1,721,031 research outputs found

    UJI KUALITAS AIR MINUM DALAM KEMASAN (AMDKi DAN MINUM ISI ULANG DI DAERAH KAMPUS DALAM RANGKA KEAMANAN PANGAN

    No full text
    Air minum sisi ulang menunjukkan bahwa air-air tersebut tidak layak untuk dikonsumsi meskipun memiliki kenempakan, bau dan rasa yang baik karena dapat menjadi sumber penyakit pada manusi

    “Aktivitas Antimikroba Ekstrak Daun Tembakau Kasturi (Nicotiana tabacum L.) terhadap Pertumbuhan Streptococcus mutans dan Candida albicans”

    No full text
    Tembakau merupakan salah satu komoditi perkebunan yang banyak di budadayakan di wilayah Indonesia. Pemanfaatan paling utama dari tembakau yaitu bagian daunnya, untuk digunakan sebagai bahan utama dalam pembuatan rokok. Dalam dunia industri rokok daun tembakau memiliki standar tertentu yang mengakibatkan daun tembakau banyak yang tidak lolos sortir dan hanya terbuang atau terbengkalai. Daun tembakau yang tidak lolos sortir masih mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, saponin, steroid, alkaloid dan terpenoid yang bersifat sebagai antimikroba. Senyawa aktif yang ada didalam daun tembakau diekstrak menggunakan pelarut yang sesuai untuk menghasilkan senyawa aktif secara maksimal. Pada penelitian menggunakan dua jenis pelarut yaitu air dan etanol 80%. Penggunaan pelarut yang berbeda diharapkan mampu mengekstrak senyawa bioaktif yang terkandung dalam daun tembakau. Senyawa bioaktif yang ada dapat menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans dan Candida albicans

    Aktivitas Antioksidan Dan Antibakteri Ekstrak Buah Kelor (Moringa Oleifera L.) Terhadap Staphylococcus Aureus Dan Escherichia Coli

    No full text
    Kelor (Moringa oleifera L.) merupakan tanaman yang familiar bagi masyarakat karena persebaranya luas dan hampir dapat ditemui di seluruh wilayah Indonesia. Hampir semua bagian kelor dapat dimanfaatkan termasuk bagian daun dan buah kelor (klentang). Selama ini pemanfaatan tanaman kelor hanya sebatas dikonsumsi sebagai masakan sayur kelor. Biji buah kelor diketahui mampu menurunkan lipid peroksida hati dan antihipertensi. Biji buah kelor mengandung senyawa bioaktif seperti minyak atsiri, polifenol dan saponin. Biji buah kelor berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan antibakteri. Namun, kemampuan antibakteri dari buah kelor belum diketahui secara spesifik. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan aktivitas antibakteri dan antioksidan buah kelor

    Karakteristik Permen Jelly Jantung Buah Nanas dengan Variasi Konsentrasi Karagenan dan Suhu Pemanasan

    Get PDF
    Buah nanas memiliki daging buah yang kaya air dan zat gizi. Konsumsi buah nanas menghasilkan limbah berupa kulit, mata buah, dan jantung buah nanas. Jantung buah nanas merupakan bagian tengah buah nanas, bentuk memanjang, tekstur agak keras dan rasanya agak asam manis. Rasa asam manis dan kandungan nutrisi yang baik memungkinkan jantung buah nanas dapat dikembangkan menjadi produk olahan bernilai ekonomi, seperti permen jelly. Permen jelly memiliki tekstur yang kenyal, warna transparan, rasa manis, dan aroma buah-buahan. Sifat permen jelly tersebut sangat dipengaruhi oleh komponen pembentuk gel dan suhu pengolahan. Jenis bahan pembentuk gel banyak diantaranya karagenan. Penggunaan kombinasi konsentrasi karagenan, jantung buah nanas dan suhu pemasakan yang tepat dapat dihasilkan permen jelly yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi terbaik pembuatan permen jelly dengan variasi konsentasi bahan pengental (karagenan) dan suhu pemanasan. Penelitian ini dilakukan dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor yaitu variasi konsentrasi karagenan (2%, 3% dan 4%) (b/v) dan suhu pemanasan (70°C, 80°C, 90°C). Percobaan dilakukan 3 kali ulangan. Parameter yang diamati meliputi kadar abu, kadar air, vitamin C, sukrosa, gula reduksi, tekstur dan organoleptik warna, rasa, aroma, tekstur, daya kunyah, dan keseluruhan. Karakteristik permen jelly jantung buah nanas dengan konsentrasi penambahan karagenan yang semakin rendah akan meningkatkan kadar air, vitamin C, warna, aroma, rasa, dan kesukaan keseluruhan namun menurunkan tekstur, kadar abu, gula reduksi, sukrosa, tekstur organoleptik dan daya kunyah permen jelly jantung buah nanas. Peningkatan suhu pemanasan cenderung akan meningkatkan tekstur, kadar abu, gula reduksi, sukrosa, tekstur organoleptik dan daya kunyah, namun menurunkan kadar air, vitamin C, warna, aroma, rasa dan kesukaan keseluruhan permen jelly jantung buah nanas. Permen jelly jantung buah nanas dengan sifat-sifat baik dan disukai panelis diperoleh pada kombinasi formula konsentrasi karagenan 3% dan suhu pemanasan 90°C dengan nilai efektivitas 0,66. Formulasi permen jelly jantung buah nanas tersebut memiliki rata-rata nilai tekstur 376,47 ± 0,71 g/mm; kadar air 16,16 ± 0,37%; kadar abu 1,26 ± 0,24%; vitamin C 12,80 ± 0,69%; gula reduksi 11,90 ± 0,02%; sukrosa 28,55 ± 0,24%; organoleptik warna 3,76 (agak suka); organoleptik aroma 4,04 (agak suka); organoleptik rasa 4,28 (agak suka); organoleptik tekstur 4,6 (suka); organoleptik daya kunyah 4,76 (suka); organoleptik keseluruhan 4,12 (agak suka)

