1,721,077 research outputs found
ANTARA IDEALISME DAN KENYATAAN: KEBIJAKAN PENDIDIKAN TIONGHOA PERANAKAN DI SURABAYA PADA MASA PENDUDUKAN JEPANG TAHUN 1942-1945 Between Idealism and Reality: Education Policy of Chinese in Surabaya in the Japanese Era at 1942-1945)
Artikel ini membahas tentang kebijakan pendidikan Tionghoa peranakan pada masa pendudukan Jepang di Surabaya. Tulisan ini fokus mengkaji tentang politik pendidikan pendudukan Jepang merubah kebijakan pendidikan konkordansi dan dualisme bentukan Belanda menjadi lebih terbuka untuk semua golongan. Metode penulisan yang digunakan oleh penulis adalah metode Louis Gottschalk yaitu menggunakan kemampuan mengadaptasikan proses agar tercipta penulisan yang obyektif yaitu dengan tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, historiografi. Namun kebijakan pendidikan ini, tidak berlaku bagi golongan Tionghoa peranakan di Surabaya yang status kewarganegaraannya masuk dalam golongan asing. Anak-anak Tionghoa peranakan diwajibkan memasuki sekolah-sekolah Tionghoa yang dikelola organisasi Hua Chiao Chung Hui (HCCH) atau Federasi Orang Tionghoa peranakan bentukan pendudukan Jepang dengan bahasa pengantar Bahasa Mandarin. Secara umum kebijakan ini menimbulkan proses resinification (penyadaran dan penegasan kembali identitas sebagai keturunan bangsa Tionghoa), namun hal ini justru kurang begitu terasa di Surabaya yang menjadi basis kaum Tionghoa peranakan. Pengenalan adat istiadat dan kebudayaan Tionghoa bahkan menjadikan mereka terasing dengan tanah kelahirannya
PERKUMPULAN HWIE TIAUW KA DI SURABAYA 1999-2011
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, menganalisis, mendeskripsikan, dan
mengungkapkan perkumpulan Hwie Tiauw Ka Surabaya 1999-2011, bentuk kegiatan
aktivitas sosial di perkumpulan Hwie Tiauw Ka sejak awal keberadaan dan berdirinya
masa kolonialisme, khususnya di perkumpulan Hwie Tiauw Ka Surabaya. Penelitian
ini menggunakan metode historis. Sumber data yang digunakan adalah berupa surat
kabar, berbagai literatur buku, internet maupun sumber lain yaitu berupa wawancara.
Teknis analisis data menggunakan teknis analisis historis, yaitu analisa yang
mengutamakan dalam mengolah suatu data sejarah. Prosedur penelitian melalui
empat tahap yaitu : heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Pada 1820
berdirilah bangunan pertama kalinya dan tertua di Asia Tenggara yaitu perkumpulan
Hwie Tiauw Ka Surabaya tepatnya berada di Jalan Slompretan No 58 Surabaya
bagian Utara. Keberadaan pendirian sejak zaman kolonial Belanda hingga zaman
Reformasi. Perkumpulan Hwie Tiauw Ka Surabaya adalah perkumpulan perantauan
suku Hakka yang membentuk suatu organisasi di bidang sosial seperti mengurusi
kematian, sembahyang, dan bakti sosial sebagai wadah pemersatu untuk terus
menjalin komunikasi antar suku Hakka Surabaya
PERKUMPULAN HWIE TIAUW KA DI SURABAYA TAHUN 1999-2011 (Association Hwie Tiauw Ka In Surabaya Period 1999-2011)
Artikel ini bertujuan untuk mengidentifikasi, menganalisis, mendeskripsikan, dan mengungkapkan
Perkumpulan Hwie Tiauw Ka Surabaya Tahun 1999-2011, bentuk kegiatan aktivitas sosial di
Perkumpulan Hwie Tiauw Ka sejak awal keberadaan dan berdirinya masa kolonialisme hingga berjalan
saat ini khususnya di Perkumpulan Hwie Tiauw Ka Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode
historis. Sumber data yang digunakan adalah berupa surat kabar, berbagai literatur buku, internet
maupun sumber lain yaitu berupa wawancara. Teknis analisis data menggunakan teknis analisis historis,
yaitu analisa yang mengutamakan dalam mengolah suatu data sejarah. Prosedur penelitian melalui
empat tahap yaitu : heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Pada tahun 1820 berdirilah
