107 research outputs found
EFEK PAPARAN LISTRIK TERHADAP HISTOPATOLOGI PEMBULUH DARAH TIKUS BERDASAR JARAK LUKA KELUAR PADA CEDERA LISTRIK
Sumber energi listrik yang mengalami kontak dengan tubuh manusia akan menyebabkan cedera listrik (electric injury) yang beresiko pada kematian. Lompatan arus yang terjadi akibat beda potensial juga dapat menimbulkan luka keluar selain pada luka di daerah kontak. Paparan arus listrik tersebut dapat berkonversi menjadi energi panas dan menyebabkan destruksi jaringan, khususnya pada pembuluh darah yang merupakan konduktor arus listrik terbaik. Jejas endotel yang terjadi secara masif akibat paparan listrik mudah mengalami nekrosis koagulasi, menyebabkan trombus yang muncul secara progresif di sekitar luka keluar dan penyumbatan aliran darah lokal yang berujung pada amputasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui derajat terjadinya trombus pada luka keluar dan menentukan waktu yang efektif untuk memberikan terapi trombolisis serta perlunya amputasi pada pembuluh darah yang mengalami nekrosis pada luka keluar. Sebanyak 25 ekor tikus Wistar dibagi menjadi lima kelompok: kelompok kontrol yang diterminasi pada hari ke-0 tanpa perlakuan dan kelompok yang diberi paparan listrik 140V selama 20 detik (tepat pada jaringan kulit di atas arteri Saphena) yang diterminasi pada hari ke-0, hari ke-3, hari ke-7, dan hari ke-10. Arteri Saphena dari 25 tikus dipotong sepanjang 0 cm, 1 cm, dan 2 cm dari luka keluar. Trombus yang terbentuk secara histopatologi diamati menggunakan mikroskop cahaya dan dihitung berdasar skor kerusakan pembuluh darah.
Sampel penelitian ini merupakan tikus galur Wistar jantan sebanyak 25 ekor dengan berat badan 250-300 gram. Tikus tersebut dibagi menjadi lima kelompok, antara lain kelompok kontrol (K1), kelompok K2, kelompok K3, kelompok K4, dan kelompok K5. Setiap kelompok tikus, kecuali kelompok kontrol, mendapatkan perlakuan yang sama, yaitu paparan listrik 140 V selama 17 detik yang diinduksikan melalui elektroda kuningan di ekstermitas inferior sinistra (sebagai luka keluar) dan ekstremitas inferior dextra (sebagai luka masuk). Seluruh kelompok tersebut diadaptasi selama 7 hari dan dibedakan melalui waktu terminasi. Kelompok K1 merupakan kelompok tikus kontrol yang tidak mendapatkan perlakuan apapun dan langsung diterminasi setelah diadaptasi selama 7 hari; kelompok K2 merupakan tikus yang diterminasi pada hari ke-0 pasca paparan listrik; kelompok K3 merupakan tikus yang diterminasi 3 hari setelah diberi paparan listrik; kelompok K4 merupakan tikus yang diterminasi 7 hari setelah diberi paparan listrik; dan kelompok K5 merupakan tikus yang diterminasi 10 hari setelah diberi paparan listrik.
Pengamatan histopatologi trombus pada arteri Saphena diamati dan diukur luasnya menggunakan mikroskop cahaya „Olympus bx53t‟ dengan perbesaran 400 kali. Data kemudian diolah menggunakan aplikasi pengolah data statistik SPSS 16.00. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa terdapat perubahan gambaran histopatologis berupa bentukan trombus yang mulai tampak pada hari ke-0 di titik 1 cm dan 2 cm. Trombus di titik 1 cm dan 2 cm tersebut mengalami penyempitan secara berturut-turut pada hari ke-3, hari ke-7, dan hari ke-10. Trombus di titik 0 cm tidak ditemukan pada pengamatan hari ke-0 dan mulai tampak pada hari ke-3. Trombus tersebut mengalami penyempitan berturut-turut pada hari ke-7 dan hari ke-10. Hasil pengolahan data pada uji Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada data hari ke-0, ke-3, ke-7, dan ke-10; namun terdapat perbedaan yang signifikan pada data titik 0 cm, 1 cm, dan 2 cm dari luka keluar. Uji lanjutan Mann Whitney menunjukkan bahwa perbedaan median yang signifikan terdapat antara trombus di titik 0 cm dengan 1 cm; serta antara titik 0 cm dengan 2 cm. Hasil penelitian disimpulkan bahwa terdapat perubahan gambaran histopatologi pembuluh darah yang signifikan di titik 0 cm, 1 cm, dan 2 cm
ANALISIS HISTOPATOLOGI PEMBULUH DARAH TIKUS BERDASARKAN JARAK LUKA MASUK PASCA PAPARAN LISTRIK
Electric injury atau cedera akibat sengatan listrik merupakan suatu
kerusakan pada jaringan atau organ tubuh akibat adanya aliran arus listrik yang
melewati tubuh (Zidni, 2010). Fenomena electric injury ini relatif jarang terjadi.
