68 research outputs found

    UJI EFEKTIFITAS PERTUMBUHAN Spirulina sp. PADA LIMBAH CAIR TAHU YANG

    No full text
    Media kultur jenis Pro Analisis (PA) seperti media Zarouk sebagai media kultur Spirulina sp. terbukti dapat menumbuhkan Spirulina sp. Mahalnya media kultur jenis PA menjadi dasar pencarian pupuk alternatif . Oleh sebab itu dilakukan penelitian penggunaan media alternatif yaitu media limbah cair tahu yang diperkaya urea dan SP 36. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efektifitas pertumbuhan Spirulina sp. pada media limbah cair tahu yang diperkaya urea dan SP 36 agar diketahui dosis media limbah cair tahu yang optimum untuk pertumbuhan Spirulina sp. Kultivasi Spirulina sp. pada media limbah cair tahu dilakukan di 21 erlenmayer 500 ml, intensitas cahaya 2500 lux selama 16 jam, dan temperatur 22 ºC. Penelitian ini menggunakan perlakuan kombinasi dengan dua faktor. Faktor yang pertama adalah limbah cair tahu dengan 3 taraf yaitu 20%, 30%, dan 40%. Sedangakan faktor yang kedua adalah pupuk urea dan sp 36 dengan 2 taraf yaitu 0 mg/L urea, Sp 36, dan 300 mg/L urea, 200 mg/L Sp 36. Kurva pertumbuhan Spirulina sp. menunjukan bahwa pertumbuhan Spirulina sp. lebih efektif pada media limbah cair tahu 30% tanpa urea dan sp 36 dibanding media zarouk. Biomasa Spirulina sp. perlakuan limbah cair tahu 30% sebesar 0,0288 gr/L

    Keanekaragaman Meso-Makrofauna Tanah dan Sifat–Sifat Fisika Kimia Tanah Pada Beberapa Penggunaan

    No full text
    Penggunaan lahan hutan, tegal dan sawah di Desa Sumbermalang Kecamatan Wringin Bondowoso mempunyai keragaman vegatasi dan tanah. Keragaman vegatasi dan tanah dapat menyebabkan adanya keanekaragaman mesomakro fauna yang berbeda. Penelitian bertujuan untuk mempelajari indeks keanekaragam meso-makro fauna tanah pada beberapa penggunaan lahan di Desa Sumbermalang dan mengetahui hubungan indeks keanekaragaman mesomakro fauna tanah dengan sifat fisika-kimia tanah pada penggunaan lahan hutan, tegal dan sawah . Penelitian ini dilakukan di Desa Sumbermalang Kecamatan Wringin Bondowoso dengan metode awal survei lapang untuk menentukan vegetasi dan titik pengambilan sampel, pada setiap penggunaan lahan ditentukan 10 area titik masingmasing ukuran 1m x 1m sampai kedalaman 30 cm, kemudian tanah diangkat. Tanah hasil galian dituangi larutan pengganggu (5-10liter larutan Alkohol 70% dan menunggu selama 30 menit) dengan tujuan dapat menstimulasi mesomakrofauna tanah untuk muncul ke permukaan). pengambilan sampel tanah untuk analisis fisika dan kimia tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indeks keanekaragaman meso-makro fauna tanah di Desa Sumbermalang Kecamatan Wringin Bondowoso pada penggunaan lahan hutan sebesar 0,89 yang memiliki indeks keanekaragaman lebih tinggi dari pada penggunaan lahan tegal yaitu 0,62 dan sawah sebesar 0,61.tidak ada korelasi nyata antara indeks keanekaragaman meso-makro fauna tanah (H’) dengan sifat fisika dan kimia tanah

