1,720,982 research outputs found
Stres Akademik Dan Perilaku Impulsive Buying Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih
Tuntutan akademik yang tinggi serta lamanya pendidikan yang harus ditempuh seringkali menjadi tekanan yang harus dipahami oleh mereka yang menekuni bidang ilmu kedokteran. Tekanan yang dirasakan tentunya dapat memicu ketidakstabilan emosi, yang pada akhirnya dapat mendorong mahasiswa untuk melakukan perilaku pembelian impulsif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara stres akademik dan pembelian impulsif pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih. Metode yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain korelasional. Sebanyak 80 mahasiswa fakultas kedokteran yang terdiri dari angkatan 2022-2019 menjadi partisipan dalam penelitian ini yang diambil menggunakan rumus slovin. Pengukuran penelitian menggunakan Perception Academic Stress (PAS) (α = 0,892) dan Impulsive Buying Tendency Scale (IBTS) Scale (α = 0,875). Metode analisis data penelitian menggunakan uji correlation product moment dari Karl Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif signifikan antara stres akademik dengan pembelian impulsif (r = 0,960 dan sig. = 0,000 (p<0,05) ). Hal ini mengindikasikan bahwa stres akademik merupakan salah satu faktor penting yang berhubungan dengan perilaku pembelian impulsif mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih
Hubungan Kematangan Emosi dengan Kebahagiaan pada Pria/Wanita yang Belum Menikah pada Usia 30 Tahun
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat Kematangan Emosi dengan Kebahagiaan. Subjek dalam penelitian ini adalah pria / wanita yang belum menikah yang berumur di atas 30 tahun keatas, total subjek pada penelitian ini berjumlah 35 orang. Alat ukur yang digunakan Emotional Maturity Scale (Singh & Bhargave, 2005) untuk mengukur kematangan emosi, dengan nilai reliabilitas 0,8619 dan Oxford Happiness Questionnaire (Argyle & Hills, 2002) untuk mengukur kebahagiaan, dengan nilai reliabilitas 0,880. Hasil penelitian menunjukkan tingkat korelasi antara kematangan emosi dengan kebahagiaan sebesar 0,574 (p = 0,000; p ≥ 0,05). Hal ini berarti bahwa ada hubungan positif yang signifikan antara tingkat Kematangan Emosi dengan Kebahagiaan pada dewasa muda yang belum menikah pada usia di atas 30 tahun
Hubungan Dukungan Sosial Keluarga dengan Kecemasan Menghadapi Kematian pada Lansia di Panti Inakaka Ambon
Kecemasan kematian adalah rasa takut, ketakutan atau kecemasan yang dirasakan individu ketika berpikir tentang apa yang akan terjadi setelah meninggal maupun yang terjadi pada saat proses kematian. Individu akan merasa khawatir dan cemas ketika kenyataan bahwa keberadaannya di dunia akan segera usai. Dukungan sosial keluarga sangat penting ketika seseorang sudah memasuki usia lanjut, kerena akan ada peristiwa besar yang dihadapi lansia yaitu tutup usia. Lansia akan menganggap bahwa kematian merupakan pintu baginya untuk kehilangan segala sesuatu yang dimiliki ketika masih hidup dan fakta bahwa kehidupannya di dunia sudah selesai. Dukungan sosial keluarga mampu mereduksi kecemasan lanjut usia dalam menghadapi kematian. Dukungan sosial keluarga dapat berupa perhatian, pertolongan yang berupa informasi atau nasehat verbal maupun non verbal dan bantuan nyata.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Hubungan dukungan sosial keluarga dengan kecemasan menghadapi kematian pada lansia di Panti Inakaka Ambon. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan jenis metode kuantitatif survei. Dari penelitian yang dari 37 responden sebanyak 19 responden mengatakan bahwa dukungan sosial keluarga sangat kurang dan 14 responden mengatakan bahwa kecemasan dalam menghadapi kematian sangat tinggi. Dari nilai korelasi sebesar 0,605 dengan nilai signifikan= 0,000 (p<0,005) dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ada hubungan sosial keluarga dengan kecemasan menghadapi kematian pada lansia
Hubungan antara Takut Gagal dengan Prokrastinasi Skripsi pada Mahasiswa Fakultas Teknik Elektro Universitas Kristen Satya Wacana
