1,721,159 research outputs found
PERTUNJUKAN WAYANG KULIT DI KABUPATEN JEMBER PADA TAHUN 1980-2014
Seni pertunjukan wayang kulit di kabupten Jember tidak diketahu pasti tahun kedatangannya, akan tetapi di pastikan kesenian pertunjukan wayang kulit sudah ada sejak jaman kolonial Belanda. Kesenian pertunjukan wayang kulit merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan Jawa yang masih berkembang dalam masyarakat Jember khususnya bagian selatan yaitu desa Wuluhan, desa Ambulu dan desa Semboro yang mayoritas penduduknya adalah suku Jawa. Permasalahan dalam kajian ini adalah; (1) bagaimanakah sejarah pertunjukan wayang kulit di Kabupaten Jember pada tahun 1980-2014; (2) bagaimanakah eksistensi pertunjukan wayang kulit di Kabupaten Jember pada tahun 1980-2014 ; (3) bagaimana kah fungsi dari pertunjukan wayang kulit. Tujuan kajian adalah; (1) untuk mengkaji sejarah pertunjukan wayang kulit di kabupaten Jember pada tahun 1980-2014; (2) untuk mengkaji eksistensi pertunjukan wayang kulit di kabupaten Jember pada tahun 1980-201; (3) untuk mengkaji funsgi dari pertunjukan wayang kulit. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode penelitian sejarah yang terdiri dari langkah heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Simpulan dari kajian ini ialah, seni pertunjukan wayang kulit datang ke kabupaten Jember pada awalnya dibawa oleh masyarakat Jawa yang berpindah dari tempat asalnya ke kabupaten Jember. Pertunjukan wayang kulit di pertontonkan awalnya hanya untuk mengobati rasa rindu masyarakat Jember terhadap kampung halamannya, sesuai berkembangnya jaman pertunjukan wayang kulit dijadikan sebagai salah satu kesenian yang berada di kabupaten Jember
DINAMIKA MILITER INDONESIA DALAM SOSPOL 1981 - 2015
Militer Indonesia merupakan angkatan bersenjata yang ditujukan untuk melindungi, mempertahankan kedaulatan negara dan bangsa. Pembentukan militer Indonesia mempunyai dasar dan landasan yang tertera di dalam undang-undang tentang Tentara Nasional Indonesia. Rumusan masalah dalam kajian ini adalah (1)Bagaimana dinamika tugas pokok dan fungsi militer Indonesia tahun 1966-2004 (2) Bagaimana peran militer Indonesia dalam bidang sosial politik tahun 1966-2004. Tujuan dari kajian ini adalah (1) memahami tugas pokok dan fungsi militer Indonesi tahun 1966-2004 (2) mendeskripsikan peran militer Indonesia dalam bidang sosial politik tahun 1966-2004.Kajian ini menggunakan teori hubungan sipil militer dan pendekatan sosiologi militer. Metode yang digunkan dalam kajian ini adalah metode sejarah yang meliputi heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Hasil kajian menunjukkan bahwa militer Indonesia mempunyai peranan dalam bidang sosial politik disamping tugas utamanya sebagai kekuatan pertahanan keamanan. Fungsi tersebut sesuai dengan kepribadian Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Pelaksanaan tugas militer tersebut memerlukan partisipasi aktif dari rakyat untuk mewujudkan kesejahteraan bangsa, sehingga fungsi militer hanya membantu dan menjadi dinamisator dan stabilisator dari proses pembangunan. Masa orde baru lengser pada tahun 1998, masyarakat menggapai masa setelah orde baru adalah masa reformasi. Dalam proses reformasi ini membuat militer kehilangan jalan