    INVENTARISASI DAN UJI KEMAMPUAN PELARUTAN KALIUM OLEH MIKROBA

    No full text
    Unsur hara dalam tanah yang semakin menipis merupakan salah satu faktor penurunan produksi tanaman tebu. Unsur hara kalium merupakan salah satu unsur hara yang berperan dalam peningkatan aktivitas enzim PEP yang berperan dalam proses fotosintesis bagi tanaman tebu. Kadar kalium di bumi cukup besar sekitar 2,3% dari kerak bumi. Kalium dalam tanah yang tersedia bagi tanaman hanya berkisar 2-10%, sedangkan 90-98% dalam bentuk mineral. Keberadaan kalium dalam tanah salah satunya dipengaruhi oleh mikroba yang ada di dalam tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan menginventaris mikroba pelarut kalium yang berasal dari rhizosfer tanaman tebu, serta mengetahui kemampuan mikroba dalam melarutkan kalium yang terikat pada mineral pembawa kalium. Untuk mendapatkan mikroba pelarut kalium, contoh tanah diisolasi pada media Aleksandrov agar dengan komposisi Glukosa, MgSO4.7H2O, FeCl3, CaCO3, Ca3PO4 dan sumber kalium. Mikroba yang tumbuh dan mampu membentuk zona bening diindikasikan sebagai mikroba pelarut kalium. Mikroba pelarut kalium yang ditemukan diuji kemampuannya dalam melarutkan kalium baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif. Secara kualitatif mikroba ditumbuhkan pada media Aleksandrov agar dengan berbagai sumber kalium. Secara kuantitatif, mikroba ditumbuhkan pada media Aleksandrov cair dengan berbagai sumber kalium. Hasil pengujian secara kualitatif berupa indeks pelarutan (IP), sedangkan secara kuantitatif berupa kalium dapat ditukar (K-dd). Hasil penelitian menunjukkan terdapat enam mikroba yang memiliki nilai IP tertinggi yang dijadikan koleksi Laboratorium. Uji kuantitatif yang dilakukan menunjukkan hasil yang tidak searah dengan uji kualitatif yang dilakuka

    PENGARUH PEMBERIAN PUPUK GUANO PADA TANAH TERCEMAR LIMBAH PABRIK

    No full text
    Upaya untuk memenuhi kebutuhan bahan baku produksi industri kertas dan pulp tidak dapat bergantung pada serat alami yang terbatas ketersediaannya. Terdapat suatu inovasi berupa pemanfaatan kertas bekas dengan cara pemisahan antara tinta dengan serat yang terkandung dalam kertas melalui proses deinking. Proses Deinking menghasilkan limbah padat berupa sludge, biosludge, dan pith. Biosludge pada penelitian ini digunakan sebagai pencemar tanah yang mengandung logam berat Cd 7,05 mg/kg dan Pb 15,45 mg/kg. Pemberian pupuk guano sebagai bahan organik dengan kandungan fosfat tinggi berfungsi untuk mengurangi pencemaran limbah pabrik kertas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui interaksi dan dampak dari pemberian pupuk guano dengan pencemaran limbah sludge pada proses deinking pabrik kertas terhadap populasi dan aktifitas mikroba tanah. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) (3x3) dengan 3 ulangan. Faktor 1 yakni biosludge yang diberikan sebagai pencemar pada 3 kg tanah inceptisol sebanyak 0 kg/pot setara dengan 0 mg/kg Cd, 0,5 kg/pot setara dengan 1 mg/kg Cd dan 1,2 kg/pot setara dengan 2 mg/kg Cd. Faktor 2 yakni dosis guano yang diberikan sebanyak 0 gr/pot, 100 gr/pot dan 200 gr/pot. Hasil analisis penelitian menunjukkan tidak adanya interaksi antara pemberian pupuk guano dan biosludge terhadap populasi dan aktivitas mikroba tanah. Pemberian pupuk guano pada tanah tercemar limbah pabrik kertas terbukti mampu meningkatkan populasi bakteri pelarut fosfat dan bakteri selulolitik, namun tidak demikian pada total populasi bakteri dan total populasi fungi. Pemberian pupuk guano pada tanah tercemar limbah pabrik kertas mampu meningkatkan aktivitas mikroba tanah dengan meningkatnya respirasi tanah, kandungan P-tersedia, dan kandungan C-organik tanah

    Pelarutan Batuan Leucite dan Apatit Menggunakan Kombinasi Senyawa Humik Ketela Pohon dan Bakteri (Pelarut Fosfat dan Kalium).