    Karakteristik Biji Kopi Robusta (Coffea Canephora) Berdasarkan Variasi Metode Pengeringan Greenhouse Dan Suhu Kamar Terhadap Mutu Fisik, Kimia Dan Citarasa

    No full text
    Di Indonesia jenis kopi yang paling banyak ditanam adalah kopi robusta dan arabika. Kopi robusta lebih banyak diminati oleh pelaku usaha dan konsumen karena cara perawatannya mudah dan lebih cepat panen. Jawa Timur merupakan salah satu provinsi yang mengalami penurunan produksi kopi. Produksi kopi Jawa Timur mengalami penurunan pada tahun 2017 hingga 2018 dari total produksi sebesar 64.804 ton menjadi 63.760 ton. Salah satu penyebab penurunan produksi adalah perubahan iklim yang mengakibatkan terhambatnya proses pengeringan. Proses pengeringan merupakan suatu tindakan perpindahan panas dari lingkungan yang berguna untuk menguapkan sejumlah air pada suatu permukaan bahan. Proses pengeringan pada biji kopi berguna untuk mengurangi kadar air hingga batas standart 12,5%. Saat ini proses pengeringan yang paling banyak digunakan adalah pengeringan tradisional dan pengeringan mekanis. Upaya penanganan permasalahan terhadap proses pengeringan masih kurang. Hal ini karena pengeringan yang tidak merata atau suhu yang digunakan sangat panas sehingga biji kopi berubah warna. Pengeringan greenhouse dan pengeringan suhu kamar merupakan salah satu alternatif yang dapat mencegah kerusakan pada biji kopi. Konsep dari kedua tempat pengeringan tersebut adalah udara panas terperangkap di dalam ruangan sehingga proses pengeringan tetap berlangsung saat intensitas matahari mengecil. Pengeringan greenhouse membutuhkan waktu pengeringan lebih cepat (6 - 7 hari, 40 ± 2oC) sedangkan pengeringan bersuhu kamar (13 - 14 hari, 27 ± 2oC). Perbedaan waktu pengeringan tersebut terjadi karena material bangunan yang digunakan berbeda. Bangunan pada proses pengeringan greenhouse dirancang menggunakan lembaran polikarbonat yang dapat menyerap udara panas. Bangunan pada pengeringan bersuhu kamar menggunakan material tembok dan minim ventilasi sehingga sedikit terkena paparan sinar matahari saat siang hari. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu jenis klon dan metode pengeringan. Faktor pertama adalah jenis klon meliputi BP 436, BP 936, BP 534, BP 308 dan SA 237 sedangkan faktor pengeringannya adalah pengeringan greenhouse dan pengeringan suhu kamar. Setiap perlakuan dilakukan 3 kali pengulangan. Parameter pada penelitian ini meliputi uji mutu fisik (SNI 01-2907-2008), uji pH (SNI 2323-2008), uji kafein (SNI 01-3542-2004) dan uji citarasa (SCAA). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penurunan kadar air biji kopi robusta di ruang greenhouse (P1) berlangsung lebih cepat daripada pengeringan suhu kamar (P2). Hal ini disebabkan karena perbedaan suhu yang signifikan dari kedua jenis tempat pengeringan tersebut. Penurunan kadar air di ruang greenhouse perlakuan K1P1 - K5P2 yakni sebesar 11,37 – 12,46% pada hari ke-7 sedangkan di ruang suhu kamar penurunan kadar airnya sebesar 12,11 – 13,21% pada hari ke-14. Pengaruh pengeringan terhadap mutu fisik adalah semakin tinggi suhu pengeringan maka menyebabkan kerusakan pada permukaan biji kopi. Pengaruh pengeringan terhadap sifat kimia kopi adalah semakin besar suhu pengeringan maka senyawa volatil pada biji kopi robusta semakin menguap. Pengaruh pengeringan terhadap citarasa kopi robusta adalah jika suhu dan waktu pengeringan yang digunakan tepat maka membuat biji kopi tidak kehilangan senyawa organik sehingga membuat rasa khas dari biji kopi tetap terja

