1,721,022 research outputs found
Pengembangan Time-Temperature Indicator Berbasis Enzim Lipase untuk Pemonitoran Kesegaran Susu
Susu merupakan salah satu produk makanan dan minuman yang memiliki gizi tinggi karena mengandung zat-zat makanan yang lengkap dan seimbang. Susu merupakan makanan yang tidak tahan lama (perishable food) karena kualitas susu yang sulit dipertahankan hingga sampai ke tangan konsumen. Kandungan gizi yang tingggi menyebabkan susu merupakan media yang sangat baik untuk pertumbuhan bakteri dan menjadi sarana penyebaran bakteri yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Mutu susu dapat berubah akibat pertumbuhan bakteri, ditandai dengan perubahan rasa, aroma, warna dan penampakan yang menyebabkan susu menjadi rusak. Potensi kontaminasi bakteri tersebut dapat terjadi akibat penyimpangan suhu yang biasa terjadi selama proses penyimpanan. Salah satu perangkat yang saat ini dikembangkan adalah time temperature indicator (TTI) merupakan suatu alat sederhana yang dapat digunakan untuk menunjukkan hubungan antara waktu dan temperatur dengan memberikan perubahan pada sifat fisiknya yang dapat diamati secara visual dengan adanya perubahan warna. Ketika perubahan warna terjadi dengan cepat, maka semakin cepat pula indikator akan mendeteksi akhir dari shelf life pada produk. Pada penelitian ini dikembangkan desain TTI sebagai sensor untuk memonitoring penurunan kualitas kesegaran susu dengan menggunakan enzim lipase dan substrat trigliserida dengan phenol red sebagai indikator warna dan untuk mengetahui korelasi antara penurunan kesegaran susu penyimpanan suhu ruang, chiller dan freezer dengan sensitivitas perubahan warna TTI, serta untuk mengetahui apakah TTI dapat digunakan sebagai sensor untuk mendeteksi penurunan kesegaran susu sapi yang berada dipasaran dalam kondisi penyimpanan suhu chiller dan suhu ruang. ix Penelitian ini dilakukan fabrikasi TTI, dimana terdiri dari dua membran terpisah yang masing-masing direkatkan pada plastic mica transparan. Membran pertama berisi campuran larutan substrat trigliserida dengan indikator phenol red yang diimobilisasi kedalam kertas whatman dan membran kedua berisi larutan enzim lipase yang juga diimobilisasi kedalam kertas whatman berdiameter 6 mm. Desain TTI adalah perubahan warna TTI yang semula berwarna merah menjadi kuning terang ketika dalam suasana asam. Pada saat produk susu sudah tidak segar lagi, diharapkan membran akan berubah warna menjadi kuning terang. Ketika warna membran telah berubah menjadi kuning terang maka susu sapi tersebut telah tidak segar atau sudah tidak layak untuk dikonsumsi. Pengamatan uji kualitas kesegaran susu meliputi uji pH, organuleptis dan total mikroba. Pengamatan pH susu dilakukan dengan menggunakan pH meter. Uji organuleptis menggunakan penilaian panelis dan perhitungan total mikroba dilakukan dengan metode Total Plate Count menggunakan media agar TPC (Total Plate Count). Hasil pH menunjukkan susu tidak segar, ketidak sukaan panelis terhadap organuleptis susu dan total mikroba yang melebihi batas maksimum susu segar terjadi pada jam ke- 5 penyimpanan suhu ruang, hari ke-3 pada suhu chiller dan hari ke-5 suhu freezer. Berdasarkan hasil optimum membran indikator TTI adalah konsentrasi substrat 5% dan konsentrasi indikator 1000 ppm dengan rasio (1:1), menghasilkan membran indikator berwarna merah dan konsentrasi optimum enzim adalah 100 ppm (0,02 Unit). Korelasi Perubahan warna TTI berbasis enzim lipase berbanding lurus dengan penurunan kesegaran susu sapi pada penyimpanan suhu chiller dan suhu ruang, sedangkan pada penyimpanan suhu freezer tidak dapat memiliki perubahan yang persis terhadap kesegaran susu, dimana sensor memberikan perubahan warna kuning lebih cepat. Susu dalam keadaan tidak segar pada jam-5 suhu ruang dan hari ke-3 penyimpanan suhu chiller diikuti dengan kenaikan nilai mean red yang mengindikasikan kualitas susu semakin buruk. Semakin lama susu disimpan pada suhu chiller dan ruang, maka kualitas kesegaran susu semakin menurun dan TTI akan memberi tanda melalui perubahan warna dari merah menjadi kuning
PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN PENETAPAN KADAR FENOL TOTAL KOMBINASI EKSTRAK METANOL DAUN MANGGA GADUNG (Mangifera indica L. var. gadung) DAN EKSTRAK ETANOL DAUN PANDAN WANGI (Pandanus amaryllifolius Roxb.)