bangunan pertama kalinya dan tertua di Asia Tenggara yaitu Perkumpulan Hwie Tiauw Ka Surabaya
tepatnya berada di Jalan Slompretan No 58 Surabaya bagian Utara. Perjalanan begitu panjang dan
berbagai tantangan yang dihadapi oleh Perkumpulan Hwie Tiauw Ka Surabaya sehingga berkembang
di berbagai bidang yaitu diantaranya bidang sosial, kebudayaan, dan bidang pendidikan. Yang
menjadikan aktivitas Perkumpulan Hwie Tiauw Ka Surabaya semakin maju dan dapat dirasakan
keberadaannya sebagai perkumpulan yang menjadikan pusat kegiatan sosial serta menjalin interaksi
komunikasi antar perantauan Hakka
Organisasi Pembina Iman Tauhid Islam (PITI) dan Aktivitasnya di Kabupaten Jember, 2000-2012
Penulisan ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi Pembina Iman Tauhid
Islam (PITI) Kabupaten Jember, mengetahui aktivitas Pembina Iman Tauhid
Islam (PITI) di Kabupaten Jember, serta mengetahui dampak yang ditimbulkan
dengan adanya organisasi Pembina Iman Tauhid Islam (PITI) Kabupaten Jember
bagi kehidupanetnis Tionghoa muslim di Kabupaten Jember. Penelitian ini
menggunakan Metode Historis. Sumber data yang digunakan adalah berupa
koran, berbagai literature buku, internet maupun sumber lain yaitu sumber
wawancara. Teknik analisis data menggunakan Teknik analisis historis, yaitu
Analisa yang mengutamakan dalam mengolah suatu data sejarah. Prosedur
penelitian melalui empat tahap yaitu :heuristik, kritik, interpretasi, dan
historiografi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kondisi
Pembina Iman Tauhid Islam (PITI) Kabupaten Jember cukup baik, artinya
organisasi ini berjalan sesuai dengan fungsinya yaitu menaungi etnis Tionghoa
Muslim dan sebagai penyambung asimilasi antara etnisTionghoa Muslim dengan
masyarakat pribumi. Aktivitas Pembina Iman Tauhid Islam (PITI) Kabupaten
Jember bergerak di bidang sosial dan ekonomi. Dampak dari aktivitas di bidang
sosial dan ekonomi tersebut adalah semakin diterimanya etnis Tionghoa,
khususnya yang beragama Islam, oleh masyarakat pribumi. Hal ini juga
berdampak pada semakin mudahnya akses sosial budaya dan ekonomi etnis
Tionghoa Muslim di Kabupaten Jember
PERKEMBANGAN PERKEBUNAN KOPI RAKYAT DESA SIDOMULYO KECAMATAN SILO KABUPATEN JEMBER PADA TAHUN 2004 – 2013
Permasalah dalam Skripsi ini
adalah (1) Apa Yang melatarbelakangi adanya perkebunan kopi rakyat di Desa
Sidomulyo Kecamatan Silo? (2) Bagaimana perkembangan perkebunan kopi
rakyat di Desa Sidomulyo pada tahun 2004 – 2013? (3) Bagaimana pengaruh
perkebunan kopi rakyat terhadap kehidupan ekonomi, sosial dan lingkungan
masyarakat di Desa Sidomulyo Kecamatan Silo Kabupaten Jember? Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah dengan tahapan – tahapan
pemilihan topik, heuristik, kritik sumber (kritik ekstern dan kritik intern),
interpretasi dan historiografi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah
teori perubahan sosial. Pengaruh adanya perkebunan kopi rakyat terhadap
masyarakat di Desa Salak yaitu mencakup dalam aspek ekonomi, sosial dan
lingkungan. Pengaruh dalam bidang ekonomi yaitu menciptakan lapangan
pekerjaan dan berdampak posistif untuk perekonomian masyarakat Desa
Sidomulyo untuk menjunjung kebutuhan sehari – hari. Di bidang sosial, adanya
peningkatan jumlah fasilitas pendidikan baik formal maupun non formal, dan di
bidang lingkungan adanya perkebunan kopi rakyat dapat mengurangi erosi,
menambah kesuburan tanah, dan tidak ada lagi kebakaran hutan ataupun
penerbangan liar
PABRIK GULA JATIROTO DAN PENCEMARAN LINGKUNGAN DI DESA SIDOREJO, KECAMATAN ROWOKANGKUNG, KABUPATEN LUMAJANG TAHUN 1989-2010
Skripsi ini membahas tentang pencemaran sungai di Desa Sidorejo, Kecamatan
Rowokangkung, Kabupaten Lumajang akibat dari pembuangan limbah pabrik
gula Jatiroto tahun 1989 - 2010. Permasalahan dalam skripsi ini adalah terjadinya
