1,720,991 research outputs found
Kepadatan Dan Pola Distribusi Populasi Anadara Antiquata L. Di Zona Intertidal Pantai Bilik Taman Nasional Baluran
Anadara antiquata L. merupakan salah satu anggota filum Moluska dan
termasuk ke dalam kelas Bivalvia. Kerang ini banyak ditemukan di zona
intertidal termasuk di Pantai Bilik Taman Nasional Baluran (TNB). Pantai Bilik
TNB memiliki tipe substrat yang bervariasi seperti lumpur berpasir, pasir
berkarang dan batuan karang dan hewan jenis ini menyukai substrat lunak seperti
lumpur berpasir sebagai habitatnya. Anadara antiquata L. merupakan pemakan
materi tersuspensi dengan cara menyaring air dan juga sebagai bioindikator
polutan. Kerang jenis ini banyak dieksploitasi untuk konsumsi dagingnya serta
cangkangnya diambil untuk campuran bahan bangunan. Aktivitas ini
memungkinkan populasi hewan ini akan terus mengalami penurunan yang juga
dapat mengubah pola distribusi alaminya. Oleh karena itu, perlu dilakukan
penelitian tentang kepadatan dan pola distribusi di zona intertidal Pantai Bilik
TNB karena belum ada informasi tentang dua karakteristik struktur populasi
hewan ini.
Pengambilan sampel dilakukan pada bulan juli pada saat surut maksimal di
zona intertidal Pantai Bilik TNB. Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah metode plot. Pada lokasi penelitian diletakkan transek garis yang terbuat
dari tali tampar sepanjang ±250 m mulai dari sumbu utama menuju tubir. Jumlah
transek garis yang diletakkan di lokasi penelitian adalah 12 transek dengan jarak
30 m antar transek. Plot paralon 1x1 m
2
diletakkan di sepanjang transek garis dari
sumbu utama menuju tubir dengan jarak 10 m antar plot dengan jumlah
keseluruhan 240 plot. Di dalam plot dilakukan pencatatan jumlah individu A.
antiquate L. Data jumlah individu A. antiquata L. selanjutnya dianalisis untuk menentukan kepadatannya dan pola distribusinya. Penentuan pola distribusi
populasi hewan jenis ini menggunakan Indeks Morisita.
Kepadatan A. antiquata L. di zona intertidal Pantai Bilik TNB adalah 0,2
individu/ m
2
. Rendahnya nilai kepadatan disebabkan luas tipe substrat yang
disukai yaitu lumpur berpasir di Pantai Bilik TNB relatif sempit dibandingkan
dengan subtrat keras (pasir berkarang dan batuan karang) yang tidak disukai
populasi ini. Pola distribusi A. antiquata L. mengelompok yang ditunjukkan oleh
nilai Indeks Morisita Terstandar (Ip) sebesar 0,5. Dalam penelitian ini individuindividu
A. antiquata yang saling berdekatan berada di sisi yang berdekatan
dengan garis pantai. Sisi ini memiliki tekanan lingkungan yang lebih besar
daripada bagian lain. Individu-individu di bagian ini berdekatan karena memiliki
kebutuhan lingkungan yang sama, berupaya menghadapi tekanan lingkungan
secara berkelompok.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah kepadatan populasi A. antiquata L.
tergolong rendah yaitu 0,2 individu/m
2
. Pola distribusi populasi ini adalah
mengelompok
Pola Distribusi Populasi Tumbuhan Invasif Synedrella nodiflora (L.) Gaertn. Di Savana Pringtali Resort Bandealit Taman Nasional Meru Betiri
Berdasarkan hasil penelitian, luas penutupan S. nodiflora tersebut
menempati 2,087 % lokasi penelitian atau 104,38 m2
dari luas penelitian 5.000
m2
. Hal ini menunjukkan bahwa tumbuhan ini memasuki tahap introduksi atau
inisiasi sehingga belum mendominasi area Savana Pringtali. Selain itu
berdasarkan hasil analisis ArcGIS, lebih dari 50 % individu tumbuhan tersebut
memiliki jarak antar individu yang cukup dekat yaitu 0,6 – 2m . Hasil tersebut
diperkuat dengan nilai indeks Morisita 0,035 yang berarti tumbuhan invasif S.
