1,720,986 research outputs found
PENGARUH MODEL INKUIRI TERBIMBING (GUIDED INQUIRY) DISERTAI METODE MENCONGAK TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN IPA (FISIKA) KELAS VII DI SMP AL-MALIKI SUKODONO-LUMAJANG
The study is focused in implementation of guided inquiry model with mencongak methods. Purpose of this study is to assess the influence of guided inquiry model with mencongak methods against student's learning outcomes, and student's activity in learning physics which applied guided inquiry model with mencongak methods. The type of this study is research experiment conducted in SMP Al-Maliki Sukodono-Lumajang. Data collection method used is a documentary, observation, interview, and test. Data analysis technique used is independent sample t-test assistance with SPSS 16 and percentages of student's activity to know student's skill in experiment class. Test results show the experimental class student's learning outcomes for 70.97% and control class is 60.34% with the significance value of 0.004. Because the significance value less than 0.05, according to t-test result can be concluded that guided inquiry model with mencongak methods is have significance effect against student's result learning in learning physics. The results of the activity of student's in the experimental class, at the first meeting of the 71.55% and the second meeting of 77.61%. overall, the student's activity from first meeting and second meeting was 74.58% and showed good category
Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing disertai Metode Giving Questions and Getting Answer terhadap Keterampilan Proses Sains dan Hasil Belajar pada Pembelajaran Fisika SMA di Kabupaten Jember
Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan keterampilan proses sains dan kompetensi sikap dalam model pembelajaran inkuiri terbimbing disertai metode giving questions and getting answer serta mengkaji pengaruh model pembelajaran inkuiri terbimbing disertai metode giving questions and getting answer terhadap kompetensi pengetahuan siswa. Penelitian ini termasuk penelitian eksperimen dengan desain penelitian post test only control group. Subjek penelitian yang digunakan yaitu siswa kelas X MIA 5 sebagia kelas eksperimen dan X MIA 6 sebagai kelas kontrol di SMA Negeri 4 Jember. Data yang diperoleh antara lain skor keterampilan proses sains, skor kompetensi sikap, dan hasil post test. Selanjutnya data KPS di analisis dan diperoleh presentase nilai rata-rata 84,55% dengan kategori sangat baik, sedangkan data kompetensi sikap dianalisis diperoleh presentase nilai rata-rata 92,42% dengan kategori sangat baik. Pada hasil post test tersebut dianalisis yang terdiri dari uji statistik, uji normalitas, dan uji hipotesis. Dari hasil analisis independent sample T-test diperoleh signifikansi (1-tailed) sebesar 0.0000. Nilai sig ≤ 0,05 maka H0 ditolak dan menerima Ha bahwa adanya perbedaan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model inkuiri terbimbing disertai metode giving questions and getting answer dengan melatihkan keterampilan proses sains dapat meningkatkan hasil belajar di kelas X MIA 5
Pengembangan Handout Fisika Berbasis Concept Mapping Pada Materi Usaha Dan Energi Untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Siswa Sma Muhammadiyah 3 Jember
Pelajaran fisika merupakan salah satu mata pelajaran yang dirasa sulit oleh
mayoritas siswa SMA Muhammadiyah 3 Jember. Hal ini ditunjukkan oleh hasil
belajar fisika siswa yang terbilang rendah. Kondisi ini diduga karena siswa tidak
bisa memahami konsep-konsep fisika dengan baik, karena pada dasarnya belajar
fisika memerlukan pemahaman yang kuat terhadap konsep-konsep fisika. Metode
pengajaran dengan menggunakan peta konsep dapat dijadikan cara untuk
menanamkan pemahaman dan penguasaan konsep pada siswa, dikarenakan
dengan peta konsep siswa akan lebih mudah memahami kaitan antar konsep dan
membuat materi bertahan dalam jangka waktu yang panjang dalam ingatan siswa.
Oleh karena itu perlu dikembangkan handout fisika berbasis concept mapping
untuk meningkatkan penguasaan konsep siswa SMA Muhammadiyah 3 Jember.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah 1) Bagaimana validitas
handout fisika berbasis concept mapping; 2) Bagaimana penguasaan konsep siswa
setelah menggunakan handout fisika berbasis concept mapping; 3) Bagaimana
respon siswa terhadap handout fisika berbasis concept mapping. Penelitian ini
bertujuan untuk mengkaji validitas handout fisika berbasis concept mapping,
mengkaji penguasaan konsep siswa SMA Muhammadiyah 3 Jember setelah
melakukan pembelajaran menggunakan handout fisika berbasis concept mapping,
dan mengkaji respon siswa SMA Muhammadiyah 3 Jember terhadap handout
fisika berbasis concept mapping.
