1,720,965 research outputs found
EXPLORATION OF LOCAL WISDOM IN HANDLING COVID 19 IN NAGARI SITUJUAH BATUA
AbstractThe rise of news on the handling of Covid-19 in the Situjuah Batua Nagari Government, Situjuah Limo Nagari District, Limapuluh Kota Regency, West Sumatra in various electronic media has sparked the author's curiosity to take a deeper look at its culture and history. Nagari's efforts in dealing with COVID-19 are considered more responsive so that it is deemed successful in adapting to the current pandemic conditions. The Nagari's ability to optimize existing local resources and wisdom is thought to be the source of this success. This research aims to explore local wisdom that supports the social institutions of the Situjuah Batua community in dealing with COVID-19. Furthermore, this research seeks to identify local wisdom that affects the community and develop strategies to raise awareness about efforts to deal with and prevent COVID-19. This research uses a qualitative method with an observation and interview approach related to handling COVID-19. Local wisdom (togetherness; cooperation; deliberation; commitment to customs and tools) in Nagari Situjuah Batu mobilizes all components or elements in Nagari to make behavioral changes due to the COVID-19 pandemic. Therefore, behavior change is one of the determining factors for successfully handling the Covid-19 pandemic in Nagari Situjuah Batu
Batin Dance from Ritual to Performing Arts in Liwa Community West Lampung Regency Lampung Province
Batin dance is an expression of the people's joy in welcoming the sultan's arrival. Batin dance has developed from a ritual function to a performance function. This research aims to determine the development of the function of the batin dance from ritual to performing arts. This research used a descriptive analysis method, and it was guided by facts found during the field research. A historical approach was used to determine the development of a ritual function to a performance function. The research results show that the batin dance has developed from a ritual function to a performance function starting from the props, music, performance venue, and performance time. It can be seen through the batin dance performance at the GSMS event. The development of the batin dance is present in society, but Saibatin still maintains the batin dance in the kingdom as a prominent guest without reducing its sacred value
STRUKTUR TARI LURAH KINCIA DI NAGARI SITUJUAH BATUA
Penelitian ini bertujuan untuk membahas Struktur Tari Lurah Kincia di Situjuah Batua Kecamatan Situjuah Limo Nagari Kabupaten Lima Puluh Kota. Jenis penelitian adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif analisis, yaitu seluruh data yang diperoleh baik data lapangan dihimpun dan dijabarkan kemudian di analisis sesuai dengan permasalahan penelitian yang telah dirumuskan. Teori yang digunakan adalah teori struktur dan bentuk yang dikemukakan oleh Y. Sumandyo Hadi dan Soedarsono. Objek penelitian tari Lurah Kincia yang difokuskan pada tari Lurah Kincia di Situjuah Batua Kecamatan Situjuah Limo Nagari Kabupaten Lima Puluh Kota. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tari ini memiliki 7 motif gerak. Hasil dari peneltian ini menunjukkan bahwa tari ini memiliki 7 motif gerak. Gerak yang dimaksud adalah gerak bajalan sairiang, gerak manurun lurah, gerak maambiak padi, gerak manampi padi, gerak bamain basamo, dan gerak baparang
PERTUNJUKAN TARI FALUAYA DI BAWÖMATALUO KECAMATAN FANAYAMA KABUPATEN NIAS SELATAN PROVINSI SUMATERA UTARA : DALAM KAJIAN ESTETIKA
Penelitian ini ini bertujuan untuk mengkaji tari Faluaya di Bawömataluo dalam kajian estetika. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif analisis yaitu memaparkan dan mendeskripsikan seluruh data yang didapat di lapangan kemudian dianalisis sesuai dengan permasalahan. Untuk membahas dengan permasalahan estetika digunakan pendekatan yang diketengahkan oleh Deni Junaedi dan analisis nilai estetik akan menggunakan teori yang dikemukakan oleh The Liang Gie didukung dengan konsep ciri-ciri sifat benda estetik oleh Manroe Beardsley. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi pustaka dan studi lapangan (observasi, wawancara dan dokumentasi). Hasil penelitian menunjukan bahwa Tari Faluaya memiliki nilai estetik karena dari sudut pandang yang mampu diserat oleh inderawi yang memiliki nilai bentuk dan di dalamnya menghadirkan nilai-nilai kehidupan pada masyarakat Bawömataluo. This study aims to examine the Faluaya fare in Bawömataluo in an aesthetic study. The method used in this study is a qualitative research method with descriptive analysis, which describes and describes all the data obtained in the field and then analyzed according to the problem. To discuss the usability problems of the approach proposed by Deni Junaedi and the analysis of the aesthetic value of the theory proposed by The Liang Gie, it is supported by the concepts of aesthetic object properties by Manroe Beardsley. The data collection technique used is literature study and field study (observation, interview and documentation). The resultof the study show that the Faluaya Dance has aestetic value because from the point of view that it is able to be absorbed by the senses which has a from value and in it presents the values of life in the Bawömataluo community
SINKRETISME: REFLEFKSI BUDAYA KOTA SIBOLGA SENI PERTUNJUKAN TARI ANAK DI SUMATERA UTARA
