1,720,974 research outputs found
STUDI KINERJA STRUKTUR GEDUNG SUPERMALL PAKUWON MANSION PHASE-1 SURABAYA MENGGUNAKAN METODE ANALISA PUSHOVER
Indonesia daerah rawan gempa yang menyebabkan kerusakan struktur dan berimbas kerugian materiil maupun non materiil. Untuk mengurangi resiko kerusakan struktur yang signifikan akibat gempa diperlukan perencanaan bangunan tahan gempa dan analisis lebih jauh untuk mengukur kinerja model struktur bangunan gedung di bawah beban gempa dalam kondisi pasca elastik. Evaluasi kinerja struktur dapat dilakukan dengan analisis pushover yang mengacu pada SNI 03-1726-2002, Federal Emergency Management Agency (FEMA) 273, FEMA 356, dan Applied Technology Council (ATC)-40. Kinerja model struktur bangunan gedung yang terletak di Wilayah Gempa 2 dianalisis untuk mendapatkan tingkat kinerja struktur tersebut terhadap berbagai macam beban, termasuk beban gempa.
Tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui kinerja struktur gedung Supermall Pakuwon Mansion Phase-1 Surabaya menggunakan metode analisa pushover serta memperlihatkan bahwa struktur yang telah memenuhi syarat kekuatan menggunakan metode perencanaan batas sesuai dengan peraturan desain gedung bertingkat masih memerlukan analisis lebih jauh untuk mengukur kinerja struktur bangunan gedung dibawah beban gempa dalam kondisi pasca elastik.
Hasil studi menunjukkan bahwa gaya geser dari analisa pushover pada arah X sebesar 49017.7935 ton. Maksimum total drift adalah 0.017 m, sehingga gedung termasuk dalam level kinerja Damage Control (DC). Nilai displacement gedung sebesar 1.3799 m tidak melampaui displacement maksimal, sehingga gedung aman terhadap gempa rencana.
Nilai gempa rencana perlu diwaspadai karena berdasarkan peta gempa terbaru yang terdapat di dalam RSNI 03-1726-2010, nilai Peak Ground Acceleration (PGA) di semua wilayah Indonesia lebih tinggi daripada nilai PGA pada peta gempa yang terdapat di dalam SNI 03-1726-2002. Dengan menggunakan metode analisa pushover dapat memperkirakan gaya maksimum dan deformasi yang terjadi serta untuk mengetahui bagian mana saja yang kritis. Selanjutnya dapat diidentifikasi bagian-bagian yang memerlukan perhatian khusus untuk pendetailan atau stabilitasnya
PENGUJIAN KAPASITAS GESER BATANG ELEMEN STRUKTUR BETON BERTULANG BERLUBANG PENAMPANG PERSEGI
Peraturan SNI-2847-2002 membatasi besarnya lubang maksimum 4%, apabila presentase lubang lebih besar dari 4%
maka besarnya lubang harus diperhitungkan terhadap pengaruh kekuatannya. Peraturan tersebut tidak membahas tentang
kapasitas geser. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kapasitas geser akibat adanya lubang . Penelitian
dilakukan dengan cara melakukan pengujian dan menganalisa secara teoritis . Benda uji berupa batang elemen struktur
beton bertulang penampang persegi berlubang dan masif. Total benda uji 10 buah dengan dimensi penampang 15 cm x 15
cm, panjang 60 cm dengan jarak sengkang 10 cm, kuat tekan beton = 31,897 Mpa, menggunakan tulangan utama
berdiameter 8 mm dan tulangan sengkang diameter 6 mm dengan tegangan leleh baja untuk diameter 6 mm = 230,029 Mpa
dan tegangan leleh baja diameter 8 mm = 314,549 Mpa. Presentase lubang meliputi 2,358%, 3,573%, 6,154% ,dan 8,038%
dari luas penampang dengan menggunakan pipa dengan ukuran ¾ ʺ, 1 ʺ, 1 ¼ ʺ dan 1 ½ ʺ. Pengujian dilakukan dengan
menggunakan dua titik pembebanan pada benda uji yang diletakkan pada tumpuan sederhana.
