1,721,208 research outputs found

    SHOPEE DAN PEREMPUAN: Sebuah Tinjauan Sosio – Feminis terhadap Konstruksi Citra Perempuan melalui Iklan di Shopee

    Full text link
    Iklan adalah alat yang efektif dalam menyampaikan pesan secara cepat dan serentak. Sehingga, iklan bisa menjadi cara yang efektif dalam melanggengkan, mempertajam serta membentuk citra perempuan. Melalui lokapasar seperti Shopee, konstruksi citra perempuan kerap kali dipresentasikan dengan standar-standar tertentu yang mencerminkan tuntutan sosial dan ekonomi. Fenomena ini, membuat penulis ingin mengkaji secara sosio-feminis konstruksi citra perempuan melalui iklan yang ada di Shopee. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi dan etnografi digital. Melalui pendekatan ini penulis ingin memahami pola dan perilaku di ranah digital, terlebih khusus Shopee, lalu mendeskripsikan pengalaman para pengguna aktif Shopee dalam melihat bintang iklan perempuan serta konstruksi yang diproduksi, dilanggengkan melalui iklan di Shopee. Tulisan ini menunjukkan bagaimana iklan, khususnya di Shopee memainkan peran penting dalam membentuk dan memperkuat citra serta identitas perempuan melalui mekanisme performativitas gender dan manipulasi psikologis. Iklan tidak hanya merefleksikan standar sosial yang ada tetapi juga menciptakan ilusi dan tekanan bagi perempuan untuk memenuhi standar kecantikan dan peran gender tertentu. Dengan menggunakan simbol-simbol magis dan narasi menarik, iklan memanipulasi keinginan dan kecemasan perempuan, membuat mereka merasa bahwa produk yang diiklankan adalah esensial untuk mencapai citra diri yang ideal dan kebahagiaan. Singkatnya, iklan menjadi alat yang kuat dalam melanggengkan stereotip gender dan norma sosial, yang kemudian diinternalisasi oleh masyarakat sebagai “kenyataan” yang harus diikuti.Advertising is an effective tool for delivering messages quickly and simultaneously. As a result, advertising can be an effective way to perpetuate, sharpen, and shape the image of women. Through marketplaces like Shopee, the construction of women's images is often presented with specific standards that reflect social and economic demands. This phenomenon led the author to explore the socio-feminist construction of women's images through advertisements on Shopee. This research employs qualitative methods with a phenomenological and digital ethnographic approach. Through this approach, the author seeks to understand patterns and behaviors in the digital realm, particularly on Shopee, and to describe the experiences of active Shopee users in observing female advertisement models and the constructions produced and perpetuated through Shopee ads. This study highlights how advertising, especially on Shopee, plays a significant role in shaping and reinforcing women's images and identities through the mechanisms of gender performativity and psychological manipulation. Advertisements not only reflect existing social standards but also create illusions and pressures for women to meet certain beauty standards and gender roles. By using magical symbols and engaging narratives, advertisements manipulate women's desires and anxieties, making them feel that the advertised products are essential for achieving an ideal self-image and happiness. In short, advertising becomes a powerful tool in perpetuating gender stereotypes and social norms, which are then internalized by society as the "reality" that must be followe

    Tinjauan Teologi Disabilitas Terhadap Program Dinas Sosial Pemerintah Pada Disabilitas Kota Salatiga