Penelitian ini membahas tentang Sinkretisme: Refleksi Budaya Masyarakat Pesisir Kota Sibolga Tapian Nauli, di Suamtera Utara. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif yang bersifat deskripstif analisis. Teori yang dipakai dalam penelitian ini yaitu teori sinkretisme oleh A. Suyono, teori budaya oleh Suwardi Endraswara dan teori koreografi atau komposisi oleh Y.Sumandiyo Hadi. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab permasalahan yang terdapat di dalam seni pertunjukan Tari Anak.Tari anak menceritakan tentang perjuangan orang tua yang menginginkan kesembuhan pada anaknya melibatkan dukun. Dukun berperan dalam proses pengobatan anak yang sakit dengan membacarakan mantra-mantra. Tari anak berikan doa-doa, petuah, dan harapan
TARI MANCAK PADANG SEBAGAI LEGITIMASI GURU SILEK PADA UPACARA MAURAK BALABEK
Artikel ini merupakan hasil penelitian yang bertujuan untuk mengungkap tari Mancak sebagai tari tradisional yang hadir dalam upacara Maurak Balabek di Kecamatan Kuranji Kota Padang. Teori yang digunakan yaitu teori legitimasi dikemukakan oleh Marc Suchman dan teori identitas oleh Barker. Penampilan tari Mancak Padang merupakan proses yang menentukan dalam pengesahan atau legitimasi pengangkatan status sosial Guru Silek. Apabila proses dan syarat telah terpenuhi berarti status guru silat dapat berubah dan identitas dirinya di tengah masyarakat juga berubah. Pengesahan tersebut diberikan oleh Penghulu Kaum dan niniak mamak setelah menyaksikan kemampuan Guru Silek dalam menampilkan tari Mancak Padang.Pengangkatan tersebut dilakukan melalui beberapa proses yaitu 1)Arak-arakan, 2)Penyembelihan kerbau, 3)Jamuan makan siang, 4)Acara pembukaan, 5)Penampilan kesenian anak nagari, dan 6)Mangilekan padang. Mangilekan Padang dilakukan dengan menarikan tari Mancak Padang. Kehadiran tari Mancak Padang memberikan gambaran factual bahwa tari Mancak Padang merupakan bagian dari upacara pengangkatan status sosial Guru Silek dan legitimasi Guru Silek pada masyarakat Kecamatan Kuranji yaitu Maurak Balabek
KOREOGRAFI TARI PIRIANG BADARAI DI SANGGAR TITIAN AKADI KOTA PADANGPANJANG
This article aims to discuss the Piriang Badarai dance choreography at Titian aka Padangpanjang studio. This research uses a qualitative method which is a way or strategy to obtain data. Qualitative research is carried out in stages including: determining the research location, research data, research tools and data collection techniques, with a descriptive analysis approach at this stage carried out to describe and analyze the data that has been collected, sorted and analyzed according to the problems to be researched. This research uses choreography theory by Y. Sumandiyo Hadi. The results of this research show that the Piriang Badarai dance fulfills the choreographic elements which can be seen from the presentation of the Piriang Badarai dance
Koreografi Tari Rantak Kudo Di Sanggar Sabirullah Matador Nagari Pasir Talang Timur Kecamatan Sungai Pagu Kabupaten Solok Selatan
Penelitian ini bertujuan untuk membahas Koreografi tari Rantak Kudo di Sanggar Seni Sabirullah Matador Nagari Pasir Talang Timur Kecamatan Sungai Pagu Kabupaten Solok Selatan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis yaitu seluruh data yang didapat baik data tertulis maupun data di lapangan dideskripsikan kemudian dianalisis. Teori yang digunakan yaitu teori Koreografi oleh Y. Sumandiyo Hadi. Hasil yang dicapai menunjukan bahwa tari Rantak Kudo kurang berkembang gerak-gerak tarinya serta motif gerak yang juga sangat sedikit
Makna Simbolis Tari Sikambang Anak di Sanggar Upik Berau Desa Air Berau Kabupaten Mukomuko Provinsi Bengkulu
This research aims to determine the symbolic meaning of the Sikambang Anak dance at the Upik Berau Studio, Air Berau Village, Mukomuko Regency, Bengkulu Province. The research method used a qualitative research method which is descriptive analysis, including the process of explaining, describing, and analyzing. This research uses Ferdinand De Saussure's semiotic theory and Y. Sumandiyo Hadi's theory of form. The results of the study show that the symbolic meaning of the Sikambang Anak Dance at the Upik Berau Studio has its meaning for the people of Air Berau village. The meaning conveyed can be seen in the Sikambang Anak dance, starting from the movements. Properties and poetry (dendang). This dance has a meaning related to people's lives. The meaning of this dance teaches that problems in married life will be better if they are resolved amicably and don't make the wrong decisions. Kindness is always at the forefront of life
Ronggeng Dukuh Paruk Trilogy by Ahmad Tohari: Understanding of Cultural Geography and Identity
This article intended to reveal cultural variance from Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk by Ahmad Tohari. The existence of Srintil as ronggeng showed peculiarity that can not be found in another areas. This identity showed in ceremonial stages such as bathing procession of ronggeng candidate at Kisecamanggala cemetery before officially as Ronggeng. This ritual start with one round of Ronggeng Dance by Srintil without vulgar wawl and errotic moves. Srintil paraded to the Kisecamanggala cemetery to do the ritual. Next step is, drape opening ceremony as if a competition to fight over the virginity of Ronggeng candidate. Before undergo the ceremony, Srintil must be preconcerted to have an Indang. When Srintil just enter the world of Ronggeng, it is believed that Ronggeng is more respected than stay at home woman. After uncovered that Ronggeng is full of lust, Srintil got neglected especially after 1965 incident. In the end, both Srintil and The Dukuh Paruk wrecked without any second chance to show their pride in the slightest. She was crashed in the middle of ruined Dukuh Paruh grassland. The research used documentation methode for the collecting datas research and inductive analytics as analyzing data methode. Dokumentation analysis is collecting data methode where texs and messages in a document will classified into a relevant coding with research. Keywords: Ronggeng Dukuh Paruk, cultural geography, identity DOI: 10.7176/ADS/95-03 Publication date:September 30th 202
- …