nodiflora memiliki pola distribusi mengelompok. Pola distribusi populasi S.
nodiflora yang mengelompok dipengaruhi oleh dua faktor yakni lingkungan dan
karakteristik variasi morfologi S. nodiflora yang memiliki ukuran yang kecil dan reproduksi secara generatif dengan menghasilkan biji yang lebih banyak jatuh di
bawah naungan induknya
Keanekaragaman Jenis Capung Anggota Ordo Odonata Di Area Persawahan Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember
Capung (odonata) merupakan salah satu ordo anggota serangga yang dapat ditemukan di lingkungan akuatik dan terestrial. Capung (odonata) dibagi menjadi dua subordo, yaitu suborodo Anisoptera dan subordo Zygoptera. Capung mempunyai peranan penting bagi lingkungan. Pada area persawahan, capung berperan sebagai predator hama wereng, nyamuk, lalat dan serangga lain. Capung biasa ditemukan di beberapa habitat seperti sungai, danau, kebun, hutan dan sawah. Perubahan habitat memiliki efek terhadap keanekaragaman jenis capung. Keanekaragaman jenis dinyatakan dalam indeks keanekaragaman jenis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan komposisi dan keanekaragaman jenis capung (Odonata) pada area persawahan di Kecamatan Sumbersari, Jember. Penelitian ini dilakukan pada bulan April sampai November 2018. Pengambilan sampel dilakukan di area persawahan di Kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari. Area sawah yang dijadikan lokasi penelitian adalah sawah yang sedang dalam masa tanam vegetatif. Sampel akan dikoleksi dengan menggunakan metode jelajah dan penangkapan dilakukan secara langsung dengan menggunakan jaring serangga. Penangkapan capung dilakukan pada pagi hari pukul 08.00 - 12.00 WIB dan sore pukul 15.00 - 17.00 WIB di lahan sawah seluas 10.000 m2. Faktor lingkungan yang diukur dalam penelitian ini adalah suhu, kelembapan dan itensitas cahaya. Capung yang ditanggap selanjutnya di pinning dan di oven di suhu 37°C. Capung diamati ciri – cirri morfologinya dan diidentifikasi di Laboratorium Ekologi, FMIPA, Universitas Jember. Hasil identifikasi tersebut selanjutnya divalidasi di Laboratorium Entomologi Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cibinong.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa komposisi jenis capung di Area Persawahan Kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari, Jember meliputi Orthetrum sabina Drury, 1770; Potamarcha congener Rambur, 1842; Pantala flavescents Frabicius, 1798; Trithemis festiva Rambur, 1842; Orthetrum chrysis Burmeister, 1839; Ichnura senegalensis Eambur, 1842; Agriocnemis femina Braurer, 1868. Hasil pengukuran faktor lingkungan abiotik menunjukkan bahwa suhu, kelembapan dan itensitas cahaya di area persawahan Antirogo, Sumbersari, Jember dapat ditoleransi oleh capung untuk melakukan aktivitasnya. Berdasarkan nilai indeks Shannon-Wiener (H’ = 1,47), keanekaragaman jenis Odonata tergolong sedang. Kesimpulan dari penelitian di area persawahan Kecamatan Sumbersari, Jember ditemukan 7 jenis capung dengan keanekaragaman jenis yang tergolong sedang
Pendugaan Fitomassa Herba DI Savana Pringtali Resort Bandealit Taman Nasional Meru Betiri, Kabupaten Jember, Jawa Timur
Indonesia merupakan salah satu negara penyumbang penurunan emisi gas
rumah kaca (GRK) dalam jumlah yang besar. Salah satu usaha penurunan emisi