Hasil dari analitis dan dari pengujian didapatkan data yang menunjukkan terjadi penurunan kekuatan karena adanya
lubang pada beton. Semakin besar presentase lubang semakin besar pula jumlah pengurangan kekuatan kapasitasnya. Dari
pengujian juga di dapatkan data lendutan dan pola retakan yang terjadi pada setiap benda uji
PENGARUH SAMBUNGAN BASAH (WET CONCRETE JOINT) PADA BETON LENGKUNG
Perkembangan konstruksi beton pracetak telah banyak dikembangkan sebagai alternatif pengganti sistem beton bertulang konvensional karena memiliki berbagai keunggulan diantaranya pengendalian mutu, waktu pelaksanaan yang lebih singkat, biaya yang lebih ekonomis dan pengaruh cuaca dapat diminimalkan. Pada struktur beton pracetak, bagian yang rawan adalah bagian sambungan yang menghubungkan elemen pracetak yang satu dengan yang lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sambungan basah (wet concrete joint) pada balok beton lengkung terhadap balok lengkung monolit ( tanpa sambungan ) dengan memperhitungkan kapasitas betonnya. Sambungan yang digunakan adalah sambungan basah dengan mutu beton K600 dan beton lengkungnya menggunakan mutu beton K175, K225, K250 dan K300. Perletakan sambungan berada ditengah bentang dengan 3 macam bentuk yaitu bentuk T terbalik dengan 2 dimensi yang berbeda dan bentuk H.
Dalam penelitian ekperimental ini, diperhitungkan kapasitas balok beton lengkung sambungan dan monolit dengan titik acuan tengah bentang. Sehingga didapat hasil analisa yang menyimpulkan bahwa kapasitas beton sambungan dengan mutu K600 memiliki kapasitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan beton lengkung monolit dengan mutu K175, K225, K250 dan K300 secara teoritis. Namun pada hasil uji tekan dilapangan, beton lengkung sambungan runtuh terlebih dahulu ketika diberi beban yg lebih rendah dari beton monolit. Hal tersebut dikarenakan adanya sambungan pada beton lengkung tersebut dan menjadikan beton lengkung tidak mampu menahan beban yang diberikan meskipun menggunakan beton mutu tinggi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sambungan basah (wet concrete joint) memiliki pengaruh berlawanan terhadap kekuatan beton lengkung monolit
PENGARUH BRACING PADA BANGUNAN DENGAN MENGGUNAKAN GAYA GEMPA ANALISA PUSHOVER
Sebagian besar wilayah Indonesia merupakan wilayah rawan gempa. Hal ini disebabkan oleh pertemuan tiga lempeng utama dunia yang bersifat subdaksi. Lempeng Indo- Australia bertabrakan dengan lempeng Eurasia di lepas pantai Sumatra, Jawa dan Nusa Tenggara, sedangkan lempeng Pasific di utara Irian dan Maluku Utara. Di sekitar lokasi pertemuan lempeng ini akumulasi energi tabrakan terkumpul sampai suatu titik dimana lapisan bumi tidak lagi sanggup menahan tumpukan energi sehingga lepas berupa gempa bumi.
Gempa banyak menghancurkan bangunan- bangunan bertingkat yang tidak mempunyai kekuatan yang memadai. Oleh karena itu, semakin tinggi bangunan maka semakin besar pula efek gempa yang diterima oleh bangunan tersebut. Salah satu cara untuk memperoleh ketahanan terhadap respon gempa adalah menambah kekakuan pada suatu bangunan. Cara memperoleh kekakuan suatu bangunan adalah dengan memasang pengekang (bracing) untuk bangunan tinggi. Tujuan dari analisa ini dilakukan untuk untuk mengetahui pengaruh nilai displacement penggunaan X- bracing dan V- bracing pada bangunan dalam rangka menerima beban gravitasi (beban mati dan hidup) dan beban horizontal (beban gempa) dengan menggunakan gaya gempa analisa pushover.
