1,730,436 research outputs found
Nilai-Nilai Dasar Sukma Bangsa
Nama “Sekolah Sukma” pada awalnya dimaksudkan sebagai sekolah unggulan kemanusiaan. Namun, sebagai sekolah baru tak mungkin memiliki keunggulan yang langsung bisa diakui oleh masyarakat, maka kata Sukma disepakati untuk dikembalikan pada arti awalnya, yaitu semangat, spirit, ruh atau jiwa bagi sekolah yang kemudian dikenal sebagai Sekolah Sukma Bangsa (SSB). Dari segi penamaan, selain kata keunggulan, juga terkandung kata kemanusiaan. Dua kata dasar inilah, Sukma dan Kemanusiaan, kemudian dijadikan pintu masuk untuk meletakkan nilai-nilai dasar SSB sebagai penanda yang membedakannya dari sekolah-sekolah lainnya, tidak hanya di Aceh, tetapi juga di Indonesia. Nilai-nilai dasar Sukma Bangsa yang dijadikan pedoman pengelolaan SSB bertumpu pada keyakinan bahwa kapasitas guru adalah yang utama (teacher supremacy) dan pertama yang harus dipikirkan, direncanakan, dikembangkan dan dilaksanakan. Kedua adalah nilai dasar tentang kesetaraan kondisi bagi seluruh siswa. Prinsip ini penting agar sekolah menjadi ajang peletakan nilai-nilai toleransi dan demokrasitasi paling awal sebelum mereke kembali ke masyarakat. Nilai dasar ketiga bertumpu pada upaya membangun partisipasi masyarakat dalam rangka menumbuhkan kesadaran pentingnya investasi dan pembiayaan pendidikan anak-anak yang dipikirkan secara bersama. Terakhir adalah praktek menerapkan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS) secara transparan dan terbuka yang melibatkan semua pemangku kepentingan (stakeholders) pendidikan
Editorial
Pendidikan tidak lain adalah suatu proses pembelajaran yang mampu mengundang hadirnya segala bentuk kebenaran (truth) dan kemungkinan (possibility), serta mampu mendorong dan memberikan waktu yang seluasnya kepada kegiatan penemuan (discovery). Dengan begitu, pendidikan harus berada di tengah proses kehidupan itu sendiri dan bukan semata alas persiapan untuk kehidupan mendatang. Ia harus berada di tengah proses kehidupan tersebut, dan bukan di luarnya. Para pendidik pun karenanya harus berada di tengah kehidupan warga belajar, karena peran mereka adalah untuk mendidik (to educe, dari Bahasa Latin: educere), yaitu memampukan warga didik untuk membuncahkan dan mengembangkan segala potensi untuk berkembang. Jika demikian, maka proses pendidikan yang benar akan mampu menumbuhkan keinginan untuk terus melakukan kegiatan penemuan sehingga pemahaman terhadap kehidupan akan terus berkembang dan karenanya harapan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik itu akan selalu ada. Pendidikan dalam hal ini menjadi suatu proses aktif pencarian kebenaran yang tidak bisa dipisahkan dari kegiatan penemuan dan penelitian. Hanya dengan penelitian pemahaman kita terhadap kebenaran dapat diharapkan kemunculannya dan sebaliknya penelitian memberikan pengaruh yang positif terhadap jalannya proses pendidikan itu sendiri. Hubungan antara pendidikan dan penelitian tidak hanya saling melengkapi tetapi lebih sebagai hubungan conditio sine qua non.
Hubungan erat tersebut didasari atas suatu pemahaman bahwa teori tidak lain adalah usaha untuk mengikat pengetahuan kita tentang aspek tertentu dari dunia pengalaman yang luas ini. Teori berfungsi untuk memampukan kita memberikan arti terhadap setiap fenomena yang ada di depan kita, disamping memberikan kemampuan yang lebih untuk menggambarkan masa depan jika hubungan-hubungan dalam fenomena itu terjadi. Di sinilah, pendidikan tidak mungkin dipisahkan dari kegiatan penelitian karena berbagai teori yang kita temukan dari kegiatan riset kita tentang suatu kebenaran itu harus menjadi basis dari proses pendidikan bagi semua warga belajar sehingga pada gilirannya pendidikan itu dapat berfungsi untuk tidak hanya menghubungkan dunia teori dan praksis namun juga menghadirkan segala kebenaran dan kemungkinan kesiapan manusia menghadapi masa depan.
