57 research outputs found

    PERAN DAN PERJUANGAN KIAI MASYKUR DI DESA KARANGSARI WERU CIREBON (1835-1961)

    Full text link
    Islamisasi di Nusantara terutama pada masa Pemerintahan Hindia Belanda mengalami fase yang sangat sulit. Hal ini terjadi karena upaya Belanda untuk mengontrol perkembangan Pan Islamisme yang salah satunya dipelopori oleh kalangan sufi pengembara. Belanda kemudian menegakkan aturan rust en orde secara ketat. Sehingga pergerakan kalangan agamawan menjadi sangat terbatas dan selalu berada di bawah tekanan. Mengatasi hal ini, Kiai Masykur membangun poros kekuatan melalui strategi diplomatis demi menjaga kelangsungan proses tarbiyah dan al-ishlah yang dilakukannya untuk membentuk masyarakat yang lebih berdaya dalam hal agama maupun sosial ekonomi. Oleh karena itu, target dakwah dan tarbiyah beliau mencakup tarbiyah iqtishadiyah, menyebarkan ajaran tarekat Qadiriyah dan simbolisasi makna filosofis ajaran Bayt 12 kepada masyarakat. Hal ini beliau lakukan untuk menjaga dan menghindari pengintaian Belanda yang juga sempat menyusup ke dalam Pesantren Mukasyafah ‘Arifin Billah yang beliau dirikan itu. Di sisi lain, kitab Bayt 12 yang beliau ajarkan pun tidak lepas dari polemik dan kontroversi yang datang dari kalangan ulama dan masyarakat awam yang merasa aneh dengan pola tarbiyah Islam yang memanfaatkan angka dan simbol uleg-cobek. Kata kunci: Kiai Masykur, Pesantren Mukasyafah ‘Arifin Billah, Bayt 12, dakwah, tarbiyah iqtishadiyah Â

    TRACER STUDY KOMPETISI ALUMNI JURUSAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM (SKI) DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0:PELUANG DAN TANTANGAN

    Full text link
    Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) merupakan salah satu program studi yang ada di Fakultas Ushuluddin Adab Dakwan IAIN Syekh Nurjati Cirebon yang menyelenggarakan pendidikan tinggi dalam bidang sejarah dan kebudayaan Islam. Untuk mengevalusi keberhasilan program studi dalam mewujudkan tujuannya, maka dilakukan studi penelusuran alumni (tracer study) dan respon pengguna (stakeholder) untuk memperoleh data yang dapat dijadikan sebagai pedoman pengembangan jurusan untuk ke depannya, salah satunya adalah dalam penilaian akreditasi jurusan. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui dan mengkaji profil lulusan Jurusan SKI tahun 2015-2018; (2) Respon Alumni terhadap proses pembelajaran, fasilitas penunjang perkuliahan, dan pelayanan pada Jurusan SKI; (3) Relevansi keahlian dan latar belakang pendidikan dalam pengembangan karir yang terdiri dari beberapa poi, pertama, kesesuaian pendidikan dengan pekerjaan; Kedua, relevansi kurikulum dan ketepatan mata kuliah dalam pengembangan karier; Ketiga, keterampilan bahasa asing dan teknologi informasi; dan Kelima, Manfaat Keilmuan yang diperoleh dari Jurusan SKI; (4) Respon dari pengguna alumni dan mengukur keterserapan alumni pada dunia kerja. Penelitian ini menggunakan metode deskripif kualitatif dan pengumpulan datanya dilakukan dengan mengisi kuesioner serta wawancara melalui telepon. Data disajikan melalui tabel dan grafik kemudian data tersebut dianalisis dan dideskriptifkan sedemikian rupa sehingga bisa mendapatkan jawaban dari permasalahan yang sedang dihadapi. Dari hasil penelitian diperoleh jawaban dari tiga poin rumusan masalah di atas adalah, Pertama, Profil alumni Jurusan SKI antara lain sejarawan, pencipta karya naratif, pemandu wisata sejarah, pemerhati budaya dan lainnya yang memiliki kemampuan untuk mengadaptasi ilmu pengetahuan serta teknologi. Kedua, Perihal pelayanan yang diberikan oleh institusi kampus, baik itu yang terkait dengan proses pembelajaran, fasilitas penunjang kegiatan proses perkuliahan, maupun pelayanan Jurusan SKI, Dosen Pembimbing Akademik, Dosen Mata Kuliah, ataupun pelayanan dari sraf jurusan. Alumni memberikan respon yang sangat baik mengenai poin-poin tersebut. Ketiga, alumni mendapatkan manfaat dari proses pemelajaran di Jurusan SKI. Bekal ilmu yang telah mereka dapatkan, mereka pergunakan untuk mencari lapangan pekerjaan dan membuka lapangan pekerjaan. Selain itu juga Lulusan Jurusan SKI dapat memperoleh pekerjaan yang sangat beragam dan tidak hanya yang berkaitan dengan ruang ligkup dunia sejarah dan kebudayaan, akan tetapi mereka bisa mempraktekkan ilmu yang mereka peroleh pada bidang-bidang lainnya dan pastinya mereka bisa sangat bersaing di era industry 4.0 saat ini, seperti wirausahawan, fasilitator program JAPFA4KIDS untuk mengelola dana CSR PT.Japfa Comfeed Indonesia Tbk, HRD pada PT. Sarana Intipresisi, dan pekerjaan lainny

