1,720,972 research outputs found

    Aplikasi Pupuk Vermikompos dan Pupuk NPK pada Budidaya Pakcoi (Brassica rapa L.).

    No full text
    RINGKASAN RIZA FADHILLA. 195040200113028. Aplikasi Pupuk Vermikompos dan Pupuk NPK pada Budidaya Pakcoi (Brassica rapa L.). Dibawah bimbingan Karuniawan Puji Wicaksono, SP., MP., Ph.D. dan Paramyta Nila Permanasari, SP., M.Si. Pakcoi (Brassica rapa L.) merupakan jenis sayuran populer yang memiliki nilai ekonomis, banyak manfaat dan kandungan nutrisi yang tinggi. Pada saat ini kebutuhan sayur sebagai bahan makanan juga meningkat. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan. Namun, lahan subur sebagai wilayah produksi budidaya, ketersediaannya menurun. Salah satu lahan yang dapat digunakan adalah lahan dengan kadar bahan organik rendah. Sehingga, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mempelajari pengaplikasian pupuk vermikompos dan NPK pada budidaya pakcoi (Brassica rapa L.) dengan lahan bahan organik rendah. Penelitian dilaksanakan pada Febuari hingga April 2023 bertempat di Desa Dadaprejo, Kecamatan Batu, Kota Batu, Jawa Timur. Alat yang digunakan berupa timbangan analitik explore pro 22000 g, meteran, alvaboard, kamera resolusi 64MP, sprayer, Leaf Area Meter (LAM) LI-31000C, Indeks Klorofil Meter (SPAD), dan alat tulis. Bahan yang digunakan berupa benih pakcoi Green Fortune, pupuk majemuk NPK 16:16:16, pupuk organik vermikompos, dan pestisida nabati. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 1 faktor yaitu 9 kombinasi vermikompos dan NPK serta 1 kombinasi pupuk kandang kambing dan NPK sebagai kontrol. 10 kombinasi perlakuan adalah V0P0 = 500 kg ha-1 pupuk kandang kambing + 1500 kg ha-1 pupuk NPK; V1P1 = 9 ton ha-1 vermikompos + 375 kg ha-1 NPK; V1P2 = 9 ton ha-1 vermikompos + 750 kg ha-1 NPK; V1P3 = 9 ton ha-1 vermikompos + 1125 kg ha-1 NPK; V2P1 = 18 ton ha-1 vermikompos + 375 kg ha-1 NPK; V2P2 = 18 ton ha-1 vermikompos + 750 kg ha-1 NPK; V2P3 = 18 ton ha-1 vermikompos + 1125 kg ha-1 NPK; V3P1 = 27 ton ha-1 vermikompos + 375 kg ha-1 NPK; V3P2 = 27 ton ha-1 vermikompos + 750 kg ha-1 NPK; dan V3P3 = 27 ton ha-1 vermikompos + 1125 kg ha-1 NPK. Pengulangan dilakukan 3 kali sehingga diperoleh 30 satuan petak percobaan dengan jumlah populasi sebanyak 1800 tanaman. Variabel pertumbuhan meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, indeks klorofil daun, luas daun dan variabel pengamatan panen meliputi bobot segar total, bobot kering total, produktivitas dan usaha tani. Data hasil pengamatan dilakukan analisis ragam (ANOVA) dilanjutkan dengan uji BNJ dengan taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaplikasian kombinasi vermikompos dan NPK memberikan pengaruh signifikan dibandingkan kontrol terhadap indeks klorofil daun, luas daun, bobot segar total, bobot segar konsumsi, bobot kering total, serapan nitrogen, dan produktivitas tanaman pakcoi serta RC ratio >1. Kombinasi V1P1 (9 ton ha-1 vermikompos + 375 kg ha-1 NPK) memberikan pertumbuhan dan panen lebih baik dibandingkan kontrol pada variabel indeks klorofil daun, luas ii daun, bobot segar total, bobot segar konsumsi, bobot kering total, serapan nitrogen. Berdasarkan perhitungan aspek lingkungan dan ekonomi, kombinasi vermikompos dan NPK (V1P1) telah menyediakan unsur hara yang dibutuhkan tanaman pakcoi

    Pengaruh Penggunaan Pupuk KCl Pada Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Bunga Kol (Brassica oleracea var. profita).