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara takut kegagalan dengan prokrastinasi skripsi pada mahasiswa fakultas teknik elektro Universitas Kristen Satya Wacana. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa fakultas teknik elektro UKSW yang sedang mengambil matakuliah skripsi sejumlah 39 mahasiswa. Metode pengumpulan data menggunakan Tuckman Procrastination Scale yang terdiri dari 35 aitem dan Performance Failure Appraisal Inventory yang terdiri dari 25 aitem. Berdasarkan hasil analisis dengan product moment Pearson, diperoleh nilai koefisien korelasi (r) = 0,626 dengan nilai signifikansi 0,000 (p < 0,05) dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara takut kegagalan dengan prokrastinasi skripsi pada mahasiswa fakultas teknik elektro UKSW. Sumbangan efektif takut kegagalan terhadap prokrastinasi skripsi dalam penelitian ini sebesar 0,391, artinya prokrastinasi pada mahasiswa fakultas teknik elektro 39,1% ditentukan oleh faktor takut gagal, sedangkan 60,9% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diungkap dalam penelitian ini.The purpose of this study is review the relation between fear of failure with thesis procrastination of students faculty electrical engineering Satya Wacana Christian University. The subject of the research is the student of electrical engineering faculty Satya Wacana Christisn University who are taking thesis about 39 students. Data collection method used tuckman procrastination scale consisting of 35 aitem and performance failure appraisal inventory consisting of 25 aitem. According to the analysis by product moment pearson, obtained the value of a correlation coefficient ( r ) = 0,626 with the significance 0,000 (p < 0,05 ) it can be obtained that there is a significant positive connection between fear of failure with thesis procrastination of students faculty electrical engineering SWCU. Effective contribution of fear of failure to thesis procrastination in this research by 0,391, it means that students of electrical engineering faculty procrastination 39,1 % determined by a factor of fear of failure, while 60,9 % influenced by other factors that are not disclosed in this research
Hubungan Emotional Intelligence dengan Psychological Well–Being pada Remaja Tunarungu
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui signifikansi hubungan antara emotional intelligence dengan psychological well-being pada remaja tunarungu di Wonosobo. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif korelasional dengan melibatkan 55 partisipan. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan teknik purposive sampling. Karakteristik subjek pada penelitian ini adalah remaja tunarungu berusia 13-18 tahun yang tidak memiliki cacat tubuh atau gangguan lainnya. Hasil penelitian ini menunjukkan hasil adanya hubungan yang positif dan signifikan antara emotional intelligence dengan psychological well-being pada remaja tunarungu. Tingkat emotional intelligence remaja tunarungu berada pada kategori tinggi dengan mean sebesar 43,32 sedangkan tingkat psychological well-being remaja tunarungu berada pada kategori tinggi dengan mean sebesar 64,09. Emotional intelligence memberi sumbangan pengaruh terhadap psychological well-being sebesar39,8%.The aim ofthis study was to determine the significance of the relationship between emotional intelligence with psychological well-being in adolescent deaf in Wonosobo. This research is aquantitative correlation involving 55 participants. The sampling technique using purposive sampling technique. Characteristics of the subjects in this study were deaf adolescents aged 13-18 years who do not have disabilities or other disorders. The results showed the results of the positive and significant correlation between emotional intelligence with psychological well-being in adolescents with hearing impairment. The level of emotional intelligence of deaf adolescents are at high category with a mean of 43.32 while the level of psychological well-being of deaf adolescents are at high category with a mean of 64.09. Emotional intelligence contributes effect on psychological well-being of 39.8%
Hubungan antara Komitmen Organisasi dengan Organizational Citizenship Behavior (OCB) pada Karyawan Produksi di PT. Perkebunan Nusantara IX Kebun Ngobo
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara komitmen organisasi dengan Organizational Citizenship Behavior (OCB). Hipotesis yang diajukan adalah ada hubungan positif yang signifikan antara komitmen organisasi dengan Organizational Citizenship Behavior (OCB) pada karyawan produksi di PT. Perkebunan Nusantara IX Kebun Ngobo. Subjek penelitian ini berjumlah 35 karyawan produksi di PT. Perkebunan Nusantara IX Kebun Ngobo. Metode pengumpulan data menggunakan skala komitmen organisasi yang disusun oleh Meyer dan Allen (1990) dan skala Organization Citizenship Behavior (OCB) yang disusun oleh Organ (1983) dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan rxy = 0,569 dan p<0,05, hal ini berarti terdapat hubungan positif yang signifikan antara komitmen organisasi dengan Organizational Citizenship Behavior (OC
Hubungan antara Kecerdasan Emosional dengan Perilaku Agresif pada Siswa SMK Dr. Tjipto Ambarawa
Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara kecerdasan emosional dengan perilaku agresi pada siswa SMK Dr. Tjipto Ambarawa. Penelitian ini dilakukan terhadap 66 siswa SMK Dr. Tjipto Ambarawa. Pengumpulan data secara kuantitatif dilakukan dengan menggunakan dua instrumen. Kecerdasan Emosional dengan menggunakan Schutte Emotional Intelligent Scale (SEIS Schutte et al., 1998) dan perilaku agresi diukur dengan skala agresivitas disusun berdasarkan teori Buss & Perry (1992). Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan negatif signifikan antara kecerdasan emosional dengan perilaku agresif pada siswa SMK Dr. Tjipto Ambarawa (r = -0,036 dengan sig. = 0,388 (p > 0,05).The research purpose to obsorve the relationship between the emotional intelligence to the aggressive behavior in student of SMK Dr. Tjipto Ambarawa. The quantitative data collection is done by using two instruments. The emotional intelligence by using Schutte Emotional Intelligent Scale (SEIS Schutte et al., 1998) and the aggressiveness measured Buss & Perry (1992). The research showed is there is no negative relationship between emotional intelligence and aggressive behavior in students of SMK Dr. Tjipto Ambarawa (r = -0,036 with sig. = 0,0388 (p > 0,05)
Perbedaan Kemandirian Belajar pada Remaja Madya Ditinjau dari Lingkungan Tempat Tinggal
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kemandirian belajar remaja madya ditinjau dari lingkungan tempat tinggal. Penelitian ini dilakukan pada 90 remaja madya yang tinggal di rumah, di kost, dan di panti asuhan dengan menggunakan teknik incidental sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan skala kemandirian belajar yang mengacu pada teori Garrison (1997) mengenai aspek-aspek kemandirian belajar. Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan skala self directed learning. Perbedaan kemandirian belajar pada remaja madya yang tinggal di rumah, di kost, dan di panti asuhan di uji menggunakan Anova dan diperoleh hasil bahwa nilai F sebesar 20,328 dengan signifikansi 0,000 atau p < 0,05. Dari hasil analisis data ditemukan bahwa remaja madya yang tinggal di rumah memiliki perbedaan kemandirian belajar dengan remaja madya yang tinggal di kost, dan remaja madya yang tinggal di rumah memiliki perbedaan kemandirian belajar dengan remaja madya yang tinggal di panti asuhan. Sedangkan remaja madya yang tinggal di kost tidak memiliki perbedaan kemandirian belajar dengan remaja madya yang tinggal di panti asuhan.This study aimed to determine differences in adolescents associate learning independence in terms of neighborhoods. This study was conducted on 90 middle adolescents who stay at home, in the boarding house, and in the orphanage by using incidental sampling technique. The data was collected using a scale independent learning which refers to the theory of Garrison (1997) on aspects of learning independence. Methods of data collection in this study using a scale of self-directed learning. Differences in learning independence in middle adolescents living at home, at boarding, and in the orphanage were tested using Anova and the results showed that the F value of 20.328 with a significance of 0.000 or p <0.05. From the analysis of the data found that teens who st ay at home have different learning independence by middle adolescents who live in the boarding house, and a middle adolescents who lives in the house has a different learning independence by middle adolescents who live in the orphanage. Where as middle adolescents who live in the boarding house does not have independent learning differences with middle adolescents who live in the orphanage
Resiliensi Pada Ibu Nifas Primipara Dalam Tradisi Neno Bo'ha
This research focuses on the Neno Bo’ha tradition, a custom of the Dawan ethnic group in Timor, which requires postpartum mothers to undergo a recovery period inside the ume k'bubu (round house). This tradition is believed to provide long term health benefits for both mother and baby; however, it also presents physical and psychological challenges that test the mothers' resilience. The purpose of this study is to explore the resilience building process among primiparous mothers who undergo the Neno Bo’ha tradition. This research employs a qualitative method with a phenomenological approach, which allows for an in-depth exploration of participants' subjective experiences. Three primiparous Dawan mothers currently in the postpartum period within the ume k'bubu were included as participants. Data was collected through in-depth interviews and participatory observations to gain a comprehensive understanding of their