1,720,992 research outputs found
SILABUS Skill Lab Biomaterial dan Teknologi Kedokteran Gigi (KGU 4162)
Pembelajaran mata kuliah skill lab.biomaterial dan Tekonologi Kedokteran Gigi meliputi: manipulasi
gipsum, carving, manipulasi malam/lilinKG, manipulasi
resin akrilik, manipulasi alloy KG, manipulasi resin
ortodontik, dan klamer adam, busur labial, pegas
kantilever, 3 jari dan half jackso
Potensi Bubuk Kulit Buah Kopi Arabika (Coffea Arabica L.) Terhadap Peningkatan Jumlah Pembuluh Darah Pasca Pencabutan Gigi Pada Tikus Wistar Jantan
Pencabutan gigi adalah tindakan pengeluaran gigi dari soket tulang
alveolar. Setelah pencabutan gigi akan dihasilkan suatu luka pada jaringan lunak
maupun jaringan keras dan timbul soket pasca pencabutan. Komplikasi yang
sering terjadi setelah pencabutan adalah perdarahan. Salah satu hal yang perlu
diperhatikan setelah tindakan pencabutan gigi adalah kecepatan proses
penyembuhan luka pasca pencabutan gigi.
Salah satu elemen penting yang dibutuhkan dalam proses penyembuhan
luka yaitu pembuluh darah. Pembuluh darah berperan dalam pengangkutan
oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan pada proses penyembuhan luka.
Pembentukan pembuluh darah dipengaruhi oleh growth factor VEGF (Vascular
Endothelial Growth Factor). Pengobatan dengan menggunakan tanaman sedang
digemari pada saat ini, salah satu tanaman yang berkhasiat untuk mempercepat
proses penyembuhan luka adalah kulit buah kopi arabika.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris dengan
rancangan post test only control group design. Sampel yang digunakan sebanyak
32 ekor tikus yang dibagi dalam dua kelompok yaitu kelompok kontrol yang
diberikan aquades dan kelompok perlakuan yang diberikan bubuk kulit buah kopi
arabika secara sondase. Setiap kelompok sebelumnya dilakukan pencabutan gigi
molar satu kiri mandibula. Selanjutnya pada hari ke-2, hari ke-4, hari ke-6 dan
hari ke-8 tikus di dekaputasi, dilanjutkan pembuatan sediaan histologi dengan
pewarnaan haematoxylin-eosin. Pengamatan dan perhitungan jumlah pembuluh
darah dilakukan menggunakan mikroskop binokuler dengan perbesaran 400x.
Hasil perhitungan kemudian dilakukan analisis data.
Berdasarkan uraian di atas, bubuk kulit buah kopi arabika berpengaruh terhadap peningkatkan jumlah pembuluh darah pada soket pasca pencabutan gigi
tikus wistar jantan. Hal ini dikarenakan pada bubuk kulit buah kopi arabika
terkandung zat-zat aktif yang dapat meningkatkan jumlah pembuluh darah yaitu
flavonoid, tanin, asam klorogenat, dan kafein. Hasil penelitian menunjukkan
adanya peningkatan yang signifikan pada jumlah pembuluh darah antara
kelompok perlakuan yang diberi bubuk kulit buah kopi arabika dengan kelompok
kontrol pada pengamatan hari kesatu, ketiga, kelima dan ketujuh. Hal ini
membuktikan bahwa bubuk kulit buah kopi arabika (Coffea Arabica L.) berperan
dalam meningkatkan jumlah pembuluh darah pada soket pasca pencabutan gigi
tikus wistar jantan
PERBANDINGAN PELEPASAN ION NIKEL PADA KAWAT ORTODONTIK STAINLESS STEEL YANG DIRENDAM DALAM SEDUHAN TEH HITAM DAN SEDUHAN KOPI ARABIKA
Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pelepasan ion Ni pada kawat ortodontik stainless steel yang direndam dalam seduhan Teh Hitam dan seduhan Kopi Arabika. Jenis penelitian ialah eksperimental laboratoris dengan rancang the post test
only control group desaign. Sampel kawat ortodontik stainless steel berjumlah 12 dibagi menjadi 3 kelompok, 1 kelompok kontrol dan 2 kelompok perlakuan. Kawat ortodontik stainless steel direndam dalam saliva buatan, saliva buatan yang ditambah seduhan Teh Hitam dan saliva buatan yang ditambah dengan Kopi Arabika selama 10,5 jam dalam inkubator 370C. Sampel diuji dengan menggunakan alat atomic absorbtion spectrometry (AAS) untuk menghitung jumlah pelepasan ion Ni.