Dalam sinaran pemahaman teoritis di atas, Yayasan Sukma mengembangkan program pendidikannya dengan menerbitkan SUKMA: Jurnal Pendidikan. Jurnal ilmiah yang memfokuskan diri pada diskusi akademik tentang pendidikan ini dirancang sebagai sarana untuk memupuk perbincangan ilmiah seputar teori pendidikan dan relevansinya dengan dunia praksis pendidikan di Tanah Air. Dalam hal ini, kami meyakini bahwa lapisan teoritis pendidikan tidak akan mampu berkembang tanpa proses riset yang berkelanjutan. Jurnal ilmiah di sini berfungsi sebagai media utama untuk memaparkan dan mengkomunikasikan hasil-hasil riset pendidikan itu kepada semua khalayak yang menaruh perhatian terhadap dunia pendidikan di Tanah Air. Jurnal ini akan secara rutin diterbitkan dua kali dalam setahun (bi-annual) dengan mengundang berbagai kalangan ahli, akademisi maupun praktisi pendidikan di seluruh dunia.
Pada terbitan pembuka ini, Jurnal Sukma menerbitkan tujuh tulisan yang semuanya saling bertali berkelindan, meski masing-masing bergerak dalam topik yang berbeda. Diawali dari Ahmad Baedowi yang menjelaskan tentang basis-basis filosofik yang menjadi alas utama dari gerakan program pendidikan Sekolah Sukma Bangsa (SSB). Diilhami dari kata ‘Sukma’ yang berarti spirit, ruh atau jiwa ini, SSB dicanangkan sebagai gerakan pendidikan sekolah yang tidak hanya mengandung berbagai keunggulan namun juga membawa spirit kemanusiaan. Dua kata ‘Sukma’ dan ‘Kemanusiaan’ inilah yang menurut Baedowi menjadi pintu masuk bagi sistem pendidikan di SSB yang distinct dan membawa keunggulan dalam arti sebenarnya. Keunggulan itu ada karena terpenuhinya empat nilai dasar di dalamnya, yaitu: pemahaman akan pentingnya prinsip supremasi guru (teacher supremacy), kesetaraan bagi seluruh siswa, partisipasi masyarakat, dan penerapan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS) yang terbuka dan inklusif. Tulisan ini disambung secara searah dengan artikel dari Evy I. Siregar et al. yang mendiskusikan tentang persepsi masyarakat tentang kondisi pendidikan saat ini berikut upaya-upaya penanggulangannya yang ditawarkan di dalamnya. Dalam pandangan penulis, deskripsi tentang kondisi pendidikan yang dialami di sebagian besar negara di dunia yang secara umum digambarkan melalui alat ukur pendidikan seperti TIMMS, PISA ataupun PIRLS perlu kiranya dilakukan penyempurnaan dengan usaha penyelarasan antara tiga hal utama, yaitu kurikulum, proses belajar mengajar dan alat ukur yang digunakan. Penyelarasan itu tampaknya logis dalam usaha kita menutup kesenjangan hasil belajar seperti yang diungkapkan melalui berbagai alat pengukuran seperti tersebut di atas.
Pada artikel ketiga, Khoiruddin Bashori menawarkan pemikiran esensial tentang pentingnya menumbuh-kembangkan perilaku prososial bagi siswa. Perilaku ini menurutnya berhubungan dengan penalaran moral seorang siswa. Dengan perilaku semacam ini warga belajar akan memiliki perilaku positif untuk mudah memberikan manfaat kepada orang lain dengan kesediaannya membantu meringankan beban fisik maupun psikologisnya. Kunci pokoknya tergantung pada kemampuan internalisasi seseorang, yaitu adanya perubahan perkembangan perilaku yang tidak dikendalikan oleh faktor-faktor eksternal namun lebih pada faktor internalnya. Kemampuan prososial ini dapat ditumbuhkan melalui berbagai program, seperti mengefektifkan hubungan sebaya yang efektif, meningkatkan kedekatan guru dengan siswa dan konteks pembelajaran yang kooperatif dan kolaboratif. Penulis keempat, Khairil Azhar, mempersoalkan tentang bangunan kurikulum, adakah ia memposisikan siswa sebagai agen pembelajaran atau justru sebaliknya menjadi subjek yang pasif. Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang mampu menjadikan siswa sebagai subjek yang memiliki atau mampu membangun agensi kemanusiaannya, yang diwujudkan dengan kemampuannya untuk berkehendak, melakukan penilaian moral dalam mengekspresikan diri berdasar pada nilai-nilai independensinya. Di sinilah penulis menyampaikan dua kecenderungan dari pembangunan kurikulum itu: ‘reseptif-reproduktif’ dan ‘reflektif-transformatif’. Secara implisit penulis mendorong untuk lebih dipakainya perspektif kedua dalam pembangunan kurikulum pendidikan di Tanah Air.