Meskipun kasus ini jarang terjadi, namun angka morbiditas dan mortalitas dari
kejadian ini sangat tinggi (Karimi et al., 2015).
Pembuluh darah merupakan salah satu organ yang mengalami kerusakan
ketika terjadi electric injury. Kerusakan yang terjadi pada pembuluh darah salah
satunya berupa trombus yang dapat mengganggu sirkulasi. Untuk mengatasi hal
tersebut, banyak sekali cara yang digunakan sebagai penatalaksanaan electric
injury, seperti penggunaan trombolitik, debridement, microvascular surgery, dan
sebagainya (Fish, 2000; Moenadjat, 2009; Aghakhani et al., 2014; Daley, 2017).
Pada teknik microvascular surgery, dibutuhkan kepastian keadaan pembuluh
darah yang bebas dari trombus. Berdasarkan fakta tersebut, dibutuhkan suatu
penelitian untuk mengetahui kejadian trombus di berbagai titik pada pembuluh
darah dari luka masuk, sehingga tatalaksana electric injury diharapkan lebih baik
dari sebelumnya. Oleh karena itu, peneliti ingin meneliti tentang analisis
histopatologi pembuluh darah tikus berdasarkan jarak luka masuk pasca paparan
listrik. Tujuan umum dari penelitian ini adalah menganalisis histopatologi
pembuluh darah tikus berdasarkan jarak luka masuk pasca paparan listrik.
Hipotesis dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan gambaran histopatologi
pembuluh darah arteri saphena dekstra, khususnya trombus yang signifikan pasca
paparan listrik berdasarkan jarak luka masuk di hari ke-0, ke-3, ke-7, dan ke-10.
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimental sebenarnya
(true experimental laboratories) dengan rancangan penelitian post test only
control group design. Penelitian ini menggunakan sampel tikus galur Wistar dengan jumlah 25 ekor. 25 ekor tikus tersebut dibagi menjadi lima kelompok yang
terdiri dari kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Masing-masing kelompok
berisi lima ekor tikus. Perlakuan yang diberikan berupa paparan listrik sebesar
140 V selama 17 detik. Kelompok perlakuan kemudian dibedakan berdasakan hari
terminasi tikus. Kelompok kontrol merupakan kelompok yang tidak diberi
paparan listrik, kelompok H0 diterminasi pada hari ke-0 pasca paparan listrik,
kelompok H3 diterminasi pada hari ke-3 pasca paparan listrik, kelompok H7
diterminasi pada hari ke-7 pasca paparan listrik, kelompok H10 diterminasi pada
hari ke-10 pasca paparan listrik. Perlakuan dilakukan setelah semua tikus
diadaptasi selama tujuh hari.
Pada penelitian ini, histopatologi pembuluh darah yang diamati yaitu
persentase trombus terhadap lumen pembuluh darah arteri saphena dekstra pada 0
cm dari luka masuk, 1 cm dari luka masuk, dan 2 cm dari luka masuk. Persentase
dihitung dengan cara menghitung luas lumen trombus dibagi dengan luas lumen
pembuluh darah, kemudian dikalikan 100%. Alat hitung luas tersebut
menggunakan kamera mikroskop olympus bx53t pada perbesaran 400 kali. Hasil
penelitian kemudian diolah menggunakan apliaksi analisis data. Hipotesis
diterima apabila hasil analisis data menggunakan One Way Anova atau Kruskall
Wallis menghasilkan p<0.05.
Pada penelitian ini didapatkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang
signifikan pada gambaran histopatologi pembuluh darah, khususnya trombus
pasca paparan listrik berdasarkan jarak luka masuk di hari ke-0, ke-3, ke-7, dan
ke-10
POTENSI BUAH ALPUKAT DALAM MEMBERIKAN PROTEKSI TERHADAP KANKER DAN RADIKAL BEBAS PADA LANSIA DI INDONESIA
Berdasarkan tela’ah pustaka yang telah dilakukan maka disimpulkan :
1. Mekanisme asam amino glutamat, glisin, sistin dan metionin dalam buah alpukat sebagai antioksidan dalam memberikan proteksi terhadap kanker dan radikal bebas adalah melalui penyediaan substrat untuk sintesis glutation di dalam tubuh.