    Full text link
    Tujuan penelitian ini adalah ingin melihat bagaimana program kerja yang dilakukan oleh Dinas Sosial Pemerintah Kota Salatiga dalam pemenuhan hak penyandang Disabilitas di kota Salatiga yang akan ditinjau melalui teologi disabilitas. Jenis penelitian yang digunakan penulis adalah desktiptif kualitatif. Metode penelitian kualitatif merupakan metode penelitian yang berfokus pada suatu pengamatan yang dilakukan secara mendalam terhadap objek penelitian. Pendekatan yang penulis gunakan adalah fenomenologis, yang memanfaatkan pengumpulan data melalaui observasi dan wawancara. Dinas sosial di Kota Salatiga memiliki beberapa program yang ditujukan untuk kaum disabilitas. Program tersebut meliputi respons kasus, visitasi dan verifikasi informasi, bantuan alat bantu, bantuan bahan pokok, dan program pengembangan keterampilan. Melalui penelitian yang telah dilakukan menurut responden, program-program dinas sosial dianggap efektif karena program-program tersebut tepat sasaran dan program dinas sosial sudah memadai dalam memberikan dukungan kepada penyandang disabilitas. Kata Kunci: Teologi Disabilitas, Dinas Sosial, Program Kerja Abstract The purpose of this research is to see how the work program carried out by the social service government of the city of Salatiga in fulfilling the rights of persons with disabilities in the city of Salatiga will be reviewed through disability theology. The type of research used by the author is descriptive qualitative. Qualitative research method is a research method that focuses on an in-depth observation of the research object. The approach that the author uses is phenomenological, which utilizes data collection through observation and interviews. The social service in Salatiga City has several programs aimed at people with disabilities. The program includes case response, visitation and information verification, assistance with tools, assistance with basic materials, and skills development programs. According to the research conducted by the respondents, social service programs are considered effective because these programs are right on target and social service programs are adequate in providing support to persons with disabilities. Keywords: Disability Theology, Social Service, Work Progra

    Kajian Teologi Sosial terhadap Peran GMIT Emaus Liliba dalam Mengatasi Masalah Stunting

    Full text link
    Stunting sudah menjadi sejarah di NTT, bahkan NTT menjadi provinsi dengan tingkat prevelensi stunting tertinggi sebesar 35,5 % berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tentang prevelensi stunting pada tahun 2022. Tentunya dalam mengatasi masalah stunting di provinsi ini butuh kerjasama dari semua pihak bukan hanya dari pemerintah. Pemerintah dan Sinode GMIT sudah menghimbau kepada gereja-gereja untuk turut terlibat mengatasi masalah ini, di NTT sudah banyak gereja di perkotaan yang mengadakan program penurunan stunting dan masih banyak juga gereja-gereja di pedesaan yang kasus stunting dalam jemaatnya lebih banyak tetapi belum mengadakan program mengatasi stunting dikarenakan minimnya anggaran. Penulis menyadari bahwa banyak gereja sedang membutuhkan wawasan terkait peran dan program yang dapat dijalankan dalam mengatasi stunting, Karena itu penelitian ini bermaksud untuk meneliti terkait peran gereja dalam mengatasi masalah stunting. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk dapat membantu gereja-gereja yang selama ini sedang mengadakan program mengatasi stunting maupun yang belum mengadakan program mengatasi stunting dengan memberikan wawasan terkait contoh-contoh peran yang dapat dilakukan, dan untuk melihat bagaimana kajian Teologi Sosial terhadap peran gereja dalam mengatasi masalah stunting. Dalam penelitian ini penulis menjadikan GMIT Emaus Liliba untuk menjadi tempat penelitian penulis. Metode penelitian yang digunakan penulis adalah metode “Grounded Descriptive” oleh Jhon Creswell, dan menggunakan kajian Teologi Sosial. Melalui penelitian ini penulis menemukan bahwa program yang dipilih ini efisien dengan waktu, tenaga, biaya serta tepat sasaran, sehingga membuahkan hasil melalui peningkatan berat badan anak-anak jemaat dalam setiap bulan. Diharapkan melalui penelitian ini banyak gereja mendapatkan wawasan dan dorongan dalam mengatasi masalah stunting.Stunting has become a persistent issue in NTT, In fact, NTT boasts the highest stunting prevalence rate in Indonesia at 35.5%, as reported by the Indonesian Nutrition Status Survey (SSGI) in 2022. Of course, overcoming the problem of stunting in this province requires cooperation from all parties, not just from the government. The government and the GMIT Synod have appealed to churches to get involved in overcoming this problem. While many urban churches in NTT have initiated stunting reduction programs, numerous rural churches still grapple with a higher incidence of stunting among their congregations, hindered by financial constraints preventing them from launching such initiatives. The author realizes that many churches are in need of insight regarding the roles and programs that can be carried out in overcoming stunting, therefore in this study the author intends to examine the role of the church in overcoming the problem of stunting. The research's purpose is to assist churches, both those currently implementing stunting programs and those not yet engaged, by offering insights into potential roles and program models. Additionally, the study seeks to explore how Social Theology examines the church's role in overcoming stunting. In this research the author selects GMIT Emaus Liliba, which is currently implementing a stunting reduction program, as the focus of the study. The research method used by the author is the "Grounded Descriptive" method by Jhon Creswell, and uses the study of Social Theology. Through this research, the author concludes that the selected program is effective in terms of time, energy, cost, and target accuracy, resulting in notable improvements in the weight of the congregation's children each month. It is anticipated that this research will provide valuable insights and motivation for numerous churches in addressing the issue of stunting