    KARAKTERISTIK FISIK DAN KIMIA BIJI KAKAO KERING HASIL PERKEBUNAN RAKYAT DI KABUPATEN GUNUNG KIDUL, JOGJAKARTA

    No full text
    Biji kakao Indonesia menjadi salah satu komoditi perdagangan yang menghasilkan devisa bagi negara. Indonesia menempati posisi ketiga penghasil kakao dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Produksi biji kakao Indonesia secara signifikian terus meningkat, namun mutu yang dihasilkan sangat rendah dan beragam. Permasalahan pengolahan kakao ditingkat petani adalah kurangnya pengetahuan terhadap teknologi pengolahan biji kakao dan belum adanya satu prosedur guna menghasilkan biji kakao kering berkualitas. Gunung Kidul merupakan salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Jogjakarta yang salah satu komoditas perkebunan potensial adalah kakao. Kakao Gunung Kidul adalah kakao yang dapat menyumbang dinamika perekonomian rakyat. Produk kakao Gunung Kidul masih memiliki banyak permasalahan terutama pada kualitas produk sehingga perlu perhatian agar keberlanjutan pemasaran kakao yang sudah dilakukan oleh kelompok-kelompok tani tetap berjalan. Kualitas biji kakao yang beragam mengakibatkan rendahnya harga jual biji kakao. Rendahnya harga jual tersebut diberikan untuk biji kakao kering fermentasi yang belum diketahui kualitasnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi terhadap karakteristik fisik maupun kimia dari biji kakao yang difermentasi yang sesuai dengan SNI untuk dapat diketahui tingkat mutu dan harga jual biji kakao kering fermentasi yang sesuai. Penelitian dilaksanakan dengan mengambil sampel biji kakao pada fermentasi hari ke-0, ke-1, ke-2, ke-3, ke-4, ke-5 dan ke-6 setelah pembilasan masing-masing 5 kg sebanyak 2 kali ulangan. Setelah itu dilakukan pengeringan dengan matahari selama 4-5 hari. Selanjutnya biji kakao kering yang dihasilkan dianalisis secara fisik, kimia dan mikrobiologis di laboratorium. Karakteristik fisik meliputi bentuk biji kakao kering, penggolongan biji kakao berdasarkan ukuran biji, dan uji belah (cut test). Karakteristik kimia meliputi kadar air, kadar lemak dan indeks fermentasi, sedangkan secara mikrobiologis dengan menentukan total bakteri pada biji kakao kering. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif yang diinterpretasikan menggunakan tabel atau histogram. Berdasarkan hasil analisis secara fisik biji kakao rakyat di Kabupaten Gunung Kidul memiliki bentuk biji utuh yang semakin meningkat seiring lamanya fermentasi. Jumlah biji kakao kering hari ke-5 dan hari ke-6 diklasifikasikan dalam golongan B. Biji kakao kering pada hari ke-5 dan hari ke-6 mulai terfermentasi sempurna dimana warna coklat pada keping biji lebih dominan. Hasil analisis kimia biji kakao kering memiliki kadar air sesuai SNI 2323-2008 Mutu I dan Mutu II dimana kadar air biji kakao kering maksimal 7,5%. Kandungan lemak biji kakao cukup tinggi yaitu 59,44%. Indeks fermentasi kakao pada hari ke-5 yaitu 1,07. Total bakteri tertinggi pada biji kakao hari ke-3 yaitu sebesar 1,2x109. Peningkatan jumlah bakteri disebabkan oleh mikroba yang berperan dalam perombakan senyawa-senyawa selama fermentasi banyak tumbuh. Berdasarkan analisis karakteristik biji kakao secara fisik, kimia dan mikrobiologi tersebut biji kakao di Kabupaten Gunung Kidul, Jogjakarta dapat diklasifikasikan dalam golongan Mutu I dan Mutu II berdasarkan SNI 2323-2008 karena memiliki karakteristik yang baik dan telah sesuai Standart Nasional Indonesia

