1,721,065 research outputs found
Analisis Nilai Tambah Pengolahan Tahu DI Umkm Tahu Sutra Miwa - Malang
Menghadapi era persaingan dalam hal agroindustri, perlu adanya perhatian
dan upaya penuh dalam mewujudkan pembangunan dalam bidang ekonomi yang
berkesinambungan dalam praktek kerja agroindustri. Kedelai merupakan
komoditas pertanian yang memiliki banyak kandungan nutrisi baik bagi
kesehatan, serta dapat diolah menjadi bebagai macam olahan kedelai seperti
produk tahu. Produk tahu memiliki harga ekonomis dipasaran dan banyak
dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. UMKM Tahu Sutra Miwa adalah salah
satu agroindustri rumah tangga pengolahan tahu yang berlokasi di Malang.
UMKM Tahu Sutra Miwa merupakan industri pengolahan tahu di Malang yang
beroperasi sejak tahun 2014. Setiap hari UMKM Tahu Sutra Miwa menghasilkan
sekitar 1.600-2.500 potong tahu.
Penelitian ini bertujuan (1) menghitung rendemen pada proses pengolahan
tahu di UMKM Tahu Sutra Miwa, (2) menghitung nilai tambah dari produk
olahan tahu, (3) mengidentifikasi faktor–faktor yang berpengaruh terhadap nilai
tambah produk tahu, dan (4) memberikan rekomendasi pada upaya peningkatan
nilai tambah dari produk tahu
Aplikasi Fuzzy Inference System (FIS) Untuk Rencana Produksi di PG. Padjarakan Kabupaten Probolinggo
Indonesia merupakan negara agraris yang berada di wilayah beriklim tropis
yang mampu mengembangkan hasil-hasil pertaniannya, salah satunya yaitu
tanaman tebu (Saccharum officinarium L.). Rata – rata produksi tebu rakyat secara
nasional berada di bawah 80 ton per ha dengan tingkat rendemen di bawah 8%.
Salah satu pengolahan hasil produksi tebu di Indonesia yaitu dapat diolah menjadi
produk gula yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat sebagai bahan baku dalam
pembuatan dan industri makanan – minuman. Berdasarkan hal itu, PG. Padjarakan
merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang produksi gula kristal
putih (GKP). Untuk meningkatkan efisiensi produksi GKP kedepan, maka perlu
dilakukannya suatu rencana produksi. Dalam menentukan rencana produksi GKP
tersebut, terdiri dari beberapa variabel, seperti: permintaan, overall recovery, dan
persediaan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengaplikasikan fuzzy inference
system (FIS) untuk rencana produksi di PG. Padjarakan Kabupaten Probolinggo.
Metode yang digunakan adalah sistem berbasis komputasi salah satunya
yaitu peng-aplikasian dua metode : Fuzzy Inference System “Mamdani” dan
Forecasting “Moving Average Methode (4 Month)” berdasarkan data aktual 10
tahun terakhir selama masa giling. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini
diawali dari proses identifikasi data, lalu Fuzzifikasi, De-fuzzifikasi, peramalan,
validasi, dan analasis. Kesimpulan dari penelitian ini, menghasilkan nilai produksi
pada bulan September 2017 menurut FIS Mamdani adalah ± 2.720 Ton GKP
dengan MAPE = 13,445 % (artinya masuk dalam kategori “Baik”). Sedangkan dari
hasil peramalan pada2 tahun (2019 sampai 2020) dengan FIS Mamdani pada bulan
Juni 2019 menghasilkan 1.760 Ton GKP
KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA DAN ORGANOLEPTIK MUFFIN TERSUBSTITUSI TEPUNG LABU KUNING LA3 (Cucurbita moschata)
Formulasi tepung labu kuning LA3 dan terigu yang paling baik pada muffin yang dihasilkan sesuai dengan kesukaan panelis terdapat pada perlakuan M3 (muffin dengan rasio 30% tepung labu kuning LA3 : 70% terigu). Muffin yang dihasilkan tersebut memiliki nilai kadar air sebesar 29,36 %; kadar serat sebesar 3,78 %; kadar betakaroten sebesar 1,14 mg/g; nilai kesukaan warna sebesar 3,36; nilai kesukaan aroma sebesar 3,48; nilai kesukaan rasa sebesar 3,60; dan nilai kesukaan tekstur sebesar 3,52.