    No full text
    Batuan mineral apatit dan leusit merupakan sumber daya mineral dengan ketersediaan tinggi tetapi mempunyai kelarutan mineral rendah. Penelitian ini difokuskan pada kombinasi bakteri pelarut fosfat dan kalium dan humik ketela pohon sebagai agen bioleaching dalam proses pelarutan kalium dan fosfat dari bahan agromineral. Bahan agromineral leusit yang digunakan diperoleh dari Situbondo dan Pati, sedangkan bahan apatit berasal dari kabupaten Tuban dan Ciamis di Indonesia. Agromineral diperlakukan dengan isolat bakteri pelarut fosfat (BPF) dan bakteri pelarut kalium (BPK), dikombinasikan dengan senyawa humik dari ketela pohon sebagai media. Kelarutan mineral diamati setiap 2 minggu sekali selama 12 minggu meliputi fosfat, kalium, dan pH media. Produksi asam organik dianalisa untuk mengamati aktivitas bakteri dan perubahan fisik permukaan batuan akibat pelarutan bakteri dipindai menggunakan scanning microscope electron (SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas pelarutan fosfat tertinggi tercatat pada minggu ke 4 (344,23 ppm) yang dilepaskan dari apatit Tuban dengan kombinasi BPF dan BPK dengan senyawa humik, sedangkan pelarutan kalium tertinggi diperoleh pada minggu ke 6 untuk Leusit Situbondo (44,21 me / 100 g) dengan kombinasi senyawa humik ketela pohon dan BPK. Analisis Anova menunjukkan tanda yang berbeda pada kedua mineral untuk pelarutan fosfat, dan kalium. Hasil SEM menunjukkan kerusakan permukaan batuan setelah periode pengamatan 12 minggu yang mengindikasikan bahwa pelarutan mineral terjadi. karena banyak asam organik seperti asam sitrat, ferulat, khumarat, siringat, dan malat terdeteksi, dan dapat disimpulkan bahwa baik BPK dan atau BPF secara aktif tumbuh di media bahan humik dari ketela pohon, mendukung pelarutan fosfat dan kalium dari batuan leusit dan apatit sebagai sumber untuk agrominerals

    Uji Selektivitas Mikroba Pelarut Fosfat pada Media Cair (Molasse) dengan Beberapa Konsentrasi

    No full text
    Suatu pengujian dilakukan terhadap empat jenis bakteri pelarut fosfat, terdiri dari isolat I (Pseudomonas putida), isolat II (Pseudomonas aerogenusa), isolat III (TP. 4) dan isolat IV (Chromobacterium violaceum). Keempat isolat di atas ditumbuhkan pada media cair molasse, Penelitian dilakukan secara faktorial dengan rancangan dasar RAL, faktor pertama yaitu jenis isolat dan faktor kedua yaitu konsentrasi molasse dengan empat taraf, yaitu M1 (2 ml/l aq), M2 (4 ml/l aq), M3 (6 ml/l aq), M4 (8 ml/l aq) dan M5 (10 ml/l aq), Masing-masing isolat diinokulasikan ke dalam media molasse dengan populasi sekitar 1,25 x 105 dan diinkubasikan selama dua bulan, dimana setiap dua minggu dilakukan analisis P-parut pada media tersebut

    Pengaruh Kombinasi Sumber Fosfat dengan Bakteri Pelarut Fosfat terhadap Peningkatan Kadar P Tanah Alfisol dan Serapannya pada Tanaman Sorgum (Sorghum bicolor L. Moench)