pencemaran sungai di Desa Sidorejo dampak dari pembungan limbah dari proses
penggilingan tebu pabrik gula Jatiroto, yang telah menyebabkan terjadinya suatu
perubahan kondisi sungai yang berada di Desa Sidorejo air sungai menjadi keruh
dan menimbulkan bau tidak dan menyengat, sehingga setelah sungai yang ada di
Desa Sidorejo tersebut tidak bisa lagi digunakan dimanfaatkan oleh warga untuk
kebutuhan sehari-hari dan pertanian sebagai pengairan sawah yang ada di Desa
Sidorejo, pencemaran sungai tersebut telah menjalar ke sumur – sumur warga ikut
tercemar sehingga warga mengalami kesulitan air bersih. Metode yang digunakan
dalam penulisan ini yakni heuristik, kritik, interpretasi, histiografi.Dampak lain
yang di timbulkan dari pencemaran sungai akibat dari pembungan limbah cair dari
proses penggilingan tebu pabrik gula Jatiroto, muncul permasalahan yang di
rasakan oleh warga Desa Sidorejo yakni masalah dampak lingkungan,Ekonomi
danSosial. Setelah munculnya dampak lingkungan, ekonomi dan kesehatanl yang
melanda masyarakat Desa Sidorejo membuat masyarakat melakukan penolakan
dan protes kepada pihak pabrik gula Jatiroto melalui pemerintah dan LSM desa
Sidorejo, melalui pemerintah Desa dan LSM desa Sidorejo pada tanggal 12 Maret
2010 mengirimkan surat dan proposal ke pihak ADM pabrik gula Jatiroto tentang
penolakan pembuangan limbah cair dari pabrik gula Jatiroto ke sungai yang
berada di desa Sidorejo serta permintaan air bersih untuk kebutuhan sehari – hari
dan pengairan pertanian desa Sidorejo
Peranan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Di Kabupaten Jember Tahun 2012 - 2019
Gerakan Protes PetaniI terhadap Perkebunan Rotorejo Kruwuk di Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar Tahun 1964-2016
Sosialisme merupakan cita-cita yang dinginkan oleh pemerintah Orde
Lama. Presiden Soekarno mewujudkan cita-cita tersebut dengan mencanangkan
program penataan ulang kepemilikan tanah atau yang disebut dengan landreform.
Dengan adanya program tersebut, diharapkan tidak akan ada lagi kesenjangan
kepemilikan tanah pada masyarakat Indonesia yang mayoritas
bermatapencaharian sebagai petani. Pelaksanaan program tersebut sering kali
mengalami masalah yang menyebabkan terjadinya konflik.
Latar belakang penulisan skripsi ini karena melihat adanya banyak konflik
tanah di Blitar, seperti di Kecamatan Gandusari, khususnya di Desa Gadungan
dan Desa Sumberagung. Permasalahan tanah di desa tersebut melibatkan antara
petani sekitar Perkebunan Rotorejo Kruwuk dengan pihak Perkebunan Rotorejo
Kruwuk. Penyebab terjadinya konflik dimulai sejak adanya ketidakadilan oleh
pihak perkebunan terhadap petani sekitar perkebunan yang telah mendapat
pembagian tanah bekas hak erfpacht dan masuk dalam obyek landreform.
Berdasarkan SK dari Kepala Inspeksi Agraria Djawa Timur No./Agr/13/XI/IIIK.
36/IIM/III tahun 1965, tanah yang masuk obyek landreform dibagikan dan
petani sekitar disuruh membayar ganti rugi kepada pemerintah. Tidak lama
setelah petani sekitar perkebunan membayar ganti rugi, tanah sebesar 49.000 Ha
diambil secara paksa oleh pihak perkebunan beserta bukti pembayarannya.
Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah untuk mengetahui gerakan protes
petani Desa Gadungan dan Desa Sumberagung terhadap Perkebunan Rotorejo
Kruwuk supaya mereka mendapatkan kembali hak tanah yang selama ini sudah
dicabut pihak perkebunan. Adapun manfaat dari penulisan skripsi ini adalah dapat
memperkaya penafsiran atau pemahaman tentang kajian sejarah yang membahas
xxiv
gerakan petani dalam konflik agraria. Terkait dengan metode yang digunakan
dalam penulisan skripsi ini adalah dengan menggunakan metode sejarah yang
menurut Louis Gottschalk ada empat tahapan yaitu heuristik, kritik sumber,
interpretasi dan historiografi.