Senyawa fenolik merupakan produk alami yang memiliki sifat sebagai antioksidan yang dapat meredam radikal superoksida bebas, mempunyai sifat anti-aging yang baik untuk mengurangi resiko terjadinya kanker dan penyakit degeneratif lainnya. Mangga (Mangifera indica L.) merupakan salah satu tanaman asli dari Asia Tenggara. Kandungan senyawa polifenol dalam daun mangga yang besar diketahui memiliki banyak fungsi termasuk sebagai antioksidan dan biasa digunakan untuk mengobati beberapa penyakit di beberapa negara. Tumbuhan lain yang juga banyak digunakan sebagai obat tradisional adalah pandan wangi. Pandan wangi (Pandanus amaryllifous Roxb.) juga mengandung senyawa polifenol yang memiliki aktivitas antioksidan yang potensial sehingga dapat mengurangi resiko penyakit jantung, kanker, dan diabetes.
Potensi antioksidan dari kedua tanaman tersebut bisa dimanfaatkan penggunaannya lebih lanjut, maka dilakukan pengujian aktivitas antioksidan dan kadar fenol total dengan mengkombinasikan ekstrak daun mangga gadung dan daun pandan wangi dalam beberapa perbandingan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar fenol total dan aktivitas antioksidan dalam bentuk tunggal ekstraknya terhadap kombinasi kedua ekstrak.
Tahapan penelitian yang pertama adalah ekstraksi, kemudian pengujian aktivitas antioksidan, dan penetapan kadar fenol total. Ekstraksi menggunakan metode remaserasi dengan pelarut metanol untuk daun mangga gadung dan etanol 96% untuk daun pandan wangi. Metode pengukuran aktivitas antioksidan yang digunakan adalah DPPH dengan vitamin C sebagai kontrol positif, sedangkan
ix
untuk penetapan kadar fenol total adalah pewarnaan reagen Folin-Ciocalteu dengan asam galat sebagai pembanding. Uji statistik menggunakan one way anova yang dilanjutkan dengan uji post hoc (LSD).
Hasil penelitian menunjukkan, rendemen yang diperoleh dari ekstraksi 100 g masing-masing serbuk daun mangga gadung dan daun pandan wangi berturut-turut sebesar 20,95% dan 11,65%. Hasil pengukuran aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa kelima perbandingan kombinasi ekstrak memiliki aktivitas antioksidan yang lebih kecil dibandingkan vitamin C. Nilai IC50 vitamin C sebesar 2,613±0,021 μg/ml, diikuti ekstrak metanol daun mangga gadung tunggal sebesar 3,263±0,009 μg/ml, ekstrak etanol daun pandan wangi tunggal sebesar 39,700±1,033 μg/ml, dan kombinasi ekstrak metanol daun mangga gadung dengan ekstrak etanol daun pandan wangi pada perbandingan 2:1 sebesar 7,483±0,039 μg/ml, perbandingan 1:1 sebesar 13,392±0,157 μg/ml, dan perbandingan 1:2 sebesar 10,951±0,084 μg/ml. Kadar fenol total yang terbesar adalah kombinasi ekstrak metanol daun mangga gadung dan ekstrak etanol daun pandan wangi (2:1) (330,216±5,778 mg GAE/g ekstrak), kemudian disusul oleh ekstrak metanol daun mangga gadung tunggal (307,982±5,386 mg GAE/g ekstrak), kombinasi 1:1 (228,176±2,778 mg GAE/g ekstrak), kombinasi 1:2 (151,355±0,4589 mg GAE/g ekstrak), dan yang memiliki kadar fenol total yang terkecil adalah ekstrak etanol daun pandan wangi tunggal (44,244±0,122 mg GAE/g ekstrak). Kombinasi ekstrak yang memiliki aktivitas antioksidan yang paling besar dari kelima perbandingan kombinasi tidak dihasilkan dari kadar fenol total yang paling besar.