    No full text
    Tanaman bunga kol (Brassica oleracea var. profita) merupakan tanaman sayur yang berasal dari famili Brassicaceae yang banyak ditanam petani khususnya di dataran tinggi. Bunga kol merupakan salah satu tanaman hortikultura yang memiliki peranan yang penting bagi penduduk di Indonesia, karena tanaman ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Permasalahan yang sering dijumpai seperti permintaan akan bunga kol yang tinggi dan tidak diiringi dengan peningkatan kuantitas produksinya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas bunga kol ini ialah dengan penggunaan pupuk. Pemupukan ini dimaksudkan agar tanaman tersebut terpenuhi akan unsur haranya. Kalium memiliki peranan yang sangat penting bagi pertumbuhan tanaman bunga kol. Kalium umumnya dibutuhkan pada jumlah yang banyak selain unsur hara N dan P. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari dosis pupuk KCl terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bunga kol (Brassica oleracea var. profita) dengan menggunakan dosis yang berbeda. Hipotesis dari penelitian ini adalah penggunaan pupuk KCl dengan dosis yang tepat dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman bunga kol. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan July hingga September 2023 di Desa Sumbersekar, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur, dengan ketinggian sekitar 650 mdpl dan curah hujan mencapai 200-250 mm/tahun. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah polybag, penggaris, meteran, timbangan digital, refractometer, kertas label, alat tulis, jangka sorong, alvaboard, pisau dan kamera. Bahan yang digunakan meliputi benih tanaman bunga kol varietas Profita, tanah, pupuk kandang kambing, pupuk urea, pupuk SP-36 dan pupuk KCl. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) yang terdiri dari satu faktor dengan 3 kali ulangan. Adapun perlakuan dalam penelitian ini terdiri dari tanpa pupuk, dosis pupuk KCl 20 kg/ha, dosis pupuk KCl 40 kg/ha, dosis pupuk KCl 60 kg/ha, dosis pupuk KCl 80 kg/ha, dan dosis pupuk KCl 100 kg/ha. Parameter pengamatan meliputi tinggi batang, jumlah daun, diameter bunga, bobot bunga per tanaman, bobot segar tanaman, indeks panen. Data yang diperoleh dari penelitian akan dianalisis menggunakan uji ANOVA dan akan dilakukan uji lanjut dengan mengunakan uji BNJ (Beda Nyata Jujur) dengan taraf 5%. Analisis ragam menunjukkan terdapat pengaruh pada perlakuan dosis pupuk kalium terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bunga kol. Perlakuan dosis tertinggi didapatkan pada perlakuan K5 dengan dosis 100 kg/ha. Pada faktor perlakuan dosis pupuk kalium K5 (100 kg/ha) memperoleh hasil tertinggi pada tinggi batang, jumlah daun tanaman, diameter bunga, bobot bunga, bobot segar tanaman, dan indeks panen. Perlakuan dosis pupuk KCl 100 kg/ha dapat meningkatkan bobot curd tanaman cauliflower sebesar 255% dan bobot segar tanaman cauliflower sebesar 120% dibanding tanpa KCl

    Pengaruh Jenis Media Tanam dan Aplikasi PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Selada Keriting (Lactuca sativa L.).