2. Mekanisme asam askorbat (vitamin C), beta karoten, vitamin E dan selenium dalam buah alpukat sebagai antioksidan dalam memberikan proteksi terhadap kanker dan radikal bebas melalui interaksi langsung dengan oksidan, melindungi lipid membran dari peroksidasi, melindungi LDL dan asam lemak tak jenuh ganda dari peristiwa oksidasi serta sebagai komponen antioksidan endogen
Hubungan Paparan Pestisida dengan Kejadian Kelainan Kongenital di Kabupaten Jember
Prevalensi kelainan kongenital di Indonesia adalah 59.3 per 1000 kelahiran hidup. Jika setiap tahun lahir 5 juta bayi di Indonesia, maka akan ada sekitar 295.000 kasus kelainan kongenital pertahun. Angka kematian bayi akibat kelainan kongenital sekitar 7% dimana ditemukan adanya peningkatan. Kelainan kongenital yang paling banyak ditemukan yakni talipes sebanyak 102 kasus (20,6%), celah bibir atau langit-langit dan defek tabung saraf masing-masing 99 kasus (20%), omfalokel 58 kasus (11,7%), dan gastroskisis 27 kasus (5,5%) dari total 494 kasus. Salah satu faktor penyebab kelainan kongenital ialah pestisida. Penggunaan pestisida untuk pertanian maupun keperluan rumah tangga dilaporkan meningkat dari tahun ke tahun, namun seringkali tidak diwaspadai mengenai penggunaannya.
Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan rancangan case control (kasus kontrol) dengan pendekatan epidemiologi secara retrospektif. Populasi penelitian adalah seluruh pasien anak-anak dengan diagnosis labioskisis, labiopalatoskisis, anensefalus, spina bifida, omfalokel dan gastroskisis di RS dr. Soebandi Jember dan RS Paru Jember dari Januari 2014 sampai Juli 2017. Teknik pengambilan sampel ini menggunakan consecutive sampling dengan total jumlah responden 62 keluarga yang terbagi menjadi kelompok kasus dan kelompok kontrol dalam perbandingan 1:1. Sumber data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Data primer didapatkan dari wawancara langsung kepada responden mengenai paparan pestisida pada orang tua pasien. Data sekunder didapatkan dari rekam medis pasien. Data tersebut dianalisis dengan menggunakan analisis chi square menggunakan SPSS 17.
Berdasarkan hasil penelitian, proporsi kejadian kelainan kongenital paling tinggi di Kabupaten Jember ialah labioskisis (67,8%). Uji statistik bivariat menunjukkan nilai signifikan (p< 0,05) untuk variabel sumber air minum,penggunaan produk anti-hama di rumah, pengasapan (fogging) nyamuk di rumah dan kontak langsung dengan pestisida dengan korelasi cukup (r= 0,25-0,5). Berbeda dengan variabel lain, penggunaan produk anti-hama memiliki korelasi negatif dengan kejadian kelainan kongenital
PERBANDINGAN RENTANG GERAK SENDI ANTARA SISI PANGGUL HEMIARTROPLASTI DENGAN KONTRALATERAL SEHAT PASCA OPERATIF DI JEMBER
Penanganan atau tindakan yang paling tepat untuk fraktur leher femur
terutama pada orang tua adalah hemiartroplasti. Metode ini sering dipilih karena
tindakan operasinya relatif singkat, mobilisasi pasien yang cepat, menurunkan
tingkat komplikasi, dan morbiditas. Menurut studi epidemologi singkat yang
dilakukan peneliti tingkat kejadian penanganan hemiatroplasti di Kabupaten
Jember cukup banyak. Akibat outcome yang ditimbulkan buruk menyebabkan
terganggunya ROM pasien yang dapat mengakibatkan penurunan mobilitas pada
pasien. Menurut penelitian yang dilakuan oleh Shekhar.A et. al. (2013)
menjelaskan bahwa perbedaan penanganan Austin moore hemiartroplasti pada
pasien fraktur leher femur tidak menunjukkan perbedaan hasil yang pasti hanya
outcome yang diperoleh berbeda berdasarkan waktu preoperatif, sedangkan hasil
Haris Hip Score yang dilakukan di Amerika menilai dari questioner dan range
of motion menunjukkan nilai 85-90 yang berarti membuktikan penyembuhan
fraktur hampir sempurna. Hasil yang mempengaruhi nilai tersebut adalah faktor
resiko seperti usia, rehabilitasi dan kepatuhan. Maka dari itu dilaksanakannya
penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan rentang gerak sendi antara
sisi panggul hemiartroplasti dengan kontralateral sehat pasca operatif di Jember.
Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan
cross-sectional. Teknik sampling yang digunakan adalah dengan cara total
sampling yaitu peneliti menggunakan populasi menjadi sampel. Sampel dalam
penelitian ini adalah pasien pasca operatif hemiartroplasti dalam data rekam
medis RSD dr Soebandi dan RS Bina Sehat Jember periode Januari 2014 - 2017.
Didapatkan sampel penelitian sebanyak 53 pasien hemiatroplasti dengan 30
pasien termasuk dalam kriteria inklusi yaitu pasien yang minimal pasca operatif
1 bulan dan 23 pasien masuk dalam kriteria eksklusi yaitu alamat tidak
ditemukan, pasien mengalami multiple fraktur, serta penyulit yang bukan akibat
dari tindakan operatif. Dari sampel tersebut akan diukur pergerakan sendi
panggul atau ROM kaki sehat dan kaki hemiartroplasti yang kemudian akan di
analisis menggunakan program analisis data SPSS 20. Pengukuran gerakan sendi
dilakukan dengan alat goniometri dan gerakan sendi yang akan diukur yaitu
fleksi, ekstensi, rotasi intera, rotasi ekstera, abduksi, dan adduksi. Analisis data
yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji komparasi statistik T-Test.
Berdasarkan analisis data yang dilakukan peneliti dengan melihat
perbedaan rentang gerak sendi kaki pasien antara sisi sehat dengan sisi artroplasti
menunjukkan hasil bahwa sebagian besar sendi memiliki p < 0.05 dengan HO
ditolak dan Ha diterima yang berarti perbedaan rentang gerak sendi antara sisi
panggul hemiartroplasti dengan kontralateral sehat pasca operatif di Jember
tidak berbeda secara bermakna pada sendi ekstensi, rotasi eksterna, rotasi
interna, dan abduksi dan degan kesembuhan yang baik.
Tingkat kesembuhan dari hasil yang didapat oleh peneliti menunjukkan
hasil yang bagus dan gerakan sendi yang memiliki peran paling besar yaitu
gerakan fleksi dengan rata - rata sebesar 102,47o dengan tingkat kesembuhan
91.6% yang dapat dikatakan sangat baik. Di susul dengan rata - rata gerakan
adduksi sebesar 23,07° yang memiliki persentasi kesembuhan yang baik dengan
hasil 86.3%. Gerakan sendi rotasi eksterna didapatkan rata – rata sebesar 31,10°
yang bermakna kesembuhan yang baik. Gerakan sendi abduksi didapatkan rata
– rata sebesar 34,27° yang bermakna kesembuhan yang baik. Gerakan sendi
rotasi interna didapatkan rata – rata sebesar 21,30° yang bermakna kesembuhan
yang cukup baik. Sedangkan gerakan sendi ekstensi didapatkan rata – rata
sebesar 13,50° yang bermakna kesembuhan yang cukup baik.
Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan didapatkan tindakan
operatif hemiartroplasti di Jember menunjukkan hasil yang baik. Rentang gerak
sendi antara sisi panggul hemiartroplasti dengan kontralateral sehat pasca
operatif di Jember tidak terdapat perbedaan yang bermakna. Pergerakan sendi
panggul pasien hemiartroplasti pada gerakan fleksi dan adduksi menunjukkan
nilai ROM yang lebih baik dari pada pergerakan sendi panggul lain seperti
ekstensi, rotasi interna, rotasi eksterna dan abduksi
Pengaruh Paparan Kebisingan Kronis Terhadap Kadar Glukosa Darah Pada Pekerja Pemotongan Kayu Di Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember
Kebisingan merupakan salah satu permasalahan yang terjadi pada para
pekerja. Sekitar 80% kebisingan bersumber dari penggunaan mesin pada aktivitas
industri. Dampak negatif kesehatan yang ditimbulkan akibat kebisingan dibagi
menjadi dua, yaitu dampak auditori dan nonauditori. Kebisingan dapat merusak selsel sensori pendengaran di koklea yang menimbulkan terjadinya Noise Induced
Hearing Loss (NIHL). Kebisingan juga dapat meningkatkan kadar glukosa darah.
