1,721,018 research outputs found

    STUDI SIFAT – SIFAT MAGNETIK MATERIAL FEROMAGNETIK Co(1-X)Ni(X) RANDOM ALLOY DAN DOUBLE LAYERS DALAM BERBAGAI KOMPOSISI BAHAN Co DAN Ni

    No full text
    Media perekam magnetik Hard-Disk-Drive (HDD) merupakan salah satu media penyimpanan data yang digunakan pada komputer atau laptop. Media perekam magnetik Hard-Disk-Drive (HDD) yang dibutuhkan saat ini yaitu memiliki kapasitas penyimpanan yang besar dan tahan terhadap panas. Salah satu cara untuk meningkatkan atau memperbesar kapasitas penyimpanan data yaitu dengan cara meningkatkan kerapatan bit (bit-areal-density) dari perekam magnetik tersebut. Sedangkan untuk membuat media perekam magnetik yang tahan terhadap panas yaitu dengan memilih bahan feromagnetik yang memiliki temperatur Curie dan magnetik anisotropi yang tinggi. Bahan yang cocok dan berpotensi untuk diaplikasikan sebagai media perekam magnetik ini adalah bahan magnetik feromagnetik. Penelitian ini dilakukan secara teori komputasi yaitu melalui simulasi mikromagnetik. Simulasi mikromagnetik ini pada umumnya menggunakan sebuah program yang diproses dalam komputer. Dalam penelitian ini program yang digunakan adalah Vampire dengan bahan feromagnetik. Salah satu bahan feromagnetik yang memiliki sifat magnetik bagus (temperatur Curie tinggi, magnetik anisotropi tinggi, medan koersivitas dan medan saturasi tinggi serta bersifat hard magnet) adalah CoNi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sifat – sifat magnetik bahan CoNi berbentuk random alloy dan double layers, khususnya temperatur Curie dan kurva histeresisnya (medan saturasi dan medan koersivitas), serta pengaruh temperatur terhadap medan saturasi dan medan koersivitas. Struktur model bahan yang digunakan adalah nano-kubik. Berdasarkan penelitian ini, temperatur Curie bahan CoNi yang berbentuk random alloy diperoleh hasil yaitu : Co0.2Ni0.8 sebesar 800 K, Co0.33Ni0.67 sebesar 900 K, Co0.4Ni0.6 sebesar 950 K, Co0.5Ni0.5 1000 K, Co0.6Ni0.4 sebesar 1075 K, Co0.7Ni0.3 sebesar 1150 K, dan Co0.8Ni0.2 sebesar 1250 K. Sedangkan nilai temperatur Curie yang diperoleh dari bahan CoNi yang berbentuk double layers yaitu : Co0.2Ni0.8 sebesar 1200 K, Co0.33Ni0.67 sebesar 1250 K, Co0.4Ni0.6 sebesar 1300 K, Co0.5Ni0.5 sebesar 1325 K, Co0.6Ni0.4 1350 K, Co0.7Ni0.3 sebesar 1375 K, dan Co0.8Ni0.2 sebesar 1385 K. Variasi komposisi Co dan Ni berpengaruh pada temperatur Curie bahan CoNi, temperatur Curie akan meningkat seiring meningkatnya dari komposisi bahan Co. Hal ini terjadi karena bahan Co memiliki temperatur Curie yang lebih tinggi dari pada bahan Ni. Temperatur Curie yang dimiliki bahan CoNi yang berbentuk double layers lebih tinggi dari pada bahan CoNi yang berbentuk random alloy. Peningkatan medan saturasi dan medan koersivitas pada karakteristik kurva histerisis dari bahan CoNi random alloy dan double layers dipengaruhi oleh variasi komposisi Co dan Ni. Umumnya medan saturasi dan medan koersivitas akan meningkat seiring meningkatnya komposisi dari bahan Co. Hal ini terjadi karena bahan Co memiliki nilai medan saturasi dan medan koersivitas yang lebih besar dari pada bahan Ni. Medan saturasi dan medan koersivitas yang dimiliki bahan CoNi yang berbentuk random alloy lebih tinggi dari pada bahan CoNi yang berbentuk double layers. Pengaruh temperatur terhadap kurva histerisis dari bahan CoNi random alloy dan double layers diperoleh hasil yaitu : terdapat empat pola perbedaan perubahan medan saturasi dan medan koersivitas. Pola pertama yaitu terjadi pada temperature 0 K. Pola kedua (328 K), pola ketiga (473 K) dan pola keempat (900 K) terjadi pada saat medan saturasi dan medan koersivitas menunjukkan pola menurun seiring bertambahnya temperatur. Bahkan pada pola keempat ada tiga variasi komposisi bahan CoNi random alloy (Co0.2Ni0.8, Co0.33Ni0.67 dan Co0.4Ni0.6) dan satu komposisi bahan CoNi double layers (Co0.2Ni0.8) yang menunjukkan kurva histerisisnya rusak dan tidak diperoleh nilai medan saturasi dan medan koersivitasnya, hal ini terjadi karena pada pola ini sudah mendekati atau melebihi temperatur Curie dari bahan CoNi tersebut