Hasil penelitian menunjukkan rerata pelepasan ion Ni pada kelompok kontrol sebesar 0,1797 ppm, pada kelompok perlakuan 1 sebesar 0,2827 ppm dan pada kelompok perlakuan 2 sebesar 0,1248 ppm. Data jumlah pelepasan ion Nikel kemudian di analisis dan menunjukkan data berdistribusi normal dan homogen. Kemudian data di uji One Way ANOVA dan Post Hoc Multiple Comparison Test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan 1. Terdapat perbedaan signifikan kelompok perlakuan 1 dengan kelompok perlakuan 2. Kemudian terdapat perbedaan tidak signifikan antara kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan 2.
Kesimpulan dari penelitian ini pelepasan ion Ni pada kawat ortodontik stainless steel yang direndam dalam saliva buatan, saliva buatan ditambah dengan seduhan Teh Hitam dan saliva buatan yang direndam saliva buatan ditambah dengan seduhan Kopi Arabika. Pelepasan ion Ni pada kawat ortodontik stainless steel yang direndam dalam saliva buatan ditambah dengan seduhan Teh Hitam memiliki pelepasan ion Ni lebih tinggi dibandingkan yang direndam dalam saliva buatan dan saliva buatan ditambah dengan seduhan Kopi Arabika
PERBEDAAN KEKUATAN DAYA ADHESI Candida albicans PADA RESIN AKRILIK HEAT CURED DAN NILON TERMOPLASTIK
Resin akrilik dan nilon termoplastik banyak digunakan sebagai basis gigi
tiruan. Kedua bahan basis gigi tiruan ini memiliki kekurangan yaitu porusitas dan
kekasaran permukaan, sifat fisik tersebut dapat memicu terjadinya peningkatan
adsorbsi protein saliva sehingga mempermudah mikroorganisme termasuk C.
albicans melakukan perlekatan atau daya adhesi pada reseptor protein saliva.
Kumpulan mikroorganisme tersebut membentuk koloni dan berpenestrasi
kepermukaan basis gigi tiruan sehingga menyebabkan terjadinya plak gigi tiruan
(denture plaque) dan denture stomatitis. Sebagai pemeriksaan pendukung untuk
mengetahui profil porusitas dan kekasaran permukaan dilakukan dengan pemeriksaan
menggunakan Scanning Electron Microscopy (SEM). Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengetahui perbedaan kekuatan daya adhesi C. albicans pada resin
akrilik heat cured dan nilon termoplastik.
Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratoris. Penelitian dilakukan di
bagian Biomedik Laboratorium Mikrobiologi FKG Universitas Jember dan
Laboratorium Sentral FMIPA Universitas Negeri Malang. Jumlah sampel yang
digunakan sebanyak 28 sampel dan 4 sampel untuk pemeriksaan Scanning Electron
Microscopy (SEM) sebagai penunjang hasil penelitian. Sampel berbentuk persegi
ukuran (10x10x1) mm. Sampel dibagi menjadi 4 kelompok yaitu kelompok A1
(lempeng resin akrilik heat cured tanpa pemulasan), kelompok B1 (lempeng nilon
termoplastik tanpa pemulasan), kelompok A2 (lempeng resin akrilik heat cured
dengan pemulasan) dan kelompok B2 (lempeng nilon termoplastik dengan
pemulasan). Lempeng resin akrilik heat cured dan nilon termoplastik disterilkan
dengan menggunakan autoclave dengan suhu 121o C selama 18 menit, kemudian
direndam dalam saliva steril selama 1 jam dan dibilas dengan PBS 2 kali masingmasing
15 detik. Lalu lempeng dikontaminasi dengan C. albicans dan
menginkubasinya selama 24 jam pada suhu 37o C. Pada 4 sampel yang telah
dikontaminasi dengan C. albicans dilakukan pengamatan dengan menggunakan
SEM. Kemudian dibilas lagi dengan PBS 2 kali tiap 15 detik dan dimasukkan dalam
media agar Saboraud Broth dan dilakukan vibrasi dengan thermolyne selama 30
detik, dan selanjutnya dilakukan perhitungan C. albicans dengan menggunakan
spektrofotometer.