    No full text
    Selada keriting (Lactuca sativa L.) merupakan salah satu tanaman hortikultura yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia karena kaya akan kandungan bergizi, serta memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Komoditas selada keriting mengalami peningkatan kebutuhan pasar yang tidak hanya berasal dari pasar tradisional, tetapi juga dari rumah makan, restoran, supermarket, serta pasar internasional. Selada keriting mengalami peningkatan ekspor di bulan Oktober tahun 2019 mencapai 107.939 kilogram. Namun, pada bulan November dan Desember di tahun yang sama volume ekspor tanaman selada keriting mengalami penuruan mencapai 101.129 dan 97.751 ton dengan negara ekspor tertinggi adalah Singapura. Produksi tanaman selada keriting di Indonesia masih mengalami penurunan, sehingga perlu dilakukan perbaikan pada kegiatan budidaya tanamannya. Peningkatan produktivitas dapat dilakukan dengan cara memerhatikan kebutuhan unsur hara yang diperlukan oleh tanaman. Pertumbuhan tanaman yang optimal dipengaruhi oleh penggunaan media tanam yang baik yaitu mampu menyediakan air dan unsur hara dalam jumlah cukup. Untuk meningkatkan unsur hara dibutuhkan perakaran tanaman yang baik. Hal ini akan mempengaruhi pertumbuhan dan hasil selada keriting. Sehingga diperlukan penambahan perlakuan khusus pada tanaman dengan pengaplikasian PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria). Pengaplikasian PGPR dalam budidaya tanaman menjadi solusi alternatif teknologi yang murah, ramah lingkungan, dan mengutamakan pada penerapan pertanian dengan sifat organik yang bertujuan kepada pertanian berkelanjutan untuk menjaga kesuburan media tanam serta mikroorganisme yang berada di dalam media tanam. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari interaksi antara jenis media tanam dan aplikasi PGPR serta mempelajari pengaruh dari kedua faktor tersebut terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman selada keriting. Hipotesis dari penelitian ini yaitu diduga terdapat interaksi antara jenis media tanam dan aplikasi PGPR serta diduga terdapat pengaruh dari kedua faktor tersebut terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman selada keriting. Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Juli sampai Agustus 2023 di Greenhouse, Desa Bocek, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Penelitian ini disusun secara faktorial dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial (RAL Faktorial). Faktor 1, yaitu MT (Tanah 100%), MA (Tanah 50% + Arang Sekam 50%), MC (Tanah 50% + Cocopeat 50%) dan MK (Tanah 50% + Kompos 50%). Faktor 2, yaitu P0 (tanpa aplikasi PGPR) dan P1 (dengan aplikasi PGPR). Terdapat 8 perlakuan dengan 3 kali ulangan sehingga diperoleh 24 satuan kombinasi percobaan masing - masing 10 tanaman sehingga total populasi 240 unit percobaan Variabel pengamatan pertumbuhan dan hasil, antara lain tinggi tanaman, jumlah daun, bobot segar total, bobot segar konsumsi, bobot segar akar dan panjang akar. Data hasil pengamatan diuji dengan analisis ragam pada taraf 5%. Jika hasil analisis ragam berpengaruh nyata, maka dilanjutkan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5

    Efek Residu Kompos Crotalaria juncea L. dan Volume Media Tanam Pada Pertumbuhan dan Hasil Kailan (Brassica oleraceae L. var. alboglabra).

    No full text
    Kailan merupakan salah satu jenis sayuran famili kubis-kubisan yang berasal dari Negeri China (Sumampow & Paulus, 2021).Produksi kailan yang tergolong keluarga kubis-kubisan di Indonesia mengalami pasang surut. Produksi dari tahun 2017 sebesar 14.426.239 kwintal dan terus menurun hingga tahun 2020 sebesar 14.069.846 kwintal, pada saat tahun 2021 mulai meningkat mencapai 14.346.705 kwintal (BPS, 2021). Hal ini dapat disimpulkan bahwa minat masyarakat pada sayuran kailan mulai meningkat, akan tetapi produksi tanaman kailan belum dapat memenuhi pasar. Penurunan produktivitas tanaman kailan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya yaitu ketersediaan unsur hara di dalam tanah yang belum terpenuhi, hal ini dapat diatasi dengan penggunaan pupuk organik seperti pupuk kompos (Purniawati et al., 2021). Pemberian pupuk kompos selain dapat menyediakan unsur hara dapat juga mengurangi penggunaan bahan kimia sintetis. Dengan penggunaan pupuk kompos pada budidaya tanaman kailan dapat memperbaiki pertumbuhan dan hasil tanaman secara berkelanjutan. Tujuan dari Penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh residu pupuk kompos pada pertumbuhan dan hasil tanaman kailan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei – September 2023 di CV Kurnia Kitri Ayu Farm, yang terletak di Jl. Raya Gondowangi, Dawuan, Gondowangi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Penelitian dilakukan dua kali musim tanam untuk melihat pengaruh residu pada musim tanam ke dua. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 9 perlakuan dan 3 ulangan berupa perbedaan perbandingan volume media tanam, sehingga terdapat 27 satuan percobaan. Setiap percobaan terdiri dari 10 tanaman dengan jumlah seluruh tanaman pada satu musim tanam yaitu 270 tanaman, sehingga total keseluruhan tanaman yang ditanam pada penelitian ini adalah 540 tanaman. Berikut perlakuannya yaitu (P0) 1 pupuk kandang : 1 tanah: 1 sekam padi, (P1) 1 pupuk kompos : 2 tanah : 2 arang sekam, (P2) 1 pupuk kompos : 3 tanah : 1 arang sekam, (P3) 2 pupuk kompos : 1 tanah : 2 arang sekam, (P4) 2 pupuk kompos : 2 tanah : 1 arang sekam, (P5) 2 pupuk kompos : 3 tanah : 1 Arang sekam, (P6) 3 pupuk kompos : 1 tanah : 1 arang sekam, (P7) 3 pupuk kompos : 2 tanah : 1 Arang sekam, (P8) 3 pupuk kompos : 1 Tanah: 2 arang sekam. Faktor pengamatan yang diamati yaitu tinggi tanaman (cm), jumlah daun, luas daun, bobot segar per tanaman (g), bobot kering per tanaman (g), bobot segar panen (g), dan bobot kering panen (g). Data yang telah diperoleh kemudian dianalisis menggunakan ANOVA jika hasil yang didapatkan berbeda nyata maka dilanjutkan uji BNJ dengan taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan terdapat residu pada media tanam sebelumnya terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kailan, akan tetapi penambahan bahan organik dan waktu jeda antara musim tanam pertama ke musim tanam ke dua juga perlu dilakukan untuk mengembalikan kesuburan media tanam, pada perlakuan 3 Pupuk kompos Crotalaria juncea : 1 Tanah : 1 Arang Sekam memiliki hasil yang lebih baik pada parameter pertumbuhan dan hasil tanaman kailan.