    PENGARUH TEMPERATUR PENUMBUHAN TERHADAP MORFOLOGI PERMUKAAN FILM TIPIS ZnO DITUMBUHKAN DENGAN METODE SPIN COATING

    No full text
    Seng oksida (ZnO) merupakan oksida konduktif transparan yang banyak diteliti sebagai alternatif pengganti untuk bahan dasar pembuatan sensor gas. Dalam berbagai aplikasi, khususnya sebagai komponan piranti optoelektronik bahan ZnO biasa dibuat dalam bentuk film tipis. Salah satu sifat menarik yang dimiliki oleh ZnO adalah pembentukan struktur kristal yang dapat terjadi dibawah temperatur 400ᴼC. akan tetapi hal tersebut tergantung dari pelarut dan metode penumbuhan yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui parameter temperatur pemanasan optimum untuk penumbuhan lapisan film tipis ZnO dengan menggunakan prekursor Zinc(TMHD)2 di atas substrat Si(100) menggunakan metode spin coating. Untuk memperkecil ketidaksesuaian kisi (lettice mismatch) antara substrat dengan film tipis maka digunakan wetting layer ZnO (cair). Penelitian ini melalui 4 tahapan yaitu preparasi prekursor, preparasi substrat, proses penumbuhan dan proses karakterisasi untuk mengetahui karakteristik film tipis. Untuk mengetahui morfologi permukaan dilakukan karakterisasi dengan menggunakan Scanning Electron Microscopy (SEM) dan Energy Dispersive X-Ray Spectrometer (EDS) digunakan untuk mengetahui komposisi kimia penyusun film tipis ZnO. Dalam proses spin coating, spinner diputar dengan laju 3000 rpm selama 20 detik, kemudian lapisan dipanaskan pada suhu 100ᴼC selama 10 menit untuk menguapkan pelarut prekursor selanjutnya proses penumbuhan struktur kristal film tipis dengan variasi temperatur 350ᴼC, 400ᴼC, 450ᴼC, 500ᴼC dan 550ᴼC. Proses penumbuhan tanpa menggunakan wetting layer pada temperatur 350ᴼC dan 400ᴼC diperoleh hasil persentase komposisi atom ZnO tidak ada. Sedangkan pada temperatur 450ᴼC dan 500ᴼC persentase komposisi ZnO lapisan tipis yang dihasilkan adalah sebesar 0,02 %, serta 0,56 %. Semakin tinggi temperatur penumbuhan maka komposisi ZnO yang terdapat pada film tipis semakin tinggi hal tersebut berkaitan dengan temperatur anneling sudah mencapai melting point dari film tipis tersebut. Selain itu untuk hasil analisa SEM pada temperatur penumbuhan 450ᴼC dan 500ᴼC memiliki struktur butiran yang halus dan homogen, akan tetapi pada proses ini film tipis yang hasilkan masih bersifat amorf. Untuk memperbaiki sifat dari film tipis maka penelitian ini digunakan wetting layer ZnO (cair). Film tipis yang ditumbuhkan dengan memakai wetting layer pada temperatur penumbuhan (400-500)ᴼC dihasilkan film tipis yang bersifat polikristal. Dari analisa SEM menunjukkan bahwa film tipis ZnO tersusun dari sekumpulan butiran penyusun yang berbentuk kolumnar, tegak lurus terhadap permukaan substrat Si(100) dan pembentukan kristal lebih teratur (preferred orientation) serta seragam. Hal tersebut diperkuat dengan hasil anallisa AFM yang menunjukkan bahwa penyusun film tipis ZnO berbentuk butiran diseluruh permukaan film, dengan kekasaran roughness Root Meas Squre (RMS) masing-masing sebesar (a) 7.34 μm, (b) 8.30 μm, (c) 7.54μm, (d) 8.17μm untuk temperatur (a) 400ᴼC, (b)450ᴼC, (c) 500ᴼC, dan (d) 550ᴼC. Sehingga dalam penelitian ini film tipis yang ditumbuhkan dengan menggunakan wetting layer memiliki kualitas lebih baik dibandingkan dengan film tipis yang ditumbuhkan tanpa penggunaan wetting layer