Berdasarkan pengujian karakteristik fisikokimia yang telah dilakukan, semakin banyak konsentrasi tepung labu kuning LA3 yang ditambahkan pada adonan maka akan berpengaruh nyata terhadap tekstur, kecerahan (lightness), serta meningkatkan kadar air, kadar serat, dan kadar betakaroten muffin yang dihasilkan. Semakin banyak konsentrasi tepung labu kuning LA3 pada muffin juga mempengaruhi hasil mutu sensoris (organoleptik) panelis terhadap muffin dari segi parameter kesukaan rasa, warna, tekstur, dan keseluruhan
KARAKTERISASI HIDROLISAT PROTEIN IKAN WADER (Rasbora jacobsoni) SECARA ENZIMATIS DENGAN ENZIM PROTEASE DARI TANAMAN BIDURI (Calotropis gigantea)
Penggunaan MSG sebagai penyedap rasa oleh sebagian masyarakat telah
melebihi dosis aman konsumsi yang berpotensi dapat mengganggu kesehatan.
Salah satunya dapat memunculkan gejala seperti kesemutan, leher terasa panas,
sesak dada dan pusing kepala yang disebut dengan istilah CRS (Chinese
Restaurant Syndrome). Oleh karena itu, perlu adanya pengembangan mengenai
pembuatan flavor enhancer alami yang aman dan bersifat multi fungsi bagi tubuh.
Ikan wader merupakan jenis ikan air tawar yang keberadaannya cukup melimpah
dan memiliki kandungan protein yang cukup tinggi yaitu 14,8% namun
pemanfaatannya belum maksimal. Kandungan protein yang cukup tinggi pada
ikan wader dapat dimanfaatkan untuk pembuatan hidrolisat protein ikan. Tujuan
dari penelitian ini adalah: 1) Mengetahui pengaruh konsentrasi enzim protease
biduri dan variasi waktu hidrolisis terhadap sifat-sifat hidrolisat protein ikan
wader, 2) Mengetahui kombinasi yang tepat antara konsentrasi enzim protease
biduri dan lama hidrolisis sehingga dihasilkan hidrolisat protein dengan
karakteristik yang baik.
Peneitian ini dilakukan dengan membuat hidrolisat protein ikan dengan
penambahan enzim protease biduri sebesar 1%, 2% dan 3% dari berat daging ikan
hidrolisis dilakukan selama 0 jam; 1,5 jam dan 3 jam. Hidrolisat kering yang
dihasilkan dilakukan analisis proksimat (kadar air, abu, lemak dan protein), kadar
protein terlarut, maillard, tingkat ketengikan, total padatan terlarut, warna, daya
buih dan stabilitas buih, serta daya dan stabilitas emulsi. Penelitian ini
menggunakan metode rancangan acak lengkap faktorial, setiap perlakuan diulang
sebanyak tiga kali ulangan. Data diolah dengan anava dan apabila terdapat
perbedaan dilakukan uji lanjut BNT pada taraf 5%.
ix
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Penambahan enzim protease biduri
pada berbagai konsentrasi dan lama hidrolisis berpengaruh nyata terhadap kadar
abu, kadar lemak, kadar protein terlarut, nilai produk maillard, tingkat ketengikan,
total padatan terlarut, daya emulsi, stabilitas emulsi dan stabilitas buih, serta tidak
berpengaruh nyata terhadap kadar air, warna serta daya buihnya. Hidrolisat
protein ikan wader yang terbaik dihasilkan dari perlakuan B3T3 yaitu
penambahan enzim protease biduri 3% dan lama hidrolisis 3 jam. Hidrolisat
protein ikan wader yang dihasilkan mempunyai kadar air sebesar 8,15%, kadar
abu 4,58% (db), kadar lemak 14,26% (db), kadar protein 65,84% (db), protein
terlarut 65,90 mg/ml, produk maillard 1,64 , tingkat ketengikan 0,09 mmol/kg,
warna (oHue) 74,01 , total padatan terlarut (oBrix) 12, daya emulsi 3,67 m2/g,
stabilitas emulsi 163,49 jam, daya buih 258,02 dan stabilitas buih 24,02%
Strategi Pengembangan Agroindustri Kopi Robusta Di Lereng Pegunungan Argopuro Jember
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi lokasi penghasil kopi
robusta yang potensial untuk pengembangan agroindustri, mengidentifikasi faktor–
faktor yang mempengaruhi pengembangan agroindustri kopi robusta, serta
merumuskan strategi pengembangan dan rekomendasi untuk wilayah penghasil
kopi robusta di lereng Pegunungan Argopuro Jember. Hasil penelitian ini
diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan dan perekonomian masyarakat dan
kelompok tani kopi robusta wilayah Lereng Pegunungan Argopuro Jember. Jenis
data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data primer dan sekunder. Data
primer dikumpulkan melalui survey, pengamatan, wawancara, penyebaran
kuesioner dan mengadakan FGD (Focus Group Discussion). Data sekunder
diperoleh dari data kelompok tani di lereng pegunungan Argopuro Jember dan data
pendukung lainnya dari Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan
Kabupaten Jember, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jember, Pusat Penelitian
Kopi dan Kakao Indonesia, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Karang
Pakel Badean Bangsalsari Jember. Metode analisis data yang digunakan yaitu
location quotient (LQ), factor analysis, clustering, analisis SWOT dan AHP.