adaptation processes. The findings reveal that each participant demonstrates a unique resilience process, with variations in stages and duration influenced by the interaction between social support, such as family assistance, and adherence to tradition. Family and community support, along with an understanding of tradition as part of cultural responsibility, forms an essential foundation for strengthening participants resilience. Additionally, their experiences show that, despite its challenges, this tradition helps mothers find meaning and purpose, reinforcing their determination in undergoing the postpartum recovery process and completing the Neno Bo’ha period.Penelitian ini berfokus pada tradisi Neno Bo’ha, sebuah adat suku Dawan di Timor yang mengharuskan ibu nifas untuk menjalani masa pemulihan pasca-persalinan di dalam ume k'bubu (rumah bulat). Tradisi ini diyakini membawa manfaat jangka panjang untuk kesehatan ibu dan bayi, tetapi di sisi lain membawa tantangan fisik dan psikologis yang menguji ketahanan para ibu. Tujuan penelitian ini adalah mengeksplorasi proses pembentukan resiliensi pada ibu nifas primipara yang menjalani tradisi Neno Bo’ha. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, yang memberikan ruang untuk menggali pengalaman subyektif partisipan secara mendalam. Tiga ibu nifas primipara suku Dawan yang sedang menjalani masa nifas di dalam ume k'bubu diikutsertakan sebagai partisipan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai proses adaptasi mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap partisipan menampilkan proses resiliensi yang berbeda-beda, dengan variasi tahapan dan durasi yang dipengaruhi oleh interaksi antara dukungan sosial, seperti bantuan dari keluarga, dan kepatuhan terhadap adat. Dukungan dari keluarga dan komunitas, serta pemahaman terhadap adat sebagai bagian dari tanggung jawab budaya, membentuk landasan penting dalam penguatan resiliensi partisipan. Selain itu, pengalaman mereka juga memperlihatkan bahwa tradisi ini, meskipun penuh tantangan, membantu para ibu dalam menemukan makna dan tujuan yang memperkuat semangat mereka dalam menjalani proses pemulihan pasca-persalinan dan menyelesaikan masa Neno Bo’ha
Hubungan Persepsi Kualitas Sekolah dengan Komitmen Kerja Guru di SMK Diponegoro Salatiga
Komitmen kerja mempengaruhi kinerja seseorang dalam pekerjaannya, komitmen kerja yang tinggi bisa muncul di dalam diri individu, karena individu tersebut memiliki keinginan yang berasal dari dalam dirinya sendiri dan bertanggung jawab pada pekerjaannya. Salah satu faktor komitmen kerja adalah persepsi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan antara persepsi kualitas sekolah dengan komitmen kerja guru di SMK Diponegoro Salatiga, dengan subjek berjumlah 30 orang. Variabel Komitmen Kerja Guru diukur menggunakan modifikasi skala dari Job Commitment of Primary School Teachers, dibuat oleh Ssali Gerald (2006) yang terdiri dari 15 item. Variabel Persepsi Kualitas Sekolah menggunakan modifikasi skala dari Adi (2011) yang disusun berdasarkan aspek-aspek persepsi kualitas sekolah yang terdiri dari 16 item favorable dan 9 item unfavorable. Data analisis menggunakan teknik analisis Pearson Product Moment. Koefisien korelasi yang diperoleh sebesar -0,013 dengan nilai signifikansi sebesar 0,946 (p < 0,05) sehingga didapatkan kesimpulan dari penelitian yang menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan negatif yang signifikan antara komitmen kerja guru dengan persepsi kualitas sekolah.Work commitments affect a person's performance at work, high work commitment may appear in the individual, because the individual has a desire that comes from within itself and is responsibly for job. One factor is the perception of work commitments. The purpose of this research is to known the relations between the perception of the quality school with teachers work commitment in SMK Diponegoro Salatiga, with a subject to 30 people. Variable work commitment teacher measured using modification scale from job commitment of primary school the teachers, made by Ssali Gerald ( 2006 ) consisting of 15 the item. Variable perception the quality of school use modification scale of adi ( 2011 ) are arranged based on aspects perception the quality of school consisting of 16 items favorable and 9 items unfavorable. Data analysis using analysis Pearson Product Moment. A correlation coefficient receive is -0,013 with nilai significance of 0,946 ( p < 0,05 ) so obtained conclusions from research which showed that there was no correlation negative significant between work commitment teacher with perception the quality of school
- …