Penelitian Pengembangan ini menggunakan prosedur pengembangan
menurut Tjeerd Plomp yang terbagi dalam lima fase, yaitu: 1) fase investigasi
awal; 2) fase desain; 3) fase realisasi/konstruksi; 4) fase tes, evaluasi, dan revisi;
dan (5) fase implementasi. Pada fase tes, evaluasi, dan revisi dilakukan uji kelayakan atau validasi.
Aspek yang dinilai ada 4 yaitu 1) kelayakan isi; 2) kebahasaan; 3) penyajian; dan
4) kegrafikaan. Rata-rata nilai dari 4 aspek tersebut menjadi nilai akhir atau
dengan perolehan skor 3.6 yang masuk dalam interval dengan
kategori “sangat valid” yang artinya handout fisika berbasis concept mapping
dapat digunakan tanpa revisi. Hasil penguasaan konsep siswa setelah mengikuti
pembelajaran menggunakan handout fisika berbasis concept mapping didapatkan
dari nilai posttest siswa dengan nilai rata-rata 68.4 masuk dalam kategori
penguasaan konsep siswa baik. Pengelompokan kategori penguasaan konsep
siswa dalam satu kelas untuk kategori sangat baik 23.3%; baik 43.3%; cukup
13.3%; kurang 16.67%; dan sangat kurang 3.3%. Respon siswa terhadap handout
fisika berbasis concept mapping untuk aspek efektifitas handout sangat positif
dengan percentage of agreement 94.22%; aspek kelayakan isi handout positif
dengan percentage of agreement 75%; aspek kelayakan bahasa sangat positif
dengan percentage of agreement 80.8%; aspek kelayakan penyajian sangat positif
dengan percentage of agreement 84.6%; dan aspek kelayakan kegrafikaan positif
dengan percentage of agreement 63.45%.
Kesimpulan pada penelitian ini adalah 1) validasi handout fisika berbasis
concept mapping masuk dalam kategori sangat valid dalam arti handout fisika
berbasis concept mapping dapat digunakan sebagai bahan ajar pada pembelajaran
fisika; 2) penguasaan konsep siswa setelah melakukan pembelajaran
menggunakan handout fisika berbasis concept mapping masuk kategori
penguasaan konsep yang baik; 3) respon siswa terhadap handout fisika berbasis
concept mapping positif dalam arti siswa merasa terbantu dengan adanya handout
fisika berbasis concept mapping
ANALISIS PEMAHAMAN KONSEP GEJALA GLOBAL WARMING PADA SISWA KELAS XII SMA dan MA di KABUPATEN JEMBER
Global warming adalah pelajaran yang banyak mengandung teori dan tergolong
mudah untuk dipelajari, namun berdasarkan observasi justru banyak siswa yang
secara umum tergolong rendah tingkat pemahaman teoritisnya, dikarenakan
sebagian besar dari mereka mengabaikan pelajaran teori. Penelitian ini membahas
analisis pemahaman konsep gejala global warming pada siswa kelas XII SMA dan
MA di Kabupaten Jember. Tujuan penelitian ini adalah 1) untuk menganalisis
pemahaman konsep siswa pada materi gejala global warming 2) untuk
menganalisis hubungan minat belajar siswa dengan pemahaman konsep. Metode
Penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kuantitatif. Adapun
data yang diambil dari penelitian ini berasal dari hasil soal tes yang diberikan pada
siswa, setelah itu dianalisis tingkat pemahaman konsep siswa pada konsep materi
gejala global warming dengan indikator identifikasi efek rumah kaca dan gejala
global warming secara fisis, berdasarkan analisis di ketahui pemahaman konsep
siswa kelas XII di sekolah 1 mencapai 59,1% dan 20,9%, sekolaah 2 mencapai
60,6% dan 22,2%, sekolah 3 mencapai 66,5% dan 26,9%. Jika dirata-rata
keseluruhan siswa kelas XII SMA dan MA di Kabupaten Jember pemahaman
konsep identifikasi efek rumah kaca mencapai 62,3% dan 23,3% siswa yang
paham terhadap konsep materi identifikasi gejala global warming secara fisis.