    Kajian Antropologi Agama Terhadap Tradisi Upakara Lampus Sebagai Bentuk Ikatan Sekala Dan Niskala Di Desa Tigawasa

    Full text link
    Bali merupakan salah satu pulau terbesar yang ada di Indonesia yang didalamnya terdapat banyak sekali warisan-warisan berupa kebudaya, ritual, tradisi yang masih dijalankan dan dilestarikan oleh penduduk Bali. Keberadaan warisan-warisan ini memberikan sebuah gambaran secara luas bahwa pentingnya pengenalan terhadap warisan tersebut kepada generasi selanjutnya dengan tujuan agar warisan yang telah dibangun tidak punah. Pengenalan akan warisan-warisan tersebut tidak hanya dipelajari oleh orang tua saja tetapi warisan juga tampaknya telah diajarkan kepada anak-anak muda serta generasi sekarang. Salah satu warisan yang masih dijalankan oleh masyarakat Bali sampai saat ini adalah tradisi upacara kematian, dalam masyarakat Bali Aga Upakara Lampus atau upacara kematian merupakan salah satu tradisi yang tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang karena Upakara Lampus adalah sebuah tradisi yang sangat sakral yang didalamnya terdapat aturan serta adat istiadat yang telah ada sejak dahulu kala. Oleh karena itu, melalui tulisan ini penulis ingin menjelaskan bahwa walaupun perkembangan zaman mulai berkembangan keberadaan tradisi pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia, hal tersebut tampak melalui pengenalan secara dini kepada generasi muda tentang keberadaan tradisi ditengah-tengah masyarakat. Adapun metode penelitian yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang didalamnya menggambarkan dan mejelaskan peristiwa serta fenomena sosial yang terjadi dalam sebuah masyarakat, metode yang digunakan yaitu observasi, wawancara serta dokumentasi. Penulis melihat dalam penelitian ini ada tiga hasil yang didapatkan dalam penelitian ini yang pertama, gambaran umum masyarakat Tigawasa, kedua, Proses tradisi Upakara lampus, dan ketiga, nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Upakara Lampus.Bali is one of the largest islands in Indonesia where there are many heritages in the form of culture, rituals, traditions that are still carried out and preserved by the Balinese people. The existence of these heritages provides a broad picture that the importance of recognizing this heritage to the next generation with the aim that the heritage that has been built does not become extinct. The introduction of these heritages is not only learned by the elderly but the heritage also seems to have been taught to young children and the current generation. One of the heritages that is still carried out by the Balinese people today is the tradition of death ceremonies, in the Balinese Aga Upakara Lampus or death ceremony is one of the traditions that cannot be carried out by just anyone because Upakara Lampus is a very sacred tradition in which there are rules and customs that have existed since time immemorial. Therefore, through this paper the author wants to explain that even though the times have begun to develop the existence of tradition is essentially inseparable in human life, this can be seen through early introduction to the younger generation about the existence of tradition in the midst of society. The research method used by the author in this research is descriptive qualitative in which it describes and explains social events and phenomena that occur in a society, the methods used are observation, interviews and documentation. The author sees in this study that there are three results obtained in this study, first, an overview of the Tigawasa community, second, the Upakara lampus tradition process, and third, the values contained in the Upakara Lampus tradition