    KARAKTERISTIK FISIK DAN KIMIA BIJI KAKAO KERING HASIL PERKEBUNAN RAKYAT DI KABUPATEN GUNUNG KIDUL, JOGJAKARTA

    No full text
    Biji kakao Indonesia menjadi salah satu komoditi perdagangan yang menghasilkan devisa bagi negara. Indonesia menempati posisi ketiga penghasil kakao dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Produksi biji kakao Indonesia secara signifikian terus meningkat, namun mutu yang dihasilkan sangat rendah dan beragam. Permasalahan pengolahan kakao ditingkat petani adalah kurangnya pengetahuan terhadap teknologi pengolahan biji kakao dan belum adanya satu prosedur guna menghasilkan biji kakao kering berkualitas. Gunung Kidul merupakan salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Jogjakarta yang salah satu komoditas perkebunan potensial adalah kakao. Kakao Gunung Kidul adalah kakao yang dapat menyumbang dinamika perekonomian rakyat. Produk kakao Gunung Kidul masih memiliki banyak permasalahan terutama pada kualitas produk sehingga perlu perhatian agar keberlanjutan pemasaran kakao yang sudah dilakukan oleh kelompok-kelompok tani tetap berjalan. Kualitas biji kakao yang beragam mengakibatkan rendahnya harga jual biji kakao. Rendahnya harga jual tersebut diberikan untuk biji kakao kering fermentasi yang belum diketahui kualitasnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi terhadap karakteristik fisik maupun kimia dari biji kakao yang difermentasi yang sesuai dengan SNI untuk dapat diketahui tingkat mutu dan harga jual biji kakao kering fermentasi yang sesuai. Penelitian dilaksanakan dengan mengambil sampel biji kakao pada fermentasi hari ke-0, ke-1, ke-2, ke-3, ke-4, ke-5 dan ke-6 setelah pembilasan masing-masing 5 kg sebanyak 2 kali ulangan. Setelah itu dilakukan pengeringan dengan matahari selama 4-5 hari. Selanjutnya biji kakao kering yang dihasilkan dianalisis secara fisik, kimia dan mikrobiologis di laboratorium. Karakteristik fisik meliputi bentuk biji kakao kering, penggolongan biji kakao berdasarkan ukuran biji, dan uji belah (cut test). Karakteristik kimia meliputi kadar air, kadar lemak dan indeks fermentasi, sedangkan secara mikrobiologis dengan menentukan total bakteri pada biji kakao kering. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif yang diinterpretasikan menggunakan tabel atau histogram. Berdasarkan hasil analisis secara fisik biji kakao rakyat di Kabupaten Gunung Kidul memiliki bentuk biji utuh yang semakin meningkat seiring lamanya fermentasi. Jumlah biji kakao kering hari ke-5 dan hari ke-6 diklasifikasikan dalam golongan B. Biji kakao kering pada hari ke-5 dan hari ke-6 mulai terfermentasi sempurna dimana warna coklat pada keping biji lebih dominan. Hasil analisis kimia biji kakao kering memiliki kadar air sesuai SNI 2323-2008 Mutu I dan Mutu II dimana kadar air biji kakao kering maksimal 7,5%. Kandungan lemak biji kakao cukup tinggi yaitu 59,44%. Indeks fermentasi kakao pada hari ke-5 yaitu 1,07. Total bakteri tertinggi pada biji kakao hari ke-3 yaitu sebesar 1,2x109. Peningkatan jumlah bakteri disebabkan oleh mikroba yang berperan dalam perombakan senyawa-senyawa selama fermentasi banyak tumbuh. Berdasarkan analisis karakteristik biji kakao secara fisik, kimia dan mikrobiologi tersebut biji kakao di Kabupaten Gunung Kidul, Jogjakarta dapat diklasifikasikan dalam golongan Mutu I dan Mutu II berdasarkan SNI 2323-2008 karena memiliki karakteristik yang baik dan telah sesuai Standart Nasional Indonesia

    PENAMBAHAN ASAM ASETAT DENGAN VARIASI KONSENTRASI PADA PEMBUATAN KONSENTRAT PROTEIN DARI EKSUDAT PENGOLAHAN TEPUNG IKAN LEMURU (Sardinella sp.)