Kemudian pemahaman konsep yang menggunakan pacuan indikator bloom yang
terdiri dari indikator translasi, interpretasi dan ekstrapolasi ,dicari besar persentase
tingkat pemahaman siswanya, hasil penelitian menunjukkan pemahaman konsep
siswa kelas XII di sekolah 1 pada materi gejala global warming mencapai
predikat sangat baik sebanyak 2 siswa, baik 1 siswa, cukup 16 siswa, kurang 4 siswa dan kateori sangat kurang mencapai 12 siswa, kemudian untuk sekolah 2
pemahaman konsepnya mencapai predikat sangat baik 1 siswa, baik 4 siswa,
cukup 7 siswa, kurang 3 siswa, dan yang sangat kurang mencapai 13 siswa, untuk
sekolah 3 pemahaman konsepnya 0 siswa yang mencapai predikat sangat baik, 0
siswa baik, 34 siswa cukup baik, 0 siswa yang kurang baik, serta 0 yang kurang
sekali. Sehingga jika di gabung secara keseluruhan, total rata-rata persentase
pemahaman konsep siswa kelas XII SMA dan MA di Kabupaten Jember predikat
pemahaman konsep sangat baik sebesar 3,1%, baik 5,1%, cukup 58,7%, dan yang
kurang 7,2% serta kurag sekali pemahamannya ada 25,8%. Berdasarkan analisis
data soal dan angket kelas XII SMA dan MA yang sudah di analisis berbantuan
alat spss, hubungan minat belajar dengan pemahaman konsepnya diperoleh,
sekolah 1 memiliki hubungan yang kuat dengan signifikansi 0,730, untuk sekolah
2 memiliki hubungan yang sedang dengan signifikansi 0,484, kemudian untuk
sekolah 3 memiliki hubungan/ korelasi sedang dengan signifikansi 0,564.
Berdasarkan analisis hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa rata-rata kelas XII
SMA dan MA di kabupaten Jember memiliki pemahaman konsep gejala global
warming yang di dominasi oleh siswa cukup paham dan kurang paham sama
sekali, kemudian untuk hubungan minat belajar siswa dengan pemahaman konsep
tergolong memiliki hubungan antara keduanya
Analisis Keterampilan Sosial Dan Kognitif Siswa Sman Balung Dalam Pemecahan Masalah Secara Kolaboratif
Problem solving skill atau keterampilan pemecahan masalah merupakan hal yang penting untuk diajarkan dan dikuasai. keterampilan pemecahan masalah yang baik dapat memberdayakan siswa dalam kehidupan pendidikan, professional, dan pribadinya. Keterampilan pemecahan masalah dapat diajarkan melalui berbagai konteks pembelajaran, salah satunya adalah melalui pembelajran fisika. Fisika menyediakan permasalah nyata yang dapat diterapkan ke dalam kehidupan kita. Kemampuan memecahkan masalah paling sering digunakan dalam dunia kerja dibandingkan kemampuan berpikir lainnya. Hasil survey American Intitute of Physics menunjukkan bahwa lulusan fisika (sarjana dan pascasarjana) menggunakan kemampuan memecahkan masalah dengan frekuensi tertinggi dibandingkan dengan kemampuan lain, yaitu lebih dari 90%, dalam bidang pekerjaan yang disurvei (bidang industry, bidang sector otonom swasta, bidang pemerintahan dan bidang pindidikan). Banyak studi penelitian melihat kemampuan pemecahan masalah ditinjau dari keterampilan kognitif. Padahal, dalam proses penyelesaian masalah dapat dipastikan selalu berinteraksi dengan temannya. Meskipun ada sejumlah studi yang melihat bagaimana siswa menyelesaikan masalah secara individu (Individual problem solving), tetapi ternyata peneliti tersebut juga menganjurkan bahwa dalam menyelesaikan masalah siswa dianjurkan secara berkelompok. Pemecahan masalah kolaboratif adalah satu set keterampilan yang di andalkan saat kapasitas atau sumber daya dari satu orang saja tidak mencukupi menyelesaikan masalah. Akan tetapi belum banyak data empiric tentang keterampilan sosial dan kognitif siswa SMA dalam pemecahan masalah secara kolaboratif dalam pembelajaran fisika di SMA. Instrumen penilaian kognitif dan sosial yang digunakan adalah instrumen yang telah dikembangkan oleh Hesse et al. oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterampilan sosial dan kognitif siswa SMA dalam pemecahan masalah secara kolaboratif. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Penelitian ini dilaksanakan di SMAN Balung dengan subjek penelitian adalah siswa kelas X MIPA yang telah menerima materi dinamika gerak. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes, wawancara, dan dokumentasi. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal tes uraian yang diadaptasi dari jurnal publikasi. Instrument penilaian keterampilan sosial menggunaka instrument yang telah dikembangkan oleh Hesse et al. analiis data pada penelitian ini adalah analisis deskriptif, data yang dianalisis adalah data hasil tes dan observasi. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada penelitian ini menunjukkan keterampilan kognitif dalam pemecahan masalah secara kolaboratif siswa kelas X MIPA SMA Negeri Balung dengan hasil Keterampilan sosial untuk kelompok tergolong dalam kategori tinggi dan untuk individu tergolong dalam kategori tinggi. persentase tertinggi pada indikator peyelesaian tugas dan persentase terendah pada indikator perundingan. Keterampilan kognitif dalam pemecahan masalah secara kolaboratif untuk kelompok tergolong dalam kategori sedang dan untuk individu tergolong dalam kategori rendah. persentase tertinggi pada indikator mengumpukan elemen informasi dan persentase terendah pada indikator sistematika
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR FISIKA SEKOLAH I MELALUI PEMBELAJARAN FISIKA TANPA RUMUS
SEMINAR NASIONAL MIPA DAN PMIPA I 31 Maret 2013
FKIP UNIVERSITAS JEMBERMatakuliah Fisika Sekolah I adalah salah satu Matakuliah Keakhlian Program
Studi (MKKPS) yang berorientasi pada penguasaan materi ajar fisika di sekolah menengah
pertama. Mahasiswa Pendidikan Fisika wajib menempuh mata kuliah ini sebagai bekal
mereka untuk mengajar mata pelajaran IPA ( Fisika) di sekolah menengah pertama. Siswa
Sekolah Menengah Pertama dalam teori perkembangan berpikir kognitif PIAGET pada
tahap remaja, yang belum sepenuhnya menjadi dewasa. Keadaan yang belum sepenuhnya
dewasa ini membutuhkan metoda pembelajaran yang lebih spesifik dikarenakan siswa pada
usia ini belum mampu untuk diajak berpikir imaginatif secara utuh. Keunggulan metoda
mengajar Fisika tanpa rumus adalah siswa lebih diajak berpikir logik realistik tanpa banyak
menggunakan rumusan matematik yang rumit, dengan demikian penggunaan metoda ini
sangat sesuai dengan pola berpikir siswa seperti dalam teori perkembangan berpikir
kognitif piaget. Bahan ajar fisika sekolah 1 yang membahas materi ajar fisika di sekolah
menengah pertama perlu di berikan tambahan metoda mengajar yang sesuai dengan tahapan
berpikir kognitif siswa. pengembangan materi ajar dengan menggunakan metoda
pembelajaran fisika tanpa rumus ini diharapkan dapat menambah bekal mahasiswa
pendidikan Fisika lebih mudah mengaplikasikan penerapan pembelajaran fisika di sekolah
menengah pertama
THE EFFECT OF COMPETENCE AND CAPACITY BUILDING ON TEACHING PERFORMANCE IN TEACHER CERTIFICATION PROCESS.
The purpose of this study was to measure the effect of teacher capacity building and competence on teaching performance in teacher certification process. This research was conducted with quantitative descriptive type. The population is teachers attending certification, with a sample of physics teachers at jember university in 20017 from 34 respondents, data analysis using linear regression SPSS (Statistical Product And Service Solution) 20th version. The result of the research shows that there is no strong influence of teacher competence on teaching performance with regression coefficient F anova, Ftable> F arithmetic meaning not having strong influence, while the effect of capacity improvement through teacher certification to teaching performance is obtained the same thing. It can be concluded that teacher competence and teacher capacity building need to be developed not only through Competency test and teacher certification with teacher education and training model so that there is strong influence between competence test and Capacity Building on teacher performance and better education quality in Indonesia. From this research, there are other factors that influence teacher performance outcomes
POTENSI GENOTOKSIK MEDAN MAGNET ELF (EXTREMELY LOW FREQUENCY) TERHADAP PREVALENSI SALMONELLA DALAM BAHAN PANGAN UNTUK MENINGKATKAN KEAMANAN PANGAN BAGI MASYARAKAT
ABSTRAK