    Kajian Sosio-Pedagogis Terhadap Peran Guru Sekolah Minggu Dalam Penggunaan Gadget (Handphone) Oleh Anak Sekolah Minggu Usia 6-9 Tahun di HKBP Boyolali

    Full text link
    Penelitian ini mengkaji bagaimana peran guru sekolah minggu HKBP Boyolali dalam penggunaan gadget oleh anak usia 6-9 tahun di era sekarang ini. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan dan meninjau secara sosio pedagogis bagaimana peran guru sekolah minggu dalam penggunaan gadget oleh anak sekolah minggu di HKBP Boyolali. Peter Berger mengatakan bahwa guru perlu membangun interaksi atau kedekatan dengan muridnya dalam melakukan pengajaran. Diana Widhi Rachmawati mengatakan bahwa pedagogi mempunyai prinsip dalam melakukan pengajaran atau didikan salah satunya berkaitan dengan motivasi seorang guru dalam melakukan kegiatan pembelajaran. Selain motivasi juga dibutuhkan kemampuan untuk mendesain pembelajaran dengan baik yang menunjang jalannya proses pembelajaran salah satunya dengan menggunakan media teknologi. Metode penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah metode penelitian kualitatif deskriptif. Dari hasil penelitian yang penulis peroleh, anak sekolah minggu cenderung lebih suka terhadap gadgetnya dibandingkan dengan mendengar pengajaran yang diberikan oleh guru sekolah minggu. Oleh sebab itulah guru sekolah minggu dianggap sebagai pengajar yang kreatif apabila dalam pengajaran yang dilakukan itu menggunakan media-media teknologi seperti handphone dengan mencoba membuat pengajaran baru berbasis permainan serius tentang cerita Alkitab yang dapat diakses lewat gadget. Dari hasil penelitian ini, penulis menemukan bahwa peran guru sekolah minggu adalah sebagai pengajar yang kreatif yang menggunakan teknologi dan sebagai penyedia bahan ajar berbasis teknologi digital sehingga peran guru sekolah minggu dalam penggunaan gadget itu adalah membuat pola pengajaran kepada anak sekolah minggu berbasis digital sehingga penggunaan gadget oleh anak sekolah minggu terfokus kepada bahan ajar yang disediakan secara digital yang bisa diakses lewat gadget masing-masing.This research examines the role of HKBP Boyolali Sunday school teachers in usegadget by children aged 6-9 years in today's era. The aim of this research is to describe and review socio-pedagogically how the role of Sunday school teachers is usedgadget by Sunday school children at HKBP Boyolali. Peter Berger said that teachers need to build interaction or closeness with their students in teaching. Diana Widhi Rachmawati said that pedagogy has principles in carrying out teaching or upbringing, one of which is related to a teacher's motivation in carrying out learning activities. Apart from motivation, the ability to design learning well is also needed to support the learning process, one of which is using technological media. The research method carried out by the author is a descriptive qualitative research method. From the research results obtained by the author, Sunday school children tend to preferthe gadget compared to listening to a lesson given by a Sunday school teacher. That is why Sunday school teachers are considered to be creative teachers when they use technological media such as teachingcell phone by trying to make a new, serious game-based teaching about Bible stories accessible throughgadget. From the results of this research, the author found that the role of Sunday school teachers is as creative teachers who use technology and as providers of digital technology-based teaching materials so that the role of Sunday school teachers in usinggadget that is to create a teaching pattern for Sunday school children based on digital until usegadget by Sunday school children focused on teaching materials provided digitally which can be accessed viagadget respectively

    Pluralisme Dalam Pemahaman Iman GPIB Studi Kasus di GPIB Tamansari Salatiga, Pos Pelkes Kalimangli