Kebisingan sebagai stressor dapat menstimulasi saraf simpatis dan mengaktivasi
hipotalamus pituitari adrenal (HPA) serta meningkatkan hormon stres, yaitu
kortisol. Peningkatan kortisol ini dapat meningkatkan pembentukan glukosa
melalui proses glukoneogenesis.
Penelitian ini bersifat analitik observasional dengan desain studi cross
sectional. Penelitian dilakukan pada pekerja pemotongan kayu di Kecamatan
Arjasa, Kabupaten Jember pada bulan Desember 2018-Januari 2019. Sampel
penelitian ditentukan menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria
inklusi: (1) diizinkan oleh pemilik usaha dagang untuk menjadi responden, (2)
bersedia menjadi responden dengan menandatangani lembar inform consent, (3)
berjenis kelamin laki-laki dalam keadaan sehat, (4) mempunyai masa kerja ≥ 1
tahun, (5) berusia 18-45 tahun, (6) memiliki Body Mass Index (BMI) normal, yaitu
18,5 – 24,9 kg/m2
, (7) bekerja pada shift pagi, (8) pekerja tidak terpapar matahari
secara langsung, (9) memiliki pola makan yang sesuai dengan angka kecukupan
energi; dan kriteria eksklusi: (1) mengkonsumsi alkohol dalam kurun waktu satu
bulan terakhir, (2) memiliki riwayat diabetes melitus, (3) memiliki riwayat keluarga
diabetes melitus, (4) memiliki riwayat penyakit jantung, (5) memiliki riwayat
hipertensi, (6) memiliki riwayat pankreatitis. Pengukuran intensitas kebisingan menggunakan alat V&A VA8080 sound level meter dan pengukuran glukosa darah
menggunakan alat blood glucose meter merk On Call Plus. Analisis data
menggunakan uji Statistical Package for Social Science (SPSS). Uji normalitas data
menggunakan Shapiro-Wilk dan uji komparasi menggunakan independent t test
dengan nilai p < 0,05.
Penelitian ini memperoleh sampel sebanyak 34 orang. Sebagian besar
responden berusia 25-39 tahun (79,4%) dan bekerja selama lebih dari 2 tahun
sejumlah 58,8%. Intensitas kebisingan pada usaha dagang pengolahan kayu
melebihi nilai ambang batas kebisingan yaitu 97,5 dB(A). Sebagian besar
responden memiliki pola makan dengan asupan energi dalam kriteria kurang
(91,3%). Rerata kadar glukosa darah puasa pada kelompok bising (106 mg/dl) lebih
tinggi daripada kelompok tidak bising (73 mg/dl). Hasil analisis data independent t
test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rerata kadar glukosa darah puasa yang
bermakna antara kelompok yang terpapar bising dan kelompok yang tidak bising
(p=0,000). Berdasarkan hasil tersebut, disimpulkan bahwa terdapat pengaruh
paparan kebisingan kronis terhadap kadar glukosa darah pada pekerja pemotongan
kayu di Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember
EFEK KOMBINASI ERITROMISIN DAN N-ASETILSISTEIN TERHADAP PERTUMBUHAN Streptococcus pneumoniae SECARA IN VITRO
Pneumonia merupakan penyakit infeksi saluran pernafasan yang morbiditasnya masih tinggi di Indonesia. Etiologi pneumonia yang paling sering adalah akibat infeksi bakteri Streptococcus pneumoniae. Penatalaksanaan pneumonia akibat infeksi bakteri adalah dengan pemberian antibiotik. Salah satu antibiotik yang menjadi drug of choice pneumonia adalah eritromisin. Tidak jarang pemberian antibiotik dikombinasikan dengan terapi simptomatis berupa N-asetilsistein, suatu agen mukolitik dan antioksidan. Telah ada beberapa penelitian terdahulu yang meneliti tentang penggunaan kombinasi antibiotik dan antioksidan dalam menghambat pertumbuhan bakteri. Hasil penelitian tersebut ada yang mengatakan N-asetilsistein meningkatkan aktivitas antibakteri antibiotik dan ada pula yang menurunkan aktivitas antibakteri antibiotik terhadap bakteri patogen. Pro dan kontra inilah yang mendasari penelitian ini. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini untuk mengetahui efek kombinasi eritromisin dan N-asetilsistein terhadap pertumbuhan Streptococcus pneumoniae secara in vitro dan menentukan konsentrasi terkecil dari N-asetilsistein dalam kombinasinya dengan eritromisin yang mampu menurunkan aktivitas antibakteri antibiotik eritromisin dalam menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus pneumoniae