    INVESTIGASI SIFAT-SIFAT MAGNETIK BAHAN CoPd DAN PENGARUH PENERAPAN MICROWAVE ASSITED MENGGUNAKAN SIMULASI MIKROMAGNETIK

    No full text
    Lapisan tipis kobalt paladium (CoPd) merupakan bahan feromagnetik yang memiliki tekstur kuat dengan dukungan nilai anisotropi magnetik dan medan koersivitas besar. Sifat ini membuka peluang bahan untuk dapat dipola dengan ukuran yang sangat kecil. Ukuran bahan yang kecil dapat diaplikasikan sebagai media perekam magnetik dengan kerapatan tinggi. Media perekam magnetik ini berhubungan dengan sistem penyimpanan data pada Hard Disk Drive (HDD)

    STUDI PENGARUH HAMBURAN FONON PIEZOELEKTRIK AKIBAT PERUBAHAN TEMPERATUR TERHADAP DISTRIBUSI KONSENTRASI ELEKTRON PADA SEMIKONDUKTOR GALIUM ARSENIDA

    No full text
    Semikonduktor merupakan bahan yang memiliki nilai konduktivitas listrik di antara isolator dan konduktor. Berdasarkan kemurniannya bahan semikonduktor dibagi menjadi 2 yaitu semikonduktor intrinsik dan semikonduktor ekstrinsik. Secara umum semikonduktor ekstrinsik dibagi menjadi tiga tipe yaitu tipe-n, tipe-p dan paduan. Semikonduktor paduan merupakan penggabungan unsur golongan II dan VI atau unsur golongan III dan V. Gallium Arsenid (GaAs) merupakan salah satu bahan semikonduktor paduan. Dalam proses menghantarkan arus. pada bahan semikonduktor terdapat sebuah mekanisme yang disebut mobilitas pembawa muatan. Laju mobilitas pembawa muatan pada bahan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain temperatur. Meningkatnya temperatur dalam bahan juga dapat menimbulkan terjadinya mekanisme hamburan (scattering). Pada umumnya terdapat dua mekanisme hamburan pada bahan semikonduktor, yaitu hamburan impuritas terionisasi dan hamburan kisi (fonon). Hamburan kisi dibagi menjadi dua yaitu hamburan deformasi potensial dan hamburan fonon piezoelektrik. Hamburan fonon piezoelektrik merupakan hamburan pada semikonduktor paduan yang masih terdapat ikatan ionik. Ikatan ion akan terpolarisasi sehingga akan menimbulkan beda potensial yang dapat mengganggu mobilitas pembawa muatan pada bahan. Hamburan yang terjadi mempengaruhi konsentrasi pembawa muatan. Sehingga penelitian ini mengkaji pengaruh hamburan fonon piezoelektrik akibat perubahan temperatur terhadap distribusi konsentrasi elektron pada bahan Gallium Arsenida. Penelitian dilakukan dalam beberapa tahap simulasi. Tahap pertama dilakukan entry data berupa geometri bahan GaAs dalam bentuk 2D dengan panjang 7.0 μm dan viii lebar 5.0 μm, parameter bahan GaAs, temperatur dan mobilitas elektron. Kemudian dilakukan pengaturan kondisi batas dan penyelesaian persamaan Poisson dan Kontinuitas menggunakan Metode Elemen Hingga (MEH). Tahap selanjutnya memasukkan parameter input dengan memvariasikan mobilitas elektron yang diperoleh dari hasil eksperimen Manion (1988) dan memvariasikan temperatur pada 40K, 60K, 80K, 100K, dan 300K. Selanjutnya dilakukan running simulasi dan diamati distribusi konsentrasi elektron pada 6 daerah koordinat yang berbeda yaitu pada daerah katoda (0,198;-0,696), daerah dekat katoda (0,198;-0,5), daerah tengah 1 (0,198;-0,365), daerah tengah 2 (0,198;-0,343), daerah dekat anoda (0,198;-0,2) dan daerah anoda (0,198;-0,00313). Hasil simulasi menunjukkan pada bahan GaAs memiliki perbedaan dalam distribusi konsentrasi elektronnya ketika dilakukan perubahan temperatur. Pada daerah katoda dan daerah dekat katoda konsentrasi elektronnya cenderung tetap. Hal tersebut menunjukkan bahwa konsentrasi elektron untuk daerah tersebut telah mencapai nilai yang maksimum. Sementara itu, pada daerah tengah 1 distribusi konsentrasi elektron menurun terhadap perubahan temperatur. Hal tersebut disebabkan karena peningkatan temperatur akan mengakibatkan konsentrasi elektron pada daerah mirip tipe-n meningkat, sehingga terjadi difusi elektron dari daerah mirip tipe-n ke daerah tipe-p akibat adanya perbedaan konsentrasi. Elektron yang berpindah akan meninggalkan hole pada daerah mirip tipe-n dan akhirnya akan berkumpul pada daerah tengah 1 sebagai pembawa muatan minoritas yang menyebabkan konsentrasi elektron turun. Pada daerah tengah 2 sesuai dengan teori, peningkatan temperatur menyebabkan peningkatan pada konsentrasi elektron. Hal tersebut terjadi karena peningkatan temperatur dapat meningkatkan energi termal pada bahan. Sehingga elektron akan mudah tereksitasi dari pita valensi ke pita konduksi. Untuk daerah dekat anoda dan anoda menunjukkan konsentrasi elektron yang relatif sama. Hal tersebut dipengaruhi oleh nilai Va digunakan konstan. Sehingga konsentrasi elektron yang dihasilkan dijaga agar tetap konstan atau relatif sama