Hasil penelitian yang diperoleh yaitu wilayah lereng pegunungan Argopuro
Jember yang paling berpotensial menjadi penghasil kopi adalah kecamatan
Bangsalsari dengan nilai LQ yang diperoleh 5,02. Kemudian terdapat sembilan
faktor yang mempengaruhi pengembangan agroindustri kopi robusta terdiri dari
proses produksi, kualitas, SDM, kelembagaan, permodalan, alat dan teknologi,
pemasaran, pendidikan dan anggota kelompok tani. Hasil analysis factor diperoleh
nilai KMO 0,590 > 0,5 dan nilai signifikansi Bartlett's Test of Sphericity adalah
0,001 < 0,05 sehingga dapat diperoleh hasil analisis faktor tepat digunakan dalam
strategi pengembangan agroindustri kopi robusta. Hasil anti image matrices
diperoleh 5 faktor yang dapat digunakan analisa lebih lanjut yaitu pemasaran
(0,737), kualitas (0,709), hasil produksi (0,707), permodalan (0,673) dan teknologi
(0,633). Dari hasil tersebut diperoleh 3 cluster yang terbentuk. Dari setiap cluster
dilakukan analisis untuk faktor internal dan eksternal dengan matrik SWOT
sehingga diperoleh alternatif strategi pengembangan agroindustri. Berdasarkan
hasil pengolahan data dengan metode AHP strategi pengembangan dan
rekomendasi untuk cluster 1 atau cluster Mandiri yaitu aspek teknis (0,405) dengan
strategi peningkatan kualitas SDM (0,291), cluster 2 atau cluster Sejahtera yaitu
aspek ekonomi (0,257) dengan strategi meningkatkan akses pasar berbasis
teknologi informasi (0,299), dan untuk cluster 3 atau cluster Makmur Jaya yaitu
aspek teknis (0,315) dengan strategi pengembangan agroindustri kopi dengan
peningkatan nilai tambah kopi robusta menjadi produk baru (0,268)
Identifikasi Kecacatan Produk Pada Pengolahan Karet RSS Ptpn XII Kebun Banjarsari Jember Tahun Produksi 2015-2017
Karet alam merupakan salah satu produk unggulan ekspor strategis agroindustri Indonesia. Produk karet olahan berupa ribbed smoked sheet (RSS) populer digunakan sebagai bahan baku industri karet. . RSS adalah produk karet alam berupa lembaran-lembaran tipis yang telah di asap, bersih dan liat, bebas dari buluk (jamur), tidak saling melekat, warnanya jernih, tidak menggelinting, dan tidak bergelembung udara. Menghadapi persaingan antar negara produsen, produk ekspor karet perlu ditingkatkan kualitasnya disesuaikan dengan permintaan konsumen. Salah satu upaya untuk menciptakan kualitas sesuai standar adalah penerapan sistem pengendalian kualitas yang tepat. Kebun Banjarsari PTPN XII menjadi produsen utama RSS. Permasalahan yang terjadi di PTPN XII Kebun Banjarsari yaitu, pencapaian target RSS 1 yang belum maksimal. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan industri RSS yaitu pengendalian kualitas produk dengan cara menganalisis penyimpangan yang terjadi didalam produksi dan mencari penyebab cacat produk yang ditimbulkan serta memberikan saran sebagai upaya untuk meminimalisasi cacat produk. Pengendalian Kualitas berusaha untuk menekan jumlah produk yang rusak menjaga agar produk akhir yang dihasilkan sesuai dengan standar kualitas perusahaan. Jadi, untuk meningkatkan daya saing produk dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas produk. Hal yang dapat dilakukan yaitu dengan cara pengendalian kualitas. Penelitian tentang analisis pengendalian kualitas karet di Kebun Banjarsari PTPN XII Jember dilaksanakan pada bulan Juni-Desember 2018. Lokasi Penelitian bertempat di Kebun Banjarsari PTPN XII, Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember Jawa Timur. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tools-tools/alat pengendalian kualitas (Seven Tools) dan FTA (Fault Tree Analyis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecacatan produk karet RSS di PTPN XII Kebun Banjarsari terdiri dari cacat menggelinting, cacat hangus dan cacat menggelembung. Persentase kecacatan tertinggi terdapat pada cacat menggelembung dengan jumlah 50,74% sedangkan untuk cacat karet hangus dengan jumlah 25,33 % dan cacat menggelenting dengan jumlah 23,93%. Penyebab kecacatan pada produk RSS untuk jenis cacat menggelembung disebabkan oleh penyaringan busa kurang bersih, lateks mengalami guncangan dalam perjalanan, pembalikan sheet tidak tepat waktu, kelalaian dalam mengganti bambu, pekerja kurang teliti dalam proses pembekuan, settingan mesin tidak sesuai dan peralatan kurang bersih. Untuk itu solusi perbaikan yang dapat dilakukan untuk cacat menggelembung yaitu pengolahan sesuai SOP yang telah ditetapkan, memantau proses pengolahan lateks, menyaring busa dengan lebih bersih dan mencuci peralatan setelah pemakaian, mencuci bersih sheet, melakukan settingan mesin yang lebih baik dengan menggunakan tenaga teknisi professional dan selalu menjaga kebersihan pabrik pengolahan
Penerapan Statistical Process Control (Spc) Dalam Perbaikan Mutu Karet Crepe DI Perkebunan Gunung Pasang Pdp Kahyangan Jember
Kabupaten Jember merupakan daerah penghasil karet terbesar di Jawa
Timur dengan total produksi mencapai 15.924 ton. Salah satu produsen
perusahaan yang membudidayakan dan mengolah hasil komoditi karet yaitu
Perusahaan Daerah Perkebunan (PDP) Kahyangan Jember. PDP Kahyangan
memiliki 3 kebun induk dan 2 kebun bagian, dimana Perkebunan Gunung Pasang
merupakan salah satu kebun induk yang membudidayakan komoditi karet, kopi
dan cengkeh. Karet crepe yang diproduksi terdiri dari 3 mutu yang berbeda yaitu
crepe mutu 1, mutu 2 dan mutu 3, ketiganya memiliki standar mutu dan nilai jual
yang berbeda.
Berdasarkan data produksi pada bulan Juni 2018 hingga Januari 2020,
hasil produksi crepe mutu 1 terus mengalami penurunan sedangkan pada crepe
mutu 2 dan 3 mengalami peningkatan. Penurunan jumlah produksi tersebut
berbanding terbalik dengan permintaan konsumen yang tinggi terhadap crepe
mutu 1. Perusahaan tidak mampu memenuhi target yang diharapkan sehingga
mereka menyuplai hasil olah lateks dari kebun lain agar dapat mencapai target
yang diharapkan. Dalam permasalahan tersebut perusahaan diharapkan mampu
meningkatkan hasil produksi crepe mutu 1 agar selalu dapat memenuhi
permintaan konsumen dan meminimalisir adanya kerugian bagi perusahaan.