Hasil dari penelitian mengenai sejarah singkat Perkebunan Rotorejo
Kruwuk yang menyebabkan konflik ialah ketidakadilan pihak perkebunan karena
telah mengambil tanah petani secara paksa. Masyarakat sekitar perkebunan sudah
beberapa kali mulai dari tahun 1984 sampai 1998 mengajukan surat kepada
pemerintah Kabupaten Blitar dan ke Kantor Agraria untuk meminta keadilan serta
meminta pengembalian tanah yang dicabut oleh pihak perkebunan. Baru
mendapat respon dari pemerintah pada tahun 2000 yang kemudian diadakan rapat
dengar antara anggota legeslatif, eksekutif, perwakilan dari petani dan perwakilan
dari pihak perkebunan bertemu. Kemudian menghasilkan kesepakatan untuk
menerima dan meneruskan tuntutan petani penggarap lahan.
Tuntutan untuk mendistribusikan lahan tersebut belum juga terrealisasi
karena Perkebunan Rotorejo Kruwuk merasa tanah tersebut masuk kedalam HGU.
Sikap pihak perkebunan yang demikian membuat masyarakat geram untuk terus
menyuarakan ketidak adilan. Sampai pada 31 Desember 2009, HGU milik
Perkebunan Rotorejo Kruwuk telah berakhir belum juga didistribusikan.
Penyebab lain yang membuat masyarakat sekitar geram ialah pihak perkebunan
terus melakukan penggarapan lahan meski sudah tidak memilik HGU
Pasang Surut Pabrik Rokok Semanggi Mas Di Kecamatan Boyolangu, Tulungagung Tahun 2001 - 2008
Skripsi ini menjelaskan bagaimana Pasang Surut Pabrik Rokok Semanggi Mas di Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung tahun 2000 - 2008. Penelitian ini adalah penelitian sejarah yang menggunakan metode sejarah dan sumber sejarah integral dengan lima tahapan, yaitu: pemilihan topik, pengumpulan sumber, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Pendekatan yang digunakan dalam pendekatan sosiologi ekonomi, yaitu pendekatan yang menjelaskan kebutuhan ekonomi dan kenyataan sosial dalam masyarakat.Pabrik Rokok Semanggi Mas sudah berdiri sejak tahun 1995,dalam perjalanannya Pabrik memberikan kontribusi besar terhadap kehidupan masyarakat sekitar dari buruh, petani tembkau, toko, tukang becak, dan warung makan disekitar pabrik. Dalam perkembanganya Pabrik Rokok Semanggi Mas mengalami pasang surut dengan berbagai faktor yang melandasinya, termasuk adanya pabrik pesaing. Pabrik Rokok Semanggi Mas selalu berupaya dengan inovasi terbaru untuk terus meningkatkan distribusinya kepada masyarakat
KEBIJAKAN EKONOMI JEPANG DI BLITAR TAHUN 1942 – 1945
Skripsi ini membahas tentang kebijakan ekonomi Jepang di Blitar tahun 1942- 1945. Permasalahan dalam skripsi ini adalah bagaimana kondisi Blitar sebelum masa pendudukan, bagaimana kebijakan Jepang dalam bidang pertanian dan perkebunan serta bagaimana dampak dari penerapan kebijakan pendudukan Jepang di Blitar. Skripsi ini dikerjakan dengan menggunakan metode sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak perubahan yang terjadi pada masyarakat Blitar. Kebijakan pertanian khususnya padi dengan cara mengenalkan bibit padi baru, mengubah sistem penanaman yang awalnya memakai cara tradisional diganti dengan sistem penanaman modern yaitu sistem larikan, mengupayakan peningkatan kesuburan pertanian dengan menggunakan pupuk kompos. Kebijakan perkebunan pada masa pendudukan Jepang diarahkan pada pengalihan sebagian tanah yang sebelumnya digunakan untuk pertumbuhan tebu yang beralih ke tanaman lain, khususnya padi dan area tanaman kapas dan jarak. Kebijakan yang dijalankan pemerintah militer Jepang di Kabupaten Blitar tidak mencapai sasaran. Kebijakan tersebut berdampak terjadinya kemerosotan kemakmuran terbukti dengan kurangnya bahan pangan dan sandang yang sangat diperlukan oleh rakyat. Penderitaan yang terus menerus dirasakan oleh masyarakat Blitar membawa dampak terjadinya pemberontakan pada tanggal 14 Februari 1945. Dapat disimpulkan bahwa penjajahan Jepang yang terjadi selama tiga setengah tahun sangat menyengsarakan kedudukan rakyat
- …