Penelitian ini merupakan jenis penelitian quasi eksperimental dengan satu kelompok kontrol negatif, satu kelompok kontrol positif, dan lima kelompok perlakuan. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi FK UNEJ. Waktu yang dibutuhkan untuk penelitian ini adalah sekitar 1,5 bulan. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah isolat bakteri Streptococcus pneumonia. Dilakukan penelitian berupa uji sensitivitas kombinasi eritromisin dan N asetilsistein menggunakan metode disk diffusion. Larutan kombinasi/campuran obat diteteskan pada cakram kertas dan terbagi dalam 7 kelompok. Kelompok kontrol positif adalah cakram kertas yang hanya berisi eritromisin 15μg/5μl, kelompok kontrol negatif berisi aquades, dan kelompok perlakuan diberi kombinasi eritromisin dan N-asetilsistein dengan konsentrasi N-asetilsistein yang bertingkat yaitu 1,25 mg/ml; 2,5 mg.ml; 5 mg/ml; 10mg/ml dan 20mg/ml. Selanjutnya dilakukan penempelan cakram kertas pada media MHA (Muller Hinton Agar) yang disuplementasi 5% darah domba dan telah diinokulasi bakteri Streptococcus pneumoniae. Indikator penghambatan pertumbuhan Streptococcus pneumoniae terlihat dari zona bening atau zona hambat yang terbentuk di sekitar cakram kertas yang diukur diameternya menggunakan jangka sorong. Hasil menunjukkan bahwa diameter zona hambat terbensar dibentuk oleh kelompok kontrol positif dengan rata-rata 30,36 mm. Sedangkan pada kelompok perlakuan yaitu pemberian kombinasi obat, menunjukkan diameter zona hambat yang semakin mengecil sesuai dengan peningkatan konsentrasi N-asetilsistein dalam kombinasi.
Data berupa diameter zona hambat di uji normalitasnya dengan uji Saphiro Wilk menunjukkan data terdistribusi normal (p>0,05), dilanjutkan dengan uji korelasi Pearson dengan niai sig 0,000 yang menunjukkan korelasi bermakna (p<0,01). Nilai korelasi Pearson sebesar -0.918 menunjukkan korelasi negatif atau hubungan yang berlawanan dengan kekuatan korelasi yang sangat kuat. Dari analisis regresi logaritmik diketahui konsentrasi terkecil N-asetilsistein dalam kombinasi yang mampu menurunkan aktivitas antibakteri eritromisin dalam menghambat pertumbuhan Streptococcus pneumoniae sebesar 1,66 mg/ml.
Penelitian in vitro membuktikan bahwa N-asetilsistein dalam kombinasi dengan eritromisin dapat menurunkan aktivitas antibakteri eritromisin dalam menghambat pertumbuhan Streptococcus pneum
Hubungan Dukungan Keluarga Dan Tingkat Keputusasaan Terhadap Kepatuhan Minum Obat Pasien Tuberkulosis Paru Fase Lanjutan Di Kecamatan Umbulsari Jember
Tuberkulosis (TB) adalah penyakit kronik menular yang disebabkan oleh
kuman Mycobacterium tuberculosis (Setiati dkk, 2014). Bakteri ini dapat
menyerang berbagai organ tubuh, namun 80% bakteri ini menyerang organ paru
(Alwi dkk, 2014). Berdasarkan data World Health Organization (WHO), terdapat
10,4 juta penduduk dunia menderita TB pada tahun 2015 dan diperkirakan
jumlahnya terus bertambah hingga kini (WHO, 2017). Indonesia sendiri
menduduki peringkat kedua setelah India dengan penderita TB terbesar di dunia
(WHO, 2017).