Hasil uji Anova dan uji LSD menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan berbeda pada masing-masing perbandingan kombinasi dan pembanding secara bermakna. Selain itu, kadar fenol total dari masing-masing perbandingan kombinasi juga menunjukkan perbedaan yang bermakna dilihat dari besarnya signifikasi pada uji anova (0,000) yang lebih kecil dari nilai 1% (nilai p < 0,01) dengan tingkat kepercayaan sebesar 99%. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai landasan untuk penelitian lebih lanjut
Penetapan Kadar Flavonoid Total Dan Penentuan Model Klasifikasi Serbuk Jahe Gajah Z. Officinalevar. Officinale Dari Daerah Ketinggian Berbeda Dengan Metode Spektroskopi Nir-Kemometrik
Jahe gajah merupakan salah isatu tanaman dari suku Zingiberaceae yang
menempati posisiipentingodalamikehidupan masyarakatokarena kegunaanidalam
berbagai aspek yaitu sebagai pemberi aroma,minyak atsiri, rempah, ataupun
sebagai obat. Aktivitas farmakologi jahe yang telah dibuktikan antar lain aktivitas
antioksidan. Salah satu sumber antioksidan alam yang terdapat dalam tanaman
adalah senyawa flavonoid. Senyawa flavonoid juga memiliki beberapa aktivitas
farmakologis antara lain sebagai antiinflamasi, hepatoprotektif, antikanker,
antibakteri, vasodilator dan antivirus. Kandungan flavonoid total pada rimpang
jahe lebih tinggi dibandingkan dengan rimpang lainnya (lengkuas, pala, dan
kencur)
PENENTUAN KADAR FENOL TOTAL PADA EKSTRAK DAUN TANAMAN MENGGUNAKAN METODE SPEKTROSKOPI NIR DAN KEMOMETRIK
Senyawa fenol merupakan senyawa yang memiliki satu atau lebih cincin aromatik dengan satu atau lebih gugus hidroksi
Pengaruh Konsentrasi Minyak Sereh Wangi (Cymbopogon nardus L.) Terhadap Kualitas Sediaan Creambath dan Uji Aktivitas Antijamur Candida albicans
Padatnya kegiatan setiap individu menyebabkan banyak masalah pada
rambut, salah satunya adalah masalah ketombe. Penyebab munculnya ketombe
dapat disebabkan sekresi kelenjar keringat yang berlebihan atau adanya
mikroorganisme di kulit kepala yang menghasilkan metabolit sehingga
menginduksi terbentuknya ketombe di kulit kepala (Harahap, 1990).
Menurut Sharma (2016) ketombe pada rambut sebagian besar disebabkan
oleh Candida albicans dan Malassezia fulfur. Penelitian lain menyebutkan, pada
50 orang berketombe ditemukan 4 jamur berbeda yang paling dominan adalah
Candida albicans sebesar 50%, Aspergillus niger sebesar 24%, Cryptococcus spp
sebesar 16% dan penicillum spp sebesar 10% (Roselin, 2015). Untuk menghindari
munculnya ketombe yang disebabkan oleh jamur Candida albicans maka
diperlukannya perawatan terhadap kulit kepala dan rambut.
Salah satu tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai antijamur Candida
albians pada kulit kepala adalah sereh wangi (Cymbopogon nardus L.).
Digunakan minyak sereh wangi karena mengandung sitronelal yang dapat
menghambat pertumbuhan Candida albicans. Minyak sereh wangi diformulasikan
dalam bentuk sediaan creambath berbentuk krim dengan basis vanishing cream.
Minyak sereh wangi memiliki potensi sebagai sediaan creambath yang dapat
merawat rambut dan menghambat pertumbuhan jamur penyebab ketombe.