    Memahami Bentuk Gerakan Perlawanan Rakyat dalam Perang Kedongdong (1802-1818 M)

    Full text link
    AbstrakPenjajahan Belanda yang terjadi selama bertahun-tahun di atas tanah Cirebon mengakibatkan eksploitasi sumber daya alam dan manusia yang berimbas pada penderitaan yang berkepanjangan. Tentu menyisakan penderitaan yang berkepanjangan bagi rakyat. Melihat hal ini, para ulama Cirebon kemudian memassifkan gerakan sosial yang dibangunnya sebagai bentuk reaksi rasional rakyat untuk merebut kemerdekaan dan memperjuangkan hak-haknya atas dominasi dan penjajahan bangsa lain di atas tanah airnya sendiri. Selain tentu saja, hal ini juga dilakukan karena masyarakat sudah terlebih dahulu menyadari bahwa mereka tidak dilengkapi persenjataan yang lengkap dan canggih. Para ulama dalam hal ini memainkan peran sebagai tokoh sentral yang mampu menggerakkan kekuatan rakyat dan melakukan berbagai perlawanan terutama untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat di bidang keagamaan, politik, sosial, ekonomi dan lain sebagainya. Meski melibatkan elemen massa yang beragam mulai dari petani, pejabat keraton, dan para dalang wayang kulit, dengan bekal jihad yang terus didengungkan mendapatkan aksi balasan yang kemudian membuatnya dipenjara, diasingkan bahkan sampai dibunuh. Sementara pesantren-pesantren yang dibangun oleh para ulama ini juga mendapatkan bombardir dari pihak kolonial tersebut

    KELAS SOSIAL DALAM SISTEM LANDELIIJK STELSEL MASA RAFFLES (1811-1816)

    Full text link
    Alih-alih disebut sebagai motor penggerak perubahan birokrasi dari sistem pemerintahan tradisional ke modern, Raffles justru memberikan ruang dan kesempatan bagi para pejabat kolonial untuk semakin memperbesar kekuasaannya. Sementara, para raja, sultan dan penguasa lokal semakin dikecilkan perannya, terutama dalam kegiatan politik dan ekonomi. Salah satu bentuk reformasi birokrasi yang diputuskan oleh Raffles adalah penetapan Sistem Landeliijk Stelsel (Sewa tanah) yang dianggap mengawali perubahan dalam gerakan sosial budaya dan mengangkat posisi para petani dengan cara menghapuskan sistem tanam paksa menjadi sistem kontrak atas tanah. Sebaliknya, sistem ini menjadi bukti dominasi terhadap priyayi yang banyak dikurangi tersebut. Apalagi setelah Raffles membentuk kebijakan baru yaitu mengangkat pegawai Eropa. Para pegawai Eropa yang baru dan dijadikan sebagai petugas pendamping, pengawas para bupati dan para pengawas penghasilan yang diperoleh dari tanah (Opziener der landelijke inkomsten) yang kemudian disebut sebagai pangreh praja (Controleur van het Binnenlands Bestuur). Kata Kunci: tuan tanah, petani, sewa tanah, Raffle

