk
organik dan agens pengendali hayati tidak memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan tinggi tanaman dan jumlah anakan. Pengaruh tunggal
aplikasi pupuk cair dengan dosis 250 ml/15m2 memberikan hasil yang nyata dan terbaik terhadap hasil produksi dan pengaruh tunggal
aplikasi agens pengendali hayati B. bassiana memberikan hasil yang nyata dan terbaik terhadap populasi hama
ANALISIS INDEKS KUALITAS TANAH DI LAHAN PERTANIAN TEMBAKAU KASTURI
Produktivitas tembakau kasturi yang baik dipengaruhi oleh dua faktor yakni faktor genetik dan lingkungan. Kualitas tanah merupakan
salah satu faktor terpenting dalam menunjang pertumbuhan tembakau. Kualitas tanah mengintegrasikan komponen fisik, kimia dan biologi
tanah serta interaksinya. Salah satu penyusun kualitas tanah ialah sifat kimia tanah. Pada penelitian kali ini, penyusunan indeks kualitas
tanah dilakukan berdasarkan sifat kimia tanahnya saja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh indeks kualitas
tanah di lahan pertanian tembakau kasturi di Jember dengan produktivitas tembakau kasturi. Penentuan indeks kualitas tanah dilakukan
dengan metode Pryncipal Component Analysis (PCA). Selanjutnya dilakukan analisis regresi dan korelasi antara indeks kualitas tanah
dengan produktivitas tembakau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 17 daerah pengamatan, 4 daerah yakni Kalisat, Ambulu,
Wuluhan dan Sumber Jambe masuk kategori sangat tinggi, 1 daerah yakni Jelbuk masuk kategori sedang dan lainnya masuk kategori tinggi.
Terdapat hubungan korelasi positif dan sangat erat (Korelasi = 0,83) antara nilai IKT dengan produktivitas tembakau, dalam artian semakin
tinggi nilai IKT maka semakin baik produktivitas tembakau yang dihasilkan dengan tingkat kepercayaan sebesar 68,9%
UJI EFEKTIFITAS PERTUMBUHAN Spirulina sp. PADA LIMBAH CAIR TAHU YANG
Media kultur jenis Pro Analisis (PA) seperti media Zarouk sebagai media kultur Spirulina sp. terbukti dapat menumbuhkan Spirulina sp.
Mahalnya media kultur jenis PA menjadi dasar pencarian pupuk alternatif . Oleh sebab itu dilakukan penelitian penggunaan media alternatif
yaitu media limbah cair tahu yang diperkaya urea dan SP 36. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efektifitas pertumbuhan Spirulina
sp. pada media limbah cair tahu yang diperkaya urea dan SP 36 agar diketahui dosis media limbah cair tahu yang optimum untuk
pertumbuhan Spirulina sp. Kultivasi Spirulina sp. pada media limbah cair tahu dilakukan di 21 erlenmayer 500 ml, intensitas cahaya 2500
lux selama 16 jam, dan temperatur 22 ºC. Penelitian ini menggunakan perlakuan kombinasi dengan dua faktor. Faktor yang pertama adalah
limbah cair tahu dengan 3 taraf yaitu 20%, 30%, dan 40%. Sedangakan faktor yang kedua adalah pupuk urea dan sp 36 dengan 2 taraf yaitu
0 mg/L urea, Sp 36, dan 300 mg/L urea, 200 mg/L Sp 36. Kurva pertumbuhan Spirulina sp. menunjukan bahwa pertumbuhan Spirulina sp.