Jenis penelitian yang dilakukan adalah ekperimental laboratoik. Minyak
sereh wangi yang dihasilkan dari proses destilasi uap di uji organoleptis, indeks
bias, berat jenis dan kandungan sitronelal. Selanjutnya minyak sereh wangi
diformulasikan menjadi sediaan creambath. Sediaan creambath dibuat dengan
konsentrasi minyak sereh wangi sebesar F1 (1%), F2 (2%), F3 (3%), F4 (4%) dan
F5 (5%) untuk uji Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dan konsentrasi minyak
sereh wangi F1 (5%), F2 (10%), dan F3 (15%) untuk uji aktivitas antijamur serta
uji sifat fisika kimia sediaan creambath yang meliputi uji organoleptis, pH,
viskositas, daya sebar, tipe emulsi dan homogenitas. Digunakan kontrol negatif
yaitu basis krim tanpa minyak sereh wangi (F0) dan kontrol positif yaitu
creambath yang beredar di pasaran. Data organoleptis, tipe emulsi, homogenitas
dan KHM dianalisis secara deskriptif. Data viskositas, pH, daya sebar dan uji
aktivitas antijamur dianalisis secara statistik dengan metode Oneway ANOVA
untuk mengetahui perbedaan bermakna antar kelompok.
Minyak sereh wangi yang dihasilkan memiliki kualitas minyak yang baik,
ditunjukkan dengan memenuhi rentang dalam pengujian organoleptis, indeks bias,
berat jenis dan kandungan sitronelal. Sedangkan pada hasil pengujian organoleptis
sediaan creambath menunjukkan bahwa konsentrasi minyak sereh wangi dapat
mempengaruhi warna, bau, dan bentuk sediaan. Hasil pengujian homogenitas
bahwa semua formula memiliki homogenitas yang baik ditandai dengan tidak
adanya gumpalan-gumpalan. Hasil pengujian tipe emulsi menunjukkan semua
formula merupakan krim dengan tipe minyak dalam air yang ditunjukkan sediaan
dapat bercampur merata dengan reagen metilen biru. Hasil uji Oneway ANOVA
menunjukkan perbedaan yang signifikan pada pH, viskositas dan daya sebar
antara F0, F1, F2 dan F3.
Pengujian KHM dilakukan menggunakan metode pengenceran agar. Pada
uji KHM didapatkan hasil nilai KHM minyak sereh wangi sebesar 0,4% dalam
formulasi sediaan creambath minyak sereh wangi konsentrasi 4%. Pada pengujian
aktivitas antijamur digunakan metode sumuran. Hasil uji Kruskal-Wallis
menunjukkan perbedaan signifikan pada aktivitas antijamur F0, F1, F2, F3 dan
kontrol positif. Pengukuran diameter hambat menunjukkan peningkatan
konsentrasi minyak sereh wangi dapat meningkatan aktivitas antijamur, diameter
hambat F0 < F1 < F2 < kontrol positif < F3. Hasil uji perbandingan aktivitas
antijamur sediaan creambath minyak sereh wangi dengan kontrol positif
menyatakan F0, F1 dan F2 memiliki aktivitas lebih kecil dibandingkan kontrol
positif sedangkan F3 memiliki aktivitas antijamur lebih besar dibandingkan
kontrol positi
PENENTUAN KADAR ALKALOID PADA EKSTRAK DAUN TANAMAN MENGGUNAKAN METODE NIR DAN KEMOMETRIK
Alkaloid adalah senyawa metabolit sekunder terbanyak yang memiliki atom nitrogen, yang ditemukan dalam jaringan tumbuhan dan hewan. Sebagian besar senyawa alkaloid bersumber dari tumbuh-tumbuhan. Alkaloid dapat ditemukan pada berbagai bagian tanaman, seperti bunga, biji, daun, ranting, akar dan kulit batang. Alkaloid memiliki efek farmakologi yang kuat pada sistem mamalia serta organisme lain sehingga alkaloid mempunyai efek terapi yang penting. Atropin, morfin, kuinin dan vinkristin merupakan contoh alkaloid yang memiliki efek terapi seperti sebagai antimalaria dan kanker. Oleh karena itu penentuan jumlah alkaloid sangat penting terkait dengan kualitas tanaman obat. Pada penelitian ini dilakukan penetapan kadar alkaloid pada ekstrak daun tanaman menggunakan metode sprektoskopi infra merah dekat dan kemometrik. Hasil nilai kadar dari analisis secara kuantitatif yang didapatkan akan dibandingkan dengan hasil nilai kadar pada analisis menggunakan spektofotometri UV-Vis sebagai pembanding
