1 research outputs found
STUDI TENTANG MOTIF KHAS BATIK PAPUA
ABSTRAK Wahdiyanti, Widia. 2015. Studi tentang Motif Khas Batik Papua. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Sri Eko Puji Rahayu, M.Si., (2) Dra. Hapsari Kusumawardani, M.Pd. Kata kunci: Motif Khas, Makna Motif, Batik Papua Kebudayaan di Papua sangat beragam, karena Papua memiliki beragam suku, namun keberagaman budaya asli Papua saat ini terancam punah karena belum terdokumentasi dengan baik. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan Papua adalah dengan melestarikan motif batik. Motif Batik Papua sangat unik dan khas karena terinspirasi dari tradisi, kebudayaan, dan keadaan alam Papua. Banyaknya ragam motif batik yang ada di berbagai daerah di Indonesia merupakan kebudayaan yang sangat luar biasa. Oleh sebab itu, seluruh masyarakat Indonesia wajib melestarikan aset tersebut, agar tidak diakui oleh pihak lain. Penelitian ini berfokus pada: (1) Motif Khas Batik Papua; (2) Makna dari Motif Khas Batik Papua. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Metode penelitian yang digunakan adalah Triangulasi Sumber Data dan Triangulasi Teknik. Berdasarkan temuan peneliti di lapangan diperoleh data: (1) Batik Papua memiliki 10 motif khas yaitu, (a) motif Burung Cendrawasih, (b) motif Tifa, (c) motif Rumah Honai, (d) motif Panah, (e) motif Tombak, (f) motif Patung, (g) motif Tameng, (h) motif Bumerang, (i) motif Koteka, dan (j) motif Kapak Batu; (2) makna perlambang dari motif khas Batik Papua adalah: (a) motif Burung Cendrawasih merupakan maskot utama dari Papua, (b) motif Tifa bermakna mengenalkan salah satu alat musik tradisional Papua, (c) motif Rumah Honai menggambarkan rumah adat Papua, (d) motif Panah bermakna mengenalkan salah satu senjata tradisional khas Papua, (e) motif Tombak merupakan lambang tradisi orang Papua dalam segi sistem matapencaharian, (f) motif Patung melambangkan tradisi orang Papua dalam berkesenian, (g) motif Tameng menggambarkan salah satu senjata tradisional khas Papua, (h) motif Bumerang bermakna mengenalkan salah satu senjata tradisional Papua yang sudah hampir punah, (i) motif Koteka bermakna mengenalkan pakaian adat Papua, (j) motif Kapak Batu bermakna untuk mengenalkan alat tradisional khas Papua. Batik Papua yang ada dipasaran saat ini adalah batik yang di produksi secara massal untuk kebutuhan komersial, diproduksi di luar Papua, dan dibuat bukan oleh orang Papua. Penamaan Batik Papua secara umum terfokus pada motif-motif umum yang telah terkenal dan merupakan ikon Papua. Konsumen batik cenderung menilai batik hanya dari sisi estetika tanpa memahami lebih jauh kajian yang terkandung dalam estetika itu sendiri. Secara kasat mata, batik tidak kehilangan eksistensinya, namun makna yang terkandung dalam setiap corak kain batik mulai terlupakan. Hal tersebut dikhawatirkan akan menyebabkan terjadinya pergeseran makna dan nilai yang terkandung dalam batik yang mengangkat kearifan lokal di Papua. Saran yang dapat peneliti kemukakan adalah: (1) peran aktif semua elemen masyarakat, lembaga seni dan budaya serta, pihak pemerintah daerah untuk terus mendorong generasi muda Papua dalam berkarya dan mengeksplorasi kearifan lokal mereka pada sehelai kain batik, juga agar mendokumentasikan data-data penting yang dimiliki, guna dijadikan sebuah bukti tertulis bahwa Batik Papua memiliki karya klasik yang dapat membanggakan wilayah Papua, dan juga untuk memudahkan berbagai kajian mengenai Batik Papua selanjutnya. (2) Pemerintah perlu mengeluarkan regulasi yang kemudian menjadi patokan dan pembeda ragam hias batik yang lahir berdasarkan wilayah budaya dan sub kebudayaan di Papua. (3) Harapan lain adalah pembatik juga harus mampu meningkatkan kualitas produk batik dan tetap mengenali karakteristik serta kebutuhan pasar saat ini