    Jaringan Ulama Cirebon Abad ke-19 Sebuah Kajian Berdasarkan Silsilah Nasab dan Sanad

    Full text link
    Jaringan Ulama di Cirebon abad ke-19 merupakan rangkaian mata rantai keilmuan baik berupa sanad tarekat yang ketersambungannya merujuk kepada Rasulullah SAW maupun melalui jalur nasab yang dimiliki oleh para pendiri pesantren di Cirebon yang bermuara kepada Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Hidayat (1448-1568) sebagai pendiri kerajaan Cirebon pada abad ke-15. Keduanya merupakan entry poin yang dapat menghubungkan ketersambungan ulama atau lebih dikenal sebagai jaringan ulama pada abad sebelum dan sesudah abad ke- 19 tersebut. Peran Makkah dan Madinah saat itu, terutama pada abad ke-17 dan 18 bahkan memuncak pada abad ke-19, sangat signifikan dalam membentuk rekonsiliasi tasawuf (mistisisme Islam) dan syariat sehingga muncul istilah neo-sufisme. Dan salah satu bentuk dari neo-sufisme ini adalah pengajaran-pengajaran tarekat selain pengajaran Islam lainnya yang lebih berorientasi kepada fikih. Tarekat Syattariyah kemudian menjadi tarekat yang paling dominan yang diinisiasi oleh para ulama Cirebon yang kemudian membentuk jaringan tersendiri dalam wadah pesantren-pesantren yang tumbuh dan berdiri di Cirebon; selain tentu saja banyak tarekat-tarekat lainnya yang juga berkembang cukup signifikan dengan jumlah pengikut yang cukup massif. Keberadaan pesantren tidak bisa dilepaskan dari keberadaan halaqa; baik di Makkah atau di al-Azhar Kairo, sampai kemudian pesantren ini mengalami fungsi yang semakin meluas tidak hanya sebagai tempat kajian intelektual dan spiritual semata, tetapi juga sebagai tempat pengkaderan calon ulama-ulama yang kelak menjadi generasi penerus bagi terbentuknya jaringan ulama antar pesantren, khususnya yang berada di wilayah Cirebon

    MENELUSURI JEJAK DAN KIPRAH KIAI KHOLIL AL-BANGKALANI

    Full text link
    Kiai Kholil is a scholar of international scale and a pivot of power for the synergy of the scholars network of santri. Specifically, in the land of Madura and Tapal Kuda ranging from Situbondo, Banyuwangi, Probolinggo and Bondowoso with the network of Pesantren Sidogiri Pasuruan and Talangsari Jember. By this coordination he succeeded to gather those social groups through the Sabilillah-Hizbullah laskar which also connected the kinship line of his predecessors. He was able to capture the hidden potentials behind the land and Madurese community, as Snouck Hurgronje had assessed as central to the network of scholars of santri in Java. This paper intends to trace the life of Kiai Kholil Al-Bangkalani as one of the influential clerics of his time. The influence was built not only by the kinship line it possesses, but also pioneered with great soul and expertise in various sciences and studies of social religious fields of society. His thoughts were contained in a number of works that continue to adorn the treasury of science from the past until today.Keywords: Thought, Madurese, Ulama, Kiai Kholi

    PERAN TOKOH WANITA PADA MASA KOLONIALISME

    Full text link
    AbstractThe idea of Shrieke in his race theory, as quoted by Azra, says that the Portuguese expansion can not be separated from the Crusade War in Europe and the Middle East. It is further said that the desire of adventure and ambition of honor combined with religious spirit is the driving force that drives the expansion of the Portuguese into the Asian region. The arrival of the Portuguese came in early 1511 to Malacca, followed by other Europeans such as France, Britain and the Netherlands to various parts of the archipelago, ultimately creating resistance from the people of the archipelago. In an effort to defend his honor and his homeland, the indigenous fighters were not only from the Adam people, as some of them were heroes of the female sex. The colonial period and the effort to achieve independence are very difficult times to pass. Where at that moment, words no longer sounded but only the sounds of ammunition. This is certainly a difficult time especially for women. In this condition, they are required to maintain the honor and salvation of their own lives.Keywords: female, colonial, Islamizatio
    corecore