    Respon Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Terung (Solanum melongena L.) terhadap Pemberian Pupuk Organik Cair Kulit Pisang

    No full text
    Terung adalah tanaman sayuran yang ditanam untuk dimanfaatkan buahnya. Terung menjadi salah satu bahan pangan yang mudah dan murah harganya, terung juga mengandung banyak manfaat bagi kesehatan karena dapat menurunkan kolesterol darah, serta mengandung zat anti kanker. Komoditas sayuran dan buah memang diarahkan untuk menggairahkan pasar dalam negeri, tetapi pasar tentu saja memerlukan persediaan barang yang diperlukan, baik secara kuantitas maupun kualitas tertentu, untuk itu diperlukan sebuah pola pembudidayaan yang baik dan benar, agar persediaan barang tersebut memenuhi cakrawala harapan banyak pihak terkait, baik petani, tengkulak, pedagang, grosir,hingga konsumen pada umumnya. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan metode pemupukan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan dalam budidaya tanaman terung. Penggunaan pupuk kimia secara berlebihan dapat menyebabkan kerusakan lingkungan dan menurunnya kualitas tanah. Oleh karena itu, pupuk organik cair menjadi alternatif yang menarik karena dapat memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman sekaligus memperbaiki struktur tanah. Kulit pisang merupakan salah satu bahan organik yang melimpah dan memiliki potensi kandungan nutrisi yang diperlukan oleh tanaman terung. Penggunaan pupuk organik kulit pisang, terutama dalam bentuk cair, memiliki peran yang signifikan dalam meningkatkan kesuburan tanah dan produktivitas tanaman. Penilitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian POC kulit pisang terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman terung ungu. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan satu faktor, yaitu POC kulit pisang dengan lima taraf K0 : Kontrol, K1 : 2 ml/l air setaradengan 1 l/1000 m², K2 : 3 ml/l air setara dengan 1,5 l/1000 m², K3 : 4 ml/l air setara dengan 2 l/1000 m², K4 : 5 ml/l air setara dengan 2,5 l/1000 m². Parameter pertumbuhan yang diukur adalah tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, luas daun dan jumlah bunga sedangkan untuk parameter hasilnya meliputi bobot ton/ha, diameter batang, panjang buah, dan jumlah buah. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan respon pada masing masing umur pengamatan 14, 30, dan 60 HST. Terjadinya perbedaan respon disebabkan oleh ketersediaan nutrisi di tahap awal. Walaupun ada perbedaan respon parameter pertumbuhan dan hasil mulai dari tinggi tanaman, luas daun, jumlah daun, diameter batang dan jumlah bunga juga memberikan pengaruh nyata pada pertumbuhan terung. Perlakuan dengan konsentrasi pupuk organik kulit pisang tertinggi yaitu K4 : 5 ml/ l air atau setara dengan 2,5 1/1000 m2cenderung memberikan hasil yang lebih baik dibanding dengan perlakuan lainnya

    Potensi Kemampuan Vegetasi Taman Joyoboyo Sebagai Penghasil Oksigen (O2) Dan Penyerap Karbondioksida (CO2) Kecamatan Kota Kediri