Tujuan dari penelitian adalah untuk mengidentifikasi proses kritis pada
proses produksi crepe dan jenis kecacatan yang menjadi faktor penyebab
penyimpangan. Jenis kecacatan yang ditemukan kemudian dianalisis
menggunakan Fault Tree Analysis (FTA) untuk mengetahui penyebab kecacatan
yang terjadi sehingga dapat mempermudah dalam menentukan rumusan perbaikan
yang akan dilakukan. Berdasarkan data produksi crepe selama 90 hari (Mei-Agustus 2020)
diketahui jumlah crepe mutu 1 yang dihasilakan sebanyak 62,10% dan 37,9%
merupakan produk cacat (mutu 2 dan 3). Dari data produksi yang dituang ke
dalam bentuk histogram menunjukkan rata-rata sampel mengalami pergeseran
proses dari target yang diharapkan perusahaan yaitu sebesar 80%. Pada peta
kendali p-chart masih ditemukan 38 titik berada di bawah garis LCL, hal tersebut
mengidentifikasikan bahwa proses belum stabil dan masih terdapat adanya
penyimpangan. Dari hasil pengamatan jenis kecacatan yang paling sering terjadi
yaitu cacat crepe bernoda dan cacat warna gelap. Hasil analisis FTA penyebab
dari kecacatan tersebut antara lain disebabkan oleh pengaruh cuaca dan iklim,
kontaminasi mikroorganisme, kesalahan pada proses produksi serta kualitas bahan
baku lateks yang digunakan. Solusi perbaikan yang dapat dilakukan untuk
meningkatkan crepe mutu 1 antara lain dengan memberikan zat antikoagulan pada
lateks, menjaga kebersihan peralatan dan ruangan produksi, menerapakan SOP
yang telah ditentukan
RANCANG BANGUN MODEL PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI KOPI RAKYAT YANG BERKELANJUTAN
Agroindustri kopi rakyat di Indonesia sangat berpotensi untuk
dikembangkan, mengingat Indonesia merupakan salah satu penghasil kopi
terbesar di dunia yang mayoritas produksinya dihasilkan dari perkebunan rakyat.
Tetapi, upaya pengembangan agroindustri kopi rakyat memiliki permasalahan
antara lain: rendahnya produktivitas kopi, akses pemasaran yang terbatas,
rendahnya keterampilan SDM, dan limbah agroindustri kopi yang belum
tertangani dengan baik. Selain itu, daya saing dari agroindustri kopi rakyat saat ini
masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan Negara penghasil kopi terbesar
lainnya, sehingga dibutuhkan suatu model pengembangan agroindustri kopi yang
berkelanjutan dengan memperhatikan keseimbangan manfaat ekonomi, sosial, dan
lingkungan.
Penelitian ini bertujuan untuk merancang suatu model pengembangan
agroindustri kopi rakyat dengan menggunakan konsep pembangunan
berkelanjutan dalam bentuk sistem penunjang keputusan. Model ini diberi nama
AgroCoffee yang terdiri dari 6 sub model yaitu sub model pemilihan produk
unggulan, sub model sosial, sub model kelembagaan, sub model teknologi, sub
model lingkungan, dan sub model ekonomi. Verifikasi model dilakukan melalui
pengujian logika, kesesuaian konseptual, dan kerja komputasi. Selanjutnya
validasi model menggunakan teknik face validity.
Rancangan model disimulasikan di Kabupaten Bondowoso Provinsi Jawa
Timur. Sub model pemilihan produk unggulan menggunakan metode
perbandingan eksponensial, menunjukkan bahwa kopi instan sebagai produk yang
berpotensi untuk dikembangkan. Sub model sosial menggunakan metode multi
expert-multi criteria decision making menunjukkan bahwa secara sosial
pengembangan agroindustri kopi instan di Kabupaten Bondowoso “Cukup Layak”
untuk dilakukan.
Analisis sub model kelembagaan terdiri dari dua tahapan, pemilihan model
kelembagaan dan strukturisasi kelembagaan. Pemilihan model kelembagaan
menggunakan metode perbandingan eksponensial menunjukkan bahwa model
kelembagaan kelompok usaha merupakan alternatif terbaik untuk agroindustri
kopi instan. strukturisasi kelembagaan agroindustri kopi instan menggunakan
metode interpretative structural modeling menunjukkan bahwa sub elemen kunci
pada elemen tujuan pengembangan adalah meningkatkan mutu, produktivitas, dan
akses pasar agoindustri kopi serta meningkatkan kualitas SDM; sub elemen kunci
pada elemen kebutuhan pengembangan adalah SDM yang terampil; sub elemen
kunci pada elemen kendala pengembangan adalah rendahnya kualitas SDM; sub
elemen kunci pada elemen pelaku pengembangan adalah petani kopi; dan sub
elemen kunci pada elemen aktivitas pengembangan adalah meningkatkan kualitas
SDM.