Tingginya angka kejadian TB paru di dunia sering terjadi karena kepatuhan
pasien dalam pengobatan yang rendah (Stapledon dan Viney, 2010). Padahal,
kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi OAT merupakan salah satu indikator
penting dalam keberhasilan pengobatan TB paru. Mengingat kepatuhan minum
obat pada penderita TB paru merupakan suatu hal yang sangat penting, maka
dukungan keluarga sangat diperlukan, salah satunya untuk menghindarkan
penderita dari keputusasaan selama menjalani pengobatan. Rasa putus asa itu
dapat hadir akibat lamanya proses pengobatan yang harus dijalani penderita TB
paru hingga ia merasa tidak sembuh-sembuh atau bahkan tidak akan sembuh
(Ardi, 2011). Dalam hal ini, dukungan keluarga dapat menekan tingkat
keputusasaan pasien dan menumbuhkan motivasi untuk menjalani pengobatannya
secara teratur hingga tuntas (Farmani, 2015). Oleh karena itu, tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dan tingkat keputusasaan
terhadap kepatuhan minum obat pasien TB paru fase lanjutan, khususnya di
Kecamatan Umbulsari Jember yang memiliki angka kejadian TB tertinggi di
Kabupaten Jember per periode Januari – Juni 2017.
Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan
pendekatan cross sectional. Sampel pada penelitian ini diambil berdasarkan
kriteria inklusi: (1) Pasien dengan diagnosis TB paru BTA positif usia ≥ 17 tahun
yang tengah menjalani pengobatan TB fase lanjutan minimal 21 hari sesuai data
rekam medik Puskesmas Umbulsari dan Puskesmas Paleran, (2) Pasien bersedia
menjadi subjek penelitian, dan (3) Pasien dengan keadaan compos mentis (sadar
penuh) serta kriteria eksklusi: (1) Pasien TB ekstraparu, (2) Pasien TB paru
dengan HIV, dan (3) Pasien MDR-TB. Teknik pengambilan sampel pada
penelitian ini adalah total sampling dan dilakukan pada bulan November -
Desember 2017. Analisis data menggunakan uji Lambda dan uji Spearman
dengan nilai signifikansi p<0,05. Software yang digunakan dalam pengolahan
data adalah SPSS Statistics versi 16.0. Pada penelitian ini jumlah sampel yang didapatkan adalah 21 orang. 76,2%
dari total sampel memiliki keluarga yang supportif, 57,1% dari total sampel
memiliki tingkat keputusasaan yang normal, dan 61,9% dari total sampel
memiliki kepatuhan minum obat yang tinggi. Setelah dianalisis, hubungan antara
dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat dan hubungan antara tingkat
keputusasaan dengan kepatuhan minum obat, didapatkan nilai signifikansi
berturut-turut adalah p = 0,653 dan p = 0,107. Hal ini menandakan bahwa tidak
terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan
minum obat serta juga tidak ditemui adanya hubungan yang signifikan antara
tingkat keputusasaan dengan kepatuhan minum obat pada pasien TB paru fase
lanjutan di Kecamatan Umbulsari Jember
Pengaruh Konsumsi Air Kelapa Muda (Cocos Nucifera L.) Terhadap Daya Tahan Otot Pada Orang Dewasa Muda Bukan Atlet
Kebugaranxjasmanixadalah kemampuan fisik untuk menyesuaikan fungsi
tubuh terhadap beban yang diberikan dalam berbagai macam keadaan secara
efisienxtanpaxkelelahanxberlebihan dan akan pulihxsempurnaxsebelum diberikan
beban selanjutnya. Komponen kebugaran muskuloskeletal salah satunya adalah
daya tahan otot. Dayaxtahanxotot merupakanxkemampuan ototxuntuk
berkontraksixterus menerus dan berulang-ulang dengan kecepatan dan waktu
tertentu. Dayaxtahanxototxyangxbaik tidak hanya dikhususkan untuk para atlet
untuk latihan rutin ataupun bertanding, tetapi juga bukan atlet sehingga aktivitas
harian dapat dilakukan dengan baik terutama untuk pekerjaan dengan gerakan
tetap dan berulang.
Ketersediaan zat gizi berupa karbohidrat, protein, dan lemak sangat
dibutuhkan sebagai penyedia energi dalam beraktivitas agar tidak cepat terjadi
kelelahan. Ketersediaan zat gizi tersebut dapat diperoleh dari airxkelapaxmuda
karenaxairxkelapaxmuda mengandung karbohidrat dan elektrolit. Air kelapa muda
di Indonesia mudah ditemui karena kelapa merupakan jenis tanaman yang berasal
dari Asia Tenggara. Produksi kelapa di Indonesia menurut Kementrian Pertanian
Republik Indonesia pada tahun 2017 adalah sebanyak 2.854.300 buah, dan khusus
di Jawa Timur sebanyak 253.904 buah menduduki peringkat terbanyak ketiga di
Indonesia.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsumsi air
kelapa muda terhadap daya tahan otot. Jenis penelitian yang dilakukan adalah
jenis uji klinis (clinical trial) dengan metode true experimental. Desain penelitian
yang digunakan adalah uji klinis rancangan silang (cross over design clinical
trial). Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari 2020. Sampel penelitian terdiri
dari 20 orang dan dibagi menjadi 2 kelompok secara acak dengan metode
pengundian. Teknik pengambilan sampel yaitu quota sampling. Kelompok
pertama adalah kelompok kontrol dengan air mineral 300 ml, sedangkan
kelompok kedua adalah kelompok perlakuan yang diberi air kelapa muda 300 ml.