lebih efektif pada media limbah cair tahu 30% tanpa urea dan sp 36 dibanding media zarouk. Biomasa Spirulina sp. perlakuan limbah cair
tahu 30% sebesar 0,0288 gr/L
PENGARUH APLIKASI PACLOBUTRAZOL DAN DOSIS PUPUK KALIUM
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui interaksi antara konsentrasi paclobutrazol dengan dosis pupuk kalium terhadap pertumbuhan
dan hasil umbi bawang merah, mengetahui pengaruh konsentrasi paclobutrazol terhadap pertumbuhan dan hasil umbi bawang merah,
mengetahui pengaruh dosis pupuk kalium terhadap pertumbuhan dan hasil umbi bawang merah. Metode penelitian menggunakan
Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan uji Duncan (α, 5%), terdiri dari dua faktor, yaitu: Konsentrasi Paclobutrazol (P) dan
Dosis Pupuk Kalium (K), masing-masing dengan 3 kali ulangan. Dua faktor terdiri dari: 1. Faktor pertama dengan konsentrasi Paclobutrazol
(P), yang terdiri dari 4 taraf, yaitu: P0:0, P1:15, P2:30, dan P3:45 ppm/tanaman. 2. Faktor kedua adalah dengan Dosis Pupuk Kalium (k),
yang terdiri dari 4 taraf, yaitu: K0:0, K1:0,3, K2:0,6, dan K3:0,9 K2O g/tanaman. Hasil penelitian menunjukkan berbeda nyata pada
perlakuan interaksi konsentrasi paclobutrazol dan dosis pupuk kalium pada variabel jumlah daun dan perlakuan konsentrasi paclobutrazol
menunjukkan berbeda nyata pada variabel jumlah umbi dan diameter umbi. Terdapat nilai interaksi tertinggi pada perlakuan P1K0
memiliki jumlah daun tertinggi sebesar 62 helai sedangkan perlakuan P0K0 menghasilkan jumlah daun terendah sebesar 39 helai. Perlakuan
konsentrasi paclobutrazol 45 ppm menghasilkan jumlah umbi tertinggi sebesar 11,33. Konsentrasi paclobutrazol 30 ppm menghasilkan
jumlah tertinggi pada parameter diameter umbi sebesar 17,79 mm. Pemberian dosis pupuk kalium memberikan pengaruh tidak nyata pada
semua parameter tetapi dosis pupuk kalium akan meningkatkan kualitas umbi bawang merah
PERTUMBUHAN BIBIT CABE JAWA (Piper retrofractum Vahl.) SEBAGAI
Penelitan yang bertujuan untuk mengidentifikasi respon awal pertumbuhan tanaman cabe jawa (Piper retrofactum Vahl.) terhadap dosis dan
jenis pupuk nitrogen telah dilaksanakan di lahan Bapak Jaenuri Desa Bangsalsari Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember pada bulan
Agustus sampai dengan bulan Oktober 2014. Penambahan pupuk nitrogen bertujuan untuk meningkatkan kandungan klorofil yang
digunakan tanaman dalam proses fotosintesis dan penyusun protein bagi pertumbuhan tanaman. Penelitian ini menggunakan rancangan acak
kelompok yang disusun secara faktorial dan diulang 4 kali. Faktor pertama adalah jenis pupuk nitrogen terdiri dari 2 taraf yaitu V1= urea
dan V2=ZA. Faktor kedua yaitu dosis pupuk nitrogen yang terdiri dari 4 taraf yaitu N0= 0 g N/tan, N1= 1.5 g N/tan, N2= 3.0 g N/tan dan
N3= 4.5 g N/tan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda duncan (α=5%). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemupukan ZA dengan dosis 1.5 g N/tan memiliki nilai tertinggi untuk semua karakter yang
diamati
UJI EFEKTIVITAS HASIL PENGKAYAAN HARA NPK SENYAWA HUMIK JERAMI
Senyawa humik merupakan bentuk bahan organik tanah yang paling tahan terhadap aktivitas pelapukan mikrobia serta menyusun sebagian
besar bahan organik total tanah (60-80 %). Jerami padi merupakan salah satu bahan organik yang potensial untuk dikembangkan senyawa
humiknya di Indonesia. Percobaan ini menggunakan 2 faktor perlakuan dengan Rancangan Acak Kelompok Faktorial. Senyawa humik
jerami diperkaya unsur hara NPK-nya dengan pupuk NPK sintetis pada konsentrasi yang berbeda (faktor A). Bahan ini kemudian
diaplikasikan pada media tanam tanaman mentimun dan diuji pada media tanam dengan kandungan Cu tinggi (faktor B). Berdasarkan kurva