Analisis sub model teknologi menggunakan metode analytical hierarchy
process menunjukkan bahwa teknologi pengolahan basah sebagai alternatif
terbaik dalam proses pengolahan bahan baku kopi instan. Analisis sub model
lingkungan mengggunakan metode perbandingan eksponensial menunjukkan
bahwa alternatif terbaik untuk penanganan limbah padat diolah sebagai kompos
organik dan alternatif terbaik untuk penanganan limbah cair diolah menjadi pupuk
cair. Hasil analisis kelayakan finansial menunjukkan bahwa agroindustri kopi
instan layak untuk dikembangkan. Kriteria kelayakan menunjukkan pada tingkat
suku bunga 9,75% menghasilkan nilai NPV sebesar RP 7.070.275.508,- nilai IRR
sebesar 48,49%, net B/C ratio sebesar 1,14 tingkat pengembalian modal dalam
3,53 tahun dan titik impas produksi adalah sebesar 39.301. kg per tahun. Analisis
sensitivitas kelayakan finansial dengan menggunakan kenaikan harga bahan baku
sebesar 10%, 20%, dan 30% masih menunjukkan keputusan layak. Sementara
pada analisis sensitivitas dengan menggunakan penurunan harga jual produk
sebesar 5% dan 10% masih menunjukkan keputusan layak, sedangkan pada
penurunan harga jual produk sebesar 15% menunjukkan keputusan tidak layak
VARIASI RASIO TERIGU DAN TEPUNG SUKUN PADA PEMBUATAN BOLU KERING
Bolu kering merupakan makanan ringan yang disukai masyarakat, dan
dibuat dari terigu dengan tekstur yang keras, renyah dan berrongga. Penggunaan
terigu pada pengolahan bolu kering berdampak pada peningkatan impor gandum.
Untuk itu, diversifikasi olahan bolu kering yang mampu mengurangi kebutuhan
terigu perlu dilakukan. Salah satu bahan yang dapat digunakan untuk tujuan
tersebut adalah tepung sukun. Sukuntermasuk dalam golongan klimaterik, buah
yang mudah cepat masak dan karbohidrat tinggi.
Penggunaan tepung sukun pada variasi rasio bolu kering dimaksudkan
untuk mengurangi jumlah pemakaian terigu dan meningkatkan nilai gizi, aroma,
serta cita rasa bolu kering. Tepung sukun memiliki potensi dalam kebutuhan
sumber pangan karena jumlah kalori dan kandungan gizinya yang tinggi. Tujuan
penelitian ini adalah mengetahui karakteristik fisik, kimia, dan sensoris bolu
kering yang dibuat dengan variasi rasio tepung sukun.
Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan satu faktor
formulasibolu kering dengan variasi rasio terigu dan tepung sukun (P).Formulasi
perlakuan P0 (100% terigu), P1 (90% terigu dan 10% tepung sukun), P2 (80%
terigu dan 20% tepung sukun), P3 (70% terigu dan 30% tepung sukun), P4 (60%
terigu dan 40% tepung sukun), dan P5 (50% terigu dan 50% tepung sukun).
Variabel yang diamati meliputi tekstur, tingkat kecerahan, daya kembang,
kenampakan irisan, kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar protein, dan kadar
karbohidrat serta mutu sensoris bolu kering. Data dihitung secara statistik dengan
Analysis of Variance Test (ANOVA) dan adanya perbedaan nyata dilanjutkan
dengan uji lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf kepercayaan 95% (α =
0,05).