    No full text
    Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan asam asetat dengan variasi konsentrasi terhadap randemen, kadar air, kadar protein, dan kadar lemak konsentrat protein dari eksudat tepung lkan lemuru serta untuk mengetahui konsentrasi asam asetat yang optimal sehingga diperoleh konsentrat protein dari eksudat tepung ikan lemuru dengan sifat fisikokimia yang baik. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari satu faktor dengan pengulangan sebanyak 3 kali. Faktor tunggal yang digunakan adalah penambahan asam asetat dengan variasi konsentrasi yaitu 10 %, 15 %, 20 %, 25 %, dan 30 %. Pengamatan yang dilakukan meliputi rendemen, kadar air, kadar protein, dan kadar lemak. Data yang diperoleh diuji untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan dengan uji Duncan

    Karakteristik Fisik Dan Kimia Kopi Rakyat DI Kawasan Pegunungan Argopuro – Jember

    No full text
    Kualitas biji kopi dipengaruhi oleh resistensi terhadap penyakit, usia biji, serangga, dan proses pengolahan. Perkebunan kopi rakyat di kawasan pegunungan Argopuro melakukan pengolahan biji kopi menggunakan cara kering dan cara basah. Sebagian kelompok petani kopi di kawasan tersebut melakukan pengolahan cara basah dengan fermentasi dalam waktu yang tidak menentu (beragam). Perbedaan teknik pengolahan yang dilakukan oleh petani kopi tersebut mengakibatkan mutu fisik dan kimia biji yang dihasilkan bervariasi serta cenderung masuk dalam kategori mutu rendah. Tujuan penelitian ini dilakukan yaitu untuk mengetahui mutu fisik dan kimia kopi rakyat di Kawasan pegunungan Argopuro – Jember. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktor tunggal yaitu jenis biji kopi hasil pengolahan di kawasan pegunungan Argopuro – Jember. Pengujian mutu biji kopi dilakukan terhadap biji kopi sebelum sangrai dan biji kopi sangrai yang terdiri atas A1 : biji kopi robusta Sukorambi olah basah sesuai SOP; A2 : biji kopi robusta Sukorambi olah kering sesuai SOP; A3 : biji kopi robusta Sukorambi olah kering asalan; A4 : biji kopi arabika natural Arjasa olah kering asalan; A5 : biji kopi robusta Arjasa olah kering asalan; A6 : biji kopi robusta Bangsalsari olah kering sesuai SOP ; A7 : biji kopi robusta Bangsalsari olah kering 2; A8 : biji kopi arabika Panti olah basah sesuai SOP; A9 : biji kopi robusta Panti olah kering sesuai SOP, dan ; A10 : biji kopi robusta Tanggul olah kering sesuai SOP. Pengujian mutu biji kopi dilakukan terhadap biji kopi sebelum sangrai (green bean). Parameter yang diamati meliputi karakteristik fisik (nilai cacat biji kopi

    Aplikasi Fluidized Bed Reactor dengan β-Galaktosidase Amobil dari Escherichia Coli untuk Produksi Senyawa Prebiotik Galakto-Oligosakarida

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh metode imobilisasi terhadap enzim β-Galaktosidase selama produksi homo-GalOS, dan mengetahui aktivitas enzim teramobil setelah beberapa siklus produksi serta memastikan bahwa GalOS yang dihasilkan mampu berfungsi sebagai pemacu pertumbuhan bagi beberapa spesies Lactobacillus sp. Untuk produksi homo-GalOS, substrat yang digunakan yaitu galaktosa 40% (w/w). pH media 7, suhu 60°C dan waktu inkubasi selama 7 hari serta enzim diimobilisasi dengan tiga metode yaitu ikatan silang glutaraldehid pada keramik, perangkap dalam Na-alginat dan absorpsi anionik pada DEAE-Cellulose. Pengaruh penambahan homo-GalOS terhadap pertumbuhan dan perkembanqan Lactobacillus sp dapat diketahui dari perubahan pH, kerapatan Optik dan perhitungan tabeI mikroba setelah diinkubasi 3 jam dan 24 jam. Hasil penelitian disajikan dalam bentuk grafik hasil produksi homo-GalOS dan tabel
    corecore