regresi kedua faktor perlakuan, terdapat interaksi antara kedua faktor perlakuan terhadap semua variabel pengamatan. Interaksi kedua faktor
perlakuan masih belum memberikan pengaruh yang signifikan pada respon serapan N jaringan, kadar P2O5 media tanam, serta serapan P2O5
jaringan tanaman. Pengaruh perlakuan penambahan Cu media cenderung meningkatkan semua respon variabel pengamatan kecuali pada
variabel N total media dan jumlah daun efektif. Pemberian senyawa humik jerami diperkaya NPK dengan efektivitas terbaik berada pada
taraf 1/3 pengkaya NPK anjuran pada media tanam tanpa penambahan Cu dan pada taraf 4/3 pengkaya NPK anjuran pada media tanam
dengan penambahan unsur Cu 195 mg/kg media. Dosis pupuk NPK anjuran per tanaman yaitu 50 gram pupuk NPK majemuk (20:32:42)
Aluminum Exchangeable and Phosphorous Availability on Ultisol Using Humic Substance and Synthetic ……………..…. Sugeng Winarso and Abdullah Taufiq
Humic substance (HS) extracted from composted agricultural waste contains organic acids that potential for an acid soil amandement. Functional group of COOH and OH in synthetically organic acid is higher than in HS originated from composted agricultural waste. Addition of synthetically organic acid to the HS may increase its functional group and therefore it will increase effectiveness in detoxifying aluminum (Al) and desorpting phosphorus (P) from an acid soil. Objective of reseach was to determine effect of synthetic organic acid addition to HS extracted from composted organic matter in desorpting P and detoxify Al. Research was conducted at Soil Laboratory of Agricultural Faculty of Jember University from February to May 2010. Treatment consisted of combination of four levels of HS concentration extracted from composted rice straw (0; 1,000; 2,000; and 5,000 mg kg-1) with two kind of synthetic organic acid: ethylenediaminetetraacetic acid (EDTA) and acetic acid (CH3COOH) at concentration of 5 mM. The treatment laid out in a randomized complete by design with three replications. Ultisol collected from Kentrong Banten was used in this research. Observation consisted of pH, Al and P concentration in the suspension at 0, 1, 2, 3, and 4 weeks after incubation. The result showed that EDTA or acetic acid treatment at concentration of 5 mM effectively increased soil pH and decreased exchangeable Al (exch-Al). However, EDTA was more reactive and having higher capability in increasing pH and detoxifying exch-Al than acetic acid. Humic substance extracted from composted rice straw at concentration of 1,000 to 5,000 mg kg-1 also effectively increased soil pH, decreased exch-Al, and increased P availability during a 4 weeks incubation period. The HS effect in Al detoxification and P desorption in acid soil could be boosted by addition of EDTA or acetic acid syntheti
UJI EFEKTIFITAS PERTUMBUHAN Spirulina sp. PADA LIMBAH CAIR TAHU YANG DIPERKAYA UREA DAN SUPER PHOSPHATE 36 (SP 36)
Produksi biomassa Spirulina sp. dapat ditingkatkan melalui optimasi media kultur Spirulina sp. Jenis media kultur yang banyak dipilih masyarakat dalam kultur Spirulina sp. adalah jenis Pro Analisis (PA) yang sudah distandarkan seperti media Zarouk. Mahalnya media kultur jenis PA menjadi dasar pencarian media alternatif untuk kultur Sirulina sp. Oleh sebab itu penggunaan media alternatif sangat dibutuhkan dalam pengembangan Spirulina sp. Limbah cair tahu memiliki kandungan unsur hara makro dan mikro yang cukup potensial sebagai media kultur Spirulina sp. Dalam penelitian ini, limbah cair tahu diperkaya dengan pupuk urea dan SP 36 untuk meningkatkan kandungan fosfor dan nitrogen dalam media kultivasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas pertumbuhan Spirulina sp. pada limbah cair tahu yang diperkaya pupuk urea dan SP 36 berdasarkan produksi biomasa Spirulina sp.