Extremely Low Frequency magnetic fields (ELF-MF) merupakan radiasi yang bersifat non ionizing dan non-termal. Hasil penelitian sebelumnya membuktikan bahwa prevalensi kematian Salmonela Typhimurium dalam larutan fisiologi berkorelasi positif dengan intensitas paparan, namun tidak dengan lama paparan. Paparan medan magnet ELF 646.7µT selama 30 menit memberikan dampak kematian Salmonela lebih tinggi dibanding dengan paparan 60 menit dan 90 menit. Penelitian ini bertujuan untuk menguji dosis efektif paparan medan magnet ELF pada makanan segar gado-gado sebagai alternatif metode sterilisasi terhadap Salmonela Typhimurium. Sampel dalam penelitian ini adalah gado-gado (terdiri dari bumbu dan bahan saruran) yang diperoleh dari pedagang kaki lima di sekitar kampus Universitas Jember. Dosis paparan medan magnet ELF yang akan diuji yaitu pada intensitas 646.7µT dengan paparan selama 30 menit. Dosis efektif medan magnet extremely low frequency intensitas 646.7µT selama 30 menit terbukti dapat menurunkan populasi Salmonella Typhimurium pada gado-gado dengan efektivitas penghambatan ditunjukkan dengan persentase destruksi pada bumbu gado-gado sebesar 56% dan pada sayuran gado-gado sebesar 17%. Radiasi medan magnet ELF memiliki potensi sebagai alternatif metode sterilisasi makanan segar yang aman dan murah terhadap Salmonella Ttyphimurium.Info lebih lanjut hub:
Lembaga Penelitian Universitas Jember
Jl. Kalimantan No.37 Telp. 0331-339385 Fax. 0331-337818 Jembe
Inventarisasi Sisipan Mineral Pada Daerah Gamping Di Puger Kabupaten Jember Dengan Metode Magnetik Dan Geolistrik
Info lebih lanjut hub:
Lembaga Penelitian Universitas Jember
Jl. Kalimantan No.37 Jember telp. 0331-339385 Fax. 0331-337818Pada penelitian ini telah dilakukan penyelidikan menggunakan metode geofisika yaitu geolistrik, untuk menginventarisasikan sisipan mineral yang terkandung pada daerah gamping di Puger Kabupaten Jember. Sisipan mineral di Puger lebih didominasi oleh mineral mangan dengan keberadaannya tidak merata, tergantung pada kondisi lingkungan yang memungkinkan mineral tersebut dapat terbentuk. Mineral mangan terbentuk akibat proses mineralisasi magma berupa logam berwarna putih-kelabu dan mudah teroksidasi, diantaranya terdapat dalam bentuk MnO3. Mineral tersebut banyak digunakan dalam industri besi dan baja serta baterai. Batuan mineral dengan sisipan mangan bisa dikatakan layak jual di pasaran internasional jika minimal mengandung sekitar 35% unsur mangan. Batuan mineral sisipan mangan Indonesia saat ini kebanyakan diekspor untuk memenuhi kebutuhan industri di China.
Geologi prospek mineral di Puger termasuk formasi Puger yang didominasi oleh batu gamping terumbu bersisipkan breksi batugamping dan batugamping tufan yang diduga berumur akhir Miosen tengah sampai Miosen akhir. Keberadaan sisipan mineral di puger tidak ditemukan di semua tempat akan tetapi bersifat sporadis. Dengan menggunakan metode pencitraan geolistrik, daerah-daerah yang mengandung potensi mineral diharapkan dapat dideteksi dan dipetakan guna penginventarisasian berdasarkan data hasil penelitian metode magnetik.HB-201
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED INSTRUCTION UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN KETUNTASAN HASIL BELAJAR FISIKA SISWA KELAS VII B DI SMP NEGERI 14 JEMBER TAHUN AJARAN 2013/2014
This research focused on the implementation of Problem Based Instruction models
in Junior High School 14 Jember year 2013/2014. The purposes of these research were to
increase the learning activity and physics learning mastery of students by using Problem
Based Instruction models at class VII B Junior High School 14 Jember year 2013/2014.
The kind of this research was an action class research. Technique of data collection were
observation, documentation, interview and test. Technique of data analysis were descriptive
qualitative and quantitative. Result of this study were: 1) students’ learning activities in the
pre-cycle of 36,18% (less category), cycle 1 of 64.14% (medium category), and cycle 2 of
71.70 (medium category), 2) mastery of learning outcomes increase from pre-cycle to cycle
1 with Normalized Gain is 0,37 and pre-cycle to cycle 2 with Normalized Gain is 0,55. The
study can be concluded that Problem Based Instruction models both of the improvement of
students’ learning avtivities and students’ physics learning mastery at class VII B Junior
High School 14 Jember year 2013/2014 in medium category
- …