Hasil dari analisa ini menunjukkan terjadinya pengurangan simpangan horizontal gedung karena adanya penambahan rangka bracing. Selisih presentase simpangan horizontal gedung tanpa bresing dan gedung dengan menggunakan bresing X adalah 82,519%. Sedangkan selisih presentase simpangan horizontal gedung tanpa rangka bresing dan gedung dengan menggunakan bresing V adalah 64,904%
PERENCANAAN ULANG BANGUNAN ATAS JEMBEATAN ARDISAENG I KABUPATEN BONDOWOSO
Struktur komposit dalam perencanaan ini merupakan struktur gabungan antara pelat beton dan balok baja agar menjadi saw kesatuan yang utuh untuk menahan gaya geser horisontal. Dalam perencanaan suatu konstruksi sangat dibutuhkan suatu perencanaan yang sangat teliti agar dapat menghasilkan suatu desain yang aman, kuat dan ekonomis dari segi bahan. Dalam perencanaan ulang ini, hanya dibahas tentang perencanaan bangunan atas sebuah jembatan komposit menurut standart PPJJR' 83, PPBBUG' 87 dan SK SNI T-15-1991-03, yang bertujuan untuk menghasilkan suatu perencanaan dimensi struktur atas jembatan Ardisaeng I Kabupaten Bondowoso yang paling sesuai dan aman, karena berdasarkan data hasil perencanaan awal kemungkinan dimensi struktur bangunan atas jembatan tersebut masih dapat diperkecil. Untuk pembebanan pada perencanaan ulang jembatan ini menggunakan standart PPJJR' 83, perencanaa tulangan menggunakan metode SK SNI T-15-1991-03 sedangkan pada perencanaan baja menggunakan metode elastis. Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan prom WF 600 x 300 x 14 x 23 didapat besarnya tegangan tank (ar) sebesar 1006,367 kg/cm2 dan tegangan geser (t) sebesar 327,117 kg/cm2, dengan mutu baja yang digunakan yaitu BJ. 37 dengan tegangan ijin (a) sebesar 1600 kg/cm2. Perencanaan gelagar memanjang dengan menggunakan profil WF 600 x 300 x 14 x 23 masih memenuhi semua kontrol keamanan profit baja menurut PPBBUG '87 sehingga penghematan bent baja dapat dilakukan sampai dengan 5,5 % dari berat perencanaan awal
PENGUJIAN PERBEDAAN ANGKA KONVERSI UMUR PADA BETON NORMAL DENGAN BETON FLY ASH 10 %
Beton adalah campuran dari agregat halus dan kasar dengan semen yang
dipersatukan oleh air dalam perbandingan tertentu. Agregat kasar yang digunakan
berupa batu pecah dengan spesifikasi tertentu yang merupakan hasil mesin pemecah
batu (Stone Crusher). Agregat halus terdiri dari pasir atau pengayakan batu pecah
yang memenuhi spesifikasi sebagai campuran pada beton. Bahan tambah yang ada
diantaranya adalah abu terbang (Fly Ash) yang bisa diperoleh dari sisa hasil proses
pembakaran batubara yang keluar dari tungku pembakaran. Penelitian ini
menggunakan material pasir Lumajang dengan penambahan Abu Terbang (Fly Ash)
dengan kadar 0% dan 10% dari berat total semen untuk meningkatkan kuat tekan
beton. Tujuan penelitian dengan menggunakan bahan tambah Fly Ash dengan kadar
0% dan 10% yaitu untuk mendapatkan angka konversi yang baru sebagai
perbandingan dengan angka konversi yang sudah ada dan untuk pembanding konversi
umur beton dari Peraturan Beton Indonesia, 1971. Manfaat dari pengujian ini
diharapkan dapat menambahkan wacana untuk faktor konversi umur yang terdapat
pada peraturan PBI’ 1971 (Peraturan Beton Indonesia 1971) sebagai acuan
pelaksanaan di lapangan.