    Studi Resonansi Feromagnetik Bahan la0,7sr0,3mno3 (Lsmo) Berbagai Bentuk Pilar Menggunakan Simulasi Mikromagnetik

    No full text
    Resonansi feromagnetik (FMR) adalah teknik yang digunakan untuk meneliti dinamika magnetisasi dari struktur magnetik. Kinerja dari divais berbasis magnetik dipengaruhi oleh pembalikan magnetisasi (switching field) dan resonansi feromagnetik (FMR) yang dapat meningkatkan kecepatan pembacaan serta penulisan data pada divais. Proses pembacaan dan penulisan data pada divais dapat diaplikasikan pada media penyimpanan atau storage device berupa MRAM. MRAM (Magnetoresistive Random Acces Memory) adalah sebuah non-volatile memori dengan mengunakan muatan magnet untuk menyimpan data. Bahan magnetik yang digunakan sebagai bahan kajian dalam proses pembacaan dan penulisan pada divais adalah bahan paduan La0,7Sr0,3MnO3 (LSMO). Bahan La0,7Sr0,3MnO3 (Lanthanum Strontium Manganese Oxide) adalah bahan yang memiliki energi bandwith (W) besar dan lebar karena pengaruh doping ion Sr2+ dengan jari-jari atom yang besar serta memiliki fase feromagnetik yang stabil. Tujuan pada penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat megnetik bahan La0,7Sr0,3MnO3 (LSMO) dan pengaruh variasi ketebalan serta variasi diameter pada berbagai bentuk pilar (nano hexagonal, nano cylinder, nano square) yang diaplikasikan dalam media penyimpanan atau storage device berupa MRAM. Kegiatan penelitian ini diawali dengan melakukan studi pustaka dengan mengumpulkan dan mencari berbagai pustaka atau referensi seperti buku, jurnal ilmiah, skripsi, tesis, dan disertasi yang digunakan untuk menunjang serta mendukung penelitian ini. Tahap selanjutnya adalah melakukan instalasi program NMAG, Mayavi, dan Origin Pro pada komputer dan mempersiapkan file input seperti parameter-parameter bahan La0,7Sr0,3MnO3 (LSMO) (.py) dan ukuran bentuk geometri bahan (.geo). Simulasi ini menggunakan variasi ketebalan dari 24 nm sampai 180 nm dan diameter tetap 12 nm untuk menentukan sifat bahan magnetik dan resonansi feromagnetik. Variasi diameter yang digunakan yaitu diameter 12 nm, 24 nm, 48 nm, dan 96 nm dan ketebalan tetap yaitu 12 nm. Data output yang dihasilkan berupa nilai medan koersivitas untuk menentukan sifat bahan magnetik yang dilihat dari kurva histerisis dan grafik nilai resonansi feromagnetik terhadap variasi ketebaalan serta diameter dengan arah medannya tegak lurus pada setiap bentuk pilarnya. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa sifat feromagetik bahan La0,7Sr0,3MnO3 (LSMO) pada berbagai bentuk pilar dapat dilihat berdasarkan kurva histerisisnya. Kurva histerisis dapat memberikan informasi mengenai besarnya medan koersivitas pada saat Magnetisasi (Ms) sama dengan nol. Medan koersivitas (Hc) memiliki fenomena yaitu nilai medan koersivitas (Hc) berbanding terbalik dengan ketebalan yang diberikan pada berbagai bentuk pilar. Ketebalan yang diberikan semakin besar maka akan menghasilkan nilai medan koersivitas (Hc) yang semakin kecil dan semakin besar medan koersivitas (Hc) yang diperoleh, maka energi magnetik yang dihasilkan semakin besar. Hasil simulasi didapatkan medan koersivitas sebesar Hc < 1 kA/m, sehingga bahan La0,7Sr0,3MnO3 (LSMO) merupakan bahan feromagnetik yang bersifat soft magnet. Hasil simulasi yang diperoleh menunjukkan bahwa variasi ketebalan yang diberikan dapat berpengaruh terhadap besar frekuensi resonansi feromagnetik bahan La0,7Sr0,3MnO3 (LSMO) yang dihasilkan. Variasi ketebalan yang diberikan antara 24 nm sampai 180 nm dan diameter tetap 12 nm pada setiap bentuk pilarnya diperoleh nilai frekuensi resonansi yang semakin besar atau seiring dengan meningkatnya ketebalan yang diberikan dan domain spin yang dihasilkan terlihat jelas dan teratur. Sedangkan, besarnya nilai frekuensi resonansi yang diperoleh pada variasi diameter antara 12 nm, 24 nm, 48 nm, dan 96 nm dengan ketebalan tetap 12 nm yaitu semakin besar variasi diameter yang diberikan pada berbagai bentuk pilar bahan La0,7Sr0,3MnO3 (LSMO), maka menghasilkan frekuensi resonansi yang semakin menurun dan posisi spin terlihat tidak teratur dengan bertambahnya diameter. Frekuensi resonansi memiliki fenomena yaitu memiliki besar yang sebanding dengan ketebalan dan berbanding terbalik dengan diameter yang diberikan, karena semakin besar diameter