Penetapan kadar dengan metode spektroskopi inframerah dekat dan kemometrik ini memerlukan suatu analisis data multivariat (kemometrik) untuk mengekstrak informasi spektrum yang diperlukan dari spektrum inframerah dan menggunakan informasi spektrum tersebut untuk aplikasi kualitatif dan kuantitatif dengan menggunakan perangkat lunak The Unscrambler X 10.2. Teknik yang digunakan dari metode kemometrik untuk pembuatan model kalibrasi (analisis kuantitatif) dan model klasifikasi (analisis kualitatif) dalam penelitian ini masing-masing adalah Partial Least Square (PLS) dan Linear Discriminant Analysis (LDA), Support Vector Machines (SVM) dan Soft Independent Modelling of Class Analogies (SIMCA). Penetapan kadar ini kemudian divalidasi dengan metode validasi silang (cross validation) Leave-One-Out dan 2-Fold-Cross-Validation untuk menguji validitas model regresi.
Metode pembanding yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode spektrofotometri UV-Vis dengan prinsip kolorimetri menggunakan larutan BCG dan dapar fosfat pH 4,7 dengan standar kafein. Berdasarkan hasil penelitian, model PLS dengan spektroskopi NIR memberikan hasil terbaik dengan nilai R2 kalibrasi sebesar 0,9941739; R2 validasi sebesar 0,9937574; RMSEC sebesar 1,8891197 dan RMSECV sebesar 1,95626. Validasi model juga memberikan nilai yang baik dengan R2 LOOCV sebesar 0,9957413 dan R2 2-Fold-Cross-Validation sebesar 0,9885431. Model klasifikasi LDA dan SVM yang digunakan pada pengkategorian antara matriks dengan sampel yang mengandung alkaloid memiliki akurasi sebesar 100%. Sedangkan pada model SIMCA pengkatagorian antara matriks dengan sampel yang mengandung alkaloid memiliki akurasi 87% yang menunjukkan bahwa model SIMCA belum bisa mengelompokkan kategori sampel dengan benar.
Model PLS dan LDA dengan spektroskopi NIR yang telah terbentuk dan tervalidasi kemudian diterapkan pada sampel nyata sehingga diperoleh kadar alkaloid dalam sampel nyata. Kadar alkaloid pada sampel nyata yang diperoleh dari spektroskopi inframerah dekat sebesar 22,1960 mg CE/g ekstrak untuk kapsul Stimuno dan 5,5820 mg CE/g untuk kapsul Daun salam. Hasil analisis ini kemudian dibandingkan dengan kadar yang diperoleh dari metode spektrofotometri UV-Vis. Hasil penetapan kadar sampel yang diperoleh dari dua metode berbeda ini kemudian diuji dengan Uji T Dua Sampel Berpasangan dan dapat ditarik kesimpulan bahwa kadar yang diperoleh tidak memiliki perbedaan yang bermakna dengan nilai signifikansi 0,479, sedangkan pengkategorian sampel nyata dengan model LDA memberikan % kemampuan prediksi sebesar 100%
Penentuan Kandungan Fenolik Total Serbuk Rimpang Kunyit Curcuma Longa L. Beda Ketinggian Dan Model Klasifikasi Menggunakan Nir Kemometrik
Curcuma longa L., atau kunyit adalah ramuan herbal dengan famili
Zingiberaceae. Bagian rimpang kunyit dari tanaman kunyit banyak dimanfaatkan
untuk kesehatan. Rimpang kunyit terbukti memilki metabolit sekunder senyawa
fenolik. Metabolit sekunder dalam rimpang kunyit yaitu senyawa fenol,
membuktikan rimpang kunyit memilki efek sebagai aktivitas antioksidan.