Data yang diperoleh dianalisa dengan uji Kolmogrov-Smirnov dan didapatkan
nilai signifikansi 0.2 dan 0.181 (p> 0.05) sehingga data dinyatakan berdistribusi
normal dan dianalisa dengan uji Levene didapatkan hasil nilai signifikansi 0.291 (p>
0.05) sehingga data dinyatakan berdistribusi homogen. Setelah diketahui data
berdistribusi normal dan homogen, selanjutnya dilakukan uji parametrik one way
ANOVA didapatkan nilai signifikansi 0.00, dinyatakan terdapat perbedaan.
Dilanjutkan uji HSD didapatkan nilai signifikansi 0.00 dan 0.09 (p<0.05) dinyatakan
terdapat perbedaan yang bermakna pada setiap kelompok perlakuan. Berdasarkan
penelitian ini dapat disimpulkan, bahwa terdapat perbedaan dari kekuatan daya
adhesi C. albicans pada resin akrilik heat cured dan nilon termoplastik
Potensi Kulit Buah Kopi Arabika (Coffea arabica L.) dalam Meningkatkan Jumlah Makrofag Pasca Pencabutan Gigi pada Tikus Wistar
Makrofag pada kelompok kontrol K1 dan mengalami peningkatan pada kelompok kontrol K3, akan tetapi mengalami
penurunan pada kelompok kontrol K5 dan kelompok kontrol K7. Hal ini sesuai
dengan teori bahwa pada saat terjadi luka, sel makrofag akan muncul pada hari ke1 dan meningkat hingga mengalami puncak pada hari ke-3. Kemudian, pada hari
ke-5 terjadi penurunan menunjukkan bahwa proses inflamasi telah banyak
berkurang. Sedangkan pada kelompok perlakuan, jumlah sel makrofag mengalami
peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan kelompok kontrol pada keempat
kelompok. Berdasarkan pernyataan tersebut diduga karena adanya kandungan kulit
buah kopi Arabika (Coffea arabica L.) diantaranya yaitu asam klorogenat, kafein,
dan polifenol yang mampu meningkatkan jumlah sel makrofag sehingga dapat
mempercepat proses penyembuhan luka pasca pencabutan
Potensi Kulit Buah Kopi Arabika (Coffea Arabica) Terhadap Peningkatan Ketebalan Epitel Setelah Pencabutan Gigi Tikus Wistar
Di Indonesia, pencabutan gigi merupakan tindakan yang paling sering dilakukan dalam bidang kedokteran gigi. Indikator keberhasilan pencabutan gigi adalah terjadinya proses penyembuhan yang sempurna. Salah satu parameter keberhasilan proses penyembuhan luka adalah pembentukan epitel. Apabila epitelisasi terganggu dan soket tidak tertutup dengan baik, maka luka tidak dapat dikatakan sembuh.
Pemberian obat berbahan alam merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan dalam mempercepat terjadinya epitelisasi dalam proses penyembuhan luka. Berdasarkan penelitian sebelumnya, senyawa dalam kulit buah kopi arabika yang merupakan produk samping utama (limbah) dari proses pengolahan kopi, terbukti berpotensi dalam mempercepat proses penyembuhan luka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi kulit buah kopi arabika terhadap ketebalan epitel pada proses penyembuhan luka soket setelah pencabutan gigi tikus Wistar.
Penelitian ini menggunakan pendekatan eksperimental laboratoris in vivo dengan rancangan penelitian post test only control group design. Sampel yang digunakan yaitu 24 ekor tikus Wistar yang terbagi dalam kelompok kontrol (K) dan perlakuan (P). Setiap sampel dilakukan pencabutan pada gigi molar satu rahang bawah kiri. Selanjutnya, pada kelompok kontrol dilakukan sondase dengan larutan aquadest, sedangkan pada kelompok perlakuan dilakukan sondase dengan bubuk kulit buah kopi arabika yang dilarutkan dengan air hangat. Sondase dilakukan setiap hari hingga hari ke-3 (K1, P1), ke-5 (K2, P2), dan ke-7 (K3, P3) setelah pencabutan gigi. Selanjutnya, hewan coba didekaputasi 24 jam setelah perlakuan terakhir, dan dilanjutkan dengan pemrosesan jaringan dengan arah pemotongan bukolingual serta pewarnaan jaringan menggunakan Hematoxylin-Eosin (HE
Analisis Pelepasan Ion Nikel dan Kromium Pada Kawat Thermal Nikel Titanium Yang Direndam Dengan Air Kelapa Hijau (Cocos nucifera var. Viridis)