Fuad Fachruddin pada artikel berikutnya lebih menyoroti aspek pengembangan daya kreatifitas dalam dunia sekolah. Terdapat beberapa syarat untuk mengembangkan daya kreatifitas tersebut yaitu adanya guru yang kreatif yang di dalamnya mencakup pembelajaran yang kreatif, kepala sekolah yang kreatif dan lingkungan yang kreatif. Dalam konteks dunia sekolah, pengembangan daya kreatif itu dimaksudkan sebagai satu upaya penting dalam peningkatan mutu pendidikan, karena pada gilirannya akan berakibat kepada lahirnya superior learning. Pengembangan daya kreatif tersebut dapat ditempuh dengan menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah, maupun penggunaan konsep dan pendekatan prinsip ‘keterbatasan yang mampu menghasilkan ketidakterbatasan’. Pada artikel keenam, Satia Prihatni Zen, mendeskripsikan tentang Sistem Informasi Sekolah Terpadu Online (SISTO) dan pengalaman penggunaannya pada Sekolah Sukma Bangsa di Aceh. Manfaat penggunaan sistem informasi ini sudah tidak diragukan lagi, dan tulisan Satia ini secara singkat menjelaskan bagaimana penerapan SISTO tersebut terbukti dapat mendukung pengembangan kapasitas guru melalui kegiatan belajar yang integratif dengan kegiatan guru sehari-hari. Dengan sistem dan fitur tertentu para guru didorong untuk melakukan kegiatan yang bersifat reflektif (reflective practices), seperti: refleksi guru, kolaborasi dalam menyelesaikan masalah, pembuatan keputusan berbasis data serta evaluasi guru berbasis SISTO. Dalam hemat penulis, data yang terangkum dalam sistem informasi seperti itu tidak hanya berguna untuk pengelolaan sekolah namun juga memiliki manfaat yang lebih luas dalam usaha pengembangan guru dan komunitas sekolah. Artikel terakhir dari Syamsu Rizal Panggabean menawarkan ide segar tentang pentingnya membangun lembaga mediasi di lembaga pendidikan. Apa yang dia sebut sebagai Manajemen Konflik Berbasis Sekolah (MKBS) merupakan seperangkat sistem pengetahuan dan keterampilan tentang resolusi konflik melalui mediasi sejawat (peer mediation) yang sangat penting untuk dilembagakan sehingga sekolah dapat berfungsi menjadi lingkungan belajar yang aman bagi semua. Terdapat tiga komponen utama bagi pelembagaan MKBS ini yaitu peta jalan individu, fokus rujukan kelompok dan konstitusi. Ketiga unsur tersebut dibahas secara detail oleh penulis, sehingga diharapkan dapat menjadi semacam rujukan praktis bagi lembaga sekolah untuk mengkreasinya.
Selamat membaca, semoga tulisan akademik yang kami sampaikan dalam jurnal ini dapat memberikan peran nyata bagi pengembangan pendidikan di Tanah Air
Adolescents’ Identity Formation as Learners in Sukma Bangsa School Pidie, Aceh, Indonesia
This study aimed to explore how adolescents performed towards their identity as learners in Sukma Bangsa School Pidie (SBP) through a phenomenographic approach. More specifically, the research had purpose to understand the way adolescents construct their learning identity in a school environment. The findings suggested that there were variations in the way adolescents experienced their learning identity that might encourage them to achieve different degrees of motivation, self-perceptions (self-efficacy, self-concept, and self-esteem), autonomy, and self-development towards their identity as learners. In this study, students exhibited a high level of self-efficacy and self-development, an average level of self-esteem and autonomy, and close to an average level of self-concept and motivation in constructing their identity as learners. The students also revealed that the highest accomplishment of their experiences was in showing their confidence towards learning attitude, whereas the lowest one was in adult attachment. Adult attachment therefore is pivotal to moderate students who have either low willingness to study or low self-conception.
[Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pembentukan identitas remaja sebagai peserta didik di Sekolah Sukma Bangsa Pidie (SBP) melalui pendekatan fenomenografi. Lebih khusus lagi, penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana remaja membangun identitas pembelajaran mereka di lingkungan sekolah. Temuan menunjukkan adanya variasi cara remaja membentuk identitas mereka, yang mendorong mereka mencapai tingkat motivasi, persepsi diri (self-efficacy, self-concept, dan self esteem), otonomi, dan pengembangan diri yang berbeda. Dalam penelitian ini, siswa menunjukkan tingkat self-efficacy dan self-development yang tinggi, tingkat self-esteem dan otonomi yang rata-rata serta konsep diri dan motivasi mendekati tingkat rata-rata. Pengalaman siswa yang paling tinggi menunjukkan kepercayaan diri terhadap sikap belajar, sedangkan yang terendah menunjukkan keterikatan pada orang dewasa. Oleh karena itu, keterikatan pada orang dewasa sangat penting bagi siswa yang memiliki kesediaan untuk belajar atau konsepsi diri rendah.
Students’ Critical Thinking Skills in Group Discussion: The Case Study of Fifth Grade Students in Sukma Bangsa Bireuen Elementary School
This study is concerned with group discussion as one of the teaching methods can identify the emergence of students’ critical thinking skills in fifth grade students of Sukma Bangsa School. The purpose of this study was classified fourteen critical thinking concepts (practice, action, management, appreciation, awareness, care, evaluation, understanding, analysis, appraisal, interpretation, being, reflection, reviewing) which emerged in the learning process using group discussion. The study showed that eleven critical thinking concepts (practice, action, management, appreciation, awareness, care, evaluation, understanding, analysis, appraisal, interpretation) could be found in fifth grade students, while three of them are missing (being, reflection, reviewing). It could be concluded that the students’ ability to think critically was developed after getting experiences in learning by using group discussion. However, an important factor in fostering students’ critical thinking skills was teachers’ involvement. Thus, teachers need to fully participate to stimulate students to express their critical thinking skills in the learning process.
[Artikel ini membahas tentang diskusi group sebagai salah satu metode mengajar dapat mengindentifikasi terbentuknya kemampuan siswa dalam berpikir kritis terutama siswa kelas 5 di Sekolah Sukma Bangsa. Tujuan dari penelitian ini adalah mengklasifikasi 14 konsep berpikir kritis (praktik, aksi, manajemen, appresiasi, awareness, peduli, evaluasi, pemahaman, analisa, appraisal, interpretasi, being, refleksi, dan mereview) dapat muncul dalam proses pembelajaran dengan menggunakan diskusi group. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tujuh konsep berpikir kritis (praktik, aksi, managemen, appresiasi, awareness, peduli, evaluasi, pemahaman, analisis, appraisal dan interpretasi) telah ditemukan pada siswa kelas 5, sementara tiga lainnya tidak (being, refleksi dan review). Sehingga dapat disimpulkan bahwa kemampuan siswa untuk berpikir kritis telah terbentuk setelah melalui proses pembelajaran dengan menggunakan diskusi group. Meskipun fakor terpenting untuk memunculkan kemampuan siswa berpikir kritis adalah keterlibatan seorang guru. Maka guru-guru perlu berperan aktif menstimulasi siswa untuk mengeluarkan kemampuan berpikir kritisnya dalam proses pembelajaran.
ANALISIS KUALITAS PELAYANAN AKADEMIK PADA SEKOLAH TINGGI ILMU MANAJEMEN SUKMA MEDAN, TUGAS AKHIR TAHUN 2016
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas pelayanan pada sekolah tinggi ilmu manajemenn sukma medan. Dalam hal inipenulis menggunakan metode penelitian kualitatif, yakni analisis yang melakukan penelitian secara langsung ke lapangan dengan cara melakukan studi lapangan. Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh dapat diketahui bahwa analisis kualitas pelayanan pada suatu perusahaan yaitu Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Sukma Medan. Agar penulis dapat menganalisis secara akurat sehingga menghasilkan informasi yang dapat berguna bagi perusahaan
ANALISIS SISTEM AKUNTANSI PIUTANG PADA SEKOLAH TINGGI ILMU MANAJEMEN SUKMA MEDAN
The purpose of this study was to determine how the accounting system of receivable at STIM Sukma Medan. the method that I use in this study is a comparative method, which compares to the company's accounting system with the accepted theory of the author during the time of the study, based on this comparison later analysis. research shows that the accounting system of receivable at a high school science field sukma management accounting system has not been doing well, as can be seen from the data receivable students in 2013 through 2014 to increase the number of student accounts
Peer Review dan Hasil Unplug Artikel Ilmiah an. Nihlatul Qudus Sukma Nirwana
Peer Review dan Hasil Unplug Artikel Ilmiah an. Nihlatul Qudus Sukma Nirwan
- …