Antioksidan adalah senyawa bioaktif yang berperan penting untuk yang mencegah
kerusakan sel oksidatif yang bertindak sebagai radikal bebas. Senyawa fenolik
adalah salah satu jenis antioksidan paling efektif yang ada pada tanaman
Pengaruh Konsentrasi Minyak Sereh Wangi (Cymbopogon nardus (L.) Rendle) terhadap Kualitas Sampo dan Uji Aktivitas Antijamur Candida albicans
Ketombe adalah keadaan di mana terjadi pengelupasan lapisan tanduk
secara berlebih pada kulit kepala dan membentuk sisik-sisik yang halus (Malonda
dkk., 2017) .Ketombe muncul berupa rasa gatal yang disebabkan oleh infeksi
jamur dengan skuam berwarna putih abu-abu dalam jumlah banyak yang dapat
mengakibatkan berkurangnya kenyamanan dalam beraktivitas (Budiman dkk.,
2015). Jamur Candida albicans merupakan jamur yang dapat menyebabkan
ketombe sebesar 50%, diikuti dengan 24% Aspergillus niger, 16% Cryptococcus
spp dan 10% Penicillum spp. dibuktikan dengan adanya penelitian yang dilakukan
oleh Roselin, (2015) pada sampel ketombe yang diambil dari 50 relawan dengan
rentang usia mulai dari 18 tahun hingga 25 tahun dan diketahui bahwa Candida
albicans merupakan jamur utama penyebab ketombe.
Ketombe dapat diobati dengan sampo antiketombe, namun penggunaan
zat antiketombe kimia dalam sampo dapat menyebabkan beberapa efek samping.
Untuk mengatasi hal tersebut dibutuhkan agen antiketombe alam seperti minyak
atsiri yang diambil dari tanaman sereh wangi (Cymbopogon nardus (L.) Rendle)
yang kemudian diformulasikan menjadi sampo antiketombe. Digunakan minyak
sereh wangi karena mengandung sitronelal yang mempunyai aktivitas antijamur
terhadap Candida albicans. Minyak sereh wangi diambil menggunakan metode
destilasi uap, untuk menentukan kualitas minyak sereh wangi hasil destilasi maka
dilakukan beberapa pengujian diantaranya yaitu indeks bias, bobot jenis dan
kandungan sitronelal minyak. Dilakukan pengujian KHM (Konsentrasi Hambat
Minimum) sampo untuk mengetahui konsentrasi terendah dari sampo yang masih
dapat menghambat pertumbuhan Candida albucans.
Jenis penelitian yang dilakukan adalah true experimental laboratories.
Pada uji KHM dilakukan dengan metode difusi sumuran, digunakan sampo
dengan konsentrasi minyak 1%, 2%, 3%, 4% dan 5%, kontrol negatif yaitu basis
sampo tanpa minyak sereh wangi (F0) dan sampel antiketombe yaitu sampo
antiketombe yang beredar di pasaran. Didapatkan KHM sampo terhadap Candida
albicans yaitu sebesar sampo dengan konsentrasi minyak 2%. Kemudian dibuat
sampo dengan konsentrasi minyak sereh sebesar 4% (F1), 6% (F2), dan 8% (F3)
untuk uji aktivitas antijamur serta uji sifat fisika kimia sampo yang meliputi uji
organoleptis, pH, viskositas, dan tinggi busa. Data organoleptis dan KHM
dianalisis secara deskriptif. Data viskositas, tinggi busa dan pH dianalisis secara
statistik dengan metode Oneway ANOVA untuk mengetahui perbedaan bermakna
antar kelompok.
Hasil pengujian organoleptis menunjukkan bahwa konsentrasi minyak
sereh wangi dapat mempengaruhi warna, bau, dan bentuk sampo. Pada uji
viskositas, pH dan tinggi busa diketahui bahwa semakin besar konsentrasi minyak
sereh wangi maka semakin rendah viskositas, pH dan tinggi busa sediaan sampo.
