5 research outputs found

    Merepresentasikan Secara Visual Ibrahim Datuk Tan Malaka

    No full text
    Ibrahim Datuk Tan Malaka lahir pada tanggal 2 Juni 1897 di Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat. Pada  tahun 1907  beliau masuk ke Kweekschool di Bukittinggi. Ketika berumur 16 tahun, Tan Malaka pulang  ke  kampungnya  di  Suliki.  Kemudian  ibunya  (Sinah  Simabua)  memberikan  dua  pilihan  kepada Tan Malaka, yaitu menikah atau diangkat menjadi datuk. Tan Malaka lebih memilih diangkat menjadi datuk  dari  pada  menikah.  Maka  nama  Ibrahim  berubah  menjadi  Ibrahim  Datuk  Tan  Malaka. Sebagaimana  yang  terdapat  dalam  pepatah  adat  Minangkabau,  ketek  banamo  gadang  bagala,  maka Ibrahim dipanggil dengan gelar Tan Malaka. Sebagai seorang pahlawan kemerdekaan, Tan Malaka tidak begitu dikenal oleh masyarakat. Namanya tidak seharum Soekarno, Hatta atau Sjahrir. Meskipun sudah diangkat  sebagai  pahlawan  kemerdekaan,  namun  pemerintah  tidak  pernah  berusaha  untuk  mengem- balikan eksistensi Tan Malaka  tersebut.  “Tidak  adil” adalah puncak dari apa yang dirasakan terhadap tokoh legendaris dalam karya ini, Tan Malaka adalah seorang pejuang, pemberontak, tokoh kiri, komunis, filsuf, serta seorang pemikir jenius yang pernah dimiliki oleh negara Republik Indonesia. Perancangan ini menjadikan  Tan  Malaka  sebagai  obyek  dalam  karya  seni  lukis  kontemporer.  Tujuan  perancangan  ini adalah  agar  masyarakat  luas  mengenali  Tan  Malaka  dari  segi  visual,  mengetahui  sejarahnya,  dan menghargai  apa  yang  telah  Tan  Malaka  lakukan  dengan  cara  memberikan  apresiasi  melalui  sebuah karya seni lukis kontemporer

    Merepresentasikan Secara Visual Ibrahim Datuk Tan Malaka

    No full text
    Ibrahim Datuk Tan Malaka lahir pada tanggal 2 Juni 1897 di Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat. Pada  tahun 1907  beliau masuk ke Kweekschool di Bukittinggi. Ketika berumur 16 tahun, Tan Malaka pulang  ke  kampungnya  di  Suliki.  Kemudian  ibunya  (Sinah  Simabua)  memberikan  dua  pilihan  kepada Tan Malaka, yaitu menikah atau diangkat menjadi datuk. Tan Malaka lebih memilih diangkat menjadi datuk  dari  pada  menikah.  Maka  nama  Ibrahim  berubah  menjadi  Ibrahim  Datuk  Tan  Malaka. Sebagaimana  yang  terdapat  dalam  pepatah  adat  Minangkabau,  ketek  banamo  gadang  bagala,  maka Ibrahim dipanggil dengan gelar Tan Malaka. Sebagai seorang pahlawan kemerdekaan, Tan Malaka tidak begitu dikenal oleh masyarakat. Namanya tidak seharum Soekarno, Hatta atau Sjahrir. Meskipun sudah diangkat  sebagai  pahlawan  kemerdekaan,  namun  pemerintah  tidak  pernah  berusaha  untuk  mengem- balikan eksistensi Tan Malaka  tersebut.  “Tidak  adil” adalah puncak dari apa yang dirasakan terhadap tokoh legendaris dalam karya ini, Tan Malaka adalah seorang pejuang, pemberontak, tokoh kiri, komunis, filsuf, serta seorang pemikir jenius yang pernah dimiliki oleh negara Republik Indonesia. Perancangan ini menjadikan  Tan  Malaka  sebagai  obyek  dalam  karya  seni  lukis  kontemporer.  Tujuan  perancangan  ini adalah  agar  masyarakat  luas  mengenali  Tan  Malaka  dari  segi  visual,  mengetahui  sejarahnya,  dan menghargai  apa  yang  telah  Tan  Malaka  lakukan  dengan  cara  memberikan  apresiasi  melalui  sebuah karya seni lukis kontemporer

    Merepresentasikan Secara Visual Ibrahim Datuk Tan Malaka

    No full text
    Ibrahim Datuk Tan Malaka lahir pada tanggal 2 Juni 1897 di Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat. Pada  tahun 1907  beliau masuk ke Kweekschool di Bukittinggi. Ketika berumur 16 tahun, Tan Malaka pulang  ke  kampungnya  di  Suliki.  Kemudian  ibunya  (Sinah  Simabua)  memberikan  dua  pilihan  kepada Tan Malaka, yaitu menikah atau diangkat menjadi datuk. Tan Malaka lebih memilih diangkat menjadi datuk  dari  pada  menikah.  Maka  nama  Ibrahim  berubah  menjadi  Ibrahim  Datuk  Tan  Malaka. Sebagaimana  yang  terdapat  dalam  pepatah  adat  Minangkabau,  ketek  banamo  gadang  bagala,  maka Ibrahim dipanggil dengan gelar Tan Malaka. Sebagai seorang pahlawan kemerdekaan, Tan Malaka tidak begitu dikenal oleh masyarakat. Namanya tidak seharum Soekarno, Hatta atau Sjahrir. Meskipun sudah diangkat  sebagai  pahlawan  kemerdekaan,  namun  pemerintah  tidak  pernah  berusaha  untuk  mengem- balikan eksistensi Tan Malaka  tersebut.  “Tidak  adil” adalah puncak dari apa yang dirasakan terhadap tokoh legendaris dalam karya ini, Tan Malaka adalah seorang pejuang, pemberontak, tokoh kiri, komunis, filsuf, serta seorang pemikir jenius yang pernah dimiliki oleh negara Republik Indonesia. Perancangan ini menjadikan  Tan  Malaka  sebagai  obyek  dalam  karya  seni  lukis  kontemporer.  Tujuan  perancangan  ini adalah  agar  masyarakat  luas  mengenali  Tan  Malaka  dari  segi  visual,  mengetahui  sejarahnya,  dan menghargai  apa  yang  telah  Tan  Malaka  lakukan  dengan  cara  memberikan  apresiasi  melalui  sebuah karya seni lukis kontemporer

    REKONSTRUKSI MASKULINITAS: MENGUAK PERAN LAKI-LAKI DALAM PERJUANGAN KESETARAAN GENDER

    Get PDF
    Gender inequality is a phenomenon that is still sticking to the present. To overcome the various programs have been implemented for the sake of equality. But it is still fixed in women, while men who also had a big hand in the creation of these gaps are rarely involved. How important is the role of men in gender equality and how to realize them? This question will be discussed in this paper
    corecore