GRK tersebut adalah dengan pengelolaan hutan secara berkelanjutan, karena
vegetasi hutan dapat menyerap lebih banyak karbon dioksida dan menyimpannya
dalam bentuk biomassa. Biomassa tumbuhan adalah total jumlah bobot tumbuhan
hidup baik pohon, semak, maupun herba. Khusus untuk biomassa semak dan
herba seringkali disebut sebagai fitomassa. Informasi ilmiah tentang nilai
fitomassa khususnya herba sampai saat ini masih sangat terbatas. Oleh karena itu,
penelitian ini bertujuan untuk menghitung fitomassa herba di kawasan Savana
Pringtali Resort Bandealit Taman Nasional Meru Betiri (TNMB), Kabupaten
Jember, Jawa Timur
Struktur Komunitas Gastropoda DI Hulu Sungai Bedadung Kabupaten Jember
Gastropoda adalah kelompok hewan invertebrata yang bertubuh lunak dan tubuhnya dilindungi oleh cangkang. Sebagian besar kelompok hewan ini memiliki cangkang tunggal namun ada jenis Gastropoda yang tidak bercangkang. Kelompok hewan ini ditemukan hidup di darat maupun di perairan. Di perairan tawar, Gastropoda ini ditemukan hidup di kolam, danau, rawa, sungai, aliran-aliran irigasi atau selokan, parit dan anak-anak sungai. Beberapa jenis Gastropoda mampu hidup di perairan dengan aliran air tenang atau deras dengan kedalaman mulai 8 m. Gastropoda di dalam ekosistem sungai berperan sebagai herbivora, karnivora dan detritivora. Di dalam ekosistem sungai, Gastropoda juga menjadi mangsa bagi organisme lain. Burung air, itik, ikan, dan kepiting merupakan pemangsa Gastropoda. Beberapa jenis Gastropoda sungai menjadi sumber protein bagi hewan ternak seperti itik dan lele maupun manusia contohnya Filopaludina sp., Pila sp. dan Pomacea canaliculata. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi, dominansi, dan keanekaragaman jenis Gastropoda di Hulu Sungai (S) Bedadung Kabupaten Jember.
Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni-Desember 2019. Pengambilan spesimen dilakukan di Hulu S. Bedadung yang berada di Dusun Pakel dan Dusun Krajan, Desa Sucopangepok, Kecamatan Jelbuk, Kabupaten Jember. Metode yang digunakan adalah Purpossive sampling. Penentuan lokasi stasiun berdasarkan perbedaan tipe penggunaan lahan seperti hutan, perkebunan kopi, persawahan dan pemukiman di sekitar Hulu S. Bedadung. Masing-masing stasiun penelitian dibagi menjadi empat stasiun. Pencuplikan spesimen Gastropoda menggunakan Surber net. Pengukuran parameter faktor abiotik air di Hulu S. Bedadung dilakukan secara in situ yang meliputi kekeruhan, suhu, pH, oksigen terlarut (Dissolved Oxygen, DO) dan tipe substrat. Identifikasi spesimen Gastropoda dan analisis
data dilakukan di Laboratorium Ekologi Jurusan Biologi FMIPA Universitas Jember. Di laboratorium ekologi spesimen Gastropoda dikelompokan berdasarkan kesamaan morfologinya. Deskripsi karakteristik cangkang dan identifikasi untuk menentukan nama jenis menggunakan buku Keong Air Tawar Pulau Jawa (Moluska, Gastropoda). Data jenis dan jumlah individu setiap jenis Gastropoda dianalisis untuk menentukan dominansi dan keanekaragaman. Penentuan dominansi pada komunitas Gastropoda menggunakan indeks Simpson (C) sedangkan keanekaragaman (H’) menggunakan Shannon-Wiener. Sementara data parameter faktor abiotik dari kisaran kecil dan besar selanjutnya dirata-rata untuk digunakan sebagai parameter faktor abiotik air di Hulu S. Bedadung.