    Simulasi Efek Hamburan Impuritas Terionisasi Terhadap Distribusi Pembawa Muatan Dioda Si pada Variasi Temperatur Operasional

    Full text link
    Silikon ialah salah satu bahan semikonduktor yang berasal dari golongan IVA dan tersusun atas atom-atom tunggal berstruktur kristal. Salah satu aplikasi divais semikonduktor adalah dioda Silikon. Dioda terbuat dari persambungan semikonduktor tipe-p dan semikonduktor tipe-n. Pada temperatur ruang, atom impuritas akan terionisasi dan terjadi interaksi Coulomb dengan pembawa muatan setempat. Interaksi inilah yang menyebabkan terjadinya hamburan impuritas terionisasi. Hamburan akibat proses tumbukan antar atom yang terionisasi menyebabkan terjadinya perubahan kecepatan pembawa muatan. Perubahan mobilitas pembawa muatan menyebabkan perubahan difusivitas bahan. Impuritas yang terionisasi akibat adanya perubahan temperatur operasional dan mobilitas pembawa muatan pada dioda Silikon memberikan perubahan pada distribusi pembawa muatan. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan hasil pemodelan profil distribusi pembawa muatan yang dipengaruhi oleh variasi temperatur dan mobilitas pembawa muatan. Hasil simulasi tersebut dibandingkan dengan data kontrol, yaitu data distribusi pembawa muatan yang dipengaruhi oleh variasi temperatur dimana mobilitas muatan dianggap konstan. Penelitian diawali dengan entry data berupa parameter dioda Silikon, geometri dioda, temperatur operasional (T) dan mobilitas pembawa muatan (μ). Temperatur operasional divariasikan dari hingga . Dalam hal ini, besarnya mobilitas pembawa muatan berbanding terbalik dengan peningkatan temperatur. Geometri viii dioda Silikon yang disimulasikan memiliki panjang 7 μm dan lebar 5 μm. Metode yang digunakan adalah metode elemen hingga. Metode elemen hingga merupakan suatu metode numerik yang digunakan untuk menyelesaikan persamaan differensial dengan beberapa kondisi batas dan membagi suatu domain menjadi subdomain yang disebut mesh. Metode elemen hingga dapat mengubah suatu fungsi kontinu menjadi fungsi diskrit, sehingga solusi umum dari suatu persamaan yang diselesaikan tersebut berupa penjumlahan masing-masing elemen. Data yang dimasukkan selanjutnya digunakan untuk mengatur kondisi batas, menyelesaikan persamaan Poisson dan persamaan kontinuitas. Hasil yang diperoleh berupa data konsentrasi pembawa muatan. Hasil simulasi variasi temperatur operasional dan mobilitas pembawa muatan menunjukkan bahwa konsentrasi elektron terbesar terdapat pada daerah katoda, kemudian konsentrasi elektron menurun ketika menuju daerah anoda. Penurunan konsentrasi elektron ditandai dengan perubahan warna pada geometri dioda. Namun sebaliknya, konsentrasi hole tertinggi berada pada daerah anoda dan menurun ketika menuju daerah katoda. Pengamatan distribusi pembawa muatan dilakukan di daerah katoda, persambungan dan anoda. Pada daerah katoda, seiring bertambahnya temperatur operasional dan menurunnya mobilitas muatan maka konsentrasi elektron meningkat sedangkan konsentrasi hole menurun. Hal yang serupa juga terjadi pada konsentrasi elektron dan hole dimana mobilitas hole konstan. Pada daerah persambungan, konsentrasi hole mengalami peningkatan dan konsentrasi elektron menurun baik mobilitas pembawa muatan divariasikan terhadap temperatur maupun dianggap konstan. Pada daerah anoda konsentrasi hole menurun akibat adanya perubahan mobilitas hole maupun mobilitas hole konstan. Konsentrasi elektron pada daerah anoda akibat adanya variasi mobilitas elektron meningkat kecuali pada temperatur 100 C dan 150 C. sedangkan konsentrasi elektron pada daerah anoda dimana mobilitas elektron konstan meningkat kecuali pada temperatur150 C dan 200 C