    Full text link
    Sebagai minoritas ada tantangan tersendiri bagi Kekristenan dalam menyikapi isu pluralisme di Indonesia. Hal ini juga perlu mendapat perhatian bagi GPIB dalam melaksanakan panggilan pengutusannya. Kehadiran GPIB di tengah masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam perlu hikmat dan pemahaman yang memadai mengenai pluralisme agar pada satu sisi tidak menjadi eksklusif dan menutup diri terhadap mereka yang berbeda, tetapi juga tidak menjadi inferior dengan keberadaannya sebagai minoritas. Penelitian ini hendak mengkaji bagaimana pluralisme yang dimaksud dalam Pemahaman Iman GPIB 2021 dan bagaimana implementasinya di GPIB Tamansari Salatiga Pos Pelayanan dan Kesaksian (Pelkes) Kalimangli. Penulis menganggap penelitian sebagai hal yang penting agar gereja (GPIB) dapat memetakan sejauh mana pemahaman iman GPIB itu dilaksanakan dalam perjumpaan dengan masyarakat yang plural. Sehingga pemahaman iman GPIB itu bukan hanya merupakan konsep teologis yang tidak berkaitan langsung atau sulit untuk diimplementasikan oleh warga gereja.As a minority, Christianity faces unique challenges in responding to the issue of pluralism in Indonesia. This also needs attention from GPIB in carrying out its calling to be sent. The presence of GPIB amid Indonesian society, which is predominantly Muslim, requires wisdom and adequate understanding of pluralism so that on the one hand it does not become exclusive and close itself off from those who are different, but also does not become inferior to its existence as a minority. This study examines how pluralism is meant in the 2021 GPIB Understanding of Faith and how it is implemented at GPIB Tamansari Salatiga Kalimangli Service and Testimony Post (Pelkes). The author considers research important so that the church (GPIB) can map the extent to which GPIB's understanding of faith is implemented in encounters with a pluralistic society. So GPIB's understanding of faith is not only a theological concept that is not directly related or difficult to implement by church members

    Fungsi Tutur Siwaluh dalam Relasi Sosial Pelayan GBKP Teuku Umar (Kajian Agama dan Kebudayaan)

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pandangan pelayan gereja terhadap fungsi Tutur Siwaluh dalam relasi sosial pelayan GBKP Teuku Umar. Fokus penelitian ini ialah pelayan (serayan) Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) Teuku Umar. Metode penelitian yang digunakan yaitu kualitatif deskriptif. Hasil penelitian yang dilakukan penulis menunjukkan bahwa budaya Tutur Siwaluh yang merupakan salah satu unsur dalam konsep ertutur yang fungsinya menetukan kedudukan, sistem kekerabatan dan sapaan seseorang dalam relasi sosial dan berbudaya. Berdasarkan hasil penelitian penulis menemukah bahwa ternyata dalam kehidupan berpelayanan Tutur Siwaluh hanya dipahami dalam tataran ide saja namun, dalam praktiknya masih kurang. Hal ini terlihat dalam cara mereka berkomunikasi antara pelayan satu dengan pelayan lainnya. Mereka tidak menggunakan sapaan atau panggilan yang ada dalam sistem Tutur Siwaluh. Para pelayan berperilaku baik atau bersosial baik karena adanya tuntutan dan aturan yang diikat oleh gereja. Fenomena ini terjadi dikarenakan kurangnya pemahaman mengenai budaya terlebih pemahaman fungsi Tutur Siwaluh. Jika dinilai dalam teori Clifford Geertz dan Hebert Blumer tidak sesuai karena Geertz mengatakan agama dan kebudayaan bisa saling mengisi dan berjalan bersama. Blumer juga mengatakan bahwa relasi sosial dapat berjalan dengan baik membutuhkan sebuah simbol yang ideal.This study aims to determine and analyze the views of church servants on the function of Tutur Siwaluh in the social relations of GBKP Teuku Umar servants. The focus of this research is the servant (serayan) of the Batak Karo Protestant Church (GBKP) Teuku Umar. The research method used is descriptive qualitative. The results of the research conducted by the author shows that the Tutur Siwaluh culture is one of the elements in the ertutur concept whose function is to determine one's position, kinship system and greeting in social and cultural relations. Based on the results of the research, the authors found that in service life Tutur Siwaluh is only understood as an idea, however, in practice it is still very much lacking. This can be seen in the way they communicate between one servant and another. They do not use greetings or calls that are in the Tutur Siwaluh. The servants behave well or socialize well because of the demands and rules that are bound by the church. This phenomenon occurs due to a lack of understanding of culture, especially understanding the function of Tutur Siwaluh. If judged using theories made by Clifford Geertz and Hebert Blumer it is not appropriate because Geertz said religion and culture can complement each other and work together. Blumer also said that in order for social relations to work well they require an ideal symbol