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Struktur Universitas Jember pada
bulan Juli 2010 sampai bulan Agustus 2010. Bahan yang digunakan pada penelitian
ini adalah agregat kasar, agregat halus, semen PPC, dan Fly Ash 10%. Penelitian
menggunakan proporsi campuran untuk setiap perlakuan 12,95 kg semen, 24,56 kg
agregat halus, 40,07 kg agregat kasar, 6,87 liter air, dan 1,29 kg Fly Ash. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa Fly Ash dengan kadar 10% lebih baik daripada beton
dengan kadar Fly Ash 0% atau beton normal. Dari hasil analisa yang diperoleh,
bahwa hasil uji angka konversi untuk beton dengan menggunakan Fly Ash adalah
umur 3 hari 0,57, 7 hari 0,7, 14 hari 0,78, 21 hari 0,95, dan umur 28 hari 1. Dan hasil
uji konversi Beton Normal yaitu 3 hari 0,6, 7 hari 0,73, 14 hari 0,86, 21 hari 0,96, dan 28 hari 1
PERBANDINGAN LENDUTAN ANTARA ANALISIS METODE ELEMEN HINGGA DENGAN PENGUJIAN BALOK LENGKUNG PADA BERBAGAI VARIASI MUTU BETON
Lendutan merupakan peralihan suatu titik ke titik lain secara vertikal pada suatu
balok akibat beban. Penelitian ini membandingkan lendutan antara hasil pengujian
laboratorium dan hasil analisisi metode elemen hingga pada balok lengkung. Pada
pengujian laboratorium balok lengkung diberi beban dengan menggunakan dongkrak
pembebanan hidrolik dan pengukuran lendutan dilakukan dengan membaca jarum
arloji dial gauge. Sedangkan perhitungan lendutan pada analisis metode elemen
hingga menggunakan dasar teori balok Timoshenko. Hasil lendutan dari pengujian
dan analisis metode elemen hingga disajikan dalam bentuk grafik hubungan antara
beban dan lendutan. Balok lengkung fcr 44.35 MPa dengan beban maksimum
6790.4N melendut sebesar 0.0982 mm pada analisis metode elemen hingga 6 segmen,
0.0733 mm pada analisis elemen hingga 10 segmen, dan 2.240 mm pada pengujian
laboratorium. Balok lengkung fcr 40.58 MPa dengan beban maksimum 3395.2N
melendut sebesar 0.0513 mm pada analisis metode elemen hingga 6 segmen, 0.0383
mm pada analisis elemen hingga 10 segmen, dan 0.990 mm pada pengujian
laboratorium. Balok lengkung fcr 37.65 MPa dengan beban maksimum 3395.2N
melendut sebesar 0.0533 mm pada analisis metode elemen hingga 6 segmen, 0.0398
mm pada analisis elemen hingga 10 segmen, dan 1.015 mm pada pengujian
laboratorium. Nilai lendutan analisis metode elemen hingga memiliki hasil yang
berbeda jauh terhadap lendutan hasil uji laboratorium. Besarnya perbedaan hasil ini
dipengaruhi oleh hilangnya kestabilan frame baja saat menerima beban yang
didistribusikan balok lengkung saat proses pembebanan
PERENCANAAN PEMBANGUNAN JALAN LINGKAR UTARA KOTA PROBOLINGGO
Pemerintah kota Probolinggo dalam rangka memperlancar sarana transportasi membangun Jalan Lingkar I. karena lain lintas yang biasanya melewati Jalan Sukarno-Hatta dialilikan lewat Jalan kingkar Utara. Detwan dibangun Jalan Lingkar Utara akan mengurangi terjadinya kecelakaan di Jalan Sukarno-Hatta karena kepadatan lalu lintas di Jalan Sukarno-Hatta berkurang sehingga lain lintas berjalan dengan baik dan lancar. Pada perencanaan Jalan Lingkar Utara merencanakan geometrik jalan alinyemen horizontal dan