    No full text
    Kota adalah suatu pemukiman yang relatif besar, permanen, padat yang terdiri dari banyak kelompok individu. Perkembangan jumlah penduduk juga diikuti dengan perkembangan lingkungan kota nya sehingga diperlukan aturan khusus agar kehidupan yang berlangsung di perkotaan dapat seimbang. Kota Kediri merupakan salah satu kota di Jawa Timur yang perkembangan pembangunannya cukup pesat, banyaknya investasi yang masuk di Kota Kediri menjadi salah satu faktor pembangunan sektor ekonomi yang berkembang dengan signifikan. Hal ini sesuai dengan pesatnya pembangunan sektor infrastruktur penunjang di Kota Kediri. Dalam pembangunan harus direncanakan dengan matang agar dalam pembangunan tersebut mampu memberikan manfaat bagi penduduk dan lingkungan. Penelitian ini dilaksanakan di taman hutan Joyoboyo, Kota kediri, Jawa Timur. Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu alat tulis, kamera, dan meteran. Sedangkan bahan yang digunakan untuk objek penelitian ini adalah data jumlah penduduk kota kediri, kendaraan, jenis pohon, jumlah pohon, serta luasan semak atau rumput di taman hutan Joyoboyo Kota Kediri. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode observasi langsung secara deskriptif dengan pengumpulan data primer mencangkup penentuan luas taman kota terhadap ketersediaan oksigen dan penentuan luas taman kota terhadap penyerapan karbondioksida dari jumlah penduduk Kota Kediri, menghitung jumlah pohon, mengetahui jenis pohon, menghitung luasan rumput atau semak pada taman hutan Joyoboyo. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh keberadaan taman hutan Joyoboyo terhadap potensinya sebagai penghasil Oksigen (O2) dan penyerap Karbondioksida (CO2) di Kecamatan Kota Kediri. Hipotesis dari penelitian ini adalah keberadaan taman hutan Joyoboyo di Kecamatan Kota Kediri mampu menciptakan kenyamanan untuk warga Kecamatan Kota Kediri dengan memproduksi oksigen yang memadai dan mengurangi karbondioksida (CO2)

    Uji Efisiensi Beberapa Jenis Kombinasi Pupuk Organik Limbah Daun Mawar Pada Pembibitan Tanaman Mawar (Rosa Sp.)