    No full text
    Unsur hara merupakan zat yang dibutuhkan oleh tanaman dan memegang peran penting dalam pertumbuhan tanaman. Tanah Alfisol merupakan salah satu jenis tanah yang memiliki beberapa kelebihan, sehingga produktivitasnya masih sangat berpotensi untuk ditingkatkan. Tanah alfisol juga memiliki beragam permasalahan seperti halnya P tersedia yang rendah. Kondisi ini tidak menguntungkan dalam budidaya tanaman seperti sorgum. Sorgum (Sorghum bicolor L. Moench) merupakan salah satu tanaman yang membutuhkan unsur hara P dalam jumlah yang cukup banyak untuk proses pertumbuhannya. Peningkatan unsur P dapat dilakukan dengan cara menambahkan sumber P pada tanah seperti penambahan pupuk anorganik buatan atau pupuk anorganik alam. Batuan fosfat bersifat tidak mudah larut (slow release), sehingga dibutuhkan bantuan dari mikroba untuk mengubah P menjadi tersedia bagi tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari kombinasi antara penambahan sumber fosfat dan bakteri pelarut fosfat terhadap kadar fosfat dalam tanah dan serapan P-jaringan tanaman sorgum. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2017 sampai Januari 2018 di Lahan Penelitian, Laboratorium Kesuburan Tanah, dan Laboratorium Biologi Tanah Fakultas Pertanian Universitas Jember. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) faktorial yang terdiri dari dua faktor dengan tiga ulangan. Faktor pertama (P): Sumber Fosfat yang terdiri dari empat taraf yaitu: 1. Kontrol (P0), 2. TSP 0,21 g/tanaman (P1), 3. TSP 0,42 g/tanaman (P2), 4. Rock Phosphate 1,95 g/tanaman (P3) dan faktor kedua (B): Macam Bakteri Pelarut Fosfat yang terdiri dari tiga taraf yaitu: 1. Kontrol (B0), 2. Pseudomonas sp. (B1), 3. Bacillus sp. (B2). Selanjutnya dilakukan uji lanjut menggunakan Duncan Multiple Range Test (DMRT) dengan taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Aplikasi kombinasi sumber fosfat dan inokulasi BPF secara nyata mampu meningkatkan pH tanah, kadar P-jaringan, serapan P-Jaringan, tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, berat basah, berat kering tanaman sorgum dan memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap kadar P dalam tanah. Perlakuan Rock Phosphate yang dikombinasikan dengan inokulasi BPF memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan kontrol dan mampu memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan perlakuan TSP pada parameter pH tanah, P-tersedia tanah, kadar P-Jaringan dan tinggi tanaman sorgum. Perlakuan inokulasi BPF mampu memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan kontrol dan hasil terbaik didapatkan pada penambahan inokulasi bakteri Bacillus sp

    PENGARUH PEMBERIAN MINERAL LEUSIT DAN MIKROBA PELARUT KALIUM TERHADAP KETERSEDIAAN DAN SERAPAN HARA KALIUM TANAMAN KACANG TANAH (Arachis hypogaea) PADA TANAH INCEPTISOL

    No full text
    Inceptisol adalah salah satu jenis tanah utama di Indonesia dengan total luas tanah 70,5 juta ha. Di pulau Jawa, kebanyakan tanah-tanah Inceptisol memiliki intensitas pengelolaan yang sudah intensif dibandingkan dengan Inceptisol di Luar Jawa. Inceptisol selain ditemukan dalam bentuk lahan sawah dan perkebunan, terdapat juga dalam bentuk lahan-lahan tegalan yang umumnya memiliki ketersediaan hara yang rendah. Salah satu hara esensial yang ketersediaannya pada tanah cenderung rendah adalah kalium. Ketersediaan kalium yang rendah ini dikarenakan masih tingginya tingkat fiksasi kalium serta adanya proses pencucian yang menghilangkan kalium dari tanah. Peningkatan ketersediaan kalium dapat dilakukan dengan adanya penerapan teknologiteknologi baru, seperti penggunaan pupuk kalium yang berasal dari alam yaitu leusit. Penggunaan pupuk kalium yang berasal dari alam pada umumnya memiliki kecepatan perilisan yang lambat jika dibandingkan dengan penggunaan pupuk sintetik, seperti KCl. Penggunaan bakteri pelarut kalium ini menjadi salah satu cara yang dapat diterapkan untuk dapat mempercepat proses perilisan kalium dari pupuk yang digunakan. Bakteri pelarut kalium mampu melepaskan kalium yang tidak tersedia menjadi tersedia melalui asam-asam organik yang dihasilkannya Penggunaan kacang tanah sebagai tanaman indikator karena tanaman ini merupakan salah satu tanaman yang memiliki kebutuhan kalium yang besar. Penelitian ini dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial yang terdiri dari dua faktor dengan tiga ulangan. Faktor pertama (S): Sumber kalium yang terdiri dari empat taraf yaitu: 1. Kontrol (S0), 2. Mineral Leusit Pati 4,97 gram/tanaman (S1), 3. Mineral Leusit Situbondo 4,82 gram/tanaman (S2), 4. Pupuk KCl 0,60 gram/tanaman (S3) dan faktor kedua (M): Macam Mikroba Pelarut Kalium yang terdiri dari tiga taraf yaitu: 1. Kontrol (M0)

    DIAGNOSIS KESEIMBANGAN HARA PADA DAUN TANAMAN TEBU LAHAN KERING MENGGUNAKAN METODE DRIS (STUDI KASUS: PG. BUNGAMAYANG, LAMPUNG DAN PT. PG. RAJAWALI II UNIT SUBANG, JAWA BARAT)