    Kepemimpinan Pendeta yang Transformatif dan Rekonsiliatif di Jemaat GMIH Syalom-Toliwang, Kabupaten Halmahera Utara

    Full text link
    Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan kepemimpinan pendeta yang transformatif dan rekonsiliatif di jemaat GMIH-Syalom Toliwang. Pada Tahun 2013 Sinode GMIH mengalami konflik, hal tersebut merambat sampai di jemaat-jemaat. Penulis tertarik untuk melihat bagaimana cara pemimpin jemaat dalam menyikapi situasi konflik. Metode penelitian yang digunakan penulis adalah metode kualitatif yakni deskriptif-analitis dengan teknik pengumpulan data yaitu wawancara kepada majelis dan warga jemaat dengan ragam kategori. Hasil penelitian yang didapati penulis adalah relasi jemaat antar satu dengan yang lainnya menjadi tidak rukun. Pasca konflik jemaat hidup dalam kericuhan, tekanan, tidak nyaman dan penuh ketegangan. Dampak dari perpecahan tersebut mengakibatkan hubungan kekeluargaan menjadi renggang, bahkan sampai mempengaruhi iklim bermasyarakat di desa menjadi tidak kondusif. Situasi yang berkonflik tersebut mampu diatasi oleh pimpinan jemaat, melalui cara hidup dan strateginya membangun komunikasi antar kedua pihak jemaat yang telah terpecah. Keberhasilannya sebagai agen perubahan di tengah-tengah perpecahan jemaat tersebut yang oleh penulis relevan dengan konsep kepemimpinan yang transformatif dan rekonsiliatif. Kepemimpinannya memberi dampak positif dan perkembangan kehidupan berjemaat ke arah positif. Jemaat mampu hidup dalam perdamaian, seperti situasi sebelum terjadinya konflik. Keberhasilan ini tentu saja diawali dari pimpinan jemaat yang menghayati panggilannya dalam merealisasikan teladan dari Yesus Kristus, sehingga ia juga mampu menginspirasi warga jemaat.This paper aims to describe the transformative and reconciliative leadership of pastors in the GMIH-Syalom Toliwang congregation. In 2013 the GMIH Synod experienced a conflict, which spread to the congregations. The author is interested in seeing how the congregation leaders deal with conflict situations. The research method used by the author is a qualitative method, namely descriptive-analytical with data collection techniques, namely interviews with assemblies and congregation members with various categories. The results of the research found by the author are that the congregation's relationship with each other is not harmonious. After the conflict the congregation lived in chaos, pressure, discomfort and tension. The impact of the split resulted in family relationships becoming tenuous, even to the point of affecting the social climate in the village to become unfavorable. The conflicting situation was overcome by the church leader, through his way of life and his strategy of building communication between the two parties of the congregation that had been divided. His success as an agent of change in the midst of the church split is relevant to the concept of transformative and reconciliatory leadership. His leadership had a positive impact and the development of congregational life in a positive direction. The congregation is able to live in peace, just like the situation before the conflict. This success certainly begins with the church leader who lives his calling in realizing the example of Jesus Christ, so that he is also able to inspire the congregation

    Kekerabatan Lintas Agama Pada Masyarakat Kokoda di Kampung Usili Kabupaten Sorong