Prevalensi maloklusi yang tinggi tentunya juga akan diimbangi dengan tingginya perawatan ortodonti, yang salah satunya memakai kawat ortodonti. Faktor jangka waktu pemakaian, lingkungan rongga mulut, tingkat keasaman (pH) dan juga makanan yang dikonsumsi dapat menimbulkan perubahan pada kawat ortodonti. Salah satu perubahan tersebut yakni pelepasan ion logam berat khususnya nikel (Ni) dan kromium (Cr) pada kawat sehingga mengurangi sifat kekuatan dan fleksibilitas kawat serta menimbulkan efek berupa alergi, karsinogenik, sitotoksis pada tubuh manusia. Pada pH asam kandungan hidrogen (H+) berjumlah banyak sehingga dapat menginduksi reaksi pelepasan ion. pH dalam rongga mulut dapat menjadi asam setelah mengkonsumsi minuman berupa air kelapa hijau (Cocos nucifera var. Viridis). Air kelapa hijau memiliki pH yang asam oleh karena kandungannya yang terdiri dari beberapa asam kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perendaman dalam air kelapa hijau (Cocos nucifera var. Viridis) dan saliva buatan terhadap pelepasan ion nikel dan kromium kawat ortodonti Thermal Nickel-titanium (NiTi). Sampel berupa kawat ortodonti Thermal Nickel-titanium berjumlah 8 buah dengan panjang 11,6 cm dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kontrol yang direndam pada saliva buatan dan perlakuan yang direndam dalam saliva buatan ditambah air kelapa hijau. Kemudian sampel direndam pada masing- masing larutan selama 3 jam pada suhu 37oC. Sampel kemudian diambil dan larutan perendaman diuji dengan alat AAS (Atomic Absorbtion Spectrometry) untuk menghitung jumlah ion nikel dan kromium yang terlepas dari kawat. Data jumlah pelepasan ion nikel dan kromium kemudian di analisis menunjukkan data berdistribusi normal dan homogen serta terdapat perbedaan
tidak signifikan antara kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan. Hasil penelitian pada kelompok perlakuan memiliki jumlah pelepasan sedikit lebih kecil dibanding dengan kelompok kontrol, sedangkan jumlah pelepasan ion Kromium pada kawat Thermal Nickel-Titanium pada kelompok perlakuan sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol. Kesimpulan dari hasil penelitian ini yaitu terdapat pengaruh berupa pelepasan ion nikel (Ni) dan kromium (Cr) pada kawat ortodonti Thermal Nickeltitanium yang direndam dalam saliva buatan dan dalam saliva buatan dengan air kelapa hijau (Cocos nucifera var. Viridis)
KEKUATAN FLEKSURAL RESIN KOMPOSIT MICROHYBRID DENGAN PENAMBAHAN LAPISAN POLYETHYLENE FIBER
Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental laboratoris. Sampel dalam penelitian ini dibagi menjadi kelompok kontrol (komposit microhybrid tanpa fiber) dan 3 kelompok perlakuan yaitu kelompok perlakuan 1 (komposit microhybrid dengan penambahan 1 lapis fiber), kelompok perlakuan 2 (komposit microhybrid dengan penambahan 2 lapis fiber), dan kelompok perlakuan 3 (komposit microhybrid dengan penambahan 3 lapis fiber). Sampel diuji dengan menggunakan universal testing machine untuk mengetahui kekuatan fleksural (MPa).
Hasil Kruskal Wallis Test menunjukkan ada perbedaan yang signifikan antar kelompok penelitian. Kemudian Mann Whitney U-Test menyatakan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara semua kelompok kecuali kelompok kontrol dan kelompok perlakuan 1. Perbedaan kekuatan fleksural yang bermakna (p<0,05) karena adanya perbedaan jumlah fiber. Hal ini diduga karena tekanan yang dihasilkan saat pembebanan 3 point bending test terhadap komposit microhybrid dengan penambahan 2 lapis dan 3 lapis fiber akan didistribusikan merata pada fiber dengan
adanya adhesi antara komposit dan fiber oleh bahan bonding. Permukaan polyethylene fiber yang ireguler memberikan kemudahan bagi bahan bonding untuk berpenetrasi dan berikatan secara mechanical interlocking. Bahan bonding kemudian akan berikatan secara kimiawi pada resin komposit yang diletakkan di atasnya. Ikatan komposit dan bonding dihasilkan dari ikatan kovalen antara bahan resin dari komposit dan bonding, yaitu suatu ikatan kimia yang cukup kuat karena kedua resin tersebut merupakan derivat dari golongan metakrilat. Pada saat tekanan diberikan secara tegak lurus dari arah vertikal, bahan bonding akan mentransfer tekanan dari resin komposit ke fiber. Distribusi tekanan akan diterima oleh lapisan fiber pertama dan akan diteruskan pada lapisan fiber berikutnya sehingga lapisan fiber yang lebih banyak menghasilkan energi lebih besar untuk menciptakan permukaan yang baru dan menghasilkan kekuatan fleksural yang tinggi.