    SIMULASI PENGARUH TEMPERATUR TERHADAP DISTRIBUSI KONSENTRASI HOLE KRISTAL GALIUM ARSENIDA PADA PERISTIWA DEFORMATION POTENTIAL SCATTERING

    No full text
    Berdasarkan hasil penelitian simulasi pengaruh temperatur terhadap distribusi konsentrasi hole kristal GaAs akibat peristiwa deformation potential scattering yang telah dilakukan, diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1. Ketika temperatur divariasikan mulai dari 40 K, 60 K, 80 K, 100 K dan 300 K (sebagai temperatur kontrol), maka nilai konsentrasi hole yang diperoleh berbeda-beda tetapi memiliki kecenderungan yang sama. Semakin mendekati katoda, maka nilai konsentrasi hole menjadi semakin kecil. 2. Kurva karakteristik pengaruh temperatur terhadap konsentrasi hole (p-T) kristal GaAs akibat peristiwa deformation potential scattering yang diperoleh pada penelitian ini menunjukkan bahwa untuk daerah A dan daerah B ketika temperatur 40 K menuju 60 K dan 80 K menuju 100 K, diperoleh nilai konsentrasi hole yang konstan. Pada daerah C dan daerah D, ketika terjadi peningkatan temperatur maka nilai konsentrasi hole menjadi semakin kecil. Akan tetapi untuk daerah E, daerah F dan daerah G, diperoleh nilai konsentrasi hole yang semakin besar seiring meningkatnya temperatur. Sedangkan, untuk daerah H diperoleh nilai konsentrasi hole yang relatif kecil dan konstan pada saat terjadi peningkatan temperatur