Penelitian ini dimulai tanggal 13 januari 2015 sampai dengan 11 april 2015. Tempat penelitian dilakukan di Laboratorium Biologi Tanah dan Kimia Tanah Fakultas Pertanian Universitas Jember dan Laboratorium Fikologi, Laboratorium Mikrobiologi, dan Laboratorium Biologi Dasar Fakultas MIPA Universitas Jember. Sampel Spirulina sp. diperoleh dari Laboratorium Plankton, Puslit Limnologi, LIPI, Cibinong. Perlakuan penelitian terdiri atas L1P1 : Limbah cair tahu 20% , urea 300 mg/l, dan SP 36 200 mg/l; L2P1 : Limbah cair tahu 30% , urea 300 mg/l, dan SP 36 200 mg/l; L3P1 : Limbah cair tahu 40% , urea 300 mg/l, dan SP 36 200 mg/l; L1P0 : Limbah cair tahu 20%; L2P0 : Limbah cair tahu 30%; L3P0 : Limbah Cair tahu 40%; Z : Media Zarouk sebagai kontrol. Inokulum awal pada masing-masing media perlakuan yaitu 20368 sel/ml atau 0,0003 gr/L. Kultivasi Spirulina sp. dilakukan di 21 erlenmayer 500 ml, intensitas cahaya 2500 lux selama 16 jam, dan temperatur 22 ºC. Pertumbuhan Spirulina sp. diamati sampai dengan hari ke-10 dengan mengukur nilai adsorban dari kerapatan atauOptical density (OD) pada panjang gelombang 680nm. Kemudian hasil pengukuran OD dikonversi menjadi biomasa (gr/L) dan jumlah sel (sel/mL) serta dihitung kecepatan tumbuhnya.
Hasil penelitian menunjukan kenaikan biomasa Spirulina sp. terhadap kontrol adalah L1P1 237,87%, L2P1 252,10%, L3P1 51,15%, L1P0 354,84%, L2P0 412,90%, dan L3P0 245,16 %. Biomasa perlakuan L1P1 0,0190 gr/L, L2P1 0,198 gr/L, dan L3P1 0,0085 gr/L terjadi pada puncak pertumbuhan hari ke-2. Perlakuan L1P0 0,0256 gr/L, L2P0 0,0288 gr/L terjadi pada puncak pertumbuhan dari ke-7. Sedangkan perlakuan L3P0 0,0187 dan Z 0,0056 terjadi pada puncak pertumbuhan hari ke-9. Kecepatan tumbuh spesifik pada hari ke-2 perlakuan L1P1 4,22 sel/mL/hari, L2P1 4,21 sel/mL/hari, L3P1 3,29 sel/mL/hari, L1P0 4,18 sel/mL/hari, L2P0 3,78 sel/mL/hari, L3P0 3,52 sel/mL/hari, Z 0,54 sel/mL/hari.
Berdasarkan produksi biomasa Spirulina sp. perlakuan limbah cair tahu dengan penambahan urea 300 mg/L dan sp 36 200 mg/L menunjukan hasil kurang efektif, sedangkan perlakuan limbah cair tahu dengan konsentrasi 30% tanpa penambahan urea 300 mg/L dan sp 36 200 mg/L menunjukan hasil yang lebih efektif dengan biomasa sebesar 0,0288 gr/L
PERTUMBUHAN BIBIT CABE JAWA (Piper retrofactum Vahl.) SEBAGAI RESPON TERHADAP DOSIS DAN JENIS PUPUK NITROGEN
Tanaman cabe jawa banyak dibutuhkan sebagai tanaman obat, maka dari
itu perlu adanya pengembangan terhadap tanaman obat ini melalui budidaya yang
intensif. Tanaman cabe jawa tumbuh pada lahan marginal seperti lahan kering
yang rendah kandungan unsur hara, terutama nitrogen. Unsur hara ini merupakan
unsur makro utama yang dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhannya, baik
sebagai penyusun klorofil maupun protein. Penambahan pupuk nitrogen harus
memperhatikan dosis dan jenis pupuk sebagai sumber nitrogen agar diperoleh
efisiensi pemupukan yang tepat, antara lain tepat jenis dan tepat dosis.