    No full text
    Mawar merupakan salah satu jenis tanaman hias yang paling banyak diminati karena keindahan bunganya. Selain karena memiliki bunga yang indah, mawar juga memiliki banyak kegunaan serta mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Sehingga dengan keadaan tersebut, permintaan akan bunga mawar terus meningkat. Peningkatan akan permintaan bunga mawar paling banyak berasal dari kota-kota besar. Akan tetapi meskipun permintaan terus meningkat, produksi mawar dari dalam negeri masih belum dapat mencukupi dan bahkan cenderung menurun. Namun disisi lain meskipun produksi mawar mengalami penurunan, limbah daun mawar tetap menjadi suatu masalah karena tidak adanya pengolahan limbah mawar. Sehingga diperlukan adanya upaya untuk meningkatkan produksi tanaman mawar dan mengurangi limbah daun mawar. Keadaan menurunnya produksi mawar serta tidak adanya pengolahan limbah daun mawar pada dasarnya merupakan suatu masalah. Sehingga harus terdapat adanya upaya meningkatkan produksi mawar. Pengolahan limbah daun mawar menjadi pupuk organik dapat menjadi salah satu solusi. Hal tersebut dikarenakan limbah daun mawar merupakan salah satu bahan yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Oleh karena itu berdasarkan keadaan perlunya upaya meningkatkan produksi mawar dan mengurangi limbah tanaman mawar maka dilakukan pembuatan dan aplikasi pupuk organik limbah mawar. Pupuk organik yang dibuat terdiri dari pupuk organik cair dan pupuk kompos. Kedua pupuk tersebut dikombinasikan dengan pupuk NPK dan diaplikasikan pada bibit tanaman mawar untuk mengetahui efisiensi kombinasi pupuk pada pembibitan tanaman mawar. Kegiatan penelitian dilaksanakan di Dusun Ngebruk-Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Kegiatan penelitian terdiri dari dua tahap yaitu pembuatan pupuk serta pengamatan terhadap pembibitan tanaman mawar dengan kombinasi pemberian pupuk organik limbah daun mawar. Alat yang digunakan selama penelitian terdiri dari mesin pencacah, termometer, garpu taman, gembor, meteran, karung, tong, alat tulis serta kamera. Sedangkan untuk bahan terdiri dari bibit mawar stek batang soft avalan, molase, EM4, limbah daun mawar, pupuk organik cair dan pupuk kompos limbah daun mawar, pupuk NPK. Penelitian dilakukan dengan menggunakan percobaan secara rancangan acak kelompok dengan 3 kali ulangan. Percobaan dilakukan dengan menanam bibit mawar soft avalan untuk diamati pertumbuhan dan perkembangan selama pembibitan. Selama pembibitan terdapat 9 perlakuan yang diterapkan, yaitu P1 100% NPK, P2 100% Kompos, P3 100% POC, P4 100% NPK+ 100% Kompos, P5 75% NPK+ 100 % Kompos, P6 50% NPK+ 100% Kompos, P7 100% NPK+ 100% POC, P8 75% NPK+ 100% POC,P9 50% NPK + 100% POC. Selama pengamatan, parameter yang diamati terdiri dari persentase tumbuh, tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah cabang, jumlah kuncup, waktu muncul kuncup, panjang akar, luas daun, berat kering, berat basah dan analisa usaha tani. Hasil data pengamatan diolah menggunakan ANOVA. Jika analisa ANOVA menunjukan nilai F Hitung lebih besar daripada F Tabel maka analisa dilanjutkan dengan BNJ 5%. ii Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan pemberian kombinasi pupuk secara umum tidak memberikan pengaruh nyata bagi tanaman. Hal tersebut terbukti dari 10 parameter pertumbuhan dan perkembangan tanaman, hanya ada 2 parameter yang menghasilkan pengaruh berbeda nyata, yaitu tinggi tanaman dan jumlah cabang. Sehingga seluruh perlakuan aplikasi dapat diterapkan pada aplikasi pupuk pembibitan mawar. Namun dengan melihat nilai R/C rasio usaha tani, perlakuan pemberian 100% kompos menghasilkan nilai usaha tani tertinggi. Nilai dari usaha tani kompos sebesar 2,68, sehingga perlakuan tersebut dapat dijadikan sebagai rekomendasi pupuk pembibitan tanaman mawar. Rekomendasi tersebut didasarkan pada nilai usaha tani yang paling tinggi, pengurangan aplikasi pupuk kimia pada tanaman dan pemanfaatan kembali limbah untuk tanaman. Sehingga pupuk kompos dapat menjadi subtitusi pada pemupukan bibit mawar karena memberikan hasil yang sama dengan pupuk kimia

    Analisis Pertumbuhan Gulma Invasif Kirinyuh (Chromolaena Odorata L. R. M. King) Pada Intensitas Naungan Berbeda