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di Hulu S. Bedadung ditemukan tujuh jenis Gastropoda meliputi Sulcospira (S) testudinaria, Melanoides (M) tuberculata, Melanoides (M) riquerti, Tarebia (T) granifera, Thiara (Th) Scabra, Lymnaea sp. dan Filopaludina (F) javanica. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa di Hulu S. Bedadung mampu mendukung keberadaan tujuh jenis Gasropoda. Parameter faktor abiotik air di Hulu S. Bedadung yang mendukung keberadaan Gastropoda meliputi suhu yang rendah berkisar antara 18,79 °C - 26,17 °C, DO yang cukup tinggi berkisar antara 6,06 - 8,29 mg/L dan tipe substrat seperti berbatu, pasir dan lumpur. Hasil nilai indeks dominansi (C) di Hulu S. Bedadung sebesar 0,5 yang tergolong sedang. Hasil perhitungan nilai sedang ini disebabkan ada satu jenis yang mendominansi di Hulu S. Bedadung yaitu S. testudinaria yang ditunjukkan kelimpahan komunitas sebesar 1055. Nilai indeks keanekaragaman jenis (H’) Gastropoda sebesar 0,8 yang tergolong rendah. Hasil perhitungan nilai rendah hal ini disebabkan oleh jumlah jenis Gastropoda yang rendah yaitu tujuh jenis yang tidak merata karena ada satu jenis yang dominan
PHYTOMASS DAN CADANGAN KARBON TOTAL KOMUNITAS SEMAK DI KAWASAN HUTAN HUJAN TROPIS TAMAN NASIONAL MERU BETIRI KABUPATEN JEMBER
Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh kesimpulan bahwa spesies tumbuhan semak yang ditemukan di kawasan hutan hujan tropis Resort Wonoasri Sektor Ambulu TNMB Kabupaten Jember sebanyak 20 spesies. Phytomass dan cadangan karbon yang tersimpan pada masing-masing spesies semak berbeda-beda. Nilai phytomass dan cadangan karbon terbesar terdapat pada spesies Chromolaena odorata dengan nilai phytomass 193,49 kg/ha dan cadangan karbon 96,75 kg/ha, sedangkan nilai phytomass dan cadangan karbon terkecil terdapat pada spesies Sauropus androgynus dengan nilai phytomass 6,88 kg/ha dan cadangan karbon 3,44 kg/ha. Perbedaan nilai tersebut dipengaruhi oleh luas penutupan area dan berat kering spesies semak
POLA ZONASI MAKROALGA LAUT DI ZONA INTERTIDAL PANTAI BATU LAWANG TAMAN NASIONAL ALAS PURWO
Taman Nasional (TN) Alas Purwo merupakan salah satu wilayah konservasi yang terdapat di Kabupaten Banyuwangi. TN tersebut mengelola beberapa kawasan ekosistem, salah satunya ekosistem Pantai Batu Lawang. Hasil survei pendahuluan menunjukan bahwa di zona intertidal pantai ini ditemukan hidup organisme laut yang antara lain adalah Moluska, Ekhinodermata, lamun, dan makroalga laut. Makroalga laut merupakan Protista multiseluler yang bagian tubuhnya terdiri dari holdfast, blade, stipe, dan pada beberapa jenis dilengkapi pneumatocysts. Persebaran dari setiap jenis makroalga laut yang terbentuk akan memperlihatkan pola zonasi makroalga laut. Zonasi merupakan distribusi spesies atau komunitas di sepanjang gradien lingkungan. Penelitian tentang makroalga laut telah banyak dilakukan di beberapa wilayah pantai di Indonesia, namun penelitian tentang pola zonasi makroalga laut di zona intertidal Pantai Batu Lawang TN Alas Purwo belum pernah dilakukan. Berdasarkan uraian tersebut, maka perlu dilakukan penelitian tentang pola zonasi makroalga laut di zona intertidal Pantai Batu Lawang TN Alas Purwo.