Penelitan dengan tujuan untuk mengidentifikasi respon pertumbuhan awal
tanaman cabe jawa (Piper retrofactum Vahl.) terhadap dosis dan jenis pupuk
nitrogen dilakukan untuk menjawab permasalahan tersebut di atas.
Penelitian ini dilaksanakan di lahan Bapak Jaenuri Desa Bangsalsari
Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember, pada bulan Agustus sampai dengan
Desember 2014. Bahan utama penelitian ini adalah tanaman cabe jawa, pupuk
urea dan ZA, serta menggunakan alat-alat yang dibutuhkan untuk mengukur
pertumbuhan tanaman seperti mistar, klorfil meter dan piranti soxhlet. Penelitian
ini menggunakan rancangan acak kelompok yang disusun secara faktorial dan
diulang 4 kali. Faktor pertama adalah jenis pupuk nitrogen terdiri dari 2 taraf yaitu
V1= urea dan V2=ZA. Faktor kedua yaitu dosis pupuk nitrogen yang terdiri dari 4
taraf yaitu N0= 0 g N/tan, N1= 1.5 g N/tan, N2= 3.0 g N/tan dan N3= 4.5 g N/tan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemupukan ZA dengan
dosis 1.5 g N/tan memiliki nilai tertinggi untuk semua parameter pengamatan
pertumbuhan tanaman cabe jawa (Piper retrofactum Vahl.)
KARAKTER FISIOLOGIS DAN AGRONOMIS BIBIT KAKAO (Theobroma cacao L.) YANG BERASOSIASI DENGAN Synechococcus sp. PADA MEDIA DENGAN BERBAGAI KADAR BAHAN ORGANIK
Peningkatan produksi kakao Indonesia dapat dicapai dengan penggunaan bibit kakao berkualitas yang mencukupi secara kuantitas. Kualitas bibit kakao dapat ditinjau dari karakteristik fisiologis dan agronomis bahan tanam tersebut. Bibit berkualitas dapat diproduksi denganpemberian bakteri Synechococcus sp. dan bahan organik dengan kadar yang tepat pada media. Synechococcus sp. dapat meningkatkan laju fotosintesis tanaman. Bahan organik digunakan sebagai penambah ketersediaan hara dan penyangga air yang dapat digunakan tanaman dalam pertumbuhannya dan sebagai tambahan energi dalam proses fotosintesis.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh aplikasi bakteri Synechococcus sp. dan penambahan berbagai kadar bahan organik pada media terhadap karakter fisiologis dan agronomis bibit kakao. Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Badean, Kabupaten Bondowoso yang dimulai pada bulan Desember 2014 sampai dengan Maret 2015. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan Split Plot yang terdiri atas 2 faktor dengan 3 ulangan. Faktor pertama sebagai petak utama adalah pemberian Synechococcus sp. (S), S0= bibit kakao non inokulasi Synechococcus sp dan S1= bibit kakao yang diinokulasi dengan Synechococcus sp. Faktor kedua sebagai anak petak yaitu kadar bahan organik (B) pada media tanam yang terdiri atas 5 taraf yaitu B0= 0% dari berat media, B1= 20% dari berat media, B2= 40% dari berat media, B3= 60% dari berat media, dan B4= 80% dari berat media.
Variabel yang diamati adalah karakter fisiologis yang meliputi pengukuran kandungan sukrosa, kandungan klorofil, konduktivitas stomata dan karakter agronomis yang meliputi tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, dan luas daun, serta parameter penunjang yaitu kelembaban dan suhu udara, serta intensitas cahaya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bibit kakao yang diinokulasi Synechococcus sp. dan penambahan bahan organik 60% meningkatkan karakter fisiologis bibit kakao yaitu pada kandungan klorofil sebesar 59,16%, konduktivitas stomata sebesar 63,49%, dan kandungan sukrosa sebesar 38,87%. Pengaruh tunggal Synechococcus sp. terhadap sifat fisiologis dan agronomis bibit kakao lebih baik dibandingkan bibit yang tidak diinokulasi. Kadar bahan organik optimum adalah 25 – 49,07% (g/g) pada media
- …