Setelah periode washing out selama satu minggu, kedua kelompok saling bertukar
peran kelompok kontrol akan menjadi kelompok perlakuan dan sebaliknya.
Hasil dari penelitian ini yaitu kelompok yang mengonsumsi air kelapa
muda 60 menit sebelum melakukan one minute sit up test memiliki nilai rata-rata
repetisi lebih tinggi yaitu sebesar 34,30 dibandingkan dengan kelompok yang
mengonsumsi air mineral. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat
pengaruh konsumsi air kelapa muda (Cocos nucifera L.) terhadap daya tahan otot
pada orang dewasa muda bukan atlet
Pengaruh Konsumsi Air Kelapa Muda (Cocos Nucifera.L) Terhadap Vo2max Pada Orang Dewasa Muda Bukan Atlet
Olahraga teratur memiliki banyak manfaat untuk meningkatkan semangat, kesehatan, dan kebugaran jasmani. Air kelapa memiliki kandungan karbohidrat dan elektrolit yang bersifat isotonis alami, bebas dari unsur kimia, dan mudah dijumpai karena Indonesia merupakan produsen terbesar penghasil kelapa di Asia. Ketersediaan energi karbohidrat dalam tubuh sangat berpengaruh terhadap kebutuhan VO2max seseorang untuk menjaga stamina dan daya tahan tubuh. Pemberian air kelapa muda berpengaruh meningkatkan VO2max karena mengandung karbohidrat dan elektrolit. Pemberian karbohidrat dan elektrolit 15-60 menit sebelum latihan berpotensi menunda kelelahan dengan meningkatkan performa karena kadar glukosa terjaga dan terjadi pemulihan simpanan glikogen otot. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian air kelapa muda terhadap VO2max pada orang dewasa muda bukan atlet.
Penelitian ini menggunakan desain penelitian true eksperimental dengan uji klinis rancangan silang (cross over design clinical trial). Subjek penelitian merupakan laki-laki dewasa muda bukan atlet yang berusia 18-24 tahun, tidak mengonsumsi obat-obatan kortikosteroid, stimulant, dan minuman yang mengandung kafein, minuman berenergi, dan alkohol satu minggu sebelum perlakuan. Sebanyak 30 orang yang memenuhi kriteria inklusi dibagi menjadi kelompok secara random yaitu kelompok perlakuan (diberi 300 ml air kelapa) dan kelompok kontrol (diberi 300 ml air mineral) 60 menit sebelum perlakuan, kemudian dilakukan crossover 3 hari setelah perlakuan.
Hasil penelitian menunjukkan karakteristik subjek berdasarkan usia sebesar 21,93 ± 1,02 tahun, berat badan sebesar 65,1 ±7,47 kg, tinggi badan sebesar 1,7 ± 0,06 m, BMI sebesar 22,27 ± 1,77 kg/m2, denyut jantung max sebesar 198,07 ± 1,01, indeks kebuguran kontrol sebesar 141,83 ± 44,69, dan indeks kebugaran kelompok perlakuan sebesar 176,01 ± 59,07. Karakteristik sampel berdasarkan VO2max menunjukkan bahwa kelompok perlakuan memiliki VO2max lebih besar dengan rata-rata 4,84 ± 1,05 dibandingkan dengan kelompok kontrol dengan rata-rata 4,19 ± 0,78. Hasil Uji Paired T-Test didapatkan nilai signifikansi sebesar p=0,000 (p<0,05) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Pemberian cairan karbohidrat (glukosa dan fruktosa) dan elektrolit (natrium, kalium dan kalsium) 15–60 menit sebelum latihan memberikan potensi menunda kelelahan atlet dengan meningkatkan performa karena kadar elektrolit membantu penyerapan glukosa dan fruktosa dalam darah sehingga terjadi pemulihan simpanan glikogen. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemberian air kelapa muda menaikkan kadar VO2max pada orang dewasa muda bukan atlet
- …