Hasil penelitian menunjukkan bahwarasio terigu dan tepung sukun
berpengaruh nyata terhadap daya kembang dan kadar karbohidrat. Variasi rasio
pembuatan bolu keringterbaik yaitu P2 dengan variasirasio 80% terigu dan 20%
tepung sukun, Perlakuan tersebut menghasilkanbolu kering dengan karakteristik
tekstur 307,10 g/mm, warna L66,89, kadar air 4,51%, kadar abu 1,35%, kadar
lemak 4,37%, kadar protein 12,11%, kadar karbohidrat 84,31%, dan nilai kesukan
warna 3,13, aroma 2,80, tekstur 3,33, rasa 3,53, dan keseluruhan 3,77
Analisis Penerapan Good Manufacturing Practice di CV. Sumber Tirta Jaya Banyuwangi
Pada abad yang sangat modern seperti saat ini, banyak masyarakat memenuhi kebutuhan hidupnya khusunya kebutuhan akan air minum dengan mengkonsumsi air minum dalam kemasan. Pada kenyataannya, saat ini sudah banyak perusahaan yang memproduksi air minum dalam kemasan guna memenuhi kebutuhan masyarakat. Industri Air Minum Dalam kemasan (AMDK) muncul sebagai industri minuman utama hampir di seluruh dunia. Indsutri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) mengalami perkembangan yang semakin pesat yang disebabkan oleh konsumsi AMDK semakin meningkat setiap tahunnya dikarenakan pertumbuhan jumlah penduduk yang semakin meningkat seiring dengan pola hidup masyarakat Indonesia yang semakin modern serta tingkat kebutuhan yang semakin kompleks yang menyebabkan masyarakat memilih sesuatu yang praktis untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Seiring dengan peningkatan permintaan konsumen tersebut, para produsen harus mengetahui jaminan mutu produk yang dihasilkan agar dapat memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen akan air minum. Memastikan bahwa produk yang dihasilkan suatu perusahaan tersebut benar benar aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat, hal tersebut merupakan cara yang ampuh untuk menarik minat dari masyarakat itu sendiri. Salah satu cara untuk menghasilkan suatu produk yang aman dan bermutu, perusahaan harus menerapkan suatu pedoman pengendalian kualitas yang telah ditetapkan, salah satu pedoman yang harus dilakukan guna menunjang kualitas produk yang dihasilkan dan juga menunjang keamanan dari konsumen yaitu penerapan Good Manufacturing Practice atau Cara pengolahan pangan olahan yang baik (CPPOB).
Berdasarkan kondisi saat ini mengenai penerapan Good Manufacturing Practice di CV sumber Tirta jaya banyuwangi, masih ditemui beberapa permasalahan yang dapat mempengaruhi kualitas produk yang dihasilkan, maka dari itu, tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis penerapan Good Manufacturing Practice di CV. Sumber Tirta Jaya Banyuwangi dengan menilai penerapan Good Manufacturing Practice di CV. Sumber Tirta Jaya, mengetahui penyebab penyimpangan terkait penerapan Good Manufacturing Practice dan Merekomendasikan perbaikan terkait penerapan Good Manufacturing Practice di CV. Sumber Tirta Jaya Banyuwangi. Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan acuan dari peraturan Kementerian Perindutrian Republik Indonesia No. 75 Tahun 2010 Mengenai Good Manufacturing Practice guna mengetahui penerapan Good Manufacturing Practice di CV. Sumber Tirta Jaya Banyuwangi, Metode Fishbone yang digunakan untuk mengidentifikasi dengan jelas penyebab terjadinya suatu permasalahan dan juga metode brainstorming yang bertujuan untuk merokemdasikan perbaikan dari suatu permasalahan mengenai penerapan Good Manufacturing Practice yang ada di CV. Sumber Tirta Jaya Banyuwangi.
Hasil dari penelitian ini yaitu penerapan Good Manufacturing Practice di CV. Sumber Tirta Jaya Banyuwangi menurut peraturan Kementrian Perindustrian Republik Indonesia no.75 tahun 2010 menunjukkan total 31 sub aspek yang tidak sesuai dengan pedoman dari jumlah total sub aspek pemeriksaan yaitu 178 aspek. Berdasarkan penilaian yang dilakukan, penyimpangan minor berjumlah 18 sub aspek, penyimpangan mayor berjumlah 4, sedangkan penyimpangan kritis berjumlah 9. Rekomendasi perbaikan dilakukan pada penyimpangan kritis yang menunjukkan bahwa penyimpangan kritis merupakan penyimpangan yag depat berpengaruh terhadap kontaminasi produk secara langsung. Oleh karena itu rekomendasi perbaikan yang diberikan antara lain melengkapi fasilitas toilet, memberikan pelatihan terkait GMP secara teratur kepada karyawan, membuat penjadwalan pembersihan mesin secara teratur, melengkapi prosedur tata tertib kerja (PROTAB), dan memperbaiki lantai yang rusak dan mengganti dengan bahan yang kuat sesuai standart yang ditetapkan
- …