    KARAKTERISASI FTIR MEMBRAN KOMPOSIT NILON-ARANG BERBAHAN DASAR LIMBAH JARING BENANG NILON DAN AMPAS TEBU

    No full text
    Membran merupakan suatu selaput semipermeabel berupa lapisan tipis yang berada diantara dua fasa dengan karakter berbeda. Salah satu kendala pengembangan teknologi membran adalah bahan baku utama dalam fabrikasi membran. Pemilihan limbah jaring benang nilon sebagai bahan baku pembuatan membrane, karena bahan ini mudah diperoleh khususnya di kawasan pesisir Pantai Puger, Kabupaten Jember. Nilon memiliki stabilitas termal dan kekuatan mekanik yang baik jika berinteraksi dengan unsur karbon dibandingkan dengan polimer lainnya. Unsur karbon pada arang dapat dibuat dari bahan baku ampas tebu yang merupakan limbah pertanian organik dari hasil pengolahan gula tebu di Pabrik Gula Semboro, Kabupaten Jember. Oleh karena itu, pada penelitian ini dilakukan sintesis membran komposit nilon-arang menggunakan bahan dari limbah jaring benang nilon dan ampas tebu, sehingga diharapkan menjadi solusi untuk mengurangi dampak pencemaran lingkungan. Sintesis membran komposit nilon-arang yang dihasilkan, kemudian dilakukan karakterisasi Fourier Transform Infrared (FTIR). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan limbah jaring benang nilon dan ampas tebu pada sintesis membran komposit nilon-arang terhadap spektrum gugus fungsi yang dihasilkan menggunakan karakterisasi FTIR. Kegiatan penelitian dilakukan melalui tiga tahap, yaitu: tahap pembuatan arang aktif, tahap sintesis membran, dan tahap karakterisasi membran. Secara umum tahap pembuatan arang aktif ampas tebu terdiri dari proses karbonisasi dan proses aktivasi. Tahap sintesis membran dilakukan dengan variasi fraksi massa arang aktif ampas tebu terhadap limbah jaring benang nilon sebesar 7% (Sampel B1), 8% (Sampel B2), 10% (Sampel B3) dan 11% (Sampel B4) serta membran nilon sebagai kontrol (Sampel A). Sedangkan tahap karakterisasi Fourier Transform Infrared (FTIR) digunakan untuk mengetahui spektrum gugus fungsi. Berdasarkan hasil karakterisasi FTIR, penambahan karbon dari arang aktif ampas tebu menyebabkan pergeseran bilangan gelombang dan perubahan puncak intensitas serapan dibandingkan dengan polimer aslinya (membran nilon Sampel A). Intensitas serapan paling besar terjadi pada gugus fungsi primary amide C=O stretching dari limbah jaring benang nilon, karena adanya tumpang tindih (overlap) dengan gugus fungsi primary amide C=C stretching dari arang aktif ampas tebu pada bilangan gelombang sekitar 1600 cm-1. Secara keseluruhan, membran komposit nilon-arang dengan fraksi massa 7% memiliki intensitas serapan yang paling besar dibandingkan dengan membran komposit nilon-arang lainny

    Sifat-Sifat Magnetik Bahan Feromagnetik Co0.8Pt0.2 Dengan Metode Simulasi Mikromagnetik

    No full text
    Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui sisi kritis dan sifat-sifat magnetik dari bahan CoPt berupa kurva histerisis. Sisi kritis dianalisis dengan grafik hubungan rapat energi dengan sisi. Rapat energi yang digunakan pada grafik yaitu energi exchange, energi demagnetisasi dan energi total. Adapun sifat-sifat magnetik bahan CoPt dijelaskan dengan mengidentifikasi medan koersivitas bahan menggunakan kurva histerisis yang dianalisis pada tiga zona domain magnetik yaitu single domain, transisi, dan multi domain. Penelitian ini menggunakan software NMAG berbasis finite element dengan sistem operasi linux. Penelitian ini menggunakan variasi sisi kubus sebesar 8 nm41 nm untuk Ms=804 A/m dengan interval 3 nm. Ukuran kritis dianalisis pada grafik hubungan rapat energi dengan ukuran sisi kubus. Rapat energi yang digunakan pada grafik yaitu energi exchange, energi demagnetisasi dan energi total. Kurva histerisis ini menganalisis tiga zona domain yaitu single domain, transisi, dan multi domain. Hasil simulasi yang diperoleh dengan menganalisis grafik hubungan rapat energi dengan ukuran sisi kubus terdapat tiga zona yakni single domain, transisi, dan multi domain yang menunjukkan bahwa ukuran kritis pada Ms = 804 A/m dan Ms= 810 A/m dan Ms = 810 A/m sebesar 20 nm. Nilai tersebut didapatkan dari hasil titik terakhir dalam zona single domain yang akan menuju ke zona transisi. Hasil simulasi menunjukkan bahwa ukuran kritis sesuai dengan persamaan sisi kritis yang mengacu pada persamaan Brown. Persamaan diameter kritis Brown pada bola adalah . Analisis kurva histerisis pada tiga zona domain untuk menunjukkan sifat magnetiknya dengan Ms = 804 A/m dan Ms = 810 A/m zona single domain dianalisis dengan ukuran 8 nm. Adapun zona transisi diwakilikan pada ukuran sisi kubus sebesar 20 nm untuk Ms = 804 A/m dan dan Ms = 810 A/m. Kemudian pada zona multi domain diwakilkan pada ukuran sisi kubus sebesar 29 nm untuk Ms= 804 A/m. Melalui analisis kurva histerisis menunjukkan bahwa semakin besar nilai ukuran sisi kubus maka nilai dari medan koersivitas yang dihasilkan juga akan semakin besar