Pengambilan data makroalga laut dilakukan dengan menggunakan metode plot transek. Transek diletakkan secara kontinyu mulai dari garis pantai sampai ke tubir pada saat air laut surut maksimal. Jumlah transek yang diletakkan pada lokasi penelitian yaitu dua buah dengan satu transek memiliki panjang 50 m dengan 50 plot dan satu transek memiliki panjang 90 m dengan 90 plot. Setiap jenis makroalga laut yang ditemukan dicatat nama jenis atau kode jenisnya. Jenis-jenis tersebut didokumentasi sebagai data pendukung deskripsi dan identifikasi. Sampel makroalga laut diambil dimasukkan ke dalam botol spesimen. Sampel tersebut dimasukkan kedalam alkohol 70 %. Data abiotik diukur suhu, pH, salinitas, dan substrat. Pengambilan data abiotik dilakukan pada setiap plot.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 11 jenis makroalga laut yaitu Boergesenia forbesii, Galaxaura rugosa, Glacilaria gigas, Gracilaria salicornia, Hypnea spinella, Hypnea sp., Padina australis, Portieria hornemannii, Turbinaria ornata, Ulva lactuta, dan Ulva sp. Jenis makroalga laut yang mendominansi adalah Hypnea spinella dengan INP sebesar 120,193 pada transek satu dan 95,42 pada transek dua. Pola zonasi makroalga laut di Pantai Batu Lawang yang bersubstrat batu karang membentuk dua zona pada transek satu dan tiga zona pada transek dua berdasarkan persen penutupannya walaupun zona tersebut memiliki nama zona yang sama yaitu Hypnea spinella. Hal ini disebabkan oleh INP zona satu paling tinggi ditunjukkan oleh Hypnea spinella (INP = 120,79) demikian juga dengan zona dua INP paling tinggi ditunjukkan oleh Hypnea spinella (INP = 171,07) pada transek satu. Pada transek dua INP zona satu paling tinggi ditunjukkan oleh Hypnea spinella (INP = 126,93) demikian pula dengan zona dua INP paling tinggi ditunjukkan oleh Hypnea spinella (INP = 170,64) dan zona tiga INP paling tinggi ditunjukkan oleh Hypnea spinella (INP = 158,21).
Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat 11 jenis makroalga laut di Pantai Batu Lawang. Jenis makroalga laut yang mendominansi adalah Hypnea spinella. Pola zonasi makroalga laut di Pantai Batu Lawang yang bersubstrat batu karang membentuk dua zona pada transek satu dan tiga zona pada transek dua berdasarkan persen penutupannya walaupun zona tersebut memiliki nama zona yang sama yaitu Hypnea spinella
Estimasi Biomassa Vegetasi Pohon di Hutan Pantai Bandealit Resort Bandealit Taman Nasional Meru Betiri Jember Jawa Timur
Perubahan iklim merupakan salah satu akibat dari pemanasan global yang
dipicu oleh peningkatan gas rumah kaca di atmosfer, seperti CO 2 . Peningkatan gas
rumah kaca di atmosfer tersebut dipicu oleh adanya kerusakan hutan. Hutan
memiliki peranan penting dalam proses penyerapan CO 2 untuk proses fotosintesis,
dan hasil fotosintesis disimpan sebagai biomassa tumbuhan. Pendugaan biomassa
tumbuhan di hutan berguna untuk menilai struktur, kondisi, serta produktivitas
hutan, dan salah satu hutan adalah hutan pantai. Salah satu hutan pantai di
Indonesia yang berada dalam kawasan konservasi adalah Hutan Pantai Bandealit
Resort Bandealit Taman Nasional Meru Betiri (TNMB). Sampai saat ini data
tentang komposisi jenis vegetasi vegetasi pohon hutan pantai di kawasan ini
masih terbatas khususnya peran sebagai penyimpan biomassa juga belum
diketahui. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mengestimasi biomassa
vegetasi pohon di Hutan Pantai Bandealit Resort Bandealit TNMB
Efektivitas Rumput Payung (Cyperus altenifolius L.) Dalam Menurunkan Nitrogen, TSS dan Meningkatkan pH Limbah Cair Pengolahan Karet Alam Pada Lahan Basah Buatan
Kadar TSS, nitrogen total dan pH limbah cair pengolahan karet alam dari
Industri pengolahan karet Alam Afdelling Dampar Kebun Mumbul Kecamatan
Mumbulsari Jember tidak memenuhi baku mutu yang ditetapkan Pemerintah RI.