    No full text
    Kebutuhan gula berbading lurus dengan pertumbuhan penduduk di Indonesia. Namun, produksi gula dalam negeri masih belum dapat memenuhi keseluruhan kebutuhan gula nasional. Salah satu penyebabnya adalah produktivitas tebu Indonesia masih tergolong rendah, terutama tebu yang dibudidayakan di lahan kering/tegalan. Upaya peningkatan produksi tanaman tebu sangat diperlukan yakni melalui perbaikan teknik budidaya diantaranya dengan memperbaiki kesuburan tanah melalui pemupukan. Untuk menetapkan jenis dan dosis pupuk diperlukan rekomendasi pemupukan yang tepat. Langkah awal yang perlu dilakukan dalam menentukan rekomendasi pemupukan adalah dengan melakukan diagnosis status hara. Salah satu cara untuk melakukan diagnosis status hara tanaman dapat dilakukan melalui analisis tanaman. Interpretasi hasil analisis tanaman untuk mendapatkan nilai status hara dalam tanaman tebu dilakukan menggunakan metode DRIS. Prinsip metode DRIS adalah menilai hara tanaman untuk mendapatkan komposisi hara yang paling berimbang serta diperoleh produksi dan kualitas hasil yang tinggi. Penentuan ini didasarkan pada nisbah hara satu terhadap lainnya dan berhubungan dengan produksi tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hara pembatas utama produktivitas sebagai penyebab belum optimalnya produktivitas tanaman tebu sekaligus mengetahui urutan keseimbangan hara N, P, K dan Mg untuk melakukan prioritas perbaikan hara di kebun-kebun tebu berproduktivitas rendah dan sedang. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai informasi dasar dalam meningkatkan produktivitas tebu sekaligus sebagai dasar pertimbangan anjuran dosis pupuk hara makro Penelitian ini dilaksanakan di PG. Bungamayang, Lampung dan PT. PG. Rajawali II unit Subang, Jawa Barat mulai bulan Juli 2016 hingga Oktober 2016. Metode penelitian yang digunakan adalah melalui survey pengambilan contoh daun tebu di lapangan berdasarkan prosedur baku, masing-masing sebanyak 25 dan 21 contoh. Kebun-kebun tebu berproduktivitas tinggi (>80 ton/ha) dijadikan dasar untuk menetapkan norm, sedangkan kebun-kebun tebu berproduktivitas sedang (60 – 80 ton/ha) dan rendah (<60 ton/ha) digunakan untuk mengetahui faktor hara yang menjadi pembatas produktivitas. Sebagai uji coba atau verifikasi diperoleh Norm N/P, N/K, K/P, N/Mg, P/Mg dan K/Mg masing-masing 11,37; 1,61; 7,24; 15,19; 1,33; dan 9,81. Hasil penelitian diperoleh rasio hara N/P, N/K, K/P, N/Mg, P/Mg dan K/Mg seimbang pada daun tanaman tebu berdasarkan diagram DRIS berturut-turut 10,57 - 12,17; 1,44 - 1,78; 6,22 - 8,26; 14,99 - 17,39; 1,18 - 1,48 dan 7,62 - 12,00. Hasil diagnosis rasio hara menunjukkan terjadi ketidakseimbangan hara Mg pada kebunkebun di PG. Bungamayang. Sedangkan di PG. Subang menunjukkan terjadi ketidakseimbangan hara N dan Mg. Berdasarkan Indeks DRIS tanaman tebu menunjukkan unsur hara Mg umumnya menempati urutan pertama sebagai faktor pembatas pada kebun tebu berproduktivitas sedang dan rendah di PG. Bungamayang. Sedangkan pada kebun tebu berproduktivitas sedang dan rendah di PG. Subang, unsur hara N dan Mg bergantian menempati urutan pertama sebagai faktor pembatas produktivitas serta diduga terdapat hara lain diluar N, P, K dan Mg yang memiliki nilai tidak seimbang

    Pengaruh Aplikasi Biochar Dan Kompos Terhadap Sifat Fisika Tanah Alfisol, Efisiensi Air Dan Produksi Tanaman Jagung Manis (Zea Mays Saccharata Sturt L.)

    No full text
    Biochar merupakan mineral amorf yang diperoleh melalui proses pirolisis, digunakan sebagai bahan pembenah tanah
    corecore