    No full text
    Tumbuhan invasif adalah semua jenis tumbuhan yang telah menyebar ke dalam suatu komunitas dan menyebabkan gangguan terhadap jenis tumbuhan lain. Tumbuhan invasif memiliki adaptasi yang baik di habitat baru, sehingga dapat mempertahankan populasinya dengan baik dan menyebabkan kerusakan lingkungan. Studi mengenai spesies yang diintroduksi atau spesies yang berasal dari luar belum banyak dilakukan di Indonesia. Studi mengenai pengaruh lingkungan terhadap salah satu jenis asing invasif paling berbahaya yaitu Chromolaena odorata pun masih minim sehingga diperlukan adanya penelitian terkait hal tersebut. Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan Jatimulyo, Lowokwaru, Kota Malang. Mulai dari bulan Februari 2022 hingga Mei 2022. Alat yang digunakan meliputi Leaf Area Meter, Kayu Penyangga, Paranet 50%, 70%, dan 90%, Gembor, Penggaris, Meteran, Lux meter, thermohigrometer, kabel ties dan Label. Sedangkan, bahan yang digunakan meliputi benih kirinyuh dan air. Penelitian Analisis Pertumbuhan Gulma Invasif Kirinyuh (Chromolaena odorata L.R.M. King) pada intensitas naungan berbeda dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok 1 faktor, yaitu intensitas naungan. Taraf naungan meliputi tanpa naungan (0% naungan), naungan 50%, naungan 70%, dan naungan 90%. Diulang sebanyak 6 kali, sehingga total unit percobaan sebanyak 24 unit. Setiap unit percobaan terdiri dari 20 populasi kirinyuh sehingga total kirinyuh pada penelitian sebanyak 480 tanaman. Metode pengambilan sampel berupa metode destruktif. Variabel yang diamati meliputi Tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun per tanaman, bobot kering daun, bobot kering bagian tajuk dan bobot kering bagian akar, bobot kering tanaman, nisbah berat daun, luas daun spesifik, nisbah luas daun, laju asimilasi bersih, laju pertumbuhan relatif, indeks klorofil, suhu dan kelembaban nisbi. Analisis Ragam menggunakan ANOVA dengan F tabel 5%. Uji lanjut menggunakan Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%. Uji korelasi dan regresi dilakukan untuk melihat hubungan antar dua variabel dan menilai seberapa besar tingkat pengaruhnya. Naungan menurunkan pertumbuhan kirinyuh (Chromolaena odorata). Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan taraf naungan meningkatkan nilai rerata tinggi tanaman, luas daun, luas daun spesifik, dan nisbah luas daun. Disisi lain, menurunkan nilai rerata jumlah daun, bobot kering daun, bobot kering akar, bobot kering tanaman, bobot kering tajuk, laju asimilasi bersih dan laju pertumbuhan relatif. Kemudian, hasil analisis korelasi dan regresi menunjukkan bahwa intensitas cahaya dan suhu berkorelasi kuat dan positif terhadap laju pertumbuhan relatif kirinyuh, sementara itu kelembaban nisbi berkorelasi kuat namun negatif. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: • Taraf naungan 90% (S4) menunjukkan nilai terendah dalam beberapa variabel pengamatan pertumbuhan. ii • Peningkatan Intensitas naungan dan kelembaban nisbi menurunkan pertumbuhan kirinyuh, sementara itu peningkatan suhu dan intensitas cahaya meningkatkan pertumbuhan kirinyuh (Chromolaena odorata). • Naungan dapat dijadikan sebagai salah satu pertimbangan dalam perencanaan untuk menekan pertumbuhan gulma invasif kirinyuh (Chromolaena odorat

    Pengaruh Pola Tanam Kelapa (Cocos nucifera L.) Pada Keragaman Spesies Tumbuhan Bawah dan Heterogenitas di Watulimo Kabupaten Trenggalek

    No full text
    Kelapa (Cocos nucifera L.) merupakan komoditas penting yang memiliki peran ekonomi, sosial, dan budaya di kehidupan masyarakat Indonesia. Manfaat yang didapatkan dari tanaman kelapa ini cukup banyak yaitu air kelapa dapat diminum untuk penawar racun dalam tubuh, daging buahnya bisa dikonsumsi, dan tempurungnya dapat dimanfaatkan sebagai kerajinan tangan. Tanaman kelapa (Cocos nucifera L.) mempunyai prospek yang cukup tinggi di pasar oleh karena itu, dibutuhkan pengembangan dari sistem budidaya yang tepat baik secara monokultur ataupun polikultur. Budidaya tanaman kelapa (Cocos nucifera L.) di Indonesia menghadapi permasalahan, salah satunya ialah pola tanam monokultur yang mengakibatkan produktivitas rendah sehingga pendapatannya juga rendah. Salah satu solusi untuk mengurangi tekanan terhadap hutan serta mengatasi permasalahan kebutuhan lahan pertanian ialah dengan menerapkan suatu sistem agroforestri. Pola tanam polikultur mempunyai keunggulan yaitu menghasilkan produksi lebih banyak dari beberapa jenis tanaman, dengan banyak kombinasi tanaman dapat tercipta kestabilan hayati dalam hal serangan hama dan penyakit, serta menyediakan habitat untuk spesies tanaman yang membuat lingkungan lebih beragam pada tumbuhan bawah (understorey). Hal ini dapat terjadi karena sistem perakaran yang lebih beragam dari sistem monokultur. Keragaman spesies agroekosistem pada pola tanam polikultur lebih tinggi yang menyebabkan keuntungan secara ekonomi dan ekologi Penelitian telah dilakukan pada bulan Januari sampai dengan April 2024, bertempat di kebun monokultur dan polikultur Desa Karanggandu, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Pengambilan data dilakukan menggunakan metode survey lapang di lokasi penelitian. Pengambilan data dilakukan dengan membuat plot berukuran 20 m x 100 m yang dibuat untuk masing-masing lahan monokultur dan polikultur. Plot tersebut kemudian dibagi menjadi 20 subplot (10 m x 10 m) dan kuadrat berukuran 1 m x 1 m dipasang secara sistematis di tengah setiap subplot untuk survei vegetasi tumbuhan bawah. Variabel pengamatan pada penelitian ini ialah analisis vegetasi, keanekaragaman jenis, heterogenitas spesies tumbuhan, keterbukaan kanopi, water holding capacity dan infiltrasi. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan software microsoft excel untuk mengetahui keragaman vegetasi pada kedua pola tanam tersebut. Sedangkan faktor cahaya dihitung dengan memproses foto-foto hemispherical yang didapat menggunakan aplikasi GLA 2.0 (gap light analyzer). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola tanam polikultur memberikan keragaman spesies paling tinggi jika dibandingkan dengan monokultur. Hasil analisis diketahui bahwa tumbuhan bawah (understorey) dipengaruhi adanya perbedaan faktor lingkungan berupa keterbukaan kanopi, water holding capacity dan infiltrasi. Keberagaman tanaman mengakibatkan ruang yang lebih bervariasi terhadap cahaya yang masuk dan kadar air yang lebih tinggi