Kadar TSS dan nitrogen total sebelum dan sesudah perlakuan fitoremediasi dengan
tanaman Cyperus alternifolius di dalam lahan basah buatan tipe free water surface
(FWS) menunjukkan perbedaan nyata sedangkan nilai pH tidak berbeda nyata.
Tanaman Cyperus alternifolius di dalam lahan basah buatan tipe FWS terbukti
efektif menurunkan kadar TSS (77,77 %) dan nitrogen total (51,72 %) namun
kurang efektif menaikkan pH (30,76 %)
STRUKTUR POPULASI ANGGOTA KELAS BULU BABI (ECHINOIDEA) DI ZONA INTERTIDAL PANTAI BATU LAWANG TAMAN NASIONAL ALAS PURWO
Zona intertidal Pantai Batu Lawang Taman Nasional Alas Purwo dihuni
oleh beragam biota laut misalnya kelas Echinoidea. Kelompok hewan ini memiliki
peran secara ekologis yaitu pemakan detritus, pemakan partikel-partikel kecil
(mikrofagus) dan penyeimbang ekosistem di terumbu karang. Selain itu, beberapa
jenis juga telah dimanfaatkan sebagai sumber makanan dan obat-obatan.
Berdasarkan peran penting di atas maka perlu diketahui struktur populasi di zona
intertidal Pantai Batu Lawang Taman Nasional Alas Purwo.
Penelitian ini dilakukan pada tanggal 13 Januari sampai 20 Januari 2017 di
Pantai Batu Lawang Taman Nasional Alas Purwo. Penelitian ini merupakan
penelitian survey. Pencatatan jumlah individu dan pengambilan sampel
Echinoidea dilakukan di dalam plot 1x1 m2 sebanyak 200 plot yang diletakkan
secara sistematis di sepanjang transek yang berjumlah 10 transek. Pada setiap
transek sepanjang 125 m diletakkan 20 plot dengan jarak antar plot adalah 6 m.
Setiap transek diletakkan mulai dari garis pantai menuju ke laut dengan arah tegak
lurus terhadap garis pantai. Jarak antar transek adalah 30 m. Sampel spesimen
diidentifikasi untuk menentukan jenisnya sehingga diketahui komposisi jenisnya.
Data jumlah individu setiap jenis digunakan untuk menentkan kerapatan dan tipe
pola distribusi populasi anggota Echinoidea.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Pantai Batu Lawang Taman
Nasional Alas Purwo ditemukan tujuh jenis Echinoidea yaitu Echinometra sp1.,
Echinometra sp2., Heterocentrotus sp1. dan Heterocentrotus sp2. Populasi
dengan kerapatan tertinggi adalah Echinometra sp1. yaitu 7,635 individu/m2,
faktor abiotik dan kelimpahan makanan di Pantai Batu Lawang mendukung
kerapatan dari populasi Echinometra sp1., populasi dengan kerapatan terendah
adalah Echinothrix sp. dan Heterocentrotus sp2. yaitu 0,005 individu/m2. Pola
distribusi empat populasi adalah mengelompok dan tiga populasi merata. Populasi
yang pola distribusinya mengelompok adalah Echinometra sp1., Echinometra
sp2., Diadema sp1., dan Diadema sp2. Sedangkan populasi yang pola
distribusinya merata adalah Heterocentrotus sp1., Heterocentrotus sp2., dan
Echinothrix sp.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah di Pantai Batu Lawang Taman
Nasional Alas Purwo ditemukan tujuh jenis anggota Echinoidea. Populasi yang
paling padat menempati lokasi penelitian adalah Echinometra sp1. dan yang
paling rendah kerapatannya adalah Heterocentrotus sp2. dan Echinothrix sp. Pola
disribusi tujuh populasi anggota Echinoidea adalah mengelompok dan merat
- …