Berdasar penelitian yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan terdapat peningkatan kekuatan fleksural resin komposit microhybrid dengan penambahan lapisan polyethylene fiber. Penambahan dua lapis dan tiga lapis polyethylene fiber mampu meningkatkan kekuatan fleksural resin komposit microhybrid
Analisis Pelepasan Ion Nikel dan Kromium pada Kawat Thermal Nikel Titanium yang Direndam dengan Air Kelapa Hijau (Cocos nucifera var. Viridis)
Prevalensi maloklusi yang tinggi tentunya juga akan diimbangi dengan tingginya perawatan ortodonti, yang salah satunya memakai kawat ortodonti. Faktor jangka waktu pemakaian, lingkungan rongga mulut, tingkat keasaman (pH) dan juga makanan yang dikonsumsi dapat menimbulkan perubahan pada kawat ortodonti. Salah satu perubahan tersebut yakni pelepasan ion logam berat khususnya nikel (Ni) dan kromium (Cr) pada kawat sehingga mengurangi sifat kekuatan dan fleksibilitas kawat serta menimbulkan efek berupa alergi, karsinogenik, sitotoksis pada tubuh manusia. Pada pH asam kandungan hidrogen (H+) berjumlah banyak sehingga dapat menginduksi reaksi pelepasan ion. pH dalam rongga mulut dapat menjadi asam setelah mengkonsumsi minuman berupa air kelapa hijau (Cocos nucifera var. Viridis). Air kelapa hijau memiliki pH yang asam oleh karena kandungannya yang terdiri dari beberapa asam kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perendaman dalam air kelapa hijau (Cocos nucifera var. Viridis) dan saliva buatan terhadap pelepasan ion nikel dan kromium kawat ortodonti Thermal Nickel-titanium (NiTi). Sampel berupa kawat ortodonti Thermal Nickel-titanium berjumlah 8 buah dengan panjang 11,6 cm dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kontrol yang direndam pada saliva buatan dan perlakuan yang direndam dalam saliva buatan ditambah air kelapa hijau. Kemudian sampel direndam pada masing- masing larutan selama 3 jam pada suhu 37oC. Sampel kemudian diambil dan larutan perendaman diuji dengan alat AAS (Atomic Absorbtion Spectrometry) untuk menghitung jumlah ion nikel dan kromium yang terlepas dari kawat. Data jumlah pelepasan ion nikel dan kromium kemudian di analisis menunjukkan data berdistribusi normal dan homogen serta terdapat perbedaan viii tidak signifikan antara kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan. Hasil penelitian pada kelompok perlakuan memiliki jumlah pelepasan sedikit lebih kecil dibanding dengan kelompok kontrol, sedangkan jumlah pelepasan ion Kromium pada kawat Thermal Nickel-Titanium pada kelompok perlakuan sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol. Kesimpulan dari hasil penelitian ini yaitu terdapat pengaruh berupa pelepasan ion nikel (Ni) dan kromium (Cr) pada kawat ortodonti Thermal Nickeltitanium yang direndam dalam saliva buatan dan dalam saliva buatan dengan air kelapa hijau (Cocos nucifera var. Viridis
Potensi Ikan Teri (Stolephorus sp) Terhadap Peningkatan Jumlah Pembuluh Darah Pasca Pencabutan Gigi Tikus Wistar Jantan
Pencabutan gigi adalah suatu tindakan bedah dengan tujuan untuk
mengeluarkan gigi atau akar gigi dari dalam soket tulang alveolar. Proses
penyembuhan luka dapat digambarkan oleh tiga fase yang berurutan yaitu: fase
inflamasi, fase proliferasi dan fase remodeling. Proses yang terlibat pada fase
proliferasi salah satunya adalah neovaskularisasi. Neovaskularisasi merupakan
salah satu proses alami yang sangat diperlukan dalam penyembuhan luka dan
menjaga aliran darah ke jaringan setelah terjadi luka. Ikan teri dapat digunakan
sebagai bahan tambahan pembentuk sel-sel darah dan kolagen. Kandungan nutrisi
pada ikan teri dapat mempengaruhi pembentukan pembuluh darah, proliferasi
fibroblas, serta penurunan sintesis proteoglikan dan kolagen
- …