PERKEMBANGAN KESENIAN SISINGAAN DI KABUPATEN SUBANG TAHUN 1955-2013
Latar belakang penelitian ini adalah kebudayaan merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia
dalam rangka kehidupan masyarakat dijadikan milik diri manusia. Kesenian lahir dan berkembang dari kreativitas masyarakat
yang terbentuk dari keadaan sosial ekonomi, letak geografis dan pola kegiatan keseharian. Kesenian Sisingaan merupakan sebuah
kesenian di Kabupaten Subang. Kesenian Sisingaan adalah kesenian khas Kabupaten Subang berupa patung boneka yang
menyerupai singa sebagai simbol dari dua negara Belanda dan Inggris. Lahirnya Sisingaan merupakan bentuk perlawanan secara
tertutup atau ungkapan sindiran terhadap penjajah. Tahun 1900an bentuk penyajian Sisingaan mengalami perubahan penyajian,
gerak dan unsur pendukung. Perubahan terhadap kesenian Sisingaan tahun 1955-2013 mengakibatkan Sisingaan terus
berkembang. Dampak perkembangan terhadap kesenian Sisingaan salah satunya menyesuaikan dengan lingkungan agar tetap
berkembang di zaman modern, perubahan diantaranya terhadap patung singa, busana, iringan musik, gerakan, fungsi, pertunjukan
hingga berkembanganya grup-grup Sisingaan di Kabupaten Subang. Fungsi Sisingaan tidak lepas dari adanya penjajah di
Kabupaten Subang, sebelum tahun 1955 fungsi Sisingaan yaitu sebagai alat perjuangan untuk mengusir penjajah dan upacara
ritual khitanan anak sunat. Pada tahun 1955-2013 kesenian Sisingaan menjadi multifungsi yaitu sebagai penyambutan tamu,
peresmian gedung, pertunjukan, dan festival. Makna kesenian Sisingaan terdapat pada boneka singa, pengusung & anak diatas
singa, pengiring musik, dan gerakan. Artinya boneka singa merupakan lambang penjajah yaitu Belanda dan Inggris. Lambang
singa digunakan sebagai ketegasan, kekuatan, kegarangan dalam melawan penjajah. Pengusung merupakan rakyat Subang yang
tertindas oleh Penjajah, sedangkan anak di atas singa merupakan generasi muda yang mampu melawan penjajah yang iringi
dengan musik salah satu cara memberikan semangat dalam melawan Belanda dan inggris. Gerakan yang dimainkan di kesenian
Sisingaan ungkapan pantang menyerah dan selalu mencari segala cara untuk mencapai tujuan yang diinginkan
KONFLIK PEREBUTAN KEKUASAAN ANTARA KAUM NASIONALIS DAN KOMUNIS
Latar belakang penelitian ini adalah Republik Tiongkok merupakan sebuah negara yang terletak di Asia Timur.
Periode tahun 1917-1920, Republik Tiongkok dimasuki ajaran Marxis-Leninisme dari Uni Soviet karena terinspirasi
keberhasilan Kaum Bolshevik Republik Tiongkok merupakan Faktor pendorong timbulnya konflik antara kaum
nasionalis dan kaum komunis bisa ditinjau dari dua faktor antara lain; (1) Faktor Ekstern, pasca reorganisasi
Kuomintang yang dilakukan Sun Yat Sen, antara tahun 1921-1924 terjadi perubahan sistem birokrasi yang meniru
Uni Soviet. Dampak perubahan tersebut karena pengiriman teknisi Uni Soviet di bidang pertahanan dan keamanan
serta bidang birokrasi negara, dan (2) Faktor Intern, pasca wafatnya Sun Yat Sen tahun 1925, kondisi pemerintahan
tidak stabil. Posisi Presiden digantikan oleh Chiang Kai Shek yang membuat kebijakan memperkuat posisi kaum
nasionalis di Partai Nasionalis (Kuomintang). Kebijakan Chiang Kai Shek mengakibatkan penghapusan keanggotaan