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai falsafah yang menjadi dasar hubungan kekerabatan lintas agama pada masyarakat Kokoda di kampung Usili Kabupaten Sorong dan menganalisis dengan teori solidaritas mekanis Emile Durkheim. Metode penelitian yang dipakai ialah penelitian kualitatif dengan jenis penelitian etnografi. Penelitian ini menggunakan Teknik pengumpulan data melalui wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai pada prinsip torang satu keluarga yang meyakini bahwa pada dasarnya masyarakat Kokoda di kampung Usili berasal dari leluhur yang sama telah menjadi sebuah kesadaran kolektif untuk membangun kekerabatan lintas agama pada masyarakat. Kesadaran kolektif ini telah membentuk masyarakat menjadi komunitas moral dengan standar-standar moral yang didasarkan pada nilai keluarga. Oleh masyarakat standar moral ini di patenkan sebagai konsep paham agama keluarga yang di bentuk dalam upaya untuk tetap mempertahankan solidaritas mekanis ditengah masyarakat. Solidaritas mekanis itu tergambar jelas melalui praktik-praktik dalam paham agama keluarga.This research aims to describe the philosophical values that form the basis of interreligious kinship relations at Kokoda community in Usili village, Sorong Regency then researcher analyze it using Emile Durkheim's theory of mechanical solidarity. The research method used is qualitative research with an ethnographic type of research. This research use data collection techniques such as interviews and observation. The results of this research, show that the value of the principle of one family which believes that basically the Kokoda community in Usili village comes from the same ancestors has become a collective consciousness to build interfaith kinship in the community. This collective consciousness has shaped society into a moral community within moral standards based on family values. This moral standard has been patented by society as a concept of family religion which was formed in an effort to maintain mechanical solidarity in society. This mechanical solidarity is clearly illustrated through practices in family religious understanding

    Kajian Sosio-Teologis terhadap “Pasu-pasu Ni Tulang dalam Pesta Adat Pernikahan Masyarakat Batak Toba di desa Palas”

    Full text link
    Penelitian ini berfokus pada persoalan tentang bagaimana pemahaman dan pemaknaan Pasu-pasu Ni Tulang dalam pesta ada pernikahan Batak Toba di desa Palas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pasu-pasu Ni Tulang adalah tradisi dalam budaya Batak Toba. Pasu-pasu Ni Tulang merupakan sarana untuk menerima berkat yang akan diberikan oleh Tulang kepada bere. Dalam budaya Batak Toba, Dalihan Na Tolu merupakan alat komunikasih dalam melakukan permohonan berkat dari Tulang agar diberkati, dan tradisi ini yang akan menjadi acuan bagi masyarakat Batak Toba di desa Palas untuk berkomunikasi dalam melakukan proses upacara adat Batak Toba yang dilakukan. Secara teologis, Pasu-pasu Ni Tulang merupakan perpanjang tangan kepada Tuhan dan memohon doa agar bere diberkati dimanapun berada. Oleh karena itu berkat yang sesungguhnya hanya dari Allah, sebab Allah yang mempunyai sumber kehidupan bagi manusia. Ini adalah tujuan dan metode kepada gereja HKBP Moria Palas agar dapat memberikan pemahaman berkat kepada jemaat.This study focuses on the issue of how to understand and interpret the Ni Bone Pasu at a Batak Toba wedding party in Palas village. This study uses a qualitative method with a descriptive type. The results of this study indicate that the Ni Bone Pasu are a tradition in the Toba Batak culture. Pasu-pasu Ni Bone is a means to receive the blessings that will be given by Bones to bere. In Toba Batak culture, Dalihan Na Tolu is a communication tool in requesting a blessing from the Bone to be blessed, and this tradition will become a reference for the Toba Batak people in Palas village to communicate in carrying out the Toba Batak traditional ceremony process. Theologically, Pasu-pasu Ni Bone is an extension of the hand to God and asks for prayers to be blessed wherever he is. Therefore, the real blessing is only from God, because God has the source of life for humans. This is the goal and method for the HKBP Moria Palas church in order to provide an understanding of blessings to the congregation
    corecore