perkerasan lentur pada STA 0+100 - STA 2+273.348. Pada perencanaan geometrik jalan mengglinakan bentuk lengkung horizontal spiral-circle-spiral. karena setelah dicoba menggunakan bentuk lengkung fill circle tidak memenuhi, karena jari-jari pada bentuk full circle lebih besar atau sama dengan 500 m. Pekerjaan timbunan dilakukan untuk memenuhi daya dukung tanah dasar karena dari hasil penyelidikan pada tanah dasar diperoleh nilai CBR 3,4%. Pekerjaan galian dilakukan untuk menyesuaikan elevasi dari jalan yang direncanakan. Pada perencanaan perkerasan lentur direncanakan lapisan pondasi bawah, lapisan pondasi atas. dan lapisan permukaan
Perilaku Elemen Tekan Persegi Berlubang (Hollow) Terhadap Kapasitas Menahan Beban Aksial
Pemakaian pipa pada kolom pada saat ini banyak digunakan demi memperindah tampilan bangunan. Peraturan beton
(SNI 03-2847-2002) disebutkan: Saluran pipa bersama kaitnya, yang ada pada kolom tidak boleh mencapai lebih dari 4% luas
penampang yang diperlukan untuk kekuatan atau perlindungan kebakaran.
Penelitian ini dilakukan dengan dua cara, secara analisis dan hasil uji. Pembuatan benda uji elemen tekan berlubang
dan masif dengan benda uji b x h = 150 mm x 150 mm, t = 300 mm, rasio lubang(2,35%, 3,57%, 6,157%, 8,04%) masingmasing
benda uji elemen tekan diberi beban aksial.
Hasil dari penelitian tentang pengujian serta analisis perilaku elemen tekan persegi berlubang terhadap kapasitas
menahan beban aksial adalah 2) Dari hasil uji untuk lubang >4% dengan 6,157% dan 8,04% mengalami penurunan sebesar
11,77% dan 17,33%. Sedangkan dari hasil analisa untuk >4% dengan 6,157% dan 8,04% mengalami penurunan sebesar 5,3%
dan 6,9%
PERILAKU PEMANFAATAN LIMBAH PLASTIK HDPE TERHADAP BETON
Beton merupakan campuran yang bahan penyusunnya terdiri dari bahan semen hidrolik (portland cement), agregat kasar, agregat halus, air, dan bahan tambah (jika diperlukan). Bahan-bahan limbah di sekitar lingkungan kita dapat dimanfaatkan sebagai bahan tambah dalam campuran beton. Hal tersebut dapat memberikan alternatif untuk memanfaatkan limbah-limbah yang tidak terpakai, seperti limbah botol plastik HDPE (HIGH DENSITY POLYETHYLENE). Dengan optimalisasi pemakaian limbah plastik High Density Polyethylene ini diharapkan mengurangi limbah yang mencemari lingkungan.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari efektifitas penggunaan cacahan limbah plastik HDPE terhadap peningkatan kuat tekan, modulus elastisitas beton. Kadar cacahan botol plastik bekas HDPE terdiri dari 0%, 1%, 1,5% dan 2%. Beton tanpa penambahan cacahan HDPE diklasifikasikan sebagai beton dengan kadar cacahan 0,00% atau beton normal. Untuk pengujian kuat tekan dilakukan pada umur 28 hari.
Di dalam penelitian ini telah mengikuti metode standart yang telah ada khususnya dalam hal pembuatan benda uji maupun dalam hal pengujian material beton. Sesuai dengan hasil yang telah didapat di dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kuat tekan paling optimal pada prosentase 1,5%, nilai modulus elastisitas paling optimal pada presentase 1,5% . Namun, pada pengujian kuat tekan beton mengalami penurunan pada prosentase 2%
- …