kaum komunis di Partai Nasionalis (Kuomintang). Proses konflik ideologi yang mengarah kepada konflik
penguasaan pemerintah Tiongkok antara kaum nasionalis dan kaum komunis berlangsung dalam dua tahap konflik
yaitu; konflik tahap pertama (periode tahun 1927-1945); dan konflik tahap kedua (periode tahun 1945-1949). Kondisi
demikian membuat penelitian ini menarik dikaji karena terjadi penerapan teori domino komunis di kawasan Asia
Timur. Dampak dari konflik antara kaum nasionalis dan komunis menyebabkan terbentuknya negara Republik
Rakyat Tiongkok tanggal 1 Oktober 1949 dan Republik Taiwan Tahun 1949. Selain itu, akibat kemenangan kaum
komunis menimbulkan terbentuknya poros Jakarta-Phnom Penh-Peking-Hanoi-Pyongyang pada tahun 1959 sebagai
implementasi penerapan kebijakan luar negeri Mao Tse Tung tentang internasionalisasi komunis
PERANAN KH. HASYIM ASY'ARI DALAM PENDIDIKAN DI PESANTREN TEBUIRENG TAHUN 1899-1947
Peranan KH. Hasyim Asy'ari dalam pendidikan Islam mengedepankan etika dalam kegiatan belajar mengajar dan mengutamakan kesederhanaan. Peran KH. Hasyim Asy'ari di tebuireng diantaranya mempertahankan sistem sorogan dan bandongan, menambahkan sistem klasikal dalam kegiatan pendidikan, dan menambahkan kerikulum pelajaran umum seperti pelajaran bahasa Indonesia, matematika, dan sains. Rumusan masalah yang diangkat dalam kajian ini yakni (1) Bagaimana proses adaptasi sistem pendidikan KH. Hasyim Asy’ari dengan sistem pondok pesantren (2) Bagaimana pencapaian tujuan pendidikan Islam yang diperankan KH. Hasyim Asy’ari (3) Bagaimana proses integrasi sistem pendidikan Islam yang diperankan KH. Hasyim Asy’ari (4) Bagaimana upaya mempertahankan pola sistem pendidikan KH. Hasyim Asy’ari terhadap perkembagan zaman. Tujuan kajian ini adalah (1) Untuk mengetahui dan mengkaji proses adaptasi sistem pendidikan KH. Hasyim Asy’ari dengan sistem pondok pesantren (2) Untuk mengetahui dan mengkaji pencapaian tujuan pendidikan Islam yang diperankan KH. Hasyim Asy’ari (3) Untuk mengetahui dan mengkaji proses integrasi sistem pendidikan Islam yang diperankan KH. Hasyim Asy’ari (4) Untuk mengetahui dan mengkaji upaya mempertahankan pola sistem pendidikan KH. Hasyim Asy’ari terhadap perkembagan zaman. Metode kajian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini menggunakan metode kajian sejarah. Metode sejarah mempunyai empat langkah, yaitu: heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Kajian ini menggunakan pendekatan sosiologi agama dan sosiologi pendidikan. Kesimpulan dari kajian ini adalah perkembangan pondok pesantren Tebuireng dapat dilihat dari sistem pengajaran yang pada awalnya tradisional dengan metode sorogan dan bandongan. Namun seiring dengan berjalannya waktu dan atas kebijakan-kebijakan yang dilakukan KH. Hasyim Asy'ari ahirnya pondok pesantren Tebuireng menjadi pondok pesantren yang menerapkan sistem klasikal dan ada penambahan kurikulum yang hanya sebatas mengikuti perkembangan zaman
PERJUANGAN ORGANISASI PEREMPUAN INDONESIA MENUNTUT HAK
Latar belakang penelitian ini adalah kaum perempuan Indonesia pada masa kolonial Belanda belum sepenuhnya
dapat mengenyam pendidikan yang layak. Pemerintah kolonial membatasi pendidikan bagi kaum perempuan.
Kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah kolonial mengenai pendidikan di Indonesia, salah satunya adalah
mengatur bahwa pendidikan hanya diberikan untuk kalangan elit dan dikhususkan untuk kaum laki-laki. Fasilitas
pendidikan yang diberikan oleh Belanda kepada kaum bumiputera sangat terbatas. Secara umum, sistem pendidikan
khususnya sistem persekolahan didasarkan kepada golongan penduduk menurut keturunan atau lapisan (kelas) sosial
yang ada dan menurut golongan kebangsaan yang berlaku waktu itu. Selain itu, kaum perempuan di Indonesia juga
mendapatkan kekangan adat istiadat dan diskriminasi dari kaum laki-laki. Kaum perempuan selalu mendapat
perlakuan yang sewenang-wenang dan selalu dinomor-duakan dalam segala hal. Kaum perempuan hanya segelintir
saja yang memperoleh pendidikan yang sama dengan laki-laki. Sehingga hal ini berdampak pada pola pikir dan
budaya yang berkembang terhadap pandangan mengenai posisi kaum perempuan. Kondisi demikian membuat
penelitian ini menarik untuk dikaji karena kaum perempuan berjuang untuk mendapatkan hak pendidikannya dengan
membentuk organisasi-organisasi perempuan yang bertujuan untuk memberi pendidikan bagi gadis-gadis pribumi
untuk menjadi cerdas, terampil dan mandiri. Melalui organisasi tersebut, kaum perempuan bersatu untuk
mendapatkan hak pendidikannya dan kesetaraan kedudukan perempuan dengan kaum laki-laki
PEMIKIRAN MOHAMMAD HATTA TENTANG DEMOKRASI INDONESIA TAHUN 1928-1960
Latar belakang penelitian ini adalah Mohammad Hatta sebagai seorang tokoh yang memiliki pemikiran serta gagasan yang cemerlang dalam bidang politik, ekonomi, sosial budaya dan agama. Salah satu gagasan Mohammad Hatta yang muncul pada tahun 1928 sampai dengan tahun 1960 adalah tentang demokrasi Indonesia. Konsep demokrasi dari Mohammad Hatta berbeda dengan demokrasi Barat yang dikritiknya karena melahirkan kekuasaan kapitalisme. Mohammad Hatta mengharapkan bukan hanya demokrasi dibidang politik saja, tetapi dibidang ekonomi harus diperhatikan. Mohammad Hata menjadi peletak dasar konsep keIndonesia yang lebih mendalam yaitu konsep keadilan, keterbukaan, serta demokrasi. Rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini yakni (1) bagaimana kondisi lingkungan sosial, budaya, ekonomi, politik dan pendidikan yang mempengaruhi pemikiran Mohammad Hatta tentang demokrasi Indonesia; (2) bagaimana bentuk-bentuk pemikiran Mohammad Hatta tentang demokrasi Indonesia; (3) bagaimana usaha-usaha Mohammad Hatta untuk mewujudkan pemikirannya tentang demokrasi Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah (1) memahami kondisi lingkungan sosial, budaya, ekonomi, politik dan pendidikan yang mempengaruhi pemikiran Mohammad Hatta tentang demokrasi Indonesia; (2) memahami bentuk-bentuk pemikiran Mohammad Hatta tentang demokrasi Indonesia; (3) memahami usaha-usaha Mohammad Hatta untuk mewujudkan pemikirannya tentang demokrasi Indonesia. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah. Metode sejarah mempunyai empat langkah, yaitu: heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi pengetahuan dan antropologi, serta menggunakan teori Hermeneutika. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemikiran Mohammad Hatta tentang demokrasi Indonesia berdasarkan tuga sumber gagasannya yaitu ajaran Islam, azas kekeluargaan/kebersamaan dan sosialisme Barat, serta kondisi lingkungan sosial, budaya, politik, ekonomi, dan pendidikan yang turut mempengaruhinya
- …