    Pengaruh Pola Tanam Kelapa (Cocos nucifera L.) Pada Keanekaragaman Spesies Tumbuhan Bawah dan Heterogenitas di Watulimo Kabupaten Trenggalek.

    No full text
    Kelapa (Cocos nucifera L.) merupakan komoditas penting yang memiliki peran ekonomi, sosial, dan budaya di kehidupan masyarakat Indonesia. Manfaat yang didapatkan dari tanaman kelapa ini cukup banyak yaitu air kelapa dapat diminum untuk penawar racun dalam tubuh, daging buahnya bisa dikonsumsi, dan tempurungnya dapat dimanfaatkan sebagai kerajinan tangan. Tanaman kelapa (Cocos nucifera L.) mempunyai prospek yang cukup tinggi di pasar oleh karena itu, dibutuhkan pengembangan dari sistem budidaya yang tepat baik secara monokultur ataupun polikultur. Budidaya tanaman kelapa (Cocos nucifera L.) di Indonesia menghadapi permasalahan, salah satunya ialah pola tanam monokultur yang mengakibatkan produktivitas rendah sehingga pendapatannya juga rendah. Salah satu solusi untuk mengurangi tekanan terhadap hutan serta mengatasi permasalahan kebutuhan lahan pertanian ialah dengan menerapkan suatu sistem agroforestri. Pola tanam polikultur mempunyai keunggulan yaitu menghasilkan produksi lebih banyak dari beberapa jenis tanaman, dengan banyak kombinasi tanaman dapat tercipta kestabilan hayati dalam hal serangan hama dan penyakit, serta menyediakan habitat untuk spesies tanaman yang membuat lingkungan lebih beragam pada tumbuhan bawah (understorey). Hal ini dapat terjadi karena sistem perakaran yang lebih beragam dari sistem monokultur. Keragaman spesies agroekosistem pada pola tanam polikultur lebih tinggi yang menyebabkan keuntungan secara ekonomi dan ekologi Penelitian telah dilakukan pada bulan Januari sampai dengan April 2024, bertempat di kebun monokultur dan polikultur Desa Karanggandu, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Pengambilan data dilakukan menggunakan metode survey lapang di lokasi penelitian. Pengambilan data dilakukan dengan membuat plot berukuran 20 m x 100 m yang dibuat untuk masing-masing lahan monokultur dan polikultur. Plot tersebut kemudian dibagi menjadi 20 subplot (10 m x 10 m) dan kuadrat berukuran 1 m x 1 m dipasang secara sistematis di tengah setiap subplot untuk survei vegetasi tumbuhan bawah. Variabel pengamatan pada penelitian ini ialah analisis vegetasi, keanekaragaman jenis, heterogenitas spesies tumbuhan, keterbukaan kanopi, water holding capacity dan infiltrasi. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan software microsoft excel untuk mengetahui keragaman vegetasi pada kedua pola tanam tersebut. Sedangkan faktor cahaya dihitung dengan memproses foto-foto hemispherical yang didapat menggunakan aplikasi GLA 2.0 (gap light analyzer). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola tanam polikultur memberikan keragaman spesies paling tinggi jika dibandingkan dengan monokultur. Hasil analisis diketahui bahwa tumbuhan bawah (understorey) dipengaruhi adanya perbedaan faktor lingkungan berupa keterbukaan kanopi, water holding capacity dan infiltrasi. Keberagaman tanaman mengakibatkan ruang yang lebih bervariasi terhadap cahaya yang masuk dan kadar air yang lebih tinggi
    corecore