Uji aktivitas antijamur sampo menunjukkan bahwa semakin besar konsentrasi
minyak sereh wangi dalam sampo maka semakin besar pula aktivitas antijamur
yang dihasilkan. Diameter hambat sampo F0 < F1 < F2 < F3. Hasil uji Oneway
ANOVA menunjukkan perbedaan yang signifikan pada data viskositas, pH, dan
tinggi busa antara F0, F1, F2 dan F3. Hasil uji Oneway ANOVA menunjukkan
adanya perbedaan bermakna pada aktivitas antijamur semua sampo yang meliputi
F0, F1, F2, F3 dan sampo sampel (S)
Penentuan Aktivitas Antioksidan Dan Antidiabetes Ekstrak Daun Ndok-Ndokan (Xanthophyllum Vitellinum)
Stres oksidatif adalah suatu keadaan dimana terjadi ketidakseimbangan antara jumlah radikal bebas dengan antioksidan. Produksi radikal bebas atau ROS yang melebihi kemampuan antioksidan intraseluler untuk menetralkannya berpotensi menyebabkan kerusakan sel pada perkembangan beberapa penyakit salah satunya diabetes melitus. Diabetes melitus (DM) adalah salah satu penyakit tidak menular yang menjadi perhatian secara global. Di Indonesia sendiri, penderita DM mencapai 10,3 juta jiwa dan diperkirakan pada tahun 2045 meningkat hingga 16,7 juta jiwa
Penentuan Kadar Fenolik Total pada Serbuk Daun Tanaman Obat menggunakan Metode FTIR-Kemometri
Daun merupakan bagian dari tanaman yang sering digunakan sebagai bahan obat tradisional, karena daun adalah bagian tanaman yang sering di jumpai, selalu tersedia, pengambilan dan pemanfaatannya mudah dan sederhana. Di dalam daun terdapat salah satu golongan senyawa metabolit sekunder yaitu senyawa fenolik. Senyawa fenolik adalah senyawa yang memiliki satu atau lebih gugus hidroksil yang menempel pada cincin aromatik. Metode yang digunakan dalam penentuan kadar fenolik total adalah spektrofotometri FTIR dan spektrofotometri UV-Vis yang digunakan sebagai pembanding, terdapat 25 sampel dan 5 sampel nyata yang digunakan dalam penelitian ini.
Spektrofotometri FTIR yang terpilih karena dapat mengukur secara cepat dan serentak dan mampu menganalisis beberapa komponen secara serentak. Spektra yang dihasilkan dari FTIR cukup kompleks sehingga membutuhkan analisis multivariat yaitu kemometrik dengan analisis multivuriat yang digunakan adalah PLS (Partial Least Square), PCR (Principal Compunent Regression), dan SVR (Support Vector Machines Regression). Metode pembanding yang digunakan adalah Spektrofotometri UV-Vis, menggunakan reagen Folin- Ciocalteau dan Na2CO3 serta standar yang dipakai adalah asam galat.
Data yang diperoleh dari FTIR yang digunakan untuk membentuk model kalibrasi, dihasilkan model kalibrasi terpilih yaitu PCR dengan nilai R2 0,9918885 dan nilai RMSE sebesar 0,8675906. Model yang telah terbentuk divalidasi dengan LOOCV (Leave One Out Cross Validation) dan 2-Fold Cross Validation, hasil dari validasi LOOCV memiliki nilai R2 ≥0,91 dan 2-Fold Cross Validation memiliki nilaiR2 sebesar 0,9887363.
Model yang telah terpilih yaitu PCR akan diterapkan pada sampel nyata, untuk sampel nyata yang digunakan adalah daun kelor, daun sirih, daun sambiloto, daun sirsak dan jati belanda. Kadar fenolik yang dihasilkan dari sampel nyata sebesar 25,15 mg GAE/g, 39,26 mg GAE/g, 21,74 mg GAE/g, 40,49 mg GAE/g, 16,03 mg GAE/g. Perbandingan antara FTIR dengan Spektrofotometer UV-Vis menggunakan analisis SPSS yaitu Uji T-Test Paired untuk mengetahui ada tidak nya perbedaan secara signifikan, hasil yang diperoleh dengan nilai Sig. >0,05 yaitu 0,264, sehingga penelitian ini dapat menyimpulkan bahwa hasilnya tidak berbeda secara signifikan
- …