    INVESTIGASI SIFAT-SIFAT MAGNETIK BAHAN CoFeB DAN PENGARUH PENERAPAN HEAT ASSISTED MENGGUNAKAN SIMULASI MIKROMAGNETIK

    Full text link
    Salah satu media penyimpanan data yang biasa digunakan oleh berbagai komputer adalah suatu media perekam magnetik hard disk drive (HDD). Hard disk drive (HDD) pada umumnya digunakan sebagai penyimpanan data jangka panjang pada komputer. Upaya untuk memperbesar kapasitas penyimpanan data yaitu dengan cara meningkatkan kerapatan bit (bit-areal-density). Kerapatan bit yang meningkat berarti akan meningkatkan kapasitas penyimpanan data dari media perekam data tersebut. Bahan material yang berpotensi untuk diaplikasikan sebagai media peyimpanan data adalah bahan feromagnetik. Penelitian ini dilakukan menggunakan simulasi mikromagnetik dengan bahan feromagnetik. Ada beberapa bahan yang termasuk dalam golongan ini, antara lain adalah besi (Fe), nikel (Ni), cobalt (Co) dan beberapa bahan campuran seperti CoFeB. CoFeB merupakan bahan magnet permalloy yang bersifat hard magnetik. Hard magnetik merupakan material magnet yang memiliki medan koersif kuat. Dalam mempelajari sifat magnet yang ada dalam bahan CoFeB dapat digunakan pendekatan secara teori komputasi. Salah satu metode yang bisa digunakan adalah Heat Assisted Magnetic Recording (HAMR). HAMR merupakan sistem magnetisasi berbantuan panas untuk menurunkan medan switching yang telah dilakukan. Metode HAMR ini dapat digunakan dengan simulasi mikromagnetik. Simulasi mikromagnetik dapat dilakukan dengan menggunakan metode finite element (FE) dan atomistik. Program yang dapat digunakan dalam simulasi mikromagnetik antara lain Vampire dan Nmag. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sifat-sifat magnetik bahan CoFeB serta pengaruh heat assisted terhadap medan koersivitas. Struktur model bahan yang digunakan adalah nanosphere Hasil simulasi yang dihasilkan menunjukkan besarnya diameter kritis dari bahan CoFeB adalah 10 nm. Hal tersebut diperkuat dengan grafik energi sistem yang ada, dimana perubahan energi exchange dan energi demagnetisasi mengalami perubahan pada diameter 10 nm. Pada daerah dengan diameter 5 nm sampai dengan 10 nm, struktur domain yang terbentuk adalah single-domain. Pada diameter 15 nm sampai dengan 20 nm, struktur domain yang terbentuk berada pada keadaan vortex. Berdasrkan hasil simulasi memperlihatkan bahwa terdapat perbedaan perubahan medan koersivitas pada bahan CoFeB. Medan koersivitas pada diameter 5 nm sampai dengan 10 nm mempunyai pola meningkat, seiring bertambahnya diameter. Sedangkan medan koersivitas pada diameter 15 nm sampai dengan diameter 25 mempunyai pola menurun seiring bertambahnya diameter. Hal ini dikarenakan pada diameter 10 nm merupakan diameter kritis dari bahan CoFeB. Temperatur Curie pada bahan CoFeB berdasarkan hasil simulasi diperoleh pada 700 K. Hal ini dapat diperkuat dengan adanya perubahan magnetisasi yang cenderung konstan seiring dengan penambahan temperatur diatas 700 K. Pengaruh heat assisted berdasarkan simulasi memperlihatkan bahwa terdapat 3 pola perbedaan perubahan medan koersivitas pada bahan CoFeB. Pola pertama yaitu terjadi pada temperatur 0 K sampai 100 K. Pola kedua terjadi saat medan koersivitas menunjukkan penurunan seiring bertambahnya temperatur yaitu pada temperatur 100 K sampai 500 K, keadaan ini sesuai sesuai dengan konsep dari heat assisted. Pola ketiga berada pada temperatur 600 K – 800 K, dimana pada rentang temperatur tersebut kurva histerisis bahan CoFeB menunjukkan medan koersivitasnya sudah rusa
    corecore